Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran….!!

Posted on 15/12/2012. Filed under: Hikmah, Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , |


Salah satu kesalahan terbesar Sukarno adalah ia terlalu tebar pesona, terlalu punya daya tarik kharismatis, sehingga jutaan orang hanya melihat personifikasi Sukarno, bukan alam pikiran Sukarno. Tebar pesona Sukarno inilah yang kemudian melahirkan mitos-mitos omong kosong.

Padahal alam pikiran Sukarno, adalah alam pikiran puncaknya manusia Indonesia baru, ia mampu menjangkau masa depan peta ekonomi politik dunia dengan analisa Geopolitiknya, ia bisa membangun strategi dasar pengembangan manusia secara rinci lewat tatanan yang disebut ideologi Pancasila yang bila ditelaah Pancasila adalah sebuah rangkaian step by step tentang sejarah perkembangan pendewasaan pikiran dan hati manusia yang dikorelasikan dengan perkembangan sejarah masyarakat, ketika Marx hanya berpusar pada sejarah masyarakat dan letak inti sejarah masyarakat, Sukarno lebih dalam lagi ia masuk ke dalam alam manusia dan bagaimana manusia bereaksi terhadap sejarah masyarakat, karena kepandaian menganatomi itulah Sukarno dengan pandai menggerakkan arah sejarah dunia, bahkan JF Kennedy secara terang-terangan mengaku di depan kabinetnya bahwa dia berguru pada Sukarno dan menggebrak meja pada CIA yang ingin mengerjai Sukarno, di bawah pengaruh Sukarno pula Kennedy mendirikan Peace Corps sebagai cikal bakal gerakan perdamaian yang digerakkan pemuda Internasional. Salah seorang anggota Peace Corps adalah Bill Clinton salah seorang yang nantinya jadi Presiden Amerika Serikat.

Bung Karno juga memberikan sodoran tentang pergolakan sejarah yang menuju pada ekonomi Asia Pasifik. Bagi Sukarno, ini ia tulis di tahun 1930-an dalam surat kabar di Bandung, dengan nama samaran Bima. “Bahwa Asia-Pasifik akan jadi pusat-nya dunia, perang lautan teduh adalah babak pembuka Kemerdekaan Asia Raya. Kelak Eropa hanya jadi benua tua yang sakit-sakitan sementara Asia Pasifik akan tumbuh bak gadis molek yang menghantui setiap pikiran lelaki” disini Sukarno sudah meletakkan pandangan geopolitiknya yang amat menjangkau masa depan. Terbukti sekarang Asia Pasifik jadi rebutan antara Amerika Serikat dan Cina, dan perang beneran kemungkinan akan meletus karena Cina sudah memperkuat armadanya di laut Nanyang (Laut Selatan Cina) sementara Amerika Serikat sudah membuka armada siap tempur di Darwin Australia.

Padahal Bung Karno sudah mempersiapkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan armada laut terbesar di Asia Pasifik, ia akan menjadikan Biak sebagai “Armada Laut tanpa tanding” di Asia Pasifik itu obsesi utama Bung Karno, karena obsesi inilah KKO di Indonesia menganggap Sukarno seperti separuh dewa, banyak orang KKO yang bertaruh mati membela Sukarno saat Bung Karno ditikam Harto di tahun 1966-an termasuk Letjen KKo Hartono yang mati misterius dan namanya kini menjadi nama jalan utama di Markas Marinir Indonesia di Cilandak Jakarta Selatan. Atau dua serdadu KKO yang digantung Lee Kuan Yew di Singapura, rela digantung demi keagungan nama bangsanya di depan dunia Internasional.

Bung Karno juga adalah pioneer terhadap perkembangan pemikiran revolusi di Amerika Latin. Mustahil bagi Castro berani memberontak tanpa membaca sejarah pembebasan negara-negara kolonial tanpa membaca apa yang terjadi di Asia. Castro membaca pergerakan kemerdekaan di Indonesia saat ia bersekolah di New York tahun 1947, kepindahan Castro ke New York karena ia menghindari kejaran orang-orang Rafael Trujillo dari Dominika karena Castro berusaha menggulingkan klan Trujillo dari Dominika. Di New York ia hanya menghabiskan waktu membaca buku-buku dan jurnal politik, salah satu yang menjadi minatnya setiap kali ke perpustakaan New York adalah membaca jurnal yang dibuat ahli riset Cornell tentang berita perkembangan revolusi di Indonesia, Castro dengan mata kepalanya sendiri melihat demonstrasi di selasar pertokoan New York kaum buruh Amerika berdemo menuntut kemerdekaan Indonesia.

Suatu saat Castro membeli majalah LIFE dan membaca profil Sukarno, disini ia kemudian terobsesi pada Sukarno. Sama seperti Sukarno, Castro bisa berjam-jam lamanya pidato. “Anda-lah yang membuka mata kepala saya tentang arti Revolusi, tentang bagaimana dunia bergerak menuju pembebasan manusia, anda-lah orang yang dari jauh mengajari saya bagaimana memimpin manusia untuk sadar akan pembebasan dirinya” kata Castro di tahun 1960 saat Bung Karno mengunjungi Kuba.

Pada tahun 1961 JF Kennedy mengalami kesalahan fatal karena mengikuti nasihat politik orang-nya Eisenshower yang kepala batu soal Kominis, mereka menyarankan Kennedy mempersenjatai Imigran Kuba dengan senjata lengkap dan dibantu pasukan khusus Amerika Serikat. Gerakan itu diberi kode namanya ‘Operation Mongoose’ atau kemudian dikenal sebagai ‘Invasi Teluk Babi’. Gerakan ini dirancang sangat rapi, tapi entah kenapa salah seorang petinggi militer salah ucap sehingga seorang wartawan AS menulis sebuah artikel yang memuat kemungkinan rencana serangan itu. Castro membaca dan mengantisipasinya. Operasi Teluk Babi adalah operasi kegagalan militer yang amat memalukan, untuk ngilangin malu Kennedy mempersiapkan misil-nya di Turki dan mengarahkan ke Sovjet Uni. Kesal dengan tindakan AS itu, Moskow mengirimkan beberapa puluh rudal berhulu nuklir ke Kuba dan mengarahkannya ke Amerika Serikat. Tak banyak yang tau bahwa yang repot disini adalah orang Indonesia bernama Subandrio yang saat itu bertugas Menteri Luar Negeri merangkap sebagai Waperdam, Sukarno memerintahkan Bandrio untuk membuka saluran telpon langsung baik ke Khruschev, Castro dan Kennedy. Lobi-lobi Sukarno ini sedikit banyak meredam konflik misil nuklir yang dipasang di Turki dan Kuba. Tapi ini yang dikerjakan Sukarno sangat rahasia, karena baik Sovjet Uni maupun Amerika Serikat hanya menarik senjata misil bukan menghentikan konflik, tapi tanpa pengaruh Sukarno maka rakyat seluruh dunia akan bersembunyi di bunker-bunker baja, peradaban dunia hancur total, mungkin banyak orang yang berusia lanjut masih mengingat tentang krisis nuklir itu.

Kennedy berterima kasih pada Sukarno, dan menjadi sahabat Sukarno paling dekat. Pikiran-pikiran Sukarno tentang Internasionalisme diterjemahkan dengan menitikberatkan aspek kemanusiaan, lalu sejak itu pandangan Partai Demokrat selalu berbasis pada soal kemanusiaan, HAM dan kebebasan manusia beda dengan Partai Republik yang cenderung berpandangan politik konservatif.

Inilah secuplik pikiran raksasa Sukarno dan pengaruhnya bagi dunia Internasional, perkara Sukarno senang main perempuan, senang bernyanyi walaupun suaranya sember, mampu berpidato dan membuat jutaan orang mematung mendengarkan pidatonya dalam panas dan hujan, atau seluruh kota dan kampung sepi menunggu pidato Sukarno itu adalah soal lain, soal pesona dan banyak orang Indonesia hanya terjebak pada pesona Sukarno saja, lalu menjadikan Sukarno dewa tanpa isi, menjadikan Sukarno sejarah tanpa pemikiran, tapi hanya puja dan puji yang tak jelas. Begitu juga mereka yang berpikiran kecil, yang tak pernah sekalipun membaca detil pemikiran Sukarno, membaca dialektika dunia saat itu, zeitgeist dunia saat itu, hanya terjebak pada personifikasi Sukarno dengan komentar amat rendahan. Mencaci maki Sukarno sebatas fisik dan prasangka akan kediktatorannya.

Padahal untuk membaca tokoh sejarah, pertama-tama harus membaca alam pikirannya, lalu alam tindakan. Tanpa kedua itu kita terjebak pada alam personifikasi, seperti hal-nya kita hanya menyukai senyum Suharto tanpa melihat substansi kekuasaan Suharto, melihat gairah Bung Karno yang doyan perempuan tanpa melihat substansi arah kekuasaa Sukarno, melihat tangis SBY tanpa melihat substansi kekuasaan SBY arahnya kemana.

Ketika kita berpikiran kecil dan dungu, maka kita hanya senang melihat lukisan Sukarno yang jantungnya berdegup-degup di Blitar, sampai ribuan orang mengantri untuk melihat lukisan itu, ketimbang di sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas politik, ekonomi, Sosial dan Budaya membuat kurikulum tersendiri soal “Pemikiran Sukarno”.

Sudah saatnya generasi muda dikenalkan pemikiran Sukarno, bukan mitos Sukarno. Karena pemikiran Sukarno adalah yang menggerakkan sejarah seperti Castro menumbangkan Batista, ataupun Kennedy membentuk Peace Corps ketimbang Mitos Sukarno yang hanya memenuhi ruangan dengan dupa, asap menyan dan lukisan Sukarno setinggi dua meter.

Sukarno bukan Mitos, tapi Pemikiran…!!

ANTON DH NUGRAHANTO

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran….!! )

SPBU Asing dan Kenangan Akan Bung Karno

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , |

Dulu saya sering heran kalo liat SPBU macem Shell, Petronas dan SPBU asing lainnya yang berjajar di pinggir jalan, mereka berdagang tapi nggak ada yang beli, apa mereka untung? Tapi kenapa mereka membangun gedung yang megah walaupun pelangganya nyaris dikatakan kosong melompong, tak ada mobil yang mau belok ke SPBU asing yang cuman jualan Pertamax. Kini saya baru mengerti ternyata itu diskon atas investasi yang mereka lakukan, lalu bagaimana mereka bisa yakin berbisnis di Indonesia, ternyata mereka memang udah tau arah perkembangan ekonomi politik kita sekarang, regulasi minyak kita mengarah pada Pasar Bebas, Pemerintah lebih suka menjual premium ke pasar spekulasi NYMEX, ketimbang nyalurin ke rakyatnya sendiri. Jadi saya paham bagaimana kemudian 40 perusahaan asing memegang beslit lisensi 20.000 hak pembangunan SPBU, ini artinya nanti bakal ada 800.000 SPBU asing bermain di pasaran distribusi ritel.

1335256726326739820

SPBU asing yang sepi peminat (Sumber photo : Republika Online)

Rupanya kita harus belajar ‘Ilmu Sinyalemen, Ilmu Pertanda’. Adanya SPBU asing, regulasi yang dipermainkan dan trik-trik politik dagang yang dikenalkan ke ruang publik adalah bagian besar penggiringan ekonomi Indonesia ke dalam pasar bebas yang mendikte ruang ekonomi rakyat. Untuk memahami ini dan memeriksa kenapa bangsa kita jadi budak asing dan bego begini tak mengerti bagaimana membangun pasar sendiri, kita juga harus mengerti sejarah, dulu di tahun 1960 Bung Karno mengundang Chaerul Saleh, Achmadi, Djuanda Kartawidjaja, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution ke Istana Negara pada suatu pagi, mereka ngobrol tentang politik minyak bumi nasional. “Aku ingin Permina menjadi Perusahaan minyak raksasa, perusahaan yang mampu berdikari, mampu menopang perekonomian Indonesia, Permina bisa digunakan sebagai alat pertama dalam membangun ekonomie Indonesia, seluruh perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia ini saya tekan harus bantu Permina, selain bisa ngebor minyak sendiri, membangun rafinerij-nya (rafinerij =kilang, bahasa Belanda), juga mampu membangun jaringan distribusinya, dari situ kemudian terbentuk Pasar bangsa sendiri”. Bung Karno adalah Presiden RI yang terobsesi membangun perekonomian Indonesia yang kuat, Indonesia mampu membangun pasar-pasarnya sendiri, perekonomiannya harus dipegang “Orang Indonesia sebagai Panglima” seperti yang ia bilang pada Dasa’at ketika ia didatangi Dasa’at yang baru saja pulang dari kunjungan bisnis di Amerika Serikat dan membawakan dasi serta parfum Shalimar, parfum kesukaan Bung Karno : “Heh, Dasa’at aku ini bermimpi membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bisa membangun seluruh jaringan pasar-pasarnya sendiri di semua kota, seluruh perdagangan dipegang orang Indonesia, pendek kata “Orang Indonesia harus jadi Panglima atas ekonomie Indonesia”. Itulah mimpi Bung Karno, dan ia bertarung dalam mimpi itu. Ia bikin Revolusi, ia jungkir balikken keadaan. Bung Karno bilang “Kebudayaan yang Berkepribadian, akan menyokong kesejahteraan, ia bukan sadja penjumbang peradaban dunia, tapi djuga penjumbang ekonomie bagi bangsanja” Bung Karno berkata itu kemudian benar adanya, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea Selatan mampu menjadikan produk budaya mereka sebagai sumber ekonomie besar yang menyumbang kesejahteraan bangsanya.

Tindakan Bung Karno jelas nggak disenengin boss-boss besar perusahaan minyak asing, apalagi Bung Karno berhasil rebut Irian Barat, gertak Imperialis Inggris, bilang ke Malaysia, “Revolusi Indonesia adalah lonceng kematian imperialisme” dalam ancamannya ke Malaysia Bung Karno berpidato yang konteks-nya amat berjangkauan panjang “sebab het wezen atau inti daripada imperialisme adalah, membuat bangsa-bangsa tidak berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip inti imperialisme ialah membuat bangsa-bangsa memerlukan barang-barang bikinan imperialis, memerlukan persenjataan pihak imperialis, memerlukan bantuan pihak imperialis” Disini Bung Karno sudah memperkirakan bahwa pada akhirnya akan ada bentuk NeoImperialisme dalam bentuk Modal yang membuat bangsa-bangsa ‘lemah modal’ bergantung pada bangsa ‘kuat modal’.

13352569261019116180

Bung Karno Bercanda Dengan Wartawan Asing (Sumber Photo : LIFE Magazine)

Keberanian Bung Karno ini kemudian bikin marah boss-boss minyak asing, apalagi Bung Karno bisa rebut Irian Barat dengan diplomasi gertak tanpa harus menembakkan sebiji rudal-pun. Setelah Irian Barat takluk, Negara barat pun menggunakan taktik intelijen dan kontra intelijen buat ngadepin Bung Karno, akhirnya Bung Karno jatuh beneran di tahun 1967. Dia diinternir, setelah kejatuhan Bung Karno masih ada Ibnu Sutowo yang mati-matian masih pegang amanat Bung Karno bikin Permina besar, semasa awal Orde Baru nama Permina diganti jadi Pertamina, Suharto sendiri belum menemukan orang sehebat Ibnu Sutowo yang bermodalkan hanya tambang minyak tua di Pangkalan Brandan dengan empat meja dan lima kursi serta tiga sepeda bisa membangun kilang minyak terbesar di Asia. Saat itu Ibnu berambisi menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak raksasa, sebagai pendorong ekonomi nasional, semua lini industri dimasuki Pertamina untuk memancing perekonomian swasta bergerak, mulai dari Real Estate, Pangan sampai pada Rumah Sakit, dibawah jaringan Pertamina. Ibnu juga berani maen spekulasi, ia bangun LNG, gas cair yang ditertawakan pembesar Jepang, tapi Ibnu berhasil dengan spekulasi itu, lalu Ibnu dijebak pada pembatalan pinjaman jangka panjang, Ibnu dituduh korupsi, Pak Harto juga takut bila Ibnu besar maka akan mudah membiayai lawan-lawan politiknya, saat itu rivaal Suharto masih kuat dan awalnya mereka dulu atasan Suharto seperti Nasution, Bung Hatta atau Sri Sultan HB IX, Suharto juga takut dengan anak buahnya yang naik daun macam Jenderal Mitro, Jenderal Jusuf ataupun Jenderal Ali Moertopo, semua adalah ancaman Suharto dalam merebut Istana Merdeka dari tangan Suharto. Mundurnya Ibnu Sutowo, juga berarti hancurnya rencana besar minyak nasional yang berencana bukan saja sebagai Perusahaan Minyak terbesar di Asia, tapi Perusahaan Minyak terbesar di dunia.

1335257045581450781

Bung Karno, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution (Sumber Photo : Harian Merdeka, 1962)

Kini saya hanya mengelus dada, melihat SPBU-SPBU asing itu menguasai pinggir-pinggir jalan raya, bahkan untuk menguasai pasar retail saja orang Indonesia tidak bisa menjadi Panglima-nya. Kini orang Indonesia dipaksa beli Pertamax oleh pemerintahan budak asing ini, padahal persediaan Premium masih berlimpah, Pemerintah hanya ingin jual Premium ke pasar spekulasi, banyak orang Indonesia susah karena didikte atas kemauan Pasar Bebas. Benar kata Bung Hatta di masa lampau di tahun 1954 ketika berpidato di depan Pabrik Tekstil milik pengusaha Indonesia yang baru aja diresmikan sendiri oleh Bung Hatta “Apalah arti Kemerdekaan bila orang Indonesia tak punya hak-hak ekonomie-nya?”

(Anton DH Nugrahanto)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on SPBU Asing dan Kenangan Akan Bung Karno )

Tongkat Komando Bung Karno

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , |

13373989461845692477

Tongkat Komando Bung Karno diatas Meja Ike Eisenhower (Sumber Photo : Time Magazine)

Berkali-kali Bung Karno berkata bahwa Tongkat Komando-nya tidak memiliki daya sakti, daya linuwih..”itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai Pemimpin dari sebuah negara besar” kata Bung Karno pada penulis Biografi-nya, Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor.

Bung Karno sendiri memiliki tiga tongkat komando yang bentuknya sama, satu tongkat yang ia bawa ke luar negeri, satu tongkat untuk berhadapan dengan para Jenderalnya dan satu tongkat waktu ia berpidato. Namun kalau keadaan buru-buru dan harus pergi, yang kerap ia bawa adalah tongkat sewaktu ia berpidato.

Pernah suatu saat Presiden Kuba, Fidel Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda “Apakah tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?” Bung Karno tertawa saja, saat itu Castro meminta peci hitam Bung Karno dan Bung Karno pake pet hijau punya-nya Castro. “Pet ini saya pakai waktu saya serang Havana dan saya  jatuhkan Batista” kata Castro mengenai Pet hijaunya itu.

Apakah tongkat Bung Karno itu memiliki kesaktian? seperti Keris Diponegoro ‘Kyai Salak’ atau keris Aryo Penangsang ‘Kyai Setan Kober’ wallahu’alam .  Tapi Bung Karno sakti, itu sudah jelas. Peristiwa paling menggemparkan bagi publik Indonesia   adalah saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat pada sholat Idul Adha. Tembakan itu meleset dan ini yang jadi heboh, bagaimana bisa penembaknya adalah seorang jago perang terlatih, kenapa menembak dari hanya jarak 5 meter tidak kena. Di Radio-radio saat itu saat sidang pengadilan penembak Bung Karno, terungkap saat Bung Karno membelah dirinya menjadi lima.  Penembak bingung ‘mana Bung Karno’ ?

Kesaktian Bung Karno sebenarnya adalah ‘kesaktian’ tiban, ‘tiban’ adalah suatu istilah Jawa bahwa kesaktian itu tidak dipelajari. Waktu lahir Sukarno bernama Kusno, ia sakit keras kemudian diganti nama Sukarno. Setelah sehat, datanglah kakek Sukarno, Hardjodikromo datang dari Tulungagung untuk berjumpa dengan Sukarno kecil saat itu, sang Kakek melihat ada sesuatu yang lain di anak ini. Kakek Sukarno sendiri adalah seorang sakti, ia bisa menjilati bara api pada sebuah besi yang menyala. – Rupanya di lidah Sukarno ada kemampuan lebih yaitu mengobati orang, Sukarno dicoba untuk mengobati bagian yang sakit dengan menjilat-.

Kakek Sukarno, tau bahwa ini kesaktian, tapi harus diubah  asal cucunya jangan hanya jadi dukun, tapi jadi seorang yang amat berguna untuk bangsanya. Hardjodikromo adalah seorang pelarian dari Jawa Tengah  yang menolak sistem tanam paksa Cultuurstelsel Van Den Bosch, ia ke Tulungagung dan memulai usaha sebagai saudagar batik.  Leluhur Bung Karno dari pihak Bapaknya adalah Perwira Perang Diponegoro untuk wilayah Solo. Nama leluhur Bung Karno itu Raden Mangundiwiryo yang berperang melawan Belanda, Mangundiwiryo ini adalah orang kepercayaan Raden Mas Prawirodigdoyo salah seorang Panglima Diponegoro yang membangun benteng-benteng perlawanan antara Boyolali sampai Merbabu.  Setelah selesainya Perang Diponegoro, Raden Mangundiwiryo diburu oleh intel Belanda dan ia menyamar jadi rakyat biasa di sekitar Purwodadi, mungkin akar inilah yang membuat ikatan batin antara Jawa Tengah dan Bung Karno. – Seperti diketahui Jawa Tengah adalah basis utama Sukarnois terbesar di Indonesia-.

Mangundiwiryo memiliki kesaktian yaitu ‘Ucapannya bisa jadi kenyataan’ istilahnya ‘idu geni’. Rupanya ini menurun pada Bung Karno. Melihat kemampuan ‘idu geni’ Bung Karno itu, Kakeknya Hardjodikromo berpuasa siang malam agar cucunya bisa memiliki kekuatan batin, pada suatu saat Hardjodikromo bermimpi rumahnya kedatangan seorang yang amat misterius, berpakaian bangsawan Keraton Mataram dan mengatakan dengan amat pelan ‘bahwa cucumu adalah seorang Raja bukan saja di Tanah Jawa, tapi di seluruh Nusantara’. Kelak Hardjodikromo mengira bahwa itu adalah perwujudan dari Ki Juru Martani, seorang bangsawan Mataram paling cerdas.

Sejak mimpi itu, kemampuan Bung Karno menjilat dan menyembuhkan langsung hilang berganti dengan ‘kemampuan berbicara yang luar biasa hebat’.

Bung Karno sendiri -menurut buku Giebbels, salah seorang Sejarawan Belanda- sudah diramalkan akan terbunuh dengan benda-benda tajam. Untuk itulah ia amat takut dengan jarum suntik, Bung Karno sendiri agak paranoid terhadap benda-benda tajam,  ketika penyakit ginjalnya amat parah, ia menolak untuk berobat ke Swiss karena disana ia pasti akan dibedah dengan pisau tajam. Ia memilih obat-obatan herbal dari Cina.

Kembali ke tongkat tadi,  tongkat Bung Karno itu dibuat dari bahan kayu Pucang Kalak, Pohon Pucang itu banyak, tapi Pucang Kalak itu hanya ada di Ponorogo, pohon Pucang.  Tongkat Komando Bung Karno sendiri dipakai sejak 1952, setelah peristiwa 17 Oktober 1952. -Suatu malam Bung Karno didatangi orang dengan membawa sebalok kayu Pohon Pucang Kalak yang ia potong dengan tangannya, balok itu diserahkan pada Bung Karno.  ”Untuk menghadapi Para Jenderal” kata orang itu. Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang seniman Yogyakarta untuk membuat kayu itu menjadi tongkat komando.

Sebagai tambahan dalam khasanah politik Indonesia, ‘ageman’ atau pegangan itu soal biasa. Misalnya Jenderal Sumitro, tokoh utama dalam rivaalitas dengan Ali Moertopo pada peristiwa Malari 1974, sebelum meletusnya Malari kedatangan seorang anak muda dengan pakaian dekil dan menyerahkan sebilah keris “Untuk menang Pak” kata anak muda itu.

Pak Harto sendiri punya ageman banyak yang bilang pusat kekuatan Pak Harto itu ada di Bu Tien Suharto, banyak yang bilang juga di ‘konde’ bu Tien. Tapi yang jelas Pak Harto adalah seorang pertapa, seorang ahli kebatinan tinggi, ia senang tapa kungkum di tempuran (tempuran = pertemuan dua arus kali) di Jakarta ia sering sekali bertapa di dekat Ancol tengah malam, saat tarik ulur dengan Bung Karno antara tahun 1965-1967.

-Anton DH Nugrahanto-.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Tongkat Komando Bung Karno )

6 Juni dan Kisah Kelahiran Bung Karno

Posted on 08/07/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , |

Soekemi Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi senang sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat desa bergerak.

Satu hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari Rejang. Tarian ini ditarikan khusus perempuan dengan gerakan amat halus, tarian ini bisa amat indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih penuh bintang, sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan penuh syukur pada Tuhan.

Suatu saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi ia tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada kesempatan dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu mengenai seorang penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman Srimben’. Ia penari yang amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan alis mata yang amat hitam, tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta pertama jatuh pada dua hati anak manusia.

“Perkenalan adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai seseorang kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta” Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi resikonya apa saja.

Rupanya Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek ketika menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman Pasek tentunya menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri beragama Islam, dan Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan pemuda dari banjar-nya sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa, dari tempat yang jauh.

Tapi cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak mengerti’. Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama, ada perasaan pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan, -apapun resikonya-.

Lalu Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara langit putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut. –Srimben mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah pada ayah Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus menolak.

Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod atau Kawin Lari. Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu dikejar-kejar penduduk desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang Polisi. Penyelesaiannya adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya cinta dua anak manusia ini tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang yang menyaksikan rela dengan ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena keberanian dan pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam menjalankan cintanya, Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya melakukan Ngarorod, dan keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.

Pernikahan ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik sekolah yang mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas disana. Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar mereka mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah masa depanmu bermula’.

Di Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya, lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini. Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang lucu.

Suatu siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia bermimpi berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang yang tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi. Ia mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia berharap anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak ini akan dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi kehidupan dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak ini harus menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.

Lalu tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu proses kelahiran…”Anakmu laki-laki, Pak Guru…laki-laki” kata dukun bayi itu dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada berdegup kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.

Malamnya Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng dengan kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki dan kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari semuanya”. Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.

Bayi itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan bayi ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini adalah menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang merekah, wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu Srimben berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari peraduannya, kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia, kau lahir bukan saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru…..”

Bung Karno semasa sekolah di HBS (Sumber Photo : Yayasan Idayu)

Kelak di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan dan diganti nama menjadi SUKARNO.

Sukarno kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali, memancing dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi Sukarno, ia tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams.

Karena kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan, ia iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku ingin petasan…ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’. Tak lama ketika Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya mengetuk pintu dan memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk anakmu” lalu Soekemi memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan itu “Ini untuk kamu, hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno, kenangan ini ia tak bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar ‘tangisan yang tulus adalah doa yang didengar Tuhan”. Dan memang sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis diam-diam untuk bangsanya.

Sukarno dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan Plampitan, Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro adalah kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi, Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi juga bangsamu” nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh. Sukarno mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil dan agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan apapun. Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa, bergembiralah di tiap hidupmu, seberat apapun masalahmu…gembiralah…gembiralah” itu prinsip Sukarno dalam menjalani kehidupan.

Banyak kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang cerdas, pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat adalah ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan membuat guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi nilai gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda, diam-diam Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.

Sukarno cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia mengusili kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup pintunya ‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak Tjokro yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak seakan-akan seorang aktor yang bisa menggenggam dunia, “Kebebasan…Kebebasan..dan Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh revolusi Perancis dalam khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar jendela kamar dan dengan malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya sambil mengomel “Ah, Paling itu Si No…ingin menguasai dunia” kata mereka.

Dan memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya, merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.

-Hari ini 6 juni 2012 dan Bung Karno ulang tahun, Selamat Ulang Tahun Bung Karno…………-

Jakarta, 6 Juni 2012

(Anton DH Nugrahanto)

Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on 6 Juni dan Kisah Kelahiran Bung Karno )

Kisah perpisahan Bung Karno dan Fatmawati

Posted on 26/08/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , |

Usai menjalani pengasingan di Bengkulu, Bung Karno kembali ke Jakarta. Akan tetapi, sejatinya, hati Sukarno tertinggal di sana. Hati Sukarno tertambat pada seorang gadis belia bernama Fatmawati. Setelah melalui lika-liku pertengkaran dahsyat yang berakhir dengan kesepakatan perceraian Bung Karno – Inggit Ganarsih, akhirnya berhasil pula Sukarno menikahi Fatmawati, melalui pernikahan “kawat” yang unik.

Perjalanan sepasang merpati penuh cinta ini, akhirnya dikaruniai lima orang putra-putri: Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh. Belum genap mereka mengarungi bahtera rumah tangga, Sukarno tak kuasa menahan gejolak cintanya kepada wanita lain bernama Hartini. Inilah pangkal sebab terjadinya perpisahan yang dramatis antara Sukarno dan Fatmawati.

Bagaimana Bung Karno menjelaskan ihwal perpisahan itu? Adalah sebuah misteri, sampai ketika salah seorang ajudan dekatnya, Bambang Widjanarko, pada suatu sore di tahun 1962, memberanikan diri mempertanyakan hal itu. Bambang adalah salah satu ajudan yang diketahui sangat dekat hubungannya dengan putra-putri Presiden. Demi melihat hubungan anak-anak dengan ayahnya, tanpa seorang ibu di antara mereka, Bambang sering merasa nelangsa.
“Ada apa Mbang,” Bung Karno bertanya.
“Mohon Bapak jangan marah, saya ingin membicarakan adik-adik tercinta, putra-putri Bapak.”
“Ya, Mbang, ada apa dengan anak-anak?”
“Begini Pak, sudah dua tahun saya menjadi ajudan Bapak. Setiap hari saya melihat dan bergaul dengan putra-putri Bapak, saya juga amat menyayangi dan mencintai mereka. Mungkin segala keperluan lahiriah sudah cukup mereka peroleh, tapi menurut saya ada sesuatu yang amat mereka butuhkan, mereka dambakan siang-malam, yakni adanya seorang ibu yang mendampingi dan mengasihi mereka siang-malam. Karena itu, bila Bapak berkenan demi kebahagiaan anak-anak, apakah tidak lebih baik bila Bapak meminta Ibu Fat kembali ke Istana?
Wajah Bung Karno seketika berubah menjadi kelam, dan matanya tajam menatap Bambang, ajudannya. Tentu saja, hal itu membuat Bambang kecut, campur aduk antara takut dan menyesal telah lancang mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno. Rumah tangga Presiden, Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi.

Yang terjadi selanjutnya adalah, Bung Karno diam barang semenit-dua. Setelah itu, senyum tipis tersungging di bibir Bung Karno seraya berkata, “Bambang, jangan takut, aku tidak marah kepadamu. Mari duduk, akan aku ceritakan kepadamu.”

Dengan kaki lemas dan menahan malu, Bambang akhirnya duduk mendengar uraian Bung Karno….. “Mbang, pertama percayalah bahwa aku tidak marah kepadamu. Aku mengerti betul maksudmu didasari kehendak baik demi anak-anakku sendiri yang juga kau sayangi. Engkau seorang muda yang penuh idealisme dan selalu berusaha mencapai itu menurut norma-norma yang kau pelajari dan kau ketahui. Itu baik, tetap mungkin masih banyak juga yang belum kau mengerti.”

“Bambang… menurut hukum agama Islam, seorang istri mempunyai kewajiban antara lain harus mengikuti suami dan berada di rumah suami. Istana Merdeka ini adalah rumahku, aku tidak mempunyai rumah lain, dan aku tidak pernah mengusir Ibu Fat dari Istana ini. Ibu Fat sendiri yang pergi meninggalkan rumahku, rumah suaminya. Aku juga tidak pernah melarang Ibu Fat untuk datang atau kembali ke sini, atau melarang menengok serta berada dengan anak-anak. Ibu Fat bebas untuk datang dan berada di Istana ini…. Mbang…, adalah kurang tepat bila aku meminta Ibu Fat untuk kembali, aku tidak pernah mengusirnya.”

Selanjutnya, Bung Karno juga menceritakan saat-saat indah mereka di Bengkulu, zaman penjajahan Jepang. Juga saat-saat kebersamaan di Yogyakarta, dan sebagainya. Banyak hal yang telah terjadi di antara keduanya, dan itu menyadarkan siapa pun tentang betapa kompleksnya kehidupan manusia. Dan itu semua makin membuat Bambang tertunduk makin dalam. Ia merasa malu telah berani memberi nasihat Bung Karno tanpa berpikir panjang.

Akhirnya, BK menutp uraiannya dengan berkata, “Bambang, biarlah orang-orang, termasuk anak-anakku, menyalahkan diriku; aku toh seorang laki-laki. Tetapi anak-anakku wajib mencintai dan terus menghormati serta menghargai ibunya. Semua kesalahan biar ada padaku. Dan, Bambang, terima kasih atas perhatianmu pada anak-anakku. Merskipun bukan merupakan tugas pokok, tolong… turutlah juga mengawasi anak-anakku itu.”

Mendengar uraian penutup Bung Karno, tak terasa air mata mengalir pelan di pipi Bambang Widjanarko. Seketika, Bambang berdiri, memberi hormat dan meninggalkan Bung Karno sendiri dalam kamarnya. Sejak itu, hati kecilnya bersumpah, ia tidak akan pernah lagi mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kisah perpisahan Bung Karno dan Fatmawati )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 797,519 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: