Archive for November, 2011

Sejarah Peradaban Yahudi (Israel) 20 Juni 2010

Posted on 30/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

 

Untuk mengetahui sejarah Yahudi harus membicarakan nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim disebut sebagai imam agama moneistik (Tauhid), yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Nabi Ibrahim berasal dari Babylonia, anak seorang pemahat patung istana bernama Azar. Beliau menentang penyembahan patung yang menyebabkannya dihukum bakar, tapi Allah menyelamatkannya. Beliau, bersama Sarah isterinya, hijrah ke Kanaan (Palestina Selatan), kemudian pergi ke Mesir dan menetap di sana sementara waktu karena di Kanaan terjadi paceklik.

Usia Nabi Ibrahim semakin menginjak usia senja, tapi belum juga dikaruniai anak. Kemudian beliau menikahi—atas perkenaan Sarah—seorang wanita cantik bernama Hajar. Sebenarnya Hajar adalah wanita merdeka, bukan seorang budak. Ia adalah anak dari Raja Mesir, Fir’aun (Syaikh Shafiyyur-rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, 1997: 28). Kemudian beliau sekeluarga meninggalkan Mesir kembali ke Palestina.

Di Palestina, lahir anak dari Hajar bernama Ismail. Sarah merasa cemburu dan meminta agar Nabi Ibrahim menjauhkan mereka darinya. Allah membimbing Nabi Ibrahim menuju lembah tandus dan gersang, yaitu Makkah; daerah yang belum dihuni manusia satu pun. Nabi Ibrahim membekali keduanya dengan wadah air dan korma kemudian kembali ke Kanaan. Setelah bekal dan air telah habis, tiba-tiba air Zamzam memancar berkat karunia Allah. Nabi Ibrahim mengunjungi Nabi Ismail dan Hajar sebanyak empat kali. Pada pertemuan ketiga mereka sepakat membangun Ka’bah (Ibid., h. 29-30). Dari keturunan Nabi Ismail as. inilah lahir nabi penghujung zaman, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Nabi Ibrahim dikaruniai anak dari Sarah yang bernama Ishaq. Kemudian Nabi Ishaq as. dikaruniai anak bernama Yaqub, yang digelari dengan Israel. Nabi Yaqub as. mempunyai dua isteri dan 12 anak. Dari isteri pertama lahir dua anak (nabi Yusuf as. dan Benyamin), sedangkan dari isteri kedua lahir sepuluh orang anak. Yaqub lebih mencintai Nabi Yusuf as. daripada anak-anaknya yang lain. Sehingga mereka bersepakat untuk melenyapkan nabi Yusuf as. Tapi Allah menyelamatkannya dan membawanya ke Mesir, pusat peradaban waktu itu. Di sana beliau menjadi menteri untuk menanggulangi ancaman kelaparan. Keturunan nabi Yaqub (Israel) berkembang biak di Mesir dan terbagi menjadi dua belas suku.

Dari keturuan Yaqub lahir Nabi Dawud as. (David) yang menjadi raja kerajaan Judea Samaria. Kemudian digantikan oleh anaknya, Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman as., membawa bangsa Yahudi ke zaman keemasan. Yerussalem dibangun pada dataran di atas bukit Zion dan menjadi pusat kota serta didirikan tempat ibadah yang megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple), al-Masjid al-Aqsa, dan al-bait al-Maqdis.
Akibat kesombongan kaum Yahudi (Israel), Allah murka dan mengazab mereka. Akhirnya kerajaan mereka hancur dan mereka mengalami pengusiran demi pengusiran, penyiksaan serta perbudakan. Allah menurunkan Nabi Isa as. untuk memberikan peringatan kepada kaum Yahudi agar hidup sesuai dengan ajaran Allah. Kesengsaraan kaum Yahudi terus berlanjut, terlebih pada masa Nazi Hitler, kaum Yahudi Jerman mengalami etnis cleansing. Setelah berjalannya waktu, muncul ideologi baru tubuh umat Yahudi yang dikenal dengan Zionis.

Ideologi Zionisme
Ideologi zionis menyatakan bahwa bangsa Yahudi adalah “bangsa pilihan” dan Bani Israil lebih unggul dari manusia yang lain. Lebih dari itu, kaum zionis merasa berhak melakukan kekejaman atas bangsa lain. Idiologi rasis ini masuk ke dalam agenda dunia di akhir-akhir abad ke sembilan belas oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria.

Herzl dan teman-temannya membuat propaganda menjadikan kaum Yahudi sebagai ras terpisah dari Eropa. Pemisahan ini tidak akan berhasil jika mereka masih hidup “serumah” dengan masyarakat Eropa. Karena itu, membangun tanah air kaum Yahudi menjadi sangat penting. Theodor Herzl, sang pendiri zionisme, mulanya memilih Uganda. Kemudian Sang Zionis memutuskan untuk memilih Palestina. Alasannya, Palestina dianggap sebagai “tanah air kaum Yahudi” dan “tanah yang dijanjikan Tuhan”. Inilah pangkal mula kenapa tanah Palestina terus dibanjiri air mata dan darah sampai saat ini.

Penentangan terhadap ideologi zionis dan pendirian “Negara Israel” tidak hanya datang dari umat Islam, tapi juga dari orang Nasrani dan Yahudi. Mendiang Benjamin Beit-Hallahmi—akademisi di universitas-universitas Israel—mengkritik kekerasan Israel terhadap Palestina dan menyatakan perdamaian hanya bisa dicapai jika Israel menyingkirkan ideologi zionisnya. Noam Chomsky, orang Yahudi, menulis banyak buku dan artikel yang sangat kritis terhadap zionisme dan kebijakan negara Israel serta yang mendukungnya.

Di awal tahun 1980-an muncul kalangan akdemisi Yahudi yang menamakan diri “para sejarawan baru.” Mereka menyatakan keyakinan Israel sebagai “bangsa pilihan” adalah sebuah kebohongan. Menurut Tom Segev, anggota terpenting “sejarawan baru”, “Hampir hingga sekarang, kita tidak mempunyai sejarah negara ini (Palestina) yang sebenarnya, selain mitos.” Dulu, kritik seperti ini hanya disuarakan akademisi dan cendekiawan Muslim. Sekarang dinyatakan keras oleh banyak orang-orang Yahudi dan akademisi Kristen yang mencoba menilai kembali sejarah dengan sudut pandang yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan.

Penentangan terhadap kezaliman Israel juga datang dari tentara Israel. Penyerbuan ke Lebanon di tahun 1982, sekelompok kecil tentara telah menolak bertugas untuk angkatan bersenjata Israel. Mereka tidak ingin menjadi bagian dari pemusnahan bangsa atas orang-orang sipil Libanon. Mereka kemudian dipenjara. Pada Januari 2002, sekitar 25 tentara menandatangani surat terbuka kepada media Israel; mereka menolak bertugas di daerah-daerah pendudukan dan mengumumkan pernyataannya di depan publik. Pada Februari 2002, anggota mereka mencapai 250. Saat ini mereka menerima dukungan besar dari kelompok-kelompok perdamaian, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, pemimpin-pemimpin keagamaan, dan orang-orang Israel serta Palestina (tragedi.palestina.com).

Apa yang dikemukakan di atas hanyalah sekelumit fakta bahwa tidak semua orang Yahudi setuju dengan berdirinya “Negara Israel” dan kelalimannya. Semua ini hendaknya menyadarkan umat Islam bahwa memusuhi semua umat Yahudi adalah tidak tepat karena tidak semua orang Yahudi mendukukung kekejaman negara Israel, bahkan menentang berdirinya Negara Israel dan ideologi zionisnya. Pendeknya, “tidak semua orang Yahudi Zionis.”

Mengindetikkan semua orang Yahudi dengan zionisme adalah sebuah kesalahan. Sama salahnya mengidentikkan umat Islam dengan teroris, karena segelintir pelaku teror bom yang mengatasnamakan agama. Seharusnya umat Islam membenci ideologi rasis zionis dan pemeluk serta pendukungnya. Umat Islam tidak boleh mengibarkan anti-semistisme.(CMM)

Sumber : Deny Suito http://www.cmm.or.id

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Peradaban Yahudi (Israel) 20 Juni 2010 )

Wedjangan Revolusi

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

“Abdi Tuhan”

Engkau nanti akan melihat matahari terbit, djadilah manusia jang berarti, manusia jang manfaat, manusia jang pantas untuk menjambut terbitnja matahari. Jang pantas menjambut terbitnja matahari itu hanja manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia jang manfaat. Ibu menghendaki aku mendjadi manusia jang pantas menjambut terbitnja matahari, oleh karena aku dikatakan oleh Ibu adalah anak fadjar. Tuhan memberi otak kepada manusia, memberi pikiran kepada manusia. Tuhan memberi djuga rasa kepada manusia. Hanja manusia jang otaknja tjerdas, rasa hatinja baik, kenang-kenangannja tinggi, bisa mendjadi manusia jang manfaat.

“Bertjita-tjitalah”, h: 7

“Berdikari”

Saja sekarang berkata kepada Rakjat Indonesia, hai Rakjat Indonesia, Saudara-saudara kita semuanja, dari Sabang sampai ke Merauke, 104 djuta manusia, kita sekarang, Saudara-saudara bukan lagi mendjadi anggota dari PBB. Mari kita berdiri diatas kaki kita sendiri. Djikalau kita memang satu bangsa jang merdeka, dan memang kita adalah satu bangsa jang merdeka, mari kita berdiri diatas kaki sendiri.

“Mahkota Kemerdekaan” h: 7.

Bangkit!

Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; di beri penguat atau tidak diberi penguat, – tiap-tiap mahluk, tiap-tiap umat, tip-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnja berbangkit. Pasti achirnja bangun, pasti achirnja menggerakan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka! Djangan lagi manusia, djangan lagi bangsa, walaupun tjatjingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!

“Indonesia Menggugat” h: 68.

Bangsa dan Ras

Faham ras (djenis) ada setinggi langit bedanja dengan faham bangsa, oleh karena ras itu ada suatu faham biologis, sedangkan nationaliteit itu suatu faham sosiologis (ilmu pergaulan hidup).

“Dibawah Bendera Revolusi” h: 4.

Bangsa jang Besar

Kita bukan bangsa jang tempe, kita adalah bangsa jang Besar, dengan Ambisi jang Besar, Tjita-tjita jang Besar, Daja-Kreatif jang Besar, Keuletan jang Besar… Bangsa jang Besar, bangsa jang Hanjakrawarti-hambaudenda. Bangsa jang demikian itulah hendaknja bangsa Indonesia!

“Manipol”- h: 85.

Dekadensi

Penjelewengan terus-menerus menjebabkan dekadensi. Kadang-kadang, dekadensi jang berpuluh-puluh tahun lamanja, menjebabkan mengamuknja suatu revolusi baru.

“Manipol” h: 53.

Batja: Penjelewengan didalam Revolusi.

Deklarasi Bogor

Sudah tentu pertemuan-pertemuan untuk persatuan djugalah penting, tetapi pertemuan-pertemuan itu sifatnja membantu, sedang jang pokok tetaplah persatuan jang lahir dari aksi. Dalam hubungan ini kita harus tjatat pertemuan Bogor jang menghasilkan “Deklarasi Bogor” jang diadakan atas inisiatipku dan jang lain kupimpin sendiri. Aku setudju dengan adanja suatu “tata-krama Nasakom”. Di Indonesia, perkembangan Nasionalisme, perkembangan agama, dan perkembangan Komunisme didjamin. Ketiga-tiga aliran itu harus bekerdja sama setjara rukun. Masing-masing tidak diperkenalkan membitjarakan aliran jang lain setjara jang merugikan aliran lain itu. Djuga propaganda anti-nasionalisme, anti-Agama dan anti-Komunisme dilarang.

“Berdikari”.

Dentam-berdentam-gegap-gempita

Revolusi Indonesia adalah “razende inspiratie van de Indonesische geschiedenis”, – inspirasi dentam-berdentam gegap-gempita daripada Sedjarah Indonesia – siapakah dapat memastikan sedjarah, siapakah dapat mematikan Revolusi Indonesia, inspirasi dentam-berdentam-gegap-gempita daripada Sedjarah itu?

“Tavip” h: 8.

Dialoog

Dalam tiap pertemuan 17 Agustus, dalam tiap pertemuan dengan Lembaga Tertinggi Revolusi sebagai sekarang ini, saja seperti mengadakan satu dialoog dengan Rakyat. Satu pembicarakan-timbal- balik antara saja dan Rakyat, antara Ego-ku dan Alter-Ego-ku.

***

Petundjuk, nasehat, korreksi, retooling, andjuran, konsepsi, zelfkritiek, penerangan, pembakaran semangat, penggarisan strategi, penetapan taktik, pendorongan dan sekali lagi pendorongan, – semua itu harus meluap-luap dalam dialog jang saja adakan dengan Rakjat pada tiap-tiap saat 17 Agustus itu.

“Gesuri”.

***

Podium [17 Agustus] ini saja pergunakan sebagai tempat dialoog Sukarno-pribadi dengan Sukarno-Pemimpin Besar Revolusi, tempat dialoognja Sukarno-Pemimpin Besar Revolusi dengan Rakyat Indonesia jang ber-Revolusi.

“Tavip” h: 6.

Djembatan Emas

Teriakkanlah sembojan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu dengan suara jang mendengung menggetarkan langit, gemuruh sebagai guruhnja guntur. Dengungkanlah sampai melintas tanah datar dan gunung dan samudra, bahwa Marhaen diseberangnja Jembatan-emas akan mendirikan suatu masjarakat jang tiada keningratan dan tiada keburdjuisan, tiada kelas-kelasan dan tiada kapitalisme.

“DBR” h: 322.

Gita

Dentamnja Revolusi, jang kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, kadang-kadang bersuara jerit-pahit, sebagai satu keseluruhan kita dengarkan sebagai satu njanjian, satu simfoni, satu gita, laksana dentumnja gelombang samudra jang bergelora pukul-memukul membanting di pantai, kita dengarkan sebagai satu gita kepada Tuhan jang amat dahsjatnja.

“Tavip” h: 10.

Ho-lopis-kuntul baris

Pengedjawantahan kesadaran sosial itu ialah persatuan, gotong rojong semangat jang saja namakan semangat “ho-lopis-kuntul-baris”. Semangat persatuan, semangat gotong-rojong, semangat “ho-lopis-kuntul-baris” itu adalah sjarat mutlak bagi terselenggarakannja masjarakat adil dan makmur.

“Manipol” h: 67.

Hoogste gezagdrager

Ordening politik-ekonomis-sosial itu dus sebenarnja adalah kekuasaan pokok, – hoogste gezagdrager – daripada kehidupan nasional kita ini. Autoriteit jang tertinggi dalam kehidupan Nasional kita itu, autoriteit Tjakrawarti dalam Revolusi kita itu, adalah ordening kollektif jang saja maksudkan itu.

“Manipol” h: 68.

Hukum-hukum Revolusi

Sekarang Roda Revolusi sudah berputar kembali atas dasar Hukum-hukum klassik dari semua Revolusi. Apakah Hukum-hukum klassik daripada Revolusi itu?

Satu: Tiada Revolusi djikalau ia tidak mendjalankan konfrontasi terus-menerus – confrontasi de tous les jours.

Dua: Tiada Revolusi djikalau ia tidak berupa satu disiplin jang hidup, disiplin dibawah satu pimpinan.

“Gesuri”.

Introspeksi

Pada hari 17 Agustus kita mengadakan introspeksi kepada diri sendiri, sudahlah kita melakukan segala kewadjiban jang harus kita lakukan?

“Djarek” h: 108.

Irama Revolusi

Segala pasang-naik dan pasang-surutnja perdjoangan, segala pukulan jang kita berikan dan pukulan jang kita terima, adalah iramanja perdjoangan, iramanja Revolusi.

“Tavip” h: 10.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Wedjangan Revolusi )

Bung Karno dan Tonil

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Bung Karno gemar pada seni lukis. Bung Karno gemar keroncong. Bung Karno gemar pertunjukan wayang dan tari nasional. Dan masih banyak lagi bidang seni yang digemari Bung Karno. Tetapi jarang yang tahu bahwa Bung Karno juga seorang penulis dan pengarang drama.

Ketika Bung Karno menjalani pengasingan di Flores dan kemudian Bengkulu, pada hari-hari pertama ia memang terasing dari masyarakat sekitar, yang merasa takut terhadap orang yang menjadi musuh Belanda. Hal itu menyebabkan Bung Karno
merasa sangat tertekan. “Aku memerlukan suatu pendorong sebelum aku membunuh
semangatku sendiri,” kata Bung Karno dalam otobiografinya. “Itulah sebabnya aku mulai menulis cerita sandiwara. Dari 1934 sampai 1938 dapat kuselesaikan 12 buah,” lanjutnya.

Klub Tonil di Ende
Tentu saja Bung Karno tidak hanya mengarang naskah sandiwara, tetapi juga berusaha keras untuk mementaskannya di panggung. Maka dibentuklah perkumpulan sandiwara , Toneel Club Kelimutu, mengambil nama dana tiga warna di kawasan Ende. Bermodalkan uang 27 sen, klub sandiwara ini memulai aktivitasnya, dengan tujuan ganda: sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat sekaligus untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Dalam perkumpulan sandiwara itu Bung Karno kerja serabutan: menjabat direktur klub sampai mencari tempat pertunjukan, melatih para pemain sampai menjual karcis pertunjukan. Masalah pakaian untuk para pemeran utama serta layar, ditangani oleh Ibu Inggit. Tetapi upaya menyelenggarakan pertunjukan di panggung, ternyata tidak mudah, Bung Karno adalah seorang tahanan politik, yang gerak-geriknya selalu diawasi. Di samping itu di Ende gedung pertunjukan sangat terbatas. Syukurlah, dengan bantuan pater G. Huijtink dari missi Ende, perkumpulan sandiwara Kelimutu dapat menyelenggarakan pentas perdananya di gedung paroki, Imakulata. Sambutan masyarakat luar biasa. Dan begitulah pada waktu-waktu berikutnya pertunjukan bisa berlangsung, bahkan pernah berturut-turut selama beberapa hari.

Indonesia 1945
Naskah sandiwara itu beraneka ragam ceritanya. Dalam karyanya yang pertama berjudul “Dr. Syaitan”, tampaknya Bung Karno terpengaruh oleh cerita Barat mengenai Frankenstein, Boris Karloff, seorang dokter yang mampu memindahkan organ orang yang masih hidup. Dalam Dr. Sjaitan dikisahkan adanya seorang tokoh yang serupa Boris Karloff, dapat menghidupkan mayat dengan memindahkan hati dari orang hidup. Tentang karyanya yang pertama ini Bung Karno berkomentar: “Cerita ini membawakan suatu pesan moral. Pesan yang tersembunyi di dalamnya adalah, bahwa tubuh Indonesia yang sudah tidak bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi.”

Karya yang lain adalah “Indonesia 1945”. Sesuai dengan judulnya, isi sandiwara ini adalah ramalan pecahnya Perang Pasifik, yang membuat Bung karno yakin Indonesia akan merdeka pada tahun 1945. Lewat sandiwara ini Bung Karno mencoba menyadarkan masyarakat Ende akan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di tanah pengasingan itu Bung Karno tidak mungkin mengadakan pidato seperti ketika bebas di Jawa dulu. Sandiwara dengan demikian merupakan cara terbaik Bung karno untuk mensosialisasikan ide-ide dan semangatnya.

Kesepuluh sandiwara lain yang ditulis Bung Karno adalah Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, Kut Kutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero-Dinamit, Amuk, Sanghai Rumba, Gera Ende. Pada hari Minggu setelah selesai latihan atau pementasan, para anggota sandiwara piknik ke luar kota. Tempat favorit mereka adalah kali Wolowona, yang terletak sekitar 5 km dari pusat kota Ende. Sepanjang jalan mereka menyanyikan lagu-lagu populer dan keroncong diiringi alat musik sederhana.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bung Karno dan Tonil )

Bung Karno Sebagai Kolektor Buku

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Kamarku penuh dengan tumpukan buku, di atas dressoir, di atas kursi, di atas lantai, bahkan di tempat cuci tangan, sehingga di tengah kamar yang megah dari orang yang kuat yang menakjubkan itu para pelayan menjumpai kutu busuk di antara halaman-halaman buku. Mereka tidak lagi membiarkanku menaruh buku di atas tempat tidurku.”

Demikian dapat kita baca dalam otobiografi Bung Karno, sebagaimana dikisahkan oleh Cindy Adams, dalam bukunya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bung Karno memang dikenal sebagai kolektor buku kaliber berat, bahkan tidak salah kalau beliau juga digolongkan sebagai “kutu buku”. Hal tersebut juga dituturkan oleh orang-orang yang pernah dekat Bung Karno,seperti putera sulungnya, Guntur Soekarno, serta pengawal pribadinya, H. Mangil, bahkan orang-orang lain yang pemah masuk ke dalam kamar tidur beliau di Istana Merdeka.

Mengapa Bung Kamo begitu akrab dengan buku? “Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris ‘Dunia Pemikiran’. Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputusasaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Seluruh waktu kupergunakan untuk membaca.” Demikian kata Bung Karno dalam otobiografinya.

Lewat buku, Bung Karno bisa mengadakan ‘dialog’ dan ‘bertukar pikiran’ dengan tokoh-tokoh pemikir dunia, mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, filsafat, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Kesemuanya itu dapat mengembangKan dan memperluas wawasan untuk bisa disumbangkan dan diabdikan kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang sangat dicintainya. Bahkan juga kepada dunia. Betapa luas wawasan beliau dapat dilihat dari banyaknya tokoh yang diajaknya berdialog’, seperti dituturkan dalam otobiografinya di atas: “Di dalam dunia pemikiranku, aku berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris; aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis.” Tidak heran kalau dalam tulisan-tulisan maupun pidato-pidato Bung Karno kita menemukan cuplikan ucapan tokoh-tokoh pemikir tingkat dunia itu. Bahkan banyak kata-kata atau ungkapan asing yang diambil Bung Karno, akhimya mewamai perbendaharaan bahasa Indonesia. Contohnya: vivere pericoloso, dedication of life, hogere optrekking, mankind is one.

Sejak di Surabaya.
Keakraban Bung Kamo dengan buku dimulai sejak Bung Kamo muda indekos di rumah H.O.S. Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional pimpinan Sarekat Islam yang pernah dijuluki “raja Jawa tanpa mahkota” oleh kolonialis Belanda. Keadaan ekonomi di Hindia Belanda waktu itu sangat parah. Sebagai siswa HBS di Surabaya, Bung Kamo muda setiap bulan hanya dikirimi uang saku setengah gulden oleh ayahnya, R. Sukemi Sosrodihardjo yang guru sekolah rendah. Tentu saja Bung Karno tak bisa banyak menyisihkan uang untuk membeli buku. Syukurlah di Surabaya waktu itu sudah ada perpustakaan yang besar yang diselenggarakan oleh sebuah perkumpulan teosofi. Karena ayahnya dikenal sebagai seorang teosof, Bung Karno muda boleh “memasuki peti harta ini, di mana tidak ada batasnya buat seorang anak yang miskin.” Barulah beberapa tahun kemudian, setelah uang sakunya dinaikkan menjadi satu setengah gulden, Bung Karno mampu membeli buku-buku yang dirninatinya. Hobi mengoleksi buku terus dilakukannya, tidak hanya ketika Bung Karno bersekolah di Bandung, tinggal di pengasingan di Ende dan Bengkulu, maupun setelah menjabat Presiden dari negara yang diproklamasikannya.

Buku-buku koleksi itu tidak seluruhnya berasal dari pembelian Bung Karno sendiri. Sebagian ada yang merupakan hadiah dari para sahabat, sebagian lagi hasil tukar-menukar atau barter, dan sebagian lagi secara pinjam dari teman-teman, tetapi yang empunya sungkan untuk memintanya kembali. Buku Neocolonialism karangan Dr. Kwame Nkrumah (pendiri Gerakan Non-Blok dari Ghana) misalnya, diperoleh melalui barter dengan buku Under the Banner of the Revolution (terjemahan bahasa Inggris dari kumpulan tulisan Bung Karno. Dibawah Bendera Revolusi) dan Indonesia Accused (Indonesia Menggugat). Sedangkan berbagai buku mengenai pemikiran Swami Vivekananda didapatnya dari Pandit Jawaharlal Nehru, perdana menteri India.

Hancur.
Banyak membaca buku dengan cermat jelas memberikan wawasan yang lebih luas serta pengetahuan yang sangat mendalam mengenai suatu ilmu pada Bung Karno, sehingga membuat isi pidato maupun artikel yang ditulis sangat berbobot.

Lalu bagaimana Bung Karno melahap buku-buku yang tebal dan berat isinya itu? “Kalau buku yang-saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya corat- coret, sehingga buku tersebut setengah hancur,” tutur Bung Karno pada suatu kesempatan. Yang sangat luar biasa adalah daya ingat Bung Karno. Ia tahu persis di mana suatu kalimat terdapat dalam salah satu judul buku dari koleksi bukunya yang berjumlah ribuan tersebut. Guntur Soekarno dalam bukunya, Bung Karno: Bapakku, Guruku, menceritakan bagaimana suatu ketika ia diminta membantu Bung Karno yang sedang menyiapkan pidato kenegaraan yang akan disampaikan pada tanggal 17 Agustus. Guntur kecapean karena harus mengambil belasan buku dengan berbagai judul, yang akan dipakai sebagai referensi dalam pidatonya itu.

Buku-buku yang dikumpulkan sejak Bung Karno berusia muda, selalu dibawa pindah bersama Bung Karno bahkan ikut pula dalam kehidupan di pengungsian. Menurut penuturan Ibu Fatmawati Soekarno, sampai periode Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu dari Ende, buku koleksi Bung Karno sudah mencapai 1.000 lebih. Waktu tentara pendudukan Jepang akan memasuki Bengkulu, pemerintah kolonial Belanda berusaha “melarikan” Bung Karno ke Padang, untuk kemudian direncanakan akan diangkut ke Australia tetapi tak berhasil. Buku-buku koleksi Bung Karno berhasil diselamatkan oleh keluarga Bu Fat. Total jenderal koleksi buku yang di- sembunyikan di rumah-rumah keluarga Bu Fat itu berjumlah sebelas peti besar, dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 4 meter. Sayang, ada tiga peti buku yang ketahuan oleh Belanda dan segera dimusnahkan. Tangan-tangan kotor Belanda memang berusaha menghancurkan koleksi buku-buku Bung Karno tersebut.

Dan ketika tentara pendudukan Jepang datang, kalau saja persembunyian buku itu sampai diketahui mereka, buku-buku tersebut bakal dibumihanguskan. Maklumlah, buku-buku Bung Karno banyak yang berisi anti militerisme dan fasisme. Dan selama tiga setengah tahun barulah koleksi Bung Karno itu bisa aman di rumah kediaman Bung Karno, Jl. Pegangsaan Timur, Jakarta. Pada waktu revolusi fisik, ketika ibukota RI pindah ke Yogyakarta, sebagian buku Bung Karno dibawa serta, sedang sebagian dititipkan pada kerabat yang tinggal di Jakarta. Setelah Bung Karno menjabat sebagai Presiden RI, koleksi buku-buku yang terus bertambah itu dipajang di lstana Kepresidenan, baik di lstana Merdeka (yang terbanyak), lstana Negara, lstana Bogor, lstana Tampak siring. (Syamsu Hadi)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bung Karno Sebagai Kolektor Buku )

Bung Karno, Arsitek-seniman

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

PENDIDIKAN kesarjanaan Bung Karno sebetulnya adalah Teknik Sipil, yang diraihnya di Institut Teknologi Bandung. Namun, perhatiannya terhadap dunia perancangan arsitektur sungguh luar biasa. Pandangannya sangat jauh ke depan, lebih jauh ketimbang tokoh-tokoh lain pada zamannya. Banyak sekali karya arsitektur di Jakarta yang sekarang menjadi kebanggaan bangsa, sebagai tetenger atau landmark, yang bersumber dari gagasan-gagasannya yang brilyan. Memang, bukan Bung Karno sendiri secara pribadi yang merancang, tetapi cetusan idenya yang orisinal dan otentik itulah yang menjadi jiwa atau semangat dari karya-karya arsitektur yang bermunculan. Siapa yang tidak kenal dan tidak kagum dengan Monas atau Monumen Nasional, yang sudah menjadi trademark dan landmark-nya Jakarta, bahkan bisa disebut sebagai tetenger-nya Indonesia. Mirip seperti Eiffel-nya Kota Paris (Perancis), Patung Liberty-nya New York (Amerika Serikat), atau Open House-nya Sydney (Australia).

 

Sampai saat ini, Monas dan lingkungan atau ruang terbuka di sekitarnya masih juga terlihat sebagai kawasan yang amat bermartabat, menumbuhkan rasa bangga sebagai warga (civic pride). Sebagai suatu ruang publik yang dapat dinikmati oleh segenap warga kota maupun pendatang, menyiratkan suasana demokrasi dan keterbukaan. Monas dengan Lapangan Merdekanya yang luas dapat disebut sebagai oase, bahkan mungkin malah surganya kota, mengacu pada pendapat seorang pakar bahwa park is urban paradise.

Arsitek-seniman

Sepanjang pengetahuan saya, Bung Karno adalah seorang insinyur sipil yang memiliki jiwa arsitek dan seni budaya dengan kadar yang tinggi. Bahkan bisa dikatakan lebih arsitek ketimbang arsitek yang sesungguhnya. Sangat jarang pimpinan negara yang memiliki perhatian besar pada dunia arsitektur. Boleh saja George Pompidou dari Perancis bangga dengan Pompidou Center-nya di Kota Paris, yang dikenal sebagai salah satu karya arsitektur berciri Post-Modern.

Namun, ditilik dari keberagaman karya yang digagas oleh Bung Karno, tampak jelas bahwa Bung Karno jauh lebih unggul sebagai negarawan yang juga arsitek dan seniman sekaligus. Bukan hanya karya arsitektur yang berupa gedung-gedung atau monumen-monumen saja yang menjadi bidang gulat dan perhatiannya. Patung-patung, taman-taman, kawasan, bahkan sampai-sampai skala kota pun digagas dan direalisasikan.

Patung Pembebasan Irian Ja-ya, Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Patung Pancoran, Patung Pak Tani di Menteng dan lain-lain, semua itu dibangun pada zaman Presiden Soekarno. Dari kacamata perkotaan, kehadiran patung-patung yang beraneka ragam itu betul-betul menyiratkan keindahan kota sebagai suatu karya seni sosial (a social work of art). Bisa menjadi titik referensi agar kita tahu sedang ada di mana, supaya tidak kehilangan arah.

Taman Merdeka di seputar Monas dan kawasan pusat olahraga dengan ruang terbuka yang begitu luas di Senayan, merupakan warisan Bung Karno yang layak kita syukuri bersama. Dalam skala yang lebih makro, sebagai seorang presiden yang berwawasan nasional, tidak berpikir sempit, memikirkan kemungkinan memindahkan ibu kota negara kita dari Jakarta ke luar Jawa. Kalau tidak salah lokasi Palangkaraya di Kalimantan Tengah yang dipilih sebagai salah satu alternatif, dan kemudian mulai dirancang serta terus dibangun. Sayang sekali, karena berbagai kendala gagasan terobosan yang inovatif itu tidak terlaksana. Kendati begitu, toh, Kota Palangkaraya ternyata berkembang dengan baik sampai sekarang.

Senang sayembara

Yang tidak kalah menarik dari Bung Karno dalam kiprahnya sebagai seorang arsitek adalah bahwa beliau sangat senang dengan karya-karya unggulan yang dihasilkan melalui sayembara.

Monas yang terbangun sekarang pun semula adalah hasil sayembara. Menurut tokoh arsitek senior Prof Ir Sidharta, pemenang pertamanya dulu tidak ada, pemenang kedua adalah arsitek Friedrich Silaban (sudah almarhum) dan pemenang ketiga adalah tim mahasiswa dari ITB. Rancangan yang memenangkan sayembara tersebut kemudian dikolaborasi oleh tim arsitek Istana (kalau tidak salah di bawah pimpinan Soedarsono) dengan beberapa perubahan sehingga terbangun seperti yang tampak sekarang ini.

Prinsip bahwa karya terbaiklah yang dipilih dan disetujui untuk dibangun, antara lain melalui proses sayembara, merupakan suatu prinsip yang dewasa ini banyak ditinggalkan oleh para pejabat. Tidak heran bila yang banyak bermunculan di kota-kota besar di Indonesia adalah bangunan-bangunan yang termasuk kategori junk architecture atau arsitektur sampah. Orang-orang itu lupa bahwa kaidah paling dasar dari suatu karya arsitektur masih tetap saja seperti yang dicanangkan Vitruvius ratusan tahun yang silam, yaitu utilitas (fungsi atau kegunaan), firmitas (konstruksi atau kekokohan), dan venustas (estetika atau keindahan). Nah, aspek terakhir yang menyangkut estetika atau keindahan itulah yang tak pernah dilupakan oleh Bung Karno.

Begitu pula ketika muncul gagasan Bung Karno untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) lantas dirancang gedung pertemuan yang sekarang menjadi Gedung MPR/DPR, dengan perancang dan pembangun antara lain Ir Sutami, Ir Soejoedi, dan Ir Nurpontjo.

Dari kisah itu terlihat bahwa gagasan dan pemikiran Bung Karno sejak dulu sudah mengglobal. Globalisasi baginya bukan sekadar slogan kosong, melainkan sudah diaktualisasikan dalam kiprahnya sehari-hari.

Tak berpikir sempit

Mengenai perencanaan atau arsitek yang dipilihnya, asal memang kompeten, tak peduli dari mana asalnya atau apa agamanya, selalu ada peluang dia pilih untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya dalam wujud nyata. Manakala Friedrich Silaban terpilih untuk merancang Gedung Pola, barangkali bukanlah berita. Tetapi, kalau Silaban yang sama, notabene seorang Kristen, terpilih untuk merancang Masjid Istiqlal kebanggaan kita semua, bukankah itu merupakan berita yang mestinya mengejutkan?

Gedung Hotel Indonesia sebagai gedung jangkung pertama di Kota Jakarta, saya dengar dirancang oleh Sorensen, seorang arsitek Swedia. Patung Tani di Menteng juga bukan karya seorang pribumi melainkan karya pematung mancanegara. Artinya, Bung Karno bukanlah tokoh yang primordial, chauvinistic berpikir sempit, melainkan sebaliknya. Dan, yang tidak kalah membanggakan adalah bahwa pemikiran dan gagasannya pun dipakai juga di mancanegara.

Ketika saya menunaikan ibadah haji pada tahun 1996, saya memperoleh informasi bahwa bangunan dua lantai tempat para jemaah haji melakukan sai (berjalan dan berlari dari bukit Safa ke Bukit Marwah pulang-pergi) dibangun atas saran Bung Karno. Semula bangunannya tidak bertingkat. Begitu jemaahnya setiap tahun bertambah, semakin berjubel padat, akibatnya sangat menyulitkan dan menyengsarakan bagi para jemaah. Usulan Bung Karno sebagai seorang insinyur sipil sungguh sangat tepat untuk mengatasi kesumpekan itu.

Dalam suasana hiruk-pikuk perpolitikan yang penuh dengan manuver-manuver pertarungan kekuasaan yang amat keji dan mencekam seperti yang kita lihat dan kita rasakan akhir-akhir ini, sungguh amat kita rindukan tokoh negarawan seperti Bung Karno. Pemimpin negara yang tidak hanya tinggi kadar nasionalismenya, tetapi juga memiliki jiwa sebagai arsitek dan seniman yang berbudaya, menciptakan karya-karya nyata yang bermanfaat bagi bangsa.

* Eko Budihardjo Ketua Dewan Pembina Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia dan Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Jawa Tengah

 

Sumber: Kompas, 1 Juni 2001

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bung Karno, Arsitek-seniman )

Revolusi Indonesia dan Hukum-hukumnja.

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa hukum-hukum Revolusi itu? Hukum-hukum Revolusi itu, kecuali garis-garis besar jang sudah kusebutkan, romantika, dinamika, dialektika, pada pokoknja adalah:

Pertama, Revolusi mesti punja kawan dan punja lawan, dan kekuatan-kekuatan Revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan; maka harus ditarik garis-pemisah jang terang dan harus diambil sikap jang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan;

Kedua, Revolusi jang benar-benar Revolusi bukanlah “revolusi-istana” atau “revolusi pemimpin”, melainkan Revolusi Rakjat; oleh sebab itu, maka Revolusi tidak boleh “main atas” saja, tetapi harus didjalankan dari atas dan dari bawah;

Ketiga, Revolusi adalah simfoninja destruksi dan konstruksi, simfoninja penjebolan dan pembangunan, karena destruksi saja atau penjebolan saja tanpa konstruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarchi, dan sebaliknja; konstruksi atau pembangunan saja tanpa destruksi atau penjebolan berarti kompromi atau reformisme;

Keempat, Revolusi selalu punja tahap-tahapnja; dalam hal Revolusi kita: tahap nasional-demokratis dan tahap Sosialis, tahap jang pertama meretas djalan buat jang kedua, tahap jang pertama harus dirampungkan dulu, tetapi sesudah rampung harus ditingkatkan kepada tahap jang kedua; — inilah jang dinamakan dialektiknja Revolusi;

Kelima, Revolusi harus punja Program jang ddjelas dan tepat, seperti dalam Manipol kita merumuskan dengan ddjelas dan tepat:
(A) Dasar/Tudjuan dan Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia;
(B) Kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia;
(C) Sifat Revolusi Indonesia;
(D) Hari depan Revolusi Indonesia; dan
(E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia.
Dan seluruh kebijaksanaan Revolusi harus setia kepada Program itu;

Keenam, Revolusi harus punja sokoguru jang tepat dan punja pimpinan jang tepat, jang berpandangan jauh-kemuka, jang konsekwen, jang sanggup melaksanakan tugas-tugas Revolusi sampai pada achirnja, dan Revolusi juga harus punja kader-kadernja jang tepat pengertiannja dan tinggi semangatnja.

“Tavip”, Amanat-tahunan, 1964.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Revolusi Indonesia dan Hukum-hukumnja. )

Bercita-cita Setinggi Bintang Di Langit!

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Ibu selalu berkata kepadaku, Sukarno, ketahuilah, engkau itu anak fajar, putera fajar. Sebab engkau dilahirkan pada waktu fajar menyingsing, fajar 6 Juni sedang merantak-rantak di sebelah Timur, pada waktu itu aku lahir. Sehingga Ibu berkata kepadaku sering-sering jikalau aku diajak keluar gubuk memandang ke sebelah Timur, engkau ini anak fajar, engkau dilahirkan pada waktu fajar. Lihat itu fajar. Makin lama makin terang, makin lama makin terang. Engkau nanti akan melihat matahari terbit, jadilah manusia yang berarti, manusia yang manfaat, manusia yang pantas untuk menyambut terbitnya matahari. Manusia yang pantas untuk menyambut terbitnja matahari.

Coba pikirkan ini ucapan almarhum Ibuku, jadilah manusia yang pantas menyambut terbitnya matahari.
Memang ya, Saudara-saudara, anak-anakku sekalian, tidak pantas kalau terbitnja matahari disambut oleh seorang badjingan. Coba, apakah pantas, bajingan menyambut terbitnja matahari atau manusia koruptor yang mencuri harta rakyat menyambut terbitnya matahari? Tidak. Yang pantas menyambut terbitnya matahari itu hanya manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia yang manfaat. Oleh karena matahari adalah satu pemberian Tuhan kepada ummat manusia. Diberi matahari oleh Tuhan agar supaya tumbuh-tumbuhan bisa tumbuh dengan baik, agar supaja dunia ini terang, agar supaya manusia yang hidup di bawah kolong langit ini bisa hidup bahagia. Pemberian Tuhan, matahari ini janganlah disambut oleh manusia-manusia yang tidak pantas menyambutnya.

Sebaliknya Ibu menghendaki aku menjadi manusia yang pantas menyambut terbitnya matahari, oleh karena aku dikatakan oleh Ibu anak fajar.

Nah, berhubung dengan itu maka Bapakku dan Ibuku selalu memberi pendidikan kepadaku untuk mendjadi manusia jang bermanfaat. Terutama sekali tjara Bapak dan Ibu memberi pendidikan kepadaku itu ialah selalu membangunkan tjita-tjita dalam dadaku. Sebab rupanja dan ternjata ini adalah benar dan tepat, manusia tidak bisa mendjadi manusia jang manfaat kalau dia tidak dari mulanja manusia jang bertjita-tjita baik. Tuhan memberi otak kepada manusia, memberi pikiran kepada manusia. Tuhan memberi djuga rasa kepada manusia. Tuhan memberi kenang-kenangan kepada manusia. Hanja manusia jang otaknja tjerdas, rasa hatinja baik, kenang-kenangannja tinggi, bisa mendjadi manusia jang bermanfaat.
Sumber: Amanat Presiden Sukarno pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istana Olahraga Gelora Bung Karno, Senajan, Djakarta, pada tanggal  2 Mei 1962.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bercita-cita Setinggi Bintang Di Langit! )

Keadilan Sosial

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Saudara-saudara, Negara kita berisikan masyarakat adil dan makmur ataukah exploitation de l’homme par l’homme? Saya bisa menceritakan penderitaan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun untuk satu hal. Yaitu gandrung kepada satu masyarakat yang adil dan makmur. Saya pada waktu masih muda, sudah ikut bergerak. Saya mengalami parta-partai, saya mengalami Sarekat islam yang dipimpin oleh almarhum HOS Tjokroaminoto. Saya mengalami gerakannya Surjopranoto dengan PSG-nya, Bond dari Serikat Sekerja Gula. Saya mengalami perjuangan Sosrokardono dengan ia punya PPPB. Saya mengalami Sarekat Rakyat, saya mengalami PKI. Kenal itu semuanya.
Saya pernah ngesot di kakinya almarhum Dr. Tjiptomangunkusumo. Saya meguru kepada Douwes Dekker alias Setiabudi. Saya meguru kepada Ki Hadjar Dewantara. Saya kenal semua gerakan-gerakan dan pemimpin-pemimpin ini dan bukan saja kenal kepada mereka itu, Saudara-saudara, tetapi juga saya kenal akan cita-cita yang dicetuskan oleh mereka itu, dan yang mengisi dada rakyat seluruh Indonesia. Saya mengenal korbanan-korbanan yang diberikan oleh rakyat Indonesia untuk mencapai cita-cita ini. Yaitu cita-cita apa? Cita-cita masyarakat adil dan makmur.
Tjokroaminoto dengan ia punya suara yang seperti perkutut manggung, Saudara-saudara, dengan ia punya Sarekat Islam. Ia selalu berkata: Cita-cita kita bangsa Indonesia ialah satu masyarakat yang tidak ada zondig kapitalisme di dalamnya. Ia memakai perkataan zondig kapitalisme. Satu masyarakat yang di dalam istilah sekarang: adil dan makmur. Pak Semaun, yang sejak lebih muda daripadamu, saya kenal dia sejak umur 19 tahun, Saudara-saudara, masih pakai cripu, trumpah, pakai kain Jawa, pakai destar. Apa ayng ia anjurkan dan apa yang dijadikan respons oleh rakyat Indonesia kepadanya, tak lain dan tak bukan ialah masyarakat yang adil dan makmur.
Apa yang dicita-citakan oleh NIP, National IndischePartij, yang dipimpin oleh Dr. Tjiptomangunkusumo, Suwardi Surjaningrat alias Ki HadjarDewantara, Dr. Douwes Dekke alias Setiabudi? Apa yang dicita-citakan oleh mereka itu? Bukan saja negara merdeka, tetapi juga satu masyarakat yang adil dan makmur. Dan sebagai tadi saya katakan, saya mengenal korbanan-korbanan yang diberikan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita ini. Saya mengenal puluhan ribu orang meringkuk di dalam penjara Kalisosok, Surabaya. Mengenal puluhan ribu orang yang meringkuk di dalam penjara di Pamekasan, Nusakambangan, Pekalongan, Sukamiskin.
Puluhan ribu bangsa kita, Saudara-saudara, menderita dengan muka yang tersenyum, untuk cita-cita ini. Saya mengenal ribuan orang yang dikirim Belanda ke Boven Digul. Ada yang lebih sengsara lagi daripada Tanah merah, saudara-saudara, yaitu yang dinamakan Tanah Tinggi. Buat apa mereka pergi ke Boven Digul? Dengan muka tersenyum, membawa istri dan anaknya secara orang yang dibuang, Saudara-saudara. Buat apa mereka rela pergi ke hutan rimba raya Boven Digul? Tanah Merah, Tanah Tinggi? Tak lain tak bukan ialah karena cita-cita: masyarakat adil dan makmur. Ratusan, ribuan, puluhan ribu bangsa kita telah menderita untuk cita-cita yang satu ini. Ribuan bangsa kita telah dibuang ke Digul, ke Muting, e Banda, ke Flores, ke Timor. Untuk apa? Untuk cita-cita ini, kecuali cita-cita politik, yaiti negara yang erdeka. Kalau kita ingat akan korbanan-korbanan ini, kalau kita ingat akan perjuangan-perjuangan ini, Saudara-saudara, maka kita mendurhakai Proklamasi 17 Agustus 1945, kalau kita tidak setia kepada cita-cita masyarakat adil dan makmur.

Kuliah umum di Istana Negara, tanggal 3 April 1958.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Keadilan Sosial )

Pengkhianat

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Aku pernah berkata, ada orang kaya raya, auto Impala, auto Mercedes, gedungnya tiga, empat, lima tingkat, tempat tidurnya kasurnya tujuh lapis mentul-mentul. Tiap-tiap hari makan empat, lima, enam, tujuh kali. Ya, seluruh rumahnya itu laksana ditabur dengan ratna mutu manikam, kakinya tidak pernah menginjak ubin, yang diinjak selalu permadani yang tebal dan indah. Tapi orang yang demikian itu, pengkhianat. Tapi orang yang demikian itu menjadi kaya oleh karena korupsi. Orang yang demikian itu di wajah-Nya Tuhan yang Maha Esa, adalah orang yang rendah. Di wajah Tuhan Yang Maha Esa dia adalah orang yang rendah!

Sebaliknya, kataku dalam pidato itu, ambil seorang penyapu jalan. Penyapu jalan di sana, di Jalan Thamrin atau jalan Sudirman atau jalan-jalan lain, nyapu jalan, Saudara-saudara. Pada waktu kita enak-enak tidur waktu malam, dia menyapu jalan, tangannya menjadi kotor oleh karena dia menyapu segala ciri-ciri dan kotor-kotor dari jalan itu, tetapi Saudara-saudara, dia mendapat nafkah dari kerjanya itu dengan jalan jang halal dan baik. Dia dengan uang jang sedikit yang dia dapat dari Kotapraja, Pak Gubernur Sumarno, Saudara-saudara, ya mendapat gaji daripada Kotapraja uang jang sedikit, dia belikan beras, dan dia tanak itu beras, dan dia makan itu nasi dengan istri dan anak-anaknya, bukan di atas kursi yang mentul-mentul, bukan di atas permadaniy tebal, bukan dari piring yang terbuat daripada emas, tidak dengan sendok dan garpu, dia makan makanan yang amat sederhana sekali, dan dia mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT: “Ya Allah ja Rabbi, terima kasih, bahwa Engkau telah memberiku cukup makan bagiku, bagi istriku, bagi anak-anakku. Ya Allah Ya Rabbi, aku terima kasih kepadaMu”. Orang yang demikian ini, menyapu jalan, dia adalah orang mulia dihadapan Allah SWT.
Sumber: Kongres Persatuan Pamong Desa Indonesia, 12 Mei 1964.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Pengkhianat )

Dua Rabi Yahudi Dan Salat Jumat-Salat Subuh

Posted on 15/11/2011. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Tahukah Anda |

Beberapa waktu yang lalu, konon terjadi percakapan yang cukup intens di antara dua orang rabi Yahudi. Mereka membicarakan tentang kemajuan umat yang sangat diwanti-wanti dalam perjalanan panjang mereka menguasai dunia: umat Islam.

Rabi pertama : “Sepertinya kita harus mulai mewaspadai gerakan umat Islam sekarang ini…”

Rabi kedua : “Memangnya kenapa?”

Rabi pertama : “Lihatlah, sekarang di masjid-masjid, setiap hari Jumat, selalu penuh dengan mereka yang menunaikan salat Jumat. Tampaknya mereka sudah mulai bersatu.”

Rabi kedua : “Hmm, tampaknya itu berlebihan. Kita sebenarnya masih bisa tenang-tenang saja.”

Rabi pertama : “Mengapa?”

Rabi kedua : “Jika umat Islam sekarang banyak pergi ke masjid pada hari Jumat untuk menunaikan salat Jumat, sebenarnya mereka kebanyakan hanya karena sekadar menggugurkan kewajiban mereka di depan banyak orang atau masyarakatnya sendiri. Mereka tidak benar-benar bersatu. Tetapi kesatuan umat Islam baru harus kita waspadai ketika masjid-masjid mereka di waktu Subuh sama penuhnya dengan salat Jumat yang mereka tunaikan. Itulah tanda-tanda bersatunya umat Islam dan kebangkitan mereka.” (sa/dgst/EM)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Dua Rabi Yahudi Dan Salat Jumat-Salat Subuh )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 734,898 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: