Ibu dan Puisi

Do’a Seorang Ibu begitu amat berarti

Posted on 13/06/2012. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami | Tags: , , , , , |

( Subhanalloh…do’a Ibu saat marah, mnjadiknnya Seorang Imam Masjidil Haram )

Di masa kecil, ia senang bermain-main dengan tanah
… Saat sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yg diadakan ayahnya,
Ketika tamu belum lagi datang…
Tiba-tiba kedua ta…ngannya yang mungil mengambil tanah,
ia masuk rumah dan melemparkan tanah itu ke arah makanan yg telah tersaji
Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah sembari berkata,
“PERGI KAMU, BIAR KAMU JADI IMAM HARAMAIN!”
Dan sekarang…anak itu telah dewasa dan telah menjadi Imam di masjidil Haram
Tahukah Anda, siapakah anak kecil yg didoakan ibunya itu?

Dia adalah Syeikh Sudais, Imam mAsjidil haram yg senandung tartilnya menjadi favorit kaum muslimin di seluruh dunia

( Bagi para ibu, hendaknya selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya, bahkan meskipun ia dalam keadaan marah…karena salah satu doa yg tak terhalang adalah doa orangtua untuk anaknya..)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Do’a Seorang Ibu begitu amat berarti )

Dua ibu yang Memperebutkan Satu Anak

Posted on 24/01/2012. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami | Tags: , |

 

Dalam Buku Al-Irsyad disebutkan:

“Pada zaman Umar bin Khatthab, ada dua wanita berselisih memperebutkan seorang anak. Kedua wanita itu mengaku seorang ibu atas seorang bayi. Keduanya mengklaim tanpa memiliki bukti dan saksi. Umar bin Khatthab kebingungan untuk memberikan keputusan siapa sebenarnya ibu dari bayi ini. Akhirnya ia terpikir Imam Ali bin Abi Thalib dan membawa perkara ini ke hadapannya untuk dicarikan solusinya.

 

Imam Ali as pada mulanya menasihati keduanya, namun nasihat itu tidak mempan. Keduanya tetap pada pendiriannya. Karena perselisihan keduanya tidak kunjung selesai, Imam Ali as meminta untuk diambilkan gergaji. Melihat itu, kedua wanita ini bingung dan bertanya, “Apa yang ingin engkau perbuat?”

Imam Ali as menjawab, “Aku ingin membelah anak ini menjadi dua bagian. Satu untukmu dan satu lagi untuk engkau.”

Ketika mendengar keputusan apa yang akan dilakukan oleh Imam Ali as, salah satu dari wanita itu terdiam lalu berkata. “Jangan! Jangan! Kalau itu keputusanmu, aku memberikan bagianku kepada ibu itu, biarlah dia menjadi ibu dari anak ini.”

Imam Ali as lantas mengucapkan takbir “Allah Akbar”. “Bayi ini adalah anakmu dan bukan dia. Bila bayi ini milik dia, tentu dia tidak tega dengan keputusanku dan akan menolak pembagian anak ini dengan cara dibelah dua,” tambah Imam Ali as.

Wanita yang satunya kemudian mengaku di hadapan Imam Ali as bahwa memang benar ibu anak itu bukan aku tapi yang satunya.

Setelah selesai masalahnya, ibu yang berhak atas anak itu kemudian mendoakan Imam Ali as.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh as-Sarwa dan berkata, “Ini adalah hukum yang pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman as di masa kecilnya.”

Sementara itu, dalam buku al-Adzkiya’ diriwayatkan:

“Ada seorang lelaki membeli budak dari orang lain. Setelah dibeli, ia mengklaim bahwa budak ini tolol dan ingin mengembalikannya. Si penjual tidak terima dengan keinginan lelaki yang membeli itu. Mereka kemudian mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Ayas bertanya kepada budak wanita itu, “Sebelah mana dari kakimu yang panjang sebelah?”

Budak wanita itu menunjukkan sambil menjawab, “Ini.”

Ayas bertanya, “Apakah engkau masih ingat malam ketika engkau dilahirkan oleh ibumu?”

Budak wanita menjawab, “Iya, saya masih ingat.”

Ayas langsung berujar, “Kembalikan budak ini! kembalikan budak ini!”

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Seorang pria menitipkan hartanya kepada temannya. Setelah lewat beberapa waktu, ia ingin meminta kembali barangnya, akan tetapi teman yang dititipi itu tidak mengaku bahwa ia pernah dititipi barang. Mereka kemudian berselisih dan akhirnya sepakat mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Kata pria tersebut, “Aku menitipkan hartaku kepadanya.”

Ayas bertanya, “Siapa yang menjadi saksimu?”

Pria tersebut menjawab, “Aku menitipkan barangku di tempat ini pada waktu ini, tapi tidak ada orang yang menyaksikan.”

Ayas bertanya, “Ketika engkau menitipkan barangmu kepadanya, di tempat tersebut ada apa?”

Pria tersebut menjawab, “Ada sebuah pohon.”

Ayas berkata kepadanya, “Sekarang, pergilah engkau ke pohon itu. Semoga engkau teringat akan sesuatu. Mungkin saja hartamu engkau pendam di bawah pohon itu dan kemudian engkau lupa. Semoga dengan melihat kembali pohon itu, engkau menjadi teringat kembali di mana pernah meletakkan hartamu.”

Ketika pria itu berlalu, Ayas berkata kepada teman pria itu, “Duduk dan tenangkan dirimu!”

Ayas kemudian melanjutkan kerjanya sebagai hakim dan menyelesaikan masalah-masalah yang diadukan kepadanya. Teman pria itu duduk dan melihat aktivitas Ayas selama sejam lebih.

Ayas kemudian bertanya kepadanya, “Wahai teman pria itu, menurutmu apakah temanmu sekarang telah sampai di pohon yang disebutkannya?”

Teman pria itu menjawab, “Belum.”

Ayas kemudian berkata, “Wahai musuh Allah dan pengkhianat! Engkau ingin membohongiku tapi Allah menyingkap kebohonganmu.”

Ayas kemudian memerintahkan untuk menangkapnya sehingga pria itu datang. Ayas berkata pada pria pemilik harta itu, “Temanmu telah mengaku. Ambil kembali hartamu darinya!”

Sumber: Allamah Muhammad Taqi at-Tustari, Qadhau Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Qom, 1408 HQ, cetakan ke-2. (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Dua ibu yang Memperebutkan Satu Anak )

Ibu yang mengingkari anaknya

Posted on 24/01/2012. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi |

Al-Kulaini meriwayatkan hadis ini di bab Nawadir di akhir kitab Qadha (peradilan) dengan sanad dari ‘Ashim bin Hamzah as-Saluli. Syaikh (at-Thusi) meriwayatkan hadis ini dalam Ziayadat Qadhaya Tahdzibiyah (Tambahan dalam masalah peradilan dari buku Tahdzib) dari Dhamrah bin Hamzah as-Saluli.

Ia berkata, “Aku mendengar teriakan seorang anak muda di kota Madinah. Ia berkata, “Adakah orang yang paling adil di sini? Orang yang dapat memutuskan perkaraku dengan ibuku.”

Umar bin Khatthab menghampirinya dan berkata, “Wahai pemuda! Mengapa engkau ingin mengajukan perkara melawan ibumu?”

Ia menjawab, “Sebelumnya aku berada di dalam tubuh ibuku selama sembilan bulan. Ia juga yang menyusui aku selama dua tahun. Ketika aku mulai beranjak dewasa dan dapat membedakan kebaikan dari keburukan dan mana yang benar dan salah, ia mencampakkan aku. Ia mengaku tidak mengenal diriku.”

Umar kemudian bertanya kepada wanita itu, “Wahai wanita! Benarkah apa yang diucapkan oleh pemuda ini?”

Wanita itu menjawab, “Demi Zat yang bertirai cahaya. Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Muhammad Saw! Aku tidak punya anak dan aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu ia dari kabilah mana. Ia hanya seorang pemuda yang ingin merusak kehormatanku di tengah-tengah keluarga dan familiku. Aku seorang wanita Quraisy. Aku belum pernah kawin.”

Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki saksi?”

Ia menjawab, “Iya, mereka ini adalah saudara-saudaraku”.

Datang sekitar empat puluh orang dari keluarganya yang siap untuk bersumpah. Di hadapan umar mereka kemudian bersumpah bahwa si pemuda hanya berniat untuk merusak kehormatan wanita ini. Wanita ini dari keturunan Quraisy dan belum menikah sekalipun.

Umar bin Khatthab memerintahkan pengawalnya untuk membawa si pemuda ke penjara. Dan selama ia dipenjara para saksi yang telah bersumpah tadi harus diperiksa lebih lanjut. Bila kesaksian mereka benar, maka si pemuda harus dihukum sebagai orang yang telah melakukan kebohongan yang mencemarkan nama baik orang lain.

Ketika mereka bergerak membawa si pemuda, mereka berpapasan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. Si pemuda langsung berteriak lantang memohon kepada Imam Ali as, “Wahai anak paman Rasulullah! Aku seorang pemuda yang teraniaya.”

Ia kemudian mengulangi ucapan yang telah disampaikan di hadapan Umar. Kemudian ia melanjutkan, “Umar memerintahkan pengawal agar menjebloskan aku ke penjara,”

Imam Ali as menjawab, “Balikkan ia ke Umar!”

Ketika si pemuda dibawa ke hadapan Umar, Khalifah Umar kemudian bertanya kepada mereka, “Aku memerintahkan kalian untuk menjebloskannya ke penjara, mengapa sekarang kalian membawanya kembali ke hadapanku?”

Mereka menjawab, “Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan kepada kami untuk membawanya ke hadapanmu. Mengapa kami mengikuti perintahnya? Karena engkau pernah berkata bahwa ikuti apa saja yang diperintahkan oleh Ali dan jangan menentangnya.”

Ketika mereka masih bercakap-cakap, Imam Ali as datang menghampiri mereka.

Ia berkata, “Hadapkan ibu si pemuda ini!”

Mereka lantas menghadirkan kembali ibu si pemuda.

Imam Ali as berkata, “Wahai pemuda! Sampaikan apa yang hendak engkau ucapkan!”

Si pemuda mengulangi apa yang telah disampaikannya sebelumnya.

Imam Ali kemudian berkata kepada Umar, “Apakah engkau memberi aku izin untuk mengadili mereka?”

Umar menjawab, “Subhanallah, mengapa tidak. Aku pernah mendengar dari Rasulullah Saw bahwa “Yang paling alim dan mengetahui di antara kalian adalah Ali bin Abi Thalib.”

Imam Ali as kemudian berpaling kepada wanita dan bertanya, “Apakah mereka ini adalah saksi-saksimu?”

Wanita itu menjawab, “Iya, mereka adalah saudara-saudaraku.”

Imam Ali as bertanya kepada saudara-saudaranya, “Apakah kalian menerima aku menghukumi urusan kalian antara kalian dan wanita ini?”

Mereka serempak menjawab, “Iya, wahai anak paman Rasulullah. Engkau menjadi wakil yang menghukumi antara kami dan saudari kami,”

Imam Ali as kemudian berkata, “Aku bersaksi di hadapan Allah dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir saat ini. Aku telah menikahkan pemuda ini dengan wanita ini dengan mas kawin sebesar empat ratus dirham dari uangku sendiri. Wahai Qanbar (pelayan Imam Ali as), Ambilkan uangku!”

Qanbar membawa uang Imam Ali as dan meletakkannya di tangan si pemuda.

Imam Ali as melanjutkan, “Ambillah uang itu wahai pemuda! Berikan uang ini kepada wanita itu. Jangan engkau menghadapku kecuali telah mandi junub.”

Si pemuda bangkit dan memberikan uang mas kawinnya kepada wanita itu. Kemudian ia mengajak wanita itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia berkata, “Wanita ini telah menjadi keluargaku.”

Si wanita tiba-tiba berteriak, “Neraka, neraka, wahai anak paman Muhammad! Apakah engkau ingin aku mengawini anakku sendiri? Pemuda ini adalah anak dari suamiku. Saudara-saudaraku memaksaku untuk kawin dengan seseorang. Setelah aku melahirkan anakku dan setelah ia menjadi dewasa, mereka mengancamku agar mengusirnya dan tidak mengakuinya sebagai anak. Demi Allah! ia adalah anak dan jantung hatiku”.

Ibu itu kemudian menarik tangan anaknya dan pergi dari tempat itu.

Umar bin Khatthab kemudian dengan suara lantang berkata, “Tolong dirimu wahai Umar! Bila tidak ada Ali, niscaya celakalah Umar” (Lau Laa Ali La Halaka Umar).”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh penulis buku Fadhail Ibnu Syadzan dari al-Waqidi dari Jabir dari Salman dengan sedikit perbedaan dalam ibarat. (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)

Sumber: Allamah Muhammad Taqi at-Tustari, Qadhau Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Qom, 1408 HQ, cetakan ke-2.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ibu yang mengingkari anaknya )

Cinta Ibu dalam sebuah lonceng

Posted on 20/09/2011. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi | Tags: , , , |



Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi.

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap . Kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan, dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya.

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba,

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang.

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Cinta Ibu dalam sebuah lonceng )

Puisi BJ Habibie untuk Ibu Ainun

Posted on 14/08/2011. Filed under: Ibu dan Puisi |

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan, calon bidadari surgaku

= BJ. Habibie =

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Puisi BJ Habibie untuk Ibu Ainun )

Kasih Sayang Ibu

Posted on 10/08/2011. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami |

Kasih Sayang Ibu

Sang ibu berdiri di depan hakim menguraikan kisahnya yang pahit dengan anak perempuannya. Anak perempuan satu-satunya. Sang ibu telah mengorbankan masa mudanya, kesenangan dan kebahagiaannya demi anaknya.

Dia berkorban tidak keluar menonton hanya agar anaknya tidak ditinggal sendirian. Dia memakai pakaian yang koyak agar dapat membelikan anaknya gaun baru. Dia selalu mendahulukan anaknya atas dirinya; anak yang makan lebih dahulu dan ibu yang makan sisa anaknya.

Tetapi sang anak mengingkari budi ibu. Dia tidak menyukainya bahkan membencinya. Sang anak menilai ibunya sebagai penjaga penjara yang terbuat dari emas, tetapi melarangnya keluar bersama temannya dan menuntut darinya pertanggungjawaban yang berat setiap hari.

Kalau ia pulang, ibu selalu bertanya, “Dari mana Engkau? Siapa saja yang Engkau temui? Dan apa saja obrolan kalian?” Kalau sang anak duduk terdiam, ibunya bertanya, “Mengapa diam? Apa yang Engkau pikirkan?”

Perintah ibu pun tidak henti-hentinya; Cuci kakimu! Sisir rambutmu! Gosok gigimu! Duduk yang baik! Jangan cibirkan bibirmu ketika bicara! Dan lain-lain.

Sang anak memutuskan bahwa cara satu-satunya untuk bebas dari aneka belenggu itu adalah menghabisi ibunya. Maka setiap hari ia mencampurkan sedikit racun dalam makanan ibunya, yang mengakibatkan kesehatan sang ibu memburuk hingga dimasukkan ke rumah sakit. Para dokter menemukan bahwa ada racun yang diberikan kepadanya sejak tiga bulan yang lalu dan seandainya itu berlanjut selama seminggu lagi, niscaya ibu yang malang itu akan meninggal.

Polisi turun tangan dan akhirnya sang anak mengaku bahwa dialah yang memberi racun itu. Di depan pengadilan sang anak mengaku bahwa ia tidak menyesal atas perbuatannya karena dia tidak menyukai ibunya dan memang ingin melepaskan diri darinya. Hakim peradilan Sheffield Inggris terperanjat dan menyatakan bahwa kejahatan tersebut amat serius.

Ini adalah upaya pembunuhan yang disengaja dan dengan tekad yang kuat. Karena itu sang hakim memutuskan bahwa sang anak harus dimasukan dalam penjara anak-anak, tetapi karena undang-undang dalam kasus semacam ini menetapkan keharusan adanya persetujuan tertulis ibu, maka sang hakim mengharap kiranya sang ibu membubuhkan tanda tangan untuk persetujuannya.

Sang ibu memegang pena dengan tangan gemetar dan mulai menggoreskan tanda tangannya atas putusan itu. Tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pena terjatuh dari tangannya. Ia lalu menoleh kepada hakim dengan air mata yang berlinang sambil berkata, “Saya harap berilah aku kesempatan sekali lagi, juga dia.” (Ali Amin, kolom ‘Fikrah’, Koran al-Akhbar, Cairo, 10 Juli 1959)

(Sumber buku: Yang Ringan Yang Jenaka – M Quraish Shihab)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kasih Sayang Ibu )

Kisah Ibu Bermata Satu

Posted on 02/07/2011. Filed under: Ibu dan Puisi |

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya…sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan. Keesokan harinya di sekolah…

“Ibumu hanya punya satu mata?!?!”….eeeeee, jerit seorang temanku.

Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu,

“Bu…. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!”

Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini… Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu..
Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. I memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika.. Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku…Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku.

Kataku,
“Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!”

Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya,

“Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku!!”

“KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”

Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja…ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega… Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja.

Di sana, kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya…. Sepucuk surat untukku.

“Anakku..
Kurasa hidupku sudah cukup panjang..
Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi..
Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah.

Demi kau..
Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata… Maka aku berikan mataku untukmu…. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku…” Anakku… Oh, anakku…”

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidup Anda! Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kisah Ibu Bermata Satu )

Untuk Ibunda Di Seluruh Dunia

Posted on 01/07/2011. Filed under: Ibu dan Puisi, Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Pada suatu hari, ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah, Makkah, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya padanya apa isi keranjangnya. “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji ke Ka’bah, tetapi kami tak dapat membayar ongkos perjalanannya. Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua untuk berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah, dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya bergelinang. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah.Sekarang, kami sedang thawaf di Ka’bah! Orang-orang mengatakan bahwa hak orangtua sangat besar. Pemuda itu bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini untuknya?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau takkan pernah dapat membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”

******

tangan ibu & bayi

“Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi

Tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia”

***

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

*********

:: Kisah diambil dari buku Pencerah Mata Hati Karya Sheikh Muzaffer Ozak

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Untuk Ibunda Di Seluruh Dunia )

Seribu Anyelir untuk Ibu Palestina

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami, Sejarah, Tahukah Anda | Tags: , , , , , , |

Seribu anyelir untuk ibu Palestina teguh di Yerusalem, Anda yang dibesarkan di jantung Palestina, tahu setiap rumah, setiap gang dan sudut setiap dan menghargai setiap batu Yerusalem. Anda menolak untuk meninggalkan meskipun teror harian dan pelecehan dari penjajah Zionis. Anda melekat ke rumah kecil Anda di mana anak-anak Anda lahir dan di mana anak-anak mereka akan lahir. Anda melindungi rumah Anda, masjid dan gereja dengan hati dan tubuh Anda dan menolak untuk menjadi ditendang oleh penjajah Zionis datang dari jauh yang mengklaim mereka memiliki hak untuk rumah Anda. Anda menentang teror harian penjajah Zionis, Anda menentang pengepungan yang mencekik kota Anda, Anda menentang pembersihan etnis yang mentargetkan jantung Palestina. Ketika Anda diusir dari rumah Anda, Anda pindah ke tenda, dan bila tenda Anda diambil dari Anda, Anda melekat pada bumi yang adalah milikmu dan menolak untuk pindah inci. Anda teguh di rumah Anda, di Kota Lama, di Shu’fat, di Silwan, di Wadi Il-Jouz, di Rasi Il-Amoud, di Beit Hanina dan di setiap pinggiran kota dan jalan di kota suci.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah wali Yerusalem.

Seribu anyelir untuk ibu martir, Anda yang membesarkan anak Anda dengan kasih, yang akan direnggut dari Anda oleh teroris Zionis. Anda mengajarkan anak Anda kasih Palestina, cinta kebebasan, yang setiap manusia dilahirkan bebas dan layak hidup bermartabat. Dan ketika anak Anda dibawa kembali kepada Anda membawa di atas bahu sesama kawan-kawan, Anda memegang / nya tangannya dan mencium / dia memeriksa dan bisikan cinta, kebanggaan dan rasa sakit. Anda sering diberikan hanya beberapa menit untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak Anda membawa sembilan bulan dalam rahim Anda, anak Anda melahirkan dan mengawasi tumbuh, hari demi hari. Anda tidak ingin membiarkan pergi, dan berpegang teguh pada anak Anda, berharap peluru Zionis telah memukul hati Anda, bukan yang anak Anda. air mata Anda mencuci muka, cuci rumah-rumah dan lorong-lorong, ladang dan puncak bukit, dan langit menangis dengan Anda, pohon zaitun menangis dengan Anda, Palestina menangis dengan Anda. Anda mengunjungi kuburan dan berdoa untuk setiap putra dan putri yang hidupnya direnggut. Anda menyimpan gambar anak Anda di jantung rumah dan berbicara dengan / dia setiap harinya tentang anak perempuan yang lulus, anak yang akan menikah, ayah yang telah ditanam beberapa lebih banyak pohon zaitun. Anda menghargai anak Anda mengenakan kemeja minggu dia dibunuh dan menyimpannya di bawah bantal Anda dan menciumnya setiap pagi dan setiap malam. Anda tetap notebook anak Anda, dan ketika tidak ada memerhatikan Anda, Anda menyentuh kata-katanya, membaca dan menghargai setiap coretan dia / ia telah dibuat. Anak Anda tidak pernah hilang, atau terlupakan, untuk Palestina setiap anak Anda.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah ibu dari seorang pahlawan.

Seribu anyelir untuk ibu dari tahanan, Anda yang mengajar anak Anda kasih Palestina, cinta tanah dan kasih kebebasan. Anda takut untuk kehidupan anak Anda, berdoa untuk / nya keselamatannya, tetapi ketika anak Anda duduk di dekat Anda, pelukan Anda, memberitahu Anda tentang hidup dalam kebebasan dan meminta persetujuan Anda, Anda mengatakan kata-kata Palestina setiap ingin mendengar: “Alek Allah Yirda ‘Yamma” dan menyetujui jalan ia / ia telah diambil. Anda berdiri di antara anak Anda dan para tentara bersenjata yang datang untuk membawanya / dia dari Anda. Anda tahu persis sejak berapa menit anak Anda telah diambil dari Anda, direnggut dari tangan Anda dan dilemparkan ke dalam sel gelap. Anda bangun di jam-jam awal menggembirakan hari sebagai seorang anak, bahagia sebagai pengantin untuk Anda adalah untuk melihat wajah anak tercinta Anda, sentuh / nya tangannya dan mendengar / nya suaranya. Anda bertahan perjalanan panjang, pos pemeriksaan dan penghinaan di tangan jailors Israel demi senyum dari anak Anda, bisikan. Anda menghitung pagi hari dan fajar menunggu hari untuk melihat wajah anak Anda, berdoa waktu ke waktu bahwa Anda hanya hidup cukup lama untuk hanya melihat / wajahnya lagi, mencium / nya pipinya dan memberinya / pelukan terakhir.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah ibu dari seorang pejuang kemerdekaan.

Seribu anyelir untuk ibu Palestina sabar atas tanah itu, Anda yang menanam pohon sebagai anak, menyaksikan mereka tumbuh. Kau tahu setiap pohon, setiap meninggalkan dan buah setiap. Anda menyentuh mereka dengan tangan Anda selembut yang menyentuh bayi. Sebagai seorang anak Anda ditemani ayah Anda ke ladang, Anda duduk di sisinya saat ia menceritakan kisah setiap pohon tunggal. Anda membawanya makan siang ketika Anda sudah lebih besar dan duduk di sisinya dan berbagi makanannya di bawah pohon zaitun sebagai dia bilang Anda dari perampas yang mengancam tanah. Anda melihat air matanya dan memegang tangannya dan dia berjanji akan loyal kepada tanah dan pohon-pohon zaitun, untuk setiap batu, setiap partikel tunggal bumi, dan bersumpah untuk melindungi mereka sehingga mereka diserahkan kepada anak-anak Anda dan anak-anak mereka setelah mereka. Anda menemani suami Anda untuk bidang ini dan sisi bekerja berdampingan dengan dia, merawat pohon-pohon, dan melindungi mereka. Anda membawa anak Anda ke tanah, mengajarkan mereka untuk mencintai, untuk bekerja itu, dan untuk menghargai itu. Anda memberitahu mereka tentang kisah ayah Anda pernah mengatakan kepada Anda, tentang janji-janji yang Anda buat, dari warisan yang akan mereka. Anda bekerja ladang menentang Zionis, dan ketika mereka menumbangkan salah satu pohon tercinta Anda, Anda yang sepuluh tanaman baru. Dan ketika penjajah Zionis datang untuk mencuri tanah dan pohon Anda, Anda berdiri melawan perampok dan melindungi tanah Anda dengan tubuh Anda. Anda tidak takut klub, tidak ada gas air mata dan tidak ada peluru. Anda terorisme mereka tidak takut, karena itu adalah tanah Anda dan itu adalah pohon zaitun Anda, pohon apel Anda, pohon badam dan pohon ara. Anda melekat pada pohon ayah Anda dan meraih batu terdekat dan mempertahankan tanah itu, karena itu adalah milikmu.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah pelindung tanah.

Seribu anyelir untuk ibu Palestina yang menyaksikan Nakba, Anda yang mengalami penderitaan tak terhitung dan selamat teror belum pernah terjadi sebelumnya. Anda dipaksa keluar dari rumah Anda dengan teroris Zionis, tetapi Anda membawa sepotong Palestina dengan Anda di mana pun Anda pergi, Anda tidak pernah melupakannya. Anda mengatakan kepada anak-anak Anda dan cucu Anda tentang rumah yang Anda miliki, taman Anda cintai, bidang dan mata air di mana Anda sering bermain dan bekerja. Anda mengatakan kepada anak-anak Anda tentang hari yang gelap ketika Zionis datang, bagaimana Anda berjuang dengan sedikit Anda telah melawan mesin pembunuh yang mereka dan masih. Anda memberitahu mereka tentang pengkhianatan saudara-saudara apa yang disebut dan bagaimana mereka meninggalkan Anda sendirian untuk menghadapi kematian perlahan-lahan, dikelilingi oleh teroris Zionis. Anda memberitahu mereka tentang Zionis pembunuh yang tidak luput satu, bukan muda maupun tua. Anda memberitahu mereka bagaimana dengan menangis dan menendang dan di bawah ancaman senapan mesin Anda dipaksa untuk meninggalkan rumah, rumah anak-anak Anda lahir masuk Anda memberitahu mereka bagaimana saat Anda sedang dipaksa keluar, di bawah hujan peluru, Anda melihat orang yang dicintainya mendapatkan dibantai, dan rumah tercinta mendapatkan diledakkan. Anda melihat rumah tercinta menghilang ke udara. Kau tahu sejak berapa banyak, bulan hari dan tahun-tahun Anda telah membuat pengungsi setelah asing telah mencuri tanah Anda dan mengaku itu milik mereka. Anda menghitung hari sampai Anda kembali ke rumah untuk Anda tahu ada rumah lain dan akan menerima tidak ada yang lain. Kau tahu rumah Anda dan taman Anda, bidang Anda dan padang rumput Anda menunggu Anda untuk kembali. Anda mengingatkan Anda anak-anak bahwa mereka memiliki rumah, jauh, dan mereka memiliki rumah dan kunci. Anda membawa kunci yang dekat di hati Anda dan telepon Anda sudah sekarat Anda menyerahkannya kepada anak-anak Anda. Anda meminta sebuah makam di desa Anda yang telah terhapus, bahwa tidak ada lagi untuk “dunia beradab”, tetapi selamanya hidup dalam hati dan pikiran dan lebih nyata dari sebuah entitas ditemukan dibangun di atas reruntuhan rumah Anda. Anda jauh dari rumah Anda tetapi punya rumah Anda dalam hatimu.

Seribu anyelir untuk Anda: karena kamu adalah saksi dari Nakba.

Seribu anyelir untuk wanita Palestina di tempatnya bekerja, Anda pergi ke pekerjaan Anda setiap hari, menentang pendudukan untuk menyediakan makanan, pendidikan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Anda. Anda melawan teror Israel setiap hari untuk mengajar anak-anak tanah itu, adalah dan akan selalu Palestina. Anda mengajar anak-anak tidak takut penembak jitu pada gedung yang berlawanan atau tangki menunggu di luar sekolah. Anda mengajar mereka bahwa kebebasan adalah hak setiap manusia dan kebebasan yang tidak pernah dibeli atau dijual. Anda mengajar mereka bahwa Anda tidak meminta hak-hak yang sah dan bahwa hak-hak Palestina tidak dapat dinegosiasikan. Anda mengajar mereka bahwa tidak ada pos pemeriksaan militer dapat menghentikan sebuah ide dan pengepungan tidak dapat memenjarakan pikiran. Anda mengajar mereka bahwa pekerjaan tidak pernah berlangsung dan bahwa keadilan adalah takdir setiap kebebasan mencintai orang. Anda melawan teror Israel setiap hari untuk mengobati orang terluka, menyembuhkan yang luka, untuk meringankan rasa sakit. Anda berisiko hidup Anda selama serangan teror Zionis, selama penyerangan dan jam malam, untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Anda mendapatkan dipukuli di pos pemeriksaan, dihina dan ditangkap, namun Anda bersikeras untuk menjangkau mereka yang sangat membutuhkan Anda. Suami Anda akan dibunuh oleh Zionis atau dipenjara seumur hidup dalam sel Zionis, dan Anda mengambil tugas menyediakan bagi anak-anak Anda dan memegang keluarga bersama-sama. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika Anda bekerja di bidang Anda, ketika Anda mengajar anak-anak, ketika Anda menyembuhkan pasien, ketika Anda membangun rumah. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika anda menanam pohon zaitun, ketika Anda jahitan Thoub, ketika anda memanggang roti Taboun. Anda menentang penjajah Zionis setiap hari ketika Anda menulis tentang Palestina, ketika Anda bernyanyi dari Palestina, dan ketika Anda cat keindahan Palestina.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah putri Palestina.

anyelir untuk semua ibu Palestina memimpin perjuangan untuk kebebasan; Anda hadapi terorisme Zionis hari demi hari dan tidak pernah menyerah. Anda mendapatkan diculik dari rumah Anda dengan teroris Zionis yang kunci Anda di bawah tanah. Anda terus menerus mengalami penyiksaan dan penghinaan. Anda dipaksa untuk melahirkan di klinik penjara Israel sambil diborgol ke tempat tidur. Anda berhenti di pos pemeriksaan Zionis, dipermalukan di depan anak-anak Anda dan sering dipukuli oleh tentara Zionis yang tahu belas kasihan. Anda sengaja ditunda di pos pemeriksaan dan mencegah dari yang lewat untuk mendapatkan perawatan medis yang sangat dibutuhkan. Anda dipaksa untuk melahirkan di pos pemeriksaan militer dikelilingi oleh mengejek tentara Zionis, di jalan atau di belakang mobil dan di bawah kondisi yang tidak manusiawi. Anda kehilangan bayi Anda dan kadang-kadang hidup Anda di ini jebakan maut Zionis. Selama jam malam dan di bawah penutup malam Anda mendistribusikan gandum, susu dan gula untuk keluarga miskin. Anda buru-buru untuk melindungi anak-anak Anda dan semua anak-anak Palestina dari kebrutalan Zionis. Anda memandu pria muda keluar tentara Zionis, periksa keselamatan jalan bagi mereka. Anda menghadapi tentara Israel bersenjata lengkap yang datang untuk mengambil anak-anak Anda, Anda berdiri antara tentara dan para pemuda untuk melindungi mereka. Ketika tentara Zionis setua putra bungsu Anda mengalahkan Anda dengan bagian belakang senapan mereka, menampar Anda, punch Anda dan mendorong Anda ke tanah, kau berdiri lagi dan lagi, menatap mata mereka dan menunjukkan mereka bahwa Anda tidak ketakutan mereka. Anda tidak takut mereka untuk Anda tahu bahwa mereka adalah pengecut bersembunyi di balik senapan mesin mereka. Anda menghadapi kedua penjajah Zionis dan tentara dan ketakutan mereka tidak. Meskipun teror Zionis Anda terus hidup, untuk berjuang dan untuk melindungi anak-anak Anda, rumah dan tanah. Anda lihat bagaimana waktu ke waktu, Zionis datang dan menyerang desa dan kamp-kamp pengungsi menyebarkan teror dan kehancuran. Kau tahu bahwa setelah setiap serangan teroris tersebut, anak seseorang akan dibawa pergi ke sel gelap atau ke liang kubur. Anda buru-buru ke jalan untuk melindungi anak-anak Anda dan rumah Anda. Anda buru-buru bersenjata dengan batu untuk menghentikan perjalanan dari koloni Zionis dan tentara IOF yang datang untuk melakukan pembantaian baru. Anda tidak berpikir tentang keselamatan Anda sendiri, Anda tidak pernah melakukannya, karena itu adalah keselamatan anak-anak Anda dan anak-anak Palestina bahwa Anda peduli.

Seribu anyelir untuk Anda: karena Anda adalah semangat Palestina.

Seribu anyelir untuk memori dari semua ibu Palestina yang dibantai oleh teroris Zionis; Sebuah ribu anyelir untuk para ibu Palestina yang dibunuh sebelum, selama dan setelah Nakba. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang menolak untuk pergi dan lebih memilih mati di rumah mereka dan di tanah mereka. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang meninggal membela anak-anak mereka, melindungi mereka dari Zionis pembunuh. Seribu anyelir untuk para ibu Palestina yang dibunuh oleh Zionis saat mengajar, saat bekerja di ladang, saat bekerja di rumah, saat bekerja di klinik, saat bekerja di kantor dan perusahaan. Seribu anyelir untuk para ibu dibunuh di tempat tidur mereka dengan serangan udara Zionis saat tidur dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Seribu anyelir untuk ibu Palestina yang meninggal karena sakit hati, jauh dari Palestina, tetapi kerinduan untuk Palestina. Seribu anyelir untuk semua ibu Palestina anonim yang namanya kita tidak tahu dan pengorbanan yang kita tidak berbicara, menulis atau menyanyi.

Seribu anyelir untuk Anda: karena kamu adalah ibu-ibu Palestina.

 

Dan seribu anyelir untuk nenek saya, Anda mengajar saya kasih tanah yang saya. Dengan kata-kata Anda Anda menunjukkan saya Palestina sebelum Nakba, sebuah Palestina yang penuh kemakmuran, kebahagiaan dan cinta. Dengan cerita Anda mengajari saya tentang budaya saya, tentang cerita rakyat Zionis mencuri. Dengan kenangan Anda Anda menunjukkan saya Nakba dan Naksa dan tragedi orang-orang kami dan mengajari saya sejarah tidak ditemukan dalam buku-buku. Anda ketabahan dan keberanian dalam menghadapi teror Zionis tidak akan pernah berhenti menginspirasi saya dan kebijaksanaan Anda tidak akan pernah berhenti untuk membimbing saya. Anda mengajarkan saya untuk tidak takut Zionis, bahwa mereka yang takut kita, suatu kerinduan orang-orang bersenjata untuk kebebasan. Anda mengajarkan saya untuk mencintai tanah ini karena ibu kita. Kau mengajari saya tidak pernah lupa bahwa Palestina adalah salah satu dari Sungai ke Laut, dan bahwa tidak ada pengkhianat Zionis dan tidak ada yang bisa membuat kita lupa bahwa atau make-up menyerahkan hak sah kami. Kau mengajari saya bahwa tidak ada kebebasan tanpa kembalinya semua pengungsi Palestina ke rumah mereka. Seribu anyelir dan seribu air mata untuk nenek tercinta saya, Aisha yang terletak untuk beristirahat di Yerusalem dan Mariam yang terletak untuk beristirahat di Betlehem jauh dari rumah tercinta dan hanya rumah Jrash (pembersihan etnis di 1948/10/21).

Dan seribu anyelir untuk ibu saya, Anda mengajari saya untuk berdiri melawan ketidakadilan, untuk tidak pernah diam. Anda mengajari saya untuk menyanyi, menggambar dan menulis bagi Palestina. Anda mengajarkan saya untuk menjadi bangga menjadi Palestina. Kau mengajari saya tidak pernah menyerah tak peduli betapa sulitnya mendapatkan. Kau mengajari saya yang sering kita harus mendaki gunung kita sendiri untuk mencapai tujuan kami, bahwa bahkan jika kita tidak mendapat dukungan yang kami harus terus mendaki dan satu hari kita akan mencapai puncak. Anda mengajari saya untuk merasakan sakit orang lain, bahwa kita orang Palestina dan selalu akan menjadi salah satu, bahwa kita berbagi rasa sakit dan harapan. Anda mengajari saya untuk pasien seperti cactuses Palestina. Anda mengajarkan saya bahwa Palestina tidak pernah dijual, bahwa ketika kita menolak, kita tidak boleh meminta harga untuk ketahanan kita. Kau mengajari saya bahwa aktivis sejati tidak meminta harga, tidak pernah meminta sesuatu sebagai imbalan untuk / nya aktivisme nya bagi Palestina. Kau bilang tentang tumbuh sebagai pengungsi, bagaimana rasanya memiliki rumah yang dekat tapi unreachable. Kau mengajari saya bahwa di setiap salah seorang dari kami ada pengungsi Palestina, bahwa kita akan bebas bila semua pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka. Anda mengajari saya untuk melihat tanah, untuk melihatnya, merasakannya. Anda mengajari saya untuk menyentuh bumi dengan tangan saya, untuk merangkul udara yang mengelilingi aku, untuk tenggelam dalam pandangan matahari terbenam emas atas ladang zaitun hijau. Anda mengajarkan saya kasih tanah, tanah kita dan bahwa kita bukan apa-apa tanpa tanah. Hari ini, ada kata-kata yang cukup baik, tidak ada teks cukup lama untuk menggambarkan jiwa Anda yang lebih indah dari matahari terbenam dan lebih murah hati daripada hujan. Untuk Anda, ibu tercinta, seribu anyelir dan seribu ciuman.

Dan seribu bunga poppy bagi ibu setiap Palestina: kami ibu Palestina, Zionis berusaha menghancurkan Anda, tapi pada proses yang mereka hanya menghancurkan diri mereka sendiri dan entitas palsu mereka. Zionis mencoba membunuh Anda, tetapi dalam proses itu mereka hanya mengekspos sifat pembunuh dan haus darah. Mereka begitu sedih gagal karena Anda lebih hidup daripada pembunuh ini mati. Anda hidup melalui anak-anak Anda yang bersumpah untuk tetap setia hanya untuk Anda dan tidak ada yang lain. Anda hidup melalui pohon-pohon zaitun dan almond Anda, melalui jeruk dan pohon ara. Anda hidup setiap kali burung bernyanyi di langit Anda, dan setiap kali bunga bunga di padang rumput Anda. Anda hidup setiap kali tertawa anak Palestina, dan setiap kali seorang anak Palestina bernyanyi. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina menulis nama Anda, dan setiap kali seorang anak Palestina menarik peta Anda. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina memegang batu dan impian kebebasan Anda. Anda hidup setiap kali seorang anak Palestina berteriak untuk seluruh dunia mendengar: Saya Palestina. Anda hidup setiap kali bayi lahir Palestina untuk memberitahu Zionis: kita di sini untuk tinggal.

Anda memberi kami nama kami dan memberi kami rumah kami dan itu untuk Anda, Palestina tercinta, bahwa kita menulis, menggambar dan bernyanyi.
Dan itu adalah untuk kebebasan Anda bahwa kita melawan, karena Anda Palestina, ibu kami, dari Sungai ke Laut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Seribu Anyelir untuk Ibu Palestina )

Renungkanlah…

Posted on 22/05/2011. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami |

Konon di jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan.. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sdh tdk berdaya sehingga tdk memberatkan kehidupan anak2nya..

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya kehutan, krn si Ibu telah lumpuh dan agak pikun..
Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai didalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tsb dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih krn ternyata dia tdk menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya..

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata ‘Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil smp dewasa Ibu selalu merawatmu dgn segenap cintaku. Bahkan smp hari ini rasa sayangku tdk berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sdh menandai sepanjang jalan yang kita lalui dgn ranting2 kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah..’

Demi mendengar kata2 tsb, si anak menangis dgn sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya utk membawa si Ibu pulang kerumah. Pemuda tsb akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya smp Ibunya meninggal..

Orang tua bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tdk berdaya..
Krn pd saat engkau menggapai sukses atau saat engkau dlm keadaan susah, hanya orang tua yang mengerti kita dan bathinnya akan menderita kalau kita susah.. Bukan istri, suami, ataupun teman..

Orang tua kita tdk pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kpd orang tua.. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita..

Mulai sekarang mari kita lebih mengasihi orang tua kita selagi mereka masih hidup..

Semoga Bermanfaat..

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Renungkanlah… )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 957,922 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: