Seorang fasik yang meninggal dalam kemuliaan

Posted on 16/12/2010. Filed under: Hikmah |

Diceritakan, bahwa pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, ada seorang laki-laki fasik, dia terus menerus melakukan kefasikannya, hingga meresahkan penduduk negerinya, namun mereka tidak memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghentikan kedurhakaannya.

Mereka hanya melakukan perlawanan dengan berdoa dan merendahkan diri kepada Allah, hingga akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as.: “Hai Musa, di tengah-tengah kaum Bani Israil terdapat seorang pemuda durhaka yang meresahkan mereka, namun mereka tidak kuasa untuk mengusirnya. Mereka khawatir terkena api neraka, sebab ulah kefasikannya, maka usirlah dia.”

Kemudian datanglah Nabi Musa menemui pemuda fasik itu dan mengusirnya. Lalu pemuda itu pergi meninggalkan desa tempat tinggalnya ke desa yang lain. Tetapi dia juga diusir dari desa itu, sehingga harus berpindah ke desa yang lain. Dia terus diusir dari desa ke desa, sampai akhirnya dia terusir ke suatu hamparan padang pasir yang sangat ganas, tak ada tumbuh-tumbuhan, burung-burung dan tidak ada pula makhluk-makhluk yang lain.

Di tengah-tengah gurun pasir yang ganas itu, dia jatuh sakit tanpa ada seorang pun yang menolongnya. Dia terbaring di atas pasir yang panas, sambil menyandarkan kepalanya pada bait-bait padang pasir yang kering kerontang, dia berkata: “Seandainya ibuku berada di atas kepalaku, tentu ia akan merasa kasihan kepadaku dan menangisi kenistaanku; kalau sekiranya ayah ada di sini, tentu ia akan membantuku dan mengurus segala keperluanku; andai istriku ada di sisiku, tentu ia akan menangisi kepergianku; dan seandainya anak-anakku hadir di sini, tentu mereka akan menangisi jenazahku dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah ayahku yang terusir dan tak berdaya ini, dia terbuang jauh dari desa ke desa hingga terlempar jauh ke padang pasir yang ganas ini. Dia keluar dari dunia menuju akhirat dengan membawa penyesalan dan keputusasaan yang teramat dalam.”

Selanjutnya pemuda itu berkata, Ya Allah, Engkau telah memisahkan aku dari kedua orang tuaku, dari anak-anak dan istriku, tetapi janganlah Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Engkau telah membakar hatiku, karena berpisah dengan mereka, tetapi janganlah Engkau bakar aku dengan api neraka-Mu, sebab kefasikan.

Kemudian Allah swt. mengutus seorang bidadari yang menyerupakan diri seperti ibunya, seorang bidadari yang menyerupakan diri seperti istrinya, dan anak-anak yang menyerupai anak-anaknya, serta seorang malaikat yang menyerupai diri seperti ayahnya. Mereka semua duduk di sisinya dan menangisinya. Si pemuda itu berkata: “Ini ayahku, ibu dan istri serta anak-anakku, semua datang padaku. Maka hatinya menjadi terhibur dan gembira, lalu dia menghembuskan nafas yang terakhir, mati dalam keadaan suci dan terampuni.

Kemudian Allah swt. menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as.; “Hai Musa, pergilah ke padang pasir begini ….. dan tempat begini ……, akrena di tempat itu telah mati seorang wali dari wali-wali-Ku. Datanglah kepadanya, uruslah jenazahnya dan makamkanlah ia.”

Ketika Nabi Musa datang ke tempat tersebut, dia melihat ternyata jenazah itu, adalah jenazah seorang pemuda fasik yang diusirnya dari negeri dan kampung halamannya atas perintah Allah swt, Yang lebih mengherankannya lagi, jenazah itu dikelilingi oleh para bidadari yang bermata jeli. Lalu Nabi Musa as. berkata: “Wahai Tuhanku, bukankah ini adalah jenazah pemuda fasik yang aku usir dari negeri dan kampung halamannya atas perintah-Mu?” Allah swt. berfirman: “Hai Musa, benar dia memang pemuda itu, tetapi Aku telah merahmati dan mengampuninya, sebab dia adalah orang yang terusir dan tak berdaya. Di tengah kesendiriannya karena terusir dari negerinya dan terpisah dari ayah, ibu, istri dan anaknya, dia menderita sakit, dia merintih kesakitan dan hanya mengadu kepada-Ku, maka Aku mengutus seorang bidadari agar menyerupai ibunya, seorang malaikat yang menyerupai ayahnya dan seorang bidadari agar menyerupai istrinya. Semuanya merasa iba atas keterasingan dan ketidakberdayaannya di tempat yang terpencil itu. Karena apabila ada seseorang yang mati dalam keterasingan tempat yang terpencil, maka penghuni langit dan bumi menangis karena merasa iba kepadanya. Maka bagaimana Aku tidak menyayanginya, sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”

Apabila orang yang terisolir dari keluarganya dalam keadaan naza’ (kritis atau koma), maka Allah swt. berfirman: “Hai malaikat-malaikat-Ku, orang yang terasing itu adalah pengembara yang meninggalkan anak-anak, keluarga dan orang tuanya. Ketika dia mati tak ada seorang pun yang menangisi dan bersedih atas kematiannya.” Kemudian Allah swt. memerintahkan malaikat untuk menyerupai bapaknya, ibu dan anaknya, serta orang yang menyerupai kerabatnya. Mereka mendatanginya, sehingga ia membuka matanya dan dapat melihat kedua orang tuanya, anak dan keluarganya, lalu hatinya menjadi senang. Setelah itu, barulah ia menghembuskan nafasnya dalam keadaan tenang dan gembira. Kemudian ketika jenazahnya diusung ke pemakaman, para malaikat ikut mengiringkannya dan mendoakan di atas kuburnya sampai hari kiamat.

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 618,835 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: