SPBU Asing dan Kenangan Akan Bung Karno

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , |

Dulu saya sering heran kalo liat SPBU macem Shell, Petronas dan SPBU asing lainnya yang berjajar di pinggir jalan, mereka berdagang tapi nggak ada yang beli, apa mereka untung? Tapi kenapa mereka membangun gedung yang megah walaupun pelangganya nyaris dikatakan kosong melompong, tak ada mobil yang mau belok ke SPBU asing yang cuman jualan Pertamax. Kini saya baru mengerti ternyata itu diskon atas investasi yang mereka lakukan, lalu bagaimana mereka bisa yakin berbisnis di Indonesia, ternyata mereka memang udah tau arah perkembangan ekonomi politik kita sekarang, regulasi minyak kita mengarah pada Pasar Bebas, Pemerintah lebih suka menjual premium ke pasar spekulasi NYMEX, ketimbang nyalurin ke rakyatnya sendiri. Jadi saya paham bagaimana kemudian 40 perusahaan asing memegang beslit lisensi 20.000 hak pembangunan SPBU, ini artinya nanti bakal ada 800.000 SPBU asing bermain di pasaran distribusi ritel.

1335256726326739820

SPBU asing yang sepi peminat (Sumber photo : Republika Online)

Rupanya kita harus belajar ‘Ilmu Sinyalemen, Ilmu Pertanda’. Adanya SPBU asing, regulasi yang dipermainkan dan trik-trik politik dagang yang dikenalkan ke ruang publik adalah bagian besar penggiringan ekonomi Indonesia ke dalam pasar bebas yang mendikte ruang ekonomi rakyat. Untuk memahami ini dan memeriksa kenapa bangsa kita jadi budak asing dan bego begini tak mengerti bagaimana membangun pasar sendiri, kita juga harus mengerti sejarah, dulu di tahun 1960 Bung Karno mengundang Chaerul Saleh, Achmadi, Djuanda Kartawidjaja, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution ke Istana Negara pada suatu pagi, mereka ngobrol tentang politik minyak bumi nasional. “Aku ingin Permina menjadi Perusahaan minyak raksasa, perusahaan yang mampu berdikari, mampu menopang perekonomian Indonesia, Permina bisa digunakan sebagai alat pertama dalam membangun ekonomie Indonesia, seluruh perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia ini saya tekan harus bantu Permina, selain bisa ngebor minyak sendiri, membangun rafinerij-nya (rafinerij =kilang, bahasa Belanda), juga mampu membangun jaringan distribusinya, dari situ kemudian terbentuk Pasar bangsa sendiri”. Bung Karno adalah Presiden RI yang terobsesi membangun perekonomian Indonesia yang kuat, Indonesia mampu membangun pasar-pasarnya sendiri, perekonomiannya harus dipegang “Orang Indonesia sebagai Panglima” seperti yang ia bilang pada Dasa’at ketika ia didatangi Dasa’at yang baru saja pulang dari kunjungan bisnis di Amerika Serikat dan membawakan dasi serta parfum Shalimar, parfum kesukaan Bung Karno : “Heh, Dasa’at aku ini bermimpi membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bisa membangun seluruh jaringan pasar-pasarnya sendiri di semua kota, seluruh perdagangan dipegang orang Indonesia, pendek kata “Orang Indonesia harus jadi Panglima atas ekonomie Indonesia”. Itulah mimpi Bung Karno, dan ia bertarung dalam mimpi itu. Ia bikin Revolusi, ia jungkir balikken keadaan. Bung Karno bilang “Kebudayaan yang Berkepribadian, akan menyokong kesejahteraan, ia bukan sadja penjumbang peradaban dunia, tapi djuga penjumbang ekonomie bagi bangsanja” Bung Karno berkata itu kemudian benar adanya, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea Selatan mampu menjadikan produk budaya mereka sebagai sumber ekonomie besar yang menyumbang kesejahteraan bangsanya.

Tindakan Bung Karno jelas nggak disenengin boss-boss besar perusahaan minyak asing, apalagi Bung Karno berhasil rebut Irian Barat, gertak Imperialis Inggris, bilang ke Malaysia, “Revolusi Indonesia adalah lonceng kematian imperialisme” dalam ancamannya ke Malaysia Bung Karno berpidato yang konteks-nya amat berjangkauan panjang “sebab het wezen atau inti daripada imperialisme adalah, membuat bangsa-bangsa tidak berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip inti imperialisme ialah membuat bangsa-bangsa memerlukan barang-barang bikinan imperialis, memerlukan persenjataan pihak imperialis, memerlukan bantuan pihak imperialis” Disini Bung Karno sudah memperkirakan bahwa pada akhirnya akan ada bentuk NeoImperialisme dalam bentuk Modal yang membuat bangsa-bangsa ‘lemah modal’ bergantung pada bangsa ‘kuat modal’.

13352569261019116180

Bung Karno Bercanda Dengan Wartawan Asing (Sumber Photo : LIFE Magazine)

Keberanian Bung Karno ini kemudian bikin marah boss-boss minyak asing, apalagi Bung Karno bisa rebut Irian Barat dengan diplomasi gertak tanpa harus menembakkan sebiji rudal-pun. Setelah Irian Barat takluk, Negara barat pun menggunakan taktik intelijen dan kontra intelijen buat ngadepin Bung Karno, akhirnya Bung Karno jatuh beneran di tahun 1967. Dia diinternir, setelah kejatuhan Bung Karno masih ada Ibnu Sutowo yang mati-matian masih pegang amanat Bung Karno bikin Permina besar, semasa awal Orde Baru nama Permina diganti jadi Pertamina, Suharto sendiri belum menemukan orang sehebat Ibnu Sutowo yang bermodalkan hanya tambang minyak tua di Pangkalan Brandan dengan empat meja dan lima kursi serta tiga sepeda bisa membangun kilang minyak terbesar di Asia. Saat itu Ibnu berambisi menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak raksasa, sebagai pendorong ekonomi nasional, semua lini industri dimasuki Pertamina untuk memancing perekonomian swasta bergerak, mulai dari Real Estate, Pangan sampai pada Rumah Sakit, dibawah jaringan Pertamina. Ibnu juga berani maen spekulasi, ia bangun LNG, gas cair yang ditertawakan pembesar Jepang, tapi Ibnu berhasil dengan spekulasi itu, lalu Ibnu dijebak pada pembatalan pinjaman jangka panjang, Ibnu dituduh korupsi, Pak Harto juga takut bila Ibnu besar maka akan mudah membiayai lawan-lawan politiknya, saat itu rivaal Suharto masih kuat dan awalnya mereka dulu atasan Suharto seperti Nasution, Bung Hatta atau Sri Sultan HB IX, Suharto juga takut dengan anak buahnya yang naik daun macam Jenderal Mitro, Jenderal Jusuf ataupun Jenderal Ali Moertopo, semua adalah ancaman Suharto dalam merebut Istana Merdeka dari tangan Suharto. Mundurnya Ibnu Sutowo, juga berarti hancurnya rencana besar minyak nasional yang berencana bukan saja sebagai Perusahaan Minyak terbesar di Asia, tapi Perusahaan Minyak terbesar di dunia.

1335257045581450781

Bung Karno, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution (Sumber Photo : Harian Merdeka, 1962)

Kini saya hanya mengelus dada, melihat SPBU-SPBU asing itu menguasai pinggir-pinggir jalan raya, bahkan untuk menguasai pasar retail saja orang Indonesia tidak bisa menjadi Panglima-nya. Kini orang Indonesia dipaksa beli Pertamax oleh pemerintahan budak asing ini, padahal persediaan Premium masih berlimpah, Pemerintah hanya ingin jual Premium ke pasar spekulasi, banyak orang Indonesia susah karena didikte atas kemauan Pasar Bebas. Benar kata Bung Hatta di masa lampau di tahun 1954 ketika berpidato di depan Pabrik Tekstil milik pengusaha Indonesia yang baru aja diresmikan sendiri oleh Bung Hatta “Apalah arti Kemerdekaan bila orang Indonesia tak punya hak-hak ekonomie-nya?”

(Anton DH Nugrahanto)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on SPBU Asing dan Kenangan Akan Bung Karno )

6 Juni dan Kisah Kelahiran Bung Karno

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , |

Soekemi Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi senang sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat desa bergerak.

Satu hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari Rejang. Tarian ini ditarikan khusus perempuan dengan gerakan amat halus, tarian ini bisa amat indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih penuh bintang, sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan penuh syukur pada Tuhan.

Suatu saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi ia tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada kesempatan dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu mengenai seorang penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman Srimben’. Ia penari yang amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan alis mata yang amat hitam, tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta pertama jatuh pada dua hati anak manusia.

“Perkenalan adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai seseorang kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta” Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi resikonya apa saja.

Rupanya Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek ketika menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman Pasek tentunya menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri beragama Islam, dan Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan pemuda dari banjar-nya sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa, dari tempat yang jauh.

Tapi cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak mengerti’. Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama, ada perasaan pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan, -apapun resikonya-.

Lalu Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara langit putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut. –Srimben mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah pada ayah Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus menolak.

Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod atau Kawin Lari. Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu dikejar-kejar penduduk desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang Polisi. Penyelesaiannya adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya cinta dua anak manusia ini tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang yang menyaksikan rela dengan ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena keberanian dan pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam menjalankan cintanya, Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya melakukan Ngarorod, dan keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.

Pernikahan ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik sekolah yang mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas disana. Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar mereka mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah masa depanmu bermula’.

Di Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya, lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini. Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang lucu.

Suatu siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia bermimpi berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang yang tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi. Ia mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia berharap anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak ini akan dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi kehidupan dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak ini harus menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.

Lalu tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu proses kelahiran…”Anakmu laki-laki, Pak Guru…laki-laki” kata dukun bayi itu dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada berdegup kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.

Malamnya Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng dengan kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki dan kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari semuanya”. Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.

Bayi itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan bayi ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini adalah menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang merekah, wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu Srimben berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari peraduannya, kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia, kau lahir bukan saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru…..”

Bung Karno semasa sekolah di HBS (Sumber Photo : Yayasan Idayu)

Kelak di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan dan diganti nama menjadi SUKARNO.

Sukarno kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali, memancing dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi Sukarno, ia tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams.

Karena kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan, ia iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku ingin petasan…ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’. Tak lama ketika Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya mengetuk pintu dan memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk anakmu” lalu Soekemi memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan itu “Ini untuk kamu, hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno, kenangan ini ia tak bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar ‘tangisan yang tulus adalah doa yang didengar Tuhan”. Dan memang sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis diam-diam untuk bangsanya.

Sukarno dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan Plampitan, Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro adalah kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi, Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi juga bangsamu” nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh. Sukarno mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil dan agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan apapun. Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa, bergembiralah di tiap hidupmu, seberat apapun masalahmu…gembiralah…gembiralah” itu prinsip Sukarno dalam menjalani kehidupan.

Banyak kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang cerdas, pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat adalah ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan membuat guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi nilai gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda, diam-diam Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.

Sukarno cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia mengusili kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup pintunya ‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak Tjokro yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak seakan-akan seorang aktor yang bisa menggenggam dunia, “Kebebasan…Kebebasan..dan Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh revolusi Perancis dalam khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar jendela kamar dan dengan malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya sambil mengomel “Ah, Paling itu Si No…ingin menguasai dunia” kata mereka.

Dan memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya, merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.

-Hari ini 6 juni 2012 dan Bung Karno ulang tahun, Selamat Ulang Tahun Bung Karno…………-

Jakarta, 6 Juni 2012

(Anton DH Nugrahanto)

Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on 6 Juni dan Kisah Kelahiran Bung Karno )

Sukarno dan Jakarta Yang Bercerita

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tokoh | Tags: , , , , |

Sebuah kota bukan sekedar tembok-tembok beton, ia adalah susunan narasi..sebuah penceritaan

Minggu ini warga DKI Jakarta akan mencari Gubernurnya, saya rasa sudah cukuplah kita memahami siapa yang akan memimpin Jakarta sesuai dengan pilihan kita dan aturan demokrasi yang fair, mungkin yang terbaik di hari minggu yang rileks ini kita bercerita bagaimana sebuah kota menjadi tata ruang yang bercerita.

Dari seluruh pemimpin-pemimpin Indonesia sepanjang negeri ini berdiri. Mungkin yang paling terobsesi dengan Jakarta adalah Sukarno, Dia-lah yang mengubah wajah Jakarta yang tadinya hanya berpusat sebagai tempat kongkow sosialita Hindia Belanda yang berpusar di Harmoni Societet, menjadi skup Jakarta yang meluas, sebuah Jakarta yang tidak terbatas hanya Harmoni Societet, tetapi Jakarta yang hidup di jantung degup rakyat banyak, sebuah etalase bagi panggung kerakyatan. Bila di masa De Jonge, Batavia adalah role model keberhasilan kolonial dalam pemerintahan tata kota dengan pembangunan perumahan elite bagi juragan-juragan perkebunan, jenderal-jenderal Hindia Belanda dan pejabat tinggi Gubernemen, maka bagi Sukarno : “Jakarta bukan saja kemenangan rakyat untuk berdaulat, tapi juga menceritakan pada dunia bagaimana rakyat hidup di tengah kota, budaya urban rakyat kecil tidak digusur oleh pemodal”Sukarno, sendiri secara terus terang berkata “Aku menyukai orang-orang mencuci di sepanjang kanal Gadjah Mada-Hayam Wuruk”

Bagi Sukarno, Jakarta adalah sebuah penceritaan kemenangan, sebuah titik nol kilometer nyawa yang dibangun untuk menghidupkan sebuah bangsa. -Bila di akhir masa kekuasaannya, ia diledek oleh para mahasiswa KAMI sebagai orang tua pikun “Patung dikira celana”. Maka sesungguhnya, Bung Karno menangis melihat tingkah anak muda Indonesia yang gagap memahami seni, gagal mencintai kebudayaan.

Ada satu sisi yang menarik dalam konsep penceritaan tata ruang kota Sukarno untuk Jakarta, terutama sekali soal monumen. -Sukarno memang pada awalnya adalah seorang Arsitek, ketika menjadi mahasiswa ia memiliki nilai sempurna untuk menggambar. Imajinasinya hidup, bila ia menggambar sesuatu ia tidak sekedar menggambar objek tapi menggambar bagaimana objek itu bergerak dan bekerja, penafsiran bukanlah sekedar suatu yang beku dan mati, ia menafsirkan dengan amat lugas, ia paham ruang dialektik suatu karya.

Kekaguman Sukarno dengan monumen adalah ketika ia mengunjungi Rusia pada medio tahun 1950-an,  Ia melihat sendiri bagaimana patung-patung dan monumen menjadi gambaran cita-cita sebuah bangsa. Tapi puncak kekaguman Sukarno bukanlah di Moskow, namun ketika ia mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 1956 saat ia melihat Monumen Kemerdekaan Amerika Serikat, sebuah patung obelisk dengan julangannya yang meninju langit, disitu Sukarno terdiam bahkan hatinya bergetar, dia berpikir “dari patung inilah Jefferson memulai pemikirannya, seluruh bangsa bergerak menuju pembebasannya”. Sukarno juga mengunjungi Mesir, ia berdiri di depan Piramida, lalu ia mengunjungi sungai Nil bersama Gamal Abdel Nasser, Sukarno paham bangsa Mesir baru tak perlu bikin monumen karena sejarahnya sendiri adalah Monumen.

Di Jakarta Sukarno kemudian gandrung membangun jiwa dari sebuah bangsa ini. Pertama kali yang ia bangun adalah Monumen Nasional.  Konsep Monumen Nasional (Monas) sebenarnya diinginkan Sukarno karena ia terobsesi dengan Menara Eiffel, kepada beberapa orang Sukarno mengeluh karena Presiden De Gaulle memusuhinya dan tak mengundangnya ke Paris, padahal ia amat ingin ke Paris dan melihat Eiffel, Sukarno pernah membaca satu cerita yang ditulis pada sebuah koran tentang bagaimana berkebudayaannya kota Paris, sehingga ketika pasukan NAZI Jerman masuk, salah seorang komandan pasukannya menangis karena harus mengebom sisi-sisi kota. -Bagaimana bisa saya menghancurkan kebudayaan. Kata komandan Pasukan NAZI Jerman itu, seorang Kolonel Angkatan Darat-. Sukarno menceritakannya ini pada satu pagi di tahun 1953, dengan seorang arsitek ternama bernama Silaban. Tapi rencana ini ditunda karena kisruh politik, soal Parlemen yang melebar ke pengusiran warga Belanda sampai pada pemberontakan daerah.

Lalu Bung Karno berkhayal dan berimajinasi,  ”Apakah kita bisa menjadikan Jakarta sebagai ‘Tweede de Eiffel?’ apakah bisa Eiffel yang nyawa orang Perancis bisa dibangun dalam nyawa orang Jakarta, dengan apa rakyat Indonesia mengenangnya. “Silaban, saya paham setiap manusia pasti mengenang dimana ia berasal, dimana ia lahir, orang Amerika Serikat mengenang negaranya dengan Gedung Putih dan gedung-gedung yang tinggi itu, orang Perancis mengenang menara Eiffel, bagaimana dengan orang Indonesia? dengan apa ia mengenang negaranya? ‘ Sukarno menatap mata Silaban dengan amat tajam.

Saat itu tahun 1953sebagai Presiden RI ia tidak begitu sibuk, karena pekerjaan sebagai pemimpin praktis diambil Perdana Menteri di Kabinet, ia tidak lagi memegang ruang eksekusi pemerintahan. Ia hanya sekedar pralambang dari kepemimpinan politik. Saat itu Indonesia menganut Demokrasi Parlementer. – Di tahun 1954 diadakan sayembara membangun Monumen Nasional. Sukarno sudah mendapatkan data-data bahwa kemungkinan Jepang akan membayar biaya ganti rugi Perang. Sementara di Parlemen sendiri Konferensi Medja Bundar 1949 digugat oleh kelompok Murba, mereka minta dibatalkan. Sukarno mengambil kesempatan politik : -Mengusir Belanda, menjadikan Proyek perebutan Irian Barat sebagai politik diam-diam menendangi pantat orang Parlemen dan menjadikan Revolusi Nasional pengalihan aset sebagai pusat perjuangan baru. Sukarno berhitung dana Pampasan Jepang akan cukup membiayai proyek-proyek baru tersebut. Ia juga akan menjadikan Jakarta sebagai kota lambang Revolusi.

Pada tahun 1960, sudah masuk sekitar 100-an karya konsep Monumen Nasional, namun panitia sama sekali tak ada yang meloloskan. -Akhirnya dengan sedikit putus asa, panitia menunjuk Silaban untuk membuat gambarnya, namun Silaban membuat gambar dengan nada spektukular, sangat luar biasa besar. Ketika diajukan kepada Bung Karno, Bung Karno menggeleng-geleng “Biayanya terlalu tinggi, ekonomi kita tidak cukup biayai ini” kata Bung Karno. Silaban membalasnya dengan agak ketus “Ya, tunggu saja Pak sampai ekonomi kita membaik”. Sukarno melotot dan berkata “Aku bukan orang yang diciptakan untuk menunggu, kerjakan tapi sesuaikan dengan keadaan”

Akhirnya Silaban tetap mengerjakan dengan dibantu RM Soedarsono sebuah monumen bergaya minimalis tapi begitu bernyawa, di atas lahan 80 hektar. Sukarno menggunakan kebiasaan tata ruang kabupaten untuk membangun tata ruang kota DKI. Dalam tata ruang kabupaten ada ciri pokok yang dikenal : Alun-Alun, Masjid Agung di sebelah barat Alun-Alun, Keraton Kadipaten di sebelah utara Alun-Alun dan Kantor Kepatihan Kadipaten dan Karesidenan di sebelah selatan Kadipaten. -Nuansa ini diikuti Bung Karno, ia memerintahkan tanah Ikada 80 Hektar adalah Alun-Alun Indonesia, sebuah lapangan kebudayaan.

13417188081004310737

Pembangunan Monas Medio tahun 1960-an (Sumber Photo : LIFE)

Monas adalah ‘Lapangan Kebudayaan’ disitu Bung Karno bermimpi besar, akan ada panggung teater, Museum dan seluruh pergerakan kesenian rakyat bermula disitu, kemudian dari titik garis lurus Monas akan bertemu dengan Gelora Bung Karno yang melambangkan ‘Suasana Gerak Olah Raga Rakyat’ Bung Karno bermimpi : Kelak disuatu hari bangsa ini akan menjadi bangsa besar, dimana Rakyatnya yang bebas merdeka  membangun kehidupan, menguasai olahraga dunia”.  Stadion Gelora Bung Karno Senayan di masanya adalah Stadion paling besar sedunia.

Bung Karno juga membangun patung-patung, namun ada ciri khas Bung Karno yaitu bila ia membangun Patung, ia membangun sebuah penceritaan, sudut-sudut kota bernarasi. Seperti misalnya Patung Selamat Datang, ia membuat dua orang melambai, ‘Datanglah datang di Tanah Jakarta, Tanah Gerbang Indonesia”. Begitu kata M. Yamin, salah seorang Menteri Sukarno yang amat gandrung dengan Kebudayaan,  melihat Hotel Indonesia dan meninjau rencana pembuatan Patung Selamat Datang, tak lama kemudian M Yamin meninggal sebelum sempat pembukaan Hotel Indonesia dan peresmian Patung Selamat Datang.

Di Cikini ada hadiah Patung yang teramat cantik dari Pemerintahan Moskow,   Patung ini dibuat oleh ayah anak Matvel Manizer dan Otto Manizer, seorang ahli pahat dari Sovjet Uni. Patung ini bercerita seorang anak bangsa dari kaum tani berjuang pergi bertempur dan ibunya menangis. Bung Karno karena patung bukan sekedar sosok, tapi Patung adalah sebuah media reflektif yang dihentikan oleh waktu sebagai cermin bagaimana kenangan disimpan di laci-laci langit pikiran banyak orang.

13417189801786169650

Konflik Sukarno-Suharto membuat Jakarta terkepung tentara (Sumber Photo : LIFE)

Di akhir pemerintahannya ketika pasukan tak dikenal mengepung Istana Negara, Gubernur DKI yang juga teman ngobrol Bung Karno, Henk Ngantung ditangkap tentara Pro Suharto karena ia bagian dari Lekra, seluruh kawan-kawan Bung Karno satu persatu diciduk. Bung Karno sendirian dalam ruang sunyi-nya. Ia memilih Ali Sadikin sebagai ganti Sudiro, Sukarno tak begitu suka dengan Sudiro yang terlalu birokratis, ia ingin Ali paham bagaimana cara pikir Sukarno.

Soeharto tahu bahwa pengangkatan Ali Sadikin adalah ‘bargain’ diam-diam dengan Sukarno bahwa Angkatan Darat akan berhadapan ‘head to head’ dengan Angkatan Laut, apalagi di Surabaya Panglima KKo Hartono sudah siap perang dengan Soeharto. “Tinggal tunggu perintah Bung Karno”.  Tapi Soeharto tak terpancing untuk mendongkel Ali, bahkan Ali didiamkan sampai tahun 1977.

Justru Jakarta di Jaman Ali Sadikin inilah, mengalami lompatan luar biasa.  Ali Sadikin dijadikan barometer untuk mengukur tingkat keberhasilan memimpin Jakarta. Ali bukanlah pemimpin DKI yang sekedar nge boss, tapi ia benar-benar membawa Jakarta melompati sejarah, dari sekedar The Big Village menjadi kota modern yang berkebudayaan sesuai dengan apa yang diinginkan Sukarno.

Di tangan Ali, Jakarta dibawa sebagai kota dengan warganya bergerak. Ia membangun gelanggang-gelanggang kesenian, ia membangun pasar-pasar rakyat, ia membangun jalan-jalan. Di tengah masa kekuasaan Suharto yang tak begitu menyukainya dan Ali disuruh nyari duit sendiri untuk pembangunan DKI padahal Pemerintah Pusat baru saja dapat bantuan besar dari negara maju. Ali Jalan terus!…ia pakai dana judi untuk bangun Jakarta dan ini ia bertarung dengan banyak orang. Sikap keras Ali dikenang banyak orang sebagai tonggak nol kilometer kepemimpinan DKI.

13417191191771523469

Tugu Tani, Landmark terbesar DKI setelah Monas Pernah terancam digusur karena dangkalnya penafsiran sejarah atas tata ruang kota (Sumber Photo : LIFE)

Setelah era Sukarno dan mundurnya Ali Sadikin di tahun 1977, Jakarta hanya sekedar kota yang bergerak tanpa arah.  Manusia Indonesia gagal mengapresiasi sejarah. Ada cerita soal Patung-Patung di Jakarta yang menarik,  saat itu di akhir tahun 1982 Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo berkata dalam sebuah wawancara yang momennya waktu itu adalah ‘Peringatan hari kesaktian Pancasila’. Sarwedi berkata : “Patung itu patung Pak Tani Komunis. Mana ada petani kita sikap angkuhnya begitu. Tidak ada! Di Indonesia mana ada petani yang angkuh? Petani kita sopan-sopan,” Lalu ucapan itu dibumbui kalimat provokatif : “Kalau patung Pak Tani BTI (Barisan Tani Indonesia-organisasi PKI Red), apa haru kita pasang terus?”. Cetusan Sarwedi saat itu menjadi polemik yang amat menarik dan berita di koran-koran. Berbondong-bondong pejabat lain menjilat ucapan Sarwedi, seperti Daoed Joesoef yang katanya orang berbudaya itu ia berkata : “. “Kalau benar patung Pak Tani dan istrinya itu melambangkan petani bersenjata seperti dalam pikiran negara-negara komunis, sudah jelas untuk zaman sekarang sudah tidak tepat lagi,”

Untung ucapan-ucapan penggusuran Patung Pak Tani di counter oleh Adam Malik, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, bung Kancil yang terkenal dengan prinsip hidupnya ’semua bisa diatur’.  berkata keras :

“Salah sama sekali jika dikatakan bahwa patung itu berbau kolone kelima,” kata Wapres. Menurut Adam Malik, tatkala mengunjungi Uni Soviet sekitar 1960, Bung Karno memintanya–waktu itu ia menjabat Dubes di Moskow –mencari pematung terkenal Rusia, Manizer, untuk membuat patung perjuangan pembebasan Irian Barat. “Dengan demikian patung tersebut bukan hadiah atau hasil pemikiran orang Soviet, melainkan pesanan dan pemikiran Bung Karno sendiri,”

(Majalah Tempo, 16 Oktober 1982)

Soeharto tentu berhati-hati melihat polemik ini, waktu itu Gubernur DKI R Suprapto juga tidak menanggapi ucapan emosional Sarwo Edhie Wibowo soal patung Pak Tani itu.  Dan sampai sekarang Patung Pak Tani tetap menjadi simbol prapatan Cikini, sebuah landmark kota Jakarta yang tak tergusur.

Tapi apakah kemudian Patung Pak Tani yang selamat, tentu tidak dimasa setelah Ali Sadikin banyak patung yang dipindah, yang paling terkenal adalah pemindahan patung Diponegoro karya pematung Italia yang sudah amat terkenal di Monas dipindah ke Jalan Diponegoro tanpa memperhatikan konteks.

Di masa Sutiyoso pernah ada ide bahwa setiap jalan yang bernama Pahlawan akan dibuatkan patung-nya,  ide Sutiyoso ini kelak jadi tertawaan banyak orang karena selain berbiaya besar, bagaimana patung adalah penceritaan bukan hanya membangun sosok yang kaku. Di masa Orde Baru yang terkenal dengan sikap ‘Anti Intelektual’ terhadap kebudayaan yang menyangkut ruang kekuasaan maka Patung-Patung yang didirikan di masa itupun berkisar soal sosok, soal perkelahian seperti pejuang yang mengangkat bambu runcing, jarang dibangun patung yang bercerita, satu-satunya patung yang bercerita dan menjadi landmark di masa Orde Baru adalah patung Arjuna Wijaya yang dibangun Nyoman Nuarta, Suharto menggambarkan dirinya di masa pertarungan maraton dengan Bung Karno, selain semar yang jadi idola Suharto, Suharto yang gemar berpuasa itu selalu mengindentikkan dirinya dengan Arjuna, sementara Bung Karno diidentikkan dengan Adipati Karno, pertarungan Arjuna dengan Adipati Karno dimana di pihak Arjuna kusir kudanya adalah Kresna dan dipihak Adipati Karno kusir kudanya adalah Prabu Salya.  Suharto mendeskripsikan puncak Mahabharata adalah pertarungan antara Arjuna dan saudara kandung lain bapak, Adipati Karno. Dan sejarah memang mencatat Suharto memenangkan pertempurannya 1966/1967 sementara Sukarno di internir di wisma Yaso, terpuruk dan menua, seperti Patung Pancoran yang dilibas dua baris jalan layang.

Anton DH Nugrahanto.

(Dimuat pertama kali di Kompasiana, bila mencopas harus ditulis nama penulis dan media kompasiana sebagai media pertama pemuatan tulisan).

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sukarno dan Jakarta Yang Bercerita )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 1,001,757 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: