Sumedang in Love, 1947

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Pada tahun 1992 seorang wartawan Belanda yang bernama Joop van den Berg menulis kisah kecil yang berjudul ‘De raden ajoe en haar soldaat’ dalam bukunya yang berjudul ‘De Wayang fox trot’. Kisah tersebut diinspirasikan dari isi tulisan sebuah kartu pos lama yang dijual di pasar loak Hilversum.

Pada kartu pos tersebut tertera gambar seorang gadis penari Jawa hasil lukisan sendiri dan di bawah gambar tertulis kata-kata, ‘Aandenken van Rd.I.K.K. Soeriadiwidjaja, Sumedang, 5-12-‘47’. Di ujung kanan atas dapat dibaca perkataan : Rinus. Pada bagian muka kartu pos tercantum nama penerimanya, yakni ‘De Soldaat Eerste Klas M.J. Wiliams van de Ondersteuningscompagnie II-13-8.1 atau yang lebih dikenal sebgai ‘Tijgerbrigade’ yang terkenal itu.

Sebuah syair dalam bahasa Belanda tertulis dalam kartu pos itu yang kurang lebih artinya :

Aku telah belajar mengenal dirimu
Yang sangat menyenangkan hatiku
Dan sudah mengalaminya
Kau adalah seorang sahabat yang manis

Dari pelacakan sejarah van den Berg, sebelum perang dunia kedua penduduk distrik Sumedang terdiri dari 250 orang Eropa, 900 orang Tionghoa dan beberapa puluh ribu pribumi serta sedikit diantara pribumi itu adalah kaum bangsawan. Niscaya Raden Ayu yang tinggal di jalan Koentjiweng No. 4, Sumedang, itu tergolong kamu menak.

Joop menemukan nama Soeriadiwidjaja dalam sebuah daftar mantan siswa ‘Hoofdenschool en Opleidingschool voor Inlandse Ambtenaren’ (Sekolah Pendidikan Pegawai Pangrehpraja) di Bandung dalam buku peringatan sekolah OSVIA tahun 1929. Pada 19 Juni 1917 Raden Soeriadiwidjaja lulus ujian akhir sekolah tersebut dan sangat mungkin dia ayah gadis penulis kartu pos tadi yang bernama kecil Ietje.

Orang-orang Belanda yang tinggal di Sumedang sebelum 1940 bekerja di kebon teh dan kina. Orang Tionghoa berdagang dan orang pribumi bertani menanam padi. Kaum menak yang merupakan golongan elit yang kecil jumlahnya bekerja di bidang pemerintahan. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Sumedang tidak lepas dari perjuangan untuk Republik Indonesia. Setelah aksi militer pertama Belanda di bulan Juli 1947 sebagian besar wilayah Jawa Barat diduduki Belanda.

Serdadu Willems dari Brigade T (Tijgerbrigade) yang berada di Sumedang mungkin berkenalan dengan Raden Ietje Koesoema Soeriadiwidjaja. Ayah gadis itu mungkin telah “menyebrang” ke pihak NICA. Kendati telah diduduki militer daerah Sumedang tetap tidak aman dan mereka tidak menyukai keberadaan pasukan Belanda di sana. Di pihak Republik, Letnan Kolonel Alex Kawilarang, komandan teritorium Bogor, mengeluarkan pengumuman tanggal 3 Agustus 1947. Di dalamnya rakyat Indonesia dihimbau supaya tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Kawilarang mengumumkan agar semua jawatan resmi meninggalkan daerah yang diduduki Belanda, lalu menggabungkan diri dengan pemerintahan Republik. Mereka yang telah membaca pengumuman ini dan tetap bekerja pada musuh dengan dalih kepentingan rakyat akan dipandang sebagai pengkhianat bangsa dan Negara.

Ietje pasti tahu tentang pengumuman Kawilarang yang disebar secara luas di Jawa Barat tadi. Pertanyaan yang timbul, bagaimanakah Ietje sampai bertemu dengan serdadu Belanda Willems alias Rinus. Apakah Ietje dan Rinus bertemu dan berkenalan di sebuah selamatan ketika berlangsung upacara pembukaan sebuah jembatan baru ? Pertemuan semacam itu seringkali terjadi

Dalam sebuah penerbitan ‘Oud-Wapenbroeders’, terdapat kisah mengenai seorang putri Bupati Jawa yang tinggal di sebuah rumah besar di tepi sungai. Dekat rumah itu ada pusat Perlop X-Brigade. Disana serdadu-serdadu Belanda sehabis melakukan patrol di malam hari biasa mencari rekreasi. Pada suatu hari seorang serdadu Belanda berpapasan jalan dengan putrid bupati. Dia berusaha menemui si gadis di rumahnya. Bupati mengizinkan mereka berkenalan.

Putri itu pandai berbahasa Belanda dan serdadu Belanda terpesona oleh ketinggian budi gadis itu. Mereka suka berjalan-jalan di tepi Sungai Brantas. Belakangan serdadu itu dipindahkan ke Medan. Di sana dia tewas dalam pertempuran dan peristiwa itu dikabarkan kepada putri Bupati. Dua hari kemudian mayat gadis itu ditemukan di Sungai Brantas. Demikian berakhir kisah sedih.

Bagaimana akhirnya kisah Ietje dari Sumedang tidaklah diketahui. Joop van den Berg hanya bisa menulis, barangkali di Jawa Barat berdiam seorang perempuan yang sudah sudah tua, dari kaum menak, yang kadang-kadang ingat akan ‘lieve vriend’ Rinus dari ‘Tijgerbrigade’. Dan siapa tahu di suatu tempat di Limburg hidup seorang veteran Belanda yang telah berumur, yang ketika melihat di layar televisi kursus pelajaran Bahasa Indonesia untuk pemula, lalu teringat akan Ietje Koesoema Soeriadiwidjaja. Atau mungkin pula kedua orang itu telah lama lupa akan romantika sejenak dari masa lampau yang telah sirna.

Sumber Bacaan :

Sejarah Kecil Indonesia. Rosihan Anwar. Penerbit Buku Kompas. Jakarta. Juni 2004.

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 619,566 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: