Sejarah

Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran….!!

Posted on 15/12/2012. Filed under: Hikmah, Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , |


Salah satu kesalahan terbesar Sukarno adalah ia terlalu tebar pesona, terlalu punya daya tarik kharismatis, sehingga jutaan orang hanya melihat personifikasi Sukarno, bukan alam pikiran Sukarno. Tebar pesona Sukarno inilah yang kemudian melahirkan mitos-mitos omong kosong.

Padahal alam pikiran Sukarno, adalah alam pikiran puncaknya manusia Indonesia baru, ia mampu menjangkau masa depan peta ekonomi politik dunia dengan analisa Geopolitiknya, ia bisa membangun strategi dasar pengembangan manusia secara rinci lewat tatanan yang disebut ideologi Pancasila yang bila ditelaah Pancasila adalah sebuah rangkaian step by step tentang sejarah perkembangan pendewasaan pikiran dan hati manusia yang dikorelasikan dengan perkembangan sejarah masyarakat, ketika Marx hanya berpusar pada sejarah masyarakat dan letak inti sejarah masyarakat, Sukarno lebih dalam lagi ia masuk ke dalam alam manusia dan bagaimana manusia bereaksi terhadap sejarah masyarakat, karena kepandaian menganatomi itulah Sukarno dengan pandai menggerakkan arah sejarah dunia, bahkan JF Kennedy secara terang-terangan mengaku di depan kabinetnya bahwa dia berguru pada Sukarno dan menggebrak meja pada CIA yang ingin mengerjai Sukarno, di bawah pengaruh Sukarno pula Kennedy mendirikan Peace Corps sebagai cikal bakal gerakan perdamaian yang digerakkan pemuda Internasional. Salah seorang anggota Peace Corps adalah Bill Clinton salah seorang yang nantinya jadi Presiden Amerika Serikat.

Bung Karno juga memberikan sodoran tentang pergolakan sejarah yang menuju pada ekonomi Asia Pasifik. Bagi Sukarno, ini ia tulis di tahun 1930-an dalam surat kabar di Bandung, dengan nama samaran Bima. “Bahwa Asia-Pasifik akan jadi pusat-nya dunia, perang lautan teduh adalah babak pembuka Kemerdekaan Asia Raya. Kelak Eropa hanya jadi benua tua yang sakit-sakitan sementara Asia Pasifik akan tumbuh bak gadis molek yang menghantui setiap pikiran lelaki” disini Sukarno sudah meletakkan pandangan geopolitiknya yang amat menjangkau masa depan. Terbukti sekarang Asia Pasifik jadi rebutan antara Amerika Serikat dan Cina, dan perang beneran kemungkinan akan meletus karena Cina sudah memperkuat armadanya di laut Nanyang (Laut Selatan Cina) sementara Amerika Serikat sudah membuka armada siap tempur di Darwin Australia.

Padahal Bung Karno sudah mempersiapkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan armada laut terbesar di Asia Pasifik, ia akan menjadikan Biak sebagai “Armada Laut tanpa tanding” di Asia Pasifik itu obsesi utama Bung Karno, karena obsesi inilah KKO di Indonesia menganggap Sukarno seperti separuh dewa, banyak orang KKO yang bertaruh mati membela Sukarno saat Bung Karno ditikam Harto di tahun 1966-an termasuk Letjen KKo Hartono yang mati misterius dan namanya kini menjadi nama jalan utama di Markas Marinir Indonesia di Cilandak Jakarta Selatan. Atau dua serdadu KKO yang digantung Lee Kuan Yew di Singapura, rela digantung demi keagungan nama bangsanya di depan dunia Internasional.

Bung Karno juga adalah pioneer terhadap perkembangan pemikiran revolusi di Amerika Latin. Mustahil bagi Castro berani memberontak tanpa membaca sejarah pembebasan negara-negara kolonial tanpa membaca apa yang terjadi di Asia. Castro membaca pergerakan kemerdekaan di Indonesia saat ia bersekolah di New York tahun 1947, kepindahan Castro ke New York karena ia menghindari kejaran orang-orang Rafael Trujillo dari Dominika karena Castro berusaha menggulingkan klan Trujillo dari Dominika. Di New York ia hanya menghabiskan waktu membaca buku-buku dan jurnal politik, salah satu yang menjadi minatnya setiap kali ke perpustakaan New York adalah membaca jurnal yang dibuat ahli riset Cornell tentang berita perkembangan revolusi di Indonesia, Castro dengan mata kepalanya sendiri melihat demonstrasi di selasar pertokoan New York kaum buruh Amerika berdemo menuntut kemerdekaan Indonesia.

Suatu saat Castro membeli majalah LIFE dan membaca profil Sukarno, disini ia kemudian terobsesi pada Sukarno. Sama seperti Sukarno, Castro bisa berjam-jam lamanya pidato. “Anda-lah yang membuka mata kepala saya tentang arti Revolusi, tentang bagaimana dunia bergerak menuju pembebasan manusia, anda-lah orang yang dari jauh mengajari saya bagaimana memimpin manusia untuk sadar akan pembebasan dirinya” kata Castro di tahun 1960 saat Bung Karno mengunjungi Kuba.

Pada tahun 1961 JF Kennedy mengalami kesalahan fatal karena mengikuti nasihat politik orang-nya Eisenshower yang kepala batu soal Kominis, mereka menyarankan Kennedy mempersenjatai Imigran Kuba dengan senjata lengkap dan dibantu pasukan khusus Amerika Serikat. Gerakan itu diberi kode namanya ‘Operation Mongoose’ atau kemudian dikenal sebagai ‘Invasi Teluk Babi’. Gerakan ini dirancang sangat rapi, tapi entah kenapa salah seorang petinggi militer salah ucap sehingga seorang wartawan AS menulis sebuah artikel yang memuat kemungkinan rencana serangan itu. Castro membaca dan mengantisipasinya. Operasi Teluk Babi adalah operasi kegagalan militer yang amat memalukan, untuk ngilangin malu Kennedy mempersiapkan misil-nya di Turki dan mengarahkan ke Sovjet Uni. Kesal dengan tindakan AS itu, Moskow mengirimkan beberapa puluh rudal berhulu nuklir ke Kuba dan mengarahkannya ke Amerika Serikat. Tak banyak yang tau bahwa yang repot disini adalah orang Indonesia bernama Subandrio yang saat itu bertugas Menteri Luar Negeri merangkap sebagai Waperdam, Sukarno memerintahkan Bandrio untuk membuka saluran telpon langsung baik ke Khruschev, Castro dan Kennedy. Lobi-lobi Sukarno ini sedikit banyak meredam konflik misil nuklir yang dipasang di Turki dan Kuba. Tapi ini yang dikerjakan Sukarno sangat rahasia, karena baik Sovjet Uni maupun Amerika Serikat hanya menarik senjata misil bukan menghentikan konflik, tapi tanpa pengaruh Sukarno maka rakyat seluruh dunia akan bersembunyi di bunker-bunker baja, peradaban dunia hancur total, mungkin banyak orang yang berusia lanjut masih mengingat tentang krisis nuklir itu.

Kennedy berterima kasih pada Sukarno, dan menjadi sahabat Sukarno paling dekat. Pikiran-pikiran Sukarno tentang Internasionalisme diterjemahkan dengan menitikberatkan aspek kemanusiaan, lalu sejak itu pandangan Partai Demokrat selalu berbasis pada soal kemanusiaan, HAM dan kebebasan manusia beda dengan Partai Republik yang cenderung berpandangan politik konservatif.

Inilah secuplik pikiran raksasa Sukarno dan pengaruhnya bagi dunia Internasional, perkara Sukarno senang main perempuan, senang bernyanyi walaupun suaranya sember, mampu berpidato dan membuat jutaan orang mematung mendengarkan pidatonya dalam panas dan hujan, atau seluruh kota dan kampung sepi menunggu pidato Sukarno itu adalah soal lain, soal pesona dan banyak orang Indonesia hanya terjebak pada pesona Sukarno saja, lalu menjadikan Sukarno dewa tanpa isi, menjadikan Sukarno sejarah tanpa pemikiran, tapi hanya puja dan puji yang tak jelas. Begitu juga mereka yang berpikiran kecil, yang tak pernah sekalipun membaca detil pemikiran Sukarno, membaca dialektika dunia saat itu, zeitgeist dunia saat itu, hanya terjebak pada personifikasi Sukarno dengan komentar amat rendahan. Mencaci maki Sukarno sebatas fisik dan prasangka akan kediktatorannya.

Padahal untuk membaca tokoh sejarah, pertama-tama harus membaca alam pikirannya, lalu alam tindakan. Tanpa kedua itu kita terjebak pada alam personifikasi, seperti hal-nya kita hanya menyukai senyum Suharto tanpa melihat substansi kekuasaan Suharto, melihat gairah Bung Karno yang doyan perempuan tanpa melihat substansi arah kekuasaa Sukarno, melihat tangis SBY tanpa melihat substansi kekuasaan SBY arahnya kemana.

Ketika kita berpikiran kecil dan dungu, maka kita hanya senang melihat lukisan Sukarno yang jantungnya berdegup-degup di Blitar, sampai ribuan orang mengantri untuk melihat lukisan itu, ketimbang di sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas politik, ekonomi, Sosial dan Budaya membuat kurikulum tersendiri soal “Pemikiran Sukarno”.

Sudah saatnya generasi muda dikenalkan pemikiran Sukarno, bukan mitos Sukarno. Karena pemikiran Sukarno adalah yang menggerakkan sejarah seperti Castro menumbangkan Batista, ataupun Kennedy membentuk Peace Corps ketimbang Mitos Sukarno yang hanya memenuhi ruangan dengan dupa, asap menyan dan lukisan Sukarno setinggi dua meter.

Sukarno bukan Mitos, tapi Pemikiran…!!

ANTON DH NUGRAHANTO

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran….!! )

Bung Karno dan Peta Dunia

Posted on 15/12/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , |

Pernahkah anda memperhatikan peta dunia?, yang anda lihat pasti posisi Asia di tengah, Asia menjadi centrum dari tata gambar peta. Tahukah anda bahwa seluruh peta dunia yang beredar sekarang, peta dunia yang digantungkan di sekolah-sekolah seluruh dunia, di seluruh kantor resmi negara dan dipelajari anak-anak sekolah adalah pengaruh Bung Karno?

Awalnya setelah KMB 1949, dan penyerahan kedaulatan, Bung Karno berpikir tentang tatanan dunia setelah peperangan Indonesia, keberhasilan Indonesia memperpendek perang dengan Belanda dia meletakkan Indonesia sebagai centrum dari segala centrum gerakan kemerdekaan di Asia dan Amerika Latin. Pemahaman Bung Karno tentang meletakkan Asia sebagai centrum dunia ini dipengaruhi dua orang, yaitu : Tan Malaka dan Ki Ageng Suryomentaram.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Agustus 1945, Tan Malaka berhasil dihubungi pemuda-pemuda di Bogor, lalu lewat Maruto Nitimihardjo, Tan Malaka berhasil dibawa ke Djakarta, disana juga telah hadir beberapa orang, setelah pidato Tan Malaka yang terkenal di Cikini atas permintaan mahasiswa Prapatan 10, Tan Malaka bertemu dengan Bung Karno yang diantar dokter pribadinya Suharto ke sebuah rumah lalu dibawa ke kamar gelap tanpa lampu disana Bung Karno dan Tan Malaka berbicara berdua, selama berjam-jam Bung Karno digembleng apa arti kemerdekaan dan meletakkan Indonesia dalam peradaban dunia. Bung Karno paham. Tapi kemudian Tan Malaka terseret arus gerakan yang lain dan berpisah jarak dengan Bung Karno.

Di bulan Maret 1950 Bung Karno kedatangan tamu dari Yogyakarta bernama Ki Ageng Suryo Mentaram, Ki Ageng Suryo Mentaram adalah anak dari Sultan Hamengkubuwono VIII yang telah meminta berhenti sebagai Pangeran dan menjalani kehidupan sebagai ahli kebatinan. Ia seorang pangeran yang unik, tapi brilian dalam memahami kehidupan, dia juga adalah orang yang mempengaruhi Bung Karno tentang konsep kemanusiaan dan kebangsaan, serta konsep harga diri sebagai manusia. Pada tahun 1938 sebelum kekalahan Belanda dengan Jepang di tahun 1942, ia diam-diam menyusun kekuatan militer dengan melatih silat ratusan pemuda lalu sempat digerebek rumahnya oleh PID, Intel Hindia Belanda dan diseret ke penjara tapi kemudian Sultan HB VIII turun tangan menyelamatkan adiknya itu dengan uang jaminan, Ki Ageng menyadari ‘waktunya sudah dekat’ untuk Belanda pergi dari Indonesia dan di tahun 1942 sebelum lembaga Putera (Pusat Tenaga Rakyat) terbentuk dimana Bung Karno, Hadji Mas Mansjur, Hatta dan Ki Hadjar Dewantoro jadi pemangkunya, mengunjungi Ki Ageng Suryomentaram untuk meminta doa restu, sekaligus disana dinasihati agar Putera segera membentuk pertahanan militer. “Kehormatan manusia terletak pada keberaniannya, keberanian-lah yang membuat manusia ada” kata Ki Ageng Suryomentaram kepada Bung Karno. Pada pertemuan Ki Ageng Suryomentaram di Istana Merdeka, Ki Ageng berpesan pada Bung Karno agar untuk menjadi bangsa terhormat, maka ‘sadarilah diri kita ada’. Pesan Ki Ageng Suryomentaram inilah yang kemudian diresapi Bung Karno. Dan atas dasar Ki Ageng Suryomentaram didirikanlah PETA (Pembela Tanah Air) walaupun di buku-buku sejarah sering disebut Gatot Mangkoepradja menuliskan dengan jempol darah untuk meminta Jepang mendirikan Tentara Rakyat (PETA).

Setelah kepulangan Ki Ageng Suryomentaram Bung Karno berpikir dalam-dalam tentang Indonesia, kenapa Indonesia selalu tersingkir, kenapa Indonesia bangsa yang besar ini ‘seolah-olah tak ada di mata dunia’. Lalu Bung Karno duduk lama di perpustakaannya di Istana dan bergelut dengan puluhan buku, kebiasaan Bung Karno adalah ketika ia sudah mendapatkan ide tentang memikirkan sesuatu maka ia memerintahkan beberapa orang pegawai Istana mencari buku-buku dengan judul yang dimaksud, lalu buku-buku itu dibentangkan halamannya, jarang bagi Bung Karno menyelesaikan satu buku, sekali ia baca buku ia bisa membaca sepuluh buku, ia dengan cepat membaca struktur, menarik substansi daripada isi, lalu mencoret-coret isi tersebut disamping buku, notes-notes ini yang kemudian jadi pokok pikiran Bung Karno, inilah bedanya Bung Karno dengan Hatta yang bersih dari coretan dan Hatta selalu berdisiplin menyelesaikan satu buku yang dibacanya dengan rinci, tak boleh satu halaman-pun lecek, Hatta adalah pecinta fanatik buku, sementara Bung Karno lebih kepada perusak buku dan senang mengacak-acaknya, yang penting baginya substansi pemikiran sebuah buku ketemu.

Saat itu yang ia pikirkan adalah ‘Rahasia dibalik hilangnya Indonesia dari peradaban’, Bung Karno membuka catatan-catatan sejarah masa lalu Indonesia, ia membaca History of Java yang kemudian dihubungkan dengan buku Revolusi Perancis lalu ia meloncat ke buku tentang Geopolitik Karl Haushofer, ia meloncat lagi ke buku filsafat eksistensialisme dari berbagai macam buku akhirnya bertemu pada satu titik : “Keberadaan ditentukan oleh Perhatian, Keberadaan ditentukan oleh kesadaran ‘bahwa saya ada’…” ketika Bung Karno sampai pada kesimpulan tersebut lalu matanya menumpu pada Peta yang menggantung di perpustakaan Istana. Ia tercekat ‘dimanakah Indonesia?’ kemudian ia berdiri dari tempat duduknya dan mendekat ke peta, ‘Atlas ini tidak menempatkan Indonesia sebagai bagian utuh dunia, Indonesia hanya digambarkan garis-garis kecil. Kemudian ia teringat Tan Malaka dan Ki Ageng Suryomentaram tentang hakikat ‘keberadaan’.

Sebelum tahun 1900, pusat atlas dari dunia adalah Eropa, barulah pada tahun 1910-an, Amerika Serikat membuat atlas resmi yang menjadikan benua Amerika sebagai pusat Atlas. Seluruh Atlas dunia tidak menempatkan Asia sebagai pusat dunia. Bung Karno di tahun 1935 sudah meramalkan pusat dari dunia adalah Asia, lalu di masa masa Revolusi, Bung Karno sering mengobarkan pidato ‘Kelak dunia berpusat di Asia, seluruh dunia akan datang bangsa-bangsa Asia, untuk itu kita harus merdeka’ dan Indonesia adalah salah satu bangsa pertama yang merebut kemerdekaannya. Bung Karno melakukan hitung-hitungan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa terkuat di Asia setelah melakukan penetrasi terhadap geopolitik dunia, namun untuk pertama-tama sebelum masuk pada penetrasi geopolitik, Bung Karno ingin dunia sadar bahwa Indonesia ada, dan Bung Karno berpikir bagaimana meletakkan Asia dan Indonesia sebagai pusat dunia dalam atlas.

Setelah merenung bermalam-malam tentang soal menyadarkan dunia bahwa ‘Indonesia ada’, akhirnya Bung Karno berpikir untuk membuat peta dunia. Suatu pagi Bung Karno mengundang sarapan Muhammad Yamin dan beberapa orang, Bung Karno senang sekali dengan M Yamin, jika Yamin bercerita soal kehebatan masa lalu Jawa di tengah bangsa-bangsa di dunia, walaupun harus diuji kebenaran fakta sejarah, tapi Yamin berhasil membuat definisi soal wawasan geopolitik Gadjah Mada dan jaringan Nusantara yang membentuk geopolitik keIndonesiaan. “Yamin, aku ingin membuat Peta dimana Asia dibuat jadi centris-nya, dimana Indonesia dengan ‘gagah’ berada di tengah-tengah bangsa di dunia”. Yamin langsung menyambar :”Coba saja panggil Pak Djamalludin, mungkin dia bisa” yang dimaksud Djamaluddin adalah Adinegoro, seorang jurnalis Indonesia terkemuka pada tahun 1920-an.

Djamaluddin yang punya nama pena Adinegoro itu, merupakan orang Indonesia pertama yang belajar soal Jurnalistik secara khusus, ia belajar langsung ke Jerman, disana ia berguru dengan Professor E. Dofivat. Ketika belajar di Jerman ini juga Adinegoro bergabung dengan perkumpulan yang bernama Asiatische Verein, persatuan Asia, sebuah embrio gerakan besar yang menyadarkan kebesaran Asia ditengah-tengah dunia yang sedang bergolak. Saat Adinegoro belajar di Jerman juga ia menekuni dengan jeli buku Karl Haushofer yang berjudul : Geopolitik Des Pasifischen Ozeans. Dalam buku Politik Lautan Teduh diramalkan bahwa bangsa Melayu (Indonesia) akan jadi bangsa Merdeka dan menjadi bangsa maritim terkuat di dunia. Kesadaran ini juga yang terus mendorong Adinegoro untuk menekuni sejarah geopolitik dan kerap menulis tentang laporang Perang Dunia yang meletus di tahun 1939 sampai dengan tahun 1945.

Rupanya pemikiran Bung Karno dan Djamaluddin Adinegoro satu ordinat, mereka terus berdiskusi soal Kartografi yang intinya meletakkan Asia ditengah-tengah. Bung Karno berkata “Pak Adinegoro, saya paham Asia akan jadi pusat dunia, dan saya akan mengarahkan Indonesia jadi bangsa terkuat di Asia, Indonesia yang menyumbangkan bagi peradaban dunia, Indonesia menjadi bangsa yang mampu menciptakan kesejahteraan dunia, pusat budaya, pusat Ilmu Pengetahuan, itu obsesiku, lalu dengan meletakkan Indonesia ke dalam titik sentral Asia, dan menjadi Asia sebagai pusat dunia adalah fase awal dalam membentuk kesadaran ‘bahwa kita ada’.

Itulah pesan Bung Karno pada Adinegoro, lalu Adinegoro mengajak kawannya Adam Bachtiar untuk menyusun Atlas dengan Asia sebagai pusatnya, pada tahun 1952 peta itu selesai dan diserahkan pada Bung Karno, penerbit Peta itu adalah Penerbitan ‘Djambatan Amsterdam’ yang kemudian namanya menjadi singkat saja ‘Penerbit Djambatan’. Bung Karno memerintahkan Peta terbitan Djambatan itu digunakan resmi di sekolah-sekolah, kantor negara dan umum. Lalu peta itu menyebar, setelah pamor Bung Karno naik di Konferensi Asia Afrika, Peta versi Djambatan ini ditiru banyak bangsa di dunia.

Sejak itulah peta yang menggunakan Asia sebagai pusatnya paling banyak digunakan diseluruh dunia, Peta versi Penerbit Djambaran. Hanya Amerika Serikat yang masih menggunakan Peta dengan menempatkan Amerika Serikat sebagai pusat dunia, lain negara menggunakan peta yang hampir persis dengan penerbit Djambatan ini.

Inilah peran Bung Karno di masa lalu, inilah mimpi bangsaku di masa lalu, dan ketika di hari-hari ini Indonesia dipertontonkan oleh para politisi maling di Pengadilan, mereka yang maling dan berdebat di televisi-televisi, betapa malunya kita kalau kita sadar sejarah, bahwa bangsa Indonesia dibentuk oleh manusia-manusia bervisi raksasa, idealisme dan besar kemudian diperintah dan dipimpin sebarisan maling yang saling berdebat memamerkan kepandaian mereka mencuri uang negara di depan mata rakyat, seraya rakyatnya kelaparan dan BBM dinaikkan tanpa pembelaan negara berjuang memberikan subsidi………

Jadi jika anda melihat TV dan mendengarkan radio bagaimana maling berdebat, palingkanlah mata anda ke Atlas dunia, disitu kita pernah punya mimpi Indonesia sebagai bangsa besar.

sumber : http://anton-djakarta.blogspot.com/2012/03/bung-karno-dan-peta-dunia.html
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bung Karno dan Peta Dunia )

Gerakan Buruh Dari Waktu Ke Waktu

Posted on 15/12/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda | Tags: |

Massa buruh di Indonesia adalah massa buruh terbesar di Asia, bahkan di satu masa pernah melampaui Cina. Sebagai catatan Indonesia pernah menjadi negara perkebunan terbesar di dunia antara tahun 1840-1905, setelah tahun 1905 massa buruh di Cina melonjak akibat kebijakan industrialisasi diperkenalkan.

Di Hindia Belanda buruh perkebunan adalah massa buruh lapis pertama. Tapi tidak tercerahkan.

Pergerakan buruh belum dikenal sampai pada tahun 1880-an ketika banyak pemberontakan-pemberontakan radikal petani, kaum buruh masih merasa satu nafas terhadap industri yang pertama kali dibangun di Hindia Belanda, massa buruh perkebunan belum memiliki kesadaran, karena ditempatkan di tempat yang terkucil dan jauh dari peradaban intelektual.

Massa buruh yang tercerahkan justru dibangun dari jaringan kereta api yang dibangun di seluruh pelosok Jawa pada tahun 1862. Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. berkunjung ke London dan berpidato di depan forum investor Eropa atas tanah-tanah kolonial, dia berpidato “Tanah Jawa dan Jaringan Lalu Lintas Kereta Api” Van den Beele dalam pidatonya berkata : “Salah satu fungsi mempercepat kemajuan dalam dunia industri perkebunan di Jawa adalah terdapatnya Kereta api dan Tenaga Buruh” Disini Van Den Beele sudah menempatkan buruh sebagai bagian dari penilaian produksi pemerintahan Hindia Belanda.

Buruh menjadi kekuatan penting, isu terbesar dalam forum investor itu adalah ketersediaan tenaga kerja murah bahkan seperti budak. Namun angin kebebasan yang ditiupkan Lincoln membuat para bandar-bandar modal di Eropa menjadi amat berhati-hati dengan perbudakan, mereka mulai menilai kerja-kerja manusia sebagai kerja yang di ‘subkontrakkan’.

Dalam pertemuan investor di London, road show investments Van Den Beele berhasil, ia berhasil menarik beberapa investor, pooling fund atas investor itu dibentuk dalam badan hukum bernama “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM), yang dipimpin Ir. J.P de Bordes. Tiang pancang pembangunan pertama kali adalah di wilayah Tanggoeng, Semarang, selesai pada tahun 1867.

Apa yang dikatakan Van Den Beele menjadi kenyataan, pekerja kereta api meningkat pesat jumlahnya,, mereka menjadi pekerja-pekerja intelektual, lapisan paling elite dalam jajaran pekerja pribumi dan tidak diperlakukan sebagai budak.

Setiap jaringan kereta api menjadi pusat dari segala seluruh pergerakan politik di Indonesia yang paling realistis namun karena bersifat agak cenderung kiri dan kemerah-merahan, gerakan ini tidak pernah dicatat sebagai sejarah resmi negara.

Gerakan kebangsaan dicatat hanya sebagai gerakan kaum elite menengah atas, kaum bangsawan yang banyak terdapat di sekolah-sekolah bentukan Hindia Belanda, pergerakan kesadaran kebangsaan tidak dicatat dalam rapat-rapat politik di stasiun kereta api atau berada di kafe-kafe tempat para pekerja kereta api berkumpul.

Barulah pada tahun 1915 gerakan buruh kereta api menjadi sangat penting dalam percaturan politik setelah Sarekat Islam membuka afdeeling (Pengurus Cabang) di stasiun-stasiun penting di Jawa seperti : Semarang dan Surabaya.

Pada tahun 1918 di Garut terjadi pemberontakan yang ditengarai dilakukan SI Afdeeling B (Afdeeling B adalah kode, cabang rahasia yang sampai saat ini tidak ditemukan susunan pengurusnya, ini macam biro chusus pada masa DN Aidit di tahun 1965). Pemberontakan di Garut itu mendorong radikalisasi gerakan buruh di berbagai lini, pemogokan yang paling efektif dan menekan kaum pemodal justru terjadi pertama kali di industri percetakan Van Dorp yang berhasil menaikkan gaji 20% dan uang makan 10%, kemenangan kaum buruh dalam lingkungan percetakan Van Dorp membuat kaum agen-agen intelektual buruh mengembangkan dialektikanya atas sasaran perdjoangan.

Pergerakan buruh mencapai momentum terbesarnya ketika Soerjopranoto seorang bangsawan Jawa dari Trah Pakualaman masuk ke dalam Sarekat Islam dan mampu membius dengan pemikiran-pemikiran gerakan buruh yang taktis dan tepat. Soerjopranoto menjadikan gerakan buruh sebagai bagian tak terpisahkan dalam pembentukan pertama kali sebuah bangsa, sebagai bagian dari gerakan intelektual radikal. Soerjo mengatur pemogokan-pemogokan sebagai agenda gradual dalam menekan pemerintahan Hindia Belanda, lewat gerakan pemogokan ala Surjopranoto, Pemerintahan Hindia Belanda rugi jutaan gulden. Surjopranoto mendapat perhatian khusus oleh dinas intelijen Belanda dalam rapat khusus mereka di Istana Bogor tahun 1919.

Rapat khusus penggede “Politieke Inlichtingen Dienst” (PID) di awal tahun 1922 itu memutuskan dikenakannya : “exorbitante rechten”, penangkapan berdasarkan kecurigaan intelijen tanpa harus lewat proses hukum, yang jadi contoh kasus dalam operasi ini adalah Soerjopranoto. “Operasi Bogor” inilah yang kemudian menjadi amat keras bagi pergerakan-pergerakan buruh di masa selanjutnya dan pergerakan politik yang lain. Puncak dari “Operasi Bogor” adalah kekejian pemerintah Hindia Belanda dalam menumpas gerakan kemerdekaan yang dilakukan PKI pada tahun 1926/1927 lewat pemberontakan yang mereka lakukan di Prambanan, Semarang, Banten dan Silungkang Sumatera Barat.

Gerakan buruh setelah pemberontakan PKI dan ditangkapnya Bung Karno pada tahun 1930-an nyaris tak terdengar, dimasa-masa ini pula muncul generasi baru yang lahir pada tahun 1920-an awal dan bersemi antara tahun 1941-1949 menjadi kalangan kelas menengah namun menjadi agen intelektual atas gerakan-gerakan buruh dalam masa revolusi kemerdekaan 1945-1949.

Gerakan buruh menjadi terdengar gaungnya ketika terjadi perebutan massa buruh oleh kekuatan-kekuatan politik di sekitar revolusi 1945. Pada 1 Mei 1946, gerakan buruh didekati kelompok pemegang kekuasaan Perdana Menteri Sjahrir untuk dimasukkan ke dalam barisan Partai Sosialis, saat itu Sjahrir masih akur dengan Amir Sjarifuddin dan membentuk Partai Sosialis yang memegang jalannya pemerintahan. Di pihak lain kelompok Tan Malaka amat ingin sekali buruh masuk ke dalam garis perdjoangan mereka, kelompok Tan Malaka tak ingin kaum buruh masuk ke dalam kelompok pemerintah yang cenderung lebih kepada perdjoangan diplomasi, pada tahun 1946 tren diplomasi sudah ditengarai oleh Tan Malaka salah satunya adalah sikap begitu kompromisnya Sjahrir pada Inggris, Tan Malaka menghendaki tanpa kompromi perang dengan seluruh pasukan asing apapun alasannya dan menguasai seluruh perkebunan-perkebunan dan kilang.

Sjahrir dan Amir lalu memamerkan penguasaan kekuatan buruh mereka pada 1 Mei 1946, gerakan buruh 1 Mei 1946 sesungguhnya merupakan gerakan tandingan atas aksi Rapat Ikada 17 September dimana rapat raksasa itu adalah mainan dari kelompok Tan Malaka dan menjadi gema atas kekuatan rakyat paling spektakuler pada masa awal revolusi, kelompok Sjahrir menjadi gerakan 1 Mei 1946 sebagai bentuk kekuatan massa milik mereka di depan kelompok oposisi.

Gerakan buruh di masa Revolusi dan kemudian di masa Sukarno sama sekali tak menjadi kekuatan otentik, mereka tidak mendirikan partainya sendiri, mereka diageni banyak Partai dan banyak kepentingan, sehingga apa yang terjadi dalam dinamika gerakan buruh menjadi bagian dari sejarah Partai Politik bukan lagi sebagai bagian gerakan buruh murni, ini berbeda di lapangan perdjoangan intelektual kelas menengah yang menjadikan gerakan intelektual sebagai gerakan otentik.

Di masa Suharto, kemanusiaan buruh menjadi titik paling rendahnya, dalam konferensi di Swiss, dimana Frans Seda, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik melakukan lobi-lobi politik Internasional untuk mendapatkan bantuan keuangan internasional, buruh dimasukkan sebagai free warrant atas garansi instrumen hutang yang diterbitkan pihak Indonesia. Buruh menjadi sumber murah dalam pemanis sebuah investasi, hal ini bahkan lebih keji daripada yang dilakukan Van den Beele, dimana Van den Beele secara gentleman mengakui bahwa buruh diakui sebagai bagian subkontrak kerja.

Kebijakan ‘benda mati buruh’ dalam masa Orde Baru berlangsung terus menerus dan sistematis, kekuatan buruh dihajar habis-habisan, buruh dianggap sebagai bagian dari gerakan politik kiri, bahkan di tahun 1998 saat gerakan reformasi yang digerakkan mahasiswa terjadi kelompok buruh dilarang ikut-ikutan sehingga cap gerakan penggulingan Suharto hanya dilakukan kelompok mahasiswa.

Marginalisasi politik kaum buruh kemudian membuat buruh belajar sendiri, bahwa pergerakan mereka tidak membutuhkan agen-agen intelektual kelas menengah, mereka mengorganisir dirinya sendiri, bahkan sekarang kekuatan buruh adalah kekuatan paling terorganisir diantara seluruh kekuatan politik masyarakat yang ada, kekuatan buruh adalah kekuatan raksasa yang tenor perdjoangannya lebih lama ketimbang tenor perdjoangan mahasiswa. Bahkan bisa dikatakan, apabila kaum buruh mampu membentuk Partainya sendiri, membentuk jaringannya sendiri tanpa menggantungkan diri pada kekuatan Partai Politik mapan maka bisa dipastika, Partai Buruh menjadi Partai politik paling kuat di Indonesia.

Persoalan kaum buruh di Indonesia dalam konteks kekuasaan hanya satu yang mereka sampai saat ini tidak berani langsung berhadapan head to head dengan kelompok penguasa dinasti yang dibekeng kaum pemodal, kaum buruh masih enggan menggaris demarkasi permusuhan politik dan belum menggariskan sikapnya dalam kebijakan besar visioner tentang ‘Konstelasi Pergerakan Buruh di Indonesia melawan penguasa politik”.

Apabila garis-garis realistis perdjoangan kaum buruh bisa diletakkan dengan dasar yang baik, mampu menemukan hukum-hukum revolusi dalam perubahan bentuk susunan masyarakat maka tak pelak lagi, Partai Buruh akan menjadi Partai terkuat seperti dalam tradisi Inggris dan Negara-Negara Commonwealth.

(Anton DH Nugrahanto, 1 Mei 2012).

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Gerakan Buruh Dari Waktu Ke Waktu )

Ilmuwan Yang Menjadi Seorang Muslim Setelah Melakukan Riset Penelitian

Posted on 15/12/2012. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , , , , |

1. Maurice Bucaille, masuk Islam karena jasad Fir’aun
Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Kisah di balik keputusannya masuk Islam diawali pada tahun 1975.

Pada saat itu, pemerintah Prancis menawari bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Firaun), padahal telah dikeluarkan dari laut?

Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’, dengan judul aslinya, ‘Les Momies des Pharaons et la Midecine’.

Saat menyiapkan laporan akhir, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille seraya berkata: “Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”.

Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Namun, ia masih bertanya-tanya tentang kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa as, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: “Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

2. Jacques Yves Costeau, di lautan terdalam menemukan Islam

Mr Jacques Yves Costeau adalah seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis yang lahir pada 11 Juni 1910. Sepanjang hidupnya ia menghabiskan waktu dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia melalui stasiun tv Discovery Channel.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Sehingga seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya. Profesor tersebut lalu teringat ayat Alquran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.

Ayat itu berbunyi: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”.

Kemudian dibacakan surat Al-Furqan ayat 53 : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Terpesonalah Mr Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Costeau pun berkata bahwa Alquran memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Tak lama, Mr Costeau memeluk Islam.

3. Demitri Bolykov, meyakini matahari akan terbit dari Barat

Sebagai seorang ahli fisika asal Ukraina, Demitri Bolykov mengatakan bahwa pintu masuk ke Islam baginya adalah fisika. Demitri tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof Nicolai Kosinikov, yang juga merupakan pakar fisika.

 

Teori yang dikemukan oleh Prof Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menafsirkan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sampel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

 

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

 

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya intensitas daya matahari.

 

Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun.

 

Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat.

 

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian.

 

Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima taubatnya.”

4. Dr.Fidelma O’Leary, menemukan rahasia sujud dalam salat
Dr Fidelma, ahli neurologi asal Amerika Serikat mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Ketika melakukan penelitian, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.

Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius. Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam salat. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

Rupanya memang urat saraf dalam otak tersebut hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat otak dengan mengikuti waktu salat.

Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Karena posisi sujud akan mengalirkan darah yang kaya oksigen secara maksimal dari jantung ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang.

Setelah penelitian mengejutkan tersebut, Fidelma mencari tahu tentang Islam melalui buku-buku Islam dan diskusi dengan rekan-rekan muslimnya. Setelah mempelajari dan mendiskusikannya, ia malah merasa bahwa ajaran Islam sangat logis. Hatinya begitu tenang ketika mengkaji dan menyelami agama samawi ini.

 
5. Profesor William, menemukan tumbuhan yang bertasbih
Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.

Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.

Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.

Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peniliti muslim ini lalu mengatakan jika temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim peneliti Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yang dikatakannya.

Sang peneliti muslim kemudian membaca ayat dalam Alquran yang berbunyi:

“Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun,” (QS Isra: 44).

Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah berupa mushaf Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris.

Selang beberapa hari setelah peristwa itu, Profesor William berceramah di Universitas Carnegie Mellon. Ia mengatakan:

“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” demikian ungkapan William.

sumber : http://iniunic.blogspot.com/2012/12/ilmuwan-yang-menjadi-seorang-muslim.html

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ilmuwan Yang Menjadi Seorang Muslim Setelah Melakukan Riset Penelitian )

Kekecewaan Seorang Jepang

Posted on 01/10/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |

PADA 15 Februari 1958, Presiden Sukarno menyerahkan sebuah teks kepada Shigetada Nishijima untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo. Teks itu berisi kenangan Sukarno kepada dua orang Jepang yang membantu perjuangan Indonesia: Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro.
Di biara Buddha itu kemudian dibuat monumen Sukarno (Soekarno hi) bertuliskan: “Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno.”   
Ichiki Tatsuo lahir di kota kecil Taraki, prefektur Kumamoto, bagian selatan Kyushu. Dia anak ketiga dari enam bersaudara. Ketika kecil, orangtuanya bercerai, dia ikut ibunya. Ichiki dibesarkan saat Jepang berada pada masa transisi. Kebebasan dan demokrasi selama zaman Taisho (1912-1926) mulai tergerus oleh tekanan militer pada masa Showa (1926-1989). Banyak pemuda desa seperti juga Ichiki bercita-cita mencari kehidupan baru di Amerika Selatan atau Samudra Pasifik bagian selatan, yaitu Asia Tenggara.
Kesempatan itu pun datang. Datang surat dari teman sekampung, Tsuruoka Kazuo, yang sukses mendirikan toko kelontong –dikenal dengan sebutan toko Jepang– di kota Pagar Alam, dekat Palembang, Sumatra Selatan. Isinya: mengundang Ichiki untuk datang dan bekerja di studio foto Miyahata di Palembang. Saat itu Ichiki berusia 21 tahun. Dia meninggalkan bangku sekolah menengah sebelum lulus dan magang di sebuah studio foto, dekat kampungnya. Pada 22 Januari 1928, Ichiki pun berangkat.
“Dia bermimpi menjalankan studio foto terbesar di Samudra Pasifik bagian selatan,” tulis Goto dalam “Life and Death of Abdul Rachman (1906-49): One Aspect of Japanese-Indonesian Relationships,” Indonesia, Vol 22, 1976.
Pada 1933, Ichiki datang ke Bandung karena saudara mudanya, Naohiro yang menyusulnya pada akhir 1929, meninggal dunia. Ichiki tak kembali ke Palembang tapi tetap di Bandung dan bekerja di studio foto. Merasa tak nyaman, dia jadi kondektur bus. Tak cocok, dia meninggalkan pekerjaan ini dan tinggal di rumah Iti, perempuan dari keluarga miskin di sebuah kampung di Sumedang. Dia menemukan kedamaian, bahkan merasa hampir sepenuhnya sebagai orang Indonesia. “Ini adalah kelahiran baru Ichiki Tatsuo,” tulis Kenichi.
Dalam kehidupan keras di kampung ini, Ichiki memupuk pengetahuan bahasa Indonesia sampai dia menyusun kamus Indonesia-Jepang. Ichiki tetap mengikuti perkembangan politik di Jepang. Untuk itu, dia sering pergi ke Klub Jepang di Bandung. Dia juga melahap koran dan majalah JepangTerkadang dia menerjemahkan artikel bertopik semangat Jepang Bushido lalu menjualnya koran-koran lokal.
Machida Taisaku, pemimpin senior Klub Jepang di Bandung, merekomendasikan Ichiki ke koran Nichiran Shogyo Shinbun, yang dijalankan Kubo Tatsuji, advokat pendukung Asianisme. Pada Juli 1937, koran ini merger dengan Jawa Nippo dan berubah nama menjadi Toindo Nippo (Harian Hindia Timur) tapi tetap anti-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda, yang menganggap Jepang sebagai ancaman, meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan Ichiki dan kawan-kawannya.
Pada 1938, untuk mendiskusikan proyek Toindo Nippo lebih kongkret, Ichiki kembali ke Tokyo. Tapi sebelum berangkat ke Indonesia, dia menerima telegram dari Belanda di Batavia yang melarangnya masuk kembali ke Jawa karena kegiatan anti-Belandanya. Ichiki pun bekerja sebagai peneliti paruh waktu di Biro Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri dan di Staf Umum Angkatan Darat.
Pada 1940-an, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda secara bertahap memperkuat embargo ekonominya kepada Jepang. “Hal ini bahkan mengakibatkan semakin pentingnya arti Indonesia bagi Jepang. Pada saat itu, pemimpin-pemimpin Jepang mulai membicarakan secara terang-terangan ‘pembebasan’ Indonesia,” tulisnya Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Pada masa ini, Ichiki berteman dekat dengan Joseph Hassan, pejuang kemerdekaan Indonesia yang secara diam-diam dikirim ke Jepang oleh teman Jepangnya, seperti Machida Taisaku and Sato Nobuhide. “Ichiki dan Hassan akan menghabiskan berjam-jam dengan antusias berbicara tentang hari esok rakyat Indonesia setelah mereka dibebaskan,” tulis Kenichi.
Setelah menggulingkan Belanda pada Maret 1942, Jepang disambut dengan suka cita sebagai Saudara Tua. Namun, suasana itu tak berlangsung lama. Jepang segera melarang berbagai aktivitas politik. Ichiki pun kecewa.
Pada sesi Imperial Diet (Majelis Perwakilan Tertinggi Jepang) awal 1943, Perdana Menteri Hideki Tojo menyebutkan akan memberikan kemerdekaan bagi Filipina dan Burma di akhir tahun 1943, tapi Indonesia tidak disebut. Sekali lagi, Ichiki frustasi dan lambat-laun membenci negerinya sendiri.
Bendera PETA.png
Bendera PETA
Pada Oktober 1943, Jepang membentuk Pembela Tanah Air (Peta) –kelak menjadi inti dari angkatan bersenjata Indonesia. Ichiki bekerja sebagai petugas paruh waktu di Divisi Pendidikan Peta di Bogor. Dia membangun sebuah rumah terpencil di perkebunan karet dan menyebut dirinya –karena kulitnya agak gelap– “gagak dari Bogor.” Pekerjaannya menerjemahkan manual tentara Jepang seperti Rikugun Hohei Soten(Manual Infantri) dan menjadi editor majalah Heiho, Pradjoerit. Melalui karyanya, dia merasa masih bisa melayani masyarakat Indonesia. Ichiki juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Asia Raya.
Pada 15 Agustus 1945, berita kekalahan Jepang sampai pada Ichiki. Jepang, yang melalui Perdana Menteri Kuniaki Koiso, pengganti Tojo, berjanji memberikan “kemerdekaan Indonesia di kemudian hari” pada 7 September 1944, mengingkari dan mematuhi perintah Sekutu, serta menyatakan tak ada hubungannya lagi dengan masalah kemerdekaan Indonesia. Ichiki merasa Jepang telah mengkhianati rakyat Indonesia dua kali: pada awal dan akhir pendudukan.
Di hari Jepang menyerah, Ichiki menyatakan berpisah dengan Jepang. Dia menentang tentara Sekutu dan pendaratan pasukan Belanda, serta bertekad untuk berbagi dengan rakyat Indonesia akan nasib ibu pertiwi barunya, Republik Indonesia, bukan sebagai seorang Jepang Tatsuo Ichiki, tapi sebagai pemuda Abdul Rachman. Nama Abdul Rachman diberikan oleh H. Agus Salim ketika menjadi penasihat Divisi Pendidikan Peta, sebagai bentuk penghargaan kepadanya yang memihak Republik.
Pada masa perang kemerdekaan, Abdul Rachman memimpin Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur, yang disegani Belanda. Pasukan yang dibentuk pada 1948 ini merupakan satuan khusus di bawah militer Indonesia yang beranggotakan sekira 28 orang tentara Jepang yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka disebut zanryu nihon hei atau prajurit yang tinggal di belakang.
Pada 9 Januari 1949, desa terpencil Dampit dekat Malang, Jawa Timur, yang merupakan salah satu medan pertempuran paling sengit, menjadi akhir riwayat sang samurai. Abdul Rachman berlari ke depan melawan arus peluru Belanda untuk mendorong pasukan Indonesia, yang mulai ragu melihat kekuatan Belanda, agar menyerang. Alhasil, beberapa peluru Belanda menembus dahinya.

Sumber: http://historia.co.id

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kekecewaan Seorang Jepang )

Perang Informasi Pada 30 September 1965

Posted on 01/10/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , |

13489810701486267702

Polemik Pembentukan Kolone ke V atau Angkatan Ke V, serta Konflik dengan Malaysia sering disebut-sebut sebagai Titik Nol Peristiwa September 1965. Gambar atas : Sukarelawan Dwikora (Sumber Foto : LIFE)

Sampai detik ini peristiwa Gestapu 1965 merupakan peristiwa politik paling rumit sedunia, sebab musababnya tidak pernah dibuka secara utuh walaupun sudah hampir 50 tahun berselang, tidak satupun data-data CIA mau dideklasifikasikan atau dibuka apa yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa itu.

Peristiwa Gestapu 1965, sebenarnya merupakan Gerakan Penjemputan paksa yang dilakukan oleh sejumlah perwira menengah (satu perwira tinggi, Brigdjen Soepardjo yang secara aneh menjadi wakil seorang Overste, bernama Untung) kepada tujuh perwira tinggi yang kemudian malah membuat berantakan seluruh lini gerakan, bukan itu saja histeria atas penjemputan paksa serta pembunuhan ini malah menghadirkan histeria luar biasa terhadap sejarah bangsa ini, pada peristiwa inilah hampir seluruh keluarga-keluarga di Indonesia terpecah, saling mencurigai, seluruh situasi diliputi ketegangan tinggi, pembantaian di mana-mana. Di masa ini bercampur baur antara : Ketakutan, Minimnya Informasi (Asimetris Informasi), Saling Intrik, Perebutan Kekuasaan dan Pembantaian yang diikuti suasana represif.

Lalu apa yang terjadi sebenarnya pada Peristiwa 1965? – Peristiwa September adalah sebuah perluasan dari Gerakan September, pemaknaan ini menjadi luas, bila Gerakan adalah sebuah aksi kecil, terbatas dan mempunyai tujuan jangka pendek, maka “Peristiwa” maknanya menjadi luas : Aksi massif, meluas, dan mempunyai tujuan jangka panjang, Sebuah rangkaian gerakan yang menggebuk semua lini, penghancuran dan pembangunan struktur baru, pemusnahan era lama dan pembangunan era baru, pembantaian kepada kelompok pendukung kekuasaan lama dan pembentukan peradaban baru, masa royan (luka) revolusi ini menjadi amat panjang dirasakan dan merupakan sebuah luka psikologis terbesar bangsa Indonesia bila mengenang sejarah masa lalunya.

Memahami Gerakan September 1965, akan sangat luas bahasannya mulai dari perluasan intrik Pengganyangan Malaysia, Konflik terusan antara AS dengan Indonesia dimana kasus Irian Barat masih jadi kerugian terbesar AS dalam sejarah diplomasi luar negerinya pasca sepeninggalnya JF Kennedy, Serangan politik PKI kepada kelompok pemodal dan kaum kaya dengan pembentukan gerakan land reform, Gertakan Bung Karno kepada Inggris untuk segera cabut dari Malaya dan membentuk sebuah zona berdikari di kawasan Asia Tenggara sampai pada isu Angkatan Ke Lima : Buruh dan Tani dipersenjatai. Rangkaian isu ini jelas membuat simpang siurnya informasi dan semakin mempertajam intrik antara kelompok-kelompok kekuatan di sekitar Presiden Sukarno.

Informasi dan pemegang Informasi adalah kata kunci dalam mengatur sebuah irama gerakan. – Disini kemampuan Suharto sebagai pemain yang muncul tiba-tiba, menjadi amat menarik bila diperhatikan dari sisi mengatur irama tensi psikologis masing-masing kekuatan, dan sebenarnya bila ditilik dari sisi kemenangan Politik maka Suharto sejak awal sudah dipastikan jadi pemenang karena Suharto memegang beberapa kunci informasi yang penting kemudian informasi itu disirkulasi untuk menekan banyak pihak dan menggebuk banyak pihak sampai pada puncaknya kenaifan Sukarno memberikan Surat 11 Maret 1966 sebagai sebuah mandat keamanan yang kemudian dipelintir oleh klik Suharto sebagai Surat pelimpahan kekuasaan, walaupun Sukarno sampai suara serak meminta jangan dipelintir SP 11 Maret 1966 dari hanya : “Tugas Peng-amanan” menjadi “Transfer Kekuasaan” maka bisa dikatakan puncak dari Peristiwa 1965, bukanlah pada Penculikan itu sendiri tapi dilihat sampai pada titik SP 11 Maret 1966.

Ribuan buku sudah mengulas tentang Peristiwa September 1965, mungkin buku-buku ternama seperti karangan Ben Anderson, Antonie CA Dake, Wertheim, John O Sutter, Victor M Fic, Coen Hoetzappel, Peter Dale Scott, Ruth McVey, John Roosa sampai pada Buku Putih keluaran Orde Baru, semuanya berdiri di atas multisisi dalam melihat Gestapu 1965. Namun akan menjadi menarik bila kemudian kita memperhatikan dari satu skup kecil saja, yaitu : Arus Informasi, Sirkulasi Informasi dan Pola Psikologis selama hari-hari Gestapu 1965 yang menentukan pembentukan sejarah secara umum.

Arus Informasi

Di titik ini banyak simpang siur informasi, masing-masing kekuatan politik di sekitaran Sukarno sedang memperebutkan wilayah kekuasaan politik yang bertumpu pada dua hal : Pergerakan Rakyat dan Politik Penyerbuan Militer ke Malaysia. Di titik pertama PKI menjadi motor atas penguasaan wilayah-wilayah politik pergerakan rakyat, sampai pada blunder terbesar DN Aidit yaitu melakukan politik land reform sebagai tindakan head to head yang menghajar ekonomi tentara utamanya Angkatan Darat yang pada tahun 1957 mendapatkan keuntungan besar dengan menguasai banyak perkebunan-perkebunan besar yang ditinggalkan perusahaan Belanda akibat politik repatriasi atau pengusiran warga Belanda karena sikap keras kepala Luns yang menolak melepaskan Irian Barat sesuai dengan janji KMB 1949. Dan kedua, adalah intrik di internal Angkatan Bersenjata dimana kekuatan AURI sedang naik daun karena pendekatan Marsekal Omar Dhani kepada Bung Karno yang intensif sementara di tubuh Angkatan Darat sendiri sudah mulai terjadi benih rivalitas antara Nasution dan Yani, juga ada sekelompok perwira yang berdiri di luar sistem atas rivalitas elite AD di lingkaran dalam Sukarno, disisi ini Suharto berdiri sebagai ‘perwira tinggi yang tidak diperhitungkan’. Sementara di tempat lain Subandrio terus memproduksi data-data soal berapa banyak pihak yang menentang politik perang dengan Malaysia dan disisi lain pula pihak Angkatan Darat juga memproduksi data-data serta kemungkinan yang terjadi lewat intelijennya, disini peranan S Parman amat dominan, isu Dewan Djenderal sendiri muncul dari kantor S Parman berdasarkan rekaman yang banyak beredar di banyak kalangan. Sukarno mendapatkan banyak hal tapi seperti biasanya, Sukarno selalu melihat bentuk konfliknya sehingga ia tahu harus berdiri di posisi mana, disini menurut banyak pihak sudah banyak yang mengeluarkan isu bahwa PKI akan memberontak, tapi selalu ditepis, termasuk pengakuan eks Ajudan Bung Karno, Brigdjen Sugandhi yang melaporkan soal PKI ini namun Sugandhi diusir keluar oleh Bung Karno, hal ini diungkapkan oleh Antonie CA Dake dalam Sukarno File, namun oleh Mangil hal ini kemudian dibantah.

1348981243987494432

Suharto orang yang diuntungkan di segala lini keadaan, mulai dari Informasi Pra Gerakan sampai pada Kemampuannya mengendalikan Pasukan dan Informasi ke Tengah masyarakat (Sumber foto : Antara)

Informasi adalah sebuah data yang akan sangat tepat bila didapat dengan amat tepat pula dan boleh dikatakan hanya Suharto-lah yang memegang kendali atas data gerakan, kekuatan politik, sirkulasi penyebaran informasi dan kendali pasukan yang berpihak pada dirinya dan siap berhadapan dengan siapapun yang menentang atas penafsiran-penafsiran politiknya tentang Gerakan Untung 1965 termasuk berhadapan dengan Presiden Sukarno.

Kolonel Latif dan Eksepsi 10 Mei 1978 :

Sampai pada tahun 1978, peristiwa 1965 menjadi amat gelap, fokus para elite politik saat itu bukanlah pada “Peristiwa Gerakan yang terjadi antara 30 September 1965-1 Oktober 1965” tapi pada penghimpunan kekuatan-kekuatan dalam pendongkelan Bung Karno dan Pembubaran PKI sebagai pematahan kaki politik Bung Karno ke arah massa rakyat. Barulah pada tahun 1978 muncul sidang atas Kolonel Latief yang secara mengejutkan membuka tabir tahap pertama informasi dan menjadi perbincangan hangat di koran-koran pada tahun 1978 yang sedikit banyak juga mempengaruhi gerakan politik mahasiswa di tahun 1978 dimana saat itu Orde Baru sedang kuat-kuatnya.

Dua informasi penting Latief adalah pertemuan dengan Suharto di rumahnya dan pertemuan Suharto di Rumah Sakit pada malam sebelum penjemputan para Jenderal. Pertemuan pertama tidak pernah dibahas banyak sejarawan, tapi pertemuan kedua adalah pertemuan yang paling terkenal dan banyak dijadikan acuan para Sejarawan bahwa Suharto memegang informasi penting atas gerakan, namun Suharto menahan diri, hal ini harus diperjelas lagi, apakah kualitas informasi yang diterima Suharto sama dengan informasi yang ada di tangan DN Aidit, Sukarno, Subandrio, Yani, S Parman dan kelompok SUAD ataukan sudah spesifik? Banyak pihak belum menjawab itu.

Namun eksepsi Latief di tahun 1978 memperjelas bahwa Suharto sendiri yang muncul tiba-tiba di jam 6.00 pagi dan sudah menentukan posisinya untuk secara langsung berhadapan pada Sukarno dengan menolak perintah untuk menghadapkan Jenderal-Jenderal Angkatan Darat yang memiliki kendali pasukan sudah menjadi indikasi bahwa Suharto memiliki kekuatan tersembunyi dalam memenangkan keadaan.

Perebutan RRI dan Penerbitan Koran

1348981425955645092

Harian Rakjat Secara Mengejutkan Terbit Pada 2 Oktober 1965, Sebagai Satu-Satunya Koran Yang Mendukung Gerakan Untung 1965 (Sumber Foto : Arsip Perpustakaan Nasional)
Gerakan Untung 1965 adalah “Gerakan Paling Konyol” dan seolah-olah dirancang untuk gagal, bagaimana bisa Gerakan Militer sekaligus berimplikasi pada Gerakan Politik tidak memiliki Plan A, Plan B dan pemahaman yang luas atas rencana gerakan?. Bagaimana bisa Gerakan yang mampu melempar Jenderal-Jenderal ke atas truk tidak memiliki jalur logistik, pasukan bantuan tempur cadangan dan jaringan informasi ke tingkat elite. –Sepenuhnya setelah jam 5 pagi tanggal 1 Oktober 1965, Gerakan Untung adalah sebuah spekulasi.

Perebutan RRI dalam Gerakan Untung 1965, sesungguhnya melawan ke dua hal : Di sisi lain penekanan pada barisan Jenderal di tubuh Angkatan Darat dan di sisi lain menekan Bung Karno yang ditinggalkan dalam list Dewan Revolusi yang dirilis secara sepihak oleh Overste Untung. “Kudeta Untung pada Angkatan Darat” adalah menurunkan pangkat para Jenderal menjadi dibawah pangkat Letnan Kolonel disini Untung akan mengendalikan Angkatan Darat, sementara di pihak lain Sukarno masih saja terus menjadikan Nasution sebagai pihak yang dicurigai dan tidak langsung bertindak dalam penguasaan keadaan, hal ini berlangsung sampai pada jam 12.00 siang 1 Oktober 1965.

Suharto yang sudah bertindak tepat dan taktis memanggil kesatuan yang dilaporkan oleh Letkol Sadjiman yang disuruh Mayjen Umar Wirahadikusumah tentang data pasukan yang tidak dikenal berada di Monas. Suharto mengatakan pada pihak Umar Wirahadikusumah sebagai Pangdam V Jaya saat itu untuk tenang dan membiarkan dirinya mengendalikan situasi serta take over Pimpinan Angkatan Darat selama Ahmad Yani menghilang.

13489990111402089711

Selain mengontrol Informasi di RRI dan Koran-Koran, Suharto Berhasil Mengontrol keluar masuknya Pasukan dari Luar Kota Djakarta ke Djakarta, di Djakarta Suharto berkuasa penuh dan seakan-akan menjadikan Sukarno sebagai tawanan kota sejak 1 Oktober 1965 (Sumber Photo : Antara)

Di titik ini Suharto sudah mengetahui bahwa Letkol Untung menggunakan “pasukan yang tak dikenal” itu untuk proyek-nya dalam pemanggilan paksa para Jenderal, Suharto berada pada pengendalian terdepan dengan menyuruh para wakil komandan batalion take over kekuasaan dari Komandan batalyon masing-masing pasukan yaitu : Banteng Raiders 434/Diponegoro dan Banteng Raiders 530/Brawijaya. Sementara pasukan Untung semakin tidak jelas, setelah pengumuman berita RRI jam 6 pagi, tidak ada kejelasan dari pihak Untung untuk melakukan tindakan-tindakan politiknya. Pasukan Untung menyebar di jalan-jalan dan bahkan ditemukan kelaparan di jalan by pass. Disini kemudian Suharto tidak lagi menjadikan pasukan Untung sebagai musuh yang diperhitungkan.

Suharto melihat dan mungkin di titik ini belum mengetahui informasi posisi Presiden Sukarno berdiri di pihak mana, hanya saja posisi tinggal Sukarno antara jam 9.00 pagi sampai jam 19.00 malam adalah di Halim Perdanakusumah, Sukarno tinggal, berdiskusi, memanggil anak buahnya, serta memerintahkan berada di rumah Komodor Susanto. Disini Suharto menolak pemanggilan Sukarno sekaligus secara implisit menganggap markas Halim baik langsung atau langsung mengetahui Gerakan Untung 1965 yang sudah resmi oleh Suharto dijadikan musuhnya ketika Suharto berkata setelah mendengar pidato Untung di RRI pada pukul 7.00 pagi : “Untung adalah PKI dan anak didik Alimin”. Di sini secara sepihak Suharto sudah menafsirkan siapa musuhnya, dia berdiri dari ruang abstrak, asimetris informasi menjadi ruang yang penuh kejelasan dan menggiring opini serta mematerialkan siapa musuhnya yaitu : PKI, disini sekaligus melebur bahwa gerakan itu tidak semata-mata dilakukan oleh internal Angkatan Darat tapi sebuah gerakan meluas yang melibatkan kepentingan sipil. Kondisi menjadi jelas di pihak Suharto, tapi bukan pihak Sukarno.

1348981852832091941

Sukarno di Posisi yang Membingungkan Dan Cenderung Selama Jam-Jam Pertama Tidak Mengerti Keadaan (Sumber Photo : Antara)

Memang di buku Antonie CA Dake, dikatakan setidak-tidaknya Sukarno-lah yang mengetahui seluruh sirkulasi gerakan, sementara Victor M Fic, menjadikan Sukarno sebagai seorang tua yang mengharapkan pensiun dan Suharto sebagai penyelamat keadaan, tapi banyak sisi lain juga yang menjadikan “Sukarno memang tidak tau apa-apa atas rencana gerakan dan akibat dari gerakan” yang jelas dari seluruh situasi adalah “Kecurigaan berlebihan Sukarno pada Nasution, selama masa ‘hilangnya’ Yani, Sukarno sama sekali tidak menyebut-nyebut Nasution sebagai pengganti posisi Yani dan memegang kendali Angkatan Darat, padahal Nasution adalah satu-satunya perwira tertinggi di Angkatan Darat. Tapi di depan RE Martadinata, Leimena, dan beberapa ajudannya, Sukarno mengajukan nama-nama seperti : Sukendro yang ditolaknya menggantikan Yani karena pemarah, Suharto yang ditolaknya karena terlalu ‘koppig’ atau keras kepala, lalu muncul nama Pranoto Reksosamudro, yang eks rivaal Suharto semasa di Diponegoro. Ditolaknya Suharto sebagai Menpangad adalah sebuah keputusan pertama untuk mengetest kekuatan de facto Suharto sebagai penguasa politik Indonesia pasca di jam-jam pertama penculikan Yani.

Suharto yang bertindak amat cepat bergerak taktis sekali, langkah pertamanya adalah mengatur arus informasi. Pada jam 18.00 Pasukan Suharto sudah menguasai RRI, penguasaan RRI adalah legitimasi terbesar kemenangan Suharto, Suharto sendiri mengumumkan berita bahwa kendali Angkatan Darat ada pada dirinya jam 21.00 wib, hampir semua orang Indonesia mendengar, barulah surat Presiden Sukarno yang dibawa RE Martadinata bahwa kendali Angkatan Darat dipegang oleh Pranoto Reksosamudro diumumkan jam 00.15 wib, ini artinya tengah malam berita itu diumumkan, dan juga mendahului keputusan Suharto, banyak pihak kemudian terpecah menjadi dua dalam pertaruhan politik itu yaitu : “Siapa pengendali keadaan sesungguhnya, Sukarno atau Suharto?” disini Suharto jelas naik kekuatan politiknya karena secara cepat kedudukannya menjadi setara dengan Sukarno.

Setelah keadaan yang membingungkan termasuk tiadanya pegangan kepastian dari banyak agen-agen intelijen yang mengamati keadaan seperti dari CIA siapa pemegang kekuasaan sesungguhnya, taruhan politik diperjelas lagi dengan kemenangan Suharto yaitu ‘seluruh surat kabar dikuasai Suharto via terusan komanda ke Pangdam V Jaya/Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah, disini Suharto mampu mengatur arus sirkulasi informasi. Seluruh surat kabar dilarang terbit pada 2 Oktober 1965, anehnya yang terbit hanya Harian Rakyat surat kabar diluar kendali Angkatan Darat dan surat kabar Angkatan Darat “Berita Yudha” dan “Harian Angkatan Bersendjata”. Dalam tajuk rencananya Harian Rakyat, koran yang berafiliasi dengan PKI menyatakan bahwa Gerakan Untung 1965 merupakan gerakan internal Angkatan Darat tapi harus didukung. Sementara dua koran Angkatan Darat “mengutuk Gestapu 1965”. Disini Suharto sudah menjadikan dirinya perumus keadaan paling jelas, PKI menjadi pihak paling bersalah atas Gerakan Untung 1965 sementara Angkatan Darat adalah pihak yang harus melawan aksi PKI, tidak ada ruang abu-abu disini, tidak ada ruang pertanyaan, untuk itu koran lain diluar Harian Rakyat dan milik Angkatan Bersendjata dilarang terbit termasuk koran Kompas yang netral. –Suharto tidak menghendaki wilayah abu-abu disini-.

Analisa Psikologis Tokoh Penting Politik di Seputaran September 1965 Terhadap Informasi dan Keadaan,

Sukarno :

Berposisi kerap mengubah-ubah keadaan, hal ini menunjukkan dia tidak mengetahui secara persis situasi, kerap memberikan keputusan pada anak buahnya termasuk kemana dia akan tinggal setelah penculikan Untung. – Terlalu menjadikan Nasution sebagai paranoid politiknya yang utama. Baru bertindak rasional setelah 30 hari peristiwa setelah memerintahkan salah seorang menterinya Oei Tjoe Tat untuk menganalisa keadaan, sampai saat ini analisa Sukarno tentang Gestapu 1965 yaitu : Keblingernya Pemimpin PKI, Aksi Subversif Nekolim dan Adanya oknum-oknum yang Memanfaatkan keadaan, adalah analisa paling luas dan menyeluruh, analisa Sukarno ini adalah : “Ibu dari segala Ibu analisa tentang Gerakan September 1965.

Suharto :

Paling banyak memiliki informasi, bersikap amat tenang, melakukan tindakan-tindakan politik yang amat tepat, memperpanjang situasi untuk melihat lawan politiknya. Tidak berubah-ubah sikap tanda ia mengetahui arah keadaan dan mengerti benar kekuatan dirinya serta mengatur irama kecepatan keadaan. Suharto dengan cepat membentuk jaringan politiknya di kalangan elite Jenderal yang memegang kendali pasukan, di lingkaran dalam ia punya Ali Moertopo dan Yoga Sugama yang secara efektif mengoperasikan gabungan kekuatan intelijen dan penguasaan pasukan. Di lingkaran luar ia mengendalikan Jenderal-Jenderal yang sejak awal tidak begitu menyukai Sukarno seperti Brigjen Kemal Idris dan Brigjen HR Dharsono yang kebanyakan berasal dari Siliwangi dan di pihak lain Suharto juga mengendalikan Jenderal yang dekat dengan kelompok Sukarno tapi mendukung dirinya seperti Brigadir Jenderal Soemitro

AH Nasution :

Pasca Gerakan Untung 1965 memiliki kehancuran psikologis luar biasa karena anaknya ditembak mati, tidak mau berhadapan head to head dengan Bung Karno, tidak segera mengambil kendali pasukan, terlalu gamang dalam melihat keadaan namun secara tepat memilih di tempat yang aman. Ia mengungsi ke kamar kerja Suharto, dan ketinggalan waktu 24 jam oleh Suharto, waktu yang tidak bisa sempat ia raih kembali kemudian malah mengantarkan dirinya menjadi orang paling sengsara selama Orde Baru karena dikucilkan dan dijadikan musuh politik terbesar Suharto mulai dari Fosko TNI sampai pada Petisi 50. AH Nasution adalah pariah politik terbesar selama Orde Baru.

DN Aidit :

Posisi terpentingnya adalah pra Gestapu 1965, banyak mengeluarkan isu, namun pada jam-jam menjelang Gerakan Untung 1965 dikabarkan menghilang, menurut laporan TEMPO pada tahun 2006, dia dijemput oleh Pasukan Bersenjata. Namun dirinya kemudian ditemukan di Yogyakarta lalu diambil paksa oleh Pasukan Yasir Hadibroto. Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa pasca gerakan untung kecuali rumor tentang suratnya kepada anggota PKI lainnya dengan menyebut Sukarno sebagai ‘Sosro’ dan Subandrio sebagai ‘Tjeweng’ dimana ia mengeluh tak ada gerakan apa-apa dari Sosro dan Tjeweng. Disini DN Aidit menjadi amat pasif dan lemah.

Letkol Untung

Bertindak gegabah, emosional, tidak rasional dan separuh tidak bertanggung jawab pada pasukannya, ia sendiri dikabarkan lari dan tertangkap di Pekalongan. Apa yang terjadi pada diri Letkol Untung sampai ia nekat mengambil paksa para Jenderal adalah misteri terbesar.

Sjam Kamaruzzaman :

Informan yang berdiri di banyak pihak dan menjadi banyak misteri dalam segala hal di seputaran Gestapu 1965. Pertanyaan terbesar dalam kasus Gestapu 1965 dan peranan Sjam disini adalah “Siapakah yang memerintahkan menembak mati para Djenderal pada saat penjemputan paksa”.

Sjam ini punya posisi unik, dia mengenal Suharto semasa di Pathook pada diskusi-diskusi politik pada tahun 1945, berkenalan dengan bapak mertua DN Aidit, Komisaris Polisi Moedigdo yang tewas pada 1948. Dan banyak kenal dengan seluruh pentolan-pentolan tinggi Partai. Menurut AM Hanafi, Sjam ini adalah seorang Polisi dan pernah dibawa DN Aidit ke rumah AM Hanafi tapi diusir oleh AM Hanafi.

Semoga sejarah Gestapu 1965 bisa dikembangkan lebih lanjut detil dan menguraikan kepada banyak cerita agar ke depan generasi muda Indonesia tidak lagi mengalami masa kelam dan menyedihkan dalam kehidupan sebagai bangsa dan sebagai negara. Sekali lagi, sejarah adalah sebuah penalaran atas penafsiran……

 

-Anton DH Nugrahanto-.

http://sejarah.kompasiana.com/2012/09/30/perang-informasi-pada-30-september-1965/

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Perang Informasi Pada 30 September 1965 )

Soekarno: Adakah Rasa Takut di Hatimu

Posted on 13/08/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , |

 

Takut. Takut merupakan suatu perasaan yang tumbuh secara alami dalam diri manusia. Dengan sifat alaminya maka rasa takut pada diri manusia yangs satu akan berbeda dengan manusia yang lainnya.

Rasa takut seorang pejabat adalah kehilangan jabatannya. Rasa takut seorang kaya adalah jatuh miskin dan masih banyak lagi rasa takut yang lain yang akan hadir pada diri manusia. Sekali lagi semua manusia tak terkecuali Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Panglima Tertinggi ABRI Bung Karno.

Anda tahu apa yang paling ditakutkan Bung Karno dalam hidupnya? Bukan jeruji besi. Bukan intimidasi Belanda. Bukan pembuangan. Bukan pula percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Hanya satu ketakutan Bung Karno, takut dibenci anak. Hingga ajal menjemput, ketakutan itu memang tidak pernah terjadi. Ia begitu disayang putra-putrinya.

Ketakutan dibenci anak, menghinggapi relung sanubari Bung Karno, saat anak-anaknya (terutama dari Fatmawati) beranjak remaja menjelang dewasa. Saat nalar dan naluri berkembang, mereka mulai memiliki kemampuan untuk berpendapat. Saat benak dan otaknya berkembang, mereka mulai berani mengemukakan pendapat.

Ada banyak kejadian, putra-putri Bung Karno menampakkan ketidaksukaannya di saat Bung Karno menghabiskan hari Jumat hingga Senin di Istana Bogor, bersama Ibu Hartini dan dua putranya (Taufan dan Bayu). Sikap-sikap berontak itu disampaikan dengan cara yang berbeda, antara Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.

Bung Karno bukannya tidak tahu. Dia paham betul. Sekalipun begitu, Bung Karno menyikapi dengan sangat hati-hati. Tidak pernah sekalipun Bung Karno marah atas sikap putra-putrinya yang mulai kritis. Bung Karno tidak pernah mengambil sikap keras apa pun manakala mereka mulai berunjuk rasa.

Terhadap putra-putrinya yang “berontak”, Bung Karno menyikapi dengan lembut, akrab, dan memendam emosi. Bahkan, tanpa sepengetahuan putra-putrinya, Bung Karno sering memanggil para pengasuh mereka. Nah, kepada para pengasuh itulah Bung Karno “curhat”. Penutup curhat tentang kelakuan putra-putrinya adalah sebuah pesan bernada titipan, “Tolong jaga dan beri pengertian anak-anak. Jangan sampai mereka membenci saya.”

Bagi Bung Karno, anak adalah hal utama. Sering terjadi kisah menarik, manakala untuk mengistimewakan anak, terpaksa istri muda harus mengalah. Satu contoh adalah pada saat Bung Karno menggelar wayang kulit di Istana. Protokol sudah mengatur tempat duduk sedemikian rupa. Ketika itu, Bung Karno baru saja memperistri Harjatie, mantan pegawai Setneg yang pandai menari.

Nah, Harjatie sempat tersinggung dan marah kepada Bung Karno, karena disuruh duduk di bangku deretan kedua. Sementara ada satu kursi kosong di sebelah kiri Bung Karno di deret terdepan. Kursi itu dibiarkan kosong sampai akhirnya datang Megawati dan langsung duduk di kursi kosong di samping kiri bapaknya. Ya, Bung Karno lebih mengutamakan putrinya daripada istri mudanya. Karena apa? Ia tidak takut dibenci istri muda, tetapi sangat takut dibenci anak.

Itulah Bung Karno, sosok yang dikenal piawai dalam menarik hati wanita ternyata masih menempatkan perasaan putera dan puterinya diatas segalanya, bahkan sampai pada batas menimbulkan rasa takut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Soekarno: Adakah Rasa Takut di Hatimu )

Rahasia Kehebatan Suharto

Posted on 13/08/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |

 

 

Rahasia Kehebatan Suharto :

Suharto itu orang yang tidak suka membaca, dia juga tidak suka menulis. Tapi ada satu kehebatannya yang membentuk dia menjadi manusia otentik dan mampu menguasai manusia lain, menguasai sistem masyarakat.

Suharto menjalani laku tapa meneng. Atau meditasi diam. Dia melatih meditasi diam, ini jenis pelatihan meditasi tingkat tinggi yang amat berat. Ilmu Meneng ini did…apatkan pada tahun 1936 dari Kyai Daryatmo, saat itu Harto mengalami titik terendah dalam kehidupannya, terutama soal orang tuanya. Ia terlahir dengan suasana batin yang sakit hati dan sepi dari rasa cinta.

Suatu malam ia dibawa pamannya ke rumah Kyai Daryatmo, dari sanalah ia kemudian belajar banyak tentang falsafah Jawa. Kata-kata : Ojo Lali, Ojo Kagetan dan Ojo Dumeh adalah fase-fase pengalaman batin yang harus ia lalui sebelum sampai pada tingkatan meneng.

Di bulan puasa sekitar tahun 1938, Suharto dipesankan untuk menjalani disiplin menjadi manusia Jawa sempurna, jadi Jawa dalam pengertian batin itu adalah Manusia yang bisa mengalahkan dirinya sendiri, laku dalam mengalahkan dirinya inilah yang mengantarkan pada kesempurnaan. Sampai tahun 1938 laku tapa meneng ini belum sempurna dijalani Suharto karena ia masih gagal mengendalikan pikirannya.

Suatu saat tatkala ia menjadi kadet KNIL di Gombong, ia melihat arus kali. Suharto merenung apa makna arus kali, Ada apa dengan arus kali, ia mengamati arus kali di belakang tangsi KNIL itu lama. Dari pengamatannya itu ia melihat bahwa alam adalah gambaran tentang jiwa manusia, di saat itulah kemudian Suharto menjadikan dirinya sebagai anak alam, ia melibatkan dirinya dengan alam, ia merasakan alam itu sendiri. Lalu di senin pagi, saat itu sedang ada cuti kadet, karena Suharto akan dipindahkan ke Bogor.. Ia duduk di belakang tangsi-nya itu, ia merenungi arus kali yang menggerus batu-batu, kenapa air bergerak dengan sunyi. Lalu ia melihat cahaya matahari pagi yang terpantulkan dari arus sungai, tap..! Suharto kemudian menemukan makna di balik tingkatan fase ilmu yang diberikan Kyai Daryatmo adalah : KESETIAAN, dalam definisi tertinggi kesetiaan itu adalah Rasa Sabar. Disinilah kemudian Suharto melandasi ilmu manusianya.

Tidak seperti Sukarno yang melibatkan dirinya dengan suasana hati manusia, maka Suharto mengalami kredo keterlibatannya justru pada alam. Suharto kemudian melatih ilmu meneng itu dalam segala bentuk meditasinya, ia diam, ia selalu memperhatikan, ia tidak pernah mengomentari apa-apa, ia hanya menuruti keadaan, karena keadaan akan membentuk dirinya sendiri dan keadaan yang terbentuk itu. “Hal terpenting dalam dirimu Harto, janganlah engkau menangis berlebihan, janganlah engkau tertawa berlebihan, karena sikap berlebihan akan mengaburkanmu pada situasi sesungguhnya, ia akan membawa jiwamu pada rasa lemah dan ragu” begitu nasihat Daryatmo setelah Suharto menggambarkan apa yang ia rasakan setelah ia bertemu Kyai Daryatmo setelah Indonesia Merdeka pada tahun 1946, saat itu Harto jadi Komandan Militer Yogyakarta yang baru saja merebut gudang senjata di Kotabaru Yogya. Suharto hanya menangis dua kali, saat kerbaunya terperosok di pematang sawah dan saat isterinya meninggal.

Tahun 1942 Harto mengalami periode yang amat berat, ia lari dari KNIL karena ia menolak untuk berperang untuk Jepang melawan sekutu, ia ke desanya. Disana hidup tanpa pekerjaan dan uang, ia terkena malaria. Ia merasa merepotkan orang lain, di tengah kehidupan yang amat berat itu ia kemudian melatih ilmu tapa meneng, Suharto bisa kuat dalam tiga hari tanpa makan, tanpa minum dan dalam setahun ia hanya makan nasi putih tanpa garam tanpa apapun.

Dari ilmu meneng yang kemudian dijalaninya itu semakin hari semakin ia bisa membaca tingkah laku manusia dan arah hidup manusia. Dari membaca tingkah laku manusia ia juga bisa membaca arah hidup masyarakat. Disinilah letak kunci ilmu tertinggi Suharto, dan sepanjang sejarah memang dialah yang menguasai Indonesia secara absolut selama 32 tahun tanpa jeda, ini tidak pernah disaingi oleh penguasa Nusantara manapun dalam sejarah Indonesia.

Banyak orang tidak tau, Suharto juga suka melakukan meditasi jalan. Ia bisa pernah jalan kaki dari Bogor dari ke Yogyakarta dan ini bukan hanya sekali, ia sangat kuat berjalan. Bahkan temannya pernah bercerita dalam satu minggu perjalanan Suharto tidak bicara apapun. Rosihan Anwar juga selalu mengulangi cerita saat ia bertemu dengan Suharto dan minta diantar ketemu Panglima Sudirman, dalam lebih sepuluh jam perjalan Suharto sama sekali tidak bicara, satu kali bicara saat Suharto mengambilkan kelapa muda kepada Rosihan Anwar dan membukakan dengan pisau komandonya, Suharto berkata “Silahkan diminum degan-nya” sambil tersenyum setelah itu Suharto diam terus.
Sikap diam Suharto inilah yang kemudian ia bisa membaca banyak situasi dari mulai Penangkapan Sudarsono atasannya sendiri dimana dia harus memihak, peristiwa Bambang Sugeng saat perebutan Panglima Diponegoro, peristiwa pemberontakan tiga daerah sampai peristiwa paling bersejarah dalam Indonesia modern : -Gestapu 65-.

Suharto juga punya ilmu terkenal namanya ‘Nyondro’ ilmu membaca gerak gerik wajah. Dari nyondro inilah kemudian Suharto bisa membaca orang yang dihadapinya ini kalah atau menang. Suharto kalau bersalaman selalu tangannya diatas, seperti tangan Sultan kepada bawahannya, sikap salaman ini yang tidak disenangi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX bahkan beberapa kali Sri Sultan menghindari jabatan tangan, tapi kemudian Sultan berjabatan tangan dengan sikap equal satu sisi dan sempat dipotret saat itu Sultan sudah tidak jadi Wapres dan jadi Ketua KONI.

Suharto adalah orang yang amat ahli bahasa, bila Sukarno menggunakan bahasa untuk menyenangkan hati orang lain, maka Suharto menggunakan bahasa untuk membentuk hubungan komunikasi ‘antara siapa yang berkuasa dan siapa yang harus menurut’ itulah gaya bahasa yang pernah diciptakan Sultan Agung Hanyokrokusumo saat itu Sultan Agung ingin suku Sunda takluk dengan Jawa tapi dalam penaklukan sampai ke suasana batinnya, maka diciptakanlah bahasa halus Jawa, bahasa Krama Inggil, bahasa inilah yang juga memperhalus bahasa Sunda seperti yang kita lihat dalam bahasa Cianjuran atau Bahasa Sunda Sumedang. Suharto membentuk bahasa sebagai arahan alam pikiran, ia membuat kebijakan EYD, Ejaan Yang Disempurnakan, ia membentuk jargon-jargon kehilangan isi, sehingga terlihat membosankan, dalam keadaan membosankan itu sesungguhnya Suharto sudah menaklukkan gaya bahasa perlawanan.

Sikap Suharto juga mendua terhadap priyayi dan proletar, bila kepada priyayi ia akan berkompromi karena dalam dunia priyayi ia bisa menanamkan pengaruhnya, inilah kenapa bahasa WS Rendra ia diamkan, sementara bahasa Wiji Thukul langsung ia bunuh. Bahasa WS Rendra ia jadikan seakan-akan musuh, tapi ia tidak bunuh malah ia besarkan dan ia diamkan, tapi ketika kesadaran bahasa itu akan tumbuh di kalangan proletar, mereka yang tidak bermodal, mereka yang hanya memiliki satu-satunya senjata yaitu : Nyawanya maka mereka harus dibereskan.

Karena satu hal yang amat tidak disukai Suharto : REVOLUSI…………..

Diposkan oleh

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Rahasia Kehebatan Suharto )

Siapakah Dukun-Dukun Suharto

Posted on 13/08/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |


Guru spiritual Soeharto (selain dari lingkungan keluarga):

1. Romo Marto Pangarso (dari Bantul-Yogyakarta), dikenal sebagai guru Soeharto dalam arti sesungguhnya.

Ia berhubungan dengan Marto saat memimpin BKR di Yogyakarta. Konon, Marto yang kerap melakukan ritual di Candi Prambanan ini bisa membaca tanda-tanda.
Sejumlah syarat lelaku dari Marto yang terbilang berat pernah dilakukan Soeharto demi memenuhi ramalannya, seperti bersemedi di Gua Srandil (di Cilacap).
Marto meninggal tahun 1980, sebelum meninggalnya Soeharto sempat membangun Padepokan Sendang Semanggi Kasihan Bantul (tempat Marto mengumpulkan pengikutnya dari pelosok Jawa setiap 35 hari).

2. Romo Diat (dari Semarang)
Dukun ini kerap menginjakkan Istana Negara ( berbeda dengan Marto yang tidak pernah). Selain memberikan nasehat spiritual, ia juga memberi perlindungan gaib, untuk kediaman keluarga Cendana maupun di Istana Negara.

3. Soedjono Hoemardani
Konon ialah yang mengatur hari atau apa saja yang harus dilakukan dan diperbuat keluarga Cendana jika mereka ingin selamat.
Sebagai catatan:
– Soedjono inilah yang memelopori pemberlakuan Ketetapan MPR menyangkut aliran kepercayaan yang menghebohkan itu.
– Ki Ageng Selo mengaku kalau saat tahun 1970 pernah diperintahkan menanam bunga wijaya kusuma di Istana Negara yang diambil Soedjono dari P. Nusakambangan. Tujuannya agar 1973 Soeharto terpilih lagi menjadi Presiden.

4. Soedjarwo, kerabat Ibu Tien dari Mangkunegara

5. Darundrio, dikenal ahli kanuragan-membuat tubuh kebal senjata tajam-kerap diminta keluarga Cendana untuk upacara spiritual kejawen.

6. Mbah Diran (dari Jakarta Pusat), dikenal sebagai pawang hujan. Jasanya sering digunakan Mbak Tutut untuk proyek jalan tolnya.

7. Sejumlah dukun atau penasehat spiritual yang mengelilingi Soeharto, selama ini tak pernah jelas . Namun Ki Ageng Selo pernah menyebut tak kurang daari 50 orang.
Perubahan Soeharto terjadi sejak:
– Para penasehat spiritual utamanya Marto, Diat dan Soedjono satu per satu meninggal. Puncaknya ketika Ibu Tien meninggal.
– Sejumlah paranormal Jawa melihat sejak perekonomian Indonesia mulai tumbuh. Soeharto mulai menumpuk kekayaan. Saat itulah Sri Sultan HB ke IX melihat Soeharto mulai melanggar ajaran Jawa. Sebagai bentuk “protes”nya beliau menolak dicalonkan kembali menjadi wapres.
Masyarakat juga mulai merasakan bahwa di bawah ORBA penggusuran tanah dan lahan terjadi dimana-mana. Th 1991, proyek Kedung Ombo misalnya telah membuat belasan ribu orang Jateng kehilangan rumah, tanah dan kuburan leluhur mereka. Padahal dalam konsep Jawa kuburan adalah sesuatu yang sangat dihormati. Pakar filsafat Jawa (Damarjati) mengungkapkan bahwa Pak Harto telah menerapkan filsafat Jawa yang salah.

Sementara pakar filsafat Franz Magnis Suseno mengemukanan, menunjuk “manajemen kekuasaan” Soeharto selama ini “mengoper” pola kekuasaan Raja Jawa. Pola inilah yang membuat pembantunya “yes-men”.

Dalam ilmu perdukunan Jawa Soeharto terkena tulah kelakuannya sendiri. Malam sebelum ia terkena stroke, saat hujan lebat mengguyur Jakarta, sebuah pohon cemara besar di rumah salah seorang keluarga Cendana tumbang. Pertanda buruk !!! Tumbang juga akhirnya !!!!!!!!!!!

(Dikutip dari berbagai sumber).

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Siapakah Dukun-Dukun Suharto )

Secuil Kisah Hidup Suharto

Posted on 13/08/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

KISAH HIDUP SUHARTO

OLEH ANTON

Suharto adalah manusia paling kontroversial di Indonesia. Nilai kontroversinya jauh melebihi Sukarno. Bila Bung Karno dikenal dunia karena ulahnya yang begitu mencengangkan dan sering bikin kejutan, maka Suharto lebih pada nilai misteriusnya. Misteri Suharto adalah kekuasaan yang begitu besar, dan itu dibangun dengan cara yang mungkin orang akan juga tercengang yaitu sikap : Diam. Pendiam bagi Suharto bukan hanya watak tapi merupakan latihan menahan diri yang ekstrem. Bahkan Rosihan Anwar yang pernah bersama Suharto di tahun 1949 sebagai wartawan Republikein mengunjungi Panglima Sudirman di persembunyiannya menghadapi sikap aneh dari seorang Overste (letnan kolonel) muda ini dengan sikap diamnya. “Saya bersama Overste Suharto dan seorang juru potret Frans Mendur menemui Jenderal Sudirman di persembunyiannya sekitar pedalaman hutan Wonosobo, saya diantar oleh Overste Suharto namun sepanjang perjalanan satu hari penuh tidak pernah Suharto bicara sedikitpun, baru ketika ia mempersilahkan kami meminum degan (air kelapa muda) baru ia berkata singkat “Silahkan” setelah itu tidak ada kata-kata lagi. Demikian kira-kira kesan Rosihan Anwar yang ia sering ungkap ke publik jauh-jauh hari ketika Orde Baru sudah berkuasa. Diam itu modal, dan itu adalah prinsip Suharto. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.

Suharto lahir juga dari sebuah sikap aneh seorang ibu. Sukirah, adalah nama Ibu Suharto. Dalam otobiografinya ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ yang disusun G Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Suharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun banyak catatan di buku-buku sejarah Suharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami problem mental yang sangat sulit. Apa problem mental itu tidak pernah ada penjelasan yang gamblang sampai saat ini. Hanya saja proses kelahiran Suharto merupakan yang berat bagi Sukirah, sebelum Suharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak cerai suaminya Kertosudiro. Seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Suharto tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Suharto bahkan banyak pengamat Suharto seperti RE Elson. Suharto tidak pernah menunjukkan rasa hormat yang layak kepada Kertosudiro sebagai ayah kandung. Lalu apakah Kertosudiro itu ayah kandung Suharto? Inilah misteri terbesar dari Suharto yang kerap banyak disebut sebagai anak lembu petheng (anak hasil dari hubungan gelap) dan meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Suharto. Banyak catatan beredar mengenai hal ini, bahkan pelontarnya tidak tanggung-tanggung seperti : Mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Suharto, Mashuri. Mashuri sendiri pernah membuat pernyataan yang menghebohkan bahwa Suharto adalah anak seorang pedagang keliling Cina yang cukup kaya raya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ayah kandung Suharto adalah kerabat Keraton Yogyakarta. Pada tahun 1974 pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gossip bernama ‘POP’ sebuah liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Suharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II. Suharto kecil yang umur 6 tahun dibuang ke desa dan disuruh diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Suharto. Dengan separuh murka Suharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usulnya dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Suharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa. Mitos Suharto sebagai anak desa ini digunakan untuk mengaitkan dirinya dengan mayoritas bangsa Indonesia yang di tahun 70-an adalah petani dan menghindarkan kesan bahwa Junta Militer yang dipimpinnya adalah gerakan elite.

Konsep anak haram banyak disebut oleh para biografer Suharto untuk menjelaskan asal-usuk Suharto. Ketidakjelasan asal-usul Suharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan. Namun dari semua itu Bayi Suharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang stress dan senang bertapa serta ayahnya yang datang dan pergi jelas tidak menguntungkan bagi Suharto. Sukirah pernah ditemukan hampir mati disuatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi dan hilangnya Sukirah sempat pernah membuat panik penduduk desa kemusuk, sehingga para penduduk mencarinya. Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Suharto kepada kakak perempuan Kertosudiro, isteri dari Kromodiryo. Putra Kromodiryo Amat Idris sangat menyayangi Suharto kecil tiap sore bayi kecil Suharto dibopong-bopong sambil mengitari persawahan. Setelah Suharto bisa jalan ia kerap diajak oleh Kromodiryo ke sawah. Dalam otobiografinya Suharto masih ingat ketika ia berumur empat tahun melihat kaki Kromodiryo terluka karena sabitnya terlepas dari gagang saat sedang bekerja di sawah. Dalam psikologi anak umur antara tiga tahun sampai lima tahun adalah masa golden time, Alam psikologi Suharto tentunya sangat dipengaruhi masa-masa ini. Ibunya yang berat pikiran namun melakukan tapa berat untuk menjawab kesulitan hidupnya jelas akan menurun pada waktu Suharto yang kelak dikemudian hari sangat senang melakukan puasa dan melatih diri untuk menahan apapun atau berlatih menyembunyikan ekspresi emosi-emosinya. Latihan-latihan ini kelak sangat berguna sebagai senjata paling ampuh dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun. Namun keterpecahan keluarga, rasa terbuang oleh keluarga dan tidak diperhatikan akan membangkitkan sikap ingin melindungi keluarganya secara berlebihan inilah yang ketika dimasa Orde Baru nanti sikap yang paling banyak dibenci oleh setiap orang ketika melihat sosok Suharto.

Suharto tidak seperti anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Dalam usia yang sangat muda ia disekolahkan oleh ayahnya. Inilah yang banyak mengundang pertanyaan para ahli sejarah bahwa Suharto bukan sekedar anak petani desa yang miskin, tapi dia anak haram dari orang kaya yang memperhatikan dirinya dan menyerahkan pada Kertosudiro untuk mengurusnya. Suharto bukanlah murid yang cerdas dan tidak ada berita-berita mengenai masa Suharto di Sekolah Rakyat (setingkat SD). Ini berbeda misalnya dengan cerita Sukarno sewaktu dia masih di SD yang banyak berkisah tentang masa sekolahnya dan apa yang dibacanya, begitu juga dengan Hatta dan Sjahrir. Kesan Suharto di masa SD itu hanya pada ingatannya tentang kerbau-kerbau yang dengan bangga dimilikinya. Dunia Suharto hanya berkutat pada penggembalaan kerbau jauh dari cerita-cerita anak yang didapat dari buku-buku yang kerap dibaca anak-anak SD dari keluarga terdidik seperti Sjahrir yang sejak kecil sudah akrab dengan Karl May atau cerita dari novel-novel Charles Dickens. Setelah ikut dengan kakeknya Atmodiwiryo, Harto kecil tiap usai sekolah menggembalakan kerbau disawahnya, ia senang sekali membawa kerbaunya meniti pematang sawah dan memandikannya. Suatu saat kerbau yang digembalakannya terperosok ke parit dekat pematang sawah dan Suharto tidak bisa mengeluarkan kerbau itu ia lalu menangis keras-keras. Orang-orang berdatangan dan menolong kerbau milik Harto kecil ini. Kenangan tentang kerbau yang terperosok ini diuraikan dalam biografi resminya. Suharto jarang berkelahi dia anak pendiam dan tidak usil atau arogan seperti Sukarno kecil . Namun entah kenapa dia pernah sekali berkelahi dengan temannya sampai berdarah-darah, menurut Suharto karena temannya itu mengatainya ‘Den Bagus Tahi Mabul’ Suharto mengenang anak kecil itu mrongos (tonggos) dan agak pincang, sebuah penggambaran teatrikal orang jahat di benak Suharto. Julukan Den Bagus Tahi Mabul (Den Bagus Tahi Kering) ini sedikit banyak mengungkapkan bahwa setidak-tidaknya penduduk desa tahu bahwa Suharto bukanlah anak jelata, tapi kemungkinan anak keraton yang dipisah dari lingkungannya.

Ditengah masalah keluarga yang menderanya, Suharto terus melakukan kegiatan sekolahnya. Ia sama sekali tidak mendapat perhatian kasih sayang orang tua yang layak. Sepanjang umurnya dihabiskan ngenger kesana kemari. Bahkan setiap tahun ia selalu menyaksikan keluarganya selalu bertengkar karena Suharto kerap menjadi rebutan. Tentu sedikit banyak hal ini mempengaruhi jiwa Suharto kecil. Kebimbangan akan status dirinya diimbangi dengan masa bermain yang mungkin juga berpengaruh terhadap pribadi Suharto. Ada satu hal yang menarik bila diperhatikan dari Suharto muda, yaitu : boleh dikatakan Suharto adalah kawan yang menyenangkan bila ia bermain sesuatu, ia tidak pernah menceritakan masa bermainnya sebagai masa pembentukan watak, tapi menyiratkan pada kita bahwa ia adalah seorang yang pendiam tapi bisa bergabung dengan komunitasnya serta disenangi. Ini berbeda misalnya dengan Bung Karno muda yang dipenuhi kisah keberanian, merasa unggul dan pengalaman yang lucu-lucu seperti keberaniannya masuk ke dalam lapangan Sepak Bola kemudian dia dikeroyok sinyo-sinyo Belanda. Suharto hanya anak kampung biasa yang gemar bermain bola, sebelum bermain bola kawan-kawan Suharto datang mencari Suharto, dan Suharto sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya kawan-kawannya membantu pekerjaan itu seperti menimba air. Ada hal yang menarik juga masa muda Soeharto tidak pernah ia bekerja di sawah. Suharto sering digambarkan menggembalakan kerbau, tapi tidak pernah diceritakan ia memacul sawah dan bekerja sebagai petani. Apakah ini berarti memang ia benar-benar anak Keraton yang terasingkan di desa?

Pada tahun 1931 Suharto masuk Schakelschool di Wonogiri, disini ia bersama Sulardi, putra kedua Prawirohardjo menetap di Selogiri pada rumah Sudiarto, kakak tertua Sulardi. Sulardi bisa dikatakan adalah satu-satunya orang yang bersahabat dengan Suharto di masa muda. Di luar nama Sulardi tidak pernah ada nama lain yang disebut Suharto kecuali secara sekilas ada orang kampungnya yang suka bermain bola Kamin dan Warikin. Kelak setelah menjadi Presiden dua orang ini diundang Pak Harto ke Istana. Sulardi ini punya teman sekelas bernama Siti Hartinah, puteri dari bangsawan Mangkunegaran yang ditugaskan di Wonogiri Raden Mas Soemorharjomo. Melalui Sulardi-lah Suharto banyak tahu tentang Siti Hartinah ini, namun Suharto agaknya di awal-awal tidak ambil peduli, ia lebih banyak pusing memikirkan masalah keluarganya. Tak lama Suharto tinggal di Selogiri, ia balik lagi ke Wonogiri lagi-lagi ayahnya Kertosudiro datang menyusul Suharto dan membawa Harto muda ke rumah keluarga Hardjowijono yang juga merupakan kerabat ayahnya. Di rumah Hardjowijono ini banyak diberitakan Suharto diperlakukan layaknya seperti kacung. Namun ketabahan hati Suharto menerima semua pekerjaan yang diberikan padanya membentuk jiwa yang patuh. Dalam jiwa anak muda ada dua pilihan bila ia menghadapi situasi tidak menyenangkan. Ia memberontak dengan melawan semua aturan yang dianggapnya tidak nyaman atau ia akan mematuhi secara total apa yang diperintahkan kepadanya, sehingga kepatuhan itu sendiri akan menutupi ketidaknyamanan dirinya. Rupanya Harto memilih yang kedua, ia bersedia untuk menjadi orang patuh. Kepatuhannya ini kelak yang kemudian membawa dia pada kecocokan dalam bidang militer.

Diposkan oleh

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Secuil Kisah Hidup Suharto )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 797,525 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: