Rahasia Kehebatan Suharto

Posted on 13/08/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |

 

 

Rahasia Kehebatan Suharto :

Suharto itu orang yang tidak suka membaca, dia juga tidak suka menulis. Tapi ada satu kehebatannya yang membentuk dia menjadi manusia otentik dan mampu menguasai manusia lain, menguasai sistem masyarakat.

Suharto menjalani laku tapa meneng. Atau meditasi diam. Dia melatih meditasi diam, ini jenis pelatihan meditasi tingkat tinggi yang amat berat. Ilmu Meneng ini did…apatkan pada tahun 1936 dari Kyai Daryatmo, saat itu Harto mengalami titik terendah dalam kehidupannya, terutama soal orang tuanya. Ia terlahir dengan suasana batin yang sakit hati dan sepi dari rasa cinta.

Suatu malam ia dibawa pamannya ke rumah Kyai Daryatmo, dari sanalah ia kemudian belajar banyak tentang falsafah Jawa. Kata-kata : Ojo Lali, Ojo Kagetan dan Ojo Dumeh adalah fase-fase pengalaman batin yang harus ia lalui sebelum sampai pada tingkatan meneng.

Di bulan puasa sekitar tahun 1938, Suharto dipesankan untuk menjalani disiplin menjadi manusia Jawa sempurna, jadi Jawa dalam pengertian batin itu adalah Manusia yang bisa mengalahkan dirinya sendiri, laku dalam mengalahkan dirinya inilah yang mengantarkan pada kesempurnaan. Sampai tahun 1938 laku tapa meneng ini belum sempurna dijalani Suharto karena ia masih gagal mengendalikan pikirannya.

Suatu saat tatkala ia menjadi kadet KNIL di Gombong, ia melihat arus kali. Suharto merenung apa makna arus kali, Ada apa dengan arus kali, ia mengamati arus kali di belakang tangsi KNIL itu lama. Dari pengamatannya itu ia melihat bahwa alam adalah gambaran tentang jiwa manusia, di saat itulah kemudian Suharto menjadikan dirinya sebagai anak alam, ia melibatkan dirinya dengan alam, ia merasakan alam itu sendiri. Lalu di senin pagi, saat itu sedang ada cuti kadet, karena Suharto akan dipindahkan ke Bogor.. Ia duduk di belakang tangsi-nya itu, ia merenungi arus kali yang menggerus batu-batu, kenapa air bergerak dengan sunyi. Lalu ia melihat cahaya matahari pagi yang terpantulkan dari arus sungai, tap..! Suharto kemudian menemukan makna di balik tingkatan fase ilmu yang diberikan Kyai Daryatmo adalah : KESETIAAN, dalam definisi tertinggi kesetiaan itu adalah Rasa Sabar. Disinilah kemudian Suharto melandasi ilmu manusianya.

Tidak seperti Sukarno yang melibatkan dirinya dengan suasana hati manusia, maka Suharto mengalami kredo keterlibatannya justru pada alam. Suharto kemudian melatih ilmu meneng itu dalam segala bentuk meditasinya, ia diam, ia selalu memperhatikan, ia tidak pernah mengomentari apa-apa, ia hanya menuruti keadaan, karena keadaan akan membentuk dirinya sendiri dan keadaan yang terbentuk itu. “Hal terpenting dalam dirimu Harto, janganlah engkau menangis berlebihan, janganlah engkau tertawa berlebihan, karena sikap berlebihan akan mengaburkanmu pada situasi sesungguhnya, ia akan membawa jiwamu pada rasa lemah dan ragu” begitu nasihat Daryatmo setelah Suharto menggambarkan apa yang ia rasakan setelah ia bertemu Kyai Daryatmo setelah Indonesia Merdeka pada tahun 1946, saat itu Harto jadi Komandan Militer Yogyakarta yang baru saja merebut gudang senjata di Kotabaru Yogya. Suharto hanya menangis dua kali, saat kerbaunya terperosok di pematang sawah dan saat isterinya meninggal.

Tahun 1942 Harto mengalami periode yang amat berat, ia lari dari KNIL karena ia menolak untuk berperang untuk Jepang melawan sekutu, ia ke desanya. Disana hidup tanpa pekerjaan dan uang, ia terkena malaria. Ia merasa merepotkan orang lain, di tengah kehidupan yang amat berat itu ia kemudian melatih ilmu tapa meneng, Suharto bisa kuat dalam tiga hari tanpa makan, tanpa minum dan dalam setahun ia hanya makan nasi putih tanpa garam tanpa apapun.

Dari ilmu meneng yang kemudian dijalaninya itu semakin hari semakin ia bisa membaca tingkah laku manusia dan arah hidup manusia. Dari membaca tingkah laku manusia ia juga bisa membaca arah hidup masyarakat. Disinilah letak kunci ilmu tertinggi Suharto, dan sepanjang sejarah memang dialah yang menguasai Indonesia secara absolut selama 32 tahun tanpa jeda, ini tidak pernah disaingi oleh penguasa Nusantara manapun dalam sejarah Indonesia.

Banyak orang tidak tau, Suharto juga suka melakukan meditasi jalan. Ia bisa pernah jalan kaki dari Bogor dari ke Yogyakarta dan ini bukan hanya sekali, ia sangat kuat berjalan. Bahkan temannya pernah bercerita dalam satu minggu perjalanan Suharto tidak bicara apapun. Rosihan Anwar juga selalu mengulangi cerita saat ia bertemu dengan Suharto dan minta diantar ketemu Panglima Sudirman, dalam lebih sepuluh jam perjalan Suharto sama sekali tidak bicara, satu kali bicara saat Suharto mengambilkan kelapa muda kepada Rosihan Anwar dan membukakan dengan pisau komandonya, Suharto berkata “Silahkan diminum degan-nya” sambil tersenyum setelah itu Suharto diam terus.
Sikap diam Suharto inilah yang kemudian ia bisa membaca banyak situasi dari mulai Penangkapan Sudarsono atasannya sendiri dimana dia harus memihak, peristiwa Bambang Sugeng saat perebutan Panglima Diponegoro, peristiwa pemberontakan tiga daerah sampai peristiwa paling bersejarah dalam Indonesia modern : -Gestapu 65-.

Suharto juga punya ilmu terkenal namanya ‘Nyondro’ ilmu membaca gerak gerik wajah. Dari nyondro inilah kemudian Suharto bisa membaca orang yang dihadapinya ini kalah atau menang. Suharto kalau bersalaman selalu tangannya diatas, seperti tangan Sultan kepada bawahannya, sikap salaman ini yang tidak disenangi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX bahkan beberapa kali Sri Sultan menghindari jabatan tangan, tapi kemudian Sultan berjabatan tangan dengan sikap equal satu sisi dan sempat dipotret saat itu Sultan sudah tidak jadi Wapres dan jadi Ketua KONI.

Suharto adalah orang yang amat ahli bahasa, bila Sukarno menggunakan bahasa untuk menyenangkan hati orang lain, maka Suharto menggunakan bahasa untuk membentuk hubungan komunikasi ‘antara siapa yang berkuasa dan siapa yang harus menurut’ itulah gaya bahasa yang pernah diciptakan Sultan Agung Hanyokrokusumo saat itu Sultan Agung ingin suku Sunda takluk dengan Jawa tapi dalam penaklukan sampai ke suasana batinnya, maka diciptakanlah bahasa halus Jawa, bahasa Krama Inggil, bahasa inilah yang juga memperhalus bahasa Sunda seperti yang kita lihat dalam bahasa Cianjuran atau Bahasa Sunda Sumedang. Suharto membentuk bahasa sebagai arahan alam pikiran, ia membuat kebijakan EYD, Ejaan Yang Disempurnakan, ia membentuk jargon-jargon kehilangan isi, sehingga terlihat membosankan, dalam keadaan membosankan itu sesungguhnya Suharto sudah menaklukkan gaya bahasa perlawanan.

Sikap Suharto juga mendua terhadap priyayi dan proletar, bila kepada priyayi ia akan berkompromi karena dalam dunia priyayi ia bisa menanamkan pengaruhnya, inilah kenapa bahasa WS Rendra ia diamkan, sementara bahasa Wiji Thukul langsung ia bunuh. Bahasa WS Rendra ia jadikan seakan-akan musuh, tapi ia tidak bunuh malah ia besarkan dan ia diamkan, tapi ketika kesadaran bahasa itu akan tumbuh di kalangan proletar, mereka yang tidak bermodal, mereka yang hanya memiliki satu-satunya senjata yaitu : Nyawanya maka mereka harus dibereskan.

Karena satu hal yang amat tidak disukai Suharto : REVOLUSI…………..

Diposkan oleh

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Rahasia Kehebatan Suharto )

Hubungan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda di Indonesia dengan Khilafah Islam

Posted on 21/12/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda | Tags: , , , , , |

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang/pejabat Belanda bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”

Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda. Sebagaimana yang diakui Koran Sumatra Post tahun 1922: “Pada hari ini, serangan-serangan atas kami menjadi hal penting karena merupakan sikap mentalitas atas ide Perang Suci.

Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak)." Ini adalah artikel Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 11 November 1912.Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).

Pan-Islamisme: Konsulat Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Kaum Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).” Ini adalah artikel Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 11 November 1912.

 

Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868:

Yang lebih penting adalah kontak langsung antara penduduk asli Aceh dan pemerintah Turki. Tidak kurang dari 68 orang bangsawan memohon kepada Khalifah selama tahun 1868 untuk ‘membebaskan mereka dari perbudakan asing, yakni dari orang Belanda. Karena, mereka mengatakan, ‘hal ini semakin besar dan semakin berbahaya dari hari ke hari, dan pada saatnya mereka akan mengendalikan seluruh Aceh’. Karena itu, mereka, orang-orang Aceh itu, meminta ‘dikirimkan tentara dan prajurit, dan mengumumkan kepada semua orang-orang asing bahwa kami (orang-orang Aceh) berada di bawah perlindungan dan merupakan warga negara Khalifah’.

Namun, Khalifah hanyalah satu sisi rakyat Aceh. Koran Nieuw Tilburgsche Courant melaporkan pada tahun 1899 bahwa Negeri Islam Al-Khilafah memberikan pendidikan kepada putra-putra Sultan, untuk mendukung perlawanan mereka melawan Belanda:

Selama beberapa hari terakhir seorang koresponden di Constantinopel melaporkan lagi bahwa tujuh anak bangsawan sudah tiba di sana dan telah diperkenalkan kepada menteri pendidikan, karena mereka akan mengambil pendidikan tinggi. Kaum Muslim dari Jawa telah mengirimkan kepada Sultan (Khalifah) surat ucapan terima kasih karena mengambil anak-anak mereka untuk bisa pergi ke sekolah-sekolah di Negeri (Islam) Sultan itu. Sebagai konsekuensinya, sudah empat belas pemuda dari Indonesia yang dikuasai Indonesia telah menerima pendidikan Islam yang ketat, yang sepenuhnya dibiayai oleh Sultan Constantinopel. Setelah mereka kembali ke tanah air mereka, setelah menimba ajaran Islam akan menjadi pejuang yang alami bagi Quran, untuk melawan ‘anjing-anjing Kristen’ yang memerintah negara mereka.

Khalifah juga mengirimkan perwakilannya ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim. Koran Het Nieuws van den Dag, misalnya, melaporkan tentang seorang konsul dari Khalifah di Batavia bahwa dia mendukung gerakan pan-Islam: “Di Indonesia hanya ada satu konsul, yakni di Batavia, dan dia telah menunjukkan antusiasme yang besar bagi pan-Islamisme. Oleh karena itu, pemerintah memintanya untuk diganti.”

Koran yang sama menginformasikan pembacanya pada tahun 1912 bahwa Khalifah mengirimkan misi rahasia ke Indonesia untuk mendukung kaum Muslim Indonesia: “Konsul Belanda di Konstantinopel telah memperingatkan pemerintah bahwa utusan rahasia Muhammedan telah dikirim dari Turki ke Indonesia yang dikuasai Belanda, dengan tugas memotivasi orang-orang Islam (untuk memberontak).”

Kerjasama juga terjadi sebaliknya. Tatkala Khalifah mengambil keputusan untuk membangun jalur kereta api Hejaaz, Koran Het Nieuws van den Dag mengatakan pada tahun 1905:

Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam. Pada saat yang sama, utusan itu menyerahkan kepada (Khalifah) surat penguasa Boni, di mana ia meminta dukungan Khalifah bagi dirinya sendiri dan sekutunya, atas kesulitan mereka dengan para penguasa Belanda.

Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam". Ini adalah artikel di Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 17 Juli 1905.Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam

Pan-Islamisme di provinsi Timur kami: Raja Boni telah memberikan 200 Poundsterling untuk mendukung pembangunan jalur kereta api Hejaaz ke tempat-tempat suci agama Islam“. Ini adalah artikel di Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 17 Juli 1905.

Karena hubungan erat antara kaum Muslim Indonesia dan Negara Islam Al-Khilafah, para analis di Belanda mulai khawatir ketika Inggris dan Prancis (antara lain) mulai melakukan kejahatan terhadap kaum Muslim Negara Islam: “Aku takut bahwa kaum Mohammedans kami akan merasakan ketidakadilan yang sedang dilakukan sekarang. Pemberontakan dan ketidakpuasan akan meningkat, baik di Belanda maupun Indonesia.”  [Idris  De Vriest , aktfis dakwah Belanda ]

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Hubungan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda di Indonesia dengan Khilafah Islam )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 797,525 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: