Archive for May, 2011

Imperium Britania

Posted on 31/05/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

Imperium Britania adalah imperium paling luas di dalam sejarah dunia dan pada suatu periode tertentu pernah menjadi kekuatan utama di dunia. Imperium ini merupakan produk dari era penemuan Eropa, yang dimulai dengan penjelajahan maritim global negara-negara Iberia pada akhir abad ke-15 yang menandai era kerajaan global Eropa.

Pada tahun 1921, Imperium Britania mencakup populasi antara 458 juta orang, kurang lebih seperempat populasi dunia, dan membentang seluas lebih dari 36 juta km², sekitar seperempat luas total bumi. Walaupun wilayah-wilayah tersebut sekarang telah berkembang menjadi Negara-Negara Persemakmuran, pengaruh Britania tetap melekat kuat di seantero dunia: dalam praktik ekonomi, hukum dan sistem pemerintahan, masyarakat, olahraga (seperti kriket dan sepak bola), serta penggunaan bahasa Inggris sendiri.

Imperium Britania pernah, pada suatu masa, dijuluki dengan “kerajaan di mana matahari tak pernah tenggelam” karena wilayahnya membentang sepanjang bola dunia dan menyebabkan matahari selalu bersinar, paling tidak di salah satu dari begitu banyak koloninya

 

Latar belakang: Inggris Imperium

Perkembangan Imperium seberang lautan

Patung John Cabot di Newfoundland, koloni seberang lautan pertama Inggris.

Imperium Britania seberang lautan (dalam pengertian eksplorasi lautan dan pemukiman Britania di luar Eropa dan Kepulauan Britania) berakar pada kebijakan-kebijakan yang berakar dalam kebijakan-kebijakan maritim rintisan dari Raja Inggris Henry VII, yang berkuasa dari 1485 hingga 1509. Henry, yang membangun berdasarkan jaringan komersial dalam perdagangan wol yang dipromosikan pada masa pemerintahan pendahulunya Raja Richard III, membangun sistem pelaut pedagang Inggris yang modern, yang sangat memperluas industri pembangunan kapal Inggris dan pelayarannya. Pelaut pedagang ini juga memasok dasar bagi lembaga pasar yang kelak memainkan peranan penting di Inggris dan, setelah penyatuan dengan Skotlandia pada 1707, perusahaan-perusahaan kerajaan Britania, termasuk Massachusetts Bay Company dan Perusahaan Hindia Timur Britania. Pembaruan finansial Henry membuat Perbendaharaan Britania makmur, yang membantu menjamin pengembangan Pelaut Pedagang. Henry juga memerintahkan pembangunan dok kering Inggris pertama, di Portsmouth, dan membuat perbaikan-perbaikan terhadap Angkatan Laut Inggris yang kecil. Selain itu, Henry juga mensponsori pelayaran-pelayaran pelaut Italia mariner John Cabot pada 1496 dan 1497 yang membangun koloni seberang lautan Inggris yang pertama – sebuah pemukiman penangkapan ikan – di Newfoundland, yang diklaim Cabot atas nama Henry.

 

Henry VIII dan bangkitnya Angkatan Laut Kerajaan

Dasar-dasar kekuatan samudra, setelah dibangun pada masa pemerintahan Henry VII, pelan-pelan diperluas untuk melindungi perdagangan Inggris dan membuka rute-rute baru. Raja Henry VIII mendirikan Angkatan Laut Inggris modern (meskipun rencana-rencana untuk melakukan hal itu telah dimulai pada masa pemerintahan ayahnya), lebih dari tiga kali lipat jumlah kapal-kapal perang dan pembangunan kapal-kapal besar yang pertama, dengan meriam-meriam berat dengan daya tembak yang jauh. Ia memulai aparatus administrasi Angkatan Laut yang formal darn tersentralisasi, membangun dok-dok baru, dan membangun jaringan tanda-tanda di laut (beacon) dan mercu suar yang sangat menolong navigasi pantai untuk para pelaut pedagang Inggris maupun asing. Dengan demikian Henry membangun Angkatan Laut Kerajaan yang berbasis persenjataan yang mampu menahan Armada Spanyol pada 1588, dan inovasi-inovasinya menjadi benih bagi Angkatan Laut Kerajaan di masa mendatang.

Pada 1982, tekad Britania untuk mempertahankan wilayah seberang lautannya diuji ketika Argentina menyerang Kepulauan Falkland, mewujudkan klaimnya yang lama yang berasal jauh di Imperium Spanyol. Jawaban militer Britania yang akhirnya berhasil untuk membebaskan kepulauan itu dalam Perang Falklands yang terjadi sesudahnya membuat pers AS menerbitkan berita dengan judul “Imperium memukul balik” (“The Empire strikes back” – seperti judul dalam film “Star Wars”), dan dipandang oleh banyak orang telah ikut menyumbang dalam membalikkan citra Britania Raya yang mulai merosot sebagai suatu kekuatan utama dunia.

Pada 1997, wilayah seberang lautan penting Britania, Hong Kong, menjadi Daerah Administratif Khusus dari Republik Rakyat Cina di bawah syarat-syarat Pernyataan Bersama Cina-Britania yang disepakati tiga belas tahun sebelumnya. Empat belas wilayah seberang lautan Britania, Negara-Negara Persemakmuran dan persatuan pribadi yang masih bertahan dengan Kerajaan Persemakmuran itulah yang masih tersisa dari Imperium Britania.

 

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Imperium Britania )

Kristenisasi dan Kejahatan-Kejahatannya

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Sejarah |

Ketika Orde Baru jaya, banyak para pejabat yang tidak percaya adanya kristenisasi besar-besaran yang telah terjadi di Indonesia. Tetapi setelah dikeluarkan buku “Fakta dan Data” tentang kristenisasi di Indonesia oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, semua pihak terperangah dan yakin bahwa pihak misionaris zending telah bekerja keras siang-malam untuk mengkristenkan umat Islam secara khusus.

Pada Orde Reformasi mereka semakin berani melakukan kristenisasi secara terbuka bahkan keji. Mereka menggunakan Al-Qur`an dan Hadits dengan diputarbalikkan untuk membenarkan ajaran sesat mereka, dan untuk mengelabui umat Islam. Gerakan kristenisasi bergerilya dengan kedok “dakwah ukhuwwah” dan “shirathal mustaqim” secara gencar dan tersembunyi, gerakan itu dikoordinasi oleh Yayasan NEHEMIA yang dipelopori Dr. Suadi Ben Abraham, Kholil Dinata dan Drs. Poernama Winangun alias H. Amos.

Mereka telah mengeluarkan beberapa buku diantaranya:
1. Upacara Jama`ah Haji
2. Ayat-ayat yang menyelamatkan
3. Isa `alaihis salam dalam pandangan Islam
4. Riwayat singkat pusaka peninggalan Nabi Muhammad saw
5. Membina kerukunan umat beragama
6. Rahasia jalan ke surga
7. Siapakah yang bernama Allah itu?

Isi buku-buku dan brosur tersebut di atas diantaranya:
· Upacara Ibadah Haji adalah penyembahan berhala tertutup
· Islam agama khusus untuk orang Arab, Al-Qur`an kitab suci orang Arab dan Nabi Muhammad saw adalah nabi untuk orang Arab yang mengajarkan penyembahan berhala dan tidak akan selamat di akhirat
· Tuhan orang Islam adalah batu hitam (hajar aswad)
· Waktu sholat sangat kacau dan Al-Qur`an tidak relevan
· Nabi Muhammad saw memperkosa gadis dibawah umur
· Al-Qur`an untuk Iblis, Injil petunjuk bagi umat Islam yang taqwa
· Bapaknya Yesus adalah Allah subhanahu wa ta`ala
· Semua umat masuk Neraka kecuali umat Kristen
· Nabi Muhammad saw wafat mewariskan kitab Injil
· Khadijah, istri Nabi Muhammad saw beragama kristen

Sanggahan terhadap tuduhan-tuduhan keji tersebut :
· Ibadah Haji dituduh sebagai penyembahan berhala tertutup, itu tuduhan keji. Tidak bolehnya orang non muslim ke Mekkah bukan untuk menutupi upacara ibadah haji. Dan ibadah haji itu tidak ada penyembahan berhala seperti dituduhkan H. Amos orang Kristen. Namun itu perintah langsung dari Allah swt yang artinya:”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini”.(Q.S. At-Taubah: 28). Tuduhan itu juga bertentangan dengan kenyataan, karena upacara ibadah haji ditayangkan pula ke berbagai negara di dunia lewat televisi. Terbukti tak ada penyembahan berhala dalam upacara ibadah haji dan tidak tertutup.

· Nabi Muhammad saw dituduh hanya rasul untuk bangsa Arab, dan tidak akan selamat di akhirat. Tuduhan itu sangat jahat, karena Allah swt telah menegaskan dalam Al-Qur`an yang artinya: “Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam”. (Q.S. Al-Anbiya:107). “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S.Saba`:28). “Al-Qur`an adalah suatu peringatan untuk semesta alam.” (Q.S. At-Takwir 27 dan Al-Qalam 52). “Dan Kami turunkan Al-Qur`an kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir.” (Q.S. An-Nahl 44). “Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi, dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ahzab 40)

· Tuduhan tentang Nabi Muhammad saw tidak selamat di akhirat, maka harus dibacakan sholawat, itu tuduhan keji pula. Bisa diperbandingkan dengan keadaan bahwa bayi yang meninggal dunia pasti selamat akan masuk surga. Namun bayi yang meninggal itu tetap disholati dan didoakan. Orang yang mensholati, mendoakan dan menguburkan mayit bayi ini akan mendapat pahala.
Terhadap bayi yang belum berjasa saja harus didoakan, apalagi terhadap seorang Nabi saw, yang telah sangat berjasa bagi umat manusia. Ini sudah pas dari segi ajaran agama maupun akal yang mau menerimanya.

· Tuduhan bahwa Islam mengajarkan penyembahan berhala batu hitam bernama Hajar Aswad, itu tuduhan yang amat keji dan licik. H. Amos memutarbalikkan fakta, Hajar Aswad dianggap sebagai berhala yang disisakan setelah 359 berhala dihancurkan, dengan mengutip hadits Bukhori tanpa disertai teksnya. Ternyata H. Amos sebagai orang Kristen bohong, karena Hajar Aswad bukan termasuk berhala. Teksnya Hadits Bukhari nomor 832, terjemahnya:
“Dari Ibnu `Abbas ra katanya: “Ketika Rasulullah saw mula-mula tiba di Makkah, beliau enggan hendak masuk Ka`bah karena di dalamnya banyak patung. Beliau memerintahkan supaya mengeluarkan patung-patung itu, maka dikeluarkan mereka semuanya termasuk patung Nabi Ibrahim dan Isma`il yang sedang memegang Azlam (alat untuk mengundi). Melihat itu Rasulullah saw bersabda:
“Terkutuklah orang yang membuat patung itu!, Demi Allah sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah melakukan undian dengan Azlam, sekali-kali tidak”. Kemudian beliau masuk ke dalam Ka`bah, lalu takbir di setiap pojok dan beliau saw sholat di dalamnya”. (Shahih Bukhari No. 832)

· Tuduhan tentang waktu sholat sangat kacau, itu tuduhan yang sangat mengada-ada. Penuduh membentrokkan ayat-ayat dengan hadits Bukhari tanpa mau memahami Q.S. Al-Isra 78 dan Q.S. Hud 114, dibentrokkan dengan hadits Bukhari nomor 211, lalu dikomentari bahwa yang dipakai hadits, bukan Al-Qur`an. Maka dituduh kacau. Padahal kalau mau memahami, ayat-ayat maupun hadits tersebut semuanya bermakna bahwa sholat wajib adalah 5 waktu sehari semalam, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan `Isya.

· Nabi Muhammad saw dituduh memperkosa gadis dibawah umur, itu tuduhan yang sangat menghina. Tuduhan itu hanya menunjukkan kebencian yang amat sangat, dan tidak bisa mengemukakan bukti-bukti larangan tentang menikahi gadis dalam batasan umur. Padahal umur 9 tahun seperti `Aisyah yang mulai diajak berumah tangga oleh Nabi saw setelah dinikahi pada umur 6 tahun, itu tidak ada larangan. Sedangkan gadis-gadis Arab-pun dalam usia 9 tahu sudah mungkin sekali haid, berarti dewasa. Jadi tuduhan itu hanyalah kebencian yang membabi buta.

Tuduhan-tuduhan lain yang mereka lontarkan terhadap Islam sifatnya sama; hanyalah kebencian dan kebohongan belaka. Orang-orang yang mau berpikir pasti paham bahwa tuduhan-tuduhan mereka itu menunjukkan betapa rendahnya moral mereka.

Tiga Serangkai Musuh Islam
Kristenisasi, Orientalisme dan Penjajahan menjadi tiga serangkai, yang tidak dapat dipisahkan. Masing-masing mempunyai tugas untuk menghancurkan umat Islam.
Kristenisasi bertugas untuk merusak aqidah; orientalisme memporak-porandakan pemikiran Islam; dan penjajahan melumpuhkan fisik.

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah 32)

Tujuan utama missionaris Zending adalah menyeret orang-orang Islam ke Kristen. Jika hal itu sulit dilakukan, maka akan ditempuh dengan upaya bagaimana cara mengaburkan pengertian Islam bagi kaum muslimin. Misionaris bertindak sebagai antek-antek dan mata-mata penjajah Barat demi merusak kesatuan Islam. Tujuan itu diperjelas oleh Pendeta Simon, bahwa misionaris adalah faktor penting sebagai penghancur kekuatan persatuan umat Islam.

Negara yang pertama kali mengembangkan kristenisasi adalah Belanda, yang pernah menjajah Indonesia dan memecah Jawa menjadi kawasan-kawasan yang dibangun untuk gereja dan sekolahan. Kemudian langkah tersebut diikuti oleh negara Eropa lainnya.

Memperkosa dan Memurtadkan
Kejahatan kristenisasi itu, kini dilengkapi dengan kenyataan kristenisasi yang sangat menghina umat Islam, yaitu memperkosa muslimah murid Madrasah Aliyah di Padang yang selanjutnya dimurtadkan. Khairiyah Enisnawati alias Wawah (17 thn) pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Gunung Pangilun, Padang, Sumatera Barat adalah salah satu dari 500 orang Minang yang dimurtadkan. Gadis berjilbab itu diculik, diperkosa dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang Kristen, di rumah Salmon seorang Jemaat Gereja Protestan di Jl. Bagindo Aziz Chan, Padang tempat memaksa Wawah untuk membuka jilbab dan masuk Kristen.

Gereja itu dipimpin Pendeta Willy, sedang Salmon adalah jemaat yang juga karyawan PDAM Padang. (lihat Dialog Jumat, 6 Agustus 1999). Dengan aneka kelicikan, kebrutalan dan bahkan pemerkosaan seperti tersebut di atas, jumlah orang Kristen di Indonesia makin menanjak secara drastic. Dari hanya 2,8% pada tahun 1931 menjadi 7,4% pada 1971 dan hampir 10% pada 1990. Kebrutalan dan kebiadaban mereka itu menimbulakan aneka konflik pula secara bertubi-tubi. Diantaranya kerusuhan antara Muslimin dan Nasrani di Dili Timor Timur (1994), Maumere NTT (1995), Surabaya dan Situbondo Jatim (1996), Tasikmalaya (1997), Ketapang dan Kupang, serta Ambon dan Sambas (1999). (Ibid. hal 4)

Pertemuan 300 pimpinan gereja dari 50 negara di Singapura, Januari 1989, kemudian pada 6 Januari 1991 dilancarkan apa yang disebut Dekade Evangelisasi, yakni “Manifestasi Kristus kepada gentiles (non Kristen)”. Berdasarkan interpelasi angka Gereja dari 5.100.000.000 penduduk dunia dewasa ini, orang Kristen berjumlah 1.665.000.000. Berarti ada sekitar 3.435.000.000 penduduk dunia yang harus dikristenkan, menurut mereka. (Media Dakwah, Agustus 1999, hal. 16)

Dari memperkosa muslimah lalu memurtadkan, sampai mengamen di bus-bus kota dengan lagu Gerejani telah mereka gencarkan. Maka benar dan terbuktilah firman Allah swt: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (Q.S. Al-Baqarah 120).
Apa upaya kita dalam menghadapi kejahatan kristenisasi?

Jakarta, 10 Rabiuts Tsani 1420 H (23 Juli 1999 M)

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGKAJIAN ISLAM (LPPI)
Masjid Al-Ihsan Lt. III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970
Telp./Fax. (021) 8281606

Rujukan:
1. Muallaf Meluruskan Pendeta, H. Insan L.s. Mokoginta, Yayasan Muhtadin, Jakarta, 1998
2. Muallaf Membimbing Pendeta ke Surga, H. Insan L.S. Mokoginta, Yayasan Muhtadin, Jakarta, 1998
3. Pendeta menghujat, Muallaf meralat, H. Insan L.s. Mokoginta, FAKTA, Jakarta, 1999
4. Islam dan Kristen di Indonesia, M. Natsir, Media Dakwah

[Kontributor : Muslim, 15 Juni 2002 ]
_______
dari : perpustakaan islam dot com

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kristenisasi dan Kejahatan-Kejahatannya )

Serangan Zionis terhadap Al-Haram Al-Qudsi Ash-Sharif

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Sejarah | Tags: |

Al Aqsa

Berikut adalah daftar kronologis tindakan teror dan agresi dan penodaan terhadap Al-Haram Ash-Sharif (Noble Sanctuary) dijalankan oleh Zionis sejak 7 Juni 1967:

1967/07/06: segera setelah menduduki Yerusalem Timur, Zionis disita kunci Bab El-Magharbeh, Gerbang Barat-Aqsha Al senyawa. Triwulan Magharbeh dengan 138 rumah yang hancur, di samping sekolah Afdaliyeh, Masjid Buraq dan Masjid Magharbeh.

1967/09/06: untuk pertama kalinya sejak 1167, jemaat shalat Jumat tidak dilaksanakan atas perintah dari otoritas pendudukan.

1967/08/09: Kepala Pendeta dari Tentara Israel Shlomo Goren, kemudian Israel Rabi kepala, memimpin 50 ekstremis bersenjata ontoAl-Haram Ash-Sharif mengatakan “Ini adalah perintah suci” bagi orang Yahudi pergi ke alasan muslim, yang memanggil orang-orang Yahudi Temple Mount “, dan melakukan doa di sana.

1969/06/16: Pemerintah Israel merebut bagian barat-selatan-Sharif senyawa-Haram Al Ash.

1969/08/18: anggota kelompok Zionis Bitar menodai Al-Aqsa.

1969/08/21: sebuah usaha terorisme Zionis untuk membakar Al-Aqsa:
Pada pagi hari 1969/08/21 seorang teroris kelahiran Australia, Michael Denis Rohan, memasuki Masjid Al-Aqsa dan mengatur berusia 800 tahun Nurrudin Zinki Mihrab di atas api, menghancurkan kayu tak ternilai tua dan mimbar gading dikirim dari Aleppo oleh penguasa Muslim Saladin dan bagian dari langit-langit. Kebakaran terjadi sekitar 7: 20 pagi dan Palestina bergegas untuk memadamkannya dan menyimpan masjid. brigade Api dari Betlehem, Ramallah bahkan jauh-jauh Nablus dan Hebron bergegas untuk membantu menyelamatkan Al-Aqsa, sementara pasukan pemadam kebakaran Israel Yerusalem, yang paling dekat dengan tempat kejadian, adalah untuk alasan yang jelas tertunda. Juga, untuk yang lain “alasan yang tidak dapat dijelaskan” beberapa 8 menit setelah pasukan pemadam kebakaran mulai memadamkan api, pasokan air terputus, dengan mengingat bahwa pasokan air dan jaringan air berada di bawah kendali Israel kota Yerusalem. Petugas pemadam kebakaran Palestina, Jerusalemites Palestina dan semua orang Palestina yang bergegas keluar dari mana-mana untuk menyimpan Al-Aqsa diangkut air di ember dengan tangan sampai mereka mampu memadamkan api. Dan seperti biasa, negara Zionis menemukan alasan setelah alasan untuk “membenarkan” kejahatan ini, Zionis mengklaim penyerang itu gila, klaim diberikan kepada semua orang yang melakukan kejahatan terhadap warga Palestina untuk melindungi mereka dari penuntutan. Juga, meskipun waktu hampir 5 jam untuk membedakan api, Israel kemudian mengklaim hanya butuh satu jam dalam upaya terang-terangan untuk meminimalkan kejahatan yang mengerikan. Tiga hari sebelum serangan teror, pada 1969/8/18, Yediot Ahronot menerbitkan sebuah laporan menekankan bahwa “Bait Salomo” akan dibangun kembali di tempat yang sama bahwa “Strangers mencoba merebut”. Pada 1969/08/25 Jerusalem Post menerbitkan laporan tentang kehidupan Rohan, yang dibawa oleh Badan Yahudi untuk bekerja di Kibbutz dan untuk dididik dalam ajaran Zionis dan bahasa Ibrani, yang berkaitan mimpi Rohan’s bangunan “Bait Salomo” di Yerusalem . Sementara ini serangan teror dikecam di seluruh dunia, segmen luas dunia Yahudi dan Kristen Zionis memuji. Pada 1969/9/15 dan setelah beberapa kali pertemuan, Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 271 (1969) mengutuk tindakan perusakan dan pencemaran Al-Aqsa.

16,11. 1969: Pemerintah pendudukan Israel merebut Corner Fakhriyya di sebelah selatan-barat Al-Haram Ash-Sharif.

1969/12/19: sekelompok orang Yahudi militan badai jalan mereka ke Al-Haram Ash-Sharif untuk “melakukan doa Hanukkah.”

1970/08/14: upaya oleh fanatik “Gunung Bait & Tanah Israel Setia” memimpin kelompok dengan fanatik Zionis Gerson Salomo secara paksa memasuki tempat Al-Haram Ash-Sharif jijik oleh Palestina. Konfrontasi mengakibatkan puluhan warga Palestina terluka oleh tembakan tentara Israel. Kelompok ini adalah kelompok Yahudi fanatik-ultra yang didedikasikan untuk disebut kembali sehingga dari Salomo “Templ e” di situs Al-Aqsa setelah menghancurkan itu.

1971/03/03: Yahudi fanatik Gerson Salomo membawa “Gunung Bait Setia” pengikut ke Al-Haram Ash-Sharif, yang diusir setelah berjuang dengan penjaga Palestina.

1971/11/07: 12 anggota kelompok fanatik Zionis Bitar masukkan Al-Aqsa dan mencoba melakukan berdoa di sana.

1971/07/22: yang fanatik kelompok Zionis Bitar melakukan doa di Al-Haram Ash-Sharif.

1974/03/03: Gerson Salomo dan badai nya pengikut Masjid Al-Aqsa.

1978/07/14: Gerson Salomo Yahudi militan mengarah ke Al-Haram Ash-Sharif.

08,1979: upaya yang dilakukan oleh anggota kelompok-kelompok Yahudi ekstremis Gerson Salomo dan Meir Kahane untuk memasuki Masjid Al-Aqsa yang dicegah oleh ribuan warga Palestina; bentrokan berikutnya meninggalkan puluhan orang Palestina terluka.

1979/10/11: Pasukan Israel luka puluhan jamaah dengan menembak dan melemparkan gas air mata ke Al-Aqsa.

1980/04/19: sekelompok rabi Yahudi dan orang bijak mengadakan konferensi semi-rahasia yang ditujukan untuk mengeksplorasi cara dan sarana “untuk membebaskan Gunung Bait Suci dari tangan Muslim” dan mengumumkan mereka akan bekerja pada menyalip Al-Aqsa.

1980/08/10: 300 berat bersenjata Emunim pemukim Gush fanatik mengatasi penjaga Palestina dan badai Al-Haram Ash-Sharif, tetapi kemudian bubar. Fanatik ini terkait dengan Stanley Goldfoot dan “Gunung Bait Setia “kelompok fanatik.

1980/08/28: Pihak berwenang pendudukan Israel menggali terowongan tepat di bawah Masjid Al-Aqsa.

1980/09/05: Rabbi Meir Kahane dari kelompok teroris upaya Emunim Gush untuk meledakkan Al-Aqsa dengan bahan peledak. 120 kg bahan peledak tinggi dan sejumlah bom yang sengaja menemukan hanya 2 menit sebelum sumbangan pada jarak 50 m dari Al-Aqsa. Itu adalah hari Jumat, yang berarti hari ketika puluhan ribu warga Palestina akan berkumpul di Al-Haram Ash-Sharif untuk berdoa.

1980/09/15: bersenjata berat Emunim pemukim Gush fanatik lagi memaksa mereka ke Al-Haram Ash-Sharif.

1981/08/28: Pemerintah Israel mulai menggali terowongan di bawah Al-Aqsa, melemahnya fondasi kompleks.

1982/03/30: Sejumlah surat yang dikirim ke Wakaf otoritas Muslim mendesak mereka untuk meninggalkan “Gunung Bait” dan memperingatkan mereka dari konsekuensi mengerikan dari “mereka” perampasan kami Temple. Surat-surat itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Inggris, Perancis, Spanyol dan Polandia.

1982/04/08: bahan peledak yang ditempatkan oleh kelompok teror Gush Emunim ditemukan di pintu masuk ke Al-Aqsa dan dibongkar. Selain bahan peledak itu pamflet mengancam untuk meledakkan Masjid Al-Aqsa dan fisik melikuidasi tokoh agama. Ancaman ditulis dalam bahasa Arab rusak dan dikeluarkan dari ilegal pemukiman Yahudi Kiryat Arba.

1982/11/04: Zionis melakukan pembantaian di Masjid Al-Aqsa, menewaskan 9 warga Palestina dan melukai lebih dari 100:
Pada pagi-pagi pada hari Minggu 1982/11/04 Amerika bersenjata berat tentara Israel Alan Goodman Harry berjalan ke Al-Aqsa, menewaskan 1 penjaga Masjid Palestina tak bersenjata di Gerbang Magharbeh. Para prajurit IOF yang duduk di sana tidak mengganggu. Goodman kemudian masuk ke dalam kompleks Ash-Sharif Al-Haram dan membunuh dua penjaga Palestina tak bersenjata sebelum menyerbu Al-Aqsa dan membuka api pada jamaah di sana selama setengah jam secara keseluruhan, tanpa campur tangan atau mencoba untuk menghentikan dia dari IOF. 9 Palestina tewas dan sekitar 100 luka-luka. Dia kemudian diarahkan api di mimbar, tempat lilin, marmer, mosaik dan karpet, beberapa di antaranya terbakar. Goodman upaya untuk meledakkan Kubah Batu tetapi dicegah oleh seorang Palestina. Ketika tentara Israel akhirnya gangguan, itu adalah untuk melindungi si pembunuh: jam malam telah diberlakukan di kota tua, dan bagian dari salah satu dinding Al-Haram Ash-Sharif dihancurkan. Pemerintah Israel, seperti biasa, menyatakan tentara untuk secara mental sakit, seperti semua orang “orang gila” sebelum orang yang mencoba dalam operasi aneh terorganisir dengan baik untuk menghancurkan Al-Aqsa dan dengan kerjasama anehnya penuh yang hadir IOF sana. Dan jika ia sakit mental, apa yang dia lakukan melayani dalam tentara Israel? Atau sedang sakit jiwa prasyarat untuk layanan di IOF? Ketika setelah kalimat singkat, Goodman dirilis oleh perintah dari pemerintah Israel, ia berkoar: “Aku memenuhi misi saya.”

1982/05/20: Beberapa organisasi Zionis dikirim ancaman kematian Waqf pejabat Muslim.

1982/07/25: Yoel Lerner dari kelompok teror gerakan Meir Kahane Kach, badai Al-Haram Ash-Sharif dengan rencana untuk dinamit dan menghancurkan Kubah Batu.

1983/03/10: Angkatan Gush Emunim teroris Yahudi memanjat dinding ke Al-Haram Ash-Sharif dan mengepung Masjid Al-Aqsa. Mereka memiliki di mereka memiliki jumlah besar bahan peledak, senapan otomatis dan pistol. 29 teroris ini dibebankan dan dimiliki untuk sidang, tetapi berhenti oleh pengadilan Israel 6 bulan kemudian.

1983/03/26: Pintu masuk utama’s Wakaf departemen Yerusalem runtuh akibat penggalian Israel di bawahnya.

1983/11/20: US orang Yahudi mulai penggalangan dana untuk pembangunan “Bait Suci Ketiga” yang akan dibangun di kompleks Al-Aqsa.

1984/01/27: sekelompok teroris Yahudi, yang dipimpin oleh Rabbi Moshe Levinger, salah satu yang paling militan ekstremis Yahudi, upaya untuk dinamit dan menghancurkan Al-Aqsa. Mereka ditemukan bersenjata dengan 250 pon bahan peledak, termasuk lusinan granat, kotak dinamit dan 12 putaran mortir.

1985/08/21: Polisi Israel mengizinkan ekstrimis Yahudi untuk mengadakan doa dalam batas-batas-Haram Ash-Sharif tempat Al.

04,08. 1986: Sekelompok Rabbi dikeluarkan putusan final yang memungkinkan orang-orang Yahudi untuk berdoa di Al-Haram Ash-Sharif dan mengumumkan keputusan untuk membangun Sinagog di halaman Al-Aqsha.

1988/12/05: tentara Israel menembaki pawai damai Palestina di Al-Haram Ash-Sharif, membunuh dan melukai sekitar seratus Palestina.

1988/02/07: Departemen Agama Israel menggali terowongan dimulai di dekat al-Ghanmeh Gate.

1989/01/14: di bawah perlindungan polisi Israel, sejumlah anggota Knesset membaca apa yang disebut “Kudus Mercy” di dalam Al-Aqsa.

1990/10/08: Zionis melakukan pembantaian di Masjid Al-Aqsa, menewaskan sedikitnya 17 warga Palestina dan melukai lebih dari 900:
Sejak tahun 1967, “Kuil Gunung Setia” kelompok Yahudi fanatik terus menyerang Al-Aqsa dengan perlindungan dan dukungan dari IOF. serangan seperti ini seringkali berakhir dengan Palestina yang tewas, terluka atau ditangkap. Yang terburuk dari serangan-serangan teror Al Aqsha pembantaian. Beberapa hari sebelum pembantaian grup ini fanatik informasi media niatnya untuk berbaris ke Al-Aqsa, pada kesempatan festival keagamaan yang dikenal sebagai “Takhta Festival”, dan tempat batu dasar dari apa yang disebut “Bait Suci Ketiga” . Mereka meminta semua orang Yahudi untuk bergabung di perjalanan dan pemimpin mereka dan pendiri Gerson Salomo mengumumkan bahwa “pendudukan Arab-Islam kawasan candi harus berakhir, dan orang Yahudi harus memperbaharui hubungan yang mendalam mereka ke daerah suci.” [1] Panggilan yang dilakukan terhadap Palestina untuk datang dan melindungi Al-Aqsa. Pada hari Senin 1990/8/10, sekitar 200.000 orang Yahudi Zionis fanatik berbaris ke Al-Aqsa. Tentara Israel membantu fanatik seperti biasa dan bergeser misi mereka dengan menempatkan pos pemeriksaan militer di sepanjang pintu masuk ke kota, sehingga mencegah orang Palestina dari masuk dan melindungi Al-Aqsa. Namun demikian, ribuan orang Palestina telah berkumpul di dalam Al-Aqsa sejak malam sebelumnya dan pagi. Itu adalah ketika Palestina mencoba mencegah kelompok fanatik dari menempatkan “batu fondasi” apa yang disebut untuk kuil mereka disebut, bahwa pembantaian dimulai. IOF tentara dan pemukim fanatik mulai menembak secara acak di Palestina bersenjata, tidak membedakan antara muda dan tua, pria dan wanita, dan senapan mesin menggunakan dan bom gas. helikopter Israel berpartisipasi dalam pembantaian dari udara. Pembantaian itu berlangsung 35 menit, 10:00-10:35, di mana sedikitnya 17 warga Palestina (beberapa sumber menyebutkan 18, yang lainnya 23) tewas dan sekitar 900 luka-luka, sebagian besar luka yang di kepala dan di dalam hati. Dan jika itu belum cukup, IOF kemudian mulai mengalahkan orang dengan klub mereka dan senapan.

Saksi mata kemudian melaporkan bahwa bahkan mereka yang terluka berbaring di tanah atau di ambulans ditembak di ambulans. “Perawat Fatima Abu Khadir mengatakan bahwa” Kami pergi ke masjid Bait sebuah di. Aku melihat sejumlah besar cedera yang telah jatuh di tanah. Lalu aku melihat banyak tentara, ratusan tentara. Mereka sekitar 30 meter dari ambulans dan berlutut pada satu lutut cara penembak jitu lakukan, dan senjata mereka ditujukan di dalam ambulans. Setelah itu aku tidak bisa melihat apa-apa. “

instansi Berita menggambarkan diberkati Bait al-Aqsa mengatakan darah yang telah menutupi “seluruh meter dua ratus antara Kubah dan al-Aqsa Masjid Rock. Darah mengalir di mana-mana, di seluruh langkah yang luas, dan telah menodai ubin putih panjang halaman yang luas, serta pintu kedua masjid. Dinding kedua masjid sudah lama, baris merah terukir ke ujung dengan tangan berdarah, dan darah menodai seragam putih dari pertolongan pertama pekerja wanita. Setiap orang – yang terluka dan beruntung, pertolongan pertama lebih banyak pekerja, wartawan, dan tentara Israel – semua dari mereka tampak seolah-olah mereka berenang dalam darah.
Dokter Muhammad Abu ‘Ayila berkaitan apa yang terjadi padanya dan seorang pria terluka kepada siapa ia telah mencoba untuk mengelola pertolongan pertama, dan bagaimana Zionis’ gembira saat melihat darah Palestina tumpah di Bait dari mesjid suci telah membutakan mata mereka begitu banyak sehingga mereka tidak bisa membedakan antara anak muda dan orang tua, antara pria dan wanita, antara seorang pria terluka dan satu berusaha untuk memperlakukan dia. Dia mengatakan, “Saya keluar dari ambulans membawa kit pertolongan pertama. Aku mengenakan seragam putih. Para prajurit melihat saya dan tahu saya adalah seorang dokter. Tapi ketika aku sampai orang terluka terdekat saya dan membungkuk untuk mengobati dia, aku punya tiga peluru di punggung saya di daerah ginjal. Pada saat itu, orang yang terluka di dekat saya meninggal. Tapi dia bisa diselamatkan jika aku belum memukul. “
(Sumber: http://www.almoltaqa.ps/english/showthread.php?t=3808)

Pemerintah Zionis, dengan cara biasa untuk mengelabui masyarakat internasional, mengumumkan pembentukan komite penyelidikan. komite tersebut yang selalu terdiri dari personil Mossad dan IOF, memiliki tugas kliring tanggung jawab Israel dan menempatkan menyalahkan Palestina. Jadi tidaklah mengherankan saat ini juga bahwa para korban disalahkan karena dibunuh dan bahwa pembunuh diumumkan menjadi tidak bersalah. Panitia mengumumkan bahwa, “Laporan ini menegaskan dengan jelas bahwa tanggung jawab dan kesalahan untuk mengeskalasikan [konflik] terletak di sisi dari ribuan ekstremis Muslim, yang menyerang tempat suci orang Yahudi.” [2]

1990/10/19: Doa Jumat ditunda selama dua jam karena otoritas pendudukan Israel ditolak masuk penyembah Muslim untuk-Sharif senyawa-Haram Al Ash.

1993: Pengadilan Tinggi Israel keputusan yang menyatakan bahwa senyawa-Aqsha Al adalah “bagian dari Israel”.

1993: “Kelompok ekstremis ‘Gunung Bait Setia file Pengadilan Tinggi keluhan terhadap Waqf Islam mengklaim bahwa renovasi di Dome of the Rock adalah ilegal karena tidak diizinkan oleh Israel. Pengadilan Tinggi Israel menuntut penghentian pekerjaan renovasi Masjid Al-Aqsa, menantang Wakaf’s kewenangan atas situs suci Islam.

1994: menunjuk otoritas Israel Meir Davidson sebagai kota penasihat pada properti Palestina. Davidson seorang pejabat senior Ateret Cohanim, sebuah organisasi yang bertujuan penghancuran masjid Al-Aqsa.

02,1994: 7 ekstremis Israel mencoba untuk berdoa di Al-Aqsa Masjid namun akhirnya diperintahkan untuk meninggalkan oleh polisi mendampingi mereka.

1994/02/25: tentara Israel menembak mati seorang pemuda Palestina dan beberapa luka di Dome of the Rock setelah bentrokan meletus di protes dari pembantaian Hebron.

1994/03/29: Bentrokan meletus di Kota Tua sebagai kelompok ekstremis Israel dipimpin oleh Gerson Salomo tahap pawai yang bermaksud untuk memasuki Al-Haram Ash-Sharif senyawa.

. 06 1994: Wakaf Islam menuduh Israel menggali terowongan di bawah Dolarosa Via yang mengancam properti Islam sekitar-Aqsha Al senyawa. penggalian sebelumnya telah menyebabkan kehancuran pintu masuk ke Waqf dan runtuhnya atap Masjid Othman.

1994/07/15: Pengadilan Tinggi Israel memutuskan untuk mengizinkan orang Yahudi untuk beribadah di Al-Haram Ash-Sharif pada hari berikutnya.

1994/08/19: media Israel melaporkan bahwa pemerintah Israel berencana untuk memulai sebuah proyek besar (“The King’s Hill”) di sekitar Kota Tua. Proyek ini adalah untuk menyertakan-hektar taman 4 di daerah Salawduha, jalan ke Gereja Getsemani, pembangunan “Rahma Gate” di bawah Masjid Al-Aqsa, dan jalan bawah tanah dari Gereja Getsemani ke dinding Silwan.

08,1994: ekstremis Kach anggota vandalisme makam Islam di Lion’s Gate dekat Masjid Al-Aqsa, menghancurkan puluhan batu nisan dan cat “Matilah Arab” pada orang lain.

1994/09/25: kelompok ekstremis Yahudi “Kuil Gunung Setia” diperkenankan masuk Masjid Al-Aqsa untuk merayakan Sukkot tetapi dicegah masuk oleh polisi Israel untuk menghindari bentrokan dengan Palestina.

09,1994: teroris Alan Goodman dari pembantaian Al-Aqsa tahun 1982, upaya untuk memasukkan Al-Aqsa lagi.

10,1994: MKS Israel melakukan kunjungan provokatif ke Al-Haram Ash-Sharif, diduga untuk mengawasi bangunan ilegal.

1994/11/29: pemukim Agama dari “Hidup dan Yah” gerakan mencoba masuk ke-Sharif senyawa-Haram Al Ash. . Gerakan teroris berusaha untuk membangun kembali “Kerajaan Israel” dan untuk menangkap kembali ‘Temple Mount’, dan pemimpinnya, Yehuda Ezion, sebelumnya terlibat dengan teroris bawah tanah Yahudi dan berpartisipasi dalam rencana untuk meledakkan Kubah Batu untuk yang ia dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.

12,1994: The Wakaf Islam mengingatkan bahwa penggalian yang dilakukan oleh Departemen Agama Israel di bawah Masjid Al-Aqsa dapat menyebabkan keruntuhannya, mengatakan pekerja Israel menggunakan bahan kimia untuk melarutkan batu. penggalian lain di masa lalu menyebabkan runtuhnya dinding batu di Al-Haram Ash-Sharif dan biarkan masuk ke senyawa dari terowongan.

1995/01/16: Sekelompok pemukim Yahudi berusaha untuk masuk Masjid Al-Aqsa tetapi dicegah oleh polisi Israel.

1995/12/02: The Israel Antiquities Authority mengumumkan rencana untuk mengungkap reruntuhan “Solomon Temple”, seharusnya berada di bawah Masjid Al-Aqsa. Ini melibatkan penggalian skala besar dan melanggar hukum internasional.

1995/04/24: Fanatik Yahudi berpakaian sebagai turis mencoba untuk memasuki Masjid Al-Aqsa tetapi diidentifikasi dan dicegah oleh penjaga Masjid.

1995/05/28: Pengawal dari Masjid Al-Aqsa dipaksa untuk menutup pintu setelah sejumlah Zionis mencoba memasuki kompleks itu untuk berdoa.

05,1995: UNESCO file protes resmi dengan pemerintah Israel tentang penggalian di Kota Lama, incl. penggalian di bawah Masjid Al-Aqsa.

1995/06/15: 5 perempuan Yahudi fanatik mendapatkan ditangkap ketika mereka mulai untuk berdoa di dekat’s Gate Lion setelah gagal untuk masuk-senyawa Al Aqsa.

1995/10/07: 8 ekstrimis Yahudi berusaha untuk masuk-senyawa Al Aqsa tetapi dicegah oleh penjaga Masjid.

1995/07/12: ekstremis Yahudi mengambil alih sebuah bangunan di daerah Bab al-Silsila, dekat Masjid Al-Aqsa.

1995/07/25: Pengadilan Tinggi Israel Kehakiman mengeluarkan putusan yang memungkinkan orang-orang Yahudi untuk berdoa di “Kuil Gunung”.

1995/01/08: The kelompok ekstremis Yahudi Hai Vakayam memperingatkan Waqf dalam surat tidak untuk menolak masuk Yahudi untuk-Aqsa senyawa Al untuk berdoa.

1995/08/03: Israel Pengadilan Tinggi membalikkan 28 tahun kebijakan, yang memungkinkan orang-orang Yahudi ekstremis untuk memasukkan Al-Aqsa senyawa untuk doa pada 5/6.08. Bentrokan pecah antara warga Palestina dan sekitar 150 pemukim Yahudi yang mencoba untuk menyerang Al-Aqsa.

5/6.08.1995: Sekelompok kecil orang Yahudi diperkenankan masuk wilayah Al-Aqsa pada malam itu) 5 Yahudi (liburan Kedua Temple memperingati kehancuran.

1995/08/06: Pemukim mencoba untuk masuk ke kompleks Al-Aqsa melalui Bab al-Qattanin namun dihentikan oleh penjaga.

1995/08/08: Departemen Agama Israel Shimon Shetreet mengusulkan kesepakatan yang memungkinkan orang-orang Yahudi untuk berdoa di Al-Aqsa seperti yang diterapkan di Masjid Ibrahimi di Hebron. Proposal ditolak.

1995/08/20: 9 anggota Hai Vakayam kelompok ekstremis yang ditahan ketika mereka mencoba untuk memasuki Al-Haram Ash-Sharif senyawa untuk berdoa.

1995/08/23: 6 anggota kelompok ekstremis Hai Vakayam ditangkap setelah mencoba memasuki Al-Haram Ash-Sharif senyawa untuk berdoa.

1995/09/20: Meskipun protes besar, Rubin kepala polisi Israel mengizinkan 20 orang Yahudi sayap kanan untuk memasuki Al-Haram Ash-Sharif senyawa mana mereka, dilindungi oleh kepolisian yang kuat, mengumumkan bahwa mereka akan segera memasuki Masjid Al-Aqsa itu sendiri.

10.101.995: Setelah Pengadilan Tinggi Israel memutuskan untuk mengizinkan akses Yahudi ke-senyawa Al Aqsa untuk hari raya Yahudi ekstremis parade, Tabernakel melalui Kota Tua dengan bendera Israel, meneriakkan slogan-slogan anti-Arab.

1995/11/10: ekstremis Yahudi berusaha untuk masuk-senyawa Al Aqsa dari Silsileh dan Kattaneh Gates tetapi dicegah oleh penjaga.

1995/12/23: 10 ekstrimis Yahudi mencoba untuk menyerang Al-Aqsa tetapi dicegah oleh para penjaga.

1995/12/18: Polisi Israel menangkap 11 ekstrimis Yahudi berusaha untuk berdoa di Al Aqsa Mosque.

1995/12/30: Polisi Israel menangkap sayap kanan Eyal Kenan Yahudi di Kota Tua sesuai dengan perintah pengadilan melarang dia untuk memasuki Kota Lama sebagai rencananya untuk menyerang Al Aqsa dengan rudal anti-tank dikenal.

1996/08/04: Sekitar 90 pemukim Israel diizinkan untuk memasuki kompleks Al Aqsa untuk sholat Pessach; 15 ekstrimis Yahudi ditangkap ketika mencoba untuk memasuki kompleks tegas.

1996/07/18: keputusan Mahkamah Tinggi Israel memungkinkan ekstremis Israel untuk masuk-senyawa Al Aqsa.

1996/07/25: Yahudi ekstremis masukkan Kubah Masjid Rock setelah keputusan Pengadilan Tinggi Israel belum pernah terjadi sebelumnya untuk memungkinkan “Kuil Gunung Setia” untuk melihat peringatan dari “kehancuran Bait Suci Kedua”.

1996/09/24: Pada waktu fajar, pemerintah Israel meresmikan sebuah terowongan di bawah-Sharif senyawa-Haram Al Ash.

1996/09/25: Di belakang berita pembukaan terowongan, bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel keluar di Yerusalem; pasukan Israel menyerang demonstran.

1996/09/27: tentara Israel menyerang Al-Aqsa senyawa, kebakaran pada jamaah, menewaskan 3 orang dan melukai 125.

03,1997: Sebuah surat yang diterbitkan oleh penasehat hukum kepada PM Netanyahu yang mencatat bahwa doa Yahudi di Al-Aqsha senyawa tidak ilegal.

1997/03/27: Dua ledakan devisa ditemukan di dalam pipa drainase dekat Masjid Al-Aqsa.

03,1997: pejabat Wakaf laporan penggalian Israel baru di bawah Masjid Al-Aqsa.

01,1998: Ahoronot Yediot melaporkan bahwa dua ekstremis Yahudi telah ditemukan berencana membuka penyembah api di Palestina mengambil bagian dalam salat Jumat di Al-Aqsa selama bulan Ramadhan.

1998/03/01: Sebuah penyelesaian agama sebelah timur Yerusalem setuju untuk membentuk senyawa untuk membesarkan anak-anak milik kelas ‘imam’ sehingga mereka akan dapat menguduskan tanah dari “Gunung Bait” dan dengan demikian memungkinkan pembukaan kembali doa Yahudi di tempat suci.

1998/04/14: Dua puluh ekstrimis Yahudi dicegah dari memasuki Masjid Al-Aqsa oleh penjaga.

1998/05/13: ekstremis Israel dibakar Bab Al-Ghawanmeh, salah satu gerbang menuju kompleks Al Aqsa, menghancurkan sebagian besar pintu gerbang kuno.

1998/05/20: Menteri Israel perintah renovasi Polisi dari kubah bawah Masjid Al-Aqsa yang kadang-kadang digunakan untuk doa-doa untuk berhenti. Pejabat Kepala Dewan Tinggi Islam mengatakan Israel tidak punya hak untuk pesanan pekerjaan itu berhenti.

1998/12/07: Anggota kelompok ekstremis pemukim Hay VeKayam, dikawal oleh polisi Israel, masukkan halaman Masjid Al-Aqsa dalam apa yang mereka sebut sebagai ‘yang pertama’ langkah.

1998/10/18: Anggota kelompok ekstremis Yahudi “Kuil Gunung Setia dan pemimpin mereka” Gershon Solomon upaya-Aqsha memasuki kompleks Al, mengibarkan bendera Israel dan bertiup domba tanduk, untuk memulai rekonstruksi dari “Bait Suci Ketiga”. Selama rally dipimpin oleh Gerson Salomo membanggakan bahwa “pendudukan Arab dari Temple Mount selesai selamanya” dan mencoba untuk membongkar sebuah truk yang membawa 4 ton marmer ‘landasan’ mengatakan “Waktunya telah tiba untuk membangun kembali Kuil Yahudi “.

1998/11/27: Israel berencana untuk menghabiskan $ 1.2m untuk mendanai langkah-langkah keamanan di Masjid Al-Aqsa dengan membuat pagar listrik dan kamera.

01,1999: Israel menahan anggota polisi dari Peduli ‘Kristen sekte Amerika’ ketika belajar kelompok tentang niat pada malam tahun 2000 untuk bunuh diri setelah menghancurkan Al-Aqsha dan membangun sebuah kuil di tempatnya.

1999/01/29: ekstremis Yahudi Ortodoks menyiapkan kantong pemukim baru di dekat Masjid Al-Aqsa.

1999/03/30: Damyan Pakovitch, seorang Rusia Yahudi imigran, ditemukan bersalah merencanakan untuk menodai Masjid Al-Aqsa dengan melemparkan kepala babi ke tempat selama Ramadan.He kemudian dibebaskan.

1999/04/04: Polisi Israel mengizinkan lebih dari 20 ekstrimis Yahudi untuk memasuki Al-Aqsa senyawa untuk merayakan Pessach.

1999/07/20: Laporan Ha’aretz yang militan Israel penggalangan dana untuk membangun kembali kuil Yahudi di tempat Masjid Al-Aqsa. Kampanye ini dipimpin oleh Yehuda Etzion, yang dipenjara pada tahun 1980 untuk mengorganisir serangan terhadap Palestina, dan melibatkan sayap kanan-beberapa kelompok agama.

1999/07/21: Anggota dari “Kuil Gunung Setia” ekstremis berusaha untuk memasuki Al-Haram Ash-Sharif senyawa dan menyerukan penghancuran Masjid Al-Aqsa, memprovokasi konfrontasi dengan jamaah Muslim.

1999/07/22: 3 ekstremis Yahudi dari kelompok Kach dilarang yang ditangkap pada malam hari setelah gemeresik dengan Palestina dan melemparkan pamflet atas dasar Masjid Al-Aqsa yang memanggil orang-orang Yahudi untuk orang asing dari Kuil Gunung. The “hari setelah” mengusir serangan tersebut, Waqf memutuskan untuk menutup Al-Haram Ash-Sharif senyawa di protes.

1999/10/08: Polisi Israel mencegah perluasan jendela dibuka oleh Wakaf untuk memberikan cahaya dan udara untuk kamar ruang bawah tanah di bawah Masjid Al-Aqsa. Gangguan polisi percikan protes Muslim. (The ekstremis Gunung Bait Setia kelompok telah mengajukan petisi kepada Pengadilan Tinggi Hukum untuk segera menghentikan ‘tidak berlisensi’ pekerjaan konstruksi).

1999/08/19: The “Kuil Gunung Setia” petisi kelompok Pengadilan Tinggi Israel untuk mewajibkan lembaga negara untuk menempatkan berhenti segera untuk pekerjaan konstruksi oleh Waqf Muslim di sebelah Gerbang Hulda, mengklaim bahwa tujuannya adalah membangun masjid di ruang bawah tanah sana.

1999/09/26: Pengadilan Tinggi Israel menolak permohonan banding oleh Candi Setia Gunung “kelompok” untuk layanan doa Yahudi di-Sharif senyawa-Haram Al Ash.

1999/10/08: The “Kuil Gunung Setia” telah mendesak Yahudi kaya dari seluruh dunia untuk membantu menyita sejumlah rumah Arab di sekitar Masjid Al-Aqsa dan mengedarkan gambar model candi diharapkan menjadi membangun di tempat Al-Aqsa.

2000/09/28: Ariel Sharon melakukan kunjungan provokatif ke Al-Haram Ash-Sharif, disertai oleh ratusan tentara Israel, yang berkilau 2 Intifadah kedua dikenal sebagai Al-Aqsa Intifada 5 pasukan Israel. Menyerang Palestina di Al-Aqsa Masjid, meninggalkan tewas dan lebih dari 160 terluka.

2001/01/07: Dua mantan petugas keamanan mengirim surat publik untuk peringatan Barak ancaman keamanan untuk Al-Haram Ash-Sharif oleh dan mesianik kelompok-kelompok ekstremis. Mereka menyatakan “desakan untuk menghancurkan masjid dan membalas dendam atas pembunuhan Binyamin Kahane [membuat] dengan [Haram Ash-Sharif dan situs Islam lainnya] target utama serangan oleh orang-orang Yahudi.”

2001/04/20: The Jerusalem Post melaporkan tentang rencana oleh Yahudi Pembangunan Triwulan Corporation untuk membangun ratusan apartemen baru di Triwulan Yahudi dan puluhan di Triwulan Muslim. Tujuan program ini adalah untuk menciptakan kesinambungan Yahudi dari lingkungan Yemin Moshe Barat Yerusalem untuk Masjid Al-Aqsa.

28-29.07.2001: Palestina penduduk di dalam dan sekitar Yerusalem march menuju Masjid Al-Aqsa untuk mencegah kemungkinan serangan ekstremis Yahudi yang mengumumkan mereka datang untuk memperingati kehancuran ‘Candi’. Serangan pasukan Israel Masjid Al-Aqsa, melukai 70 warga Palestina.

2002/08/11: Yerusalem penangkapan polisi seorang Yahudi, mengenakan keffiyeh, yang mencoba untuk menyusup doa pada-senyawa Al Aqsa, di mana sekitar 150, 000 Muslim penyembah terus shalat Jumat pertama tahun ini Ramadhan.

2003/01/31: Ha’aretz laporan tentang kampanye berjudul “Gunung Bait – Hati Bangsa,” yang diluncurkan oleh sekelompok orang Amerika Yahudi, ditayangkan pesan pada stasiun radio Israel bahwa panggilan untuk memperkuat keberadaan Yahudi di “Kuil Gunung.”

02,2003: Kepala Polisi Israel Mickey Levy mengatakan bahwa orang-orang Yahudi akan diizinkan untuk berdoa di Masjid Aqsa senyawa-Al setelah perang di Irak.

2003/03/19: Al-Hayat Al-Jadida laporan bahwa Al-Aqsa Institut untuk Renovasi Islam Situs ketakutan rencana Israel untuk mengubah bagian Masjid Al-Aqsa ke daerah menyembah bagi orang Yahudi, mirip dengan kasus Al-‘s Hebron Ibrahimi Masjid.

2003/04/19: Polisi Israel ternyata kembali beberapa 20 “Kuil Gunung Setia” aktivis, yang dipimpin oleh Gershon Salomon, mendekati Al-Mughrabi Gerbang Al-Aqsa Compund dan menyerukan pemerintah untuk membuka “Gunung Bait” untuk orang Yahudi.

2003/05/14: Min Keamanan Publik. Tzachi Hanegbi mengatakan bahwa dengan atau tanpa perjanjian, “Gunung Bait” akan segera dibuka untuk orang-orang Yahudi untuk kunjungan dan doa, mengatakan “bahwa adalah hak, moral dan hal yang logis.”

2003/05/16: Pasukan Israel melarang laki-laki di bawah usia 40 dari menghadiri shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa.

2003/05/28: Ha’aretz melaporkan bahwa arsitek Gideon Harla telah merancang rencana untuk membangun sebuah rumah ibadat di Al-Haram Ash-Sharif di sebelah Dome of the Rock pada perkiraan biaya lebih dari $ 3 juta. masjid.

2003/05/30: Ha’aretz melaporkan bahwa Rabbi Yesha Dewan telah mengeluarkan pernyataan yang menyerukan untuk pembentukan kedaulatan Israel pada ‘Temple Mount’ dan membuka untuk doa Yahudi, mengatakan “The Temple Mount milik semata-mata untuk orang-orang Yahudi dan ada ada ruang di atasnya untuk bekerjasama dengan orang asing. “

2003/07/22: Polisi Israel melindungi kelompok Yahudi diizinkan untuk melakukan ritual agama di Al-Haram Ash-Sharif.

2003/08/24: Polisi Israel memungkinkan sekelompok sekitar 40 orang Yahudi, incl. beberapa ekstremis dari “Temple Mount Setia” dan “Chai Vekayam” gerakan, untuk masuk dan tur-Aqsha Al Compound untuk beberapa 90 menit. Beberapa tambahan 60 orang Yahudi diperbolehkan untuk membuat “biasa” kunjungan ke kompleks.

2003/08/29: polisi Israel membatasi masuk ke Masjid Al-Aqsa bagi umat Islam dengan kartu ID Israel atas usia 45.

2003/08/31: Polisi Israel menghapus tiga pengunjung Yahudi milik “Temple Mount Setia” dan “Chai Vekayam” gerakan dari senyawa Al-Aqsa, setelah mereka mulai berdoa dan sujud. Insiden ini terjadi selama kunjungan oleh aktivis yang dipimpin oleh Yehuda Etzion, pemimpin Etzion.

2003/09/04: Dalam pengembalian yang digelar halakhic aturan-lama, Dewan Yesha rabi, rabbi Dov Lior, Daniel Silo dan Rabinowitz Nahum-isu yang berkuasa, mengatakan orang-orang Yahudi dapat mengunjungi kompleks Al Aqsa karena “keraguan telah dihapus” tentang lokasi candi asli, sehingga tidak ada bahaya lagi bahwa sancticity dari tempat itu dilanggar oleh menginjak di tempat yang salah.

2003/10/13: Polisi Israel mencegah “Kuil Gunung Setia” untuk mengadakan upacara Sukkot di Al-Haram Ash-Sharif.

03.02.2004: Israeli archaeologists complain about alleged excavation work undertaken unsupervised by the Waqf on Al-Aqsa compound, which would endanger the remains of the “Second Temple”.

15.02.2004: After inspecting the site near the Western Wall where an embankment collapsed a day earlier, Israeli archaeologist Eilat Mazar calls for an investigation of the compound’s stability.

2004/03/08: The “Kuil Gunung Setia” petisi Pengadilan Tinggi Kehakiman memerintahkan Israel Antik Otoritas untuk mengawasi pekerjaan konstruksi yang terjadi di Al-Haram Ash-Sharif dan untuk mencegah kerusakan dan pencurian barang antik.

2004/05/04: Anggota dari “Temple Mount Faithful” mengadakan upacara menyembelih domba Paskah di Mt. Zaitun, setelah polisi menolak permintaan mereka untuk menahan itu di Al-Aqsha senyawa.

2004/07/27: kepala polisi Mayor Jenderal Israel Ilan Franco melarang pengunjung Yahudi dari senyawa-Aqsha Al pada hari ini Tisha B’Av (menandai kehancuran dari dua candi) lebih khawatir memicu bentrokan kekerasan. Beberapa 30 ekstrimis Yahudi mencoba tetap untuk masukkan kembali. The “Kuil Gunung Setia” kemudian memegang sebuah pertemuan simbolik dekat kompleks tersebut Mughrabi Gate.

2004/06/09: Atas permintaan dari “Komite untuk Mencegah Destruction of Antiquities di Bukit Bait Suci”, Israel Pengadilan Tinggi Kehakiman mengeluarkan perintah yang melarang sementara Israel Antiquities Authority, Keamanan Publik Min. dan PM dari otorisasi Wakaf untuk menghilangkan ton tanah dari senyawa-Sharif Al-Haram Ash, pada asumsi itu berisi artefak arkeologi.

2004/10/17: keamanan kepala’s Israel memperingatkan risiko tumbuh dari sebuah serangan oleh ekstrimis Yahudi di Al-Aqsa.

2005/04/10: polisi Israel menangkap 31 ekstrimis Yahudi di Tembok Barat, yang mencoba untuk berbaris menuju Al-Haram Ash-Sharif.

2005/05/16: Polisi WJM dan Shin Bet mengungkapkan bahwa lima orang Yahudi ditangkap karena dicurigai merencanakan serangan terhadap Masjid Al-Aqsa untuk mengganggu rencana bercerai. Semua lima orang dibebaskan segera setelah.

2005/06/30: Pemerintah Israel telah menginstal 19 kamera baru di gerbang menuju Masjid Al-Aqsa.

2007/07/23: sekitar 300 ekstrimis Yahudi badai Al-Aqsa dan melakukan ritual mencurigakan yang mereka diklaim sebagai “agama”.

2008/08/16: kelompok-kelompok Yahudi ekstremis badai Al-Aqsa senyawa dari Gerbang Magharbeh.

2008/10/09: kelompok pemukim Yahudi, rabi dan politisi Israel menerapkan pembobolan massal dan pawai di-Sharif senyawa-Haram Al Ash, di bawah perlindungan polisi Israel.

2009/02/09: Israel memungkinkan ratusan wisatawan mengenakan “pakaian yang terbuka” ke Masjid Al-Aqsa dan kelompok ekstremis 30 pemukim Israel menyerbu halaman alAqsha.

2009/11/03: sekelompok 30 ekstremis Yahudi berdandan-senyawa Aqsha Al kostum badai untuk melakukan ritual seminari Yahudi di dalam masjid.

13.04. 2009: puluhan pemukim Yahudi Al-Aqsa Masjid senyawa badai untuk melaksanakan shalat pada kesempatan melindungi Al-Aqsa “. Paskah” The Israel polisi tidak melakukan menghentikan fanatik Yahudi, bukannya menyerang dan menangkap warga Palestina yang telah berkumpul untuk. Beberapa upaya sebelumnya telah dilakukan sepanjang hari dengan fanatik Yahudi untuk memasuki Al-Aqsa.

2009/04/16: beberapa organisasi ekstremis Yahudi mengundang pengikut mereka “untuk menaklukkan” Al-Aqsa kompleks Masjid dan keYahudian itu.

2009/07/30: bijih m dari 200 ekstremis Yahudi badai Masjid Al-Aqsa, memposisikan diri di dalam situs suci, diduga untuk melakukan ritual keagamaan.

2009/12/09: Pemerintah Israel mulai penggalian untuk membangun terowongan di dekat Masjid Al-Aqsa. Terowongan sedang dibangun di bawah lingkungan Arab Silwan dan sekarang 120 meter panjang, lebar 1,5 meter dan 3 meter. terowongan ini menuju ke arah utara menuju Masjid Al-Aqsa dan akan dihubungkan dengan satu lagi sedang dibangun di bawah lingkungan Silwan, dengan tujuan akhirnya menghubungkannya dengan jaringan terowongan yang mengarah ke Masjid Al-Aqsa. Tujuan dari penggalian ini adalah untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan untuk membangun yang disebut kedua candi-jadi di atas reruntuhan Al-Aqsa.

24,09. 2009: anggota “ahli bahan peledak” Unit dalam badai polisi Israel Masjid Al-Aqsa dan wisata itu.

27,09. 2009: bentrokan antara kelompok-kelompok Yahudi, dilindungi oleh polisi Israel, dan Palestina dalam hasil senyawa Noble Sanctuary dalam cedera dari 16 warga Palestina.

Sumber:
http://www.jerusalemites.org
http://www.palestine-encyclopedia.com
http://www.passia.org
http://www.poica.org
http://www.aljazeera.net

Catatan kaki:
[1] http://www.palestinehistory.com/issues/massacre/mass06.htm
[2] (http://www.almoltaqa.ps/english/showthread.php?t=3808)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Serangan Zionis terhadap Al-Haram Al-Qudsi Ash-Sharif )

Pembantaian Kufur Qasem , 29 Oktober 1956

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Sejarah |

martyrs

Kumpulan artikel dan makalah tentang pembantaian, termasuk kesaksian korban:

“29 Oktober 1956: penjaga perbatasan Israel dimulai pukul 4 sore apa yang mereka sebut tur ke Desa Segitiga. Mereka mengatakan kepada Mukhtars (aldermen) dari desa-desa bahwa jam malam dari hari itu seterusnya mulai dari pukul 5 sore, bukan 6 sore. Mereka mencapai Kafr Qasem sekitar 04:45 dan memberitahu Mukhtar protes bahwa ada sekitar 400 warga desa bekerja di luar desa dan tidak ada cukup waktu untuk menginformasikan mereka zaman baru. Seorang petugas meyakinkannya bahwa mereka akan diurus. Kemudian para penjaga menunggu di pintu masuk ke desa. 43 Kafr Qasem penduduk dibantai dengan darah dingin oleh tentara ketika mereka kembali dari bekerja, kejahatan mereka melanggar jam malam mereka tidak tahu tentang. Di pintu masuk utara desa 3 tewas dan 2 tewas dalam desa. Di antara yang tewas adalah pria, wanita, dan anak-anak. Lutanat Danhan adalah kawasan wisata di jipnya melaporkan pembantaian itu, pada nirkabel, ia berkata “minus 15 Arab” setelah beberapa saat pesannya di radio untuk nya HQ adalah http://www “sulit untuk menghitung”. “. kufur-kassem.com/cms/content/view/148/154/1/5 /

Kfar Kassem Pembantaian “Dengan cara ini adalah 49 penduduk Kafr Kassem dibantai”

1_6 Berikut ini adalah rekening rinci tentang pembantaian mengerikan Kfar Kassem seperti yang dikisahkan oleh saksi mata. Harian Israel, Kol Haam diterbitkan pada Rabu, 19 Desember 1956 di halaman depannya kisah rinci berikut pembantaian Kfar Kassem, yang dilakukan oleh tentara Israel pada tanggal 29 Oktober 1956, terhadap orang-orang Arab di Palestina yang diduduki. Empat puluh sembilan pria, wanita dan anak-anak dibantai dengan darah dingin. Kol Haam menerbitkan kisah pembantaian di bawah judul, “Di Jalan ini Apakah 49 Penduduk Kfar Kassem Dipotong.” Berikut ini adalah terjemahan literal:

Berikut adalah rincian pembantaian di mana 49 penduduk damai Kfar-Kassem semua orang Arab tinggal di Israel-dibantai dengan darah dingin. Tiga belas dari penduduk juga mengalami luka serius dalam pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh pasukan penjaga perbatasan Israel.

Pada tanggal 29 Oktober 1956, hari di mana Israel melancarkan serangan terhadap Mesir, unit penjaga perbatasan Israel dimulai pukul 4 sore apa yang mereka sebut tur ke Desa Segitiga. Mereka memberitahu Mukhtars (kepala desa) dan dewan pedesaan bahwa jam malam di desa-desa adalah mulai hari itu untuk dicermati dari 17:00 bukan 18:00 seperti yang terjadi sebelumnya, dan bahwa penghuninya, oleh karena itu, meminta untuk tinggal di rumah sebagai dari yang sangat instan.

Salah satu desa perbatasan melewati penjaga itu Kfar Kassem. Ini adalah sebuah desa Arab kecil yang terletak dekat permukiman Israel Betah Tefka. Penduduk desa di sana menerima peringatan di 16:45, hanya 15 menit sebelum waktu jam malam baru. The “Mukhtar” dari Kfar Kassem segera diberitahu petugas unit yang sejumlah besar warga desa, yang bekerja membawa mereka di luar desa, tahu apa-apa tentang jam malam ini. Petugas yang bertanggung jawab menjawab bahwa prajuritnya akan mengurus ini. Para penduduk desa yang memenuhi rumah dengan jam malam baru dikenakan dan tetap di dalam ruangan. Sementara itu, para penjaga perbatasan bersenjata diposting diri mereka di gerbang desa. Sebelum panjang, batch pertama dari warga desa mulai terlihat. Yang pertama datang adalah sekelompok empat buruh, rumah-terikat, untuk sepeda. Berikut adalah apa yang salah satu buruh, Abdullah Samir Bedir dengan nama, kata tentang kejadian ini:

“Kami mencapai pintu masuk desa sekitar pukul 04:55 Kami tiba-tiba dihadapkan oleh unit perbatasan yang terdiri dari 12 laki-laki dan seorang perwira, semua truk yang menduduki tentara. Kami disambut petugas dalam bahasa Ibrani berkata ‘Shalom Katsin’ yang berarti ‘Damai sejahtera bagi kamu petugas, “untuk yang dia berikan jawaban. Dia kemudian meminta kami dalam bahasa Arab: ‘Apakah Anda bahagia? ” dan kami berkata, “Ya.” Para prajurit kemudian mulai mundur dari truk dan petugas memerintahkan kami untuk berbaris. Lalu ia berteriak kepada prajuritnya urutan ini: ‘Laktasour Otem,’ yang berarti ‘Reap mereka! ” Para tentara melepaskan tembakan, tapi saat itu aku harus melemparkan diri di tanah, dan mulai bergulir, berteriak saat aku berguling. Lalu aku pura-pura mati. Sementara itu, para prajurit telah begitu penuh mayat tiga orang teman saya dengan peluru bahwa petugas yang bertanggung jawab memerintahkan mereka untuk berhenti menembak, menambahkan bahwa hanyalah peluru yang terbuang. Seperti yang ia katakan, kami memiliki lebih dari dosis yang diperlukan dari peluru mematikan.

“Semua ini terjadi ketika aku berbaring diam, pura-pura mati. Lalu aku melihat tiga buruh mendekat pada kereta kuda kecil. Para prajurit berhenti gerobak dan membunuh mereka bertiga. Segera setelah itu, tentara bergerak beberapa meter di jalan itu, terutama untuk mengambil posisi yang memungkinkan mereka untuk berhenti baru truk penuh warga rumah-terikat, serta sekelompok pekerja pulang ke rumah pada sepeda mereka. Saya mengambil kesempatan ini dan bergerak secepat aku bisa ke rumah terdekat. Para prajurit melihat saya dan melepaskan tembakan, tapi aku sudah dalam keselamatan.

“Salah satu truk yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian kembali dihentikan sambil membawa pemetik zaitun tiga belas, semua perempuan dan anak perempuan, dan dua buruh laki-laki dan sopir. Mereka diserang oleh kelompok yang sama penjaga perbatasan, yang pitilessly dibantai semua kecuali satu dari mereka. “

Inilah yang 16 tahun Hanna Soliman Amer, selamat saja, berkata tentang kejadian ini: “Para prajurit membawa mobil kami berhenti di pintu masuk desa dan memerintahkan dua pekerja dan sopir untuk turun. Kemudian mereka mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan dibunuh. Ketika mendengar bahwa perempuan mulai menangis dan berteriak, memohon pada tentara untuk cadangan kehidupan para buruh miskin. Tetapi tentara berteriak pada perempuan, mengatakan bahwa giliran mereka akan datang dan bahwa mereka juga, yang akan dibunuh.

“Para prajurit menatap perempuan selama beberapa saat, seolah-olah menunggu petugas mereka untuk memberikan perintah. Lalu aku mendengar pembicaraan petugas di set nirkabel, rupanya meminta kantor pusat untuk petunjuk tentang perempuan. Begitu percakapan nirkabel selesai, para prajurit membidik pada perempuan dan anak perempuan, yang 13 jumlahnya, dan yang termasuk yang hamil (Fatma Dawoud Sarsour berada di kehamilan bulan kedelapan nya) serta wanita tua dari enam puluh dan dua tiga belas tahun perempuan (Latifa Eissa dan Rashika Bedair). “

Jumlah mobil dihentikan oleh tentara Israel dari penjaga perbatasan adalah tiga, orang-orang di ketiga mobil diperintahkan untuk turun dan ditembak oleh senapan mesin, membunuh mereka langsung.

Sebuah mobil keempat, yang agak terlambat datang, bertemu dengan keberuntungan yang lebih baik, untuk pengemudi, melihat mayat-mayat berserakan, tidak mengindahkan perintah untuk berhenti. Dia menekan pedal gas dan dengan demikian berhasil melarikan diri dengan mobilnya. Para prajurit, bagaimanapun, berhasil menembak salah satu penumpang sebagai perawatan melaju dengan.

Dengan pembantaian praktis di atas, para prajurit bergerak sekitar finishing off siapa pun masih memiliki pemukulan pulsa dalam dirinya. Kemudian, pemeriksaan badan ini menunjukkan bahwa para prajurit dimutilasi mereka, menghancurkan kepala dan memotong membuka perut dari beberapa wanita terluka untuk menyelesaikan mereka. Satunya yang selamat adalah mereka yang selama beberapa waktu terkubur di bawah mayat rekan-rekan mereka dan dengan demikian memiliki tubuh mereka ditutupi dengan darah korban-korban ini, memberikan kesan bahwa mereka juga, sudah mati. Mereka adalah satu-satunya yang tinggal untuk berbicara tentang kengerian pembantaian Kfar Kassem.

Pembantaian berlangsung selama satu setengah jam dan para tentara menjarah apapun yang bisa mereka temukan, ternyata sementara berkeliling tubuh melakukan pekerjaan mereka finishing-off. Namun, tiga belas dari orang-orang malang hanya pingsan ketika mereka ditembak. Ini dibawa ke Bilinson serta rumah sakit lain.

Salah satu dari mereka terluka adalah Osman Selim, yang telah melakukan perjalanan salah satu truk. Dia menyaksikan pembantaian itu, dan melarikan diri dengan berpura-pura mati di antara tumpukan mayat. Assad Selim, pengendara sepeda, terluka parah. Begitu juga Abdel Rahman Yacoub Sarsoura, seorang pemuda berusia 16, yang tuli dan bisu. Satu-satunya yang berhasil lolos dari kematian dan mencapai Kroum El-Zeitoum adalah Ismail Akab Badeera, berusia 18, yang merawat luka-lukanya sampai ia tiba di sana, lalu memanjat pohon zaitun meskipun penderitaannya. Dia tetap di sana selama dua hari penuh sampai seorang gembala yang lewat datang dan membawanya ke rumah sakit dimana salah satu kakinya harus diamputasi untuk gangren.

Mandi darah tidak terbatas pada pintu masuk atau pinggiran, tetapi dibawa langsung ke desa itu sendiri. Talal Eissa Shaker, berusia 8, meninggalkan rumahnya untuk membawa dalam kawanan kambing. Dia telah hampir melangkah keluar dari rumahnya ketika ia dibunuh oleh tembakan ditembakkan oleh salah seorang tentara. Ketika ayahnya berlari keluar untuk menyelidiki, ia dibunuh oleh tembakan lain. Si ibu, menyeret dalam tubuhnya, kemudian ditembak. Noura, anak yang tersisa, mengikuti teriakan penderitaan berasal dari orangtuanya, dan tewas di tempat oleh hujan peluru. Yang selamat hanya dari keluarga, seorang kakek lemah dan usia, mendengar kengerian dan suara kematian, menyerah pada serangan jantung dan meninggal.

Keesokan harinya, 31 Oktober 1956, jam malam itu diberlakukan di desa Kfar Kassem, dan selama waktu itu, polisi Israel dibawa beberapa bentuk desa (tetangga) Galgoulia dan memerintahkan mereka untuk mengubur mayat, yang termasuk ayah , ibu, putra dan putri. Diantaranya adalah Safa Sarour Abdalla, seorang wanita berusia 45, yang tewas dengan kedua anaknya laki, Jihad, 16, dan Abdalla, 14. Osman Abdalla Eissa dibunuh dengan Fathi 12 berusia anaknya, dan Zeinab Abdel Rahman Taha dan putrinya Bikria, berusia 17. http://www.kufur-kassem.com/cms/content/view/148/154/1/3/

Qassem Kufur: 40 Tahun Kemudian Dan Luka Masih segar, Korban Dari Pembantaian Mengerikan

Itu adalah 90 menit berkendara dari Yerusalem ke kota kafir Qassem dalam segitiga Palestina di Israel yang tepat. Saya telah mengatur beberapa wawancara dengan korban yang selamat dari pembantaian tentara Israel melakukan empat dekade yang lalu. Jalan yang menuju ke kota itu penuh dengan pohon zaitun di kedua sisinya. Hanya sedikit orang yang mengumpulkan buah zaitun mereka. panen itu mendekati akhir. Dan begitulah hari-hari empat puluh tahun yang lalu. Pada tanggal 29 Oktober 1956, hanya beberapa jam setelah serangan tripartit Israel, Perancis dan Inggris dimulai pada Mesir dalam apa yang dikenal sebagai Kampanye Sinai, 49 desa dari kufur Qassem dibantai dengan darah dingin saat mereka berjalan kembali dari ladang mereka untuk mereka rumah.

Di pusat kota berdiri sebuah monumen memperingati mereka yang tewas. Daftar nama dipahat pada batu persegi besar memberikan semua 49 nama dan ruang kosong yang tersisa tanpa nama apapun. Saya kemudian diberitahu itu berangkat korban ke-50 yang namanya tidak ada yang tahu. Salah satu perempuan yang terbunuh itu hamil di bulan kedelapan dan bayi meninggal dalam rahimnya. Tak seorang pun bisa datang dengan nama yang cocok untuk bahwa korban yang belum lahir. Aku pergi daftar dan cocok dengan nama-nama orang-orang yang dijadwalkan untuk wawancara di kemudian hari. Banyak nama terdengar akrab. Banyak dari mereka adalah keluarga dari beberapa yang saya akan lihat. Pandangan orang-orang memetik buah zaitun mereka yang saya lihat dalam perjalanan saya ke kota terlintas dalam pikiran saya untuk intercut kemudian dengan gambar dari mereka yang kembali ke rumah mereka pada hari pembantaian. Adegan pindah saya dan saya merasa air mata yang akan menggulung di wajahku. Pada saat itu, hujan mulai turun, ringan pertama dan nantinya sangat berat. Langit. Aku bertanya-tanya, menangis di kufur Qassem!

Israel tidak luang upaya untuk menyembunyikan kejahatan dan untuk menutupi bagi mereka yang melakukannya. Sensor ketat itu menjepit pada cerita berlangsung hanya seminggu. Pada tanggal 6 November 1956, satu surat kabar Israel melaporkan bahwa komisi penyelidikan “ditetapkan untuk menyelidiki insiden di Kufur Qassem mana beberapa warga sipil tewas dan lainnya luka-luka selama jam malam di kufur Qassem.” Sebulan setengah kemudian, rincian tentang pembantaian mulai mengalir di melalui media. Sejumlah anggota Knesset sayap kiri dan Arab memainkan peran penting dan memberikan kontribusi untuk eksposur. Tewfiq Toubi dan Meir Wilner Partai Komunis Israel mengirimkan ratusan surat tentang peristiwa pada hari itu untuk tokoh masyarakat di negara ini. Latif Dori, anggota aktif dari sayap kiri Partai Mapam Zionis menyusup ke desa tiga hari setelah pembantaian dan kesaksian yang dikumpulkan tangan pertama dari korban. Uri Avneri, juga seorang kiri terkemuka yang pertama kali mengunjungi Ketua PLO Yasser Arafat di Beirut selama pengepungan Israel ibukota Libanon pada tahun 1982, memainkan peran yang efektif melalui majalah mingguan, Ha’Oiam Hazeh (Dunia ini.) Namun semua apa yang diumumkan pada hari-hari tidak bisa memberikan account yang tepat dari motif di balik pembantaian. Penduduk desa memberikan penjelasan saja. Mereka bersikeras penyembelihan penduduk desa tak berdosa itu dimaksudkan untuk memaksa mereka keluar dari negara mereka ke Yordania. Kufur Qassem tidak lebih dari sepuluh kilometer jauhnya dari perbatasan tahun 1967 antara Israel dan Yordania.

Hanya pada tahun 1991, bagian dari kebenaran mulai keluar. Rupik Rozenthal, seorang wartawan Israel, menulis dalam “Hadashot” pada tanggal 25 November mengatakan pembantaian itu adalah bagian dari rencana keseluruhan oleh tentara Israel untuk mendeportasi sebagai Palestina sebanyak mungkin luar negeri. Rozenthal diizinkan untuk pergi melalui arsip tentara dan membaca berita acara pengadilan militer dari 11 tentara dan petugas yang terlibat dalam pembantaian tersebut. Ia menemukan bahwa rencana itu untuk mencoba dan memindahkan Palestina dari desa-desa Arab di Segitiga dan mengirim mereka ke Yordania harus melakukan intervensi yang terakhir untuk mendukung Mesir. Jordan tidak memasuki perang 1956. Rencana itu tidak dilakukan secara penuh. Hanya tahap pertama dilakukan. Harga mengerikan adalah 49 desa dari kufur Qassem.

Ketika kejahatan itu terlalu keji untuk menyembunyikan, Israel memutuskan untuk meletakkan mereka yang terlibat ke pengadilan militer, yang menurut penduduk desa tidak lebih dari lelucon. Kolonel Yishishkar Shedmi, yang telah mengubah waktu untuk jam malam dan dilaporkan memberikan tentaranya lampu hijau untuk melanjutkan pembantaian, hanya ditemukan bersalah karena melebihi wewenang ketika ia pindah jam jam malam.

Pengadilan didenda kepadanya satu piaster baik saja. Putusan tersebut, setidaknya sejauh penduduk desa yang bersangkutan, berarti bahwa piaster satu adalah harga Israel siap untuk memberikan untuk 49 korban. Orang lain yang diadili dijatuhi hukuman antara tujuh sampai 17 tahun penjara tetapi semua yang dirilis sebelum akhir tahun ketiga hukuman mereka. Mayor Avraham Melinki, yang memerintahkan pasukan Polisi Perbatasan di desa dan merupakan orang yang memberi perintah untuk menembak, dipromosikan tepat setelah dibebaskan dari penjara. Kemudian Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan David Ben Gurion menempatkannya di bertugas pengaturan keamanan di-keamanan maksimum Israel reaktor nuklir di Dimona. Kolonel Shedmi melanjutkan pengabdiannya di militer. Pada tahun 1967, ia adalah seorang komandan brigade mekanik dan pada tahun 1973 ia menjabat sebagai penasihat komandan distrik utara dan terluka ketika helikopter mereka jatuh di Gunung Hermon di Dataran Tinggi Golan.

Kesaksian korban:
Freij 1-Jamal berusia 17 tahun hari pembantaian berlangsung. Dia adalah di antara sejumlah petani yang bekerja ladang mereka. Di antara kelompok mereka, ada sekitar 25 anak perempuan dan perempuan. “Dua anak-anak dari desa datang untuk memberitahu kita bahwa jam jam malam telah dipindahkan sebelumnya ke lima sore. Aku mengatakan kepada perempuan untuk kembali ke rumah mereka. Aku pergi, bersama dengan sejumlah laki-laki, ke gudang untuk mengubah pakaian kami. Dalam perjalanan kembali, dan pada jarak dua kilometer, kami mendengar menembak berat datang dari arah desa. Kami mulai mundur, namun seorang sopir truk yang datang bergegas ke arah desa memberitahu kami tidak perlu untuk melarikan diri hanya karena, pikirnya dan kami percaya, penembakan itu tidak begitu serius atau sembarangan. Di pintu masuk ke desa, tiga tentara menghentikan kami. petugas mereka memerintahkan kami untuk keluar dari truk, yang mengantar kami ke desa. Begitu kita katakan kepadanya bahwa kami semua berasal dari kufur Qassem ia memerintahkan tentara untuk menembak. Mereka menembak pada kita. Banyak jatuh di tanah, mati atau terluka. Aku berada di antara sejumlah orang yang lari tapi aku jatuh semenit kemudian dan menyembunyikan diri di belakang kemudi truk itu sampai tentara menemukan saya larut malam dan membawa saya kembali ke desa. ”
2-Talal Issa Shaker adalah delapan tahun saja. Penduduk desa masih ingat tragedi yang melibatkan kematiannya. Dia pergi keluar untuk mengembalikan kawanan domba dari ladang tetangga. Seorang warga saya bertemu dengan menegaskan bahwa para prajurit “melihat Talal dan menembaknya mati. Ketika ayahnya pergi keluar untuk memeriksa apa yang terjadi, mereka tentara ditembak dan terluka serius dia. Sang ibu kemudian pergi keluar dan ditembak dan begitu juga anak, Noura. ”
3-Mustafa Khamis Amer sekarang 58 tahun. Ia menjelaskan bagaimana ia secara ajaib lolos dari kematian: “Para prajurit di pintu masuk selatan ke desa menghentikan kami dan memeriksa kartu identitas kita. Segera setelah itu, petugas mereka memerintahkan mereka untuk menembak. Saya mulai melarikan diri dan berhasil menghilang dari mereka sementara banyak orang lain ditembak mati atau terluka. “Pada hari itu, Mustafa menambahkan, penduduk desa dari Jaijoulya terdekat dibawa oleh tentara untuk menggali lubang besar, yang pada saat itu mereka tidak pernah tahu itu dimaksudkan untuk menjadi kuburan kolektif untuk para korban. Semua mayat dimasukkan ke dalam tas nilon dan sisihkan siap untuk dimakamkan, katanya.
4-Saleh Khalil Issa berusia 19 tahun. kesaksian-Nya, diberikan secara rinci untuk Latif Dori tiga hari setelah pembantaian, memberikan rekening berikut: “Kami sedang menuju kembali ke desa di sepeda kami. Kami tiba di sekitar 04:50 sore. Tiga tentara di pintu masuk barat ke desa memerintahkan kami untuk berhenti. Setiap dari kita meletakkan tangan di sakunya untuk mengeluarkan kartu identitas, tapi petugas tidak menunggu. Dia memberi perintah untuk melepaskan tembakan. Mereka menembak dan segera membunuh sepupu saya Abed Salim Issa dan melukai saudaranya Asaad dan saya sendiri. Kami jatuh di tanah dan kemudian kami melihat lagi sekelompok orang mengendarai sepeda mereka mendekat. Mereka adalah sekelompok orang sebelas, yang namanya saya kenal. Aku mendengar petugas memberi perintah menggunakan PANEN MEREKA panjang dan mereka melepaskan tembakan. Kami jatuh di tanah. Saya melihat sebuah mobil mendekat didorong oleh Ata Yaacob yang memiliki beberapa penumpang dengan dia. Mereka semua diperintahkan untuk melangkah keluar dari mobil dan untuk berdiri di antrian. Petugas itu lagi menggunakan istilah yang sama dan api dibuka pada mereka. Para prajurit kemudian menarik semua badan ke lapangan terdekat. Pada saat tertentu, kami menemukan para prajurit sedang melihat ke arah yang berlawanan dan kami mulai untuk melarikan diri. Kami berlari untuk beberapa 50 meter dan api ditembak di kita lagi. Aku mengambil tanah dan tinggal di sana sampai pagi berikutnya. Sepanjang malam, aku mendengar tentara memberikan instruksi untuk menggerakkan tubuh. Di pagi hari, para prajurit melihat saya dan membawa saya ke rumah sakit.
5-Abdul Rahim juga 17 tahun pada hari itu Sarsourwas. Dia ingat bagaimana dia terluka dalam perjalanan kembali ke desa ketika tentara melepaskan tembakan ke arahnya dan pada kelompok yang kembali dengan dia. Dia berpura-pura dia mati untuk melarikan diri ditembak di lagi oleh tentara. Dia mengatakan dia masih merasa bersalah atas kematian saudaranya, yang ibunya dikirim untuk menginformasikan Abdul Rahim dan yang lainnya bahwa jam jam malam itu berubah. “Apakah dia tinggal di rumah, ia akan hidup hari ini,” kata Abdul Rahim yang memberikan rekening berikut: “Kami tiba di desa. Tentara Manning sebuah penghalang di pintu masuk. Mereka memerintahkan kami keluar dari mobil. Seorang petugas kemudian memberikan perintahnya untuk HARVEST AS dan api dibuka tanpa pandang bulu ke arah kami. Aku jatuh di tanah dan begitu banyak orang lain, beberapa tewas seketika dan lainnya luka-luka. Adikku jatuh di sampingku. Dia bergumam bertanya apakah aku dipukul. Aku memberinya pukulan dengan siku saya untuk tetap diam tapi sudah terlambat. Seorang prajurit mendekat dan menembakkan empat peluru pada saya, memukul kedua kaki kanan dan lengan. Tentara itu kemudian menunjuk pistolnya ke kepala adik saya dan beberapa putaran menembakkan peluru. Kepala meledak di potongan ketika aku sedang menonton tapi tidak berani mengatakan satu kata. Aku tidak bisa melupakan saat itu sama sekali. Saya masih ingat bagaimana kakak saya, takut oleh tentara, adalah menekan dengan tangannya di dadaku. Ketika tentara api padanya, aku merasakan tekanan yang semakin meningkat atas atau kedua dua sampai tangannya pergi longgar. Jum’ah Sarsour, lain terluka. berbaring di sampingku. Dia mengerang kesakitan. Saya mencoba memintanya untuk tetap diam tapi terlambat juga. Salah satu tentara mendekat kepadanya dan menembaknya mati. Sepertiga utama terluka parah berteriak pada prajurit. Seorang tentara mendekatinya dan berteriak KENAPA ANDA BERTERIAK, ANDA SON-OF-A-BITCH dan menembaknya mati. Sebuah mobil didekati dengan sejumlah perempuan kapal bernyanyi. Salah satu gadis melihat mayat dan berteriak pada sisa untuk berhenti bernyanyi. Sopir melesat pergi dari tempat kejadian, tetapi sekitar 150 meter jauhnya kita mendengar banyak menembak “Abdu.! Rahim mengatakan ia kehilangan hati nurani kadang di malam hari dan terbangun untuk menemukan seorang prajurit menariknya dari kaki. Dia mengatakan tentara untuk menghentikan menyeret dia bersama dengan mayat. “Tentara itu mengambil senjatanya dan hendak menembak saya ketika ambulans tiba dan driver-nya ditanya apakah punya tentara terluka. Itu menit beruntung saya. Sopir menempatkan saya dalam ambulans dan melaju ke rumah sakit “

mas “Salah satu pembantaian yang paling mengerikan yang dilakukan di darah dingin terhadap penduduk sipil tak berdosa dan tidak berdaya berlangsung di Kafr Qasem menjelang serangan terhadap Mesir. Hal itu dimaksudkan untuk menyebabkan penerbangan panik dan memicu melintasi perbatasan dalam meniru apa yang terjadi pada tahun 1948 ketika pembantaian Deir Yassin itu dilakukan sementara Rencana Dalet sedang berlangsung. Para korban yang tidak bersalah, termasuk perempuan dan anak-anak, petani kembali dari lapangan tidak sadar bahwa jam malam telah diberlakukan di desa mereka dan masyarakat Arab tetangga. jam malam ini dideklarasikan pada pukul 4:30 PM untuk mengambil berlaku pada 5:00 Explicit perintah diberikan kepada para prajurit “untuk menembak untuk membunuh semua yang melanggar jam malam … tidak akan ada penangkapan”. Hadashot menetapkan bahwa pembantaian itu dilakukan dengan latar belakang dari rencana yang dibuat oleh tentara Israel pada malam perang 1956 – Hafarferet. Hal itu dimaksudkan untuk membuat panik dan menyebabkan penduduk daerah itu untuk melarikan diri melintasi perbatasan. Sebuah batalyon penjaga perbatasan dari IDF dilakukan pembantaian. Mayor Shmuel Malinki dan Letnan Gabriel Dahan ditemukan bersalah atas pembunuhan dan dijatuhi hukuman 17 dan 15 tahun masing-masing. Hukuman tidak cocok kejahatan. Namun demikian, terpidana itu diampuni dan dibebaskan dari penjara dalam waktu 3 tahun sejak pembantaian. Badan Yahudi memberi Dahan pekerjaan sebagai manajer penjualan obligasi pemerintah Israel di ibukota Eropa. Malinki, yang dicopot dari jabatannya oleh pengadilan, diangkat kembali oleh Ben-Gurion. janda Malinki’s, Nehama, mengungkapkan bertahun-tahun kemudian bahwa sementara sidang sedang berlangsung suaminya dibebaskan dari penjara untuk bertemu Ben-Gurion yang mengatakan bahwa dia adalah seorang “korban hidup negara”, dan meminta dia untuk tidak mengungkapkan perintah dia diberi oleh atasannya jangan ini mengimplikasikan kabinet dan staf umum, dan bahwa ia dijanjikan rilis awal dan pemulihan. PM ditawarkan Malinki sebuah posting yang sangat penting: petugas keamanan pabrik, baru top nuklir rahasia di Dimona, di Tanah Negeb. Malinki berbicara tentang sebuah pesan yang dia terima dari Ben-Gurion, di mana dia telah diminta untuk mempertahankan keheningan sebagai imbalan karena diberikan ampunan. Terlepas dari perlakuan khusus ia telah menerima, Malinki tetap sampai kematiannya pada tahun 1978 sangat pahit pada fakta yang telah diajukan ke pengadilan di tempat pertama dan telah membuat kambing hitam untuk rencana negara Arab terhadap Israel. Serangan terhadap Mesir juga dimanfaatkan untuk melakukan pengusiran massa lain Arab Israel di seberang perbatasan utara ke Suriah. Episode ini, yang melibatkan pengusiran 2.000 – 5.000 penduduk dari dua desa krad al-Ghannamah dan krad al-Baqqarah, di sebelah selatan Danau Hulah, diungkapkan oleh Yitzhak Rabin dalam bukunya “Service Notebook”. Rabin adalah Perwira Komandan Komando Utara pada saat itu “http://cosmos.ucc.ie/cs1064/jabowen/IPSC/php/event.php?eid=149.

“Ini pembantaian paling terkenal adalah yang dilakukan oleh militer Israel dalam pelaksanaan rencana pengusiran paling dramatis dari ‘Israel Arab’, rahasia ‘Operasi Hafarferet’. Inti dari rencana ini rahasia, mengungkapkan untuk pertama kalinya pada tanggal 25 Oktober 1991 oleh surat kabar Hadashot Ibrani, adalah untuk mengusir penduduk Arab dari ‘Little Segitiga’ (lebih dari 40.000 warga Arab Israel), tampaknya ke Yordania. Hadashot menetapkan bahwa pembantaian itu dilakukan dengan latar belakang rencana militer yang disusun oleh tentara Israel pada malam perang 1956.

Pada tanggal 29 Oktober 1956 hari tentara Israel melancarkan serangan terhadap Mesir di selatan, Polisi Perbatasan Israel melakukan pembantaian besar di desa Arab Israel Kafr Qassim, di Segitiga Little berbatasan dengan Tepi Barat. Pura-pura, penyebab pembantaian ini luas didokumentasikan adalah melanggar jam malam oleh para korban, yang tidak menyadari bahwa jam malam telah diberlakukan di desa tetangga mereka dan masyarakat Arab.

Batalion [brigade] komandan yang bertanggung jawab untuk memaksakan jam malam [Shadmi] mengatakan kepada komandan unit [Malinki] bahwa jam malam harus sangat ketat. Ketika Malinki bertanya apa yang akan terjadi dengan pria yang kembali dari bekerja di luar desa, tanpa mengetahui tentang jam malam, yang mungkin memenuhi Perbatasan unit Polisi di pintu masuk ke desa, Shadmi menjawab: “Saya tidak ingin ada sentimentalitas “dan” Itu terlalu buruk baginya “Hanya. 30 menit memisahkan pengumuman jam malam dari penegakan kasar, dan warga desa sengaja telah diberikan ada alasan untuk perlakuan yang mereka terima. Dalam waktu satu jam dari jam malam, antara 5 dan 6 sore, 47 penduduk desa pulang dari kerja tewas. 43 tewas di pintu masuk barat Kafr Qassim termasuk tujuh anak laki-laki dan perempuan dan sembilan perempuan antara usia 18 dan 61 “

after2 “Awalnya, seluruh urusan dijaga ketat tersembunyi dari mata publik oleh sensor tajam. Namun, seorang wartawan Israel masih muda, fasih dalam bahasa Arab, Latif Dori, seorang koresponden dari organ Serikat Buruh Partai Mapam, yang pada waktu itu merupakan mitra koalisi di Ketenagakerjaan dipimpin Ben-Gurion Pemerintah, mendapat angin dari mengerikan perselingkuhan. Ia berhasil untuk memasukkan kufur-Qassem ilegal meskipun jam malam beberapa hari setelah acara. Pada konferensi pers, yang digelar pekan lalu di Tel-Aviv oleh Komite Solidaritas Arab-Yahudi dengan kufur-Qassem menuju ulang tahun ke-40, Dori menekankan bahwa laporan, dia pada waktu mendengar di desa, membuat berdiri rambutnya di akhir. Dia mencoba mengerahkan tokoh-tokoh dari partainya, di antaranya menteri kabinet dan anggota Knesset, namun menolak setiap upaya untuk mematahkan plot hushing tindak kriminal tersebut.

Dori kemudian berbalik untuk dua anggota Knesset komunis, Taufik Toubi dan Meir Vilner. Bersama dengan Dori mereka mengunjungi korban terluka, disimpan di bawah tahanan polisi dekat di sebuah rumah sakit Yahudi di dekat Petah-Tiqva dan mendengarkan laporan saksi mata mereka. MKS Toubi dan Vilner berbalik kemudian PM dan Menteri Pertahanan Ben-Gurion, serta Presidium Knesset untuk memprotes dan untuk membawa masalah tersebut dalam Knesset dengan maksud untuk mendirikan sebuah komite penyelidikan netral publik, serta menuntut petugas, bertanggung jawab atas pembantaian itu diadili.

Ketika Ben-Gurion dan badan Knesset menolak untuk bertindak, Knesset komunis anggota menerbitkan sebuah pamflet, sehubungan cerita-keriting darah pembantaian bersama-sama dengan semua laporan saksi mata, mereka mendengar di rumah sakit Beilinson. Pamflet itu dikirim ke beberapa ribu kepribadian, politisi, akademisi, wartawan dan pemimpin serikat buruh. Uri Avneri, maka penerbit dan editor dari majalah mingguan “Olam Haze” populer terutama di kalangan generasi muda, hari ini tokoh terkemuka dalam blok-perdamaian Gush Shalom, memecahkan sensor dan diterbitkan keseluruhan cerita. Dengan ini, tabu tentang mandi darah kafir-Qassem diangkat. Pemerintah dipaksa oleh keributan publik tentang peristiwa itu untuk membawa beban sebelum pengadilan militer terhadap para perwira militer dan bintara bertanggung jawab atas kejahatan itu.

Dalam putusan, menghukum pelaku pembantaian kufur-Qassem, Kabupaten Hakim Benjamin Halevy, antara lain memutuskan, bahwa klaim harus bertindak sesuai dengan perintah yang diberikan oleh para perwira atasan mereka, seharusnya tidak dijalankan, tapi ditolak. Ia menunjuk ke Pengadilan Militer Internasional Nuremberg, serta beberapa uji coba melawan pembunuh SS Nazi, yang mencoba untuk alasan kejahatan berdarah mereka dilakukan terhadap orang-orang Yahudi, orang Gipsi, dan lawan-lawan politik dari rezim Nazi dengan “hanya memiliki dieksekusi perintah dengan atasan mereka “. “Klaim seperti grasi tidak dapat diterima oleh pengadilan keadilan di Negara Yahudi Israel” Benyamin Halevy hakim memerintah. Perwira dan orang-orang tentara dan aparat keamanan lainnya tidak hanya hak, tetapi bahkan tugas untuk menolak melaksanakan perintah yang merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kode hukum negara, hakim dinyatakan dalam putusan itu. Putusan ini diadopsi oleh Mahkamah Agung dan masih berlaku dalam kode yuridis Israel. (The tentara cadangan Yha-Gvul, yang menolak untuk melakukan tugas cadangan di daerah pendudukan, secara rutin menyerukan personel dari pasukan tentara dan polisi yang ditempatkan di wilayah Palestina yang diduduki, untuk menolak perintah, merupakan tindakan ilegal menurut putusan ini).

Sebelas dari pembunuh dijatuhi hukuman penjara 5 sampai 17 tahun. Tapi mereka tidak pernah melihat penjara dari dalam. Mereka melakukan waktu mereka di sebuah hotel yang nyaman di Yerusalem. And then, by way of several mitigations, and at the end of being pardoned by the upper military echelon and the then President of Israel, some of them were released soon after, and not one of them spent more than three years in jail. Moreover, the main culprit, Major Malinki, after his having been pardoned and released from jail, was appointed to be the director general of the Dimona Atom reactor, in which, as known today, Israel produces nuclear war devices. The second next in command of the killing squad, Lieutenant Dahan, was later appointed to be the “civil commander” responsible for the Arab minority population of the town Ramle not far from Kufr-Qassem.” http://www.kufur-kassem.com/cms/content/view/148/154/1/4/

All pics from the internet

v1

v2

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Pembantaian Kufur Qasem , 29 Oktober 1956 )

“Mereka digunakan untuk masuk rumah dan membunuh wanita dan anak-anak tanpa pandang bulu”: Pembantaian Deir Yasin, 1948/04/09

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Sejarah |

Sejak kedatangan pertama Zionis ke Palestina, ratusan pembantaian yang telah dilakukan terhadap warga sipil Palestina tak bersenjata dalam nama “Israel”, membuat ini sinonim entitas kepada kematian dan kehancuran. Salah satu pembantaian terburuk Zionis yang dilakukan terhadap Palestina adalah pembantaian Deir Yasin. Defenceless sipil Palestina disiksa sebelum pembantaian dan tubuh mereka dimutilasi. Perempuan dan anak-anak diperkosa, bayi yang dibantai dan wanita hamil bayoneted. Deir Yassin, sebuah desa Palestina yang terletak di pinggiran Yerusalem, memiliki populasi sekitar 750 pada malam menjelang 1948/09/04. Desa itu dikelilingi oleh 6 koloni Zionis, yang paling dekat yang Giv’at Sha’ul, dan para pendatang Zionis telah memblokir jalan akses utama yang menghubungkan Deir Yasin dengan Yerusalem, menempatkan Deir Yasin bawah blokade hampir total. Untuk melindungi desa dari serangan Zionis, penduduk desa Deir Yasin membentuk persenjataan penjaga lokal yang hanya terdiri dari beberapa senapan tua dan sangat sedikit amunisi. Karena desa itu dikelilingi oleh kolonis beberapa Zionis, itu terkepung dan terus terancam oleh mereka dan karena penduduk desa memiliki sedikit sarana untuk melindungi diri mereka sendiri, Deir Yasin menyetujui pakta non-agresi dengan penjajah Zionis hanya satu bulan sebelum pembantaian. Namun demikian, pada 1948/4/9, dan dalam sebuah operasi gabungan kode “Operasi Persatuan” pada 3 kelompok teroris Irgun, Lehi (Stern) dan Haganah (kemudian pasukan teroris Zionis) menyerang desa damai dengan tujuan membunuh sebagai Palestina sebanyak mungkin dan untuk memaksa keluar sisa rumah dan tanah. Pada pukul 4:30 pada Jumat pagi,, 1948/09/04 dan sementara penduduk desa tidur, geng teror Zionis dikelilingi Deir Yasin. Palestina terbangun dengan suara pengeras suara memerintahkan mereka untuk meninggalkan desa, dan warga tidak curiga keluar dari rumah mereka untuk menyelidiki situasi tersebut, dan kemudian bahwa pembantaian dimulai. Irgun menyerang desa dari tenggara, Stern menyerang dari timur sementara Haganah membombardir desa dengan mortir. Penjaga desa Palestina mencoba untuk melindungi warga dan untuk menghentikan geng Zionis, mereka berjuang heroik tetapi dengan sedikit persenjataan mereka memiliki sedikit kesempatan terhadap tiga kelompok teror bersenjata lengkap. Zionis melepaskan tembakan pada siapa pun yang mencoba melarikan diri desa, dan kemudian pindah ke desa dan mulai mereka “membersihkan”: mereka pindah dari satu rumah ke memperkosa wanita lain, menyembelih anak-anak dan membunuh siapa pun dalam dengan senapan mesin dan pisau. Seluruh keluarga berbaris dinding dan dieksekusi. wanita hamil bayoneted dan tubuh anak-anak yang dimutilasi. Uang dan perhiasan yang menyambar dari tubuh korban dan barang-barang pribadi lainnya yang dicuri sebelum rumah terbakar. Dari 144 rumah Deir Yasin, setidaknya 15 diledakkan di atas kepala penduduk mereka oleh kelompok-kelompok teror Zionis. menginterogasi perwira Inggris, Wakil Inspektur Jenderal Richard Catling, menegaskan bahwa:

“Pencatatan laporan terhambat juga oleh negara histeris para wanita yang sering memecah berkali-kali sementara pernyataan sedang direkam. Ada, bagaimanapun, tidak ada keraguan bahwa kekejaman seksual banyak dilakukan oleh orang-orang Yahudi menyerang. Banyak anak sekolah muda diperkosa dan kemudian dibantai. perempuan Lama juga diganggu. Salah satu cerita saat ini tentang suatu kasus di mana seorang gadis muda benar-benar terbelah dua. Banyak bayi juga dibantai dan dibunuh. Saya juga melihat seorang wanita tua … yang telah dipukuli tentang kepala dengan popor senapan. Perempuan telah gelang robek dari tangan mereka dan cincin dari jari-jari mereka dan bagian dari beberapa perempuan telinga diputus dalam rangka untuk menghapus anting-anting “. [1]

Selama pembantaian itu, laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua dibunuh dengan darah dingin dan dengan cara yang mengerikan dan ratusan luka-luka. Jumlah korban masih diperdebatkan. Sebagian besar sumber menyebutkan jumlah martir pada 254, termasuk 25 wanita hamil yang bayoneted dan 52 anak-anak yang cacat di depan ibu mereka sebelum dipenggal dan ibu dibunuh.

“Sebuah account dingin pembantaian diberikan oleh dokter Palang Merah yang tiba di desa pada hari kedua dan melihat dirinya – yang menyapu – sebagai salah satu teroris meletakkannya kepadanya. Dia mengatakan bahwa “pembersihan” telah dilakukan dengan senapan mesin, kemudian granat dan dihabisi dengan pisau. Teman-perut Perempuan dipotong terbuka dan bayi dibantai di tangan ibu tak berdaya mereka. Sekitar 250 orang dibunuh dengan darah dingin. [2] Dari mereka 250 orang, 25 wanita hamil bayoneted di perut mereka saat masih hidup.. 52 anak-anak cacat di bawah mata mereka sendiri ibu, dan mereka dibunuh mereka dan kepala dipotong ibu mereka pada gilirannya dibantai dan tubuh mereka dimutilasi. Sekitar 60 wanita lain dan anak perempuan juga tewas dan tubuh mereka dimutilasi [3] .

PBB dan Palang Merah, yang perwakilan orang pertama yang masuk desa setelah pembantaian, pastikan bahwa jumlah korban dalam kenyataannya dekat estimasi 250. Sumber-sumber lain yang lebih baru nama sekitar 120 martir (lihat daftar Syuhada), menambahkan bahwa jumlah korban yang dibesar-besarkan oleh para teroris Zionis untuk menyebarkan rasa takut di antara warga Palestina di mana-mana. pembersihan etnis adalah salah satu tujuan menyatakan pembantaian, dan kekejaman yang dilakukan di Deir Yasin digunakan untuk memaksa penduduk desa Palestina lainnya untuk melarikan diri untuk hidup mereka karena takut nasib serupa. Setelah pembantaian itu, geng teroris Zionis pergi dari satu desa Palestina ke yang lain, memerintahkan warga Palestina untuk meninggalkan “atau memenuhi nasib Dayr Yassin” [4] . Mereka akan memperingatkan warga dalam pengeras suara: “Jalan Yerikho masih terbuka, terbang dari Yerusalem sebelum Anda mati, seperti di Deir Yassin.” [5] Selama pengusiran penduduk Ramleh dan Lydd pada bulan Juli 1948, Sari Nair dari Ramleh ingat bagaimana mereka diusir dari rumah mereka oleh seorang tentara Zionis yang memberitahu mereka untuk meninggalkan “Jika tidak, anda tahu apa yang akan terjadi. Apa yang terjadi di Deir Yassin akan terjadi pada Anda “. [6]

Selain itu disembelih di rumah mereka, 25 orang Palestina ditangkapi oleh teroris Zionis, dimuat ke truk dan diarak melalui Yerusalem dalam semacam “tur kemenangan” sebelum dijalankan pada tambang terdekat dan dimakamkan di sebuah kuburan massal. Selain itu, saksi mata melaporkan bahwa sekitar 150 wanita dan anak-anak diarak telanjang melalui lingkungan Yahudi Yerusalem telanjang. “Para perampok mengumpulkan perempuan dan anak perempuan yang masih hidup, dan setelah melepas semua pakaian mereka, menempatkan mereka terbuka di mobil, mendorong mereka melalui jalan-jalan bagian Yahudi Yerusalem, di mana mereka tunduk pada ejekan dan penghinaan dari penonton. Banyak mengambil foto-foto wanita-wanita ” [7] 55 anak yang selamat dari pembantaian yang tertinggal di pintu gerbang Mendelbaum. 6 dari anak yatim pergi mengetuk pintu Palestina Jerusalemite Hind Al-Husseini mencari tempat berlindung. Setelah mendengar tentang pembantaian tersebut, Al-Husseini pergi mencari anak-anak lain dan setelah menemukan mereka memutuskan untuk mengurus mereka semua. Keluarganya memberinya rumah-nya kakek Dar Al-Husseini (rumah Husseini) di mana ia lahir dan yang ia namanya menjadi Dar Al-Tifl Al-Arabi (Rumah Anak Arab). Hind Al-Husseini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yatim dari Deir Yasin dan anak-anak Palestina lainnya.

Lokasi kuburan massal korban pembantaian Deir Yasin

Ketika berita pembantaian penyebaran, Palang Merah Internasional Masyarakat meminta izin untuk perusahaan perwakilan Jaques Reynier untuk masuk desa dan menyelidiki hal tersebut. Badan Yahudi – yang mengklaim tidak ada hubungannya dengan pembantaian dan publik “mengutuk” itu – berusaha keras untuk mencegah penyelidikan pembantaian dan menunda pemberian izin 24 jam untuk memberikan teroris Zionis cukup waktu untuk menghapus semua jejak (sesuatu pemerintah Zionis dan perusahaan IOF telah melakukannya sejak kemudian setelah pembantaian setiap: pengutukan diikuti dengan penyelidikan-diri yang membersihkan mereka dari pembantaian sementara mencegah penyelidikan independen) dibantai. Namun bukti pembantaian itu terlihat di mana-mana, itu begitu mengerikan bahwa semua upaya untuk menghapusnya gagal. Zionis bahkan mencoba untuk mengubah tengara desa sehingga perwakilan Palang Merah tidak akan menemukan desa sumur yang mereka terkunci. Tapi Reynier menemukannya dan bersaksi untuk mencari tubuh cacat dan bagian tubuh dari 150 perempuan, anak-anak dan orang tua. mayat lain ditemukan di bawah rakyat jelata dari rumah hancur, dan banyak bertebaran di sepanjang jalan desa. Skor tubuh juga ditemukan dalam kuburan massal di pertambangan. (Di bawah adalah kesaksian yang diberikan oleh Jaques Reynier)

Irgun, Lehi dan Haganah gerombolan teror Zionis menyerang Deir Yasin

Sebagai pembantaian itu berlangsung, baik komandan Inggris dari pasukan darat Mandat dan Badan Yahudi tahu tentang hal ini tetapi tidak melakukan apapun untuk menghentikannya. Tapi setelah berita penyebaran pembantaian dan rincian mengerikan dari apa yang telah terjadi dilakukan publik, baik “mengecam” pembantaian dan menyangkal pengetahuan sebelumnya. Juga Haganah, angkatan bersenjata Badan Yahudi, “mengutuk” pembantaian itu dan menyangkal adanya hubungan atau pengetahuan itu. Para pemimpin Haganah mencoba untuk menyembunyikan peran mereka dalam pembantaian itu dan mengklaim mereka hanya masuk Deir Yasin setelah pembantaian itu selesai dan membantah pernyataan Irgun dan Lehi bahwa mereka adalah bagian dari serangan tersebut. Ini marah dengan klaim dan menerbitkan surat membuktikan bahwa komandan Haganah menyadari sepenuhnya rencana untuk menyerang Deir Yasin dan bahkan menyetujuinya. Pemimpin Irgun, Menachim Begin, “mengakui pada tanggal 28 Desember 1950, dalam wawancara pers di New York, bahwa insiden Deir Yassin telah dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara Irgun dan Badan Yahudi dan Haganah” [ 8] . Bahkan, serangan terhadap Deir Yasin diberi kode “Operasi Persatuan” “untuk menunjukkan kesatuan antara pimpinan Zionis resmi di satu sisi dan dua kelompok teroris di” lain [9] . Menurut “Rencana Dalet”, Deir Yasin itu untuk ditempati bersama-sama dengan desa-desa Palestina lainnya. “Rencana Dalet” adalah rencana induk militer Zionis dan berisi banyak sub-usaha untuk pengusiran sistematis sebagai Palestina sebanyak mungkin dan meraih sebagai tanah Palestina sebanyak mungkin sebelum Mandat Inggris berakhir. Ini memberi komandan militer Zionis dan geng Zionis lampu hijau untuk pembantaian dan mengusir Palestina dan menghancurkan desa dan kota mereka. Rencana ini, usahanya menyebabkan pembersihan etnis dari 213 daerah Palestina (40% dari semua lokasi Palestina) dan menyebabkan 413.794 pengungsi Palestina (54% dari pengungsi Nakba) membuat rencana utama di balik pembersihan etnis di Palestina. Ini dimulai pada 1948/4/1 dan berakhir pada 1948/5/15 dan terdiri dari 8 operasi militer besar terhadap masyarakat Palestina, yang pertama “Operasi Nachshon”. Operasi ini “diluncurkan untuk mengukir dan memegang koridor dari Tel Aviv di pantai ke Yerusalem di pedalaman. Ini melibatkan pendudukan dan penghancuran desa-desa Arab di koridor ini. Pembantaian Deir Yassin pada tanggal 10 April merupakan bagian dari operasi ini. Pada 12 April, kaum Zionis telah mengusir sekitar 15.000 desa Arab dari koridor ini ” [10] . Pembantaian Deir Yasin adalah yang pertama dari setidaknya 17 pembantaian dilakukan dalam rangka “Rencana Dalet”. Hanya dua hari setelah Deir Yassin, pada 1948/4/12, unit teror Zionis membunuh 12 warga Khirbet Nasir Al-Din (Tiberias area). Keesokan harinya, Irgun dan Lehi gerombolan teror Zionis memasuki desa dan membunuh 50 dari 90 perusahaan warga, sisanya 40 berhasil melarikan diri sebelum seluruh desa hancur. “Rencana Dalet” dilakukan oleh para teroris Zionis ketika Palestina masih di bawah Mandat Britania, yang berarti di bawah perlindungan Inggris, tetapi tentara Inggris dan pemerintah tidak melakukan apapun untuk menghentikan serangan teror Zionis dan pembantaian terhadap warga Palestina. Sebaliknya mereka mendukung teroris Zionis dengan menyediakan senjata dan pelatihan militer. Pada saat yang sama, mereka menyangkal Palestina kepemilikan senjata meninggalkan berdaya paling Palestina.

Selama pembantaian itu, Deir Yasin adalah pembersihan etnis, terhapus dari peta Zionis dan kemudian kembali diisi dengan penjajah Zionis. Sedangkan penduduk asli yang dibuat pengungsi yang sampai hari ini tersebar di seluruh dunia, penjajah Zionis dari Polandia, Rumania dan Slovakia telah menetap di rumah-rumah rakyat Palestina. Ironisnya adalah bahwa beberapa dari rumah-rumah tua Deir Yasin menjadi bagian dari sebuah rumah sakit jiwa Zionis dan rumah-rumah yang merupakan tempat pembantaian penduduk mereka kemudian ditampung sejumlah korban Holocaust menderita trauma mental. Milisi teror Zionis yang melakukan pembantaian adalah Haganah, Irgun dan Lehi. Geng teroris ini mendapatkan sebagian besar pembiayaan mereka dari AS, seperti hari ini, dan dalam satu kasus, Lehi (Stern) geng teror dihubungi Albert Einstein dan meminta bantuan dalam mengumpulkan uang di AS. Einstein’s jawaban datang satu hari setelah pembantaian Deir Yasin: ia menolak untuk membantu “memanggil teroris Stern Gang dan penjahat menyesatkan” [11] . Haganah, sebagai unit bersenjata Badan Yahudi, dipimpin oleh pemimpin politik dari Badan David Ben-Gurion Yahudi yang menjadi perdana menteri pertama dari entitas Zionis. Irgun dipimpin oleh Menachim Mulailah yang menjadi perdana menteri ke-6 dari entitas Zionis. Lehi dipimpin oleh Yitzah Shamir yang menjadi perdana menteri ke-7 dari entitas Zionis. Menurut Menachim Begin: “pembantaian ini tidak hanya dibenarkan, tetapi di sana tidak akan menjadi negara Israel tanpa kemenangan di Deir Yassin.” [12] dan setelah pembantaian itu, ia mengirim para penyerang Deir Yasin: “Terima selamat tindakan ini indah penaklukan. Katakan kepada prajurit Anda telah membuat sejarah di Israel. “Tidak ada yang pernah dihukum karena ini dan lain pembantaian. Ini entitas yang telah dipimpin oleh satu penjahat perang setelah lainnya sejak penciptaan, dan masih dipimpin oleh penjahat perang, terus terang-terangan mengklaim mencari perdamaian dan “hanya membela diri” ketika membunuh warga sipil tak bersenjata baik di Palestina, Lebanon atau tempat lain . Deir Yasin bukan insiden terisolasi. Ratusan pembantaian diikuti dan pembantaian Jenin dan Genosida Gaza baru-baru ini hanya dua contoh dari sifat Zionis-haus darah.

Memilih Deir Yasin sebagai target untuk pembantaian mengerikan ini hanya menunjukkan sifat dari entitas Zionis: Deir Yasin dikenal sebagai desa yang damai dan telah mencegah pejuang Palestina dari menggunakan tanahnya untuk melawan teroris Zionis, selain fakta bahwa itu menandatangani perjanjian non-agresi dengan Zionis. Satu hari sebelum pembantaian, pemimpin Palestina Abdel-Qader Al-Husseini telah terbunuh ketika melawan Zionis di dekat-oleh Al-Qastal. Dia telah menunggu dengan sia-sia dukungan dari pasukan Arab yang telah mengkhianati dirinya dan mengkhianati Palestina karena mereka masih lakukan. Deir Yasin menolak untuk membantu Al-Husseini dan pejuang Palestina. Desa, dikelilingi oleh koloni beberapa Zionis mungkin melihat dalam penandatanganan pakta non-agresi satu-satunya cara untuk melindungi penduduknya dari teror Zionis. Namun demikian, Zionis memilih Deir Yasin sebagai situs untuk pembantaian yang akan digunakan sebagai contoh untuk semua desa dan kota-kota Palestina lainnya. Zionis memilih orang-orang yang menandatangani “non-agresi” perjanjian dan sebagai “terima kasih” membantai mereka, memperkosa ibu dan istri, anak-anak diarak telanjang mereka sebelum mengeksekusi mereka. Ini harus selalu menjadi pengingat dan peringatan bagi setiap Palestina tentang sifat Zionis, dan peringatan bagi semua orang yang ingin bernegosiasi dengan Zionis atau tanda perjanjian dengan mereka mengklaim “Zionis menginginkan perdamaian”. Tidak ada perdamaian dengan entitas ini dan tidak akan pernah ada perdamaian selama ada Zionisme. Tidak ada perdamaian dengan entitas yang memiliki pembersihan etnis sebagai kebijakan resmi. “Yosef Weitz, administrator Yahudi bertanggung jawab untuk kolonisasi Yahudi dan anggota pertama Badan Yahudi Komite Peralihan dinyatakan sebagai awal tahun 1940 bahwa:” Antara diri kita itu harus jelas bahwa tidak ada ruang untuk dua bangsa bersama-sama di negeri ini. Kami tidak akan mencapai tujuan kita menjadi seorang orang independen dengan orang-orang Arab di negeri kecil ini. Satu-satunya solusi adalah Palestina, setidaknya Barat Palestina (barat sungai Yordan) tanpa Arab Dan tidak ada cara lain selain transfer Arab dari sini ke negara-negara tetangga, untuk memindahkan mereka semua, bukan satu desa, tidak satu suku, harus dibiarkan. Hanya setelah transfer ini akan negara mampu menyerap jutaan saudara-saudara kita sendiri. Tidak ada cara lain keluar. ” [13] Tidak pernah bisa berdamai dengan entitas yang tumbuh subur pada agresi terus-menerus, penindasan, pembantaian banyak, pencurian Palestina dan yahudisasi Palestina.

Pembantaian Deir Yasin adalah salah satu pembantaian yang paling barbar dan mengerikan yang dilakukan oleh ZioNazis dan tetap salah satu dari banyak saksi kebiadaban Zionis dan perilaku ZioNazi. Tapi yang paling penting; Deir Yasin selalu harus tetap menjadi peringatan dan pengingat untuk setiap Palestina, untuk setiap orang Arab sebagai desa yang menandatangani “perjanjian damai” dengan Zionis dan berakhir dengan pembersihan etnis, terhapus dari peta dan warga yang baik kejam membantai atau dibuat pengungsi.

Kesaksian dari saksi Palestina [14] :
Um Mahmud (lahir 1932): “Kami berada di dalam rumah. Kami mendengar suara tembakan di luar. Ibuku membangunkan kami. Kami tahu orang Yahudi telah menyerang kami. sepupu saya dan adiknya berlari dan berkata orang-orang Yahudi sudah di kebun kami. Sementara itu, pertempuran menjadi lebih berat dan kami mendengar banyak suara tembakan di luar. Sebuah bom dilemparkan pada kami dan itu meledak dekat tempat kami berada di halaman … adik saya-di-hukum tidak mau pergi. Dia takut. Gadis itu dua bulan tua dan anak sekitar tiga. Aku mengambil dua dan ibu saya mengatakan kita harus pergi ke rumah paman saya. Saya melihat bagaimana Hilweh Zeidan tewas, bersama dengan suaminya, anaknya, kakaknya dan Khumayyes. Hilweh Zeidan pergi keluar untuk mengumpulkan tubuh suaminya. Mereka menembak dan dia jatuh atas tubuhnya … Saya juga melihat Hayat Bilbeissi, seorang perawat dari Yerusalem melayani di desa itu, karena ia ditembak di depan pintu rumah Musa Hassan. Putri Abu El Abed ditembak mati ketika dia memegang keponakannya, bayi. Bayi itu ditembak terlalu … Barangsiapa berusaha melarikan diri ditembak mati. ”

Abu Yousef (lahir 1927): “… Setelah pertempuran, orang-orang Yahudi mengambil laki-laki tua dan perempuan dan pemuda, termasuk 4 dari sepupu saya dan keponakan. Mereka mengambil semuanya. Perempuan yang telah mereka emas dan uang, dilucuti dari emas mereka. Setelah orang-orang Yahudi dikeluarkan mereka tewas dan terluka, mereka membawa orang-orang ke pertambangan dan disemprot mereka semua dengan peluru. … Seorang wanita itu anaknya mengambil beberapa 40 sampai 60 meter jauhnya dari tempat ia dan seluruh perempuan berdiri, dan menembak dia mati. Lalu mereka membawa anak-anak Yahudi untuk melemparkan batu pada tubuhnya. Mereka kemudian menuangkan minyak tanah di tubuhnya dan meletakkannya terbakar sementara perempuan menonton dari kejauhan. Kami kemudian dikumpulkan diri kita sendiri, & diperiksa yang hilang. Pada Jaffa Gate di Yerusalem, kami dikumpulkan oleh Komite Agung Arab. Setiap dari kita sedang mencari seorang putra, seorang putri, saudara perempuan atau ibu. Semua orang sibuk berperang. ”

Fahima Zeidan (lahir 1936): “Orang-orang Yahudi memerintahkan semua keluarga kami untuk berbaris dinding dan mereka mulai menembak kami. Saya dipukul di samping, tapi kebanyakan dari kita anak-anak diselamatkan karena kita bersembunyi di belakang orang tua kita. Peluru memukul adikku Kadri (empat) di kepala, adik saya Sameh (delapan) di pipi, adikku Mohammed (tujuh) di dada. Tapi semua yang lain dengan kami terhadap dinding tewas:. Ayah saya, ibu saya, kakek saya dan nenek saya, paman saya dan bibi dan beberapa anak-anak mereka ”

Hanna Khalil (lahir 1932): “Aku melihat seorang laki-laki mengambil semacam pedang dan garis miring neighnor saya Jamila Habash dari kepala sampai kaki kemudian melakukan hal yang sama di tangga ke rumah saya untuk sepupu saya Fathi”

Safiyeh Attiyah (lahir 1907): menjelaskan bagaimana ia datang atas oleh seorang pria yang tiba-tiba membuka celananya dan menerkam pada dirinya. “Saya mulai berteriak-teriak dan meratap. Tapi perempuan di sekitar saya semua pertemuan nasib yang sama. Setelah itu mereka merobek pakaian kami sehingga mereka dapat meraba-raba payudara dan tubuh kita dengan gerakan terlalu mengerikan untuk menggambarkan. “…” Beberapa orang begitu ingin mendapatkan anting-anting kami, mereka merobek telinga kita untuk menarik mereka pergi lebih cepat ”

Mohammad Jaber: “Orang-orang Yahudi sela, mendorong semua orang luar, menempatkan mereka dinding dan menembak mereka. Salah satu wanita membawa bayi berusia tiga bulan. ”

Halimah Idul Fitri (lahir 1918): menjelaskan apa yang terjadi dengan adiknya. “Saya melihat seorang tentara memegangi saudara perempuan saya, Saliha al-Halabi, yang sedang hamil sembilan bulan. Dia menunjuk senapan mesin di lehernya, lalu mengosongkan isinya ke dalam tubuhnya. Lalu ia berubah menjadi tukang daging, dan meraih pisau dan merobek perutnya untuk mengambil anak dibantai dengan pisau bengis Nazi-nya. ”

Abu Hasan (adalah 22 pada waktu itu): “Orang-orang Yahudi pergi dari rumah ke rumah dan membunuh siapa pun di sana. Kebanyakan orang melarikan diri ke Ein Karem. Jalan keluar melalui Giv’at Saul telah diblokir selama beberapa bulan. Serangan utama datang dari arah Giv’at Saul. Orang-orang muda Dayr Yasin awalnya mampu untuk memukul, dan bahkan merusak dua Etzel’s kendaraan. Para penyerang bahkan menderita korban. Kemudian orang-orang Yahudi menyerang dengan kekuatan yang lebih besar, memasuki desa dan melakukan pembantaian. ”

Muhammad Arif Sammour: bersaksi sebelum petugas menyelidiki Inggris bahwa geng Yahudi: “merobek perut dari semua wanita mereka menemukan langsung dengan bayonet”. Mereka juga mengambil perhiasan dari korban mereka dan jika barang-barang tidak datang dari mudah: “mereka akan memotong lengan untuk mengambil gelang atau memotong jari untuk mendapatkan cincin itu.”

Abu Mahmud (lahir 1927): “aku berada di desa ketika orang-orang Yahudi diserang. Aku dan rekan-rekan saya berada di sisi barat desa, sebaliknya Al Qastal. Kami memiliki senjata kami pada kami. Semua penduduk desa, terutama para pemuda, sudah siap untuk apa pun yang mungkin terjadi setelah pertempuran Qastal sudah berakhir. Dengan 1630 pada Kamis 8 April 1948, Abdul Qader Husseini dibunuh ketika kami sedang menonton pertempuran dari kejauhan. Setelah kematiannya, kami mengambil tindakan pencegahan dalam segala hal yang akan terjadi: Kami menjaga desa sampai 0230 keesokan harinya ketika orang Yahudi mulai memasuki desa dengan penggunaan lampu spot dan mencari mencari pejuang kita. Orang-orang Yahudi ditutup pada desa di tengah pertukaran api dengan kami. Begitu mereka memasuki desa, pertempuran menjadi sangat berat di sisi timur dan kemudian menyebar ke bagian lain, untuk pertambangan, ke pusat desa hingga mencapai tepi barat. Perang itu pada tiga front, timur, selatan dan utara. Orang-orang Yahudi menggunakan segala macam senjata otomatis, tank, rudal, meriam. Mereka menggunakan untuk masuk rumah dan membunuh wanita dan anak-anak tanpa pandang bulu. Para pemuda di desa bertempur dengan berani melawan mereka dan berjuang terus sampai sekitar 1530 sore. Kami tidak punya bantuan atau dukungan dari pihak manapun. Mereka mengambil sekitar 40 tahanan dari desa. Tapi setelah pertempuran selesai, mereka membawa mereka ke tambang di mana mereka menembak mati mereka dan melemparkan tubuh mereka di pertambangan. Setelah mereka dihapus mereka tewas dan terluka, mereka mengambil tawanan dan membunuh mereka. Mereka membawa para tahanan lansia, perempuan dan laki-laki dan membawa mereka keluar dari desa, namun mereka membunuh pemuda. Mereka memanggil kita untuk menyerah, untuk melemparkan senjata kami dan untuk menyelamatkan diri. Tapi kami tidak membayangkan mereka melanggar ke desa. Kami berharap pertempuran berlangsung satu atau dua jam, setelah itu mereka akan mundur. Tapi mereka melanjutkan pertempuran (..). Kami memiliki parit. Orang-orang Yahudi diisi salah satu parit dengan pasir dan batu dalam rangka untuk tank mereka untuk menyeberang. Ketika kita memukul tangki, itu mulai menembak dari-senapan mesin yang di posisi kami di tepi barat desa. (..). Saya ingat, dari apa yang istri paman saya mengatakan kepada saya, bahwa paman saya, yang adalah penuntun, telah membunuh komandan geng menyerang di tangga dari salah satu rumah dan kemudian ia menghilang selama tiga hari. Kemudian, mereka menemukan dia dengan ibunya, berasal dari Latakia di Suriah, mereka melihat dia dengan dia, namanya Ribhi Atiyyeh. Dia menyamar dia dalam pakaian perempuan untuk memastikan bahwa ia bisa membuatnya keluar dari desa. Mereka mengidentifikasi bahwa ia adalah seorang pria, mereka melepaskan tembakan dan membunuhnya. Itulah yang saya dengar dari istri paman saya, tapi saya tidak melihat hal itu terjadi di depan mata saya. ”

Pernyataan Jacques de Reynier, Kepala perwakilan dari Komite Internasional Palang Merah [15]
“Pada hari Sabtu, 10 April sore, saya menerima panggilan telepon dari orang-orang Arab memohon saya untuk segera ke Deir Yasin dimana penduduk sipil dari seluruh desa baru saja dibantai.
“Saya belajar bahwa ekstremis Irgun terus sektor ini, terletak dekat Yerusalem. Badan Yahudi dan Haganah Umum Markas mengatakan bahwa mereka tahu apa-apa tentang hal ini dan selanjutnya tidak mungkin bagi siapa saja untuk menembus daerah Irgun.
“Mereka menasihati saya bahwa saya tidak terlibat dalam hal ini sebagai misi saya akan menanggung risiko secara permanen dipotong pendek jika aku pergi ke sana. Tidak hanya bisa mereka tidak membantu saya tetapi mereka juga menolak semua tanggung jawab atas apa yang pasti akan terjadi pada saya. Saya menjawab bahwa saya bermaksud untuk pergi ke sana sekaligus, bahwa Badan Yahudi terkenal latihan kewenangannya atas wilayah di tangan Yahudi dan bahwa badan tersebut bertanggung jawab atas kebebasan saya bertindak dalam batas-batas dari misi saya.
“Bahkan, saya tidak tahu sama sekali bagaimana melakukannya. Tanpa dukungan Yahudi tidak mungkin untuk mencapai desa itu. Setelah berpikir saya tiba-tiba ingat bahwa seorang perawat Yahudi dari rumah sakit di sini telah membuat saya mengambil nomor teleponnya, berkata dengan pandangan aneh bahwa jika saya pernah berada dalam situasi yang sulit aku bisa meneleponnya. Pada kesempatan saya sebut di akhir malam dan menceritakan situasi. Dia memberitahu saya berada di lokasi yang telah ditetapkan pada hari berikutnya pukul 7 dan untuk mengambil di mobil saya orang yang akan berada di sana

“Keesokan harinya pada jam dan di lokasi atas mana kita setuju, seorang individu dalam pakaian sipil, tapi dengan pistol dimasukkan dalam saku, melompat ke mobil saya dan memberitahu saya untuk drive tanpa henti. Atas permintaan saya, dia setuju untuk menunjukkan jalan menuju Deir Yasin, tapi ia mengakui tidak bisa lakukan untuk lebih banyak untuk saya. Kami mengusir dari Yerusalem, meninggalkan jalan utama dan pos tentara terakhir reguler dan kita beralih pada di jalan salib. Sangat segera dua tentara menghentikan kita. Mereka terlihat mengkhawatirkan dengan senapan mesin dalam tampilan penuh dan pedang pendek yang lebih besar di sabuk.
“Aku mengenali seragam yang saya sedang mencari. Saya harus meninggalkan mobil dan meminjamkan diri untuk mencari tubuh. Lalu aku mengerti bahwa aku seorang tawanan. Semua tampak hilang ketika seorang pria yang sangat besar … jostles teman-temannya, meraih tanganku … Dia tidak mengerti bahasa Inggris atau Perancis, tapi dalam bahasa Jerman kita sampai pada pemahaman yang sempurna. Dia mengatakan padaku sukacita di melihat delegasi ICRC, karena menjadi tahanan di sebuah kamp untuk orang Yahudi di Jerman ia berutang hidupnya untuk hal lain kecuali intervensi kami dan tiga reprieves. Dia mengatakan bahwa saya lebih dari seorang saudara baginya dan bahwa ia akan melakukan apapun yang saya minta. … Kita pergi ke Deir Yasin.
“Setelah mencapai punggung bukit 500 meter dari desa yang kita lihat di bawah, kita harus menunggu lama izin untuk pergi ke depan. Penembakan dari sisi Arab dimulai setiap kali seseorang mencoba untuk menyeberang jalan dan Komandan detasemen Irgun tampaknya tidak bersedia untuk meringankan saya. Akhirnya ia tiba, muda, dibedakan, sempurna benar, tapi matanya memiliki, aneh kejam, tampak dingin. Saya jelaskan misi saya kepadanya yang tidak ada kesamaan dengan yang dari hakim atau arbiter. Saya ingin membantu orang yang terluka dan membawa kembali orang mati

“Moreover, the Jews have signed a pledge to respect the Geneva Convention and my mission is therefore an official one. This last statement provokes the anger of this officer who asks me to consider once and for all that here it is the Irgun who are in command and nobody else, not even the Jewish Agency with which they have nothing in common.
“My (guide) hearing the raised voices intervenes … Suddenly the officer tells me I can act as I see fit but on my own responsibility. He tells me the story of this village populated by about 400 Arabs, disarmed since always and living on good terms with the Jews who encircled them. According to him, the Irgun arrived 24 hours previously and ordered by loudspeaker the whole population to evacuate all the buildings and surrender. There is a 15 minute delay in the execution of the command. Some of the unhappy people came forward and would have been taken prisoners and then turned loose shortly afterwards toward the Arab lines. The rest did not obey the order and suffered the fate they deserved. But one must not exaggerate for there are only a few dead who would be buried as soon as the `clean up’ of the village is over. If I find a bodies, I can take them with me, but there are certainly no wounded

“This tale gives me cold chills. “I return to Jerusalem to find an ambulance and a truck that I had alerted through the Red Shield … I arrive with my convoy in the village and the Arab fire ceases. The (Jewish) troops are in campaign uniforms with helmets. All the young people and even the adolescents, men and women, are armed to their teeth: pistols, machine guns, grenades, and also big cutlasses, most of them still bloody, that they hold in their hands. A young girl with the eyes of a criminal, shows me hers still dripping. She carries it around like a trophy. This is the ‘clean up’ team which certainly has accomplished its job very conscientiously.
“I try to enter a building. About 10 soldiers surround me with machine guns aimed at me. An officer forbids me to move from the spot. They are going to bring the dead that are there, he says. I then get as furious as ever before in my life and tell these criminals what I think about the way they act, menacing them with the thunder I can muster, then I roughly push aside those who surround me and enter the building.
“The first room is dark, completely in disorder, and empty. In the second, I find among smashed furniture covers and all sorts of debris, some cold bodies. There they have been cleaned up by machine guns then by grenades. They have been finished by knives

“It is the same thing in the next room, but just as I am leaving, I hear something like a sigh. I search everywhere, move some bodies and finally find a small foot which is still warm. It is a little 10 year old girl, very injured by grenade, but still alive. I want to take her with me but the officer forbids it and blocks the door. I push him aside and leave with my precious cargo protected by the brave (guide).
“The loaded ambulances leaves with orders to return as soon as possible. And because these troops have not dared to attack me directly, it is possible to continue.
“I give orders to load the bodies from this house on the truck. Then I go on to the neighboring house and go on. Everywhere I encounter the same terrible sight. I only find two persons still alive, two women, one of whom is an old grandmother, hidden behind the firewood where she kept immobile for at least 24 hours.
“There were 400 persons in the village. About 50 had fled, three are still alive, but the rest have been massacred on orders, for as I have noticed, this troop is admirably disciplined and acts only on command.
De Reynier continues that he returns to Jerusalem where he confronts the Jewish Agency and scolds them for not exercising control over the 150 armed men and women responsible for the massacre

“I then go to see the Arabs. I say nothing about what I have seen, but only that after a first quick visit to the spot there seems to be several dead and I ask what I shall do or where to bring them … they ask me to see that a suitable burial be given them in a place which will be recognizable later on. I pledge to do so and on my return to Deir Yasin, I find the Irgun people in a very bad mood. They try to stop me from approaching the village and I understand when I see the number and above all the state of the bodies which have been lined up on the main street. I demand firmly that they proceed with the burial and insist on helping them. After some discussion, they begin actually to scoop out a big grave in a small garden. It is impossible to verify the identity of the dead, for they have no papers, but I wrote accurately their descriptions with approximate age.
“Two days later, the Irgun had disappeared from the spot and the Haganah had taken possession. We have discovered different places where the bodies have been piled up without either decency or respect in the open air.
“Back in my office I received two gentleman in civilian clothes, very well dressed who had waited for more than one hour. It is the commander of the Irgun detachment and his aide. They have prepared a text they ask me to sign. It is a statement according to which I have been received courteously by them, that I have obtained all the help needed to accomplish my mission and I thank them for the aide they gave me

“As I hesitate, I begin to discuss the statement, and they tell me that if I care for my life I should sign immediately.” Calling the statement contrary to fact, de Reynier refuses to sign. Several days later in Tel Aviv, de Reynier says he was approached by the same two men who asked the ICRC to assist some of their Irgun soldiers.

Zionist Statements [16]
“Former Haganah officer, Col. Meir Pa’el, upon his retirement from the Israeli army in 1972, made the following public statement about Deir Yasin that was published by Yediot Ahronot (April 4, 1972): “In the exchange that followed four [Irgun] men were killed and a dozen were wounded … by noon time the battle was over and the shooting had ceased. Although there was calm, the village had not yet surrendered. The Irgun and LEHI men came out of hiding and began to `clean’ the houses. They shot whoever they saw, women and children included, the commanders did not try to stop the massacre …. I pleaded with the commander to order his men to cease fire, but to no avail. In the meantime, 25 Arabs had been loaded on a truck and driven through Mahne Yehuda and Zichron Yousef (like prisoners in a Roman `March of Triumph’). At the end of the drive, they were taken to the quarry between Deir Yasin and Giv’at Shaul, and murdered in cold blood … The commanders also declined when asked to take their men and bury the 254 Arab bodies. This unpleasant task was performed by two Gadna units brought to the village from Jerusalem.”
Zvi Ankori, who commanded the Haganah unit that occupied Deir Yasin after the massacre, gave this statement in 1982 about the massacre, published by Davar on April 9, 1982: “I went into 6 to 7 houses. I saw cut off genitalia and women’s crushed stomaches. According to the shooting signs on the bodies, it was direct murder.”
Dov Joseph, one time Governor of the Israel sector of Jerusalem and later Minister of Justice, called the Deir Yassin massacre “deliberate and unprovoked attack.”
Arnold Toynbee described it as comparable to crimes committed against the Jews by Nazis.”

“According to Shai (Israeli Internal intelligence) commander Levy reported on April 12, 1948 that the occupation of Deir Yassin went as follows: “The occupation of the village was carried with great cruelty. Whole families… women, old people, children… were killed, and there were piles of dead [in various places]. Some of the prisoners moved to places of incarceration, including women and children, were murdered viciously by their captors.” “LHI [Stern Gang lead by Yitzhak Shamir] members tell of the barbaric behavior [ Hitnahagut barbarit in Hebrew] of the IZL [Irgun gang lead by Menachim Begin] toward the prisoners and the dead. They also relate that the IZL men raped a number of [Palestinian] Arab girls and murdered them afterwards (we don’t know if this true).”The Shai operative who visited Deir Yassin hours after the massacre, Mordechai Gichen, reported on April 10, 1948: Their [ie, the IZL?] commander says that the order was: to capture the adult males and to send the women and children to Motza. In the afternoon [of April 9, 1948], the order was changed and became kill all prisoners. . . . The adult males were taken to town in trucks and paraded in the city, then taken back to the [village] site and killed with rifle and machine-gun fire. Before they were put on the trucks, the IZL and LHI men searched the women, men, and Children [and] took from them all the jewelry and STOLE their money. The behavior toward them was especially barbaric [and included] kicks, shoves with rifle butts, spitting, and cursing (people from [the Western Jerusalem neighborhood of] Giv’at Shaul took part in the torture).”

Agar Kami Lupakan: Nama Deir Yasin Martir ( http://poppiesofpalestine.wordpress.com/about/lest-we-forget-deir-yasin-massacre-0-04-19489/ )

1 Shakir Mustafa Ismail (1 tahun lama)
2 Hussein Omar Ahmad ‘Atiyah (4 yrs old)
3 Al-Haj Khalil Ismail (40 yrs old)
4 Hussein Ahmad Jabir (45 yrs old)
5 As’ad Ridwan (75 yrs old)
6 Ismail Atiyah (95 yrs old)
7 Amnah Hussein (80 yrs old)
8 Mustafa Ali Amnah
9 Amnah Al-Kobari
10 Ridwan Basima As’ad (25 yrs old)
11 Jabir Jabir Taufik Jaber (27 yrs old)
12 Jamil Issa Idul Fitri (30 yrs old)
13 Jabir Mustafa Jabir (75 yrs old)
14 Husniyyeh ‘Atiyah
15 Hilwa Zeidan (50 yrs old)
16 Hasan Ali Zeidan
17 Ya’coub Hassan Ali Mohammad Farhan
18 Ismail Hussein Mohammad Sammour
19 Jabir Mustafa Khalil (35 yrs old)
20 Khadra Al-Bituniyyah (60 yrs old)
21 Hayat Al-Balbisi
22 Samia Ali Mustafa (17 yrs old)
23 Ismail Mohammad Salim (25 yrs old)
24 Su’ad Ismail ‘Atiyah (21 yrs old)
25 Sa’id Mohammad Ismail ‘Atiyah (7 yrs old)
26 Samiha Ahmad Zahran (7 yrs old)
27 Sa’id Mohammad Sa’id (15 yrs old)
28 Samih Ahmad Zahran (9 yrs old)
29 Sammour Khalil Ismail (11 yrs old)
30 Said Musa Zahran
31 Shafiq Musa Mustafa
32 Shafiq Shakir Mustafa
33 Shafiqa Musa Mustafa
34 Subhiya Radwan (75 yrs old)
35 Safiyya Mohammad Eid Al-Sheikh (70 yrs old)
36 Salhia Mohammad Eid (20 yrs old)
37 Tharifa Mohammad Ali Khalil (16 yrs old)
38 Isa Ahmad Yousif (50 yrs old)
39 Abdel Rahman Hussein Hamid (52 yrs old)
40 ‘Ayish Khalil (70 yrs old)
41 Aziza Ali Mustafa (17 yrs old)
42 Abdallah Abdel Majid Sammour (23 yrs old)
43 Ali Hasan Ali Zeidan (30 yrs old)
44 Ali Mohammad Zahran
45 Ali Hussein Ali (35 yrs old)
46 Ali Al-Haj Khalil (30 yrs old)
47 ‘Aida Ali Mustafa Al-‘Amouri (40 yrs old)
48 ‘Awni Ismail ‘Atiyah (8 yrs old)
49 Ali Abdel Rahim Hamid (10 yrs old)
50 Isa Mohammad Eid (15 yrs old)
51 Omar Ahmad Zahran
52 ‘Imran Mohammad Ismail Atiyah
53 ‘Aziza Misleh
54 Ali Al-Khalili
55 Ali Hussein Hasan Misleh
56 Yusra Musa Mustafa
57 Yousif Ahmad Alia
58 Fatima Sammour (45 yrs old)
59 Fatima Mohammad Eid Al-Malhia (70 yrs old)
60 Fatima Jum’a Zahran (6 yrs old)
61 Fatima Ismail Atiya
62 Fathi Jum’a Zahran (2 yrs old)
63 Fouad Al-Sheikh Khalil (12 yrs old)
64 Faris Dweik (30 yrs old)
65 Faddiya Ismail Sammour
66 Fathiya Jum’a Zahran
67 Mahmoud Ali Mustafa (17 yrs old)
68 Mahmoud Mohammad Judeh (25 yrs old)
69 Mazien Ahmad Ridwan (5 yrs old)
70 Mustafa Ali Zeidan (9 yrs old)
71 Mohammad Al-Haj ‘Ayish (25 yrs old)
72 Mohammad Mahmoud Ismail Sammour (35 yrs old)
73 Mohammad Ali Khalil (25 yrs old)
74 Mohammad Ismail ‘Atiyah (50 yrs old)
75 Mohammad Mahmoud Zahran (14 yrs old)
76 Mohammad Musa Zahran (17 yrs old)
77 Mariam Mohammad Atiya (10 yrs old)
78 Musa Mohammad Ismail Atiya (13 yrs old)
79 Mohammad Mahmoud Ismail Atiya (15 yrs old)
80 Mustafa Mahmoud Mustafa Zeidan (11 yrs old)
81 Mohammad Hussein Mohammad ‘Atiyah (2 yrs old)
82 Mohammad Khalil Jabir (5 yrs old)
83 Mohammad Ali Mustafa (50 yrs old)
84 Mohammad Ali Misleh (55 yrs old)
85 Mohammad Jouden Hamdan (66 yrs old)
86 Mahmoud Mustafa Jabir (50 yrs old)
87 Mansour Abdel Aziz Sammour (27 yrs old)
88 Mohammad Ali Zahran
89 Mohammad Musa Mustafa
90 Maysar Musa Mustafa
91 Mohammad Said Jaber
92 Musa Ismail Sammour
93 Mohammad Ali Mustafa Zeidan
94 Nijma Ismail (100 yrs old)
95 Nathmi Ahmad Zahran (2 yrs old)
96 Ruqayya E’lian Ahmad Zahran (30 yrs old)
97 Ridwan As’ad Ridwan (14 yrs old)
98 Zeinab Jum’a Zahran (4 yrs old)
99 Zeinab Mohammad ‘Atiyah (15 yrs old)
100 Ribhi Mohammad Ismail ‘Atiyah (16 yrs old)
101 Rasmiya Musa Zahran
102 Zeinab Mohammad Musa Zahran
103 Tamam Mohammad Ali Hasan (17 yrs old)
104 Tawfiq Jabr (40 yrs old)
105 Watfa Abed Mohammad Ali Hasan
106 Sara Al-Kobariyya (40 yrs old)
107 Mohammad Zahran (65 yrs old)
108 ‘Aisha Ridwan
109 Khaldiyya ‘Eid
110 Jamila Hussein
111 Qadariyyah Zeidan (4 yrs old)
112 Zeidan, his wife, father and uncle


Catatan kaki:
[1] http://www.deiryassin.org/survivors.html
[2] http://www.allaboutpalestine.com/massacre.html
[3] http://www.jerusalemites.org/crimes/massacres/5.htm
[4] http://www.palestineremembered.com/Acre/Right-Of-Return/Story433.html
[5] http://www.palestinehistory.com/issues/massacre/mass01.htm
[6] http://www.palestine-encyclopedia.com/EPP/Chapter09_1of2.htm
[7] http://www.jerusalemites.org/crimes/massacres/5.htm
[8] http://www.palestine-encyclopedia.com/EPP/Chapter10_1of3.htm
[9] http://www.palestineremembered.com/Acre/Right-Of-Return/Story433.html
[10] http://www.palestine-encyclopedia.com/EPP/Chapter09_2of2.htm
[11] http://www.deiryassin.org/einstein.html
[12] http://www.palestinehistory.com/issues/massacre/mass01.htm
[13] http://www.palestineremembered.com/Acre/Right-Of-Return/Story433.html
[14] http://www.freepali.com/massacres.aspx, http://resistance.jeeran.com/massacres/deiryassin
[15] http://www.palestinehistory.com/issues/massacre/mass01.htm
[16] http://www.palestineremembered.com/Jerusalem/Dayr-Yasin/Story709.html, http://www.palestinehistory.com/issues/massacre/mass01.htm

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on “Mereka digunakan untuk masuk rumah dan membunuh wanita dan anak-anak tanpa pandang bulu”: Pembantaian Deir Yasin, 1948/04/09 )

28 Tahun Kemudian: Pembantaian Sabra dan Shatila

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Sejarah, Tahukah Anda |

28 tahun yang lalu, satu September hari, setelah bermain dengan saudara kandung saya dan teman-teman di tanah kami, kami kembali ke rumah dengan sukacita di dalam hati kita. Kami sangat senang dan bergegas untuk memberitahu orang tua saya dari rencana kami untuk pergi pada “piknik” pada hari berikutnya dengan teman-teman kita. Ayah saya memandang kami dan berkata dengan tenang: tidak ada, tidak akan ada besok piknik. Orang tua saya duduk di depan TV, baik luar biasa tenang, mata ayahku tampak gelisah, ibuku sempat meneteskan air matanya. Rumah itu diam, mati diam, kecuali teriakan yang datang dari TV. Aku menatap TV dan melihat gambar yang sama berulang-ulang: mayat-mayat …. mati tubuh …. mati tubuh ….
28 tahun yang lalu, saya melihat gambar Palestina dibantai, menumpuk seperti satu karung atas yang lain. Aku melihat gambar laki-laki dibunuh, perempuan, anak-anak dan lansia mengisi jalanan. Aku melihat wanita menangis dan berteriak-teriak dan memaki-maki. Aku melihat Sabra dan Shatila.
28 tahun kemudian, aku ingat melihat Sabra dan Shatila, di gambar dari korban martir. Aku menghafal 3500 nama-nama mereka disiksa sampai mati, dari mereka dijagal. Saya membaca keras-keras kesaksian dari orang-orang yang selamat dari kekejaman. Saya rasa nyeri mereka, penderitaan mereka dan ketakutan mereka. Saya berpikir: 62 tahun pembunuhan, 62 tahun teror, 62 tahun menduduki Palestina Zionisme dan kemanusiaan mengancam.

28 tahun yang lalu, saya mengerti untuk pertama kalinya apa artinya berdukacita, apa rasanya kehilangan seseorang, betapa sakit untuk melihat seseorang berbaring di dalam darah mereka, mendengar cerita dari menit terakhir mereka, mendengarkan jeritan mereka yang selamat. Kami duduk di ruang tamu kami di Palestina yang diduduki dan melihat gambar dari semua pria, wanita dan anak-anak, terbaring mati di jalanan. Rasanya seperti terbangun dari mimpi, dan menyadari bahwa bagi Anda, sebagai seorang Palestina, tidak ada tempat untuk piknik, ada tempat untuk kebahagiaan selama Palestina lainnya dibunuh, bahwa tidak ada tempat untuk kebahagiaan selama Palestina masih diduduki. Palestina ini tidak tinggal di Palestina, mereka jauh dari kita, tapi mereka bagian dari kita. Mereka jauh, di tempat-tempat yang disebut Sabra dan Shatila. Ini adalah pertama kalinya saya mendengar dari tempat-tempat ini dan sejak itu dua nama pernah meninggalkan saya. Mereka jauh dari tanah air mereka, jauh dari Palestina, dan kami di Palestina, mereka berduka, menangis untuk mereka dan merasakan sakit dari mereka yang selamat. Mereka adalah saudara jauh dari rumah, para suster kami tidak pernah terpenuhi, sepupu kita mendengar, keluarga yang merupakan perpanjangan dari setiap keluarga di Palestina. Mereka adalah cabang yang dipotong paksa dari pohon zaitun. Mereka adalah akar yang direnggut dari kami ibu Palestina.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila. Aku ingat bahwa Palestina ditargetkan mana-mana. Aku memikirkan mereka di antara kita teguh di tanah kami menolak meninggalkan meskipun teror Zionis harian, dan berpikir orang di Diaspora bermimpi dan menunggu return. Kami adalah bagian yang membuat Palestina penuh, kami adalah satu tubuh dan ketika salah satu bagian dari berdarah Palestina, semua berdarah Palestina. Aku ingat setiap pembantaian dan setiap kejahatan yang dilakukan terhadap warga Palestina. Dan meskipun harapan, keinginan dan tujuan Zionis, pembantaian, setiap tetes darah Palestina, setiap tangisan anak Palestina membuat kita lebih kuat, lebih tabah, lebih tegas untuk melawan pendudukan dan penindasan. Dengan setiap pembantaian dan dengan setiap kejahatan kita semakin dekat dan berdiri sebagai satu; satu tubuh sakit untuk kebebasan. Dengan setiap pembantaian dan dengan setiap kejahatan kita menangis untuk setiap korban penindasan, kita pergi ke jalanan untuk setiap martir dan setiap terluka dan setiap narapidana, kita protes setiap ketidakadilan dan menuntut hak-hak sah kami. Ini adalah kesatuan kita yang membuat kita kuat, ikatan darah yang bukan entitas Zionis, bukan AS, bahkan tidak berbahaya Palestina bisa istirahat.

28 tahun yang lalu, saya menyadari bahwa pengungsi Palestina, di mana pun mereka mungkin, baik dalam Dheisheh, Balatah, Shu’fat atau Khan Younis, baik dalam Shnellar, Ein Il-Hilweh atau Yarmouk, merupakan ancaman bagi entitas Zionis karena mereka mengekspos nya kebohongan sebuah “tanah tanpa orang untuk orang tanpa tanah”. Saya mengerti bahwa Hak Kembali merupakan ancaman bagi entitas Zionis yang adalah entitas perampas berdasarkan rasisme, pembersihan etnis dan teror. Saya menyadari bahwa Jrash, Deir Aban dan Zakaria adalah nama-nama entitas Zionis ingin dihapus dari memori kemanusiaan karena mereka dihapus dari peta dunia.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila dan berpikir bayi lahir Palestina setiap hari. Bayi ini merupakan ancaman bagi entitas Zionis karena dengan setiap bayi Palestina mitos Zionis “tidak ada hal seperti Palestina” runtuh dan jatuh, dengan setiap bayi Palestina mimpi Zionis pembersihan etnis Palestina hancur, dengan setiap bayi Palestina jalan ke Haifa, Yafa dan Al-Jalil menjadi lebih pendek dan dengan setiap bayi Palestina Palestina tumbuh lebih kuat.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila dan saya pikir semua kolaborator dan menjual-out yang ingin “bernegosiasi” hak sah kami, yang ingin menukarkan Hak Kembali untuk dolar lebih dan euro untuk mengisi mereka atas berukuran swiss rekening bank dan yang ingin menjual Palestina selama lebih “kekuatan” dalam “mini-bantustan” Al-Muqata’a alias Ash-Sharifa. Untuk mereka kita katakan: Hak Kembali adalah tidak dapat dicabut dan tidak ada damai tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa kembalinya semua pengungsi Palestina.

28 tahun yang lalu, aku mengerti bahwa pengkhianatan Arab yang menyebabkan kita Nakba dan mengizinkan entitas perampas Zionis akan didirikan di jantung dunia Arab dan di mayat warga Palestina masih menjadi sekutu kuat Zionisme dan mitra dalam kediktatoran, rasisme dan menyangkal hak yang sama. Aku mengerti bahwa pengkhianatan Arab yang memungkinkan pembantaian Sabra dan Shatila terjadi masih bergabung dengan perampas untuk melahap apa yang tersisa dari Palestina, untuk etnis membersihkan dan menghapus dari muka bumi apa pun dengan nama “Palestina”.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila, dan memikirkan rezim-rezim Arab yang masih mengkhianati Palestina melalui aliansi mereka dengan entitas Zionis. Mereka terus mengkhianati Palestina setiap kali mereka berjabat tangan penjahat perang Zionis, mereka mengkhianati Palestina setiap kali mereka membiarkan Zionis untuk memasuki tanah mereka, mereka mengkhianati Palestina setiap kali mereka mendorong normalisasi dengan entitas Zionis, mereka mengkhianati Palestina setiap kali mereka menolak untuk Zionisme dan memboikot produk-produknya. Dan bangsa Arab masih mengkhianati Palestina melalui kebisuan mereka yang membuat mereka kaki tangan langsung. Jutaan lebih dari jutaan orang Arab mengkhianati Palestina setiap kali mereka tetap di rumah mereka sementara jutaan di seluruh dunia pergi ke jalan untuk memprotes teror Zionis, mereka mengkhianati Palestina setiap kali mereka “mengutuk” teror Zionis di facebook dan twitter sementara yang lain semua dunia mulai membentuk kelompok solidaritas, dan memulai gerakan boikot, mereka mengkhianati Palestina setiap kali mereka bertemu dengan Zionis dengan alasan lumpuh seperti untuk “membahas perdamaian” dan “mendengar sisi lain” demikian memihak penindas dan menyamakan penghuni dengan yang ditempati .
Jutaan selama jutaan orang Arab mengkhianati Palestina dan diri mereka sendiri dan anak-anak mereka setiap kali mereka mengatakan “para pemimpin kita tidak akan membiarkan kita” sementara jutaan dan jutaan orang sepanjang sejarah mengambil nasib mereka di tangan mereka sendiri dan membebaskan diri dari tirani dan kediktatoran.

28 tahun yang lalu, saya melihat darah mengalir di jalan-jalan Sabra dan Shatila dengan campuran darah Deir Yasin, dengan darah Kufur Qasim, dengan darah Qibya, Ish-Sheikh, Ad-Dayameh, Sharafat, As-Sammou ‘, dan banyak lagi yang tak terhitung jumlahnya. Aku melihat laki-laki dan perempuan yang tersebar di tanah. Aku melihat anak-anak, seperti saya, tanpa kaki dan tidak ada kepala. Saya melihat kengerian yang menjadi “merek dagang” dari Zionisme. Dan aku melihat ketakutan, aku melihat kemarahan dan aku melihat resolusi. Aku melihat pendarahan Palestina dan aku menangis.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila, dan berpikir dari darah Palestina gudang dengan Zionis di Oyoun Qarra, Al-Aqsa, di Al-Ibrahimi, di Jenin, di Jabalia, di Gaza. Palestina masih berdarah, menangis, menanti kita untuk berdiri lagi sebagai salah satu melawan penjajah dan kaki mereka. Palestina meminta kita untuk tetap setia kepada darah Sabra dan Shatila dan semua korban yang tidak bersalah, tidak pernah lupa, dan memimpin jalan ke Safsaf, Majd Il-Krum, Amka dan Yajour.

28 tahun saya melihat Palestina menjadi Lebanon dan Lebanon menjadi Palestina. Aku melihat kedua bersatu melawan satu musuh; Zionisme yang merupakan musuh seluruh umat manusia. Saya melihat Palestina dan Lebanon tetangga yang tinggal berdekatan satu sama lain, hidup bersama dan hidup untuk satu sama lain. Saya melihat Palestina dan Lebanon sebagai tetangga selalu adalah: Palestina memeluk Libanon dan Palestina hingga Libanon memeluk Zionisme robek mereka terpisah. Aku melihat darah Palestina dan Lebanon berbaur dan menjadi satu: darah korban tak berdosa dari Zionisme.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila, dan memikirkan apa yang dan apa yang ada. Saya pikir para pengungsi Palestina yang kehilangan rumah dan tanah mereka, yang dipaksa keluar dari Palestina dan yang dibantai mana pun mereka pergi. Saya pikir pengungsi Palestina yang hanya memiliki satu rumah yang mereka ingin kembali, yang hanya memiliki satu identitas untuk mendefinisikan mereka: orang Palestina dari Palestina. Tetapi sampai hari kembali, jangan mereka layak diperlakukan seperti manusia?

28 tahun yang lalu, saya melihat korban Sabra dan Shatila dan dipahami bahwa pembunuh yang membunuh warga sipil tidak mengenal “damai”; bahwa para pembunuh anak-anak tukang daging yang tidak mau “damai” dan bahwa perlawanan hanya merupakan cara untuk Haifa, Yafa dan Akka , bahwa hanya melalui perlawanan akan kita membebaskan Palestina, hanya melalui perlawanan Palestina menjadi salah satu lagi, dari sungai ke laut.
28 tahun kemudian dan setelah sekitar 20 tahun tidak berguna “negosiasi” antara mereka yang tidak mewakili kita dan orang-orang yang membunuh kita, aku ingat Sabra dan Shatila dan setiap pembantaian tunggal yang dilakukan oleh para Zionis dan kaki mereka. Aku ingat setiap anak perempuan, tunggal dan laki-laki dibunuh untuk kepentingan Zionisme. Aku ingat setiap desa, setiap kota dan setiap kamp pengungsi yang melakukan pembersihan etnis, hancur, dibuldoser atau dibom dalam nama Zionisme. Aku ingat orang-orang yang menolak untuk menjual hati nurani mereka, kehormatan mereka dan tanah mereka, saya ingat mereka yang memilih Palestina. Dan aku ingat orang-orang yang berjabat tangan pembunuh rakyat kita, saya ingat mereka yang “mengakui” pembunuh kami, menandatangani “perjanjian” dengan mereka dan memanggil mereka “mitra kami dalam damai”; Aku ingat orang-orang yang menjual Palestina. Dan aku tidak akan pernah lupa.

28 tahun yang lalu, saya, seorang anak, duduk di tempat tidur saya di tengah suatu malam September tahun 1982, gambar dari anak-anak mati mengisi kepala kecilku, tangisan yang selamat menggema di telinga saya, air mata berenang di mata saya, dan bersumpah untuk tetap setia kepada jiwa bersalah dari Sabra dan Shatila, untuk tetap setia ke Palestina. Aku bersumpah tidak pernah lupa, tidak pernah untuk mengampuni.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila, dan aku tidak lupa, juga tidak saya diampuni. Penjahat perang masih berjalan bebas, mereka menyambut di setiap negara Arab, mereka adalah memeluk dan mencium oleh mereka yang mengklaim bahwa mereka mewakili kita.
28 tahun kemudian, aku ingat Sabra dan Shatila dan aku tidak akan pernah melupakan mereka yang, sementara Palestina sedang dibantai oleh Zionis, pergi untuk makan malam dengan perang Sharon pidana di peternakannya dibangun di atas tanah Palestina dirampas.

Dan 28 tahun yang lalu, aku menangis untuk korban Sabra dan Shatila dan memimpikan kebebasan, pembebasan dan kembalinya semua pengungsi ke rumah mereka sehingga mereka dapat menguburkan orang mati dan kering air mata mereka dan menanam pohon zaitun di mana Zionisme mencoba membunuh tanah.
28 tahun kemudian, kita memperingati Sabra dan Shatila, memperingati jiwa warga sipil tak berdosa dibantai dengan cara yang paling mengerikan oleh teroris Zionis dan kaki mereka dan menonton sebagai satu set kaki bertemu dengan para perampas Zionis yang sama untuk menjual hak sah kami dan kami tanah.
28 tahun kemudian, air mata Sabra dan Shatila yang belum mengering. Darah Sabra dan Shatila masih mengalir di setiap gang dan setiap jalan setiap negara Arab yang menyambut perang Zionis kriminal. Teriakan dari Sabra dan Shatila masih bergema di setiap gang dan setiap jalan setiap negara Arab yang menyambut perang Zionis kriminal.
28 tahun kemudian, dan 10.227 hari setelah Sabra dan Shatila Palestina masih diduduki oleh Zionis dan kaki mereka. darah Palestina masih tumpah untuk kepentingan Zionisme. Palestina masih merebut, terkepung dan wajah pembersihan etnis harian dan teror.
28 tahun kemudian, Sabra dan Shatila banding kepada kami, adjures kita tidak akan lupa!
28 tahun kemudian, orang-orang kita masih setia di Palestina, para pengungsi masih melekat pada Hak Kembali dan Resistensi masih merupakan cara hanya untuk Palestina bebas dari Sungai ke Laut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on 28 Tahun Kemudian: Pembantaian Sabra dan Shatila )

Seribu Anyelir untuk Ibu Palestina

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami, Sejarah, Tahukah Anda | Tags: , , , , , , |

Seribu anyelir untuk ibu Palestina teguh di Yerusalem, Anda yang dibesarkan di jantung Palestina, tahu setiap rumah, setiap gang dan sudut setiap dan menghargai setiap batu Yerusalem. Anda menolak untuk meninggalkan meskipun teror harian dan pelecehan dari penjajah Zionis. Anda melekat ke rumah kecil Anda di mana anak-anak Anda lahir dan di mana anak-anak mereka akan lahir. Anda melindungi rumah Anda, masjid dan gereja dengan hati dan tubuh Anda dan menolak untuk menjadi ditendang oleh penjajah Zionis datang dari jauh yang mengklaim mereka memiliki hak untuk rumah Anda. Anda menentang teror harian penjajah Zionis, Anda menentang pengepungan yang mencekik kota Anda, Anda menentang pembersihan etnis yang mentargetkan jantung Palestina. Ketika Anda diusir dari rumah Anda, Anda pindah ke tenda, dan bila tenda Anda diambil dari Anda, Anda melekat pada bumi yang adalah milikmu dan menolak untuk pindah inci. Anda teguh di rumah Anda, di Kota Lama, di Shu’fat, di Silwan, di Wadi Il-Jouz, di Rasi Il-Amoud, di Beit Hanina dan di setiap pinggiran kota dan jalan di kota suci.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah wali Yerusalem.

Seribu anyelir untuk ibu martir, Anda yang membesarkan anak Anda dengan kasih, yang akan direnggut dari Anda oleh teroris Zionis. Anda mengajarkan anak Anda kasih Palestina, cinta kebebasan, yang setiap manusia dilahirkan bebas dan layak hidup bermartabat. Dan ketika anak Anda dibawa kembali kepada Anda membawa di atas bahu sesama kawan-kawan, Anda memegang / nya tangannya dan mencium / dia memeriksa dan bisikan cinta, kebanggaan dan rasa sakit. Anda sering diberikan hanya beberapa menit untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak Anda membawa sembilan bulan dalam rahim Anda, anak Anda melahirkan dan mengawasi tumbuh, hari demi hari. Anda tidak ingin membiarkan pergi, dan berpegang teguh pada anak Anda, berharap peluru Zionis telah memukul hati Anda, bukan yang anak Anda. air mata Anda mencuci muka, cuci rumah-rumah dan lorong-lorong, ladang dan puncak bukit, dan langit menangis dengan Anda, pohon zaitun menangis dengan Anda, Palestina menangis dengan Anda. Anda mengunjungi kuburan dan berdoa untuk setiap putra dan putri yang hidupnya direnggut. Anda menyimpan gambar anak Anda di jantung rumah dan berbicara dengan / dia setiap harinya tentang anak perempuan yang lulus, anak yang akan menikah, ayah yang telah ditanam beberapa lebih banyak pohon zaitun. Anda menghargai anak Anda mengenakan kemeja minggu dia dibunuh dan menyimpannya di bawah bantal Anda dan menciumnya setiap pagi dan setiap malam. Anda tetap notebook anak Anda, dan ketika tidak ada memerhatikan Anda, Anda menyentuh kata-katanya, membaca dan menghargai setiap coretan dia / ia telah dibuat. Anak Anda tidak pernah hilang, atau terlupakan, untuk Palestina setiap anak Anda.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah ibu dari seorang pahlawan.

Seribu anyelir untuk ibu dari tahanan, Anda yang mengajar anak Anda kasih Palestina, cinta tanah dan kasih kebebasan. Anda takut untuk kehidupan anak Anda, berdoa untuk / nya keselamatannya, tetapi ketika anak Anda duduk di dekat Anda, pelukan Anda, memberitahu Anda tentang hidup dalam kebebasan dan meminta persetujuan Anda, Anda mengatakan kata-kata Palestina setiap ingin mendengar: “Alek Allah Yirda ‘Yamma” dan menyetujui jalan ia / ia telah diambil. Anda berdiri di antara anak Anda dan para tentara bersenjata yang datang untuk membawanya / dia dari Anda. Anda tahu persis sejak berapa menit anak Anda telah diambil dari Anda, direnggut dari tangan Anda dan dilemparkan ke dalam sel gelap. Anda bangun di jam-jam awal menggembirakan hari sebagai seorang anak, bahagia sebagai pengantin untuk Anda adalah untuk melihat wajah anak tercinta Anda, sentuh / nya tangannya dan mendengar / nya suaranya. Anda bertahan perjalanan panjang, pos pemeriksaan dan penghinaan di tangan jailors Israel demi senyum dari anak Anda, bisikan. Anda menghitung pagi hari dan fajar menunggu hari untuk melihat wajah anak Anda, berdoa waktu ke waktu bahwa Anda hanya hidup cukup lama untuk hanya melihat / wajahnya lagi, mencium / nya pipinya dan memberinya / pelukan terakhir.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah ibu dari seorang pejuang kemerdekaan.

Seribu anyelir untuk ibu Palestina sabar atas tanah itu, Anda yang menanam pohon sebagai anak, menyaksikan mereka tumbuh. Kau tahu setiap pohon, setiap meninggalkan dan buah setiap. Anda menyentuh mereka dengan tangan Anda selembut yang menyentuh bayi. Sebagai seorang anak Anda ditemani ayah Anda ke ladang, Anda duduk di sisinya saat ia menceritakan kisah setiap pohon tunggal. Anda membawanya makan siang ketika Anda sudah lebih besar dan duduk di sisinya dan berbagi makanannya di bawah pohon zaitun sebagai dia bilang Anda dari perampas yang mengancam tanah. Anda melihat air matanya dan memegang tangannya dan dia berjanji akan loyal kepada tanah dan pohon-pohon zaitun, untuk setiap batu, setiap partikel tunggal bumi, dan bersumpah untuk melindungi mereka sehingga mereka diserahkan kepada anak-anak Anda dan anak-anak mereka setelah mereka. Anda menemani suami Anda untuk bidang ini dan sisi bekerja berdampingan dengan dia, merawat pohon-pohon, dan melindungi mereka. Anda membawa anak Anda ke tanah, mengajarkan mereka untuk mencintai, untuk bekerja itu, dan untuk menghargai itu. Anda memberitahu mereka tentang kisah ayah Anda pernah mengatakan kepada Anda, tentang janji-janji yang Anda buat, dari warisan yang akan mereka. Anda bekerja ladang menentang Zionis, dan ketika mereka menumbangkan salah satu pohon tercinta Anda, Anda yang sepuluh tanaman baru. Dan ketika penjajah Zionis datang untuk mencuri tanah dan pohon Anda, Anda berdiri melawan perampok dan melindungi tanah Anda dengan tubuh Anda. Anda tidak takut klub, tidak ada gas air mata dan tidak ada peluru. Anda terorisme mereka tidak takut, karena itu adalah tanah Anda dan itu adalah pohon zaitun Anda, pohon apel Anda, pohon badam dan pohon ara. Anda melekat pada pohon ayah Anda dan meraih batu terdekat dan mempertahankan tanah itu, karena itu adalah milikmu.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah pelindung tanah.

Seribu anyelir untuk ibu Palestina yang menyaksikan Nakba, Anda yang mengalami penderitaan tak terhitung dan selamat teror belum pernah terjadi sebelumnya. Anda dipaksa keluar dari rumah Anda dengan teroris Zionis, tetapi Anda membawa sepotong Palestina dengan Anda di mana pun Anda pergi, Anda tidak pernah melupakannya. Anda mengatakan kepada anak-anak Anda dan cucu Anda tentang rumah yang Anda miliki, taman Anda cintai, bidang dan mata air di mana Anda sering bermain dan bekerja. Anda mengatakan kepada anak-anak Anda tentang hari yang gelap ketika Zionis datang, bagaimana Anda berjuang dengan sedikit Anda telah melawan mesin pembunuh yang mereka dan masih. Anda memberitahu mereka tentang pengkhianatan saudara-saudara apa yang disebut dan bagaimana mereka meninggalkan Anda sendirian untuk menghadapi kematian perlahan-lahan, dikelilingi oleh teroris Zionis. Anda memberitahu mereka tentang Zionis pembunuh yang tidak luput satu, bukan muda maupun tua. Anda memberitahu mereka bagaimana dengan menangis dan menendang dan di bawah ancaman senapan mesin Anda dipaksa untuk meninggalkan rumah, rumah anak-anak Anda lahir masuk Anda memberitahu mereka bagaimana saat Anda sedang dipaksa keluar, di bawah hujan peluru, Anda melihat orang yang dicintainya mendapatkan dibantai, dan rumah tercinta mendapatkan diledakkan. Anda melihat rumah tercinta menghilang ke udara. Kau tahu sejak berapa banyak, bulan hari dan tahun-tahun Anda telah membuat pengungsi setelah asing telah mencuri tanah Anda dan mengaku itu milik mereka. Anda menghitung hari sampai Anda kembali ke rumah untuk Anda tahu ada rumah lain dan akan menerima tidak ada yang lain. Kau tahu rumah Anda dan taman Anda, bidang Anda dan padang rumput Anda menunggu Anda untuk kembali. Anda mengingatkan Anda anak-anak bahwa mereka memiliki rumah, jauh, dan mereka memiliki rumah dan kunci. Anda membawa kunci yang dekat di hati Anda dan telepon Anda sudah sekarat Anda menyerahkannya kepada anak-anak Anda. Anda meminta sebuah makam di desa Anda yang telah terhapus, bahwa tidak ada lagi untuk “dunia beradab”, tetapi selamanya hidup dalam hati dan pikiran dan lebih nyata dari sebuah entitas ditemukan dibangun di atas reruntuhan rumah Anda. Anda jauh dari rumah Anda tetapi punya rumah Anda dalam hatimu.

Seribu anyelir untuk Anda: karena kamu adalah saksi dari Nakba.

Seribu anyelir untuk wanita Palestina di tempatnya bekerja, Anda pergi ke pekerjaan Anda setiap hari, menentang pendudukan untuk menyediakan makanan, pendidikan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Anda. Anda melawan teror Israel setiap hari untuk mengajar anak-anak tanah itu, adalah dan akan selalu Palestina. Anda mengajar anak-anak tidak takut penembak jitu pada gedung yang berlawanan atau tangki menunggu di luar sekolah. Anda mengajar mereka bahwa kebebasan adalah hak setiap manusia dan kebebasan yang tidak pernah dibeli atau dijual. Anda mengajar mereka bahwa Anda tidak meminta hak-hak yang sah dan bahwa hak-hak Palestina tidak dapat dinegosiasikan. Anda mengajar mereka bahwa tidak ada pos pemeriksaan militer dapat menghentikan sebuah ide dan pengepungan tidak dapat memenjarakan pikiran. Anda mengajar mereka bahwa pekerjaan tidak pernah berlangsung dan bahwa keadilan adalah takdir setiap kebebasan mencintai orang. Anda melawan teror Israel setiap hari untuk mengobati orang terluka, menyembuhkan yang luka, untuk meringankan rasa sakit. Anda berisiko hidup Anda selama serangan teror Zionis, selama penyerangan dan jam malam, untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Anda mendapatkan dipukuli di pos pemeriksaan, dihina dan ditangkap, namun Anda bersikeras untuk menjangkau mereka yang sangat membutuhkan Anda. Suami Anda akan dibunuh oleh Zionis atau dipenjara seumur hidup dalam sel Zionis, dan Anda mengambil tugas menyediakan bagi anak-anak Anda dan memegang keluarga bersama-sama. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika Anda bekerja di bidang Anda, ketika Anda mengajar anak-anak, ketika Anda menyembuhkan pasien, ketika Anda membangun rumah. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika anda menanam pohon zaitun, ketika Anda jahitan Thoub, ketika anda memanggang roti Taboun. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika Anda menulis tentang Palestina, ketika Anda bernyanyi dari Palestina, dan ketika Anda cat keindahan Palestina.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah putri Palestina.

anyelir untuk semua ibu Palestina memimpin perjuangan untuk kebebasan; Anda hadapi terorisme Zionis hari demi hari dan tidak pernah menyerah. Anda mendapatkan diculik dari rumah Anda dengan teroris Zionis yang kunci Anda di bawah tanah. Anda terus menerus mengalami penyiksaan dan penghinaan. Anda dipaksa untuk melahirkan di klinik penjara Israel sambil diborgol ke tempat tidur. Anda berhenti di pos pemeriksaan Zionis, dipermalukan di depan anak-anak Anda dan sering dipukuli oleh tentara Zionis yang tahu belas kasihan. Anda sengaja ditunda di pos pemeriksaan dan mencegah dari yang lewat untuk mendapatkan perawatan medis yang sangat dibutuhkan. Anda dipaksa untuk melahirkan di pos pemeriksaan militer dikelilingi oleh mengejek tentara Zionis, di jalan atau di belakang mobil dan di bawah kondisi yang tidak manusiawi. Anda kehilangan bayi Anda dan kadang-kadang hidup Anda di ini jebakan maut Zionis. Selama jam malam dan di bawah penutup malam Anda mendistribusikan gandum, susu dan gula untuk keluarga miskin. Anda buru-buru untuk melindungi anak-anak Anda dan semua anak-anak Palestina dari kebrutalan Zionis. Anda memandu pria muda keluar tentara Zionis, periksa keselamatan jalan bagi mereka. Anda menghadapi tentara Israel bersenjata lengkap yang datang untuk mengambil anak-anak Anda, Anda berdiri antara tentara dan para pemuda untuk melindungi mereka. Ketika tentara Zionis setua putra bungsu Anda mengalahkan Anda dengan bagian belakang senapan mereka, menampar Anda, punch Anda dan mendorong Anda ke tanah, kau berdiri lagi dan lagi, menatap mata mereka dan menunjukkan mereka bahwa Anda tidak ketakutan mereka. Anda tidak takut mereka untuk Anda tahu bahwa mereka adalah pengecut bersembunyi di balik senapan mesin mereka. Anda menghadapi kedua penjajah Zionis dan tentara dan ketakutan mereka tidak. Meskipun teror Zionis Anda terus hidup, untuk berjuang dan untuk melindungi anak-anak Anda, rumah dan tanah. Anda lihat bagaimana waktu ke waktu, Zionis datang dan menyerang desa dan kamp-kamp pengungsi menyebarkan teror dan kehancuran. Kau tahu bahwa setelah setiap serangan teroris tersebut, anak seseorang akan dibawa pergi ke sel gelap atau ke liang kubur. Anda buru-buru ke jalan untuk melindungi anak-anak Anda dan rumah Anda. Anda buru-buru bersenjata dengan batu untuk menghentikan perjalanan dari koloni Zionis dan tentara IOF yang datang untuk melakukan pembantaian baru. Anda tidak berpikir tentang keselamatan Anda sendiri, Anda tidak pernah melakukannya, karena itu adalah keselamatan anak-anak Anda dan anak-anak Palestina bahwa Anda peduli.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah semangat Palestina.

Seribu anyelir untuk memori dari semua ibu Palestina yang dibantai oleh teroris Zionis; Sebuah ribu anyelir untuk para ibu Palestina yang dibunuh sebelum, selama dan setelah Nakba. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang menolak untuk pergi dan lebih memilih mati di rumah mereka dan di tanah mereka. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang meninggal membela anak-anak mereka, melindungi mereka dari Zionis pembunuh. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang dibunuh oleh Zionis saat mengajar, saat bekerja di ladang, saat bekerja di rumah, saat bekerja di klinik, saat bekerja di kantor dan perusahaan. Seribu anyelir untuk para ibu dibunuh di tempat tidur mereka dengan serangan udara Zionis saat tidur dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Seribu anyelir untuk ibu Palestina yang meninggal karena sakit hati, jauh dari Palestina, tetapi kerinduan untuk Palestina. Seribu anyelir untuk semua ibu Palestina anonim yang namanya kita tidak tahu dan pengorbanan yang kita tidak berbicara, menulis atau menyanyi.

Seribu anyelir untuk Anda: karena kamu adalah ibu-ibu Palestina.

 

Dan seribu anyelir untuk nenek saya, Anda mengajar saya kasih tanah yang saya. Dengan kata-kata Anda Anda menunjukkan saya Palestina sebelum Nakba, sebuah Palestina yang penuh kemakmuran, kebahagiaan dan cinta. Dengan cerita Anda mengajari saya tentang budaya saya, tentang cerita rakyat Zionis mencuri. Dengan kenangan Anda Anda menunjukkan saya Nakba dan Naksa dan tragedi orang-orang kami dan mengajari saya sejarah tidak ditemukan dalam buku-buku. Anda ketabahan dan keberanian dalam menghadapi teror Zionis tidak akan pernah berhenti menginspirasi saya dan kebijaksanaan Anda tidak akan pernah berhenti untuk membimbing saya. Anda mengajarkan saya untuk tidak takut Zionis, bahwa mereka yang takut kita, suatu kerinduan orang-orang bersenjata untuk kebebasan. Anda mengajarkan saya untuk mencintai tanah ini karena ibu kita. Kau mengajari saya tidak pernah lupa bahwa Palestina adalah salah satu dari Sungai ke Laut, dan bahwa tidak ada pengkhianat Zionis dan tidak ada yang bisa membuat kita lupa bahwa atau make-up menyerahkan hak sah kami. Kau mengajari saya bahwa tidak ada kebebasan tanpa kembalinya semua pengungsi Palestina ke rumah mereka. Seribu anyelir dan seribu air mata untuk nenek tercinta saya, Aisha yang terletak untuk beristirahat di Yerusalem dan Mariam yang terletak untuk beristirahat di Betlehem jauh dari rumah tercinta dan hanya rumah Jrash (pembersihan etnis di 1948/10/21).

Dan seribu anyelir untuk ibu saya, Anda mengajari saya untuk berdiri melawan ketidakadilan, untuk tidak pernah diam. Anda mengajari saya untuk menyanyi, menggambar dan menulis bagi Palestina. Anda mengajarkan saya untuk menjadi bangga menjadi Palestina. Kau mengajari saya tidak pernah menyerah tak peduli betapa sulitnya mendapatkan. Kau mengajari saya yang sering kita harus mendaki gunung kita sendiri untuk mencapai tujuan kami, bahwa bahkan jika kita tidak mendapat dukungan yang kami harus terus mendaki dan satu hari kita akan mencapai puncak. Anda mengajari saya untuk merasakan sakit orang lain, bahwa kita orang Palestina dan selalu akan menjadi salah satu, bahwa kita berbagi rasa sakit dan harapan. Anda mengajari saya untuk pasien seperti cactuses Palestina. Anda mengajarkan saya bahwa Palestina tidak pernah dijual, bahwa ketika kita menolak, kita tidak boleh meminta harga untuk ketahanan kita. Kau mengajari saya bahwa aktivis sejati tidak meminta harga, tidak pernah meminta sesuatu sebagai imbalan untuk / nya aktivisme nya bagi Palestina. Kau bilang tentang tumbuh sebagai pengungsi, bagaimana rasanya memiliki rumah yang dekat tapi unreachable. Kau mengajari saya bahwa di setiap salah seorang dari kami ada pengungsi Palestina, bahwa kita akan bebas bila semua pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka. Anda mengajari saya untuk melihat tanah, untuk melihatnya, merasakannya. Anda mengajari saya untuk menyentuh bumi dengan tangan saya, untuk merangkul udara yang mengelilingi aku, untuk tenggelam dalam pandangan matahari terbenam emas atas ladang zaitun hijau. Anda mengajarkan saya kasih tanah, tanah kita dan bahwa kita bukan apa-apa tanpa tanah. Hari ini, ada kata-kata yang cukup baik, tidak ada teks cukup lama untuk menggambarkan jiwa Anda yang lebih indah dari matahari terbenam dan lebih murah hati daripada hujan. Untuk Anda, ibu tercinta, seribu anyelir dan seribu ciuman.

Dan seribu bunga poppy bagi ibu setiap Palestina: kami ibu Palestina, Zionis berusaha menghancurkan Anda, tapi pada proses yang mereka hanya menghancurkan diri mereka sendiri dan entitas palsu mereka. Zionis mencoba membunuh Anda, tetapi dalam proses itu mereka hanya mengekspos sifat pembunuh dan haus darah. Mereka begitu sedih gagal karena Anda lebih hidup daripada pembunuh ini mati. Anda hidup melalui anak-anak Anda yang bersumpah untuk tetap setia hanya untuk Anda dan tidak ada yang lain. Anda hidup melalui pohon-pohon zaitun dan almond Anda, melalui jeruk dan pohon ara. Anda hidup setiap kali burung bernyanyi di langit Anda, dan setiap kali bunga bunga di padang rumput Anda. Anda hidup setiap kali tertawa anak Palestina, dan setiap kali seorang anak Palestina bernyanyi. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina menulis nama Anda, dan setiap kali seorang anak Palestina menarik peta Anda. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina memegang batu dan impian kebebasan Anda. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina berteriak untuk seluruh dunia mendengar: Saya Palestina. Anda hidup setiap kali bayi lahir Palestina untuk memberitahu Zionis: kita di sini untuk tinggal.

Anda memberi kami nama kami dan memberi kami rumah kami dan itu untuk Anda, Palestina tercinta, bahwa kita menulis, menggambar dan bernyanyi.
Dan itu adalah untuk kebebasan Anda bahwa kita melawan, karena Anda Palestina, ibu kami, dari Sungai ke Laut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Seribu Anyelir untuk Ibu Palestina )

63 Tahun Kemudian, Palestina

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Sejarah, Tahukah Anda |

source: google images

63 tahun kemudian, Palestina,
Saya melihat Anda menunggu, dengan air mata yang menolak untuk turun, menunggu kembalinya anak Anda … menunggu kembalinya anak, kembalinya putri … menunggu anak yang menolak untuk tetap tidak aktif, menolak untuk menonton sementara darah Anda sedang gudang … menunggu anak yang menolak untuk tetap diduduki, menolak untuk tetap tertindas … Saya melihat Anda menunggu anak Anda … dan ketika dia tidak kembali, dilakukan di pundak dari kawan-kawan, Anda menonton anak-anak Anda merayakan pernikahan lain Palestina. Saya melihat Anda menyambut pengantin, saya melihat Anda menyambut mempelai laki-laki. Saya melihat rasa sakit di matamu, aku merasakan sakit di hati Anda. Saya melihat Anda memeluk anak Anda kepada Anda … Anda mencium dahi anak Anda, menghapus darah noda dan senyum di wajah anak Anda … untuk anak Anda telah datang ke rumah.

63 tahun kemudian, Palestina,
Saya melihat Anda menunggu, dalam kesabaran, menunggu kembalinya anak Anda … menunggu kembalinya anak … kembalinya putri … menunggu anak yang menolak untuk tetap tidak aktif, menolak untuk menonton ketika Anda sedang ditahan menunggu … untuk anak yang ingin memutus rantai penangkaran, menyentuh tanah suci Anda, nafas kebebasan … Aku melihat hati Anda pendarahan setiap kali anak Anda disiksa dalam sel interogasi. Aku merasa sakit hati Anda setiap kali anak Anda dilemparkan ke dalam sel isolasi. Saya mendengar Anda menyanyikan lagu cinta kepada anak Anda, saya mendengar Anda menghitung hari sampai dia bebas dari tawanan itu … karena tidak ada kebebasan tanpa kebebasan dari semua anak-anak Anda dan tidak ada kebebasan tanpa kebebasan Anda.

63 tahun kemudian, Palestina,
Saya melihat Anda di sana, duduk di puncak bukit Yerusalem, Nablus, Hebron dan Al-Jalil, mengawasi kami, menunggu kami untuk bangkit, menunggu kami untuk menghapus air mata Anda, menunggu kami untuk menyembuhkan luka Anda. Saya merasa malu, karena kita sibuk dengan segala sesuatu yang lain kecuali membela Anda. Saya merasa malu, karena kita sibuk dengan segala sesuatu yang lain kecuali membebaskan Anda dari perampas Anda. Saya merasa malu, karena kita sibuk dengan segala sesuatu yang lain, semuanya … kecuali Anda. Kami mengucapkan selamat diri pada beberapa protes dilakukan seminggu sekali dan membiarkan Anda untuk menjaga diri sendiri sisa minggu ini … kami mengucapkan selamat diri pada beberapa tindakan yang dilakukan di sana-sini setiap beberapa bulan dan kembali ke “kehidupan seperti biasa” di antara … kami mengucapkan selamat diri pada “sumbangan” kita kirimkan, tentang fungsi amal kita berorganisasi di nama dan mengabaikan bahwa apa yang anak-anak Anda teguh pada kebutuhan tanah Anda adalah salah satu orang di mana pun bersatu dalam aksi menentang pendudukan dan penindasan … kami mengucapkan selamat diri pada mengajar anak-anak Anda teguh di tanah Anda pada “perlawanan” dan bagaimana “menghadapi pendudukan”, bagaimana “co-exist” dengan penjajah merebut tanah Anda, dan berpura-pura bahwa kita, dengan paspor mewah kita dan hidup mewah di Mars, lebih tahu bagaimana anak-anak Anda harus berpikir dan bertindak … kami mengucapkan selamat diri pada banyak bicara kita lakukan, seberapa sering kita menyebut kata-kata: Palestina, Hak Kembali, Yerusalem, Perlawanan … dan mengabaikan negara kita tidak bertindak, penyerahan kita untuk status quo, apatis kita … kita menghibur diri sendiri bahwa kita melakukan sesuatu, ketika kita melakukannya sedikit, ketika kita melakukan apa-apa …

63 tahun kemudian, Palestina,
Aku melihat wajah Anda ke mana pun saya pergi, ke mana pun aku melihat. Saya mendengar suara Anda memanggil kita, meminta kita: ketika akan kita bangun lagi? Kapan kita bangkit lagi? Saya melihat luka Anda, masih berdarah dari 63 tahun. Aku merasa sakit Anda, dan itu menguasai saya. Aku menangis dan kenyamanan saya, Anda mengingatkan saya pada anak-anak Anda yang lain, Anda mengingatkan saya pada Ghassan, Taghreed, Nidal, Dalal, Mohammad dan Ayat. Aku melihat Anda dan Anda menunjukkan Jrash, Deir Aban, Al-Majdal, Yafa dan Bisan. Saya ingin minta maaf dan Anda menggelengkan kepala dan menunjukkan makam para martir, anda tunjukkan anak-anak para martir, anda tunjukkan jalan beraspal oleh para martir. Anda mengingatkan saya pada pemberontakan tahun 1936, dari Intifada pertama, dari Intifada kedua dan, semua pemberontakan kecil semua intifadas kecil di antara keduanya. Anda mengingatkan saya waktu ketika Palestina dari Sungai ke Laut, ketika Palestina dari Haifa, An-Naqb dan Bisan, dari Jenin, Hebron dan Al-Jalil berdiri sebagai satu untuk Yerusalem, berdiri sebagai satu untuk Anda. Anda mengingatkan saya waktu ketika perlawanan adalah prioritas setiap salah seorang anak Anda, ketika perlawanan adalah cara untuk meringankan penderitaan Anda, untuk membebaskan Anda dari perampas Anda. Anda menunjukkan saya rumah-rumah anak-anak Anda, bukit dan lembah-lembah, pohon-pohon badam dan ladang zaitun … anda mengingatkan saya tentang orang-orang yang tidak pernah tidur … orang-orang yang tidak pernah menyerah … orang-orang yang mimpi kembali, dari desa dari mana mereka diusir, dari rumah yang hancur … orang-orang yang teguh meskipun semua teror Zionis, meskipun kolaborator, meskipun penindasan, meskipun dunia apatis dan ketidakpedulian … orang-orang yang percaya pada keadilan, merindukan kebebasan dan bernyanyi hanya untuk Palestina.

63 tahun kemudian, Palestina,
Aku mengeluh kepada Anda tentang orang-orang yang menjual kita, menjual hak kami, menjual Anda … Saya mengeluh kepada Anda tentang orang-orang yang atas nama mempertahankan kepentingan mereka sendiri, kekuatan sendiri dan rekening bank mereka sendiri, telah menandatangani perbuatan untuk menjual- dari 80% dari tubuh suci Anda, telah menandatangani surat kematian Anda, telah membunuh Anda waktu lain dan membunuh setiap anak martir Anda untuk kedua kalinya.
Aku mengeluh kepada Anda tentang orang-orang yang mengaku menjadi anak-anak Anda, mereka yang menjual Anda … Mereka menjual Anda seribu kali lipat, Palestina, dan masih …
Mereka menjual Anda dalam nama “perlawanan”, ketika mereka menyatakan bahwa perlawanan tidak akan diijinkan kecuali “konsep” mereka perlawanan, hanya pemahaman mereka tentang “perlawanan”, yaitu: berbicara tentang pendudukan, bersumpah untuk membebaskan tanah air Anda dari penghuni, tetapi tidak menerjemahkan kata ke dalam tindakan, jangan menentang pendudukan, jangan berjuang untuk kebebasan Anda, menerima pendudukan, menerima penindasan dan menyebutnya “pembebasan”.
Mereka menjual Anda dalam nama “perdamaian”, ketika mereka menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi teror zionis yang sedang berlangsung, kolonisasi terus-menerus, pembersihan etnis, pembantaian, penghancuran rumah, pencurian tanah, satu-satunya “logis” cara untuk menghadapi penjajahan dan penindasan dan penjajahan adalah untuk “berunding, berunding dan bernegosiasi sedikit lebih”.
Mereka menjual Anda dalam nama dari sebuah “negara”, ketika mereka menyerahkan hak-hak kami, tanda jauh perbuatan rumah kami, beri naik 80% dari tanah air sejarah kita, surga kita, surga kita, leluhur kita tukar rumah dan tanah untuk Bantustans, untuk pekerjaan yang ganda, untuk penjara dalam penjara.

Dan kemudian mereka menjual Anda dalam nama “kesatuan”;
Mereka menjual Anda dalam nama “kesatuan” untuk mempertahankan otoritas yang melayani pendudukan, yang membagi orang … sebuah otoritas yang memiliki kewenangan tidak, yang tidak nyata, yang tidak ada di luar “ya” dan “tidak” dari penghuni …
Mereka menjual Anda dalam nama “kesatuan” dan berkata: rakyat Palestina ingin sebuah kesatuan …
Dan orang-orang Palestina menginginkan persatuan … tapi yang berbeda kesatuan …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah kesatuan yang menempatkan Palestina di atas semua kepentingan pribadi …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah kesatuan yang menjaga konstanta Palestina …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah kesatuan yang mewujudkan aspirasi mereka …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah persatuan yang mengarah cara untuk pembebasan …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah kesatuan, sebuah kesatuan yang membawa mengakhiri kolaborasi, untuk konsesi dalam bentuk perundingan, untuk konsesi atas nama “perdamaian”, dalam nama sebuah penjara kecil yang disebut “negara” …
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah persatuan yang akan menyatukan rakyat Palestina, di tanah air dan di Diaspora, menyatukan mereka dalam satu tujuan: pembebasan total.
Orang-orang Palestina menginginkan sebuah kesatuan yang akan menggambar peta Palestina, seperti itu, karena dan karena akan selalu: Palestina: satu dari Sungai ke Laut.

Dan 63 tahun kemudian, Palestina,
Aku ingin menghapus air mata Anda, tetapi Anda menghapus milikku … Aku ingin memelukmu, tapi kau memelukku … aku ingin kenyamanan Anda, tetapi Anda yang menghibur aku … aku ingin bersumpah kepada Anda bahwa kami tidak akan berhenti sampai Anda bebas dari pendudukan zionis dan penjajahan, bahwa kolaborator tidak mewakili kita, bahwa oportunis tidak mewakili kami … dan anda mengatakan kepada saya bahwa ketidakadilan pernah berlangsung, bahwa penjajah tidak akan memiliki perdamaian di tanah Anda, bahwa kolaborator dan oportunis akan berlalu seperti debu dari meja, mereka akan dilupakan, dihapus dari sejarah kecuali sebagai peringatan dan pengingat bagi semua orang yang memikirkan mengkhianati tanah air mereka dan orang-orang mereka …. Dan kau mengatakan bahwa hanya nama Anda dan anak Anda akan tetap setia selamanya diukir di batu Nablus dan Acca, bahwa hanya nama Anda dan anak-anak setia Anda akan terukir pada batang pohon zaitun, bahwa hanya nama Anda dan bahwa anak-anak setia Anda akan dinyanyikan oleh burung pagi, berbisik oleh pohon almond, dibuat di pasir pantai Haifa, Yafa, Akka dan Gaza, dinyanyikan oleh para petani karena mereka menanam kembali padang rumput dari Bisan, dinyanyikan oleh para pekerja karena mereka membangun kembali setiap desa dan setiap rumah …. Palestina, itu adalah nama Anda yang selamanya akan berada di sana … dan nama-nama dari penjajah, para penjajah dan kolaborator akan dilupakan, dihapus, dihapuskan …. Karena, Palestina, hanya dengan Anda lengkap dan satu, bahwa kita lengkap dan satu; hanya dengan Anda Palestina bahwa kita Palestina, karena Anda adalah kami dan kami adalah Palestina.

Dan 63 tahun terlambat, Palestina,
Anda menunjukkan saya tanah dan orang-orang …. Dan kau berbisik: selama tanah berjalan di pembuluh darah Anda, selama hatimu berbisik “tanah” dengan setiap detak jantung, selama orang-orang yang satu dengan tanah, saya akan selalu hidup, aku tidak akan pernah dikalahkan, saya tidak akan pernah ditaklukkan. Dan Anda menunjuk ke bukit-bukit hijau di kejauhan, dengan memeluk gelombang Mediterania matahari terbenam, ke desa-desa teguh, ke reruntuhan menolak untuk menghilang dan berbisik: lihat Palestina.

Dan aku melihat Palestina … ..
Aku melewati rumah-rumah tua, rumah batu indah gelap dengan tahun, berdiri teguh, dikelilingi oleh rumah-rumah asing, berdiri teguh dan menolak untuk pergi. Aku melihat rumah-rumah Palestina dan saya melihat wajah Anda. Saya melihat tangan yang membangun rumah-rumah ini begitu banyak generasi yang lalu dan aku mendengar tawa dari mereka yang hidup mereka dan aku merasakan cinta yang mereka miliki untuk Anda. Aku melihat rumah-rumah ini, batu mereka gelap dengan usia, mencengkeram pohon badam dan apel di sekitar mereka dan berdiri tegak di tanah Anda. Aku mendengar mereka berbisik kepada angin dan matahari dan hujan: kita di sini, kita Palestina.

Aku lari ke puncak bukit, di sepanjang ladang dan kebun …. Aku mengumpulkan bunga poppy dan memberikan doa diam untuk para martir. Aku mengembara di padang rumput dan menyentuh setiap batu suci. Aku berjalan di antara ladang dan mengambil di aroma buah masak. Aku berjalan dengan domba dan kambing atas dan ke bawah bukit-bukit berbatu. Aku melihat wajahmu di bunga almond, dalam kupu-kupu yang flutter sekitar, dalam daun hijau selentingan … aku mendengar suaramu dalam lagu burung di kejauhan, dalam lagu penduduk desa selama panen, dalam lagu dari nelayan di tengah laut, dalam lagu para pekerja, para guru dan para perawat … aku melihat tanah dibalut dalam warna merah, hijau, putih dan hitam, merayakan sebuah rumah yang teguh, merayakan orang-orang yang sabar … Saya mendengar Anda berkata: tanah adalah aku dan aku tanah; cinta tanah, melindungi tanah, membebaskan tanah.

Aku berjalan di lorong-lorong sempit kota tua Yerusalem, bau rempah-rempah yang datang dari segala arah, menyaksikan pernikahan warna ketika aku berjalan dari satu gang yang lain, saya mendengarkan lagu-lagu cinta untuk seorang wanita bernama Palestina, lebih indah daripada, lebih mulia daripada yang lain. Saya lulus tua mengobrol di kafe-kafe dan di sisi jalan, saya tersenyum dan mereka tersenyum kembali. Saya bermain dengan anak-anak berlarian di sepanjang jalan-jalan sempit dari modal Anda, hati Anda, Yerusalem. Saya bergabung dengan wanita di balkon, menyiram pot bunga dan nyanyian seorang wanita yang duduk di atas bukit, menunggu pahlawan, mengenakan kuffiyeh dan membawa bendera Palestina, untuk datang dan membebaskan dirinya dari perampas.

Saya memilih zaitun dengan ibu saya, melihat wajahnya yang cantik seperti bersinar di bawah langit biru Palestina … aku merasa kehangatan dan cintanya saat dia menceritakan kisah masa kecilnya, saat dia memberitahu saya tentang kehidupan di sebuah kamp pengungsi, saat dia memberitahu saya dari kehidupan pengungsi ditolak warisan mereka, warisan mereka, rumah mereka, tanah mereka …. Saya mendengarkan ayah saya menceritakan anak-anak berdiri sampai tentara bersenjata lengkap, menghadapi pemukim bersenjata lengkap datang dari jauh untuk mencuri tanah, untuk membunuh tanah, dan aku melihat harapan di matanya dan aku melihat kamu Palestina, hidup, selamanya …. Aku menyentuh tanah dekat makam nenek saya, saya menempatkan tangan saya di atas batu dan merasakan kehangatan, aku merasa kehangatan Anda, kasih Anda, Palestina. Saya menonton tanaman kakekku pohon zaitun di kamp pengungsi over-ramai, aku melihat dia meneteskan air mata atas ribuan pohon ia ditanam sebagai seorang pemuda kembali ke rumah, aku melihat matanya mengembara, dan aku merasa kerinduan jiwanya itu tempat, untuk surga dari mana ia diusir …. Aku melewati mereka yang bekerja di ladang dan menanam pohon zaitun, saya melewati mengajar mereka anak-anak sekitar satu Palestina dari sungai ke laut, saya melewati mereka membangun kembali rumah mereka dibongkar, saya melewati mereka menghadapi penghuni, penjajah. Saya lulus mereka teguh di tanah mereka meskipun 63 tahun berlangsung teror. Saya melihat orang-orang yang bermimpi rumah mereka di Jrash, Zakaria, Deir Aban, Haifa dan Bisan, mereka yang menolak untuk disebut apa pun kecuali Palestina. Saya melihat mereka … saya melihat ketabahan mereka … saya melihat orang-orang yang menghargai satu atom tanah Anda dari semua kekayaan dunia …. Saya melihat mereka yang lebih memilih sebuah rumah kecil di Um Il-Fahim untuk sebuah vila di Il-Masyoon. Saya melihat orang-orang yang menolak untuk menyerahkan hak untuk kembali ke rumah mereka, mereka yang menolak untuk menerima kurang dari satu Palestina dari Sungai ke Laut, saya melihat mereka yang mengetahui satu-satunya cara untuk bebas adalah melalui perlawanan. Saya melihat orang yang mengasihi kamu, seperti Anda, bukan sebagai penjajah ingin kau, tidak sebagai penjajah ingin kau, bukan sebagai kolaborator ingin kau, bukan sebagai imperialis inginkan. Saya melewati orang-orang ini, orang-orang saya, Palestina …

Aku melihat peta dan aku melihat tanah airku … aku melihat tanah air kita belajar untuk menarik sebagai anak-anak, saya melihat tanah air kita diukir ke batang pohon, kami menarik pada buku catatan kami, kami dijahit ke kuffiyehs kita …. Aku melihat tanah air kita dipahat pada batu …. Aku melihat tanah air kita menarik pada gelombang Mediterania … aku melihat tanah air kita dicat melawan langit biru …. Aku melihat tanah air bersaing, tidak kehilangan satu inci … Dan aku melihat orang-orang yang pikirannya diarahkan hanya satu tempat, yang hatinya mengalahkan hanya untuk satu tempat …. Saya melihat orang-orang berbaris di ratusan, dalam ribuan, dalam jutaan menuju satu tempat … .. Saya melihat Palestina menyeberangi lautan, melintasi langit, melintasi tanah untuk mencapai Anda Palestina …. Saya melihat Palestina melanggar perbatasan, menghadapi penjajah untuk menjadi satu dengan kamu Palestina … Aku melihat Palestina membuka hatinya dan menyambut jutaan … saya lihat Palestina berenang di lautan hijau, merah, putih dan hitam …. Saya melihat Palestina bebas …

Dan 63 tahun, Palestina,
Saya melihat anak-anak Anda, hati mereka memukul hanya untuk anda … setelah 63 tahun, hati mereka hanya memukul untuk anda …. dan aku tahu, hitungan mundur telah dimulai dan berbaris telah dimulai dan Anda tidak perlu menunggu lebih lama lagi sekarang, sayang Palestina ….

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on 63 Tahun Kemudian, Palestina )

Cerita 3 desa Palestina

Posted on 22/05/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

Picture2501

Setiap tahun sejak Juni 1967, Israel merayakan Hari Yerusalem. Untuk Palestina, itu adalah hari untuk memperingati, untuk bersatu, dan melanjutkan perjuangan untuk Palestina merdeka dan Yerusalem merdeka. Untuk Palestina, Al Quds bukan hanya tempat-tempat suci, rumah-rumah kuno dan indah jalan-jalan tua dan lorong-lorong, itu tanah dan orang-orang. Zionis tidak malu merayakan “negara” yang dibangun pada tubuh Palestina dan di atas reruntuhan rumah mereka dan desa. Pidato dan artikel pada acara-acara seperti itu sering berbicara tentang betapa bangganya mereka tentara mereka, mereka “orang berani” berjuang untuk negara mereka: sebuah negara yang disirami dengan darah korban yang tidak bersalah, bukan darah “berani” nya laki-laki, karena tidak ada keberanian dalam memerangi penduduk sipil yang tak bersenjata, dalam pembunuhan anak-anak kecil dan berjalan di tubuh perempuan diperkosa dan peluru-riddled tua untuk mencapai suatu negara. Mereka hanya berani selama mereka bersenjata lengkap, mengambil dari mereka mesin mereka senjata, tank dan Apache dan tidak satu tentara dari “pasukan berani” berani melawan seorang anak kecil tak bersenjata Palestina. Di internet ada tak terhitung video dan foto yang menunjukkan betapa “berani” mereka tentara: bersenjata berat mereka menembak pada anak-anak sekolah kecil, memukuli perempuan dan orang tua, dan mengambil foto dekat tubuh Palestina dibunuh sebagai souvenir dari mereka ” piala “. Tetapi ketika senjata mereka diambil dari mereka, mereka mulai menangis dan lebih cepat dari angin. Ya, Zionis, dengan ideologi mereka dan sejarah, memiliki sejumlah hal untuk “merayakan” dan “bangga”: daftar dari semua “berani” tindakan Zionis dan tentara mereka dan “negara” mereka, terhadap Palestina dan bangsa lain, akan terlalu panjang, sehingga beberapa kata kunci: Suku pembersihan, pembantaian, pencurian (tanah pencurian, pencurian properti, pencurian budaya, dll …). Seperti dengan Nakba tahun 1948, selama tahun 1967 Nakba tentara Israel, “tentara berani dan paling moral di dunia”, dilakukan terorganisir dan pembersihan etnis besar-besaran dan kehancuran, terutama di Yerusalem Timur dan daerah sekitarnya.

Daerah Latroun, terkenal karena banyak sumber air dan tanah yang subur, terletak di sebelah barat laut Yerusalem dan dekat dengan Jalur Hijau. Sebelum tahun 1948, daerah ini terdiri dari sejumlah desa yang indah: Latroun, Imwas, Yalu, dan Beit Nouba. Imwas sendiri memiliki populasi penduduk 1450 dan dimiliki beberapa 55.000 dunums lahan pertanian. Selama Nakba tahun 1948, para teroris Zionis mencoba Imwas menduduki beberapa kali, namun dikalahkan. Sebagai hasil dari perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada saat itu, kehilangan beberapa Imwas 50.000 dunums tanah, beberapa di antaranya menjadi tanah No-Man’s. Desa Latroun, pembersihan etnis penghuni yang dipaksa untuk pindah ke Imwas di dekatnya, jatuh dalam tanah ini No-Man ditugaskan. Selama perang tahun 1967 dan dengan penarikan tentara Yordania, tentara Israel mampu menduduki daerah Latroun. Tiga Latroun desa: Imwas, Yalu dan Beit Nouba, adalah etnis dibersihkan sebelum benar-benar dihapuskan dari peta. propaganda Zionis mengklaim bahwa 3 desa sudah kosong ketika tentara Israel tiba. Tapi kesaksian warga dari 3 desa, di samping kesaksian dari beberapa tentara Israel yang hadir pada waktu itu, berbicara tentang pengusiran paksa direncanakan. Israel fotografer Hochman Yosef, yang didampingi tentara pada saat itu, melaporkan bahwa ketika ia bertanya Mayor Jenderal Narkiss Uzi, yang Komandan Jenderal Komando Tengah pada tahun 1967 dan memberikan perintah untuk kehancuran desa-desa, mengapa 3 Latroun desa hancur, “. Narkiss menjawab bahwa itu adalah pembalasan atas apa yang terjadi di sana pada tahun 1948” (1) Dalam kenangan tentang perang 1967, Moshe Dayan menulis tentang kehancuran desa-desa Latroun dan setengah Qalqilya: “[rumah hancur] tidak dalam pertempuran, tetapi sebagai hukuman … dan untuk mengusir penduduk “(2).

Pada pagi hari tanggal 6 Juni, Unit 4 dari tentara Israel memasuki 3 desa disertai dengan tank dan buldoser, namun bukti lain bahwa kerusakan adalah pra-direncanakan. Sebagian besar penduduk tetap tinggal di rumah mereka, karena mereka takut pengulangan dari pengusiran 1948 dan karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. Beberapa telah meninggalkan hari sebelumnya dalam ketakutan pembantaian sama dengan yang dilakukan selama Nakba. Orang lain menemukan perlindungan di Biara Imwas dekatnya. Dalam Imwas, di bawah perintah Yitzhak Rabin, jeep lapis baja militer wan-dered jalan-jalan dan dengan pengeras suara memerintahkan warga untuk meninggalkan, memberi mereka hanya 3 jam untuk mengumpulkan harta milik mereka. Banyak menolak untuk pergi, jadi mereka dipaksa di bawah ancaman pistol sebelum buldoser mulai meratakan rumah-rumah. Para tentara Israel mengatakan kepada warga untuk pergi ke desa-desa terdekat seperti Yalu dan Beit Nouba, yang juga sedang melakukan pembersihan etnis. Sebagai warga desa membuat jalan keluar dari 3 desa di kelompok, tentara menembak di atas kepala mereka untuk bergegas mereka dan sebagai peringatan untuk tidak datang kembali. Zahda Abu Qtaish dari Imwas ingat: “Mereka menyuruh kami untuk datang dengan anak-anak untuk (komunitas-pemimpin) rumah Mukhtar’s. Aku menjawab bahwa aku tidak bisa, aku punya roti panggang dalam oven, lemari terbuka, rumah itu tidak rapi, ayam-ayam lapar. Orang Yahudi berkata itu tidak penting, yang kemudian saya bisa kembali dan memperbaiki semuanya. Aku mengambil anak-anak. Salah satu memegang tangan saya, satu di bahu saya, satu memegang gaun saya. Ketika kami tiba di rumah Mukhtar itu, Israel mengatakan untuk terus berjalan, untuk pergi ke Yula. Aku memohon bahwa rumah itu terbuka, bahwa roti di oven. Kami meninggalkan segalanya, pakaian kita, uang kita, semuanya. Ketika saya sampai Yula, kaki saya menyerah. Semua orang dari Imwas ada di sana. Kami disuruh untuk terus berjalan. Kami berjalan selama tiga hari ke Ramallah (utara Yerusalem). Banyak orang meninggal di jalan. kaki saya berdarah. Selama dua bulan berikutnya kami tidur di bawah pohon. Kami tidak punya tenda, tidak ada selimut. Kami tidur di kotoran. Keluarga saya haus dan lapar “(3).

Picture2503 Bahkan mereka yang menemukan pengungsi di biara Latroun dekatnya juga diusir oleh tentara Israel. Dalam sebuah kesaksian yang dibuat oleh Al-Haq, Nihad Thaher dari Imwas bercerita: “Pada fajar keesokan paginya, 6 Juni 1967, beberapa biarawati pergi ke luar untuk menginformasikan kepada tentara Israel yang beberapa warga desa Imwas hadir di dalam biara. Para tentara meminta kami semua untuk keluar. Setelah kami melakukannya, kami diberitahu oleh salah satu kapten Israel untuk berjalan sepanjang jalan ke kota Ramallah. Dia mengatakan kepada kami untuk tidak kembali ke rumah kami dan mengancam akan membunuh kami jika kami lakukan … dengan demikian, kami diusir pada Kamis 6 Juni 1967. Para tentara Israel yang berjajar di kedua sisi jalan dan akan menegur siapa saja yang meminta izin untuk pergi ke rumah mereka untuk membawa susu atau makanan untuk anak-anak mereka. Saya adalah salah satu dari mereka yang bertanya seperti yang saya istri dan tiga anak-anak untuk mengurus. Anak saya tertua berumur lima tahun, yang kedua adalah 3 tahun dan yang termuda berusia 8 bulan. Anak-anak saya yang bertelanjang kaki dan setengah telanjang. Kami berjalan kaki antara jip Israel dan tank terhadap Beit Nouba, dan kemudian ke Beit Liqya. Di sana, tentara Israel menemukan seorang prajurit Yordania berusaha untuk menyerah. Mereka mulai mengalahkan dia di depan semua orang dan kemudian menembak dan memenggal kepalanya “(4) Abu Ahmad Ghoush dari Imwas bercerita:”. Beberapa keluarga pergi ke Kementerian Latroun percaya mereka akan aman di sana karena itu adalah tempat yang Kristen tetapi mereka tidak. Keluarga saya pertama kali pergi ke Yalu, kemudian Beit Nouba, lalu ke Beit Ur sebelum akhirnya dipaksa untuk berjalan sepanjang jalan ke Ramallah. Para tentara mengosongkan semua rumah di desa-desa dan dipaksa keluar semua orang ke jalan-jalan. Satu-satunya cara terbuka adalah ke Ramallah dan mereka menyuruh kami untuk pergi ke sana. tentara lainnya adalah mengatakan `Pergi ke Jedah, seluruh tanah sebelum ada adalah milik kita dan jika Anda berhenti sebelum Jedah kami akan membunuhmu!` … orang mengambil kunci, hal-hal kecil, beberapa dipaksa untuk pergi tanpa sepatu atau pakaian yang nyata, mereka dipaksa keluar hanya dalam pakaian tidur mereka, saya melihat orang-orang berjalan tanpa alas kaki. Kami berjalan sepanjang jalan ke Ramallah, 32 km tanpa makanan atau air, itu membawa kami sekitar sembilan atau sepuluh jam. Empat orang dari desa meninggal selama perjalanan ini “(5) ‘Aisyah Hammad, yang tinggal di pinggiran Yalu bersaksi kepada Al-Haq:”. Pada hari keempat, saya percaya itu adalah 9 Juni 1967, beberapa orang yang melarikan diri desa kembali. Pada malam hari, suami saya pulang dan berkata: Israel berada di desa dan mereka panggil melalui pengeras suara “Orang Israel itu bilang” semua penduduk Yalu harus pergi ke Ramallah.. Mereka yang tidak akan berada dalam bahaya “Saya punya 3 anak saya siap, tapi tidak bisa membawa apa-apa, karena saya hamil enam bulan.. Kami berjalan ke desa terdekat Beit Nouba, hanya satu kilometer dari Yalu. Saat aku memasuki Beit Nouba, saya melihat beberapa buldoser dijaga oleh tentara Israel meratakan rumah di desa tersebut ke tanah “(6) Dalam Film dokumenter”. Memori dari “Cactus, disutradarai oleh Hanna Musleh, komentar Hochman pada foto ia mengambil pada saat pasangan tua dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka: “Aku mengambil foto beberapa mencoba untuk meletakkan segala sesuatu ke keledai dan itu jatuh. Dengan seorang prajurit menunggu mereka untuk mencoba lagi, dan jatuh lagi. “(7) gembira pada wajah prajurit menunjukkan berapa banyak penjahat menikmati apa yang mereka lakukan.

Hari-hari pertama pendudukan, buldoser digunakan untuk meratakan rumah-rumah, kemudian dengan kedatangan unit engineer-ing tentara Israel, bahan peledak digunakan untuk ledakan rumah dan melenyapkan 3 desa sepenuhnya. Rumah, sekolah dan mesjid hancur. Ini penghancuran besar-besaran aset, disertai dengan menjarah-ing, berlangsung selama dan setelah perang. Beberapa hari kemudian, tentara Israel mengumumkan di radio bahwa penduduk desa-desa bisa kembali. Tapi ketika mereka kembali, mereka tidak hanya ditemukan desa-desa mereka hancur, tetapi juga ditembak oleh tentara Israel, menewaskan beberapa dari mereka (itu dilaporkan bahwa sedikitnya 5 warga Palestina tewas dengan cara ini). Amos Kenan, seorang wartawan yang menjabat sebagai seorang prajurit selama perang tahun 1967, teringat kisah Beit Nouba:
“Kami diberitahu itu adalah tugas kita untuk mencari rumah-rumah desa, bahwa jika kami menemukan ada orang-orang bersenjata di sana, mereka harus diambil tahanan. Setiap orang bersenjata harus diberikan waktu untuk berkemas barang-barang mereka dan kemudian mengatakan untuk mendapatkan bergerak – bisa pindah ke Beit Sira, sebuah desa tidak jauh. Kami juga diperintahkan untuk mengambil posisi di sekitar pendekatan ke desa-desa, untuk mencegah orang-orang desa yang telah mendengar jaminan Israel melalui radio bahwa mereka bisa kembali ke rumah mereka dalam damai – dari kembali ke rumah mereka. Perintah itu – menembak di atas kepala mereka dan mengatakan mereka tidak ada akses ke desa. Rumah di Beit Nouba adalah rumah batu yang indah, beberapa dari mereka rumah susun mewah. Setiap rumah berdiri di anggrek zaitun, aprikot dan anggur, ada juga pohon-pohon cemara dan pohon-pohon lain tumbuh karena keindahan dan naungan yang mereka berikan. Setiap pohon berdiri di tempat tidur yang disiram dengan hati-hati. Antara pohon, berbaring rapi Hoed dan disiangi baris sayuran. Di siang hari buldoser pertama tiba, dan mencangkul di bawah rumah terdekat ke tepi desa. Dengan satu sapuan buldoser, pohon-pohon cemara dan zaitun-pohon tumbang. Sepuluh menit lagi berlalu dan rumah, dengan sedikit perabot dan harta benda, telah menjadi reruntuhan massa. Setelah tiga rumah telah mendayung bawah, konvoi pertama pengungsi tiba, dari arah Ramallah. Kami tidak menembak ke udara. Kami tidak mengambil posisi untuk cakupan, dan mereka yang berbicara bahasa Arab pergi ke mereka untuk memberi mereka perintah. Ada orang tua tidak mampu berjalan, wanita tua bergumam untuk diri mereka sendiri, bayi dalam pelukan ibu mereka, anak-anak kecil menangis, memohon untuk air. Konvoi melambaikan bendera putih. Kami memberitahu mereka untuk bergerak ke Beit Sira. Mereka mengatakan bahwa di mana pun mereka pergi, mereka diusir, bahwa tempat itu mereka diperbolehkan untuk tinggal. Mereka mengatakan mereka telah di jalan selama empat hari sekarang – tanpa makanan atau air, beberapa telah tewas dalam perjalanan. Mereka meminta hanya akan diizinkan kembali ke desa mereka sendiri dan berkata bahwa kami akan lebih baik untuk membunuh mereka. Beberapa telah membawa mereka kambing, domba, unta maupun keledai. Seorang ayah berderak butir gandum di tangannya untuk melunakkan mereka sehingga empat orang anak-anak mungkin memiliki sesuatu untuk dimakan. Di cakrawala, kami melihat baris berikutnya mendekat. Seorang pria membawa karung 50 kg tepung di punggungnya, dan itu bagaimana dia telah berjalan bermil-mil jauhnya. Lebih tua laki-laki, perempuan lebih banyak, lebih banyak bayi. Mereka menjatuhkan diri kelelahan di tempat di mana mereka disuruh duduk. Beberapa orang membawa seekor sapi atau dua, atau anak sapi – semua harta duniawi mereka. Kami tidak mengizinkan mereka untuk pergi ke desa untuk mengambil barang-barang mereka, karena perintah itu bahwa mereka tidak harus diizinkan untuk melihat rumah mereka hancur. …. Kami bertanya kepada petugas mengapa para pengungsi sedang dikirim bolak-balik dan diusir dari mana-mana mereka pergi. Para petugas mengatakan akan melakukannya baik untuk berjalan dan bertanya “mengapa khawatir tentang mereka, mereka hanya orang-orang Arab”? …. Semakin banyak baris pengungsi terus berdatangan. Pada saat ini pasti ada ratusan dari mereka. Mereka tidak bisa mengerti mengapa mereka telah diberitahu untuk kembali, dan sekarang tidak diperbolehkan untuk kembali … com pleton-Mander memutuskan untuk pergi ke kantor pusat untuk mencari tahu apakah ada perintah tertulis mengenai apa yang harus dilakukan dengan mereka, dimana untuk mengirim mereka dan untuk mencoba dan mengatur transportasi bagi para wanita dan anak-anak, dan persediaan makanan. Dia kembali dan mengatakan tidak ada perintah tertulis, kami adalah untuk mengusir mereka pergi. Seperti domba yang hilang mereka pergi mengembara di sepanjang jalan. Para kelelahan adalah menyelamatkan (Dalam kesaksian lain, Kenan menulis di sini: yang lemah mati (8)). Menjelang sore kami mengetahui bahwa kami telah menceritakan sebuah kepalsuan – di Beit Sira juga buldoser mulai bekerja mereka kehancuran, dan para pengungsi tidak diizinkan untuk masuk. Kami juga belajar bahwa itu bukan di sektor kami sendiri bahwa daerah sedang “diluruskan”, yang sama terjadi di semua sektor “(9) Sebagian dari mereka pergi ke Ramallah, di mana mereka tidur di stasiun bis selama seminggu. , tapi mayoritas berjalan sepanjang jalan ke Jembatan dan menyeberang ke Amman. Selama ini Nakba kedua, sekitar 400.000 orang Palestina diusir dari rumah mereka. Pada tahun 1988 Narkiss berbicara tentang operasi transfer dalam sebuah wawancara: “Saya ditempatkan beberapa bus di Yerusalem dan di kota-kota lainnya (dari tepi barat), yang ditulis pada mereka:” ke Amman – gratis “bus digunakan untuk membawa mereka ke (sebagian) hancur jembatan Allenby dan kemudian mereka akan menyeberang (ke jordan) “Dia juga menyebutkan panggilan telepon harian Pinhas Sapir, Menteri Keuangan pada saat itu:”. Pinhas Sapir digunakan untuk telepon saya dua kali sehari, untuk bertanya: bagaimana banyak [Arab] keluar hari ini? Adalah jumlah penduduk bank Barat menurun? Jumlah [orang yang diangkut oleh bus] dimulai dengan 600 orang dan 700 hari, dan kemudian mulai menurun hingga mencapai beberapa skor, dan setelah dua atau tiga bulan [bus] operasi berhenti “(10).

Picture2513 Meskipun sering ditolak oleh Israel, beberapa rumah hancur di kepala penduduk mereka, orang-orang yang kebanyakan tua dan cacat, yang baik menolak meninggalkan atau tidak memiliki cukup waktu untuk pergi sebelum penghancuran dimulai. Beberapa meninggal dalam perjalanan ke Ramallah dan tempat-tempat lain setelah diusir oleh tentara Israel, dan lainnya ditembak mati oleh tentara Israel karena mereka berusaha untuk kembali ke desa mereka. Para biarawan Latroun pergi ke hari Imwas setelah desa telah diduduki. “Bapa Tournay, imam Katolik yang tinggal di Timor-lem Jerusa sejak tahun 1945 dan kepala Biblique Ecole sana, kata para biksu Latroun” mencium bau badan (11) “membusuk di dalam rumah dibongkar.” Dalam kesaksian yang dikumpulkan oleh Al-Haq , sejumlah saksi mata, yang menyelinap ke dalam 3 desa segera setelah kehancuran, menyebutkan mayat di bawah reruntuhan rumah atau badan membusuk di daerah tersebut. Di Beit Nouba, setidaknya 18 penduduk ditemukan tewas di bawah reruntuhan rumah mereka. Ahmad Isa dari Beit Nouba bersaksi: “Kami mencoba masuk desa dari beberapa lokasi, tapi kami dilarang melakukannya oleh tentara. Dengan demikian, kami terpaksa berlindung di Beit Sira, yang dekat dengan desa kami. ayah saya dan saya menyelinap ke rumah kami di Beit Nouba untuk membawa kembali makanan, minyak dan kasur. Kami melihat hal-hal yang mengerikan di sepanjang jalan, yaitu beberapa pria dan wanita yang telah dibunuh: Lutfi Mahmoud Hassan Abu Rahhal, Mahmoud Ali Baker, yang buta dan yang tampaknya telah tewas akibat rumahnya dibongkar, sementara dia berada di dalam itu … tubuh lain 3 pria yang juga mati itu dibuang antara pepohonan:. Al Abed Ayyad, Isa Muhammad dan Abdallah Zuhdi “(12) Dr Ismail Zayid dari Beit Nouba bercerita:” Selama tentara Israel pendudukan dan perusakan desa saya Beit Nouba pada bulan Juni 1967, 18 orang tewas di bawah reruntuhan rumah mereka dibongkar karena mereka terlalu tua atau dinonaktifkan untuk keluar dari rumah-rumah mereka dalam waktu, sebelum bahan peledak Israel dilakukan untuk menghancurkan rumah-rumah … . Salah satu dari mereka yang tewas adalah Mohammad Ali Bakar, seorang paman ibu saya. Dia sudah tua dan lemah, dan dikubur hidup-hidup di bawah reruntuhan rumahnya di Beit Nouba, tidak jauh dari kita. Ibu saya juga mengatakan kepada saya bahwa ketika tentara Israel datang untuk meledakkan rumah kami, mereka mengatakan kepada paman saya Hussain Zayid, seorang pria tua dan rematik yang memiliki kemampuan untuk bergerak sangat terbatas, bahwa mereka pertama akan meledakkan bagian barat rumah kami, yang berada dalam segi empat berdinding. Mereka mengatakan mereka kemudian akan pindah ke bagian timur menghancurkan rumah, dan harus ia masih berada di sana, ia tidak akan diberi kesempatan untuk meninggalkan “(13). Pada Imwas, sedikitnya 10 warga yang tidak bisa meninggalkan mereka rumah karena mereka baik tua atau cacat, yang sampai hari ini belum ditemukan, diduga telah tewas di dalam rumah mereka ketika tentara Israel menghancurkan rumah-rumah. A 5 lanjut setidaknya meninggal dalam perjalanan ke Ramallah atau terbunuh oleh ranjau darat. Ahmad Abu Ghoush ingat: “Ada sepuluh tetua di desa termasuk satu orang penyandang cacat. Mereka tidak pergi. Kita tahu mereka tidak pergi karena mereka tidak bisa, namun tak seorang pun melihat salah satu dari mereka lagi setelah malam itu. Seorang tentara telah menulis sebuah kesaksian yang mengatakan dia melihat satu lagi menceritakan orang-orang tua untuk meninggalkan rumahnya, namun orang itu menolak dengan mengatakan ‘Saya tidak bisa berjalan dan aku tidak akan pergi! Anda dapat membunuh saya, tapi aku tidak akan meninggalkan `” (14) Dr Musa Abu Ghosh dari Imwas ingat: “Terlepas dari semua kesulitan, beberapa orang muda berhasil menyusup kembali ke rumah mereka untuk mengambil beberapa barang, dan ketika mereka menggali ke dalam puing-puing, beberapa mayat yang ditemukan. Seorang kerabat saya adalah menemukan cara – Hasan Shukri, anak sepupu saya. Dia adalah 19, invalid, lumpuh dari polio. Mereka menemukan tubuhnya di bawah rumahnya “(15) Ali Salma dari Yalu berkata:”. Setelah 20 hari (menjelang akhir Juni), saya, bersama-sama dengan penduduk lain desa saya, pergi ke Yalu melalui, pegunungan lembah dan bidang . Ketika kami tiba di Beit bidang Nouba, saya melihat 4 mayat diletakkan di samping satu sama lain. Mereka adalah: Ibrahim Shuebi, Al Abed Tayeh, Zuheir Zuhdi dan Isa Abu Isa. Semuanya berasal dari Yalu. Saya tidak memeriksa mayat karena bengkak. Kami memasuki desa di sekitar tengah malam. Kami pertama kali pergi ke rumah dibongkar Abu Wasim dimana kita melihat tubuh Isa Ziyada dan rumah dibongkar lagi. Kami berdua sangat takut. Kami berdua mengambil beberapa barang dari puing-puing rumahnya dan kiri untuk kembali ke Kharbatha “(16).

Ketika tentara Israel dilakukan dengan “tugas” mereka, lebih dari 10.000 orang telah diusir secara paksa, tidak kurang dari 39 warga dilaporkan tewas atau sampai hari ini belum ditemukan. Dalam artikelnya “Kemarahan di Emwas”, John Goddard menulis: “Aku mengumpulkan 39 nama orang-orang dikatakan telah tewas di desa-desa, 17 dari Imwas, 11 dari Beit Nouba, dan 11 dari Yalo.” (17) Beberapa rumah 1464 hancur: 375 di rumah Imwas, 539 di Yalu dan 550 di Beit Nouba. Beberapa bulan kemudian, para penduduk desa diizinkan kembali ke Latroun, tetapi hanya untuk mengumpulkan hasil panen mereka. “Kakak saya mengendarai truk kami. Kami melihat semuanya hancur, hanya masjid itu masih berdiri. Orang-orang menangis dan menangis, ada yang hanya berdiri, melihat, berkata-kata … beberapa telah kehilangan seluruh tanah mereka pada tahun 1948 tetapi harus berusaha untuk membangun kembali kehidupan mereka dan sekarang semua itu terjadi lagi. Orang-orang membutuhkan sesuatu sehingga mengambil apa saja yang mereka bisa menemukan dan dimasukkan ke dalam ke dalam truk. Beberapa orang menemukan seekor domba atau kambing, tetapi rumah-rumah hancur total. Kami menemukan kami `cawasheen` (sebuah kotak besar berisi dokumen-dokumen penting seperti perbuatan untuk properti dan tanah) tapi tidak bisa mendapatkan baju atau apa pun. Kami tahu tidak ada yang tersisa tapi kami ingin melihat apa yang terjadi dengan desa kami … “(18) Reporter Inggris Michael Adams mengunjungi Imwas pada tahun 1968, menulis:” Ketika rekan saya dan saya datang ke Beit Nouba 6 bulan setelah Kenan, banyak telah berubah. Paling signifikan, reruntuhan telah menghilang. Ini telah mengambil Israel 6 bulan untuk membersihkan, dalam kerahasiaan yang besar, sedangkan relay sukarelawan terlibat dalam tugas ini mengerikan, pihak berwenang menutup jalan pendekatan untuk Latroun …. Tanpa panduan, saya mungkin seharusnya didorong langsung melalui tanpa menyadari bahwa telah terjadi desa-desa di sini. Regu pembongkaran telah menyeluruh. Tetapi ketika kita menghentikan mobil dan keluar untuk melihat, ada banyak tanda-tanda kirim-kisah, itu tidak mudah, bahkan dalam 6 bulan, untuk menghapus seribu tahun sejarah tanpa meninggalkan jejak. Ada beberapa potong batu, ubin pecah, sebuah batang bengkok baja dari beberapa ekstensi beton dan – tanda pasti bahwa orang-orang yang pernah tinggal di sini – pagar kaktus, yang Palestina gunakan untuk melindungi kebun mereka dan kebun melawan perampok, yang mulai tumbuh kembali. Mereka sangat sulit untuk memberantas “(19) 1970, penyelesaian ilegal” Mevo Horon “dibangun di atas tanah Beit Nouba.. Tiga tahun kemudian, Dana Nasional Yahudi Kanada mendanai pendirian sebuah taman rekreasi, Taman Kanada, di atas reruntuhan Imwas dan Yalu. Zahda Abu Qtaish dari Imwas berkata ketika dia pertama kali mengunjungi Taman Kanada: “Aku tidak percaya itu … rumah saya turun ke tanah. Mereka telah mengubah desa menjadi taman. Mereka menyebutnya Kanada Park. Aku menangis dan menangis “(20) Ahmad Abu Ghoush dari Imwas berbicara tentang kunjungannya ke taman:” Ketika kembali ke taman aku memiliki perasaan campuran.. Ini sangat sulit, berdiri di atas reruntuhan di mana Anda pernah tinggal sementara orang melihat tertawa, makan dan menikmati diri mereka sendiri “(21).

Pembersihan etnis dari 3 desa Latroun hanya satu contoh dari pembersihan etnis sedang berlangsung di Palestina dan Judization Yerusalem. Pada tahun 1948, Israel menduduki 85% dari Yerusalem (bagian barat), 4% yang menyatakan tanah No-Man, dan 11% sisanya (termasuk dengan Kota Tua) jatuh di bawah kekuasaan Yordania. Sampai 80.000 orang Palestina dipaksa keluar dari rumah mereka di Yerusalem Barat dan 40 desa sekitarnya. Desa-desa musnah dari muka bumi dan rumah-rumah, tanah dan harta disita. Pada bulan Juni 1967, selama dan setelah perang, Palestina diusir dari Yerusalem Timur dan desa-desa sekitarnya, seperti desa Latroun. Perang resmi atas pada 10 Juni 1967 dan pada malam 10/11th Juni, Israel dimulai dengan langkah pertama untuk Judize Jerusalem Timur: pembersihan etnis dan penghancuran Triwulan Magharbeh dan lingkungan Al-Sharaf dari Kota Tua. Mengingat hanya 3 pemberitahuan jam, warga Triwulan Magharbeh diperintahkan untuk berkemas barang-barang mereka dan pergi. Quarter ini kemudian dihancurkan untuk membuat tempat untuk sebuah alun-alun di depan Tembok Barat. Palestina yang tinggal di lingkungan Al-Sharaf juga diusir untuk memperbesar Quarter Yahudi. Antara lain, Ben-Gurion, Dayan, Kollek dan Lahat bertanggung jawab atas perusakan lingkungan ini Palestina. Penggusuran dan penghancuran dilakukan dengan cepat untuk menghindari perhatian internasional dan kritik. Para penduduk telah dihapus dengan paksa dari rumah mereka oleh tentara Israel. Buldoser siap, dan perintah adalah untuk menyelesaikan penggusuran dan perusakan malam yang sama. Al Sharaf lingkungan dan Triwulan Magharbeh dikosongkan dari penduduk mereka: lebih dari 6000 orang Palestina diusir dari rumah mereka dan diperkirakan 135 rumah hancur di Kota Tua. Batas-batas Yerusalem digambar ulang oleh kepala komando pusat pada saat itu, Rahavan Ze’evi. “Garis ia menarik” ambil di bukan hanya 5 km ² Yerusalem Timur Arab – tetapi juga 65 km ² di sekitarnya negara terbuka dan desa-desa, sebagian besar yang tidak pernah punya link kota ke Yerusalem. Semalam mereka menjadi bagian dari modal Israel kekal dan tak terbagi “(22). Pada tahun 1980, Yerusalem Timur dianeksasi ke Israel.

Mayor Jenderal Narkiss, yang adalah Komandan Jenderal Komando Tengah pada tahun 1967 dan telah menyetujui penghancuran Triwulan Magharbeh, ingat sebelum kematiannya pada tahun 1997 yang beberapa jam setelah merebut Yerusalem Timur, ia didesak oleh Rabi Goren untuk meledakkan Aqsha masjid. Meskipun ingin Rabi Goren itu tidak terpenuhi, itu adalah yang pertama dari upaya banyak masa depan oleh orang Yahudi fanatik dan pemerintah Israel untuk menghancurkan Aqsa, baik secara langsung oleh usaha untuk membakarnya atau tidak langsung dengan membangun terowongan di bawahnya. Penggalian di bawah Masjid Aqsha dan daerah sekitarnya itu berlanjut, dan beberapa terowongan digali di bawahnya melemahkan fondasinya. Pada saat yang sama, sangat dibutuhkan renovasi ke Aqsha dan sekitarnya tidak diizinkan. Saat ini, hampir tidak ada lingkungan Palestina di Yerusalem yang tidak terancam dengan kehancuran, pembongkaran dan pembersihan etnis. Meskipun kritik internasional, Israel terjadi dalam Judization atas Yerusalem. Sementara pemukim Yahudi ilegal dari seluruh dunia yang diperbolehkan untuk membeli properti di Yerusalem dan menetap di dalamnya, dan pemukiman ilegal yang berkembang pesat dengan cincin setelah cincin mencekik permukiman kota dan desa-desa Palestina dan kota-kota sekitarnya, Jerusalemites Palestina kehilangan rumah mereka dan tanah mereka dan hak kelahiran mereka di kota Yerusalem mereka. Sementara Israel terus pendudukan brutal militer dan kehancuran Yerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza, Palestina memiliki dua “perdana menteri” dan dua set dari “lemari” dan “dewan legislatif” yang bangunan off-batas untuk Palestina dan dimana “perwakilan dari otoritas yang disebut” baik terkunci di penjara-penjara Israel, di penjara terbuka Gaza atau Tepi Barat ghetto atau perlu izin Israel untuk beralih antara Zona A, B atau C, D, E dan F dan semua sisanya. Mungkin sementara mereka memperebutkan siapa yang menjadi presiden berikutnya, mereka mungkin ingin berhenti sebentar dan ingat bahwa negara mereka berjuang untuk rule MASIH bawah pendudukan militer dan bahwa “mereka” orang-orang baik yang dibantai atau diusir oleh ini pendudukan brutal.

Picture2499 Saat ini, penduduk asli dari desa Latrun dan keturunan mereka yang tersebar di seluruh dunia, beberapa tinggal di daerah Ramallah, yang lain di Yordania. Adams menemukan kesulitan untuk meyakinkan editor untuk menerbitkan artikel tentang desa Latroun. “Pemerintah Israel dan siapapun dalam perintah tentara memberi perintah untuk menghancurkan desa-desa, pasti berpikir bahwa adalah mungkin untuk mengatur ulang baik sejarah dan geografi dengan cara ini: bahwa jika mereka pergi mengangkut puing-puing dan meraup atas tanah dan bibit ditanam dimana rumah 9000 orang telah, semua yang mereka lakukan, mereka akan bisa lolos begitu saja. Mengapa? Karena Holocaust, dan karena editor koran Barat tidak suka disebut anti-Semit “(23). Ketika Israel menawarkan uang kepada penduduk Latroun sebagai kompensasi atas tanah curian mereka dan rumah yang hancur, mereka menolak. Ahmad Abu Ghoush dari Imwas ingat: “Ayahku adalah pada komite yang dinegosiasikan dengan Israel. Mereka menawarkan uang sebagai kompensasi atas tanah kami dan rumah. Ayah saya mengatakan kepada mereka `kami tidak akan menerima semua uang di dunia untuk satu dunum dari Imwas, dan kami tidak akan menerima satu dunum di surga untuk satu dunum di Imwas!`. The Israel mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki tiga pilihan `… satu, Anda bisa pergi dengan cara yang sama sebagai Abdul Hameed (seorang aktivis Palestina diasingkan untuk Hak of Return); dua – penjara, tiga – sesuatu yang menaruh manis di mulut Anda dan tetap tenang! “(24) Untuk Zahda Abu Qtaish dan semua orang diusir dari Latroun, hal-hal yang jelas:” Aku melihat semuanya, saya ingat semuanya, aku tidak akan pernah melupakan “(25).

Nama Latroun penduduk tewas di bawah reruntuhan rumah mereka hancur oleh tentara Israel, atau di jalan ketika mereka diusir oleh tentara Israel: (26)
Hajar Khalil
Zaynab Hasan Khalil
Yamna Abu Rayalah
Fatmah Al Qbeibah
Hadia Al Qbeibah
Riyadh ElSkeikh
Hasan Abu Khalil Nimer
Hasan Shukri Abu Ghosh
Amnah Al Sheikh Hussain
Ayshah Salamah
Ahmad Hassan Al Saed
Ali Ismail Abdullah
Khaleel Jazar
Muhammad Abu Illas
Zaynab Ahmad Musa
Isa Ziyada
Hussein Hurani
Ali Alarab
Naimeh Hammad
Halimeh Hamadallah
Sabha Alarab
Fadda Ziyad
Sabha Mallah
Mahmoud Khalil
Ibrahim Shueibi
Suheil Musa
Abdel Rahim Tayeh
Ibrahim isa
Abdel Karim Nimer
Lutfi Mahmoud
Hassan Abu Rahhal
Mahmoud Ali Baker
Abed Al Ayyad
Muhammad Isa
Abdallah Zuhdi
Bakar Hasan Shukri
Zuheir Zuhdi
Isa Abu Isa
The one year old daughter of Ahmad Atiyah

Imwas in 1958 (before the destruction) and in 1968 (after the destruction)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Cerita 3 desa Palestina )

Sejarah Intifadhah

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Sejarah, Tahukah Anda |

Selama beberapa hari kemarin, sepertinya para pemimpin Palestina akan segera melepaskan intifadhah ketiga. Kondisi Al-Quds, jika tidak hendak dikatakan berada dalam situasi siaga tiga, maka sudah “cukup” genting. Al-Quds dikepung dimana-mana dan Israel disinyalir akan segera menduduki Yerusalem Timur. Kondisi yang membuat rakyat Palestina mungkin harus segera turun lagi ke jalan, dalam satu hati dan gerakan: intifadhah. Sebenarnya apa intifadhah ini? Apa artinya bagi orang Palestina dan umat Islam sedunia?

Kata intifada selalu lekat di benak kita dengan gerakan kebangkitan rakyat Palestina yang membawa senjata batu. Anak-anak muda dan remaja dengan membawa batu bangkit melawan tentara Zionis Israel. Mereka dengan fasilitas yang sangat minim berjuang untuk mencapai tujuan yang besar, yaitu kebebasan negeri Palestina dari pendudukan kaum Zionis

Gerakan kebangkitan ini diilhami oleh kemenangan revolusi Islam di Iran yang berjuang untuk menghidupkan kembali kebesaran Islam, dan jawaban telak atas aksi brutal yang dilakukan rezim pendudukan Quds terhadap bangsa Palestina

Intifada adalah reaksi atas keputus-asaan, kekecewaan, kelemahan dan kekerdilan negara-negara Arab dalam menghadapi Israel. Intifada adalah reaksi atas kegagalan langkah-langkah yang dilakukan oleh faksi-faksi bersenjata dan kelompok-kelompok politik Palestina dalam membebaskan negeri mereka.

Sejarah Intifadhah



Tanggal 9 Desember 1987 menjadi hari yang tak terlupakan di bumi Palestina. Hari itu, meletuslah sebuah perang perlawanan terhadap Zionis Israel. Semua yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi satu shaff, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Media menyebut waktu itu sebagai “Pertempuran terdahsyat sejak proklamasi negara Zionis Israel tahun 1948.

Intifada berasal dari kata berbahasa Arab intifadlah dari asal kata nafadla yang berarti gerakan, goncangan, revolusi, pembersihan, kebangkitan, kefakuman menjelang revolusi, dan gerakan yang diiringi dengan kecepatan dan kekuatan. Intifada pertama kali dipakai sebagai nama oleh sebuah kelompok perjuangan Palestina yang membelot dari Gerakan Fatah. Namun kini kata itu lekat dengan gerakan kebangkitan baru rakyat Palestina.

Pada dekade 1980-an, rakyat Palestina secara serentak bangkit melakukan perlawanan menentang rezim Zionis Israel. Sejak itu, intifada dipakai untuk menyebut gerakan yang muncul secara tiba-tiba, serentak, independen, agresif, universal, dengan kesadaran dan rasa protes, serta dengan penuh keberanian. Gerakan itu dilakukan oleh rakyat Palestina dalam menghadapi rezim Zionis Israel.

Hebatnya, pada Intifadhah yang pertama kali meletus, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa dibantu negara-negara Arab tetangganya. Saat itu, rakyat Palestina tidak memiliki sarana dan fasilitas apapun dalam perjuangan membebaskan negeri mereka melawan tentara Zionis. Mereka bersenjatakan batu untuk membela diri dan menyerang musuh.

Karena itu, intifada dekade 80-an disebut juga dengan revolusi batu. Meski hanya bersenjatakan batu, tetapi intifada ini sangat menakutkan bagi Israel. Sebab dalam kitab suci mereka tercatat kisah Nabi Daud as yang membunuh Jalut, raja yang kejam dan bengis dengan senjata batu.

Tidak heran jika anak-anak Palestina kemudian selama bertahun-tahun sampai kini dikenal dengan sebutan “Children of Stone” atau anak-anak batu.

Mengenai gerakan intifada, Syahid Dr Fathi Ibrahim Shaqaqi, Sekjen pertama Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan:

“Dalam sejarah revolusi dan perjuangan, kata intifada memiliki latar belakang yang panjang. Akan tetapi dari sisi makna, intifada berarti kebangkitan menggantikan masa kevakuman. Intifada adalah tahap pendahulu bagi sebuah revolusi. Misalnya, di Iran, terjadi kebangkitan di madrasah Feiziyah Qom. Kebangkitan itu kita namakan intifada, sebab gerakan itu pada tahun 1979 membuahkan kemenangan revolusi. Apa yang terjadi saat ini di Palestina tak lain adalah tahap bagi sebuah revolusi. Kita tak pernah membayangkan gerakan kebangkitan ini akan berjalan secara luas dan universal seperti ini. Kita namakan gerakan ini dengan nama intifada. Karena itu, kami di Gerakan Jihad Islam menyebut kebangkitan ini sebagai intifada dan revolusi.”

Faktor Pemicu Kebangkitan Intifada

Intifada terjadi karena adanya beberapa faktor pemicu, di antaranya adalah;

1- Kemenangan revolusi Islam di Iran.
Pada bulan Februari tahun 1979, Iran dengan revolusi Islamnya menyentakkan umat Islam untuk bangkit dan bertindak untuk menghidupkan kembali kejayaan Islam. Revolusi ini meniupkan semangat dan meningkatkan rasa percaya diri kepada bangsa Palestina. Rakyat Palestina tergugah bahwa mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk merebut kembali hak-hak mereka yang terampas. Kemenangan revolusi Islam adalah bukti bahwa Islam mampu mengalahkan kezaliman, serta menumbangkan rezim-rezim despotik dan arogan. Kaum muslimin di Palestina memandang bangsa Iran sebagai saudara yang setia sebelum dan setelah kemenangan revolusi Islam. Mereka menyadari bahwa meski terlihat besar dan kuat, AS ternyata keropos dan tak mampu mempertahankan kekuasaan rezim Syah Pahlevi menghadapi gerakan kebangkitan rakyat. Proses kemenangan revolusi Islam di Iran sangat mencengangkan. Perjuangan bangsa Iran melawan kekuasan rezim Syah menjadi teladan dan contoh bagi gerakan para pejuang Islam di Palestina

2- Kezaliman dan kekejaman Rezim Zionis Israel.
Syahid Dr Fathi Shaqaqi dalam hal ini mengatakan, “Intifada adalah jawaban atas tindakan rezim pendudukan yang membantai bangsa Palestina dan balasan atas kesombongan kaum Zionis yang dengan semena-mena menghancurkan rumah-rumah rakyat Palestina, merampas tanah mereka, menempatkan orang-orang Yahudi di wilayah itu dengan membangun pemukiman-pemukiman Zionis, menyiksa warga Palestina, menangkap, mengasingkan, meneror dan meretakkan tulang-tulang mereka, menghancurkan perekonomian bangsa ini dan merusak infra struktur, mencuri sumber-sumber air, menetapkan pajak dan denda yang tinggi, menutup sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, menghalang-halangi warga Palestina untuk bekerja mencari nafkah, melecehkan hak-hak asasi, hak politik dan semua kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina secara massal…”

3- Kekecewaan terhadap sikap para pemimpin dunia Arab.

Dr Fathi Shaqaqi mengenai hal ini mengatakan,

“Intifada adalah jawaban atas fakta menyedihkan dan mengecewakan yaitu sikap para pemimpin dunia Arab yang tergantung pada pihak asing serta kelemahan mereka. Mereka tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada masalah Palestina dan menempatkan masalah ini dalam baris terbawah di agenda kerja mereka. Semua orang menyaksikan hal ini seperti yang terjadi pada Konferensi Tingkat Tinggi Arab yang digelar bulan November 1987.

Pada tahun itu, untuk pertama kalinya, masalah Palestina tidak diprioritaskan. Mereka lebih mementingkan masalah lain yaitu isu perang Irak dan Iran. Yang lebih menyakitkan, para pemimpin Arab itu memutuskan untuk menggelar konferensi damai Arab dan Israel yang dihadiri oleh delegasi dari AS dan Uni Soviet.

4-Kegagalan faksi-faksi militer dan politik Palestina untuk menyelamatkan negeri mereka.

Dengan kekalahan Arab dalam perang tahun 1967, keterlibatan unsur-unsur dari Palestina dalam perjuangan melawan Israel menjadi isu yang tak terhindarkan. Karena itu, berbagai lembaga, organisasi dan kelompok gerilyawan militer dan politik berdatangan ke tengah medan. Mereka semua berupaya keras membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel melalui perlawanan bersenjata.

Akan tetapi semangat itu mengendur pada akhir dekade 1970-an. Kelompok-kelompok tersebut, termasuk PLO menganggap bahwa dengan perlawanan bersenjata mereka tak akan mampu mengalahkan Israel. Akibatnya, keputus-asaan menyelimuti mereka yang lantas mengubah strategi perjuangan dari perlawanan bersenjata kepada cara-cara diplomasi.

Namun tak lama berselang, cara politik juga tidak membuahkan hasil. Rasa pesimis dan keputus-asaan ini semakin membesar, ketika satu persatu kelompok-kelompok tersebut jatuh dalam pengaruh negara-negara Arab yang telah mengkhianati Palestina.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Intifadhah )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 693,405 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: