Archive for November, 2010

Kang Sejo Melihat Tuhan

Posted on 30/11/2010. Filed under: Esai | Tags: , , |

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

“Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?” kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut “raja.” Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, “Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”

Ini tentu berkat ke-”raja”-annya. Lumrah. Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra.

Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu.

“Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, “Zikir Duh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satu tapi jelas di tangan.
“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?” tanya saya.
“Tidak saya hitung.”
“Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya
“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”
“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.
“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.
‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?”
“Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,” katanya.
“Ayat menyebutkan itu, Kang.”
“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?”
“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”
“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernah tidur …” Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.
“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram”? tanya saya.
“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”
“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?”
“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus.

Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kang Sejo Melihat Tuhan )

Sandal Jepit Kesederhanaan

Posted on 30/11/2010. Filed under: Esai | Tags: , |

Mungkin ada pesona tertentu yang menghubungkan rohani para penyair. Setahu saya, ada dua penyair yang terpesona pada kesederhanaan. Yang satu Taufiq Ismail. Yang satu lagi Emha Ainun Nadjib.

Bulan Juni 1979, ketika Ki Mohamad Said Reksohadiprodjo meninggal dunia, Taufiq terharu. Ia merasa kehilangan. Ia lalu menulis sajak, buat mengenang orang tua sederhana tapi memancarkan kewibawaan itu.

Yang paling pertama ia ingat tentang orang tua itu ialah sandal jepitnya, yang selalu berbunyi soh, soh, soh, menggosok debu Jakarta, menggosok debu Indonesia.

Di rumahnya, Taufiq mencari sepatu lari, yang ia beli di negara dunia kesatu. Harganya, tentu saja, mahal. Dan itu membuat Taufiq malu mengenang kesederhanaan Ki Mohamad Said. Penyair ini silau melihat kehidupan orang tua itu.

Ketika Mohamad Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang selama 15 tahun “menghilang” di Waimital, P. Seram, kembali ke IPB dengan kisah suksesnya membantu petani transmigran yang miskin, Taufiq juga terharu. Kasim, sahabatnya itu, meraih keberhasilan dengan swadaya, tanpa sepeser pun bantuan dana dari pemerintah.

Begitu melihat dirinya sendiri, seorang dokter hewan yang hanya bersyair-syair saja kerjanya (begitulah diakuinya dalam sajaknya untuk mengenang Mohamad Kasim Arifin), ia merasa perlu menyembunyikan wajahnya menyembul di kali Ciliwung itu. Kasim yang hidupnya tak gemerlapan itu pun, seperti halnya Ki Mohamad Said, membuatnya merasa malu, risi, dan bersalah.

Getaran apakah yang membuat kita bisa merasa risau dan terpojok tak berdaya seperti itu? Mungkin cuma Taufiq sendiri yang tahu jawaban persisnya.

Tapi, saya kira Taufiq mengharapkan agar kita punya lebih banyak lagi tokoh seperti Ki Mohamad Said dan Kasim Arifin. Ia, dengan kata lain, tak ingin melihat Ki Mohamad Said berangkat meninggalkan kita.

Kematian memang sering bisa memberikan kenangan seperti itu. Dan, celakanya, kita seperti baru sadar, bahwa orang seperti itu penting dan kita perlukan.

Dalam “Sajak-sajak Sederhana”-nya, nampak bagaimana penyair Emha Ainun Nadjib gandrung pada kesederhanaan itu.

“Tuhanku” katanya.
“Ambillah aku sewaktu-waktu.
Kematianku kehendak sederhana saja.
Orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja.”

Barangkali, ini pesan Emha. Tapi barangkali juga salah satu cermin dari pergulatan batinnya sebagai seorang seniman. Seperti Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib juga kuat memperlihatkan pada kita pemihakannya pada nilai kesederhanaan.

Ketika Soedjatmoko meninggal dunia, Emha juga menulis kenangan. Ada sesuatu yang ia kagumi pada diri intelektual beken itu. Oleh karena itu, tak segan ia menyebut Soedjatmoko sebagai ulama. Benar, kata Arab itu artinya memang persis mencerminkan kehidupan Soedjatmoko: orang yang banyak ilmu. Tapi pemberian gelar ulama itu jelas memiliki konotasi lebih: bahwa almarhum bukan cuma berilmu tapi juga, dan ini yang lebih penting, mampu memberikan teladan laku bagi siapa saja.

Goenawan Mohamad bahkan menyebut Soedjatmoko bukan cuma teladan ilmu, melainkan juga teladan “laku”. Bagi Soedjatmoko, apa yang dikatakan dan yang ditulis tidak cuma cermin ketangkasan berolah pikir, melainkan juga cermin pergulatan batinnya.
Orang bilang, keteladanan adalah sesuatu yang hilang dari kita. Kita tak lagi punya sesuatu yang kita banggakan. Tak ada lagi sosok pribadi yang layak kita jadikan teladan.
Tampil secara sederhana saja misalnya, juga sesuatu yang tak mudah. Imbauan untuk menyederhanakan hidup sebetulnya pas buat kita. Ia bukan cuma problem bagi orang kaya yang cenderung hidup gemerlapan. Orang miskin pun, entah berkat rangsangan virus apa, banyak yang tak mau tampil apa adanya. Mereka tidak gemerlap, mungkin juga memperlihatkan sikap anti pada gaya hidup itu, barangkali hanya karena belum ada kesempatan.

Benar kekaguman Taufiq pada Ki Mohamad Said, karena orang itu telah membuktikan dalam hidupnya. Ia bukan cuma orang sederhana, melainkan mungkin kesederhanaan itu sendiri.

—————
Mohammad Sobary, Jawa Pos 12 Januari 1992

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sandal Jepit Kesederhanaan )

Ayah dan Pici

Posted on 30/11/2010. Filed under: Esai | Tags: , |

Manusia bukan gunung. Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago. Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah.

Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari,
Muhammadiyah; maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu. Ia abangan. Apa boleh buat.

Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah
bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan cuma umbi-umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam.

Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama.

Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, “Untuk  apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?”

Saya sedih. Di luar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang
sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer-Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak “musuh” meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).

Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideologi dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras.

Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin.

Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti.

Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik,
bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.

Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah
goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran.

Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan
diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan
kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.

Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru “mesin” pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali.

Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para “satria” mendorong roda pembangunan. Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan.

Petugas KB malah diberi hak “mengintip” kamar tidur tiap pasangan suami-istri agar mereka tak terlalu banyak
bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.

Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Ke sana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam.

“Saya senang Ayah jadi santri,” saya kasih komentar.

“Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam,” sahutnya. “Hanya dulu itu belum ‘nglakoni’ (menjalankan).”

Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak
berarti abangan.

“Tidak begitu,” kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. “Keislaman
bukan state of being. Ia state of becoming. Dikotomi santri abangan itu tidak tepat.”

“Sekarang Ayah salat,” Ayah menjelaskan, “tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu
stabilitas nasional,” katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil.

Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan. Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan. Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri …

—————
Mohammad Sobary, Tempo 31 Agustus 1991

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ayah dan Pici )

Doa yang Tak Membebaskan

Posted on 27/11/2010. Filed under: Esai | Tags: , |

Para santri pun akhirnya berkumpul lagi setelah beberapa lama sebelumnya mereka menerima tugas dari sang kiai.

“Sudah mengerti pesan dalam surat itu?” tanya kiai, membuka pertemuan kembali.

“Sudah, kiai, alhamdulillah,” sahut salah seorang santri.

“Bagaimana isi pesan itu?”

Santri itu memperdengarkan bacaannya yang bagus atas surat Al Ma’un. “Aroaital ladzi yukadzibu biddin …,” merdu
suaranya. Dan ia pun meneruskan pembacaan dan terjemahannya, sampai selesai.

“Kamu?!” kata sang kiai kepada santri yang lain.

Santri itu pun mengulangi hal yang sama. Ia pun membaca ayat-ayat suci itu, disertai terjemahannya.

Setelah para santri lain memberi jawaban yang sama, sang kiai tak lagi meneruskan bertanya pada santri berikutnya.Ia

berkesimpulan, semua santri pasti akan berbuat serupa.

“Kalian belum mengerti kalau begitu. Kalian cuma hapal. Mengerti dan hapal itu beda,” katanya lagi, dengan intonasi
lembut seperti semula.

Kiai kita ini ialah pendiri perserikatan yang bernama Muhammadiyah yang terkenal itu: Kiai Haji Ahmad Dahlan.
Dialog ini terkenal di kalangan keluarga Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah menganggap “peristiwa” ini penting karena dalam dialog itu terselip sebuah pesan jelas, bahwa agama tak cuma minta dipahami, melainkan diamalkan. Ketika agama berhenti pada titik pemahaman, saat itu mungkin agama diturunkan derajadnya menjadi “cuma” sejenis filsafat.

Agama, dengan kata lain, dipreteli fungsi-fungsi sosialnya yang begitu penting dan yang paling relevan dengan hidup
kemasyarakatan kita.

Syahdan, sejak dialog antara kiai dan santri itu lalu didirikan sebuah panti asuhan, tempat menampung anak-anak
yatim-piatu. Langkah ini diambil KH Ahmad Dahlan untuk memenuhi perintah yang dikandung di dalam surat Al Ma’un
tersebut. Ini merupakan contoh kongkret bagi para santrinya, mengenai bagaimana mereka harus memahami kandungan isi kitab suci Al Qur’an.

Di sana memang ada kalimat: “Tahukah kamu, orang-orang yang mendustakan agama? ” Dan dalam surat ini dijelaskan bahwa orang yang menyia-nyiakan anak yatim serta tak memberi makan orang miskin, dimasukkan dalam kategori dusta itu.

Agama diturunkan Tuhan buat manusia, dan bukan buat kepentingan Tuhan itu sendiri. Tuhan sudah kelewat mulia,
kelewat luhur, kelewat kaya. Pendeknya ia tak perlu apa-apa lagi.

Oleh karena itu, sekali lagi, pemahaman KH Ahmad Dahlan itu sungguh sangat kontekstual buat situasi kita saat itu, dan
juga kini. Ayat-ayat suci sungguh bukan untuk dibaca, dilagukan, dan dipertandingkan dari tingkat kabupaten sampai
tingkat nasional, melainkan untuk dimengerti, dipahami dan dilaksanakan.

Sikap KH Ahmad Dahlan begitu tegas: ia tak ingin umat Islam hanya menjadi “burung nyanyi”, (seperti contoh para
santrinya) yang mengandalkan suara merdu. Baginya, yang terpenting adalah tindakan dan amal nyata. Relevansi sosial
dari agama, pendeknya, merupakan hal yang penting. Mungkin malah yang terpenting.

Ibadah puasa selama sebulan itu ditutup dengan lebaran. Suasana khusu’, penuh tirakat dan sikap prihatin yang
nampaknya dalam itu diakhiri dengan sebuah pesta: makan, minum, rokok dan segala macam yang selama sebulan dilarang, di hari itu halal semata hukumnya. Dan kita bersyukur.

Tradisi yang mewarnainya, dus sesuatu yang bukan bagian dari ajaran, ialah sungkem pada orang-tua, mertua, bertemu sanak keluarga, teman kongkow, teman ngaji, teman sekolah atau kantor, dan juga para tetangga. Suasana gembira memancar ditiap wajah. Hati pun terbuka buat saling memaafkan.

Urusan ibadah kita menjadi juga urusan nasional. Negara mendapat untung, setidaknya dari penjualan benda-benda pos. Permintaan dan pengiriman maaf tak bisa jalan tanpa amplop dan perangko.

Pulang ke kampung juga merupakan tradisi lain yang ikut mewarnai kemeriahan lebaran. Negara juga ikut terlibat dalam
acara ini. Mungkin juga memperoleh untung dari penjualan tiket kereta, pesawat dan kapal laut, buat kepentingan
orang-orang yang bergembira ini.

Suasana tirakat tak boleh berlama-lama. Tuhan menghendaki segala yang mudah, sederhana dan kepenak, bagi
hamba-hambaNya. Tapi persoalannya, jika puasa sebulan itu dianggap media latihan hidup asketik, pengerahan segenap kekuatan lahir dan batin untuk menangkap esensi serta makna ajaran suciNya, apakah kemudian yang kita bawa “pulang” ke dunia ini? Apa hasil pengembaraan rohaniah, yang bisa kongkret kita abdikan buat kepentingan kemanusiaan?

Pertama-tama, barangkali harus diakui bahwa tak setiap hamba memang telah “berhasil” menghayati esensi ajaran yang
terkandung dalam puasa. Mungkin kita ini masih pada tataran “burung nyayi”: kita baru hapal, dan belum mengerti, seperti kata Kiai Dahlan tadi. Kita sibuk ngaji, sibuk bertilawatil Qur’an, mungkin kurang sibuk berbuat.

Kecuali itu, dari tahun ke tahun, mungkin suasana “tirakat” dalam bulan puasa semakin nampak berubah. Benar, kita masih fasih bicara solidaritas sosial, kita juga punya kepedulian terhadap kemiskinan, tapi bagaimanakah tindakan kita?

Acara buka puasa menggejala di mana-mana. Acara-acara semacam itu sering berarti makan besar dan enak. Dan kita
boleh bertanya pada diri sendiri, berapa puluh kalikah acara seperti itu kita hadiri selama sebulan itu?

Atas nama kekeluargaan, kangen-kangenan antara sesama teman dalam organisasi ketika mahasiswa, kumpul tanpa suatu tujuan tertentu selain buka bersama, atau bahkan dengan motivasi bisnis, acara buka puasa bersama diadakan di hotel mewah.

Tak jadi soal memang, karena kita makin makmur. Tapi “kita” di sini siapa gerangan orangnya? Nampaknya cuma kelas
menengah dan atas. Dengan kata lain, golongan rakyat yang sehari penghasilannya 2-3 ribu, tak akan pernah ikut acara
macam ini.

Tak jadi soal juga memang, kalau kita tak ada kepedulian terhadap mereka. Tak jadi soal kalau kita tak belajar
menaruh iba dan rasa kasih pada mereka yang di bawah, yang tertindas.

Jarak antara sesama kita, sebenarnya jauh. Setidaknya, tak sedekat yang kita bayangkan. Dan tak sedekat yang kita
gambarkan secara ideal bahwa tiap umat, menurut ajaran, satu sama lain adalah saudara.

“Saudara yang bagaimana?” saya bertanya

Soal serius dalam hidup kita, umat, ialah bahwa kita lupa, ajaran itu bukan realitas. Tapi kita sudah puas dengan semua
yang ideal. Dan berhentilah kita di tataran itu.

Maka kita pun menyanyikan lagu bahwa agama memperhatikan yang miskin dan menyantuni yang yatim. Kita menyanyi dalam arti sebenarnya karena kita lupa bahwa agama di situ menuntut tindakan kita. Ucapan “Selamat Lebaran” yang kita sampaikan pada mereka yang lebih miskin jadinya cuma ucapan kosong atau setengah kosong, karena tanpa kita sertai tindakan yang jelas bisa membebaskan mereka dari struktur yang mengurung dan memiskinkan mereka itu.

Sebagai doa, ucapan kita jelas mulia. Tapi bagaimanapun, ia belum merupakan doa yang membebaskan.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Doa yang Tak Membebaskan )

Wanodya

Posted on 23/11/2010. Filed under: Esai | Tags: |

2 January 2009

Bagaimanakah persisnya gambaran kita tentang wanita? Seperti Shinta yang setia, tabah, dan sabar menahan derita? Seperti Srikandi yang kenes, tangkas, dan cenderung tregal-tregel ning ora mbebayani (agak sembrono tapi tak membahayakan)? Ataukah seperti Sarinah, sebagaimana dimaksudkan Soekarno?

Dunia berputar. Dan di dalamnya, wanita pun berubah. Soekarno salah dalam satu hal: wanita tak lagi dikungkung seperti dulu. Sudah umum sekarang bahwa wanita punya kebebasan seperti pria. Artinya, wanita juga bekerja di berbagai sektor, tempat laki-laki bisa bekerja. Dan, akibatnya, wanita pun tak lagi bergantung sepenuhnya pada pria. Toko dan warung di daerah pedesaan banyak yang berkembang di bawah kendali wanita.

Tak jarang wanita menjadi kepala keluarga. Juga tak jarang terjadi, laki-laki –yang memegang warisan tradisi sebagai pelindung keluarga itu– dalam praktek justru dilindungi sang wanita. Dan banyak laki-laki tidak merasa malu.

Tapi secara sosial maupun kultural pengakuan kita atas peran wanita masih kurang. Persepsi kultural kita masih tetap menjadikan wanita “korban”. Misalnya, betapapun jelasnya kontribusi ekonomi kaum wanita bagi keluarga, diakui umum bahwa pekerjaan wanita –seperti disebut dalam penelitian Celia E. Mather mengenai wanita pekerja di Tangerang– dianggap cuma “daripada menganggur”. Kecuali itu, ada anggapan (tentu saja di kalangan pria) yang bersifat gender specific bahwa jenis pekerjaan tertentu tak layak dikerjakan pria, karena ia “cuma” pekerjaan wanita.

Diskriminasi atas wanita terjadi di rumah tangga atau di pabrik. Di rumah, seperti dilaporkan Diane Wolf dari penelitiannya tentang wanita pekerja di Jawa Tengah, kontribusi ekonomi wanita dianggap sekunder, cuma melengkapi hasil pria. Di pabrik, kata Mather, mereka dibayar cuma tiga perempat jumlah gaji pria, biarpun sering mereka harus bekerja lebih keras dari lawan jenisnya itu.

Pendek kata, sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan. Benar, wanita “dimahkotai” aneka sebutan: tiang masyarakat, surga di bawah telapak kaki ibu, atau dilambangkan sebagai bunga, dan diluhurkan sebagai ratu. Gadis paling cantik di desa disebut bunga desa. Dan di kota-kota gadis cantik, gadis luwes, gadis tangkas, dijuluki dengan aneka ratu.

Kalau dipikir-pikir, perlakuan istimewa bagi anak wanita dalam keluarga –misalnya anak wanita harus dijaga baik-baik– ternyata diam-diam mengandung “muatan” kepentingan seks buat laki-laki. Artinya, kalau ke mana saja anak dijaga, diharapkan tetap “murni” dan itu nantinya biar menyenangkan laki-laki (suaminya).

Di dunia wayang, tiap wanita muncul disambut dengan suluk ki dalang: Wanodya ayu tama ngambar arum. Ngambar aruming kusuma… (wanita cantik memancarkan harum bunga). Bunga apa, tidak penting. Tapi, melihat seorang wanodya (cewek) cuma dari sudut kecantikannya, sungguh bisa bikin merah muka kaum feminis.

Mereka akan lebih marah melihat persepsi kultural Jawa atas wanita: Wanita ateges wani ditata (namanya juga wanita, ia harus rela diatur, taat pada tatanan). Siapa yang bikin tatanan? Mungkin ayah, mungkin suami. Dan kita tahu, ayah dan suami bukan wanita, tapi laki-laki. Jadinya, wanita harus taat, tunduk pada laki-laki.

Mengapa begitu? Soalnya, wanita itu ibarat awan dadi theklek, bengine ganti dadi lemek (siang menjadi bakiak, malamnya naik pangkat menjadi alas untuk ditindih).

Dan siapa membaca Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, akan jelas betapa rendah status wanita di kalangan santri-priayi (Geertz akan pusing melihat kombinasi ini) di masyarakat Jawa. Di kalangan itu, wanita cuma tempat menumpahkan benih. Selebihnya babu atau budak.

Adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi “3 ah” sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology: yakni neng omah (di rumah), olah-olah (memasak), dan mlumah, ngablah-ablah (maaf, menelentang seseksi mungkin). Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati. Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak dan klangenan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).

Dalam ketoprak dan wayang, gambaran itu tidak menyimpang secuil pun. Wanita yang mencoba mendekati pria karena jatuh cinta disebut ngunggah-unggahi atau suwita, artinya mengabdi. Dan, kelak, bila sang pria tak lagi berkenan, wanita rela saja diusir jauh-jauh.

Hubungan kesederajatan antara pria dan wanita, pendeknya, belum pernah ada. Gagasan wanita ateges wani ditata, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwita dan ejekan awan dadi theklek, bengi dadi lemek jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.

Tapi tampaknya, di bawah penindasan itu wanita menemukan juga sejenis kenikmatan. Mungkin karena ada sejenis sifat cenderung “menyiksa” diri, mungkin juga karena ketakberdayaan. Atau jangan-jangan wanita-wanita cenderung jadi Shinta?

Mungkin bukan. Barangkali, wanita adalah sebuah piala cantik yang retak: ia terombang-ambing antara hasrat untuk tetap dalam posisi “tradisional” di rumah sebagai wanodya ayu tama yang “mengabdi” dan kecenderungan untuk menuntut kebebasan.

Mohammad Sobary, Tempo, 2 Mei 1992

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Jangan Benci Saya, Ibu

Posted on 16/11/2010. Filed under: Hikmah | Tags: , |

SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM BAHASA INDONESIA

Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini.., sebelum ajal menjemputku…

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian anak anak yang indah indah…

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun.., 2 tahun.., 5 tahun.., 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam… Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak… Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali… Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy ”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama saya Elic, Tante.”

“Eric…? Eric… Ya Tuhan Kau benar benar Eric???”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.

Tiba tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.

“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu,” tapi aku akan menceritakannya juga dengan terisak isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu… Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apapun juga Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii… Siapa kamu? Mau apa kau kemari? ”

Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, Mommy…, mommy Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Sayapun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan.. katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu Tolong katakan… ”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy nya datang, Mommy nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni ”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa apa lagi.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Jangan Benci Saya, Ibu )

Memanggil Iblis

Posted on 16/11/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi | Tags: , |

Memanggil Iblis

Abu Sa’id al-Kharraz (w. 277 H/890 M) adalah Sufi terkenal dengan sejumlah karya monumentalnya. Ia berasal dari Baghdad dan berguru pada Dzun Nun al-Mishri dan an-Nabaji, juga berguru kepada Abu Ubaid al-Bishri dan Bishri Ibnu al-Harits.
Suatu hari, al-Kharraz bermimpi bertemu iblis. Iblis kelihatan menjauh darinya. Melihat iblis semakin menjauh lalu al-Kharraz pun memanggilnya.

“Hai Iblis! Kemarilah, apa sebenarnya maumu?,” katanya.
“Apa yang akan kulakukan padamu, sedangkan dirimu telah membuang dari dirimu sendiri, padahal yang kau buang itu bisa kugunakan untuk menipu manusia,” jawab sang Iblis.

“Apa itu?”

“Dunia!”
“Iblis kelihatan sangat segan dengan al-Kharraz, tapi pelan-pelan ia menoleh kepadanya.
“Tapi aku masih punya sesuatu berupa bisikan halus untukmu,” kata Iblis.
“Apa itu?”

“Bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” jawab Iblis.

Sumber : sufinews.com

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Saya cuma Kamino …

Posted on 16/11/2010. Filed under: Esai | Tags: |

SAYA CUMA KAMINO

salat keno, ora yo keno
pokoke mbela Bung Karno
salat keno, ora yo keno
sing penting mbelo Bung Karno.

(Salat boleh, tidak pun tak soal,
yang penting membela Bung Karno.)

Di tahun 1960-an, salawat Badar yang dikorup ini pernah populer, termasuk di Bantul. Ini “ular” berkepala dua:
kultus pada Bung Karno dan ejekan buat kekuatan Islam.
Terutama, tentu saja, NU yang dianggap pemilik asli “lagu”
ini.

Bukan karena “pembajakan” lagu itu bila di ujung desa sana lalu terjadi duel antara Pemuda Ansor dan Pemuda Rakyat atau Marhaen. Saling ejek dan benturan fisik, sebagai akibatnya, merupakan kelaziman waktu itu. Dan biarpun pahit, malah harus diakui bahwa semua itu berfungsi sebagai gladi resik
buat menyambut “Bharatayudha” yang kelak meletus di tahun 1965.

Berita pemuda berjaket merah atau hitam roboh oleh pemuda “kita” yang bersabuk jimat dari kiai di tahun 1960-an itu bisa membangkitkan semangat “juang” dan kentalnya fanatisme ideologi buat orang desa yang tak tahu arti politik sekalipun. Sekurangnya jadi semacam penegasan akan betapa benarnya pilihan ideologi yang kita ambil.

Coretan di tembok-tembok rumah, di pagar-pagar, dan juga pada jembatan di ujung desa merupakan variasi lain dari benturan ideologi waktu itu. Bila kita dapati pagi hari tulisan “Marhaen Menang” atau “Hidup PKI”, esoknya pasti sudah dijawab: “Islam Jaya” atau “Ganyang PKI”. Tapi bila yang kita temui hanya “salawat”: “Hidup Bung Karno PBR kita”, atau “Hidup Ganefo”, dus netral, semua kekuatan
politik yang ada di desa ayem saja.

Dengan mata seorang bocah yang belum lagi tamat SD, saya menyaksikan suasana diam yang tegang. Guru-guru saya, pihak Muhammadiyah yang mengharamkan segala jimat itu, diam-diam juga pergi ke kiai minta “diisi” kadigdayan kanuragan. Doktrin pokok: “Mintalah langsung kepada Allah, jangan lewat
perantara”, pernah tak berlaku. Perbedaan paham antara Muhammadiyah dan NU dalam soal jimat, usali, witir, tarwih, doa talkin praktis terlupakan selama menghadapi common enemy.

Rapat raksasa pun disimak. Tiap orang lalu peka terhadap perbedaan warna jaket. Dan tiap-tiap “yang bukan kita” dicurigai. Tak peduli bahwa itu menyangkut tetangga sebelah.

Pemuda, atau bocah yang “tak sabar” menunggu dewasa, ingin tampil heroik. Begitu juga Kang Kamino. Anak mbah Wongso Dadung yang buta huruf ini pun tak mau ketinggalan. Ia terpesona oleh palu arit: lambang PKI, yang adalah barang kongkret buat orang macam dia. Harus diakui memang, PKI
tangkas merumuskan ide-ide abstrak ke dalam bahasa Kang Kamino. Bermula dari gurauan bahwa “wong tani” pegangannya harus palu dan arit, dan bukan Lintang Rembulan (bintang bulan, Masyumi) atau gambar Jagat Lintang Sanga (bola dunia berbintang sembilan, NU) karena petani bekerja dengan arit,
ia berubah makin sinis pada Islam akibat “pergaulan bebas” dengan PKI.

Setelah makin aktif menghadiri rapat dan main ketoprak (Lekra), ia ganti nama menjadi Kaminonov. Edan. Selanjutnya blak-blakan ia membuka diri sebagai kaum salat keno ora yo keno. Ia juga jadi terampil mengejek lawan sebagai kaum nggoiril (dari kata ghairil … dalam surat Al Fatihah).

Kami pun “mengintip”. Kang Kaminonov jarang di rumah, akhirnya. Kalau pulang selalu bersama empat atau lima kamerad lain. Anak mbah Wongso Dadung ini sudah jadi orang penting rupanya. Konon, pernah suatu hari ia kedapatan bicara tentang pembagian sawah dan rencana aksi sepihak.

Tapi, sawah belum lagi dibagi, Gestapu meletus. Islam bangkit. Perang sabil diteriakkan. Di berbagai daerah kemarahan tak terkendalikan. PKI disembelih.

Namun, segala puji hanya bagi-Mu, darah tak menetes di desa saya. Pak Lurah, biarpun pernah diancam PKI, melindungi mereka. Prinsipnya semua saudara. Lagi pula, PKI di desa saya cuma golongan cepethe. Pak Lurah sering bilang, mereka cuma ikut-ikutan. Sebagian hanya senang karena tiap rapat ada makan. Tahu apa mereka tentang politik?

Benar juga. Digertak petugas untuk wajib lapor pun mereka sudah menggigil. Betul, ada di antara mereka yang fanatik, tapi untuk mati demi partai orang masih mikir. Maka Kaminonov pun mengaku, akhirnya mendengar suara daun gugur pun dia kaget. Dikiranya sepatu tentara.

Pendeknya musuh telah tak berdaya. Tokoh-tokoh tua bilang, perang tak layak lagi diteruskan. Petuahnya, “Islam ituselamat dan menyelamatkan”. Dan tiap khotbah, Pak Lurah berseru “Kita memang punya hukum qisas: bunuh balas bunuh. Tapi memberi maaf itu lebih satria …”.

Tuhan tiba-tiba menjadi kongkret. Termasuk buat Kaminonov. Haji Thohir yang “sepuh” itu rajin mengajarinya ngaji. Ia merawat rohani “si anak hilang” yang telah kembali. Maka, tak lupa tiap pengajian usai, ia ulang petuahnya: “Lembaran yang sudah dibaca ditutup. Begitu juga masa lalumu.”

Kaminonov tunduk sambil lirih mengucap: “Nggih, nggih, Pak Kaji, insya Allah.” Fasih dia. Dan bila orang menyindir nama Rusianya, ia cuma senyum. Jawabnya: “Lembaran lama sudah ditutup. Saya cuma Kamino …”

—————
Mohammad Sobary, Tempo 6 Oktober 1990

Diambil dari : http://media.isnet.org

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Sultan yang menjadi orang buangan

Posted on 16/11/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi | Tags: |

Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang
terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran.
Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya,
dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali,
mengalami pelbagai kejadian lain–dan dikembalikan ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran
waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya
tidak masuk akal.

Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal
bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak
memuaskan raja.

Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi
Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan
menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,
“Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian.
Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada
faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita
itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal,
yang dangkal dan terbatas.”

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh
memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar
melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat
olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut
banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.

“Lupakan saja, tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.

Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak
ada seorang perajurit pun yang tampak.

Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar
tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.

“Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.
Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api
sama sekali.

Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar
mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu
tak ada.

Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir
seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah
jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan
memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja Segera setelah
Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang
sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena
kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin
membalas dendam.

Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang
kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan
siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar
di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya
pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada
seorang tukang besi yang melihatnya gelandangan, dan
bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia
seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada
kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota
tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang
pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan
syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu
pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis
cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu
sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang
berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya
lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum
kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya
yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya,
“Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini.
Ayo, ikut aku.”

Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah
yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya
yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik
dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima
yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai
wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.

Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia
telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan
bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan
basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila
berada di jalan.

Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat
indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun
diperdengarkan.

Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu:
sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya.
Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang
harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.

Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun
kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena
Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia
disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.

Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat
berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang
dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di
tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang
lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air
wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di
istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai
keratonnya.

“Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat” teriak
Sultan. “Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi
kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa,
hingga berani melakukan hal itu terhadapku?”

“Tetapi kejadian itu hanya sesaat,” kata guru Sufi tersebut,
“yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu.”

Para pegawai keraton membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai sepatah katapun.
Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu.
Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi? Syeh pun
menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat).
Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di
Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:

“Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan
rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan
tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya
kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk
membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah
itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum
habis isinya?

Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu.
Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna
kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna.”

Catatan

Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh arti,
masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau
pendengarnya.

Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di
kalangan Sufi, menekankan nasehat Muhammad, “Berbicaralah
kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya.”

Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: “Tunjukkan hal
yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang ‘diketahui’
khalayak.”

Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama “Buku Hu”
dalam kumpulan Nawab Sardhana, bertahun 1596.

————————————————————
K I S A H – K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Kisah Sufi Penyayang Binatang

Posted on 13/11/2010. Filed under: Hikmah | Tags: |

Kisah Sufi Penyayang Binatang

Bila ada nyamuk hinggap dan menggigitnya, beliau tidak pernah mengusirnya. Bila ada orang hendak mengusir nyamuk yang menggigit tubuh beliau itu, beliau justru melarangnya.

Masih berhubungan dengan tulisan saya yang lalu, tentang cerita jalan-jalan saya ke kebun binatang. Dan segala hal yang berhubungan dengan binatang, saya terkesan dengan cerita sufi bernama Syekh Ar-Rifai, seseorang penyayang binatang paling nomor satu. Mungkin buat kita terlihat berlebihan, tapi disitulah letak pelajarannya.

Mungkin sulit sekali mencari penyayang binatang semacamSyekh Ahmad ar-Rifa’i. Beliau adalah tokoh sufi besar pendiri tarekat Rifa’iyah, sebuah ordo sufi yang memiliki banyak pengikut, terutama di daratan Afrika Utara.

Konon, bila ada nyamuk hinggap dan menggigitnya, beliau tidak pernah mengusirnya. Bila ada orang hendak mengusir nyamuk yang menggigit tubuh beliau itu, beliau justru melarangnya.

“Biarkan nyamuk ini minum dari darah yang telah dijadikan sebagai bagian rejekinya oleh Allah,” kata beliau.

Bila ada belalang hinggap di pakaiannya saat sedang berjalan di bawah terik matahari, maka beliau mencari tempat yang teduh. Beliau duduk berdiam diri di situ sampai belalang itu pergi sendiri. “ Belalang ini ingin berteduh dengan bantuan kita,” katanya.

Konon pernah ada seekor kucing tidur di atas lengan baju miliknya. Beliau tidak sedikitpun mengganggunya sampai kucing itu bangun sendiri dan pergi. Ketika waktu salat tiba, Syekh ar-Rifa’I tetap tidak mau menarik lengan bajunya. Beliau malah menggunting lengan bajunya itu, lalu pergi salat. Setelah kucing itu bangun dan pergi, beliau menjahit kembali lengan bajunya itu. Subhanallah!

Suatu waktu, Syekh ar-Rifa’I pernah mendapati seekor anjing dengan tubuh nyaris hancur penuh kudis. Anjing itu diusir penduduk karena tubuhnya betul-betul menjijikkan. Maka, Syekh mengantarkannya ke sebuah gurun tak berpenghuni. Di tempat itu, beliau membuatkan sebuah kandang yang teduh untuk anjing tersebut. Lalu beliau meminyaki tubuhnya, menyediakan makan dan minumnya, juga menggosok kudisnya dengan sebuah kain. Setelah anjing itu sembuh, beliau membawakan air hangat, lalu memandikannya.

Sumber
http://majalah-alkisah.com

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 797,525 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: