Banten; Dari Pajajaran hingga Sultan Haji

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Menurut ”Carita Parahyangan”, Pajajaran melakukan ekspansi ke Banten (yang beribukota di Banten Girang-artinya Banten di hulu sungai, sekitar 10 km di selatan pelabuhan Banten) pada awal abad 15.

Sebagaimana diketahui, Pajajaran adalah kerajaan yang beribukota di Pakuan (sekarang Bogor) yang didirikan pada tahun 1333 oleh beberapa bangsawan Galuh. Akibat ekspansi ini para penguasa Pajajaran memindahkan kegiatan perdagangan dari pelabuhan Banten ke pelabuhan Sunda Kelapa yang terletak di muara Sungai Citarum, karena posisinya lebih dekat dengan Pakuan yang menyebabkan pelabuhan Banten menurun aktivitas ekonominya.

Namun demikian, sekitar tahun 1500, Banten Girang menemukan kembali hampir seluruh kegemilangannya di masa lampau. Panduan pelayaran Cina, ”Shunfeng Xiansong”, yang ditulis pada masa itu, membuktikan bahwa pelabuhan Banten kembali menjadi salah satu pusat penting perniagaan Cina di nusantara, suatu hal yang dipertegas dalam sumber-sumber Portugis dari awal abab ke 16. Tumbangnya Malaka di tahun 1511 juga mempercepat pulihnya kembali ekonomi di Banten Girang disamping itu pengaruh Pajajaran yang mulai melemah terhadap daerah tersebut.

Kemakmuran ekonomi yang dicapai oleh Banten pada saat itu tidak luput dari perhatian Kesultanan Demak yang memang sedang melakukan ekspansi besar-besaran terutama ke pesisir bagian utara Pulau Jawa. Serangan pertama Demak ke Banten dilakukan sekitar tahun 1520. Waktu itu, menurut Joao de Barros-seorang penulis kronik terkenal asal Portugis, Banten dipimpin oleh seorang raja yang bernama ”Sangyang”. Sedangkan menurut Hoesein Djadjadiningrat, ”Sangyang” adalah gelar bangsawan Pajajaran.

Akibat serangan Demak tersebut, pada tahun 1521 penguasa Banten meminta bantuan militer kepada Portugis dengan imbalan dua hal, yaitu : (1) Portugis boleh membangun benteng di wilayah Banten dan (2) Banten bersedia memberikan 1000 karung lada setiap tahun kepada Kerajaan Portugis. Tahun 1522, Gubernur Jenderal Portugis di Malaka, Jorge de Albuquerque, mengutus Henrique Leme untuk menghadap penguasa Banten dan membuat perjanjian.

Tanggal 21 Agustus 1522, ditandatanganilah perjanjian antara Portugis yang diwakili oleh Henrique Leme dengan penguasa Banten yang waktu itu diwakili oleh 4 orang yaitu, ”Sangyang”, seorang Tumenggung, seorang Keling (Bengal) dan seorang syahbandar. Teks asli perjanjian tersebut masih tersimpan di Arsip Nasional Portugis di Lisbon. Tidak lama setelah itu, Portugis membangun sebuah benteng di muara sungai Cisadane untuk menjaga perbatasan wilayah timur ”negeri” dari serangan Demak.

Bantuan militer yang diberikan oleh Portugis tidak membuahkan hasil, pada tahun 1524 pasukan Kesultanan Demak berhasil merebut ibukota Banten Girang dan pelabuhan Banten di bawah pimpinanan Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon II) dan putranya Maulana Hasanuddin. Di awal tahun 1527, Portugis di bawah pimpinan Duarte Coelho menyerang Banten, namun gagal, demikian pula dengan serangan kedua yang dilakukan oleh Francisco de Sa pada bulan Juli 1527.

Pada tahun 1552 Sunan Gunung Jati memberikan kekuasaan Banten kepada putranya Maulana Hasanudin yang memerintah hingga tahun 1570, pada saat ini wilayah Kesultanan Banten diperluas hingga berhasil menaklukan ibukota Pajajaran, Pakuan, pada tahun 1568. Sultan Maulana Hasanudin sendiri menikah dengan putri Sultan Demak III (Sultan Trenggono) dan mempunyai anak yang bernama Maulana Yusuf yang mewariskan Kesultanan Banten berikutnya. Secara ringkas silsilah Kesultanan Banten adalah sebagai berikut :

1570-1580 Sultan Maulana Yusuf (Panembahan Pakalangan Gede)
1580-1596 Sultan Maulana Muhammad (Pangeran Ratu ing Banten)
1596-1651 Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari
1651-1672 Sultan Ageng Tirtayasa
1672-1687 Sultan Haji

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1683) adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai Sultan Banten dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat dan dikenal sebagai wilayah penghasil lada yang cukup besar. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

Kemajuan perekonomian Banten menarik perhatian VOC untuk menguasainya. VOC kemudian merancang perjanjian monopoli perdagangan (yang merugikan Kesultanan Banten). Namun demikian, Tirtayasa menolak perjanjian tersebut dan tetap menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Resikonya adalah VOC melakukan pengepungan-pengepungan militer terhadap Banten sepanjang tahun 1660an hingga 1670an. Aksi militer VOC selama hampir 10 tahun tersebut tak membuahkan hasil. Kesultanan Banten tetap berdiri kokoh.

Kemunduran Banten dimulai ketika terjadi perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya sendiri yaitu Sultan Haji. Penyebabnya adalah program politik Sultan Haji yang ingin mengusir semua orang asing khususnya pedagang Tionghoa dari Banten. Apa yang dilakukan oleh Sultan Haji ditentang oleh ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa pun mengangkat senjata untuk memerangi anaknya dan mengusirnya dari ibukota serta mengangkat adik bungsu Sultan Haji sebagai putera Mahkota. Perang ini berlangsung pada tahun 1682.

Untuk melawan ayahnya, Sultan Haji pun meminta bantuan kepada VOC. Kongsi dagang Belanda itu pun tidak menyia-nyia kesempatan emas setelah bertahun-tahun gagal menguasai Banten. Dan dengan bantuan militer yang kuat dari VOC Sultan Haji dapat mengalahkan ayahnya.

Tetapi sebagai kompensasinya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung. Perjanjian itu juga melingkupi bahwa orang-orang Inggris yang berada di Banten harus meninggalkan Banten dalam waktu sesegera mungkin (kemudian mereka berimigrasi ke Bengkulu).

Pada tanggal 15 Februari 1686 juga dibuat suatu perjanjian yang baru antara VOC dengan Sultan Haji, yang salah satu isinya adalah VOC akan memberikan bantuan militer kepada Kesultanan Banten untuk melawan pihak-pihak yang memberontak kepadanya, dengan syarat Sang Sultan bersedia membayar semua aksi militer VOC tersebut. Demikianlah kedudukan politik militer Sultan Haji yang kuat dengan didukung oleh VOC.

Dan akhirnya Kesultanan Banten dihapuskan pada tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.

Pustaka :

(1) Banten. Claude Guillot. Kepustakaan Populer Gramedia. 2008
(2) Sejarah Kecil Indonesia. Rosihan Anwar. Kompas. 2004.
(3) The History of Java. Thomas Stamford Raffles. Narasi. 2008.
(4) http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten
(5) http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Ageng_Tirtayasa

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 620,625 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: