Rasulullah SAW

Usaha Pencurian Jenazah Nabi Muhammad SAW

Posted on 02/07/2011. Filed under: Hikmah, Kisah Islami, Rasulullah SAW |

Sejarah mencatat, beberapa usaha pencurian terhadap jenazah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam , semuanya mengalami kegagalan. Sungguh Allah Subhanaahu wa Ta’ala telah menjaga Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hidup dan dalam keadaan sudah meninggal.

Ada lima usaha pencurian jenazah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis oleh penulis buku Sejarah Masjid Nabawi as-Syarif, Muhammad Ilyas ‘Abdul Ghani. Aku akan menyebutkannya secara ringkas:

Usaha pertama:

Di masa al-Hakim Biamrillah al-‘Ubaidiy[1], salah seorang zindiq mengusulkan kepadanya untuk menghadirkan jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ke Mesir untuk menarik perhatian manusia kepadanya sebagai pengganti Madinah, lalu memerangi penduduknya. Pada hari berikutnya, Allah Ta’ala mengirimkan angin ke Madinah, dan hampir bumi tergoncang karena kuatnya angin itu. Hal ini menjadi penghalang tujuan para pembangkang tersebut.

Usaha kedua:

Pada masa khalifah al-Ubaidiy yang sama. Dia mengutus orang untuk tinggal di sebuah rumah dekat dengan al-Haram an-Nabawi. Kemudian ia menggali sebuah terowongan dari rumah tersebut menuju kubur Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian penduduk Madinah mendengar ada suara menyeru, memanggil-manggil di tengah-tengah mereka bahwa ‘Nabi kalian akan digali (kuburnya)’. Maka manusiapun menyelidikinya, kemudian mendapati mereka yang sedang menggali, lalu membunuh mereka. Patut juga disebutkan bahwa al-Hakim bin Ubaidillah mengaku sebagai Tuhan pada tahun 408 H.

Usaha ketiga:

Dilakukan oleh para penggali kubur dari Raja-Raja Nasrani. Hal itu dilaksanakan dengan perantara dua orang Nasrani dari Maroko. Namun Allah Ta’ala melindungi jasad Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara Panglima Nuruddin Zankiy bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tidurnya, beliau menunjukkan dua orang berambut merah kekuning-kuningan, dan beliau bersabda: ‘Tolonglah aku, selamatkan aku dari dua orang laki-laki ini.’ Panglima Nuruddin Zanky pun terkejut bangun dari tidurnya. Kemudian dia kumpulkan para hakim, lalu mereka memberinya usul agar dia menuju Madinah. Diapun sampai di Madinah dengan membawa harta yang banyak untuk dibagikan kepada penduduk Madinah. Dia kumpulkan manusia, lalu memberi mereka hadiah setelah nama-nama mereka dicatat, dan dia tidak melihat dua orang laki-laki yang ditunjukkan Nabi dalam mimpinya. Di saat itu dia bertanya, ‘Adakah orang yang belum mengambil sesuatu dari harta shadaqah ini?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Dia bertanya lagi, ‘Berfikirlah, ingat-ingatlah.’ Merekapun menjawab, ‘Tidak tertinggal seorangpun kecuali dua orang Maroko, keduanya adalah orang shalih, kaya dan banyak shadaqah.’ Mendengar itu dada panglima pun menjadi lapang, kemudian memerintahkan untuk memanggil keduanya. Lalu dia melihatnya persis seperti dua orang laki-laki yang dilihatnya di dalam tidurnya.

Diapun bertanya kepada keduanya, ‘Dari mana kalian berdua?’

Keduanya menjawab, ‘Jama’ah haji dari Maroko.’

‘Berkatalah jujur kepadaku,’ sergah Panglima.

Lalu keduanya ditahan kerenanya.

Panglima pun bertanya tentang rumah keduanya. Di saat dia pergi dan sampai di rumah kedunya, dia tidak mendapati selain harta dan buku-buku di rak. Pada saat dia mengangkat tikar, dia menemukan lorong yang menghantarkan ke kamar NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Manusiapun terkejut. Setelah keduanya dipukuli, keduanya mengaku sebagai penggali kubur milik raja-raja Nasrani, dan sebelum keduanya sampai di kuburan terjadi goncangan di bumi. Panglima Nuruddin Zankiy pun membunuh keduanya di Kamar Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Kemudian beliau perintahkan untuk membangun tembok disekitar Kubur yang mulia yang terbuat dari tembok timah tebal agar tidak ada seorangpun yang berani berbuat lancang lagi dengan menggunakan cara tersebut.

Usaha keempat:

Sejumlah orang-orang Nasrani mencuri dan merampok kafilah jam’ah haji. Kemudian mereka bertekad untuk menggali kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka berbicara dan terang-terangan dengan niat mereka, kemudian mereka menyeberangi laut menuju Madinah. Kemudian Allah Ta’ala menolak serangan mereka dengan kapal yang telah disiapkan dari Mesir al-Iskandariyah yang mengikuti mereka, kemudian menangkap mereka semuanya, kemudian menawan dan membagi-bagi mereka di negeri kaum muslimin.

Usaha kelima:

Usaha yang dilakukan dengan niat untuk menggali kubur Abu Bakar dan Umarradhiallahu ‘anhuma. Itu terjadi di pertengahan abad ke tujuh hijriyah. Sejumlah orang yang mencapai 40 orang laki-laki bertujuan untuk menggali kubur di malam hari, kemudian bumipun terbelah dan menelan mereka.

Hal ini diceritakan oleh pelayan al-Haram an-Nabawy pada saat itu. Dia adalah Shawwab, as-Syamsu al-Malthiy. (AR)*

Foot Note:

[1]Pada tahun 358 H, orang-orang Rafidhah ‘Ubaidiy menguasai Mesir, mereka itu adalah satu kelompok yang mengaku cinta kepada Ahlul Bait. Di antara pemimpin mereka yang paling menonjol adalah al-Hakim Biamrillah yang mengaku sebagai Tuhan, dan dia mendakwahkan pendapat reinkarnasi arwah. Kekuasaan negeri itu berakhir pada tahun 568 H

***

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 6 th.IV/alsofwah.or.id
Artikel www.Kisahmuslim.com

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Usaha Pencurian Jenazah Nabi Muhammad SAW )

3 Fase Kehidupan Rasulullah SAW

Posted on 06/06/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Sejarah |

Kali ini akan membahas 3 Fase Kehidupan Rasulullah SAW. Jika isi kurikulum pendidikan begitu berkualitas. Telah dikaji oleh para ahli. Dirumuskan dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu berlandaskan penilitian yang mendalam. Dalam rentang waktu yang tidak bisa dibilang pendek. Bukankah luar biasa kurikulum seperti ini?
Tetapi, bagaimana jadinya jika kurikulum yang sudah luar biasa itu disampaikan dengan urutan yang beracak. Tidak diperhatikan kapan ilmu tertentu disampaikan. Juga tidak dianalisa porsi sebuah ilmu diajarkan pada fase tertentu. Tidak jelas ilmu mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan.
Hanya urutan. Hanya urutan? Tidak hanya!
Bagaimana mau berhasil kalau kurikulum matematika kelas 1 SD umpamanya, diajarkan di kelas 6 SD. Dan sebaliknya, IPA kelas 6 SD dijejalkan di kelas 1 SD. Pelajaran fikih hudud (hukuman pengadilan) diajarkan di usia awal. Sementara menghapal al-Qur’an baru dimulai di usia senja (itupun kalau mulai).
Kurikulum dengan kualitas istimewa, seistimewa apapun pasti tidak akan menghasilkan generasi yang diharapkan jika tidak dipadu dengan urutan penyampaiannya. (Hanya) salah urutan.
Di sinilah pentingnya melihat urutan kehadiran manusia paling mulia, Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam dalam seluruh fase kehidupannya. Karena seluruh kehidupan beliau bukan saja menarik untuk dikaji tetapi selalu ada keteladanan dan pelajaran bagi kehidupan kita.
Jika dibagi secara garis besar, kehidupan Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam melalui 3 fase besar. Masing-masing fase menggambarkan dengan sangat gamblang urutan kurikulum melahirkan generasi peradaban mulia. Ketiga fase itu adalah:
1. 0 – 40 tahun Fase Persiapan
2. 40 – 53 tahun Fase Makkiyyah
3. 53 – 63 tahun Fase Madaniyyah
Fase Persiapan
Usia 0 – 40 tahun kita sebut sebagai fase persiapan. Karena Muhammad shallallahu alaihi wasallam mencapai puncak kehidupan pada usia kira-kira 40 tahun. Pada usia itulah beliau mencapai prestasi tertinggi manusia di muka bumi ini. Yaitu menjadi pemimpin bagi seluruh manusia di dunia dan akhirat; menjadi Nabi.
Risalah (Tugas Kerasulan) adalah merupakan hak penuh Allah subhanahu wata’ala untuk diberikan kepada siapa yang Dikehendaki. Sebagaimana firman-Nya,
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am [6] : 124)
Membaca penjelasan shahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berikut ini, kita akan memahami ternyata hak penuh Allah subhanahu wata’ala tersebut tidak diberikan kepada sembarang orang.
Dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya Allah melihat hati-hati hamba, maka Dia memilih Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Dia mengutusnya dengan tugas kerasulan dan memilihnya dengan ilmu-Nya. Kemudian melihat hati-hati manusia setelahnya, maka Dia memilih baginya shahabat-shahabat. Maka Dia menjadikan mereka penolong agama-Nya dan pembantu-pembantu Nabi-Nya.” (ath-Thayalisi no. 246, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/375, dihasankan sanadnya oleh as-Sakhawi dan al-Albani dan dishahihkan oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah no. 533)
Ternyata Muhammad shalallahu’alaihi wassallam dan para shahabatnya adalah pilihan di antara seluruh manusia. Faktornya satu; kebersihan hati.
Terbayangkan kah oleh kita, betapa beratnya membersihkan hati dan kehidupan di tengah carut marut sistem Jahiliyyah seperti Mekah ketika itu. Bukankah hari ini, di tengah masyarakat muslim ini banyak yang menyerah dalam pembersihan jiwanya dengan berdalih arus sistem sangat kuat.
Selain itu, sunnatullah bicara bahwa untuk menjadi orang besar memerlukan persiapan yang luar biasa. Apalagi ini adalah puncak kebesaran; menjadi seorang Rasul. Pasti bukanlah sebuah kebetulan, juga bukan ketidaksengajaan, apalagi tiba-tiba.
Untuk itulah 0-40 tahun usia Nabi adalah fase persiapan untuk menjadi orang besar.
Fase Makkiyyah
40-53 tahun adalah usia Nabi di fase Makkiyyah (Mekah). Rentang 13 tahun tersebut adalah sebuah fase membangun pondasi keIslaman. Pondasi aqidah ataupun pondasi akhlak. Sebelum taklif (beban) Islam diberikan berupa ibadah dan aturan muamalah.
Inilah pondasi yang kokoh dengan kesabaran di rentang waktu yang tidak sebentar. Karena yang akan dibangun adalah bangunan Islam yang besar dan menjulang.
Berikut ini beberapa karakter fase ini:
1. Fase Mekah adalah fase ta’sis (pondasi permulaan).
* Semua nilai perjuangan yang mampu menjelaskan kata ta’sis akan menjadi karakter untuk masa ini. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menghabiskan waktu dan potensi diri dan shahabatnya hanya untuk mendiskusikan politik Romawi dan persia sebagai penguasa bumi saat itu. Tetapi lebih sibuk membangun SDM pemimpin bumi saat nanti tiba masanya Islam Menggantikan dua imperium tersebut. Bukankah Nabi berikut shahabatnya tidak menghancurkan wujud patung-patung di sekitar Ka’bah, sebelum patung-patung itu hancur di hati masyarakat Mekah. Bukankah Nabi menyiapkan pondasi untuk seluruh rencana bangunan utuh peradaban Islam. Pondasi itu adalah aqidah yang murni dan kokoh, berikut akhlak yang berkilau penuh kemuliaan.
2. Dominan membangun manusia dibandingkan membangun sistim
* Sistem tetap dibangun oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Terutama sistem untuk pengamanan tunas dakwah yang rawan rontok karena arogansi kemusyrikan. Tetapi beliau tidak disibukkan membangun sistem sehingga melupakan tugas utama dalam membangun SDM. Nabi tidak mengajak shahabat berdiskusi tentang sistem negara Islam yang akan dibangun; ekonomi, politik, keamanan, pasukan dan sebagainya.
* Yang ada adalah membangun generasi yang beriman dengan iman yang lebih kokoh dari tancapan gunung. Berilmu yang lebih luas dari samudera yang masih bertepi. Bermoral yang kilaunya lebih memancar dari berlian.
3. Pembagian Fase Makkiyyah
* 13 tahun ini dibagi dua: 10 tahun untuk membangun pondasi SDM sambil mencari tempat.
* 3 tahun sisanya untuk menyiapkan tempat, sebagai permulaan membangun sistem kekuasaan.
* 10 tahun yang pertama dibagi dua: 3 tahun dakwah dari individu ke individu dan orang-orang terdekat tanpa mengumumkan secara terbuka konsep barunya. 7 tahun dakwah terbuka, menyampaikan ajaran Islam yang asing bagi masyarakat dengan semua resiko yang harus dihadapi.
4. Taklif ibadah ada, tetapi tidak melebihi kuantitas penanaman aqidah
* Tercatat hanya beberapa ibadah penting yang sudah diturunkan sejak di Mekah. Bahkan shalat 5 waktu yang wajib pun baru diturunkan perintahnya pada sekitar satu tahun menjelang hijrah; artinya setelah 12 tahun penanaman aqidah.
* Bisa dikatakan bahwa hikmah ibadah yang diturunkan di fase Mekah untuk melatih membawa beban. Karena kelak di Madinah, beban akan dipikulkan hingga yang terberat sekalipun seperti jihad. Mereka yang pernah berlatih dan terlatih, akan terasa ringan dengan beban berikutnya dengan tingkat resiko yang lebih tinggi.
* Ibadah di fase ini juga merupakan aktifitas spiritual mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebuah nilai mahal yang berfungsi untuk menjaga ketahanan iman dan kesabaran fisik selama masa tekanan di fase ta’sis.
Fase Madaniyyah
53-63 tahun adalah usia Nabi di fase Madinah. 10 tahun ini merupakan fase maksimalisasi taklif (beban ibadah), akad muamalah untuk kekuasaan dan penerapan sistem Islam.
Surat al-Baqarah mewakili suasana ini. Inilah surat yang pertama turun di fase Madinah (al-Athlas al-Tarikhi li Sirah al-Rasul, Sami al-Maghluts, Maktabah al-‘Ubaikan, h. 105). Al-Baqarah masih membawa suasana surat-surat Makkiyyah tetapi sudah dominan bicara tema-tema Madaniyyah yang baru.
Al-Baqarah satu-satunya surat Madaniyyah yang masih mencantumkan kisah-kisah umat terdahulu. Padahal kisah umat terdahulu adalah merupakan tema ayat-ayat Makkiyyah.
Al-Baqarah satu-satunya surat Madaniyyah yang masih mencantumkan kisah Adam dan Iblis, kisah pertarungan pertama antara al-Haq dan al-Bathil. Kisah Adam dan Iblis adalah merupakan tema yang dibahas di ayat-ayat Makkiyyah. (Lihat: Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, Manna’ al-Qaththan, h. 59)
Sisa ayatnya lebih banyak tentang pembahasan khas Madinah berupa ibadah dan sistem muamalah dalam Islam. Shalat, zakat, puasa, haji dan umroh, hukum qishash, hukum halal haram, hukum khomr dan judi, larangan riba, hutang piutang, hukum sumpah, wasiat, hukum haidh, talak, masa iddah, khulu’, ila’, susuan, hukum seputar pernikahan dan juga perang.
Subhanallah, sangat luar biasa bukan, urutan al-Qur’an dalam membangun peradaban. Al-Baqarah yang mengakhiri sebuah fase masih mengingatkan tema terdahulu. Al-Baqarah yang mengawali sebuah fase membuka tema-tema yang merupakan konsentrasi fase ini.
Berikut ini beberapa karakter fase ini:
1. Membangun sistem negara menjadi konsentrasi awal fase ini
* Memaksimalkan fungsi masjid, mempersaudarakan sesama muslim dengan ikatan melebihi persaudaraan nasab belaka, membuat perjanjian dengan non muslim dalam kerjasama, membangun ekonomi umat.
* Kesemuanya adalah aktifitas Nabi di awal kaki beliau menapaki jalanan Kota Iman tersebut. Dan semua itu adalah variabel sebuah negara Islami.
2. Dominan taklif
* Madinah bukan lagi Mekah yang masih membangun pondasi. Masyarakat muslim telah siap. Siap untuk mendapatkan beban seberat apapun. Setelah tahun pertama digunakan untuk menanamkan variabel negara, tahun kedua adalah tahun turunnya taklif (beban ibadah). Terhitung pada tahun kedua ini perintah puasa diturunkan, zakat, hingga jihad. Karena masyarakat telah kokoh pondasinya, maka beban tak lagi menjadi beban. Beban yang bahkan bisa dinikmati.
* Tentu, tetap saja tema membangun aqidah dan akhlak merupakan hal yang terus diingatkan sepanjang fase Madinah. Tetapi, taklif adalah dominasi fase ini.
3. Pembagian fase Madaniyyah
Fase ini bisa dibagi menjadi 5:
1. 1H: Menanamkan variabel penerapan sistem Islam dan kekuasaan
2. 2H – 5H: Masa perjuangan karena reaksi musuh Islam
3. 5H – 6H: Masa pertama musuh Islam mulai menyerah satu per satu
4. 7H: Masa ekspansi Islam lebih luas
5. 8H – 11H: Masa kemenangan dengan grafik terus meningkat
Sebuah strategi nabawi yang sangat rapi dan sistematis.
Kalau kita ramu ulang 3 fase tersebut akan menghasilkan poin sebagai berikut:
Bersabarlah diri dalam mempersiapkan diri. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam lebih banyak menghabiskan usianya untuk persiapan (40 tahun) dibandingkan perjuangan (23 tahun)
Yang bersabar dalam membangun diri menjadi mukmin sejati, tidak akan terjatuh saat memasuki hasil berupa kekuasaan dan harta. Bagi Nabishalallahu ‘alaihi wassallam berbanding 13 tahun : 10 tahun.
Aqidah dan akhlak sebelum ibadah dan muamalah
Dengan urutan ini, tidaklah Rasul wafat kecuali Islam telah membuka seluruh jazirah Arab. Setelah sebelumnya hanya sebuah kota kecil yang bernama Madinah.
Inilah utuhnya. Utuhnya sebuah strategi dan urutan membangun peradaban sekaligus dalam mendidik generasi pembangun peradaban itu. Untuk sebuah hasil utuh dan maksimal. Agar hari ini kita mampu mengulang masa kebesaran shahabat Nabi.
Cacat pada sebagian urutan, akan berefek cacat pada sebagian hasilnya. Prosentase kegagalan dan lubang keberhasilan seiring sejalan dengan prosentase kegagalan dalam menerapkan urutan.
Kurikulum pendidikan bagi generasi kita hari ini yang ditugasi Nabi untuk mengembalikan masa kebesaran shahabat beliau dulu, harus mengikuti urutan tersebut.
Dari masa persiapan untuk kemapanan pribadi muslim, menuju perjuangan membangun pondasi aqidah dan akhlak pada diri dan masyarakat, hingga perjuangan menuju penerapan utuh sistem Islam dan kekuasaan. Untuk akhirnya meninggalkan dunia menghadap Robb dengan membawa amal shalih peradaban.
Ya Allah, bimbing kami.
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on 3 Fase Kehidupan Rasulullah SAW )

Foto: “Puing-puing Rumah Nabi Muhammad SAW”

Posted on 01/06/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Sejarah, Tokoh |

 

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg

Ini adalah foto Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah as, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun.

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg

Di atas ini gambar sisa runtuhan rumah Nabi Saw & Sayyidah Khadijah as yang dilihat lebih dekat.

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/pintu-masuk-kmr-rasul-di-rmh-khadijah_o.jpg

Gambar di atas ini adalah runtuhan pintu masuk ke kamar Rasul Saw di rumah Sayyidah Khadijah as

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg

Di atas ini adalah Gambar runtuhan tempat Sayyidah Fatimah as, puteri kesayangan Rasulullah Saw dilahirkan.

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg

Gambar di atas adalah sisa runtuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah as.

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg

Di atas ini adalah gambar runtuhan mihrab tempat Rasulullah saw bersolat.

http://qitori.files.wordpress.com/2007/12/kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg

Gambar di atas ini adalah makam Sayyidah Khadijah as (yang besar) dan puteranya, Qasim (yang kecil) di sudut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Foto: “Puing-puing Rumah Nabi Muhammad SAW” )

Bukti Nabi Muhammad Dalam Kitab Suci Agama Lain

Posted on 14/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW |

Rasulullah dalam kitab lain

Dalam kitab suci agama selain Islam juga tercantu ciri-ciri Rasulullah, ini membuktikan bahwa islam adalah agama yang paling benar dan Rusulullah merupak utusan Allah yang terakhir. (Berita SuaraMedia)

Dari Kitab Perjanjian Lama:

Didalam perjanjian lama, kita dapat pula menjumpai tentang Muhammad ini, misalnya dalam kitab Ulangan 18 :18 yang bunyinya:   “Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi diantara segala saudara-saudaranya yang seperti engkau ya Musa. dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia.”

Dalam ayat ini dijelaskan akan kedatangan seorang Nabi yang sebesar Nabi Musa, yang datangnya dari antara saudara-saudara Nabi Musa. Allah sudah terlalu kesal terhadap pembangkangan bangsa Israel. Itulah sebabnya Allah tidak lagl akan membangkitkan Nabi-nabinya dari keturunan Israel (Yahudi) tetapi dari pada saudara Israel, yaitu Arab. Ini kuat, sebab kalau ditarik garis keturunan yang lurus, maka Nabi Musa adalah keturunan Ishak, sedangkan Nabi Muhammad adalah keturunan Ismail. Ishak dan Ismail adalah dua bersaudara anak Ibrahim. Hal ini ditegaskan pula dalam kitab (Taurat Musa) Ulangan 33: 1-3 yang bunyinya:

1. Bermula, maka inilah berkat yang telah diberikan Musa khalil Allah pada Bani Israil dahulu daripada matinya.

2. Maka katanya: “Tuhan telah datang dari Thursina, dan telah terbit bagi mereka itu dari Seir. Kelihatanlah ia gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dengan Bukit Kades. Maka pada kanannya adalah tiang api bagi mereka itu.”

3. Bagaimana dikasihinya akan mereka itu, yaitu segala suku bangsa itu, segala kesuciannya dalam tangannya, dan mereka itu duduk dikakinya masing-masing akan mendapat perkataannya.   Didalam ayat 1 dijelaskan akan hikmah ini, suatu berkat, suatu kebahagiaan yang diberikan oleh Musa khalil Allah untuk Bani Israil. Ayat ke-2 membicarakan lebih jauh isi dari hikmak ini, yaitu tentang tiga tempat: Thursina, Seir dan Paran.

Thursina adalah bukit dimana Nabi Musa a.s. Mendapatkan dua log batu dan Tauratnya dari Allah, Seir menyebutkan suatu bukit ditanah Kanaan yang dalam hal ini menunjukkan dimana gerangan Nabi Isa a.s. akan lahir, yakni di Baitlahim, sedangkan tempat ketiga “Paran” namanya adalah menunjukkan di mana Nabi Muhammad akan lahir, sebab Paran itulah nama Mekkah yang aslinya. Pada tempat ketiga akan muncul seseorang. Siapakah Dia? Yaitu yang datang hampir atau mendekati Kades yang artinya Baitullah.

Alangkah hebatnya tiang yang muncul dari Paran ini, yaitu Tiang Api, (suatu kesalahan lagi. Dalam Perjanjian Lama berbahasa Belanda disebutkan bukan tiang api, tetapi Hukum Api (Vuurwet) suatu unsur yang sanggup dan akan dapat membinasakan unsur-unsur kimia apapun didepannya, apakah ia baja sekalipun. Jadi yang dimaksud dengan tiang atau hukum api, ialah sudah tentu munculnya suatu agama atau keyakinan yang sendi-sendinya sangat kuat, sebagaimana tiang api itupun kuat. Agama apakah yang muncul dari Paran? Tidak ada duanya, selain agama Islam yang mempunyia 4 sendi yang kokoh yaitu Tauhid (Keesaan Tuhan), Ibadah (sembahyang dan puasa serta haji), Muamalah (cinta sesama manusia, sosialis yang merata), dan Akhlak (budi luhur manusia).

Dari Kitab Yesaya:

Ayat ke-3 selanjutnya menggambarkan betapa bangsa itu lalu dikasihi oleh Allah, serta berkenan menerima perkataan-perkataan dari Dia, yang muncul dari Mekkah (Paran) itu. Kesimpulan yang diperoleh dari seluruh tafsiran ini, ialah: ,”Dari Mekkah akan datang Nabi itu, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.”Kitab Nabi Yesaya pasal 41 ayat 1-4 bunyinya:

1. Berdiam dirilah kamu hai sekalian pulau, hendaklah segala bangsa memperbaharui kuat dan kuasanya, serta datang kemari, hendaklah mereka itu memutuskan hukum. Kami hendak bersama-sama datang hampir akan berhukum.

2. Siapa gerangan yang, sudah membangkitkan Dia dari musyrik dan bertemu dengan segala kebenaran pada segala langkahnya? Siapa Dia, yang menyerahkan segala orang-orang kafir dihadapan haderatnya dan akan memberikan kuasa atas segala raja-raja dan menyerahkan mereka seperti duli dan kepada busurnya seperti jerami diterbangkan angin?

3. Pada masa diusirnya mereka itu? Dengan selamat juga ia terus kepada jalan yang belum pernah dilangkahinya,

4. Siapa gerangan sudah mengadakan dan membuat dia, sambil memanggil segala bangsa asal mulanya. Aku ini Tuhan yang pertama, maka Aku ini yang kemudian sama saja.   Didalam kutipan tadi, juga dijelaskan lagi, betapa nabi itu akan mengadakan peperangan dan akan mengalahkan orang orang dan raja-raja kafir sekalipun. Didalam ayat ke-3 diceriterakan betapa Nabi itu harus, “Hijrah” ke tanah yang belum pernah dijejakinya, dengan selamat. Hal ini mengingatkan kita kepada “Hijrah Rasulullah” dari Mekkah ke Medinah dengan selamat. Ayat ke-2 menceriterakan bagaimana Muhammad mengalahkan raja-raja dan orang-orang kafir hanya sebagai duli yang diterbangkan angin, serta anak panah-anak panah lawan yang seolah-olah hanya jerami belaka, artinya tidak sampai melumpuhkan Muhammad dan tentaranya. Yesus belum pernah melakukan peperangan selama hidupnya. Sebab doktrin Yesus kita kenal yaitu: Bila ditempeleng pipi kiri berikanlah pula pipi yang kanan, dan cintailah sesamamu manusia, bahkan musuhmu juga. Dengan doktrin ini Yesus tidak mungkin akan mengadakan peperangan-peperangan dan serbuan, apalagi Yesus bukankah pernah mengatakan, bahwa kerajaannya bukanlah di dunia ini? (Yahya 18: 36).

Dalam Kitab Umat Hindu:

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH”. Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya MINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebiuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasullah mengendarai Buroq.

Dalam Kitab Kaum Persia:

Selainnya dari Weda, nama Muhammad dapat pula kita jumpai dalam kitab orang Parsi. Kita baca umpamanya dalam Kitab Datasir 14, berkatalah Susan, Nabi orang Parsi: “Apabila orang-orang Parsi sudah terjerumus dalam budi pekerti yang begitu rendah,”‘maka seorang akan lahir ditanah Arab” yang pengikut-pengikutnya membalikkan takhta kerajaan agama dan segala barang mereka itu. Seseorang yang berkepala batu yang amat berkuasa di Parsi akan dihalaukan. Rumah yang didirikan itu, dimana berhala-berhala banyak terdapat disitu akan disucikan daripada berhala-berhala itu, dan banyak orang-orang akan menjalankan shalatnya dengan menghadap mukanya ke ka’abah. Pengikut-pengikutnya akan menawan kota-kota Persi, Taush dan Bulhuh serta lain-lain tempat besar sekelilingnya. Rakyat akan kacau menjadi satu, dan orang pandai-pandai di tanah Persi akan menggabungkan diri dengannya.”

Alangkah tepatnya nubuatan ini, yang digenapi pada tahun 17 Hijrah atau Mei 638M didalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab pasukan-pasukan Islam menyerbu ke Persia, dan gugurlah takhta kerajaan orang Persi. Rajanya yang kejam-melarikan diri ke Asyria meminta suaka. Hal ini tepat 29 tahun sesudah kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Heran, heran benar saya jadinya kalau Kraemer, doctor orientalis barat menuliskan keadaan Muhammad sebagai “seorang yang kurang Ilmu” – “pawang unta” – “Muhammad yang tidak pernah melihat Qur’an yang sekarang ini.” (Apakah Yesus dan Paulus juga sudah melihat Injil yang seperti sekarang ini Doctor???).

Yang kemudian, oleh pengikut-pengikutnya dikhayalkan Muhammad pernah naik ke surga. “Qur’an adalah hanya karangan Muhammad yang dipaksakan kepada pengikut-pengikutnya, berisi jiplakan Perjanjian Lama yang bersifat sajak yang kadang kadang sangat pelong bunyinya dan dibuat-buatnya saja” (supaya lebih puas, bagaimana dan sampai dimana penilaian Dr. Kraemer, baiklah dibaca saja buku “Agama Islam” karangan Dr. Kraemer, yang diterbitkan oleh BPK Kwitang 22 Jakarta terbitan tahun 1953). Dari berbagai sumber: www.suaramedia.com

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bukti Nabi Muhammad Dalam Kitab Suci Agama Lain )

Aminah binti Wahab

Posted on 11/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Tokoh |

images1

Aminah binti Wahab (???-577) (Bahasa Arab: آمنة بنت وهب) adalah ibu yang melahirkan Nabi Muhammad.

Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah. Dialah Aminah binti Wahab. Ibu dari Nabi kita Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)yang diutus ALLAH sebagai rahmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa ALLAH Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang rasul mulia dan nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) tentang nasabnya.
“ALLAH telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

Dengarlah sabdanya lagi, “Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang rasul atau nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi ummat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini. “Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) iaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fizikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.

Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

Kelahiran

Kurang lebih enam setengah abad setelah kenabian Isa putra Maryam, di Tanah Hijaz (Mekkah), tepatnya pada qabilah Quraisy, lahirlah bayi perempuan nan cantik, tepatnya dari Bani Zuhrah. Bayi mungil itu kemudian diberi nama Aminah, putri Wahab seorang bangsawan Quraisy yang berkedudukan tinggi di antara kaumnya.

Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab.
Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin Abduddar bin Qushay.

Nenek moyang Aminah adalah orang-orang yang memiliki kemuliaan yang belum pernah dimiliki oleh qabilah lain. Mereka adalah orang-orang suci yang bersih dari perbuatan tercela dan tidak pernah tergoda kehormatannya.

Oleh karena kesucian dan kemulian yang dimiliki nenek moyangnya itulah, maka Rasulullah dengan bangga pernah menyatakan dalam sabdanya :

“… Dan selanjutnya Allah memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik kedalam rahim yanng suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik di antara keduanya.” (Hadist Syarif).
images3

Pernikahan Aminah

Setelah menginjak dewasa, Aminah berkembang menjadi gadis yang amat cantik, melebihi kecantikan gadis-gadis Makkah pada saat itu. Melihat anak gadisnya telah beranjak dewasa, ayahnya segera mencarikan jodoh untuknya. Akhirnya yang paling cocok dan dianggap sekufu dengan Aminah adalah keponakannya sendiri, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib. Abdullah adalah anak ke 10 dari Abdul Muthalib hasil perkawinannya dengan Fathimah binti ‘Amr al-Makhzumy dari Bani Makhzum. Bani Makhzum merupakan tulang punggung kekuatan qabilah Quraisy.

Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570)

Sedangkan Abdul Muthalib adalah seorang tokoh Quraisy yang mendapat kehormatan lebih dari kaumnya, dan keagungannya diakui oleh penduduk Quraisy. Ia sangat disegani oleh semua lapisan masyarakat Makkah pada waktu itu karena sikapnya yang bijaksana.

Banyak orang mengatakan bahwa Aminah dan Abdullah itu sangat sekufu dan serasi bila dijodohkan. Yang wanitanya cantik sedangkan prianya tampan.

Cahaya di dahi

ALLAH memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fatimah binti Murr, Laila al Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.

Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah – yang waktu itu sebagai pemimpin bani Zuhrah – untuk dinikahkan dengan Aminah.

Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Makkah. Paling memukau dan paling terkenal di Makkah. Tak hairan, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Makkah yang patah hati.”

Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya. Apa jawab Ruqayah, “Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”

Fatimah binti Murr yang ditanyai juga berkata, “Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, kerana itu aku ingin memilikimu. Namun ALLAH tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendakiNya.”

Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila al Adawiyah. “Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu kerana itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengahwini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”

Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapanya. Kelahirannya sebagai khabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam. Dari suara ghaib ia mendengar, “Engkau sedang mengandung pemimpin ummat.”

Masyarakat di Makkah selalu membicarakan, kedatangan nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendita Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan ALLAH telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. seperti disebutkan dalam Surah al Baqarah ayat 129.

“Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang rasul dari kalangan mereka.”

Dan terwujudlah khabar gembira dari Nabi Isa ‘Alaihissalam. seperti tersebut dalam Surah as-Shaff ayat 6. “Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad)”.
teratai

Bermimpi Melahirkan Orang Terkemuka

Beberapa minggu setelah pernikahan suci itu, Aminah bermimpi. Mimpinya itu, seolah-olah ia melihat sinar yang terang benderang mengelilingi dirinya. Ia juga seolah-olah melihat istana-istana di Bashrah dan Syam. Seolah-olah dia juga mendengar suara yang ditujukan kepadanya: “Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!”

Seperti kebanyakan penduduk Quraisy lainnya, pekerjaan Abdullah adalah berdagang. Ia sering mengembara ke negeri Syam atau ke negeri-negeri lainnya. Kegembiraan yang baru saja meluap dengan kehamilan istrinya, kini serta merta menjadi kesedihan yang cukup dalam karena ia harus segera bergabung dengan kafilah Quraisy untuk melakukan perdaganngan ke Gaza dan Syam. Entah kenapa kali ini ia merasa amat berat meninggalkan rumah. Biasanya ia berangkat berdagang dengan semangat yang tinggi. Kali ini sepertinya ia telah mempunyai firasat, pergi bukan untuk kembali. Namun pergi untuk selama-lamanya dari pangkuan istrinya yang tercinta. Namun kegalauan hatinya tidak disampaikannya kepada Aminah. Ia takut kegalaluan hatinya akan merisaukan hati Aminah, sehingga akan mengganggu janin dalam kandungannya.

Akhirnya Abdullah tetap pergi meski dengan hati yang tertambat di rumah. Hatinya begitu sedih, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipi. Air mata perpisahan, hanya Allah-lah yang mengetahui, apakah suami istri itu akan berjumpa lagi atau tidak. Hanya saja mereka berdua merasakan bahwa saat itu hati keduanya sama-sama tidak menentu.

Sang Suami Meninggal Dunia

Pada suatu hari ketika Aminah sedang berada di muka rumahnya, ia melihat nun jauh di sana titik-titik hitam rombongan Quraisy yang sedang pulang. Saat itu tak terlintas dalam pikirannya kecuali keselamatan suaminya. Ketika rombongan kafilah semakin dekat, hati Aminah bertambah resah karena belum ada suatu tanda pun mengenai suaminya. Hatinya bergejolak karena dirasa iring-iringan kafilah itu berjalan amat lambat bagaikan iring-iringan semut. Karena tidak sabar, ia menyuruh pembantu mertuanya yang bernama Barakah Ummu Aiman untuk mencegah kafilah dan mencari kepastian kabar suaminya.

Akhirnya Aminah beranjak ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Belum lama ia membaringkan badannya, terdengar ketukan pintu. Dengan hati yang berdebar dan tubuh terasa terbang, Aminah segera membukakan pintu. Tak ada pikiran lain saat itu kecuali suaminya. Kekecewaan lagi-lagi menerpa hati Aminah, sebab orang yang datang bukanlah orang yang dirindukannya, melainkan mertuanya dan ayahnya sendiri, Wahab bin Abdi Manaf.

Melihat rona kekecewaan yang tergambar jelas di wajah menantunya ini, Abdul Muthalib merasa amat kasihan. Kemudian dengan hati-hati disampaikannya berita mengenai Abdullah. Maka Aminah mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Kata Abdul Muthalib: “Aminah… tabahkanlah hatimu dalam menghadappi persoalan-persoalan yang mencemaskan. Kafilah yang selama ini kita tunggu-tunggu telah kembali. Dan salah satu anggota kafilah memberitahukan bahwa suamimu, Abdullah mengalami gangguan di tengah perjalanan, hingga saat ini ia belum bisa pulang kembali ke Mekkah. Ia sekarang sedang berada di rumah salah seorang pamannya dari Bani Makhzum. Menurut kabar, suamimu mendadak sakit dan setelah sembuh ia pasti akan segera sampai di rumah dengan selamat..!”

Mendengar berita yang sangat tidak mengenakkan itu, Aminah hanya bisa pasrah dan berdoa. Harapannya seakan pupus untuk segera bertemu dengan suaminya, karena jarak yang memisahkan antara Mekkah (Hijaz) dan Madinah (Yatsrib) tidaklah dekat. Kini yang bisa dilakukan Aminah hanyalah memulai masa penantian.

Setelah dua bulan, datanglah kabar yang membuat hatinya luluh lantak karena Al Harits yang disuruh menyusul kemballi Abdullah, memberitahukan bahwa suaminya telah meninggal dunia, sedangkan jenazahnya dikuburkan di tempat itu juga. Penantian dan kerinduan yang selama ini ia pendam ternyata tidak tertumpahkan. Belum lama ia mengecap kebahagiaan bersama suami yang dicintainya, kini ia telah ditinggalkan untuk selama-lamanya.
images7

Abrahah Datang Saat Kelahiran Nabi

Ketika kelahiran putranya sudah dekat, tiba-tiba mertuanya menyuruhnya berkemas-kemas untuk mengungsi keluar kota Mekkah, menyelamatkan diri bersama-sama orang Quraisy lainnya. Mereka beramai-ramai mengungsi ke sebuah perbukitan yang tidak jauh dari kota Mekkah.

Mengapa terjadi pengungsian besar-besaran dari kota Mekkah? Ternyata ketika itu telah tersiar kabar bahwa penguasa Habasyah dari Yaman yang bernama raja Abrahah akan mengerahkan pasukannya yang begitu besar dan kuat ke kota Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Abdul Muthalib mengetahui hal itu karena sebelumnya ia telah bertemu langsung dengan raja Abrahah untuk meminta kembali 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan dzalim itu.

Aminah cukup heran mendengar seruan mertuanya untuk mengungsi. Bukanlah lebih baik melawan orang dzalim yang hendak menghancurkan rumah suci Ka’bah? Maka keheranan itu ditanyakan kepada mertuanya: “Paman…saya mendengar orang-orang Quraisy, Kinanah, Hudzail dan semua orang yang tinggal di tanah suci ini telah bertekad hendak berperang melawan setiap penyerbu. Apa yang menghalangi mereka sehingga mereka berubah niat, hendak meninggalkan Ka’bah serta tidak mau membelanya?”.

Jawab Abdul Muthalib: “Anakku, kita tidak mempunyai kekuatan yang seimbang dengan kekuatan mereka. Jika kita memaksakan diri untuk melawan mereka dengan senjata, maka kita akan hancur dan menderita kekalahan dengan kerugian yang besar. Rumah suci itu ada yang punya, pemiliknyalah yang akan melindunginya!”

Aminah sebenarnya enggan pergi kemana-mana. Ia ingin melahirkan di rumahnya sendiri, di dekat Ka’bah. Kini hatinya kembali risau, memikirkan nasib anaknya yang mungkin akan lahir di luar kota suci. Namun akhirnya ia berhasil meyakinkan diri sebagaimana keyakinan mertuanya bahwa Baitullah pasti akan memperoleh perlindungan dari pemiliknya. Kini ia justru bertekad hendak meninggalkan rumah untuk mengungsi, demi keselamatan bayinya. Biarlah Allah yang menentukan nasib dirinya, putranya dan rumah suci-Nya.

Ketika petang menjelang, tiba-tiba datang seseorang ke rumahnya, ia memberitahukan bahwa Abrahah telah gagal menyerbu ka’bah. Allah tidak meridhoi mereka yang hendak merusak rumah suci tersebut. Bahkan kemurkaan Allah tergambar jelas dengan adanya adzab yang menimpa Abrahah dan pasukannya. Sebagian besar pasukan Abrahah tewas tertembus batu-batu kecil yang dijatuhkan burung Ababil. Sedangkan sisanya lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.

Kurang lebih lima puluh hari kemudian, Aminah melahirkan bayi lelaki yang bersinar penuh keagungan. Bayi yang kemudian menjadi Rasul Allah ini dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah hari Senin pagi, tanggal 12 Rabi’ul Awwal, permulaann tahun dari peristiwa gajah dan 450 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan , bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April 571 Masehi. Aminah melahirkan hanya ditemani oleh pembantu setianya, Ummu Aiman.

Munculnya keanehan saat Aminah Melahirkan

Berbagai keanehan terjadi mengiringi kelahiran Rasulullah SAW. Di antara keanehan yang bersifat ghaib adalah: tertutupnya pintu langit untuk para jin dan iblis. Sebelum Aminah melahirkan, jin dan iblis bebas naik turun ke langit, untuk mencuri pembicaraan malaikat. Namun sejak lahirnya manusia paling sempurna di dunia ini, pintu langit tertutup untuk setan yang terkutuk.

Ada juga sebagian riwayat yang mengemukakakn bahwa Aminah melahirkan bayinya sudah dalam keadaan dikhitan, sedangkan Aminah sama sekali tidak mendapatkan nifas, setelah melahirkan. Keanehan lain juga sempat disaksikan oleh Aminah sendiri. Kata Aminah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad: “Setelah bayiku keluar, aku melihat cahaya yang keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam!” Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.

Beberapa bukti kerasulan, bertepatan dengan kelahiran beliau, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra dan padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar istana Buhairah. Setelah itu, gereja-gereja tersebut ambles ke tanah. Demikian diriwayatkan dari Al-Baihaqy.

Setelah melahirkannya, dia menyuruh orang untuk memberitahukan kepada mertuanya tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muthalib dengan perasaan sukacita kemudian menggendong cucunya yang baru lahir dan membawanya ke Ka’bah seraya bersyukur dan berdoa kepada-Nya. Ia memilihkan nama Muhammad bagi cucunya. Nama yang sama sekali belum dikenal di kalangan Arab.

Disusui Wanita Kampung

Sebagaimana tradisi orang Arab yang memberikan bayinya untuk disusui kepada wanita kampung, maka Aminah harus pula melepaskan anaknya untuk disusui orang lain. Namun, sebelum melepaskan anaknya kepada Halimah binti Abi Dua’ib as Sa’diah, ia tetap menyusui sendiri bayinya itu. Setelah dua tahun, tugas Halimah selesai, Aminah menerima kembali anaknya.

Selanjutnya ia membawa Muhammad ke Yatsrib untuk berziarah ke kuburan suaminya, yang telah 7 tahun berbaring di sana. Untuk itu, ia mempersiapkan segala sesuatu agar dia dan anaknya dapat ikut bersama kafilah yang akan membawa dagangan. Setelah tinggal di Yatsrib selama sebulan lamanya, Aminah bersiap-siap untuk pulang bersama kafilah yang akan kembali ke Mekah. Namun di tengah perjalanan, sesampai si Abwa’, sebuah desa antara Madinah dan Mekah (kira-kira 37 km dari Madinah), Aminah, ibunda Rasulullah SAW menderita sakit. Sakitnya itu membawa kematiannya. Ia dikubur di tempat itu juga. Muhammad SAW ketika itu berumur sekitar 6 tahun.

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Diriwayatkan oleh Aisyah dengan katanya, “Rasulullah (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda lalu mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis kerana tangisnya.”

Betapa harumnya nama Aminah, dan betapa kekalnya namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung sebagai ibu Baginda Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para nabi, dan sebagai rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung rasul yang mulia. Semoga ALLAH memberkahinya.

Mari kita kenali nabi kita sampai ke ibu & bapaknya. Yang tak kenal sulit untuk mencintainya.

Semoga ALLAH Ta’ala menjadikan kita sebagai ummat Beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) yang diridloi dunia sampai akhirat. Amiin.

***

[Sumber: Ensiklopedi Muslimah karya KH. A. Aziz Masyhuri]

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Aminah binti Wahab )

Halimah As-Sa’diyah

Posted on 11/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Tokoh |

images25
Halimah As-Sa’diyah (Arab:حليمة السعدية) adalah ibu susu dari Nabi Muhammad. Ia dan suaminya berasal dari suku Hawazin. Halimah As-Sa’diyah memiliki beberapa nama, yaitu Halimah binti Abdullah dan Halimah bint Abi Dhuayb.

Inilah sosok wanita dari Bani Sa’ad yang benar benar mulia dan beruntung. karena dia yang menyusui Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin abdul Izzi bin Rifa’ah As Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah, dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel. Mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Mencari anak susuan

Halimah as Sa’diyah adalah wanita arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Halimah menceritkan tentang penyusuannya dengan panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan “suatu ketika aku keluar bersama para wanita bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami mengendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetespun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami yang selalu menangis karena rasa lapar. Puting kami tidak lagi menyediakan apa yang mencukupinya.

Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu berharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekkah. Setiap wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ‘ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya?’ oleh karena itu, kami tidak tertarik. tidak ada dari wanita wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara dengan suamiku. ‘Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku akan pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya’. Ia berkata ‘Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu’. aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.

images12
Berkah Yang Melimpah

Berkah melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu alaihi wa salam. Akan tetapi Halimah dan suaminya merasa lapar dan haus. Namun darimana mereka mendapatkan makanan karena unta betinanya susunya tidak berisi?
Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga ia puas dan kenyang. Sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata,’Demi Allah , wahai Halimah. Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah’.

Aku mengatakan,’Demi Allah, itulah yang kuharapkan’
Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai, Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tunggangnku jauh lebih cepat daripada keledai keledai orang lain, sehingga para kawanku berkata padaku,’Wahai anak serigala,sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?
Kukatakan pada mereka,’Ya, Demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu’. mereka mengatakan, ‘Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu’

Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar padanya dari segala penjuru. keberkahan meliputinya dalam segala hal Kambing kambingnya selalu keluar menuju ke tempat penggembalaan bersama kambing kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing kambing yang lain pulang dalam keadaan sebagaimana ketika pergi. Sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka, ‘Sial kalian! kalian pergi menggembala sebagaimana penggembala anak perempuan Abu Dzuaib. akan tetapi hasilnya sangat berbeda’.
Demikianlah hari hari Halimah hingga berjalan selama dua tahun.

Kembali Mengasuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam

Setelah menyusuinya selama 2 tahun, Halimah harus membawanya pulang kembali ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Makkah al Mukarramah. Halimah membawanya pada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besarnya berkah pada diri Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikian suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya, Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya.
Demikianlah, Nabi Shalallahu alaihi wa salam tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadinya peristiwa ‘pembelahan dada’. Setelah kejadian ini Halimah merasa takut sehingga mengembalikannya kepada ibu kandungnya.

Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya, ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad Shalallahu alaihi wa salam kepada seluruh manusia, maka Halimah as Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

Kedudukan Halimah

Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daripada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau Shalallahu alaihi wa salam yang sangat menghormati Halimah, yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah dengan berteriak “Ibuku, Ibuku” lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya.

Wafatnya

Halimah masuk Islam dan berhijrah. Ia meninggal di Madinah Munawwarah, lalu dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah Radhiallahu anha sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para shahabat nabi yang lain (Abu Fathimah)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Halimah As-Sa’diyah )

Surat Rasulullah kepada Raja Qibthi, Muqauqis

Posted on 10/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW |

prophets-letter-to-muqauqas-egyptSurat-Nabi_Maqwuqs-300x198

Dengan nama Allah yagn Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusanNya kepada Muqauqis raja Qibthi. Keselamatan bagi orang yang mengiktui petunjuk. Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Alah pahala dua kali. Jika kau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS ali Imran 3:64)

Al-Mawahib al Laduniyah, (III: 247-248).
Hingga sekarang, telah ditemukan 5 teks surat. Seorang Orientalis Perancis, Barthelemy, telahmenemukan di salah satu daerah di kota Akhmim di ujung kota Mesir, lembaran kulit lama, pada tahun 1850M. Setelah diadakan penelitian, jelaslah bahwa kertas itu adalh surat Nabi kepada Muqauqis, Raja Qibthi di Mesir. Ia membandingkannya dengan Belin untuk mentahqiq surat tersebut. Kemudian ia mengumumkan dengan yakin bahwa teks tsb adalah manuskrip asli.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Surat Rasulullah kepada Raja Qibthi, Muqauqis )

Surat Rasulullah kepada Raja Habasyah, Najasyi

Posted on 10/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW |

letter-to-nijashi-king-of-habsha

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusa Allah kepada Najasyi raja Habasyah, keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.
Amma ba’du: Aku memuji Allah padamun yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Menguasai, Maha Suci, Maha Penyelamat, Maha Pemberi Aman dan Maha Pembeda. Aku bersaksi bahwa Isa anak Maryam ruh Allah, dan firmanNya yang diberikan kepada Maryam yang suci lagi perawan, lalu ia hamil dari ruh dan tiupannya, sebagaimana Ia menciptakan Adam dengan tanganNya. Aku mengajakmu kepada Allah yang Esa, yang tidak ada sekutu bagiNya, mematuhi dengan ketaatan kepadaNya dan untuk mengikutiku dan mempercayai apa yang aku bawa. Aku Rasulullah, aku mengajakmu dan para pasukanmu kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. Aku telah menyampaikan pesan dan memberi nasehat, maka terimalah nasehatku. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.

Surat-Nabi_Najasyi-221x300
Thabaqut Ibnu Sa’ad, III:15.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Surat Rasulullah kepada Raja Habasyah, Najasyi )

Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz

Posted on 10/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW |

Surat-Nabi_Persia-300x291
Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup. Masuklah Islam maka kau akan selamat, dan jika kau mengabaikannya maka atasmu dosa orang orang Majusi.

Surat Nabi kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz, diambil dari hadist Ibnu Abbas yang di takhrij oleh Bukhari (4424) dan oleh Ahmad (I:243-305)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Surat Rasulullah kepada Raja Persia, Kisra Abrawaiz )

Surat Rasulullah kepada Raja Romawi, Heraclius

Posted on 10/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW |

prophet_letter-to-the-heraclius-of-rome letter-to-qaiser_e_rome
Rasulullah mengirim surat kepada Heraclius, Raja Romawi yang dibawa oleh Dihyah al Kalbi. Ia menyerahkannya kepada penguasa Bushra dan mengantarnya kepada Heraclius. Bunyi teksnya adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad hamba Allah dan utusanNya, kepada Heraclius Raja Romawi. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.
Amma ba’du: Aku mengajakmu untuk masuk Islam. Masuklah Islam maka kau akan selamat dank au akan diberikan oleh Allah dua pahala. JIka kau menolak, maka kau menanggung dosa orang orang Arison.
‘Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adlaah orang orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS Ali Imran 3: 64)

Surat Nabi kepada Kaisar Romawi diambil dari hadist Ibnu Abbas dari Abu Sufyan yang di takhrij oleh Bukhari pada bab Kaifa bada-al wahyi ila Rasulillah, oleh Muslim (1773), Tirmidzi (2718), Abu Daud (5136), Ahmad (I:263) dan oleh Baihaqi dalam as-Sunan (IX:177)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Surat Rasulullah kepada Raja Romawi, Heraclius )

« Previous Entries Next Entries »
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 949,227 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: