Archive for April 3rd, 2012

Dongeng Jepang: Tanabata

Posted on 03/04/2012. Filed under: Hikmah, Tahukah Anda | Tags: , , , , |

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil hiduplah seorang pemuda miskin. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya pemuda tersebut menjual gerabah. Setiap hari ia berjalan dari kampung ke kampung untuk menawarkan gerabah buatannya. “Gerabah… gerabah…!!!” teriaknya setiap hari. Meskipun sangat berat dan melelahkan tetapi sang pemuda selalu riang gembira menawarkan barang dagangannya.

Pada suatu hari yang panas, sang pemuda berjalan menyusuri tepi sebuah danau yang jernih. “Ah, hari ini melelahkan sekali” katanya sambil meletakkan bakulnya di tepi danau tersebut dan mengusap peluh yang menetes di dahinya. Sang pemuda membasuh muka dan minum beberapa tangkup air yang diambil dengan tangannya. “Ah, segarnya…” katanya dengan senang.

Sang pemuda hendak melanjutkan perjalanan ketika sayup-sayup terdengar suara perempuan yang sedang bercanda ria dari arah danau. “Suara siapa ya?” tanyanya dalam hati. Dengan penuh konsentrasi dia coba tajamkan pendengarannya serta dipicingkannya matanya untuk mencari sumber suara tersebut. Ternyata suara tersebut memang berasal dari beberapa wanita yang sedang mandi di tepi danau. Melihat wanita cantik yang sedang mandi itu, hati sang pemuda menjadi berdebar-debar karena malu. Ketika ia sedang mencari tempat persembunyian agar tidak terlihat oleh para wanita itu, ia melihat beberapa helai pakaian yang sangat halus dan indah warnanya. Mungkin itu adalah pakaian para wanita yang sedang mandi. Akhirnya timbullah pikiran jahat sang pemuda untuk mengambil sebuah pakaian mereka. Lalu pakaian itu disembunyikannya dalam bakulnya. Sang pemuda lalu pergi menjauh dari tempat itu.

Menjelang senja, sang pemuda kembali lagi melewati danau tersebut untuk melihat-lihat apakah ada wanita-wanita cantik yang tadi sedang mandi masih ada atau sudah pergi. Betapa terkejutnya ia ketika melihat dari balik pohon di tepi danau seorang wanita yang cantik jelita tanpa berpakaian selembar pun sedang menangis seorang diri. Dengan hati berdebar-debar sang pemuda mendekati gadis itu.

“Hai, kenapa engkau menangis?” tanya sang pemuda.

“Pakaianku dicuri orang! Aku tak bisa pulang tanpa pakaian itu” jawab sang gadis.

Sang pemuda jadi merasa kasihan melihat gadis itu menangis, sejenak timbul niatnya untuk mengembalikan pakaian yang telah diambilnya tadi. Tapi, karena baru pertama kali ia melihat gadis secantik itu, maka timbul niatnya untuk mengajak sang gadis ikut pulang ke rumah bersamanya. Sang gadis pun sangat berterima kasih atas kebaikan sang pemuda untuk mengajaknya pulang ke rumah.

Karena sang gadis tidak punya tempat tujuan lainnya di dunia ini maka ia memutuskan untuk tinggal bersama sang pemuda. Mereka pun akhirnya menikah. Beberapa waktu kemudian sang gadis yang kini telah menjadi istrinya, melahirkan seorang anak. Kehidupan mereka pun menjadi semakin bahagia.

Pada suatu hari, seperti biasanya sang suami pergi bekerja, sedangkan sang istri tinggal di rumah untuk memasak dan bermain dengan anaknya yang masih bayi. Hari itu tidak seperti biasanya, sang bayi menangis dengan keras, hingga sang ibu harus bersusah payah untuk menidurkannya. Ketika anaknya sedang tertidur pulas, tanpa disadarinya mata sang ibu tertuju pada sebuah benda aneh yang digantung di langit-langit rumahnya. Benda apa itu ya? Karena penasaran, maka diambilnya tangga untuk mengambil benda yang sedang tergantung di atas. Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kain. Perlahan-lahan dibukanya bungkusan itu dan… “Oh, ini pakaianku yang selama ini aku cari. Ternyata suamiku sendiri yang telah menyimpannya!” katanya dengan sedih bercampur gembira. Segera dipakainya pakaian itu. Dan dengan menggendong anaknya yang masih tertidur pulas itu, ia hendak terbang ke angkasa. Bersamaan dengan itu suaminya pulang ke rumah. Melihat istrinya mengenakan pakaian itu suaminya menjadi sedih dan khawatir.

“Istriku, hendak pergi kemana engkau?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

“Suamiku, aku telah menemukan pakaian yang selama ini aku cari. Sesungguhnya aku adalah bidadari dari langit. Dan kini saatnya aku harus kembali ke langit. Karena disanalah tempatku!” kata sang istri sambil perlahan-lahan melayang ke udara.

“Istriku, jangan tinggalkan aku!” teriak sang suami dengan memohon.

“Kalau engkau ingin menemui aku, buatlah seribu pasang sandal jerami, lalu pendamlah dalam tanah di hutan bambu yang tinggi. Panjatlah pohon bambu itu hingga mencapai kerajaan langit. Nanti kita akan dapat bertemu lagi. Sampai jumpa…” kata istrinya dengan mata berkaca-kaca karena sedih berpisah dengan suaminya. Dan perlahan-lahan sang istri pun naik ke atas langit hingga hilang di balik awan putih.

Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, sang suami segera mengumpulkan jerami sebanyak-banyaknya dan tanpa kenal lelah bekerja siang malam untuk membuat seribu pasang sandal jerami. Akhirnya sang suami berhasil membuat 999 pasang sandal, tetapi karena sudah tidak sabar ingin menemui istri dan anaknya segera diangkut ke-999 sandal jerami tersebut dan dikubur dalam hutan bambu. Tiba-tiba dari dalam timbunan sandal jerami tersebut tumbuhlah sebatang pohon bambu yang menjulang tinggi ke angkasa. Sang suami pun menaiki pohon bambu tersebut sampai ke ujungnya. Tetapi karena sandal jerami yang dibuatnya kurang satu pasang, maka sang suami tidak bisa mencapai kerajaan langit yang hanya kurang satu lengan saja. Betapa pun tangan sang suami menggapai-gapai tidak juga sampai ke kerajaan langit. Maka ia pun berteriak sekencang-kencangnya untuk memanggil sang istri. “Istriku… aku datang untuk menemuimu. Keluarlah!”

 

 

Teriakan sang suami pun akhirnya sampai juga ke telinga sang istri. Diulurkannya lengan sang istri untuk menjangkau lengan suaminya. Akhirnya sang suami berhasil juga menginjakkan kaki di kerajaan langit. Setelah itu mereka berdua menghadap ke dewa langit yang juga ayah sang istri. Tetapi karena pada dasarnya kerajaan langit tidak menyukai adanya hubungan antara manusia dan dewa, maka dengan cara apapun ayah dan ibu istrinya memisahkan hubungan anaknya dengan manusia.

Suatu hari sang ayah memerintahkan suami anaknya untuk mengambil air tanpa tumpah sedikitpun dengan keranjang yang banyak lubangnya. Tentu saja hal tersebut mustahil. Dalam kebingungannya sang istri menolong sang suami dengan membawakan kertas minyak untuk menutupi keranjang yang berlubang-lubang itu. Sewaktu ayah sang istri melihat bahwa keranjang tersebut mampu menampung air, ia sangat terkejut.

“Ternyata manusia juga mempunyai kepandaian!” katanya dengan bersungut-sungut. Sejenak hati sang suami lega, tetapi hal itu belumlah berakhir.

Saat itu adalah saat musim panas. Di kerajaan langit, makan buah semangka adalah suatu pantangan yang tidak boleh dilakukan karena akan menimbulkan suatu bencana. Namun, karena sang ibu ingin memisahkan anak gadisnya dari suaminya, maka ia memerintahkannya untuk memetik semangka di kebun.

“Belah dan bawa kemari buah semangka dari kebun!” perintah sang ibu.

Karena ia pikir memetik dan membelah buah semangka bukanlah merupakan pekerjaan sulit, maka tanpa banyak basa-basi sang suami langsung pergi ke kebun untuk mengambil buah semangka. Dipotongnya buah semangka tersebut dengan hati-hati. Tetapi selanjutnya apa yang terjadi? Dari dalam buah semangka yang terbelah itu mengalirlah air bah dengan derasnya. Sang suami terseret arus air tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa. “Tolong… tolong!” teriak sang suami. Ayah dan ibu sang istri tertawa senang melihat suami anaknya terseret arus air yang telah berubah menjadi sungai yang besar. Istrinya yang baru menyadari terjadinya bencana tersebut segera pergi ke tepi sungai tersebut. Namun ia terlambat. Suaminya telah terbawa arus sungai yang jauh. Ia sangat sedih. Ia pun berteriak, “Suamiku! Kita akan bertemu setiap tanggal tujuh! Tujuh…!”

Tetapi karena suaminya semakin menjauh, maka yang terdengar oleh suaminya hanya angka “tujuh”.

Aliran sungai di kerajaan langit tersebut dinamakan sungai Amanogawa. Setiap tanggal tujuh tiap bulannya, sang istri selalu menunggu kedatangan sang suami di tepi sungai Amanogawa. Tetapi berbulan-bulan ditunggunya suaminya tidak muncul-muncul juga. Akhirnya suaminya datang untuk menemui sang istri tercinta pada tanggal 7 bulan 7 (Juli). Sang suami hanya mendengar angka tujuh dan tujuh, jadi pikirnya bertemu pada tanggal tujuh bulan tujuh. Sejak saat itu mereka hanya dapat bertemu satu kali dalam setahun yaitu pada tanggal 7 Juli. Sampai saat ini tanggal 7 Juli diperingati sebagai Festival Tanabata di Jepang. Di hari itu, masyarakat Jepang menggantungkan kertas kecil warna-warni berisi berbagai macam permohonan di ranting pohon bambu dengan harapan agar permohonan tersebut dapat terkabulkan.

 

Dongeng Tanabata ini berasal dari Prefektur Kagawa. Tema kisah cinta yang tragis ini memberikan inspirasi bagi masyarakat tradisional Jepang untuk menjadikan kedua tokoh dalam cerita itu sebagai dewa-dewi yang dapat mengabulkan segala permohonan mereka, terutama hal-hal yang berhubungan dengan cinta asmara. Nilai-nilai positif yang dapat diambil antara lain adalah ketulusan cinta tidak akan pernah mati walaupun diterpa berbagai macam rintangan.

 

dikutip dari: Antonius R. Pujo Purnomo, M.A. TANABATA Kumpulan Cerita Rakyat Jepang Pilihan. Era Media. 2007

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Dongeng Jepang: Tanabata )

Jawa di bawah Kekaisaran Perancis

Posted on 03/04/2012. Filed under: Hikmah, Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 William V
Pada akhir abad ke 18, tepatnya pada tahun 1785, terjadi kerusuhan di Negeri Belanda antara kelompok “Orangists” yang mengingkan langgengnya kekuasaan William V dan kelompok “Patriot” yang menginginkan tegaknya demokrasi di pemerintahan, kelompok ini sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan revolusi di Amerika.Namun demikian kedudukan William V sangat kuat karena didukung oleh Kerajaan Inggris yang kemudian meminta bantuan sekutunya di Eropa, Prusia, untuk membantu mengatasi kerusuhan yang terjadi dan menangkapi orang-orang “Patriot”. Karena kejadian tersebut hampir sekitar 40.000 anggota “Patriot” melarikan diri ke Perancis.

Tahun 1789 pecahlah Revolusi Perancis dan kemudian berujung kepada aneksasi Perancis ke Negeri Belanda pada tahun 1795. Pasukan Perancis tidak menemui banyak kesulitan mengalahkan Belanda bahkan William V pun melarikan diri ke Inggris. Kemenangan Perancis atas Belanda sekaligus mendukung kaum “Patriot” untuk membuat sistem pemerintahan baru yang sejiwa dengan revolusi Perancis. Pada tahun yang sama kaum “Patriot” medirikan “Republik Batavia”.

Tetapi pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte merubah “Republik Batavia” menjadi “Kerajaan Hollandia” sebagai kerajaan satelit bagi Perancis dengan menempatkan adiknya Louis Bonaparte sebagai rajanya. Karena Louis Bonaparte tidak begitu cakap memimpin Hollandia, maka pada bulan Juli tahun 1810, Napoleon menurunkan saudaranya itu dan menggabungkan Hollandia dengan Kekaisaran Perancis.

Kabar penggabungan Hollandia dengan Kekaisaran Perancis terdengar oleh Gubernur Jenderal Daendles di Pulau Jawa (Herman Willem Daendles tiba di Pulau Jawa pada Januari 1808) pada Januari 1811, kemudian ia memutuskan untuk segera menaikkan bendera Perancis di gedung-gedung pemerintah di Batavia.

“Periode Perancis” di Jawa tepatnya hanya berlangsung tujuh bulan, yaitu dari Februari hingga Agustus 1811.

Pada dasarnya saat itu Kekaisaran Perancis hanya memiliki satu koloni saja di nusantara, yaitu Pulau Jawa, yang menurut Benard de Saxe Weimar Eisenbach adalah, “Satu-satunya yang tegak di Samudera Hindia seperti menantang kekuasaan Inggris”. Sementara itu koloni-koloni yang lain telah jatuh ke tangan Inggris sebagai akibat perpanjangan dari perperangan Perancis dan Inggris di Benua Eropa, diantaranya :

(a) Ambon jatuh ke tangan Inggris pada tanggal 19 Februari 1810
(b) Menado pada tanggal 24 Juni 1810
(c) Ternate pada tanggal 26 Agustus 1810
(d) dan lainnya

Inggris sendiri mendarat di Cilincing pada Agustus 1811 di bawah pimpinan Jenderal Sir Auchmuty. Tentara Belanda mundur sampai ke Striswijk (Salemba) serta Meester Cornelis (Jatinegara) dan akhirnya pasukan Kekaisaran Perancis itu menyerah setelah pertempuran di sekitar daerah Kramat.. Kekuasaan Kekaisaran Perancis di Pulau Jawa secara resmi berakhir pada tanggal 13 September 1811.

Pada tahun 1839, M. Mijer menuliskan, “Suatu kesalahan politik yang dilakukan Daendles yang tidak dapat dimaafkan adalah kepercayaannya yang terlalu berlebihan terhadap keampuhan dan jiwa besar Kaisar Perancis. Kalau saja ia mempertahankan pulau itu untuk negerinya sendiri, dia akan mendapatkan kejayaan yang abadi dimata rekan-rekannya, dimata generasi penerus …”

Pustaka :

(1) Orang Indonesia & Orang Perancis. Bernard Dorleans. Kepustakaan Populer Gramedia. 2006.
(2) http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Netherlands

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Jawa di bawah Kekaisaran Perancis )

Perkebunan Kina Tempo Doeloe di Bandung Selatan

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Perkebunan kina di Bandung Selatan Jawa Barat tahun 1954. Koleksi Tropenmuseum

Tempo doeloe dizaman kolonial Belanda perkebunan-perkebunan teh dan kina di Bandung Selatan sangatlah terkenal.

Dan tentunya bukan hanya terkenal karena kawasan Bandung Selatan yang sejuk, tapi karena dari hasil perkebunan kina dan teh mendatangkan kekayaan beribu bahkan berjuta gulden bagi pemilik perkebunan tersebut.

Tuan-tuan Belanda pemilik perkebunan menjadi kaya raya, makanya mereka bisa mencari hiburan dengan keluarga pergi ke Bandoeng menonton di Societeit Concordia, atau shoping ke Braga weg, atau belanja di mall-nya Londo Toko “De Vries” yang terletak di dekat  Societeit Concordia atau bahkan pulang berlibur ke negeri leluhur Holland.

Bagaimana tidak akan begitu karena saat abad ke 19 sampai awal abad ke 20, misal pada tahun 1939 Holland-Indische tercatat merupakan pemasok 90% kebutuhan kina dunia, dimana jumlah produksinya sebanyak  11.000 ton kulit kina kering per tahun.

Pekerja perkebunan teh dan kina di Ramawatia Priangan 1900 . Koleksi Tropenmuseum

Di pegunungan wilayah Bandung Selatan diatas ketinggian 1000 dpl yang bersuhu udara dingin, perkebunan kina dan teh didirikan.

Perpaduan antara udara sejuk dan kemolekan tanah Priangan telah melahirkan ide para pembuat cerita tentang kisah cinta. Kisah-kisah romantis, terutama ditulis dalam bahasa Sunda, menceritakan tentang kehidupan di kaki gunung Malabar dimana tuan-tuan Belanda atau indo banyak yang kepincut anak gadis pemetik teh. Atau cerita tentang mandor kebun  yang memperebutkan mojang pekerja di Perkebunan kina.

Nama Kina konon diambil dari nama anak gadis di Amerika Latin bernama Comtessa Del Cinchon yang menderita sakit demam akibat malaria. Dan secara tidak sengaja diobati oleh seorang dukun Indian dengan cara meminumkan air dari kulit pohon tertentu hingga sembuh. Maka kemudian pohon itu dinamakan chinchona atau kina.

Tuan Belanda dan anjingnya di perkebunan kina 1909. COLLECTIE TROPENMUSEUM

Berbicara tentang kulit kina, bahwa kulit tersebut dibutuhkan dunia karena berguna untuk bahan obat terutama untuk penyakit malaria, penyakit jantung, depuratif, influenza, disentri, diare, minuman tonik, bahan baku kosmetika, dan industry penyamakan.

Perkebunan Kina

Di Indonesia lokasi penanaman adalah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat. Pohon kina tumbuh di daerah lembab dan relatif dingin. Tumbuh optimum di ketinggian 1400 – 1700 dpl

Jika Anda ingin mengetahui adak detil dalam hal penanaman pohon kina,  bahwa pembibitannya itu dengan cara stek sambung.

Pemeliharaan tanaman dengan penyulaman, penyiangan, pembubunan, dan pemupukan. Jangan lupa disetiap usaha pertanian selalu ada hama untuk kina adalah ulat dan penggerek, tentu ada cara pembasmiannya.

Tentang cara pemanenan, bagian yang dipanen adalah kulit batang, dahan, cabang dan ranting. Bahwa panen dengan cara tebang ketika pohon kina sudah berumur 9 – 11 tahun. yaitu caranya secara berurutan mulai penebangan, terus diambil kulitnya yaitu dengan cara kulit dilepas dari batang dengan cara dipukul-pukul.

Kemudian dilakukan pencucian kulit kina, lalu dijemur dibawah terik matahari, atau memakai pemanasan dengan oven. Kemudian dilakukan penyortiran dari kotoran-kotoran yang menempel.

Lanjutnya, kulit kering dikemas dalam karung atau wadah lain, tulis identitas di bagian luar wadah mengenai nama bahan, kulit bagian mana, nama dan lokasi, kemudian juga jumlah beratnya.

Tuan Belanda diatas punggung kuda di Perkebunan 1860 – 1900, COLLECTION TROPENMUSEUM

Kinine Fabriek

Pabrik Kina terlahir dengan nama “Bandoengsche Kinine Fabriek”, pada zaman pendudukan Jepang namanya berubah menjadi “Rikugun Kinine Seisohjo”, setelah merdeka perusahaan ini tahun 1958 dinasionalisasi, di bawah nama PN. Farmasi dan Alat Kesehatan.

Tahun 1971 namanya diganti menjadi PT (Persero) Kimia Farma, dimana Pabrik Kina Bandung menjadi unit Produksi Bandung.

Pembangunan pabrik ini tidak terlepas dari berkembangnya perkebunan kina di wilayah Jawa Barat pada akhir 1800-an. Adalah Franz Wilhelm Junghuhn, seorang dokter ahli botani, yang pertama kali mengembangkan bibit tanaman kina di Priangan.

Pekerja perkebunan kina dan teh di Sedep Priangan siap untuk memuat potongan kayu kina 1920 – 1940 COLLECTIE TROPENMUSEUM

Seorang pegawai sedang membuka kulit pohon kina dengan memakai bendo, riangan, 1945 – 1950. COLLECTIE TROPENMUSEUM

Drying shed and packing house on a chinchona plantation, before 1930. COLECTIE TROPENMUSEUM

Labourers packing chinchona bark for the medical industry 1940. COLLECTIE TROPENMUSEUM

The quinine factory in Bandung, West-Java, 1900 – 1910. COLLECTIE TROPENMUSEUM

Saat ini, tanaman kina yang dikelola PTPN VIII  seluas 3.004,29 Ha yang tersebar di 13 perkebunan. Kulit kina kering ini diproses menjadi SQ-7 yaitu garam kina yang mengandung quinine sulphate, quinine bisulphate, dan kandungan lain. Kini produksinya dilakukan oleh PT. Sinkona Indonesia Lestari (PT.SIL) sebagai anak perusahaan PTPN VIII. Produk perusahaan ini diekspor ke benua Eropa, Kanada dan Amerika.

Bacaan:

Immage from KIT

Pdf Kina – Warintek  

Pekebunan Nusantara VIII 

Pangalengan Apa Adanya

Blog Prasetijo

Catatan Ide

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Perkebunan Kina Tempo Doeloe di Bandung Selatan )

Pelopor Kelahiran Bandung

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Dalam buku Bandoeng Tempo Doeloe karya almarhum Haryoto Kunto, disebutkan peranan tiga orang Eropa, cikal bakal manusia yang akan menjadi warga Bandung. Setelah tiga orang tsb, mulailah mengalir bangsa Eropa terutama Belanda yang mulai membuka hutan, diikuti oleh para pribumi.

Pieter Engelhard

Tersebutlah Johan van Hoorn dan Hendrik Zwaardecroon, dua orang Belanda yang pertama mencoba menanam kopi di daerah Batavia dan Priangan, kira-kira th. 1700. Iklim dan bibit yang kurang baik, membuat usaha penanaman komoditi langka di pasaran Eropa itu tidak berhasil baik.
Upaya serupa lalu dilakukan Pieter Engelhard. Ia membuka perkebunan kopi didaerah selatan lereng Gunung Tangkuban Parahu, beberapa puluh pal dari kota Bandung. Lokasi perkebunan itu tepatnya di tanjakan Jl. Setiabudhi sekarang (Ledeng-UPI). Penanaman kopi yang dimulai th. 1789 itu berhasil baik. Hasil yang paling memuaskan baru diperoleh th. 1807, setelahEngelhard mengerahkan ratusan penduduk pribumi. Kopi Tangkuban Parahu itu dikenal di Eropa sebagai Javakoffie dan langsung mendapat pasaran tinggi. Javakoffie juga menggantikan kopi pait-buruk dan tidak enak yang banyak dihidangkan le mauvais Cafe de Batavia (kopi buruk di Batavia) di awal abad ke-18.
Bibit kopi Engelhar kemudia menyebar luas ke perkebunan kopi lainnya di lereng Gunung Patuha, Mandalawangi, Galunggung, dan Gunung Malabar. Sejak itu banyak penduduk pribumi Priangan yang beralih kerja dari sawah ke perkebunan kopi.

Andries de Wilde

Dokter Andries de Wilde adalah seorang tuan tanah pertama di daerah Priangan, Sebetulnya ia seorang ahli bedah (Chirurg) yang berdinas pada pasukan artileri tentara Belanda. Kemudian ia diangkat menjadi pembantu utama Herman Wilem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Ketika Inggris berkuasa di Hindia Belanda, Andries de Wilde sempat mengikat persahabatan dengan Luitenant Gouverneur Thomas Stamford Raffles(Gubernur Inggris untuk Indonesia). De Wilde bahkan diangkat sebagai Assistant to the Resident at Bandong (Residen Bandung) pada 10 Agustus 1812. Tapi jabatan itu tidak lama dipegangnya karena berselisih pendapat dengan Residen Macquoid, yang lalu memecatnya. Tapi Raffles mengangkatnya kembali sebagai pengawas penanaman kopi (“Koffie Opziener) yang berkedudukan di Tarogong – Garut.
Pada masa Daendels, de Wilde telah memiliki tanah yang luas di jasinga-Bogor dan Cimelati-Sukabumi. Ketika menjadi “Koffie Opziener” de Wilde mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda agar diizinkan menukar tanahnya di Bogor dan Sukabumi dengan sebidang tanah di Bandung Utara. Tanah pengganti itu meliuti wilayah yang luas memanjang, dari Cimahi di Barat sampai Cibeusi di timur. Sebelah utara dibatasi Gunung Tangkuban Parahu, sedangkan selatan dibatasi jalan raya pos. Berarti, setengah dari luas Kab. Bandung sekarang, dimiliki Andries de Wilde seorang. Selain bertanam kopi, de Wilde juga beternak sapi, dengan puluhan budak belian sebagai pekerja kebunnya.
Dokter Andries de Wilde menikah dengan mojang Priangan dan mendirikan vila indah di “Kampung Banong”. Kira-kira di daerah Dago Atas. Di tanah bekas gudang kopi miliknya didirikan Gedong Papak yang sekarang kita kenal sebagai kantor Pemerintah Kota Bandung (Balai Kota).
Perjalanan hidup de Wilde ternyata tidak mulus. Masa Gubernur Jenderal Van der Capellen kepemilikan tanahnya dibatalkan Pemerintah Hindia Belanda. Dalam keadaan bangkrut ia pulang ke Negeri Belanda untuk mengadu kepada raja Willem.

Franz Wilhelm Junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn adalah seorang penjelajah keturunan Jerman yang dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan tanaman kina. Orang pertama yang membawa kina ke P. Jawa adalah Blume, th 1829. Selama jangka th. 1830-1837, usaha penanaman kina (Chincona-latin), telah dilakukan Korthals, Reinwaldt, Fritze, dan Junghuhn, namun gagal.
Gubernur Jenderal Pahud menginstruksikan Junghuhn agar mencari benih kina varietas unggul ke Amerika Selatan, pekerjaan ini dilakukan Dr. Hasskarl Desember 1854. Pengembangan tanaman kina dari bibit yang dibawa Hasskarl mencapai hasil yang memuaskan. F.W. Junghuhn adalah orang yang mengangkat nama Bandung dikenal sebagai penghasil bubuk kina utama di dunia. Pada masa sebelum perang dunia ke-2, lebih dari 90% kebutuhan kina dunia, dicukupi oleh perkebunan dan pabrik kina di wilayah sekitar Bandung.
Dunia ilmiah mencatat Junghuhn sebagai ilmuwan, penyelidik alam, petualang, pengembara, dan pecinta alam sejati. Ia adalah seorang yang selalumenganjurkan agar manusia bergaul dengan alam, mencintainya dan mencari kebahagiaan di dalamnya. Ia menulis tentang itu saat berusia 26 tahun, di atas kapal yang membawanya ke P. Jawa tahun 1835. Lewat hasil penyelidikannya tentang flora dan fauna, geografi, geologi, iklim, dan sosiografi penduduk P. Jawa, terutama daerah Priangan, para pengusaha Belanda dapat menentukan lokasi yang tepat untuk daerah perkebunan dengan jenis tanaman yang sesuai dengan lingkungannya. Hasil penyelidikan Junghuhn dibukukan dalam 4 jilid berjudul Java, Gravenhage 1853.

Selain ketiga orang itu, ada beberapa nama lain yang patut dikenal karena mereka pelopor usaha perkebunan teh. Para theeplanters (pengusaha teh) ini suka disebut “de theenjonkers van Preanger” (para Pangeran Kerajaan teh di Priangan). Keluarga ini banyak menurunkan intelektual yang menguasai kebudayaan Indonesia. Beberapa nama yang cukup dikenal, antara lain : Van der Huchts, de Kerkhovens, de Holles, Van Motmans, de Bosscha’s, Families Mundts, Denninghoff Stelling, dan Van Heeckeren van Walien.
Karena mereka hidup di pegunungan teh, mereka lebih akrab bergaul dengan bangsa pribumi, para kuli perkebunan. Karel Frederik Holle, anak sulung keluarga Holle, semula seorang Komis di Kantor Karesidenan Priangan di Cianjur. Ia selalu menggunakan bahasa Sunda. Begitu fasihnya sampai temannya mengatakan “Dia bicara bahasa Sunda seperti orang Sunda”. Th. 1857, K.F.Holle ditunjuk sebagai kuasa perkebunan teh di Cikajang – Garut, dan disini mendalami kebudayaan dan sejarah kuno Sunda. Sebuah patung peringatan didirikan orang di Alun-alun Garut, untuk mengabadikan jasa-jasanya. Adik Karel Holle, Herman Hendrik Holle tak kurang seriusnya dalam menelaah kenudayaan Sunda. Sehari-hari ia memakai sarung dan baju kampret dan peci. Ia sering lesehan di pendopo Kab. Sumedang sambil menggesek rebab. Kegilaannya pada gamelan, terkadang mebuatnya lupa beristirahat dan memainkan instrumen mulai pk. 8 pagi sampai pk. 24 malam.
Keluarga Kerkhoven dan Bosscha dikenal warga Bandung sebagai donatur berdirinya Technische Hoogeschool (ITB sekarang) di Bandung. Laboratorium IPA di TH dan Bosscha Sterrenwacht (Peneropongan Bintang) di Lembang, merupakan saksi abadi yang menunjukkan betapa besar sumbangan mereka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di Bandung.
Sedangkan keluarga Van Heeckeren memberikan andil bagi pengembangan ilmu pengetahuan sejarah di Indonesia. Salah satu putra keluarga Heeckeren, menjadi sarjana sejarah purbakala Indonesia bertaraf Internasional.

(EL/GM/Bandoeng Tempo Doeloe)
(Sumber foto : wikipedia )

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Pelopor Kelahiran Bandung )

Wilayah Kerajaan Malabar

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

 

Banyak cerita tentang Bandung baheula. Dari legenda Sangkuriang, hingga cerita tentang banyaknya kerajaan yang tersebar di wilayah Bandung Raya. Terbukti banyak peninggalan dan isitus kerajaan ditemukan, di antaranya Kerajaan Malabar di Bandung Selatan yang konon menguasai wilayah Bandung sekarang.
Meskipun Richard dan Sheila Bennet (1980) mengatakan bahwa sejarah masa lalu Bandung Raya bagaikan “keping ganjil dari mainan puzzle sejarah yg tak utuh lagi”. Itu tidak berarti Bandung “sepi” dari temuan sejarah.
Di abad XIX, Van Kinsbergen, Junghuhn, , Brumund, Hoepermans, P. van Oort dan S. Muller, mencatat dan mengumpulkan benda2 bersejarah dari wilayah Bandung. Sebagian dari temuannya kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Pada awal th 1950-an tiga orang budayawan Sunda, yakni Pak Sursa (Alm), M.A. Salmun dan arsitek Suhamir, telah melacak sejarah purba sekitar kota Bandung. Bekerja sama dgn sarjana Swiss, W. Rothpletz, mereka mengadakan penelitian pada historical site (situs) di perbukitan Ciumbuleuit. Selain sisa2 parit pertahanan, pada situs tsb ditemukan pula keramik porselen Cina, peralatan upacara dari perunggu dan perhiasan manik-manik. Konon menurut Pak Sursa, temuan benda tsb adalah peninggalan dari kerajaan “Campaka Warna”. Sayang, sepeninggal mereka hasil penyelidikan tidak diketahui jatuh ke tangan siapa. Sampai sejauh mana penelitian mereka, tak ada catatan yang dapat mengungkapkannya.
Masih seputar Bandung Raya. Di tepian sungai Citarum, kira-kira 2 km ke arah utara kantor kecamatan Ciranjang (Kab. Cianjur), didapati bekas kuta (tembok/benteng) dari sebuah kerajaan kecil. Menurut cerita rakyat setempat, tembok benteng itu merupakan peninggalan kerajaan “Tanjung Singuru”, dengan rajanya Prabu Susuru. Sebelum menjadi raja, ia bernama Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi. Konon ia adalah salah seorang putra Prabu Siliwangi.
Sumber lain mengungkapkan bahwa raja Tanjung Singuru adalah Prabu Jaka Susuruh atau Prabu Hariang Banga yang namanya sering disebut dalam kisah”Pantun Sunda”.Raja ini terdesak oleh adiknya sendiri yakni Ciung Wanara sehingga ia mundur dan bertahan di Cihea.
Cihea yang semula termasuk wilayah Kab. Bandung, sejak tahun 1902 masuk wilayah Cianjur. Tahun 1912 sebutan nama Cihea diganti menjadi Ciranjang.
Data sejarah baru yang dianggap bisa mempertautkan tali sejarah Bandung Raya nan fragmentaris dan terpotong-potong, kini mulai terungkap. Penemuan naskah-naskah Cirebon beberapa tahun berselang, yang cukup menakjubkan para sejarawan, paling tidak dapat membantu menyibak sejarah Jawa Barat yang sementara ini masih dianggap remang-remang.
Naskah2 Cirebon itu merupakan hasil pertemuan para ahli sejarah dan hampir 90 daerah di Nusantara yang berlangsung tahun 1677 M di Keraton Kasepuhan Cirebon. Dalam “seminar sejarah” yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta itu berhasil dikumpulkan beberapa ratus judul karya sejarah, meliputi kerajaan2 di Nusantara. Ada 47 jilid yang merupakan gabungan dari sejarah berbagai daerah.
Dari jumlah tersebut yang telah berhasil dikumpulkan oleh Museum Negeri Jawa Barat belum mencapai setengahnya.
Dalam kaitannya dengan sejarah Bandung Raya, Pustaka Rajyaratya i Bhumi Nusantara mengungkapkan, pada saat Sang Purnawarman wafat dalam tahun 434 masehi, tercatat ada 46 kerajaan yang menjadi bawahannya. Satu diantaranya adalah Kerajaan Malabar yang lokasinya terletak di sekitar Gunung Malabar, selatan Kota Bandung.

Kerajaan Malabar ini erat hubungannya dengan kerajaan Indrapahasta di lereng gunung Ciremai (Cirebon). Kerajaan Indrapahasta didirikan oleh Maharesi Santanu, seorang pendeta Siwa berasal dari Lembah Gangga di Imdia.
Setelah Santanu meninggal, putra sulungnya yang bernama Prabu Jayasatyanagara menggantikannya sebagai Raja dan memerintah negara selama 23 tahun (398-421). Ia menikah dengan Dewi Ratnamanik, putri Raja Malabar yang bernama Prabu Wisnubhumi. Jadi kerajaan Malabar besanan dengan kerajaan Indrapahasta.
Lereng gunung Malabar masih menyimpan misteri sejarah masa lalu dataran tinggi Bandung. Di sekeliling gunung itu banyak terdapat situs yang belum sempat diteliti oleh para ahli. Seperti “parit pertahanan” yang terdapat di Perkebunan Kina Argasari yang terletak di lereng malabar, belun dilacak oleh para sejarawan.

(HK/GM)
(Foto koleksi Museum Tropen Nederland)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Wilayah Kerajaan Malabar )

Banten; Dari Pajajaran hingga Sultan Haji

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Menurut ”Carita Parahyangan”, Pajajaran melakukan ekspansi ke Banten (yang beribukota di Banten Girang-artinya Banten di hulu sungai, sekitar 10 km di selatan pelabuhan Banten) pada awal abad 15.

Sebagaimana diketahui, Pajajaran adalah kerajaan yang beribukota di Pakuan (sekarang Bogor) yang didirikan pada tahun 1333 oleh beberapa bangsawan Galuh. Akibat ekspansi ini para penguasa Pajajaran memindahkan kegiatan perdagangan dari pelabuhan Banten ke pelabuhan Sunda Kelapa yang terletak di muara Sungai Citarum, karena posisinya lebih dekat dengan Pakuan yang menyebabkan pelabuhan Banten menurun aktivitas ekonominya.

Namun demikian, sekitar tahun 1500, Banten Girang menemukan kembali hampir seluruh kegemilangannya di masa lampau. Panduan pelayaran Cina, ”Shunfeng Xiansong”, yang ditulis pada masa itu, membuktikan bahwa pelabuhan Banten kembali menjadi salah satu pusat penting perniagaan Cina di nusantara, suatu hal yang dipertegas dalam sumber-sumber Portugis dari awal abab ke 16. Tumbangnya Malaka di tahun 1511 juga mempercepat pulihnya kembali ekonomi di Banten Girang disamping itu pengaruh Pajajaran yang mulai melemah terhadap daerah tersebut.

Kemakmuran ekonomi yang dicapai oleh Banten pada saat itu tidak luput dari perhatian Kesultanan Demak yang memang sedang melakukan ekspansi besar-besaran terutama ke pesisir bagian utara Pulau Jawa. Serangan pertama Demak ke Banten dilakukan sekitar tahun 1520. Waktu itu, menurut Joao de Barros-seorang penulis kronik terkenal asal Portugis, Banten dipimpin oleh seorang raja yang bernama ”Sangyang”. Sedangkan menurut Hoesein Djadjadiningrat, ”Sangyang” adalah gelar bangsawan Pajajaran.

Akibat serangan Demak tersebut, pada tahun 1521 penguasa Banten meminta bantuan militer kepada Portugis dengan imbalan dua hal, yaitu : (1) Portugis boleh membangun benteng di wilayah Banten dan (2) Banten bersedia memberikan 1000 karung lada setiap tahun kepada Kerajaan Portugis. Tahun 1522, Gubernur Jenderal Portugis di Malaka, Jorge de Albuquerque, mengutus Henrique Leme untuk menghadap penguasa Banten dan membuat perjanjian.

Tanggal 21 Agustus 1522, ditandatanganilah perjanjian antara Portugis yang diwakili oleh Henrique Leme dengan penguasa Banten yang waktu itu diwakili oleh 4 orang yaitu, ”Sangyang”, seorang Tumenggung, seorang Keling (Bengal) dan seorang syahbandar. Teks asli perjanjian tersebut masih tersimpan di Arsip Nasional Portugis di Lisbon. Tidak lama setelah itu, Portugis membangun sebuah benteng di muara sungai Cisadane untuk menjaga perbatasan wilayah timur ”negeri” dari serangan Demak.

Bantuan militer yang diberikan oleh Portugis tidak membuahkan hasil, pada tahun 1524 pasukan Kesultanan Demak berhasil merebut ibukota Banten Girang dan pelabuhan Banten di bawah pimpinanan Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon II) dan putranya Maulana Hasanuddin. Di awal tahun 1527, Portugis di bawah pimpinan Duarte Coelho menyerang Banten, namun gagal, demikian pula dengan serangan kedua yang dilakukan oleh Francisco de Sa pada bulan Juli 1527.

Pada tahun 1552 Sunan Gunung Jati memberikan kekuasaan Banten kepada putranya Maulana Hasanudin yang memerintah hingga tahun 1570, pada saat ini wilayah Kesultanan Banten diperluas hingga berhasil menaklukan ibukota Pajajaran, Pakuan, pada tahun 1568. Sultan Maulana Hasanudin sendiri menikah dengan putri Sultan Demak III (Sultan Trenggono) dan mempunyai anak yang bernama Maulana Yusuf yang mewariskan Kesultanan Banten berikutnya. Secara ringkas silsilah Kesultanan Banten adalah sebagai berikut :

1570-1580 Sultan Maulana Yusuf (Panembahan Pakalangan Gede)
1580-1596 Sultan Maulana Muhammad (Pangeran Ratu ing Banten)
1596-1651 Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari
1651-1672 Sultan Ageng Tirtayasa
1672-1687 Sultan Haji

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1683) adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai Sultan Banten dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat dan dikenal sebagai wilayah penghasil lada yang cukup besar. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

Kemajuan perekonomian Banten menarik perhatian VOC untuk menguasainya. VOC kemudian merancang perjanjian monopoli perdagangan (yang merugikan Kesultanan Banten). Namun demikian, Tirtayasa menolak perjanjian tersebut dan tetap menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Resikonya adalah VOC melakukan pengepungan-pengepungan militer terhadap Banten sepanjang tahun 1660an hingga 1670an. Aksi militer VOC selama hampir 10 tahun tersebut tak membuahkan hasil. Kesultanan Banten tetap berdiri kokoh.

Kemunduran Banten dimulai ketika terjadi perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya sendiri yaitu Sultan Haji. Penyebabnya adalah program politik Sultan Haji yang ingin mengusir semua orang asing khususnya pedagang Tionghoa dari Banten. Apa yang dilakukan oleh Sultan Haji ditentang oleh ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa pun mengangkat senjata untuk memerangi anaknya dan mengusirnya dari ibukota serta mengangkat adik bungsu Sultan Haji sebagai putera Mahkota. Perang ini berlangsung pada tahun 1682.

Untuk melawan ayahnya, Sultan Haji pun meminta bantuan kepada VOC. Kongsi dagang Belanda itu pun tidak menyia-nyia kesempatan emas setelah bertahun-tahun gagal menguasai Banten. Dan dengan bantuan militer yang kuat dari VOC Sultan Haji dapat mengalahkan ayahnya.

Tetapi sebagai kompensasinya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung. Perjanjian itu juga melingkupi bahwa orang-orang Inggris yang berada di Banten harus meninggalkan Banten dalam waktu sesegera mungkin (kemudian mereka berimigrasi ke Bengkulu).

Pada tanggal 15 Februari 1686 juga dibuat suatu perjanjian yang baru antara VOC dengan Sultan Haji, yang salah satu isinya adalah VOC akan memberikan bantuan militer kepada Kesultanan Banten untuk melawan pihak-pihak yang memberontak kepadanya, dengan syarat Sang Sultan bersedia membayar semua aksi militer VOC tersebut. Demikianlah kedudukan politik militer Sultan Haji yang kuat dengan didukung oleh VOC.

Dan akhirnya Kesultanan Banten dihapuskan pada tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.

Pustaka :

(1) Banten. Claude Guillot. Kepustakaan Populer Gramedia. 2008
(2) Sejarah Kecil Indonesia. Rosihan Anwar. Kompas. 2004.
(3) The History of Java. Thomas Stamford Raffles. Narasi. 2008.
(4) http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banten
(5) http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Ageng_Tirtayasa

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Banten; Dari Pajajaran hingga Sultan Haji )

Bandung Selatan Maret 1946

Posted on 03/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda | Tags: , , , , |

Pada tanggal 4 Oktober 1945, ditanda-tangani perjanjian antara Mayor Jenderal Mabuchi, Panglima Militer Jepang Jepang dengan Residen Priangan R. Puradiredja. Bagian terpenting dari perjanjian tersebut adalah bahwa bendera Indonesia akan dibiarkan di gudang-gudang senjata militer Jepang. Patroli-patroli gabungan Indonesia-Jepang akan menjaga instalasi-instalasi ini dengan Indonesia bertugas secara menonjol di depan umum dan Jepang secara tersembunyi di belakang layer.

Perjanjian tersebut juga disaksikan oleh Oto Iskandardinata (Ketua KNI Jawa Barat), R. Nitisumantri (Ketua KNI Karesidenan Priangan), R. Soehari (Ketua BKR Kota Besar Bandung) dan R. Jusuf (Kepala Polisi Karesidenan Priangan).

Adalah jelas bahwa perjanjian itu tidak melibatkan penyerahan senjata sebenarnya ke BKR namun diatur agar supaya masyarakat umum melihat bahwa Indonesia telah menguasai gudang-gudang senjata itu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan para pemuda untuk mempersenjatai para penduduk. Dan ini adalah motivasi Mabuchi sambil menunggu tentara sekutu memasuki kota Bandung. Dalam hal ini Oto-Puradiredja, tidak mengetahui keinginan Mabuchi yang sebenarnya, mereka mengira senjata-senjata tersebut akan diberikan ke pihak Indonesia.

Para pemuda yang segera meyimpulkan hasil dari perjanjian tersebut dan melihat situasi yang tidak berubah, pada tanggal 6 Oktober 1945 melakukan pemboikotan terhadap pihak Belanda (interniran) di pasar-pasar di kota Bandung. Tak seorang pun yang mau menjual barang-barangnya kepada para mantan tahanan Jepang itu.

Dan di tanggal 9 Oktober 1945, rombongan-rombongan pemuda dari berbagai golongan, mendobrak dan menyita pabrik senjata di Kiarcondong. Hal ini menimbulkan kemarahan Mabuchi sehingga akhirnya dia melakukan serangan balasan ke para pemuda dan akhirnya markas BKR tak luput dari serbuan tentara Jepang. Praktis setelah itu kota Bandung di bawah pengawasan Jepang.

Tentara sekutu sendiri masuk ke kota Bandung pada tanggal 17 Oktober 1945 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal N. McDonald yang membawa Bigade Infanteri ke-37 dengan menggunakan kereta api. Di kota Bandung terdapat puluhan ribu mantan interniran (APWI : Allied prisoners of war an Internees) yang harus dijaga dan dirawat oleh sekutu.

Kehadiran sekutu mulai menimbulkan situasi yang tidak kondusif di Bandung. Pada tanggal 25 November 1945, para pemuda menyerang tempat-tempat kedudukan sekutu, APWI dan Jepang di beberapa tempat seperti : Lapangan Terbang Andir, Tangsi Jepang di Tegallega, Hotel Preanger dan Hotel Savoy Nyoman.

Akhirnya pada tanggal 27 November 1945, Brigadir McDonald mengeluarkan ultimatum kepada kepala daerah dan masyarakat Bandung agar segera mengosongkan kota Bandung bagian utara dengan dibatasi oleh jalan kereta api. Apabila sekutu masih mendapati orang Indonesia membawa senjata di wilayah Bandung utara setelah ultimatum dijalankan maka orang tersebut akan ditembak mati.

Walaupun telah dibatasi dengan garis demarkasi berupa rel kereta api, serangan sporadis tentara dan pemuda Indonesia terus dilakukan ke wilayah Bandung utara. Puncaknya adalah pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) melakukan penghadangan iringan-iringan konvoi Inggris di Fokkersweg (sekarang Jl. Garuda) pada pertengahan Maret 1946.

Pertempuran di Fokkersweg meluas ke tempat dan daerah yang lain di kota Bandung sehingga pasukan sekutu semakin berketetapan untuk menguasai seluruh kota. Mayor Jenderal Hawthorn, panglima divisi ke-23 yang sejak 16 Februari 1946 memindahkan dari markasnya dari Jakarta ke Bandung, mengeluarkan ultimatum agar seluruh pasukan Indonesia mengosongkan daerah selatan Bandung pada tanggal 24 Maret 1946 tengah malam.

Perundingan dengan pihak republik pun dilakukan, Menteri Sjarifudin Prawiranegara, Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan Kolonel AH Nasution datang mewakili pihak Indonesia. Pertemuan itu gagal dan tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa kecuali ketetapan tentara sekutu yang tidak bisa dirubah.

Pada tanggal 24 Maret 1946, pukul 14.00, Kolonel AH Nasution selaku Panglima Divisi III mengeluarkan perintah agar semua pegawai dan rakyat sebelum pukul 24.00 sudah meninggalkan kota Bandung dan membumihanguskan Kota Bandung yang ditinggalkan guna mencegah wilayah tersebut dikuasai tentara sekutu serta menyerang kedudukan musuh di wilayah utara. Bandung lautan api pun dimulai.

Keesokan pagi harinya, brigade infanteri ke-49 tentara Inggris, masuk menyerbu ke wilayah selatan Bandung dan secara khusus brigade infanteri ke-36 didatangkan dari Jakarta untuk melakukan operasi pembersihan. Perlawanan rakyat Jawa Barat pun berpindah ke luar daerah kota Bandung.

Sekarang telah menjadi lautan api,
Mari Bung rebut kembali !

(Ismail Marzuki, Halo-halo Bandung)

Pustaka :

(1) “Mari Bung Rebut Kembali !”, R.H.A. Saleh. Pustaka Sinar Harapan. 2000.
(2) Revolusi Pemuda. Ben Anderson. Pustaka Sinar Harapan. 1988.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bandung Selatan Maret 1946 )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 875,820 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: