Archive for December 16th, 2010

Seorang Majusi yang memuliakan anak yatim

Posted on 16/12/2010. Filed under: Hikmah |

Islam begitu memuliakan kedudukan anak-anak yatim. Jika ada sebuah pepatah yang menyebutkan bahwa “anak-anak yatim adalah ‘anak-anak Tuhan'” maka hal tersebut bisa kita temui dalam ajaran Islam yang dibawa oleh seorang Nabi yatim piatu. Rasulullah Saw. yang sudah menjadi anak yatim sejak masih dalam kandungan adalah seorang pecinta anak yatim dan fakir miskin, beliau menaruh perhatian dan kasih sayang yang besar kepada kedua golongan ini.

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik rumah kamu muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang tidak diperlakukan dengan baik.”

Dalam hadits lain disebutkan juga bahwa kedekatan Rasulullah Saw. dengan anak-anak yatim adalah seperti berdekatannya kedua jari beliau. Subhanallah, betapa mulia sekali mereka yang memuliakan anak-anak yatim serta fakir miskin.

Seperti kisah dibawah ini yang menceritakan bagaimana seorang Majusi baik hati yang menolong perempuan janda dan anak-anak yatimnya:

Sebagian dari hartawan-hartawan turunan Alawiyah mempunyai beberapa anak perempuan dengan istri turunan Alawiyah juga. Kemudian habib itu meninggal, sehingga anak-anak perempuan itu sangat fakir, sampai mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya karena khawatir orang-orang gembira atas penderitaannya. Mereka masuk masjid di sebuah desa yang kosong tanpa penghuni. Ibu mereka meninggalkannya di sana, sementara ia berupaya mencari makan untuk mereka.

Sang ibu berjalan hingga bertemu pada seorang tokoh desa yang beragama Islam. Dia menceritakan tentang ihwal diri dan anak-anaknya pada tokoh desa itu, tetapi dia tidak memberinya sedekah apapun. Bahkan dia berkata: “Anda harus menuturkan bukti atas penuturan Anda itu.” Ibu itu berkata: “Aku adalah seorang perempuan asing di sini.”

Kemudian ibu itu meneruskan perjalanannya hingga bertemu seorang Majusi. Kepada orang Majusi ini, ia menceritakan tentang keadaan diri dan anak-anaknya. Lalu orang Majusi itu memberinya sedekah. Bahkan orang Majusi itu, mengutus istrinya untuk menemui ibu dan anak-anaknya itu agar supaya diajak dan dibawa ke rumah. Si Majusi itu benar-benar memuliakan mereka.

Ketika tengah malam, orang Islam yang tak lain adalah tokoh desa tersebut bermimpi terjadi kiamat. Dia melihat Nabi Muhammad Saw. memakai Liwa’ul Hamdi, sementara di samping beliau terdapat sebuah istana yang megah. Lalu dia berkata : “Ya Rasulullah, untuk siapa istana ini?” Beliau menjawab: “Untuk orang Islam.” Dia berkata : “Aku adalah orang Islam yang mengesakan Tuhan.” Nabi Muhammad Saw. menjawab lagi : “Tunjukkan buktinya di hadapanku, jika Anda benar-benar orang Islam.” Orang ini menjadi grogi, bercampur rasa bingung dan malu di hadapan Nabi Muhammad Saw.

Kemudian Nabi Muhammad Saw. menceritakan padanya mengenai kondisi perempuan turunan Alawiyah yang telah berada di tangan orang Majusi. Setelah itu, dia terbangun memendam kesedihan dan kepedihan yang amat dalam, karena telah menolak dan menyia-nyiakan wanita serta anak-anak itu.

Selanjutnya laki-laki itu berusaha mencari wanita tersebut dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya dia mendapat petunjuk dan informasi mengenai rumah orang Majusi, dan di situlah wanita yang dimaksud berada. Lalu dia meminta perempuan itu, tetapi orang Majusi itu menolak untuk menyerahkan wanita beserta anak-anaknya itu kepadanya, dan berkata: “Kami benar-benar merasakan berkah atas kehadiran perempuan beserta anak-anaknya itu.” Laki-laki Muslim itu berkata lagi: “Ambillah seirbu dinar ini dan serahkan mereka kepadaku.” Orang Majusi itu tetap menolak.

Ketika laki-laki Muslim itu berusaha untuk merebut mereka secara paksa dari tangan orang Majusi. Si Majusi berkata : “Apa yang anda inginkan, akulah yang lebih berhak dengannya. Dan gedung yang Anda lihat dalam mimpi itu diciptakan untukku. Apakah Anda akan membanggakan keIslaman Anda padaku? Demi Allah, aku dan keluarga seisi rumahku tidaklah tidur, kecuali telah masuk Islam sebelumnya di tangan perempuan Alawiyah itu, dan aku pun bermimpi seperti mimpi Anda. Bahkan Rasulullah bersabda padaku : “Apakah perempuan Alawiyah dan anak perempuannya ada di sisi Anda?” Aku menjawab: “Ya benar, ya Rasulullah.” Beliau menjawab: “Istana itu menjadi milik Anda dan penghuni rumah Anda.” Akhirnya orang Islam itu pulang dengan membawa kepedihan dan kepiluan yang teramat dalam, derita kepedihannya yang sangat dan menyayat-nyayat hatinya tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Allah Swt

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Seorang Majusi yang memuliakan anak yatim )

Bertaubat gara-gara melihat wanita sedang mandi

Posted on 16/12/2010. Filed under: Kisah Islami |

Berbuat dosa adalah suatu kemestian bagi seorang manusia biasa. Bahkan Rasulullah Shollallahu alihi wasallam sampaikan, bahwa seandainya manusia tidak berbuat dosa, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memusnahkan mereka dan mengganti dengan hambaNya yang lain yang melakukan dosa dan minta ampun kepadaNya, sehingga Allah Subhanahu wata’ala mengampuninya, hal ini untuk menunjukkan ke maha pengampunan Dia.

Yang menarik untuk diperhatikan dari cerita berikut ini adalah bagaimana sikap seorang setelah melakukan dosa. Sejauh mana penyesalan dan taubatnya. Kejadian ini adalah satu dari ribuan peristiwa serupa di masa khairul qurun (masa terbaik) yang bisa menjadi cermin bagi kita. Seorang pemuda belia dari kalangan penduduk Madinah datang kepada Rasulullah SAW, masuk Islam. Dia adalah salah satu dari orang-orang yang ingin selalu dekat dengan Rasulullah SAW. dengan cara menjadi khadim beliau. Dan keinginannya dikabulkan oleh Rasul. Maka sahabat yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman Al Anshari RA. itu pun melalui hari-harinya melayani keperluan Rasulullah SAW.

Awal Bencana
Suatu hari, ia diutus oleh Rasulullah SAW untuk satu keperluan. Ia pun bergegas pergi. Dalam perjalanan, tanpa sengaja ia menoleh ke sebuah pintu rumah yang lupa tidak ditutup oleh pemiliknya. Begitu melihat ke dalam, nampak seorang wanita sedang mandi. Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Pikirannya sibuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa menimpa dirinya. Sampai terbayang bahwa mungkin saja Allah SAW. akan menurunkan wahyu pada Rasulullah SAW. menceritakan kejadian dirinya. Dicekam ketakutan yang luar biasa, ia melarikan diri saat itu juga. Dengan peluh bercucuran, napas tersengal, ia tinggalkan tempat itu. Lorong demi lorong ia lalui. Gang-gang ia lewati. Perkampungan itu pun telah tertinggal jauh di belakangnya, hingga ia keluar dari batas kota Madinah. Ia terus berlari dan berlari sampai pada akhirnya ia menyelinap di daerah sepi pegunungan antara Mekah dan Madinah sebagai tempat persembunyiannya.

Nyepi Empat Puluh Hari
Sementara di Madinah, Rasulullah SAW. menunggu khadimnya yang pergi tak kunjung kembali. Sehari penuh berlalu, tidak ada kabar pun tentang dirinya. Dengan sabar beliau tunggu kepulangan shahabat itu. Tanpa terasa, empat puluh hari berlalu tanpa kehadiran Tsa’labah RA. Setelah empat puluh hari berlalu, turunlah malaikat Jibril AS. membawa wahyu, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman untukmu, ‘Sesungguhnya seorang dari umatmu di antara pegunungan ini meminta perlindungan padaKu.’” Tanpa membuang waktu lagi, beliau bersabda, “Hai Umar, wahai Salman, berangkatlah kalian berdua dan bawalah Tsa’labah bin Abdurrahman kepadaku.”

Lari dari Jahannam
Mereka berdua segera menuju pegunungan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Seorang pengembala kambing mereka temui di sana. Umar RA. bertanya padanya, “Tahukah kamu tentang seorang pemuda bernama Tsa’labah di antara pegunungan ini?” “Mungkinkah orang yang kau maksud adalah orang yang melarikan diri dari jahannam? Setiap tengah malam ia keluar dari antara pegunungan ini sambil meletakkan tangannya di atas kepalanya memanggil-manggil, ‘Wahai alangkah baiknya seandainya Kau tahan ruhku bersama para arwah dan tubuhku bersama tubuh-tubuh, dan Kau tidak membiarkanku untuk menerima keputusan.’” “Ya, orang itu yang kami cari.”

Kedua orang ini pun segera diantarkan penggembala tersebut. Sampai di sana, mereka menunggu hingga tengah malam. Tiba-tiba muncul satu sosok tubuh manusia dari tengah pegunungan sambil meletakkan tangan di atas kepalanya, ia memangil-manggil, “‘Wahai alangkah baiknya seandainya Kau tahan ruhku bersama para arwah dan tubuhku bersama tubuh-tubuh, dan Kau tidak membiarkanku untuk menerima keputusan.” Pagi harinya, Umar RA menemuinya. Langsung dipeluknya Tsa’labah RA. Dengan nada penuh kekhawatiran ia bertanya, “Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW akan dosaku.” “Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, kemarin Rasulullah SAW. menyebut-nyebutmu dan menugaskan aku bersama Salman untuk mencarimu.” “Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah SAW, kecuali ketika beliau sedang sholat.” Umar pun mengabulkan permintaannya.

Pingsan
Sampai di masjid Nabawi, Umar RA. dan Salaman RA. langsung masuk dalam barisan sholat. Sedangkan Tsa’labah, begitu mendengar bacaan Rasulullah SAW, pingsan seketika. Seusai sholat, begitu melihat Umar RA dan Salman RA. Rasulullah bertanya, “Hai Umar dan Salman, bagaimana dengan Tsa’labah?” Keduanya menjawab, “Ini dia ada di sini, ya Rasul.” Beliau pun berdiri mendekati Tsa’labah RA. yang tergeletak pingsan. Beliau gerak-gerakan tubuhnya. Tsa’labah RA. siuman. Beliau langsung bertanya, “Apa yang membuatmu menghilang dariku?”
“Dosaku, wahai Rasulullah.” Jawabnya singkat.
“Maukah kutunjukkan padamu sebuah ayat yang menghapuskan dosa dan kesalahan?”
“Tentu, wahai Rasulullah.”
“Bacalah, ‘Rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar.”
“Dosaku, wahai Rasulullah, lebih besar lagi.”
“Bukan, bahkan firman Allahlah yang lebih agung.” Kemudian beliau perintahkan supaya Tsa’labah RA. segera kembali ke rumahnya.

Taubat yang Diterima
Beberapa hari berlalu, sudah delapan hari Tsa’labah RA. terbaring sakit. Melihat kejadian ini, Salman RA. menemui Rasulullah SAW. dan mengatakan, “Wahai Rasul, tidak tahukah engkau berita Tsa’labah. Ia sakit parah hampir mendekati kematian.” “Marilah kita bersama-sama ke sana,” ajak Rasulullah SAW. Mereka masuk menemui Tsa’labah RA yang terbaring lemah. Rasulullah SAW. mendekatinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan beliau. “Apa yang kau rasakan?” Rasulullah bertanya. “Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku,” jawab Tsa’labah RA. “Apakah yang kau inginkan?” Tanya beliau lagi. “Ampunan Rabbku.” Tidak lama berselang, Jibril AS. menyampaikan wahyu, “Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, ‘Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.” Rasulullah SAW. lalu memberitahu kepada Tsa’labah RA. tentang wahyu yang baru saja beliau terima itu. Tsa’labah berteriak keras dan meninggal seketika.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bertaubat gara-gara melihat wanita sedang mandi )

Seorang fasik yang meninggal dalam kemuliaan

Posted on 16/12/2010. Filed under: Hikmah |

Diceritakan, bahwa pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, ada seorang laki-laki fasik, dia terus menerus melakukan kefasikannya, hingga meresahkan penduduk negerinya, namun mereka tidak memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghentikan kedurhakaannya.

Mereka hanya melakukan perlawanan dengan berdoa dan merendahkan diri kepada Allah, hingga akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as.: “Hai Musa, di tengah-tengah kaum Bani Israil terdapat seorang pemuda durhaka yang meresahkan mereka, namun mereka tidak kuasa untuk mengusirnya. Mereka khawatir terkena api neraka, sebab ulah kefasikannya, maka usirlah dia.”

Kemudian datanglah Nabi Musa menemui pemuda fasik itu dan mengusirnya. Lalu pemuda itu pergi meninggalkan desa tempat tinggalnya ke desa yang lain. Tetapi dia juga diusir dari desa itu, sehingga harus berpindah ke desa yang lain. Dia terus diusir dari desa ke desa, sampai akhirnya dia terusir ke suatu hamparan padang pasir yang sangat ganas, tak ada tumbuh-tumbuhan, burung-burung dan tidak ada pula makhluk-makhluk yang lain.

Di tengah-tengah gurun pasir yang ganas itu, dia jatuh sakit tanpa ada seorang pun yang menolongnya. Dia terbaring di atas pasir yang panas, sambil menyandarkan kepalanya pada bait-bait padang pasir yang kering kerontang, dia berkata: “Seandainya ibuku berada di atas kepalaku, tentu ia akan merasa kasihan kepadaku dan menangisi kenistaanku; kalau sekiranya ayah ada di sini, tentu ia akan membantuku dan mengurus segala keperluanku; andai istriku ada di sisiku, tentu ia akan menangisi kepergianku; dan seandainya anak-anakku hadir di sini, tentu mereka akan menangisi jenazahku dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ayahku yang terusir dan tak berdaya ini, dia terbuang jauh dari desa ke desa hingga terlempar jauh ke padang pasir yang ganas ini. Dia keluar dari dunia menuju akhirat dengan membawa penyesalan dan keputusasaan yang teramat dalam.”

Selanjutnya pemuda itu berkata, Ya Allah, Engkau telah memisahkan aku dari kedua orang tuaku, dari anak-anak dan istriku, tetapi janganlah Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Engkau telah membakar hatiku, karena berpisah dengan mereka, tetapi janganlah Engkau bakar aku dengan api neraka-Mu, sebab kefasikan.

Kemudian Allah swt. mengutus seorang bidadari yang menyerupakan diri seperti ibunya, seorang bidadari yang menyerupakan diri seperti istrinya, dan anak-anak yang menyerupai anak-anaknya, serta seorang malaikat yang menyerupai diri seperti ayahnya. Mereka semua duduk di sisinya dan menangisinya. Si pemuda itu berkata: “Ini ayahku, ibu dan istri serta anak-anakku, semua datang padaku. Maka hatinya menjadi terhibur dan gembira, lalu dia menghembuskan nafas yang terakhir, mati dalam keadaan suci dan terampuni.

Kemudian Allah swt. menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as.; “Hai Musa, pergilah ke padang pasir begini ….. dan tempat begini ……, akrena di tempat itu telah mati seorang wali dari wali-wali-Ku. Datanglah kepadanya, uruslah jenazahnya dan makamkanlah ia.”

Ketika Nabi Musa datang ke tempat tersebut, dia melihat ternyata jenazah itu, adalah jenazah seorang pemuda fasik yang diusirnya dari negeri dan kampung halamannya atas perintah Allah swt, Yang lebih mengherankannya lagi, jenazah itu dikelilingi oleh para bidadari yang bermata jeli. Lalu Nabi Musa as. berkata: “Wahai Tuhanku, bukankah ini adalah jenazah pemuda fasik yang aku usir dari negeri dan kampung halamannya atas perintah-Mu?” Allah swt. berfirman: “Hai Musa, benar dia memang pemuda itu, tetapi Aku telah merahmati dan mengampuninya, sebab dia adalah orang yang terusir dan tak berdaya. Di tengah kesendiriannya karena terusir dari negerinya dan terpisah dari ayah, ibu, istri dan anaknya, dia menderita sakit, dia merintih kesakitan dan hanya mengadu kepada-Ku, maka Aku mengutus seorang bidadari agar menyerupai ibunya, seorang malaikat yang menyerupai ayahnya dan seorang bidadari agar menyerupai istrinya. Semuanya merasa iba atas keterasingan dan ketidakberdayaannya di tempat yang terpencil itu. Karena apabila ada seseorang yang mati dalam keterasingan tempat yang terpencil, maka penghuni langit dan bumi menangis karena merasa iba kepadanya. Maka bagaimana Aku tidak menyayanginya, sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”

Apabila orang yang terisolir dari keluarganya dalam keadaan naza’ (kritis atau koma), maka Allah swt. berfirman: “Hai malaikat-malaikat-Ku, orang yang terasing itu adalah pengembara yang meninggalkan anak-anak, keluarga dan orang tuanya. Ketika dia mati tak ada seorang pun yang menangisi dan bersedih atas kematiannya.” Kemudian Allah swt. memerintahkan malaikat untuk menyerupai bapaknya, ibu dan anaknya, serta orang yang menyerupai kerabatnya. Mereka mendatanginya, sehingga ia membuka matanya dan dapat melihat kedua orang tuanya, anak dan keluarganya, lalu hatinya menjadi senang. Setelah itu, barulah ia menghembuskan nafasnya dalam keadaan tenang dan gembira. Kemudian ketika jenazahnya diusung ke pemakaman, para malaikat ikut mengiringkannya dan mendoakan di atas kuburnya sampai hari kiamat.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Seorang fasik yang meninggal dalam kemuliaan )

Kisah di malam pertama seorang ulama salaf

Posted on 16/12/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Syuraih Al Qadhi pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada seorang sahabat, Asy Sya’bi. “Sejak dua puluh tahun yang lalu aku tidak pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah,” kata Syuraih.

“Mengapa demikian?” tanya As Sya’bi.

“Mulai malam pertama yang pertama aku lihat padanya adalah keindahan dan kecantikan belaka. Pada malam pertama, aku berniat dalam hati unutk menjalankan shalat dua rakaat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Ketika aku menoleh untuk melakukan salam, aku melihat istriku pun mengulurkan tangannya seraya berkata, ‘Selamat datang wahai Abu Umayah. Alhamdulillah aku memuji dan memohon pertolongan-Nya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Sungguh, aku adalah perempuan asing bagimu. Aku sama sekali tidak tahu akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa-apa yang engkau senangi dan yang tidak engkau senangi. Apa-apa yang engkau senangi akan aku penuhi, sedangkan yang tidak engkau sukai aku akan berusaha menjauhinya.’

‘Aku yakin,’ lanjut istriku, ‘diantara kaummu pasti ada orang yang ingin mengawinkan wanitanya denganmu. Begitu pula kaumku, ada laki-laki yang sekufu denganku. Akan tetapi, apa yang telah ditetapkan Allah harus dilaksanakan. Nah sekarang aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah sesuai dengan yang telah diperintahkan Allah. Aku mengucapkan ini dengan memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu.’

Demi Allah, Sya’bi, dalam keadaan seperti itu akan amat membutuhkan khutbah seperti yang diucapkan istriku,” papar Syuraih kepada sahabatnya.

Aku pun menyambut ungkapan istriku, “Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Engkau telah mengatakan sesuatu yang jika engkau teguh memegangnya maka itulah bagianmu. Jika engkau hanya berpura-pura maka menjadi hujjah atasmu. Apa yang kamu lihat baik maka sebarkanlah, apa yang engkau lihat jelek maka buanglah jauh-jauh.”

“Apakah engkau senang mengunjungi keluargaku?” tanya istriku.

“Aku ingin suami anak perempuanku tidak membosankanku,” jawabku.

“Siapa saja tetangga yang kamu senangi yang dapat aku izinkan masuk rumah? Siapa pula yang kau benci agar aku tidak membiarkannya masuk ke rumahmu?” tanya istriku.

“Maka, aku pun menghabiskan malam pertama tersebut dengan perbincangan penuh dengan kelembutan dan kebahagiaan. Aku hidup bersamanya. Selama satu tahun pertama, aku tidak pernah melihat darinya, kecuali yang menyenangkan,” ungkap Syuraih.

Demikianlah Syuraih menceritakan kebahagiaan keluarganya kepada As Sya’bi. Dari ceritanya, tampak suasana malam pertama Syuraih dengan istrinya yang sedemikian indah. Mereka bercengkerama, saling membuka diri, saling mengenali. Itulah awal kehidupan baru yang indah.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kisah di malam pertama seorang ulama salaf )

Mengembalikan amanat kepada pemiliknya

Posted on 16/12/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Diriwayatkan dari Malik bin Shafwan bahwa dia berkata: “Saudara saya telah meninggal dan saya bermimpi lalu saya bertanya kepadanya:

“Saudaraku, apakah yang telah dilakukan Allah kepadamu?”

Maka dia menjawab: “Tuhan telah mengampuni saya.”

Saya melihat di dahinya terdapat titik hitam. Maka saya bertanya kepadanya tentang titik hitam itu.

Dia menjawab: “Ada pada saya sekian dirham milik orang Yahudi sebagai amanat dan saya belum mengembalikan kepadanya; maka titik hitam ini adalah akibat amanat itu. Oleh karena itu saya minta kepadamu agar supaya engkau bersedia mengambil amanat itu dari tempat fulan dan mengembalikannya kepada Yahudi itu.”

Tatkala saya bangun pagi-pagi maka pesan itu saya laksanakan; dan saya lihat dalam mimpi yang kedua bahwa titik hitam itu sudah hilang.

Maka dia berkata: “Semoga Allah ta’ala melimpahkan kasih sayang kepadamu Saudaraku, sebagaimana Anda telah menyelamatkan saya dari siksa.”

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Mengembalikan amanat kepada pemiliknya )

Sebuah kesederhanaan Rasulullah SAW

Posted on 16/12/2010. Filed under: Rasulullah SAW |

Suatu hari ‘Umar bin Khaththab r.a. menemui Nabi saw. di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah digerogoti oleh kemiskinan (lapuk).

Tikar membekas di belikat beliau, bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan kulit samakan membekas di kepala beliau.

Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).

Maka, air mata ‘Umar bin Khaththab r.a. meleleh dan ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi Nabi saw..

Lalu Nabi saw. bertanya sambil melihat air mata ‘Umar r.a. yang berjatuhan, “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”

‘Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

Lalu Nabi saw. menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”

Lalu, Nabi saw. menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sebuah kesederhanaan Rasulullah SAW )

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

Posted on 16/12/2010. Filed under: Kisah Islami |

Suatu hari Nabi Musa As. berpidato di hadapan kaumnya yaitu Bani Israil. Nabi Musa As. menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah Swt. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai dengan ilmu yang banyak.

Banyak orang ketika mereka mendengar orasi dari para orator ulung sampai terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Nabi Musa As. menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Nabi Musa As., “Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?” Nabi Musa As. menjawab, “Tidak.”

Nabi Musa As. adalah salah seorang Rasul yang mulia. Dia termasuk dari lima Rasul yang digelari Ulul Azmi. Nabi Musa As. menempati urutan ketiga diantara para Nabi dan Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi. Nabi Ibrahim As. berada di urutan kedua dan Nabi Muhammad Saw. di urutan pertama. Nabi Musa As. adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah Swt. memberinya kitab Taurat yang berisikan cahaya dan petunjuk. Allah Swt. mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, seberapapun tingginya ilmu seorang hamba, dia haruslah tetap bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, “Wallahu a’lam.” Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah tidak ada bandingannya dibandingkan dengan ilmunya Allah Swt.

Allah Swt. mencela Nabi Musa As. yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Swt. mewahyukan kepadanya, “Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki.” Manakala Nabi Musa As. menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya. Nabi Musa memohon kepada Allah Swt. agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah Swt. memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa As. supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah Swt. menghidupkan ikan itu. Nabi Musa As. berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut.

Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Nabi Musa As. berbaring di balik batu untuk beristirahat karena perjalanan panjang yang membuatnya letih. Di tempat itulah ikan itu bergerak- gerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah Swt. ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah Swt. menahan laju air dari ikan tersebut.

Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Nabi Musa As. karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.

Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Nabi Musa As. meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Nabi Musa As. dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Nabi Musa As. berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.

Nabi Musa As. langsung memberi salam, “Assalamu’alaikum.” Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, “Dari mana salam di bumiku.” Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Nabi Musa As. memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.

Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Nabi Musa As. kepada dirinya, “Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam kitab Taurat dan kamu diberi wahyu?” Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah Swt. khususkan untuknya. “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku.”

Nabi Musa As. meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, “Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku.” Nabi Musa As. pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah Swt. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Nabi Musa As. agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang nanti akan menjelaskan dan menerangkannya.

Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang sudah mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya bersama dengan Nabi Musa As. ke pantai seberang secara gratis.

Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Nabi Musa As., “Demi Allah, ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut.”

Ketika keduanya berada di atas perahu, Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Nabi Musa As. lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari.

Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar.” (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.” (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Nabi Musa As. yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah Saw.

Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir terus berjalan. Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Nabi Khidhir menidurkan dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Nabi Musa As. tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar.” (QS. Al-Kahfi: 74)

Pengingkaran Nabi Musa As. dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)

Di sini Nabi Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Nabi Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Nabi Musa. Nabi Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.

Dan kedua, dalam syariat Nabi Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Nabi Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Nabi Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.

Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Nabi Musa dan Nabi Khidhir meminta kepada mereka hak bertamu. Namun mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Nabi Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.

Di sini Nabi Musa As. memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Nabi Musa As. kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.

Seandainya Nabi Musa As. bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Nabi Musa As. memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.

Adapun tiga hikmah yang ada dibalik tiga kejadian yang ‘diajarkan’ oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa adalah :

Kejadian pertama adalah ketika Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. “Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS Al-Kahfi: 79)

Kejadian yang kedua adalah ketika Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS Al-Kahfi: 80-81)

Kejadian yang ketiga (terakhir) adalah dimana Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS Al-Kahfi: 82)

Akhirnya Nabi Musa As. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirnya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu laduni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa as. dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir )

Nuruddin Mahmud Zanki

Posted on 16/12/2010. Filed under: Tokoh |

Dalam sejarah Perang Salib, kaum Muslimin sangat mengenal sosok pejuang Salahuddin al-Ayubi dibanding Nuruddin Mahmud Zanki. Namanya tak setenar Salahuddin, sang pembebas kota Yerussalem dari kekuasan pasukan Salib (selanjutnya dibaca salib). Meski demikian, Nuruddin-lah yang pertama kali menggelorakan semangat perjuangan itu.

Ia lahir hari Ahad 17 Syawal 511 H (Februari 1118 M), 20 tahun pasca jatuhnya al-Quds ke tangan pasukan Salib. Perawakannya tinggi, tampan dengan kulit agak kehitaman dan sedikit berjenggot. Ayahnya, Imanuddin Zanki, adalah penguasa Mosul dan Irak, sekaligus mujahid yang tangguh.

Nuruddin mewarisi tampuk kepemimpinan ayahnya yang syahid di medan jihad pada 5 Rabiul Awal 541 H. Dua misi besar yang diperjuangkan Nuruddin yakni menyatukan umat Islam dan membebaskan negeri-negeri Islam dari jajahan pasukan Salib. Ia memimpin perang dengan keberanian dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Seorang ulama Qutbuddin Annisaburi begitu khawatir akan keberanian Nuruddin. “Demi Allah, jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum Muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang,” ujar Qutbuddin.

Maka ia pun menjawab, “Siapa Nuruddin itu, sehingga ia dikatakan demikian? Mudah-mudahan karena (kematian) ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam. Itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah dengan hak melainkan Dia.”

Nuruddin adalah pemimpin yang selalu optimis. Pembebasan Baitul Maqdis di Yerusalem dari genggaman pasukan Salib adalah hal yang paling didambakannya.

Hingga tahun 569 H/1173 M, kerja keras Nuruddin untuk menyatukan kekuatan umat Islam yang terkotak-kotak dalam kerajaan-kerajaan kecil mencapai puncaknya. Berbagai pertempuran dahsyat antara umat Islam yang dipimpinnya dengan pasukan Salib kerap terjadi. Berbagai serangan yang dilakukannya berhasil melemahkan pasukan Salib hingga terpecah belah. Walhasil, sekitar 50 kota dan benteng yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib berhasil direbut.

Pada 570 H/1174 M, kekuatan Islam telah terbentang dari Iraq ke Syria, Mesir, hingga Yaman. Saat yang dinanti-nanti untuk merebut Baitul Maqdis pun kian dekat. Namun takdir Allah SWT berkata lain. Nuruddin meniggal akibat penyakit penyempitan tenggorakan. Kepemimpinan kemudian dipikul muridnya, Shalahuddin al-Ayyubi.

Pemimpin yang Adil

“Sungguh ia telah menutupi bumi dengan biografinya yang indah dan keadilannya. Aku telah membaca biografi para raja, namun aku tidak melihat, sesudah Khulafa’ur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, yang lebih baik daripada biografinya dan tidak ada yang lebih memperhatikan keadilan daripadanya,” demikian komentar Ibnu Katsir terhadap Nuruddin Mahmud Zanki.

Ibnu Katsir melanjutkan, ia tidak pernah membiarkan pungutan (pajak) dan membebaskan kesulitan dalam negerinya sekuat tenaga. “Ia juga sangat mengagungkan syariat dan memperhatikan hukum-hukum syariat tersebut,” tandas Ibnu Katsir.

Ia juga membangun forum keadilan (Dar Al-‘Adl) di negerinya. Ia duduk bersama hakim di sana untuk melayani orang yang dizhalimi, sekalipun ia seorang Yahudi, dari orang yang berbuat zhalim, sekalipun ia putranya atau menterinya yang paling berpengaruh.

Pakar sejarah, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Penguasa Syam, seorang raja yang adil, dialah Nuruddin.” Ia juga berkata, “Adalah Nuruddin pembawa dua panji: keadilan dan jihad. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.”

Shalih dan Takwa

Nuruddin Mahmud Zanki dan istrinya, Ashamat ad-Din Khatun binti al-Atabik, adalah pasangan yang gemar shalat malam. Ia juga senantiasa menjaga shalat berjamaah. Ibnu Katsir mengakuinya, “Nuruddin itu kecanduan shalat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.”

Selain itu Nuruddin juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud terhadap dunia. Begitu zuhudnya, hingga konsumsi orang paling miskin pada zaman itu masih lebih tinggi dari konsumsi yang ia makan setiap hari. Tanpa simpanan dan tidak pula menentukan dunia untuk dirinya sendiri.

Ketika isterinya mengeluhkan beratnya penderitaan dan kesusahan hidup, Nuruddin memberinya tiga toko pribadi di kota Homs. Lalu dia berkata, “Itu semua yang aku miliki. Dan jangan berharap kepadaku untuk meletakkan jariku pada uang umat yang diamanatkan kepadaku. Aku tidak akan mengkhianatinya. Dan, aku tidak mau menceburkan diri dalam siksa Allah hanya karenamu.”

Sabth bin al-Jauzi berkata, “Ia memiliki beberapa pohon kurma. Ia memintal benang dan membuat manisan, lalu menjualnya secara sembunyi-sembunyi dan memakan dari hasil penjualannya.”

Cerdas dan Berwawasan

Ibnu Katsir berkata, “Nuruddin sosok yang pintar, cerdas dan sangat melek akan situasi kontemporer”. Imam adz-Dzahabi juga berkata, “Nuruddin baik tulisannya, banyak membaca, shalat berjamaah, berpuasa, membaca al-Qur’an, bertasbih, hati-hati dalam makanan, menjauhi dosa-dosa besar, meniru-niru para ulama dan orang-orang pilihan.”

Ia mengarang buku tentang konsep jihad. Ia adalah pengikut mazhab Hanafi yang menadapat izin untuk meriwayatkan Hadits-Hadits. Di dalam majelisnya tidak dibicarakan hal-hal kecuali ilmu, agama, dan berkonsultasi tentang jihad. Belum pernah didengar darinya kalimat keji, dalam kondisi marah atau ceria. Ia benar-benar seorang pendiam.

Dialah mujahid yang paling ditakuti, tapi lembut dan penyayang.

(dikutip dari majalah Hidayatullah/surya Fahrizal)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Nuruddin Mahmud Zanki )

Perang Salib

Posted on 16/12/2010. Filed under: Sejarah |

Perang Salib adalah kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang dimulai oleh kaum Kristiani pada periode 1095 – 1291; biasanya direstui oleh Paus atas nama Agama Kristen, dengan tujuan untuk menguasai kembali Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan Muslim dan awalnya diluncurkan sebagai respon atas permohonan dari Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen Ortodox Timur untuk melawan ekspansi dari Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia.

Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke 16 di wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran antara agama, ekonomi dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke 11 sampai dengan Abad ke 13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke 16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.

Perang Salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan.

Perang Salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini. Karena konfilk internal antara kerajaan-kerajaan Kristen dan kekuatan-kekuatan politik, beberapa ekspedisi Perang Salib (seperti Perang Salib Keempat) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota-kota Kristen, termasuk ibukota Byzantium, Konstantinopel-kota yang paling maju dan kaya di benua Eropa saat itu. Perang Salib Keenam adalah perang salib pertama yang bertolak tanpa restu resmi dari gereja Katolik, dan menjadi contoh preseden yang memperbolehkan penguasa lain untuk secara individu menyerukan perang salib dalam ekspedisi berikutnya ke Tanah Suci. Konflik internal antara kerajaan-kerajaan Muslim dan kekuatan-kekuatan politik pun mengakibatkan persekutuan antara satu faksi melawan faksi lainnya seperti persekutuan antara kekuatan Tentara Salib dengan Kesultanan Rum yang Muslim dalam Perang Salib Kelima.

Situasi
Situasi di Eropa
Asal mula ide perang salib adalah perkembangan yang terjadi di Eropa Barat sebelumnya pada Abad Pertengahan, selain itu juga menurunnya pengaruh Kekaisaran Byzantium di timur yang disebabkan oleh gelombang baru serangan Muslim Turki. Pecahnya Kekaisaran Carolingian pada akhir Abad Ke-9, dikombinasikan dengan stabilnya perbatasan Eropa sesudah peng-Kristen-an bangsa-bangsa Viking, Slav dan Magyar, telah membuat kelas petarung bersenjata yang energinya digunakan secara salah untuk bertengkar satu sama lain dan meneror penduduk setempat. Gereja berusaha untuk menekan kekerasan yang terjadi melalui gerakan-gerakan Pax Dei dan Treuga Dei. Usaha ini dinilai berhasil, akan tetapi para ksatria yang berpengalaman selalu mencari tempat untuk menyalurkan kekuatan mereka dan kesempatan untuk memperluas daerah kekuasaan pun menjadi semakin tidak menarik. Pengecualiannya adalah saat terjadi Reconquista di Spanyol dan Portugal, dimana pada saat itu ksatria-ksatria dari Iberia dan pasukan lain dari beberapa tempat di Eropa bertempur melawan pasukan Moor Islam, yang sebelumnya berhasil menyerang dan menaklukan sebagian besar Semenanjung Iberia dalam kurun waktu 2 abad dan menguasainya selama kurang lebih 7 abad.

Pada tahun 1063, Paus Alexander II memberikan restu kepausan bagi kaum Kristen Iberia untuk memerangi kaum Muslim. Paus memberikan baik restu kepausan standar maupun pengampunan bagi siapa saja yang terbunuh dalam pertempuran tersebut. Maka, permintaan yang datang dari Kekaisaran Byzantium yang sedang terancam oleh ekspansi kaum Muslim Seljuk, menjadi perhatian semua orang di Eropa. Hal ini terjadi pada tahun 1074, dari Kaisar Michael VII kepada Paus Gregorius VII dan sekali lagi pada tahun 1095, dari Kaisar Alexius I Comnenus kepada Paus Urbanus II.

Perang Salib adalah sebuah gambaran dari dorongan keagamaan yang intens yang merebak pada akhir abad ke-11 di masyarakat. Seorang tentara Salib, sesudah memberikan sumpah sucinya, akan menerima sebuah salib dari Paus atau wakilnya dan sejak saat itu akan dianggap sebagai “tentara gereja”. Hal ini sebagian adalah karena adanya Kontroversi Investiture, yang berlangsung mulai tahun 1075 dan masih berlangsung selama Perang Salib Pertama. Karena kedua belah pihak yang terlibat dalam Kontroversi Investiture berusaha untuk menarik pendapat publik, maka masyarakat menjadi terlibat secara pribadi dalam pertentangan keagamaan yang dramatis. Hasilnya adalah kebangkitan semangat Kristen dan ketertarikan publik pada masalah-masalah keagamaan. Hal ini kemudian diperkuat oleh propaganda keagamaan tentang Perang untuk Keadilan untuk mengambil kembali Tanah Suci – yang termasuk Yerusalem (dimana kematian, kebangkitan dan pengangkatan Yesus ke Surga terjadi menurut ajaran Kristen) dan Antioch (kota Kristen yang pertama) – dari orang Muslim. Selanjutnya, “Penebusan Dosa” adalah faktor penentu dalam hal ini. Ini menjadi dorongan bagi setiap orang yang merasa pernah berdosa untuk mencari cara menghindar dari kutukan abadi di Neraka. Persoalan ini diperdebatkan dengan hangat oleh para tentara salib tentang apa sebenarnya arti dari “penebusan dosa” itu. Kebanyakan mereka percaya bahwa dengan merebut Yerusalem kembali, mereka akan dijamin masuk surga pada saat mereka meninggal dunia. Akan tetapi, kontroversi yang terjadi adalah apa sebenarnya yang dijanjikan oleh paus yang berkuasa pada saat itu. Suatu teori menyatakan bahwa jika seseorang gugur ketika bertempur untuk Yerusalemlah “penebusan dosa” itu berlaku. Teori ini mendekati kepada apa yang diucapkan oleh Paus Urbanus II dalam pidato-pidatonya. Ini berarti bahwa jika para tentara salib berhasil merebut Yerusalem, maka orang-orang yang selamat dalam pertempuran tidak akan diberikan “penebusan”. Teori yang lain menyebutkan bahwa jika seseorang telah sampai ke Yerusalem, orang tersebut akan dibebaskan dari dosa-dosanya sebelum Perang Salib. Oleh karena itu, orang tersebut akan tetap bisa masuk Neraka jika melakukan dosa sesudah Perang Salib. Seluruh faktor inilah yang memberikan dukungan masyarakat kepada Perang Salib Pertama dan kebangkitan keagamaan pada abad ke-12.

Situasi Timur Tengah
Keberadaan Muslim di Tanah Suci harus dilihat sejak penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina dari tangan Kekaisaran Bizantium pada abad ke-7. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mempengaruhi penziarahan ke tempat-tempat suci kaum Kristiani atau keamanan dari biara-biara dan masyarakat Kristen di Tanah Suci Kristen ini. Sementara itu, bangsa-bangsa di Eropa Barat tidak terlalu perduli atas dikuasainya Yerusalem–yang berada jauh di Timur–sampai ketika mereka sendiri mulai menghadapi invasi dari orang-orang Islam dan bangsa-bangsa non-Kristen lainnya seperti bangsa Viking dan Magyar. Akan tetapi, kekuatan bersenjata kaum Muslimlah yang berhasil memberikan tekanan yang kuat kepada kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen Orthodox Timur.

Titik balik lain yang berpengaruh terhadap pandangan Barat kepada Timur adalah ketika pada tahun 1009, kalifah Bani Fatimiah, Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Suci (Church of The Holy Sepulchre). Penerusnya memperbolehkan Kekaisaran Byzantium untuk membangun gereja itu kembali dan memperbolehkan para peziarah untuk berziarah di tempat itu lagi. Akan tetapi banyak laporan yang beredar di Barat tentang kekejaman kaum Muslim terhadap para peziarah Kristen. Laporan yang didapat dari para peziarah yang pulang ini kemudian memainkan peranan penting dalam perkembangan Perang Salib pada akhir abad itu.

Penyebab Langsung
Penyebab langsung dari Perang Salib Pertama adalah permohonan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Hal ini dilakukan karena sebelumnya pada tahun 1071, Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Sulthan Alp Arselan di Pertempuran Manzikert, yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia. Dan kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern). Meskipun Pertentangan Timur-Barat sedang berlangsung antara gereja Katolik Barat dengan gereja Orthodox Timur, Alexius I mengharapkan respon yang positif atas permohonannya. Bagaimanapun, respon yang didapat amat besar dan hanya sedikit bermanfaat bagi Alexius I. Paus menyeru bagi kekuatan invasi yang besar bukan saja untuk mempertahankan Kekaisaran Byzantium, akan tetapi untuk merebut kembali Yerusalem, setelah Dinasti Seljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 1078 dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Umat Kristen merasa tidak lagi bebas beribadah sejak Dinasti Seljuk menguasai Baitul Maqdis.

Ketika Perang Salib Pertama didengungkan pada tahun 1095, para pangeran Kristen dari Iberia sedang bertempur untuk keluar dari pegunungan Galicia dan Asturia, wilayah Basque dan Navarre, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, selama seratus tahun. Kejatuhan bangsa Moor Toledo kepada Kerajaan Leon pada tahun 1085 adalah kemenangan yang besar. Ketidakbersatuan penguasa-penguasa Muslim merupakan faktor yang penting dan kaum Kristen yang meninggalkan para wanitanya di garis belakang amat sulit untuk dikalahkan. Mereka tidak mengenal hal lain selain bertempur. Mereka tidak memiliki taman-taman atau perpustakaan untuk dipertahankan. Para ksatria Kristen ini merasa bahwa mereka bertempur di lingkungan asing yang dipenuhi oleh orang kafir sehingga mereka dapat berbuat dan merusak sekehendak hatinya. Seluruh faktor ini kemudian akan dimainkan kembali di lapangan pertempuran di Timur. Ahli sejarah Spanyol melihat bahwa Reconquista adalah kekuatan besar dari karakter Castilia, dengan perasaan bahwa kebaikan yang tertinggi adalah mati dalam pertempuran mempertahankan ke-Kristen-an suatu Negara.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Perang Salib )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 932,442 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: