Soviet-Indonesia Ballroom Dancing

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Dalam buku “Sejarah Kecil Indonesia Jilid 2”, Rosihan Anwar menceritakan beberapa cerita menarik tentang kunjungan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev ke Indonesia pada Bulan Februari tahun 1960 atau yang ia sebut sebagai Safari Nikita 1960. Dalam lawatan pemimpin negeri Beruang Merah di nusantara, rombongan Soviet memang agak menjaga jarak dengan Rosihan Anwar dikarenakan kedekatan wartawan majalah Pedoman itu dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang memang pada waktu itu berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun demikian insting jurnalistiknya yang sudah mendarah daging tidak menghalanginya menulis laporan-laporan yang berkenaan dengan Safari Nikita tersebut. Salah satu kisah yang menarik adalah acara ‘dansa-dansi’ yang dilakukan oleh pejabat Indonesia dengan pejabat Soviet di Istana Bogor dan Istana Tampak Siring Bali.

Malam tanggal 19 Februari 1960 di Istana Bogor diadakan pertunjukan kesenian untuk rombongan tamu jauh dari Kaukasia itu. Selesai pertunjukan menyusul acara bebas, yakni menari tari pergaulan, menyanyi dan lain-lain. Presiden Soekarno juga mengundang seluruh wartawan dalam dan luar negeri yang menyertai rombongan Safari Nikita yang menginap di kompleks bungalow milik Raden Saerun, eks pemimpin redaksi surat kabar Pemandangan.

Dalam acara dansa-dansi itu Khrushchev terlihat agak segan-segan menari namun akhirnya turut juga berdansa demikian pula dengan Menteri Luar Negeri Gromyko. Dokter Hurustiati Soebandrio, istri Menlu Soebandrio, menyanyi. Karena suaminya pernah bertugas di Moskwa sebagai duta besar, Hurustiati dan ‘repertoire’ tentu juga menyanyikan lagu Rusia.

Akan tetapi, Barbara Player, wartawan dari German Press, menolak ketika diajak berdansa dengan Bung Karno. Ada juga mantan wartawan yang menjadi Duta Besar Moskwa. Namanya Adam Malik dari kantor berita Antara. Malam itu Adam Malik ikut menari dengan Ny. Hartini Soekarno. Adam Malik dalam gerak gerik nampak stijf alias kaku. Bung Adam tak biasa berdansa-dansi.

Tetapi nampaknya yang paling aneh dalam acara tersebut adalah Gromyko. Ia adalah manusia Soviet yang komplit. Tak pernah tersenyum dan bibirnya terkatup terus, menghadapi suhu panas di Indonesia dia tidak seperti keringatan dan ekspresinya seperti ekspresi orang angker. Rosihan Anwar membandingkannya dengan Gletkin, tokoh dalam novel Arthur Koestler ‘Darkness at Noon’, yakni punya kemampuan baja, fanatik dan tak dapat dibinasakan.

Dikatakan oleh orang yang mengenal Bangsa Rusia bahwa salah satu ciri alam pikiran elit Soviet ialah tidak adanya sama sekali keingintahuan mengenai hal-hal di luar lingkungan kehidupan dan kehidupan masyarakatnya sendiri. Kecuali terhadap metode-metode produksi baru atau teknologi modern. Sesekali Gromyko mengajukan pertanyaan aneh seperti misalnya, “Apakah Bahasa Indonesia dimengerti oleh seluruh rakyat negeri ini?”

Lagi-lagi acara dansa dansi diadakan. Kali berlangsung setelah pertunjukan kesenian yang dilangsungkan di Istana Tampak Siring pada malam tanggal 25 Februari 1960. Sebelumnya Khrushchev minta izin kembali ke kamar hotel dan tidak mengikuti acara bebas tersebut.

Musik diperdengarkan, Bung Karno membuka tari dengan meminta putri Khrushchev, Yulia, sebagai partner. Presiden memegang kedua belah tangannya, lalu kaki diayun-ayunkan di atas lantai. PM Djuanda pun juga mulai masuk ke ‘Ballroom Dance’, namun dari air mukanya terlihat dia tidak menikmati dansa itu. Menlu Soebandrio pun tak ingin ketinggalan, ia bergerak di depan Tahirova, seorang menteri yang berasal dari Azerbaijan.

Tiba pada giliran Andrey Gromyko. Mulanya ia duduk saja di pojok ruangan. Tapi apa mau dikata ? Ny. Hurustiati Subandrio menghampiri Gromyko dan mengundangnya untuk menari. Tak mungkin seorang gentleman menolak undangan seorang lady. Maka menarilah Menlu Gromyko. Ny. Hurustiati punya langkah-langkah variasi dalam dansanya yakni berputar-putar di sekeliling partner. Dan Gromyko mesti memegang tangan Hurustiati, sambil ia berdiri sebentar di tempatnya.

Wartawan Associated Press (AP) lalu dapat ilham untuk mengawatkan ke luar negeri kalimat berikut, “Tapi, bayangkanlah. Menlu Soviet A.Gromyko yang lazimnya bermuka muram itu sedang hip-waggling to the beat of tomtoms”

Tak lama kemudian, Menteri Kebudayaan Michailov dan Yulia Khrushchev meninggalkan ruangan diam-diam. Tinggalah Gromyko seorang diri yang harus mempertahankan “benteng” Soviet. Tapi pasti ia kalah dari Bung Karno yang tak kenal lelah. Wartawan John Griffin menulis, “As always Sukarno stayed from beginning to end, two hours of continuous foot shuffling with virtually every woman in the noisy room”.

John Griffin melanjutkan ceritanya, “Gromyko tampaknya jauh dari bahagia. Wajahnya kemerah-merahan dan ia terayun-ayun di sekeliling lantai oleh ‘vivacious Mrs. Soebandrio’ istri Menlu Indonesia. Berkali-kali Gromyko mundur ke pojok, hanya untuk ditarik kembali dan ditekan ke dalam barisan para penari”. Gromyko tinggal satu jam lamanya di situ, sebelum ia ke kamarnya pergi tidur.

Tatkala Gromyko pergi, maka, “Happy Soekarno was up directing the orchestra and many American newsman and Indonesia officials were swinging around the floor …”, demikian tulis wartawan John Griffin.

Sumber Bacaan :

Sejarah Kecil Indonesia Jilid 2. Rosihan Anwar. Kompas. Jakarta. September 2009.

Advertisements
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 683,116 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: