Archive for April 2nd, 2012

Adeus Timor

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , , , , , |

“Selama 500 tahun di bawah Portugal, hanya 1% saja rakyat yang bersekolah, Serahkan Timor-Portugis kepada Indonesia atau Australia, viva El Tari !” (Maret, 1974)

——————————

Tahun 1512, orang Portugis pertama sampai di Maluku. Selanjutnya dengan Solor sebagai pelabuhan transit, ekspedisi dagang Portugal lalu menjangkau pulau-pulau di sekitarnya, termasuk Timor. Nahkoda Antonio de Abreau diperkirakan sebagai orang portugis pertama yang mendarat di pulau Timor.

Kedatangan orang-orang Belanda sebagai gabungan pedagang yang lebih agresif (VOC) sejak pertengahan abad ke-16 mendesak keberadaan Portugal. Satu demi satu koloni Portugal di Maluku, Flores, Solor, Alor dan lainnya jatuh ke tangan Belanda. Akhirnya berdasarkan perjanjian Belanda-Portugis yang terakhir maka sejak tahun 1904, Portugis hanya memiliki Timor.

Secara administrative, Portugal mulai menancapkan kekuasaannya di tahun 1665, saat “Vice Rei Portugia” (Raja Muda Portugis) yang berkedudukan di India mengangkat Simao Luis sebagai Gubernur Jenderal Timor yang pertama. Ia berkedudukan di Lifau. Pada tahun 1768, ibukota dipindahkan ke Dili. Tahun 1844 pemerintahan Timor-Portugis pernah dijadikan satu dengan Makau, namun tahun 1896 dipisahkan kembali.

Sebagaimana di daerah-daerah jajahan yang lain, pemberontakan terhadap penguasa colonial asing merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. Di tahun 1788 terjadi perlawanan rakyat yang merata di seluruh Timor dengan pusat pemberontakan di Belu (Atambua) dan Maubura. Dan di tahun 1893 terjadi lagi pemberontakan di Maubura, Ermera, Atsabe, Bobonaro, Aileu dan Maubise sehingga Portugal mengerahkan seluruh tentaranya dan dibantu oleh raja-raja yang setia padanya.

Saat itu pertama kali meniru sistem pengepungan Jenderal De Kock waktu memerangi kaum Paderi di Sumatera Barat, yaitu dengan menggunakan sistem stelsel dengan mendirikan “postos militares” yang mana satu sama lain dihubungkan dengan menggunakan pesawat telephon. Peperangan yang berlangsung hingga 1898 menyebabkan Portugal kehilangan dua orang penting, Arbiru dan Francisco Duarte.

Dalam tahun 1900 dilancarkan suatu gerakan militer yang disebut “Pacificatie” dengan mengadakan pembersihan total terhadap sisa-sisa perlawanan rakyat di bagian tengah dan timur yang berlangsung terus menerus sampai tahun 1911. Namun pemberontakan terbesar Portugis muncul pada tahun 1912-1913 di seluruh Timor, dengan korban tewas dari pihak rakyat Timor kurang lebih sebesar 3500 jiwa dan di pihak Portugis sekitar 300 orang tewas. Setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi perlawanan bersenjata hingga perang dunia ke dua.

Ketika Jepang mendarat di Timor tanggal 19 Februari 1942, mereka tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari tentara regular Portugis, sehingga pasukan gabungan Australia-Belanda mendaratkan pula pasukannya di Timor. Australia sendiri mengirimkan unit khususnya “Sparrow Force” yang melakukan pertempuran secara bergeriliya di pulau Timor.

Setelah kemenangan sekutu atas Jepang pada perang dunia ke dua. Portugal mengirimkan tentara dari Mozambik dengan membonceng tentara sekutu menuju Timor pada tanggal 29 September 1945. Semenjak itu status resmi Timor-Portugis tidak lagi koloni atau daerah jajahan, melainkan Provinsi Seberang Lautan dari Negara Portugal.

Pada dekade 1960an terjadi pergantian kekuasaan, Salazar jatuh dan naiklah pemerintahan Marcelo Gaetano. Pergantian pemerintahan itu mendorong terjadinya liberalisasi di bidang politik dengan diperbolehkannya didirikan partai dan organisasi politik, yang mana di tahun-tahun sebelumnya hanya satu partai politik saja yang boleh berdiri yaitu “Accao Nacional Populer” (ANP) yang ketua kehormatannya adalah perdana menteri. Semenjak itu Timor-Portugis memiliki wakil (2 orang) di parlemen pusat di Lisabon.

Meski terjadi liberalisasi politik di Portugal, keadaan di Timor-Portugis sangatlah berbeda. Rakyat Timor-Portugis tetap tak memiliki hak politik apapun. Termasuk dengan terpilihnya Americo Deus Rodrigues sebagai presiden Portugal untuk masa jabatan yang ketiga (1972-1977) untuk masa jabatan yang ketiga. Dengan perkataan lain, Portugal akan tetap mempertahankan daerah jajahannya sebagai “bagian integral Negara Portugal”. Pada saat itu yang menjadi Gubernur Timor Portugis adalah Fernando Alves Aldeia yang dilantik pada tanggal 26 Februari 1972.

Kondisi ini juga diceritakan oleh seorang wartawan berkebangsaan Belanda, Schumacher yang masuk ke Timor-Portugis di awal tahun 1973 melalui pintu Indonesia, yang menceritakan betapa buruknya penindasan terhadap penduduk pemerintah Timor-Portugis terhadap rakyat asli Timor. Tulisan tentang itu dimuat di harian “De Standar” (Belgia) tanggal 14 April 1973 di bawah judul “Timor Lisboa Leelijk Stiefkind”. Beberapa bulan kemudian “The Asia Magazine” edisi 12 September 1973 memuat judul “The Colony Where Time Stands Still in Portuguese Timor”.

Aldeia mengundang Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), El Tari pada tanggal 28 Februari hingga 2 Maret 1974 dalam rangka pembukaan pasar malam di Dili. Ada beberapa peristiwa yang menarik ketika El Tari berkunjung kesana, yaitu beberapa rakyat Timor menyambut dengan hangat kedatangan El Tari sambil memajang spanduk yang bertuliskan,

“Selama 500 tahun di bawah Portugal, hanya 1% saja rakyat yang bersekolah, Serahkan Timor-Portugis kepada Indonesia atau Australia, viva El Tari !”

Peristiwa itu kemudian menjadi perhatian “Direccao General de Segurance (DGS)” atau Polisi Rahasia Portugis yang ditakuti rakyat Timor-Portugis yang dulunya bernama “Policia Internacional e Defesa de Estado (PIDE)”

Tanggal 27 Maret 1974 terjadilah “Revolusi Bunga” di Portugal, hal ini menyebabkan kelompok junta militer di bawah pimpinan Spinola mengambil alih kekuasaan Gaetano. Pemerintahan junta militer kemudian membubarkan ANP dan mengumumkan bahwa Portugal maupun daerah-daerah Seberang Lautan berada di bawah kekuasaannya. Satu hal yang menguntungkan bagi daerah-daerah Seberang Lautan seperti Mozambik, Anggola, Timor dan lainnya bahwa mereka akan diberikan kesempatan menentukan nasib sendiri dengan cara pemungutan suara (plebisit).

Bak gayung bersambut, partai-partai baru pun muncul di Timor Portugis. Setidaknya ada 3 partai besar, yaitu : Uniao Democratia Timorence (UDT), Associacao Social Democrata Timorense (kemudian dikenal sebagai Fretelin) dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti)

UDT didirikan pada tanggal 11 Mei 1974 di bawah pimpinan Carrascalao. Tujuan partai ini adalah tetap bergabung dengan Portugal. Umumnya anggota partai ini adalah terdiri dari tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan kuat di pemerintahan (kebanyakan Timor-Putih), raja-raja pribumi, pemilik perkebunan dan sebagainya..

ASDT sendiri didirikan pada tanggal 14 Mei 1974 dengan tujuan kemerdekaan Timor-Portugis dari Portugal. Tokoh-tokohnya antara lain Xavier du Amaral dan Amaral. Xavier sendiri pernah memuji Indonesia dengan mengatakan “The Big Brother”.

Apodeti yang didirikan para mantan aktivis pemberontakan Viqueque 1959 dibentuk pada tanggal 27 Mei 1974. Aspirasi kelompok ini adalah memerdekakan diri dari Portugal dan bergabung dengan Indonesia karena persamaan latar belakang sejarah dan cita-cita. Tokoh-tokohnya antara lain : Osorio Soares (seorang guru yang kemudian dibunuh Fretilin) dan Arnaldo dos Reis Araujo (Gubernur Timor Timur pertama).

Pada bulan Juni 1974 Apodeti mengirimkan manifesto politik kepada Presiden Soeharto yang isinya sebagai berikut,

“Atas kebebasan yang diberikan oleh pemerintah Portugis, maka kami pendiri Associacao Popular Democratica Timorense yang menghendaki pengintegrasian Timor Portugis ke dalam Republik Indonesia, dengan ini menyampaikan salam hormat kami kehadapan Bapak Presiden dari suatu bangsa besar Indonesia ttk Salam hormat kami ttk habis.

Apodeti Dili”

Tidak berselang kemudian, Radio Australia menyiarkan pernyataan Menteri Dalam Negeri Indonesia, Amir Machmud, bahwa Indonesia bersedia menerima integrasi Timor-Portugis, apabila rakyat Timor-Portugis menghendaki.

Pernyataan Menteri Dalam Negeri itu membuat Ramos Horta kecewa, karena awalnya Indonesia dapat diharapkan menjadi batu sandaran bagi ASDT untuk memperjuangkan kemerdekaan Timor-Portugis. Ia (Ramos Horta) menuduh Konsulat RI di Dili-lah yang menjadi biang keladi perkembangan politik yang tidak diharapkannya itu, antara lain karena dinilai dekat dengan Apodeti.

Menyikapi perkembangan politik terbaru, ASDT mengubah haluan ideologi dari Sosial-Demokrat menjadi revolusioner (Komunis) dan mengubah namanya menjadi “Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente” alias “Fretilin” guna mendapatkan dukungan finansial dan senjata dari Cina ataupun Uni Soviet. Tanggal 11 September 1974 datanglah 3 kader senior Partai Komunis Portugal, yaitu : Carverino, Abelio dan seorang wanita Guilhermina untuk melakukan kegiatan kaderisasi/agitasi/indoktrinasi di dalam tubuh Fretilin. Bersamaan dengan itu Cina dan Uni Soviet saling berebut pengaruh di Timor Portugis.

Beberapa bulan kedepan suasana di Timor Portugis semakin menegangkan, aksi demonstasi antar partai politik yang mencoba mendapatkan suara dari rakyat Timor berujung pada perkelahian brutal bahkan pembunuhan. Tanggal 18 November 1974, Portugal menunjuk Lemos Pires sebagai Gubernur Timor-Portugis yang baru. Dan tak lama berselang Mota ditunjuk sebagai Kepala Kabinet Urusan Politik.

Pires dan Mota pada setiap kesempatan berbicara pada seluruh partai politik yang ada tentang perlunya ketentraman dan keamanan untuk mendukung proses “evaluasi politik”. Dan mereka menjanjikan adanya pemilihan umum secara langsung dan bertahap. Pemilu tersebut akan dimulai dari Lautem pada tanggal 20 Mei 1975 dan diperkirakan berakhir pada bula Juni 1975.

Untuk meredam gerakan Apodeti yang semakin membesar, UDT dan Fretilin dengan dukungan Pires berkoalisi pada tanggal 20 Januari 1975. Namun terasa koalisi itu sangat cair dan lemah, Pandangan kedua partai politik itu berbeda bahkan bertentangan. UDT sangat anti komunis, dan menaruh curiga pada Fretilin, jika mereka menang pasti mereka akan dilibas habis oleh Fretilin. Namun demikian koalisi itu menjadi beban berat buat para pengikut Apodeti.

Sekjend Apodeti, Jose Osorio Soares, kemudian mengirimkan teleks kepada Sekjend PBB, Kurt Waldheim, yang berisi tentang prinsip Apodeti yang menginginkan menjadi provinsi ke-27 Republik Indonesia. Teleks tandingan pun dikirim oleh UDT-Fretilin yang mengklaim bahwa 95% rakyat Timor berada di pihak mereka. Keadaan semakin tidak menentu. Dan untuk menghindari kekerasan dari pihak UDT-Fretilin yang dibantu didukung oleh Pires, banyak rakyat Timor melarikan diri ke Nusa Tenggara Timur

Dukungan Pires terhadap tak lepas dari instruksi pemerintah Portugal yang telah dikuasai oleh sayap kiri semenjak pimpinan Revolusi Bunga, Spinola, mengundurkan diri dari pemerintahan. Instruksi itu intinya berisi bahwa Pemerintah Portugal tetap akan berkuasa di Timor-Portugis dan menunda pemilihan umum sampai Apodeti dibubarkan baik secara paksa maupun tidak.

Sejalan dengan hal itu, Pires membentuk Komisi Dekolonialisasi Timor (KDT) dengan pelaksananya adalah Pemerintah Timor-Portugis dan Mota terpilih sebagai ketua. Tanggal 7 Mei 1975, KDT bertemu dengan koalisi UDT-Fretilin. UDT diwakili oleh Fransisco Lopez da Cruz sedangkan Fretilin diwakili oleh Fransisco Xavier du Amaral. Sedangkan sidang antara KDT dengan Apodeti dilakukan tanggal 9 Mei 1975 yang diwakili oleh Jose Fernando Osorio Soares. Tetapi sidang antara KDT dengan partai politik tidak mencapai titik temu, terutama dengan pihak Apodeti.

Tanggal 1 Juni 1975, dalam peringatan 1 tahun berdirinya Apodeti, para anggota Apodeti menaikkan bendera merah-putih di bumi Timor, sambil kemudian membacakan “Proklamasi Propinsi Kedua Puluh Tujuh Republik Indonesia”, lalu kemudian mereka meneriakkan yel-yel, “Hidup Republik Indonesia, Hidup Presiden Suharto, Hidup Apodeti”

Seiringan dengan “proklamasi” yang dibacakan oleh pihak Apodeti, koalisi UDT-Fretilin mengalami perpecahan. Aksi teror yang berlebihan yang dilakukan oleh Fretilin terhadap lawan politiknya di seluruh Timor Portugis tidak disetujui oleh pihak UDT yang mengambil jalan moderat. Anggota UDT seperti Lopez da Cruz dan Musinho memberikan penjelasan bahwa mereka ingin mencegah masuknya faham komunis secara masif di Timor Portugis.

Perundingan dekolonialisasi terus dilakukan oleh pihak pemerintah Timor-Portugis. Kali ini mengambil tempat di Makau pada 12-16 Juni 1975. Pertemuan ini diboikot oleh Fretilin, yang tidak menyetujui Apodeti ikut dalam pertemuan. Hasil utama dari pertemuan tersebut adalah Portugis akan keluar dari Timor selambat-lambatnya bulan Oktober 1979 dan tidak akan menentang Timor berintegrasi dengan Indonesia jika rakyat Timor menghendaki demikian.

Hasil keputusan Makau membuat Fretilin marah terutama terhadap Apodeti. Mereka kemudian mengutus Marie al Katiri pergi ke Mozambik untuk meminta bantuan militer negara-negara komunis seperti Vietnam Utara untuk mempersiapkan perang semesta jika nanti Apodeti menang dalam pemilihan umum. Kemarahan Fretilin pun juga diarahkan ke UDT dengan melakukan aksi intimidasi terhadap anggota-anggota UDT di luar wilayah Dili.

Aksi-aksi yang dilakukan Fretilin menimbulkan kemarahan yang luar biasa bagi anggota UDT. Tanggal 9 Agustus 1975, UDT memerintahkan mogok massal yang menyebabkan kota Dili lumpuh total. Para demonstran UDT yang berjumlah 5.000 orang berteriak dengan yel-yel anti komunis di seluruh kota Dili. Melihat gelagat yang kurang baik ini Gubernur Pires memindahkan rumah dan kantornya ke wilayah Farol yang dekat dengan pelabuhan dan Bandar udara. Fretilin kemudian mengimbanginya dengan demo-demo tandingan.

Tanggal 11 Agustus 1975, Letnan Kolonel Maggiolo Gouveia, seorang loyalis UDT, membagi-bagikan senjata kepada pihak UDT yang mana menyebabkan praktis kota Dili secara ‘militer’ ada di tangan UDT, terlihat juga orang-orang Portugis putih ikut membantu dalam menjaga keamanan. Hal ini menyebabkan pimpinan Fretelin, Xavier du Amaral dan tokoh-tokoh Fretelin lainnya lari ke luar kota Dili dan bersembunyi di gunung-gunung.

Aksi UDT bereskalasi menjadi besar dan brutal, tidak sedikit anggota Fretelin yang tewas akibat aksi ini. Akibatnya Fretilin mau tidak mau mendekati Apodeti untuk menggalang kekuatan bersama menghadapi UDT. Apodeti sendiri menerima dengan alasan merasa senasib sepenanggungan dengan nasib pribumi Fretilin yang diburu oleh anggota UDT yang mayoritas kepanjangan tangan dari pemerintah colonial Portugal.

Akhirnya dibentuklah “Komisi Tentara” yaitu front militer antara Fretilin dan Apodeti di bawah pimpinan Rogerio Lobato dibantu dengan 2 sersan Fretilin dan 2 sersan Apodeti. Mereka sepakat bahwa tema front ini adalah non politik.

Komisi Tentara behasil membalikan keadaan dan memasuki kota Dili pada tanggal 19 Agustus 1975, semua tempat berhasil dikuasai kecuali Bandar udara dan wilayah Farol yang menjadi tempat Gubernur Pires dan stafnya berada. Daerah ini masih dikuasai oleh UDT. Karena terdesak, pimpinan UDT Lopez da Cruz meminta bantuan konsulat jenderal RI di Dili, E.M.Tomodok, untuk menjadi penengah, khususnya dengan Apodeti. Namun hal ini ditolak oleh pimpinan Apodeti Osorio Soares karena perlakuan-perlakuan yang buruk UDT terhadap rakyat Timor.

Karena keadaan semakin gawat Konsulat RI di Dili mengungsikan staf dan keluarganya dengan menggunakan pesawat Merpati terakhir dengan jurusan Dili-Kupang. Konsul E.M. Tomodok tetap di Dili bersama 3 orang staf karena belum ada perintah dari Departemen Luar Negeri RI untuk meninggalkan Dili. Dan semenjak itu pula kantor konsulat RI di Dili menjadi tempat yang netral yang tidak disentuh oleh anggota Apodeti, UDT maupun Fretelin. Tidak sedikit warga Timor yang mengungsi ke kantor ini.

Uskup Martinho Costa Lopez juga mendatangi kantor Konsulat Jenderal RI untuk meminta bantuan dokter, perawat dan obat-obatan. Namun E.M.Tomodok tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Hubungan komunikasi Dili-Jakarta sudah terputus.

Arus pengungsi pun semakin membludak, sebagian besar orang Portugis dan Timor-Putih mengungsi ke pelabuhan laut, tanggal 23 Agustus 1975 sebagian pengungsi menumpang kapal “Llyod Baker” dan sebagian lagi diangkut dengan kapal “McDili” keesokan harinya. Pada tanggal 24 Agustus 1975, konsul Jenderal RI, E.M.Tomodok, diperintahkan dalam waktu 1×6 jam untuk meninggalkan Dili oleh Gubernur Pires karena ia tidak lagi dapat menjamin keamanan nyawa konsul Jenderal.

Tanggal 25 Agustus 1975, Gubernur Pires beserta seluruh stafnya dan Pasukan Elit Portugal (Para) yang mengawalnya tanpa “bertanggung-jawab” meninggalkan Timor dalam keadaan berdarah-darah menuju Pulau Atauro (Pulau Kambing). Dan dengan “minggat”nya Pires dari Timor maka secara “de facto” dan secara moral berakhirlah sejarah kolonialisme di Timor Portugis.

“Adeus Timor”, mungkin kata Pires dalam hati.

Pustaka :

Hari-hari Akhir Timor Portugis. E.M.Tomodok. Pustaka Jaya. 1994

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Adeus Timor )

Soviet-Indonesia Ballroom Dancing

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Dalam buku “Sejarah Kecil Indonesia Jilid 2”, Rosihan Anwar menceritakan beberapa cerita menarik tentang kunjungan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev ke Indonesia pada Bulan Februari tahun 1960 atau yang ia sebut sebagai Safari Nikita 1960. Dalam lawatan pemimpin negeri Beruang Merah di nusantara, rombongan Soviet memang agak menjaga jarak dengan Rosihan Anwar dikarenakan kedekatan wartawan majalah Pedoman itu dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang memang pada waktu itu berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun demikian insting jurnalistiknya yang sudah mendarah daging tidak menghalanginya menulis laporan-laporan yang berkenaan dengan Safari Nikita tersebut. Salah satu kisah yang menarik adalah acara ‘dansa-dansi’ yang dilakukan oleh pejabat Indonesia dengan pejabat Soviet di Istana Bogor dan Istana Tampak Siring Bali.

Malam tanggal 19 Februari 1960 di Istana Bogor diadakan pertunjukan kesenian untuk rombongan tamu jauh dari Kaukasia itu. Selesai pertunjukan menyusul acara bebas, yakni menari tari pergaulan, menyanyi dan lain-lain. Presiden Soekarno juga mengundang seluruh wartawan dalam dan luar negeri yang menyertai rombongan Safari Nikita yang menginap di kompleks bungalow milik Raden Saerun, eks pemimpin redaksi surat kabar Pemandangan.

Dalam acara dansa-dansi itu Khrushchev terlihat agak segan-segan menari namun akhirnya turut juga berdansa demikian pula dengan Menteri Luar Negeri Gromyko. Dokter Hurustiati Soebandrio, istri Menlu Soebandrio, menyanyi. Karena suaminya pernah bertugas di Moskwa sebagai duta besar, Hurustiati dan ‘repertoire’ tentu juga menyanyikan lagu Rusia.

Akan tetapi, Barbara Player, wartawan dari German Press, menolak ketika diajak berdansa dengan Bung Karno. Ada juga mantan wartawan yang menjadi Duta Besar Moskwa. Namanya Adam Malik dari kantor berita Antara. Malam itu Adam Malik ikut menari dengan Ny. Hartini Soekarno. Adam Malik dalam gerak gerik nampak stijf alias kaku. Bung Adam tak biasa berdansa-dansi.

Tetapi nampaknya yang paling aneh dalam acara tersebut adalah Gromyko. Ia adalah manusia Soviet yang komplit. Tak pernah tersenyum dan bibirnya terkatup terus, menghadapi suhu panas di Indonesia dia tidak seperti keringatan dan ekspresinya seperti ekspresi orang angker. Rosihan Anwar membandingkannya dengan Gletkin, tokoh dalam novel Arthur Koestler ‘Darkness at Noon’, yakni punya kemampuan baja, fanatik dan tak dapat dibinasakan.

Dikatakan oleh orang yang mengenal Bangsa Rusia bahwa salah satu ciri alam pikiran elit Soviet ialah tidak adanya sama sekali keingintahuan mengenai hal-hal di luar lingkungan kehidupan dan kehidupan masyarakatnya sendiri. Kecuali terhadap metode-metode produksi baru atau teknologi modern. Sesekali Gromyko mengajukan pertanyaan aneh seperti misalnya, “Apakah Bahasa Indonesia dimengerti oleh seluruh rakyat negeri ini?”

Lagi-lagi acara dansa dansi diadakan. Kali berlangsung setelah pertunjukan kesenian yang dilangsungkan di Istana Tampak Siring pada malam tanggal 25 Februari 1960. Sebelumnya Khrushchev minta izin kembali ke kamar hotel dan tidak mengikuti acara bebas tersebut.

Musik diperdengarkan, Bung Karno membuka tari dengan meminta putri Khrushchev, Yulia, sebagai partner. Presiden memegang kedua belah tangannya, lalu kaki diayun-ayunkan di atas lantai. PM Djuanda pun juga mulai masuk ke ‘Ballroom Dance’, namun dari air mukanya terlihat dia tidak menikmati dansa itu. Menlu Soebandrio pun tak ingin ketinggalan, ia bergerak di depan Tahirova, seorang menteri yang berasal dari Azerbaijan.

Tiba pada giliran Andrey Gromyko. Mulanya ia duduk saja di pojok ruangan. Tapi apa mau dikata ? Ny. Hurustiati Subandrio menghampiri Gromyko dan mengundangnya untuk menari. Tak mungkin seorang gentleman menolak undangan seorang lady. Maka menarilah Menlu Gromyko. Ny. Hurustiati punya langkah-langkah variasi dalam dansanya yakni berputar-putar di sekeliling partner. Dan Gromyko mesti memegang tangan Hurustiati, sambil ia berdiri sebentar di tempatnya.

Wartawan Associated Press (AP) lalu dapat ilham untuk mengawatkan ke luar negeri kalimat berikut, “Tapi, bayangkanlah. Menlu Soviet A.Gromyko yang lazimnya bermuka muram itu sedang hip-waggling to the beat of tomtoms”

Tak lama kemudian, Menteri Kebudayaan Michailov dan Yulia Khrushchev meninggalkan ruangan diam-diam. Tinggalah Gromyko seorang diri yang harus mempertahankan “benteng” Soviet. Tapi pasti ia kalah dari Bung Karno yang tak kenal lelah. Wartawan John Griffin menulis, “As always Sukarno stayed from beginning to end, two hours of continuous foot shuffling with virtually every woman in the noisy room”.

John Griffin melanjutkan ceritanya, “Gromyko tampaknya jauh dari bahagia. Wajahnya kemerah-merahan dan ia terayun-ayun di sekeliling lantai oleh ‘vivacious Mrs. Soebandrio’ istri Menlu Indonesia. Berkali-kali Gromyko mundur ke pojok, hanya untuk ditarik kembali dan ditekan ke dalam barisan para penari”. Gromyko tinggal satu jam lamanya di situ, sebelum ia ke kamarnya pergi tidur.

Tatkala Gromyko pergi, maka, “Happy Soekarno was up directing the orchestra and many American newsman and Indonesia officials were swinging around the floor …”, demikian tulis wartawan John Griffin.

Sumber Bacaan :

Sejarah Kecil Indonesia Jilid 2. Rosihan Anwar. Kompas. Jakarta. September 2009.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Soviet-Indonesia Ballroom Dancing )

Laskar-laskar Rakyat tahun 1945

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

Pada revolusi fisik, laskar bermakna satuan bersenjata di laur tentara reguler, yang secara umum berafiliasi pada kepentingan politik tertentu. Bibit dari pada laskar rakyat di Indonesia dianggap bermula dari sikap gerakan-gerakan politik tertentu terhadap kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Contohnya PNI Baru yang dibetuk akhir tahun 1931 pimpinan Hatta-Sjahrir dan Gerindo (Gerakan Indonesia Raya), yang didirikan 24 Mei 1937, yang mengambil sikap anti fasis dan anti kolonialisme.

Ketika Jepang mendarat di Indonesia pun, sikap para pemimpin politik nasional pun berbeda-beda. Ada pemimpin politik yang melakukan perjuangan secara terang-terangan seperti Soekarno, Hatta, Soebardjo, Wikana dan lainnya, tetapi tidak sedikit juga yang mengambil jalan melalui gerakan bawah tanah seperti Sjahrir dan Amir Sjarifuddin.

Pada masa pendudukan Jepang, tercatat ada 3 kekuatan besar gerakan bawah tanah yang menunjukkan perlawanan :

(1) Gerakan yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin, salah satu mantan pemimpin Gerindo.
(2) Gerakan yang dipimpin Sutan Sjahrir atau juga yang lebih dikenal sebagai ”Prapatan 10”, gerakan ini juga berkembang di berbagai kota di Indonesia.
(3) Gerakan yang berpusat di Asrama Angkatan Baru Indonesia di jalan Menteng 31 dimana dua tokoh pemuda waktu itu, Chaerul Saleh dan Sukarni, menjadi tokoh-tokohnya.

Namun demikian Ben Anderson menjelaskan bahwa yang dimaksud gerakan bawah tanah disini bukanlah gerakan bawah tanah dalam arti ”pasukan gerilya” seperti yang muncul di Perancis atau Negeri Belanda di bawah pendudukan Nazi Jerman. ”Gerakan bawah tanah” itu paling tepat dapat dilihat sebagai kerangka pemikiran ketimbang organisasi atau bahkan kelompok-kelompok.

Paska kemerdekaan 17 Agustus 1945, anggota gerakan-gerakan bawah tanah itu dan pemuda-pemuda Indonesia lainnya mengalami euforia politik setelah hidup di bawah bayang-bayang penjajahan dan merasa terpanggil untuk menyelamatkan revolusi serta membela republik dengan membentuk beberapa gerakan yang sesuai dengan afiliasi politiknya seperti :

– Angkatan Muda, yang dibentuk 25 Agustus 1945 oleh Soemarsono dan Ruslan Widjaja di Surabaya.
– Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dibentuk tanggal 23 September 1945 di Surabaya, kemudian dibentuk juga di Bandung, Bukit Tinggi dan Bali
– Angkatan Pemuda Indonesia (API), terbentuk di Jakarta, Lampung dan Aceh. Tokohnya adalah Wikana.
– Barisan Rakyat Indonesia (Bara), terbentuk di Jakarta
– Barisan Buruh Indonesia, terbentuk di Jakarta
– Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (P3I), terbentuk di Bandung
– Angkatan Muda Indonesia (AMI), terbentuk di Jawa Tengah
– Balai Penerangan Pemuda Indonesia, terbentuk di Padang
– Pemuda Penyongsong Republik Indonesia, terbentuk di Kalimantan Barat
– Persatuan Rakyat Indonesia, terbentuk Kalimantan Selatan
– Persatuan Pemuda Indonesia, terbentuk di Ambon.
– Hizbullah dan Sabilillah yang berafiliasi ke Masyumi
– Pemuda Protestan
– Pemuda Katolik
– Angkatan Muda Guru (AMG)
– KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi)
– Persatuan Pemuda Puteri Indonesia (PPPI)
– Barisan Pelopor. Barisan ini sebenarnya dibentuk sebelum kemerdekaan namun memiliki andil juga dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dipimpin oleh dr. Moewardi, seorang nasionalis radikal dan pendukung Soekarno. Terdapat unsur kecil dalam kelompok ini yang disebut Barisan Pelopor Istimewa (BPI).
– Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), yang dibentuk oleh Bung Tomo tanggal 13 Oktober 1945 yang memisahkan diri dari PRI.
– Angkatan Muda Pos, Telegraf dan Telephon (AMPTT)
– Angkatan Muda Gas dan Listrik
– Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI)
– Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GPRI), dibawah Lagiono
– Dan lainnya.

Kemudian bersama rakyat, gerakan-gerakan tersebut berubah menjadi laskar-laskar untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. Suasana persatuan antara rakyat dan laskar-laskar itu begitu kentalnya, sehingga Ben Anderson menarik kesimpulan, “Badan perjuangan (laskar) itulah yang sesungguhnya merupakan lambang dari rakyat bersenjata”.

Karena keberadaan laskar-laskar tersebut bersifat lokal dan tidak terorganisir, atas dorongan Menteri Keamanan Amir Sjarifuddin, diundanglah sebagian gerakan dan laskar-laskar tersebut pada tanggal 10-11 November 1945 dalam suatu konggres pemuda. Kongres itu dihadiri oleh Presiden Soekarno, Hatta, enam Menteri dan diikuti oleh 28 organisasi kepemudaan yang cukup besar.

Dalam kongres tersebut, pada tanggal 10 November 1945, 7 organisasi, diantaranya API Jakarta, GPRI, AMRI dan PRI Surabaya sepakat melakukan fusi dan membentuk Pesindo. Menurut Anderson, walaupun hanya seperempat yang berfusi menjadi Pesindo anggota-anggotanya adalah yang paling baik dan berpengalaman. Ditunjuk sebagai ketua adalah Krisbanu, ketua II Wikana dan ketua III Ibnu Parna.

Karena memiliki pandangan yang relatif sama, yaitu berafiliasi kepada pandangan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, serta kemampuan politik dari pemimpinnya yang berimbang, Pesindo akhirnya tampil sebagai laskar dan organisasi pemuda yang paling disiplin dan paling dinamis di Republik kala itu. Pesindo menjadi sangat berwibawa karena melakukan peran yang efektif dalam memerangi pasukan-pasukan Inggris. Diklaim selama tahun pertama Republik berdiri, ada sekitar 25.000 pemuda bersenjata yang bergabung dengan Pesindo.

Kemudian pada tanggal 11 November 1945, Pesindo berfederasi dengan 15 organisasi pemuda lainnya membentuk Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dan kemudian terpilihlah Chaerul Saleh sebagai ketua BKPRI. (-di bulan Januari 1946, BKPRI bergabung dengan Persatuan Perjuangan Tan Malaka-)

Beberapa tahun ke depan laskar-laskar ini akan sering menghadapi konflik dengan tentara reguler Republik Indonesia (BKR-TKR-TRI) yang dipicu oleh perebutan dukungan dan simpati rakyat. Karena pemerintah belum mampu membayar gaji atau memberikan perbekalan kepada pasukan bersenjatanya, maka kedua golongan tersebut terpaksa mengandalkan batuan penduduk dalam hal makanan, jasa dan tempat tinggal.

Sumber Bacaan :

(1) Menentang Mitos Tentara Rakyat. Coen Husain Pontoh. Resist Book. 2005.
(2) Politik Militer Indonesia. Ulf Sundhaussen. LP3ES. 1986.
(3) Revoeloesi Pemoeda. Ben Anderson. Pustaka Sinar Harapan. 1988.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Laskar-laskar Rakyat tahun 1945 )

Sumedang in Love, 1947

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Pada tahun 1992 seorang wartawan Belanda yang bernama Joop van den Berg menulis kisah kecil yang berjudul ‘De raden ajoe en haar soldaat’ dalam bukunya yang berjudul ‘De Wayang fox trot’. Kisah tersebut diinspirasikan dari isi tulisan sebuah kartu pos lama yang dijual di pasar loak Hilversum.

Pada kartu pos tersebut tertera gambar seorang gadis penari Jawa hasil lukisan sendiri dan di bawah gambar tertulis kata-kata, ‘Aandenken van Rd.I.K.K. Soeriadiwidjaja, Sumedang, 5-12-‘47’. Di ujung kanan atas dapat dibaca perkataan : Rinus. Pada bagian muka kartu pos tercantum nama penerimanya, yakni ‘De Soldaat Eerste Klas M.J. Wiliams van de Ondersteuningscompagnie II-13-8.1 atau yang lebih dikenal sebgai ‘Tijgerbrigade’ yang terkenal itu.

Sebuah syair dalam bahasa Belanda tertulis dalam kartu pos itu yang kurang lebih artinya :

Aku telah belajar mengenal dirimu
Yang sangat menyenangkan hatiku
Dan sudah mengalaminya
Kau adalah seorang sahabat yang manis

Dari pelacakan sejarah van den Berg, sebelum perang dunia kedua penduduk distrik Sumedang terdiri dari 250 orang Eropa, 900 orang Tionghoa dan beberapa puluh ribu pribumi serta sedikit diantara pribumi itu adalah kaum bangsawan. Niscaya Raden Ayu yang tinggal di jalan Koentjiweng No. 4, Sumedang, itu tergolong kamu menak.

Joop menemukan nama Soeriadiwidjaja dalam sebuah daftar mantan siswa ‘Hoofdenschool en Opleidingschool voor Inlandse Ambtenaren’ (Sekolah Pendidikan Pegawai Pangrehpraja) di Bandung dalam buku peringatan sekolah OSVIA tahun 1929. Pada 19 Juni 1917 Raden Soeriadiwidjaja lulus ujian akhir sekolah tersebut dan sangat mungkin dia ayah gadis penulis kartu pos tadi yang bernama kecil Ietje.

Orang-orang Belanda yang tinggal di Sumedang sebelum 1940 bekerja di kebon teh dan kina. Orang Tionghoa berdagang dan orang pribumi bertani menanam padi. Kaum menak yang merupakan golongan elit yang kecil jumlahnya bekerja di bidang pemerintahan. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Sumedang tidak lepas dari perjuangan untuk Republik Indonesia. Setelah aksi militer pertama Belanda di bulan Juli 1947 sebagian besar wilayah Jawa Barat diduduki Belanda.

Serdadu Willems dari Brigade T (Tijgerbrigade) yang berada di Sumedang mungkin berkenalan dengan Raden Ietje Koesoema Soeriadiwidjaja. Ayah gadis itu mungkin telah “menyebrang” ke pihak NICA. Kendati telah diduduki militer daerah Sumedang tetap tidak aman dan mereka tidak menyukai keberadaan pasukan Belanda di sana. Di pihak Republik, Letnan Kolonel Alex Kawilarang, komandan teritorium Bogor, mengeluarkan pengumuman tanggal 3 Agustus 1947. Di dalamnya rakyat Indonesia dihimbau supaya tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Kawilarang mengumumkan agar semua jawatan resmi meninggalkan daerah yang diduduki Belanda, lalu menggabungkan diri dengan pemerintahan Republik. Mereka yang telah membaca pengumuman ini dan tetap bekerja pada musuh dengan dalih kepentingan rakyat akan dipandang sebagai pengkhianat bangsa dan Negara.

Ietje pasti tahu tentang pengumuman Kawilarang yang disebar secara luas di Jawa Barat tadi. Pertanyaan yang timbul, bagaimanakah Ietje sampai bertemu dengan serdadu Belanda Willems alias Rinus. Apakah Ietje dan Rinus bertemu dan berkenalan di sebuah selamatan ketika berlangsung upacara pembukaan sebuah jembatan baru ? Pertemuan semacam itu seringkali terjadi

Dalam sebuah penerbitan ‘Oud-Wapenbroeders’, terdapat kisah mengenai seorang putri Bupati Jawa yang tinggal di sebuah rumah besar di tepi sungai. Dekat rumah itu ada pusat Perlop X-Brigade. Disana serdadu-serdadu Belanda sehabis melakukan patrol di malam hari biasa mencari rekreasi. Pada suatu hari seorang serdadu Belanda berpapasan jalan dengan putrid bupati. Dia berusaha menemui si gadis di rumahnya. Bupati mengizinkan mereka berkenalan.

Putri itu pandai berbahasa Belanda dan serdadu Belanda terpesona oleh ketinggian budi gadis itu. Mereka suka berjalan-jalan di tepi Sungai Brantas. Belakangan serdadu itu dipindahkan ke Medan. Di sana dia tewas dalam pertempuran dan peristiwa itu dikabarkan kepada putri Bupati. Dua hari kemudian mayat gadis itu ditemukan di Sungai Brantas. Demikian berakhir kisah sedih.

Bagaimana akhirnya kisah Ietje dari Sumedang tidaklah diketahui. Joop van den Berg hanya bisa menulis, barangkali di Jawa Barat berdiam seorang perempuan yang sudah sudah tua, dari kaum menak, yang kadang-kadang ingat akan ‘lieve vriend’ Rinus dari ‘Tijgerbrigade’. Dan siapa tahu di suatu tempat di Limburg hidup seorang veteran Belanda yang telah berumur, yang ketika melihat di layar televisi kursus pelajaran Bahasa Indonesia untuk pemula, lalu teringat akan Ietje Koesoema Soeriadiwidjaja. Atau mungkin pula kedua orang itu telah lama lupa akan romantika sejenak dari masa lampau yang telah sirna.

Sumber Bacaan :

Sejarah Kecil Indonesia. Rosihan Anwar. Penerbit Buku Kompas. Jakarta. Juni 2004.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sumedang in Love, 1947 )

Geger Pecinan 1740 dan Sunan Kuning

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

 

Sekitar tahun 1740an, VOC melakukan politik pengurangan jumlah etnis Cina (Tionghoa) di Batavia karena jumlah etnis Cina melebihi jumlah serdadu VOC. Diperkirakan pada saat itu, jumlah Tionghoa diperkirakan telah mencapai sekitar 15.000 jiwa atau sekitar 17% total penduduk di Batavia.

Kebanyakan kaum Tionghoa pendatang itu tidak dapat memperoleh pekerjaan dan sebagian dari mereka menjadi sumber kerentanan sosial dengan semakin meningkatnya aksi-aksi kejahatan. Akhirnya VOC membuat larangan untuk mencegah etnis Cina untuk memasuki Batavia dan mendeportasi sebagian dari mereka ke luar Pulau Jawa.

Padahal menurut Kahin dalam “Nationalism and Revolution ini Indonesia” pada awalnya Gubernur Jenderal J.P. Coen, Gubernur Jenderal era 1618-1623 dan 1627-1629, menilai kaum Tionghoa dapat bekerjasama dengan baik dengan VOC sehingga J.P. Coen membuka Batavia bagi para imigran Cina. Tetapi rupanya dampak kebijakan J.P. Coen ini terasa bermasalah sekitar 100 tahun kemudian pada masa Gubernur Jenderal Valckenier, yang mulai memerintah pada tahun 1737.

Valcknier mengambil beberapa langkah untuk mengurangi jumlah etnis Cina di Batavia, diantaranya menangkapi orang-orang Cina yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki “permisssie brief” dan kemudian mendeportasi mereka ke Srilangka (Ceylon) dan Tanjung Harapan (Afrika Selatan). Namun sebagian besar etnis Cina menolak untuk dideportasi, karena mereka mendengar isu bahwa mereka akan dibuang ke tengah laut jika dideportasi keluar Batavia.

Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1740, gerombolan-gerombolan orang Tionghoa yang berada di luar kota Batavia melakukan penyerangan dan pembunuhan beberapa orang Eropa. Agar orang-orang Tionghoa di dalam kota tidak bergabung dalam kerusuhan itu, VOC melakukan jam malam dan penggeledahan kepemilikan senjata di rumah-rumah orang Tionghoa. Ternyata penggeledahan atas rumah-rumah Tionghoa tidak terkendali lagi. Tembakan membabi buta dilakukan oleh VOC. Pada 9 Oktober 1740 dimulailah pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Tionghoa di Batavia.

Diperkirakan orang-orang Tionghoa yang terbunuh sebanyak 10.000 orang. Perkampungan Tionghoa dirampok dan dibakar selama delapan hari. Perampokan baru berhenti setelah VOC memberi premi kepada tentaranya untuk menghentikan penjarahan dan kembali kepada tugas rutinnya. Sementara, orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke timur, menyusuri sepanjang daerah pesisir bergabung dengan komunitasnya di Jawa Tengah untuk melakukan perlawanan terhadap VOC lebih lanjut.

Dalam tulisannya De Klerck, ”History of Nederlands Indies”, menggambarkan pembantaian VOC-Belanda terhadap etnis Cina sebagai ”The Batavian Fury” (Amuk Masyarakat Batavia).

Suasana konflik VOC dengan etnis Cina pun dimanfaatkan oleh Kesultanan Mataram untuk menyerang hegemoni VOC di Jawa Tengah. Meskipun awalnya ragu-ragu, Pakubuwono II akhirnya tetap mengirim pasukan berjumlah 20.000 orang dari Kartasura menyerang markas VOC di Semarang dibawah pimpinan Patih Notokusumo. Etnis Cina yang menaruh dendam kepada VOC-Belanda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekitar 3.500 etnis Cina bergabung dengan pasukan Kesultanan Mataram.

Menghadapi serangan Mataram dan etnis Cina tersebut, VOC meminta bantuan Cakraningrat IV dari Madura. Mereka berhasil memukul mundur kepungan Mataram yang dibantu oleh kaum Tionghoa di Markas VOC Semarang. Bahkan Cakraningrat IV berhasil mengalahkan para pejuang Tionghoa di wilayah timur.

Setelah kekalahan itu, Pakubuwono II baru menyadari bahwa pilihannya untuk melawan VOC adalah sebuah tindakan yang keliru. Untuk itu Pakubuwono segera memohon ampun kepada VOC. VOC mengabulkan dan mengirim utusan yang dipimpin Kapten Van Hohendorff ke Kartasura untuk melakukan perundingan. Sementara, Pakubuwono II mengirim juru runding yang dipimpin oleh Patih Notokusumo ke VOC Semarang, namun VOC menangkap Patih itu dan membuang ke luar negeri. Penangkapan dan pembuangan Patih Natakusuma ini atas seizin Pakubuwono II.

Perubahan sikap Pakubuwono II yang berbalik 180 derajat ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan. Para pejuang anti VOC baik dari kalangan Jawa maupun Tionghoa merasa telah dikhianati oleh Raja. Situasi ini memunculkan perlawanan pejuang yang lebih hebat baik kepada VOC maupun Pakubuwono II.

Isu perlawanan pun berubah dari anti VOC menjadi anti Pakubuwono, maka sasaran penyerangannya adalah Keraton Pakubuwono II di Kartasura. Pada tahun awal 1742, para pemberontak itu mengangkat salah seorang pangeran cucu laki-laki dari Amangkurat III yang baru berusia 12 tahun yang bernama Raden Mas Gerendi atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning. Sunan Kuning adalah sebutan sunan yang diangkat oleh komunitas Tionghoa.

(Sebagaimana yang diketahui Amangkurat III dibuang ke Srilangka oleh VOC akibat berselisih dengan Pangeran Puger atau Pakubuwono I)

Pemberontakan ini berhasil merebut Keraton Kartasura pada bulan Juli 1742, dan Pakubuwono II lari ke Ponorogo. Namun demikian, VOC dibawah pimpinan Kapten Wilhem atas perintah Wakil Gubernur Jenderal Gustaaf W. Van Imhoff dan dengan dibantu oleh Pangeran Cakraningrat IV menyerang Kartasura dan berhasil merebut Kartasura bulan Desember 1742.

Cakraningrat IV mendesak VOC agar Pakubuwana II dibuang saja karena dinilai tidak setia. Namun VOC menolak permintaan itu karena Pakubuwana II masih bisa dimanfaatkan. Cakraningrat IV terpaksa mengikuti kemauan VOC karena khawatir VOC batal membantu kemerdekaan Madura. Raden Mas Gerendi sendiri tertangkap beberapa bulan kemudian, yaitu pada bulan Oktober 1743.

Karena istana Kartasura sudah hancur, Pakubuwana II memutuskan untuk membangun istana baru di desa Sala, yang bernama Surakarta. Istana baru ini ditempatinya mulai tahun 1745.

Pustaka :

(1) Api Sejarah. Ahmad Mansur Suryanegara. Salamadani. 2009.
(2) Evolusi Ekonomi Kota Solo (Laporan Penelitian). PEPFE-UNS.
(3) Nusantara. Bernard H.M. Vlekke. Kepustakaan Populer Gramedia. 2008.
(4) Pembantaian Massal 1740. Hembing Wijayakusuma. Yayasan Obor Indonesia. 2005.
(5) Peperangan Kerajaan di Nusantara. Suyono. Grasindo. 2003.
(6) http://id.wikipedia.org/wiki/Pakubuwana_II

Semoga bermanfaat.
budi ari

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Geger Pecinan 1740 dan Sunan Kuning )

Kusni Kasdut, Pejuang yang Terbuang

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , |

Revolusi meruntuhkan sistem nilai lama dan menyusun sistem nilai baru. Sedikit orang merenung dan mempertanyakan segala sesuatu dalam revolusi itu. Kebanyakan bertindak, larut tanpa bentuk di dalamnya dan mencari identitas yang terus terlepas. Kalaupun ada, salah satu pencari itu bernama Kusni Kasdut.

Semasa revolusi, Kusni ditugaskan melakukan hal-hal yang waktu itu dianggap perbuatan kepahlawanan. Akan tetapi selewat revolusi, perbuatan itu dinilai sebagai tindak pidana. Cerita demikian memang bisa didengar di mana pun, setelah revolusi selesai. Memang revolusi merupakan penjungkir-balikan segala nilai.

Kusni Kasdut yang bernama asli Waluyo, adalah seorang anak yatim dari keluarga petani miskin di Blitar. Terlahir dengan kemiskinan yang terus menghantuinya, tanpa revolusi, mustahil dapat beristrikan seorang gadis indo dari keluarga menengah, sekali pun telah diindonesiakan sebagai Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Istri yang ia cintai, ia kagumi, bahkan ia puja itu melahirkan tekad untuk memperbaiki kehidupannya.

Ia mencoba mencari pekerjaan yang sepadan dengan martabatnya yang baru, dan kegagalan demi kegagalan ia dapat. Untuk kesekian kalinya,–berbekal pengalaman semasa revolusi ‘45–ia berusaha masuk anggota TNI, tetapi ditolak. Penolakan ini disebabkan sebelumnya ia tak resmi terdaftar dalam kesatuan. Selain itu, pada kaki kirinya terdapat bekas tembakan yang ia dapat semasa perang fisik melawan Belanda. Akibatnya, cacat secara fisik.

Kegagalan-kegagalan tersebut membentuknya ia seolah diperlakukan tidak adil oleh penguasa waktu itu, seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Hal tersebut menimbulkan obsesi untuk merebut keadilan dengan sepucuk pistol, membenarkan diri memperoleh rejeki yang tak halal. Terlebih lagi membiarkan anak dan istrinya terlantar. Bersama teman senasip dan seperjuangan yang tak ada harapan untuk menyambung hidup, Kusni pun akhirnya merampok.

Demikian kegagalan sosial ekonomi dan keterdamparan psikologi telah mengantar individu memasuki dunia hitam. Kusni tak sendiri. Masih banyak Kusni-kusni lain, seorang di antaranya adalah Bir Ali. Anak Cikini kecil (sekarang belakang Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Bernama lengkap Muhammad Ali dan dijuluki Bir Ali–karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi– menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980. Bir Ali-lah yang membunuh Ali Badjened (seorang Arab kaya raya ketika rumahnya di rampok).

“Ada satu kesamaan antara Kusni Kasdut, Mat Pelor, dan Mat Peci. Mereka dulunya adalah para pejuang ’45, memilih jalan pintas untuk menyambung hidup. Mereka kecewa atas penguasa jaman itu karena kurang diperhatikan masa depannya.”

Pada mulanya, Kusni, dengan segala keramahan Usman, Mulyadi dan Abu Bakar mengundangnya masuk, bahkan memberikan posisi memimpin kepadanya. Kebetulan, ia memang dilahirkan dengan garis (instink) memimpin. Dan seperti buah terlarang, hal itu memang manis dan membuat ketagihan. Seperti seorang morfinis, Kusni tak dapat berhenti. Bahkan jeweran kuping dari seorang yang dikasihi dan dihormatinya, Subagio, tak mempan. Pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi, membuatnya memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan yang sah. Hanya untuk menghindari penangkapan, ia rela membunuh korbannya (itupun bila dianggap terlalu terpaksa).

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusdi bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan dari jeep. Peristiwa ini sangat menggemparkan ketika itu, karena masalah perampokan disertai pembunuhan belum banyak terjadi seperti sekarang ini.

Berselang satu tahun, tepatnya tanggal tgl 31 Mei 1961, Ibukota dibuat geger. Dimana terjadi perampokan di Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah). Bak sebuah film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam ala polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi ini, ia berhasil membawa lari 11 permata koleksi museum tersebut. Kusni Kasdut menjadi buronan terkenal.

Sekian tahun menjadi buronan, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya ia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan dihukum mati atas rangkaian tindak kejahatannya.


Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin. Bahkan sekitar tahun 1979, sebuah media memuat cerita bersambung berjudul “Kusni Kasdut”. Cerita yang mengkisahkan tentang sepak terjang penjahat kakap bernama Kusni Kasdut, yang dalam salah satu aksinya menggegerkan Museum Nasional Jakarta. Juga sempat dijadikan ide untuk lagunya God Bless dengan judul “Selamat Pagi Indonesia” di album Cermin. Lirik lagu ini ditulis oleh Theodore KS, wartawan musik Kompas.

Masa Tahanan
Dalam keterasingannya di penjara, yang jauh dari orang-orang dicintai, Kusni bertobat dan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Ini terjadi ketika dalam penjara, ia berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setianya dan dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.

Rasa cinta terhadap agama yang dianutnya ia coba tuangkan dengan sebuah karya lukisan dari gedebog (pohon pisang). Dalam lukisan tersebut,–yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gereja Katederal Jakarta–tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik.


Seperti yang dituturkan oleh Eduardus Suwito (pengurus Museum Katedral), “sebagai tanda terima kasihnya, Kusni Kasdut memberikan lukisannya itu kepada Gereja Katedral Jakarta. Dan beberapa hari setelah itu, Kusni Kasdut ditembak mati.”

Selain lukisan, Eduardus Suwito juga sempat memperoleh surat dari almarhum Kusni Kasdut. Dalam surat tersebut tertulis keinginannya untuk dapat bertemu dengan keluarganya sebelum eksekusi dijalankan. Surat tersebut juga menuliskan tentang pertobatan Kusni dan pengakuannya akan hal tersebut kepada pihak keluarga.

Sebelum dieksekusi mati, keinginan tersebut terpenuhi. Sembilan jam di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, Kusni dikelilingi oleh keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Itulah jamuan terakhir Kusni dengan capcai, mie dan ayam goreng.

Seperti dikisahkan oleh seorang pendengarnya. Kusni yang memeluk Ninik berkata, “Saya sebenarnya sudah tobat total sejak 1976. Situasilah yang membuat ayah jadi begini. Sebenarnya ayah ingin menghabiskan umur untuk mengabdi kepada Tuhan. Tapi waktu terlalu pendek.” Ninik dan yang lain menangis. “Diamlah,” lanjutnya, “Ninik kan sudah tahu ayah sudah pasrah. Ayah yakin, Tuhan sudah menyediakan tempat bagi ayah. Maafkanlah ayah.”

Begitulah keadaan, dimana Dewi Justitia (Dewi Keadilan) yang menggiurkan itu sekali-sekali perlu minta sesajen. Kusni Kasdut dituntut sebagai sesajen oleh sang dewi, hukuman seumur hidup terlalu ringan bagi seorang napi sekaliber Kusni. Apakah setelah Kusni ditembak, masyarakat menjadi lebih baik dan lebih aman, itu soal lain.

“Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang, dan nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman,” (Sudarto, penasehat hukum Kusni Kasdut)

Memang, Kusni Kasdut bukanlah seorang pembunuh pathologik seperti Eddie Sampak dari Cianjur. Ia tak pernah terperosok ke dalam homoseksulitas seperti Henky Tupanwael. Di relung hatinya yang terdalam masih tersisa seberkas cahaya. Itu bisa dilihat dari usahanya menyelamatkan dua orang plonco dunia kejahatan, Roi dan Yoji, dari kehancuran total. Juga, kelakuannya sebagai napi cukup baik. Ia tak pernah berkelahi dengan sesama napi, dan kalau tak terpaksa tak pernah melawan petugas.

Kusni Kasdut yang sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, juga dikenal sebagai si Kancil. Selain gesit dan banyak akal, kemampuan lain yang pernah miliki adalah ia mampu melarikan diri dari penjara mana pun. Kisahnya ini tercatat sebanyak tujuh kali Kusni meloloskan diri dari penjara. Sementara, Jack Masrene, salah seorang penjahat legendaris Perancis, tercatat berhasil kabur dari penjara sebanyak lima kali. Kusni Kasdut mengakhiri hidupnya di depan regu tembak, Jack Masrene mati diberondong di jalanan ketika hendak menyalakan mobilnya yang tengah parkir.

Begitulah akhir dari riwayat perjalanan Kusni Kasdut, yang pada masa perjuangan, ia seorang pemuda yang simpatik, ramah, juga sangat pendiam. Seorang mantan pejuang revolusi yang baik, betapa pun catatan kejahatannya, almarhum Kusni lebih terhormat ketimbang tuan-tuan quisling yang kini menikmati buah manis. Memang sejarah penuh ironi, dimana revolusi memakan anaknya. Dengan tegar, Ia menjalani hukuman mati di depan regu tembak pada 16 Februari 1980.

Puisi Kusni Kasdut

haru – biru

kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan

kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran

selanjutnya engkau pasti tahu

tahun 1976 ku bertobat

semua yang ada tak selalu terlihat

jarak antar saat begitu dekat

situasilah yang memaksa dan membuat kuberlari

rindukan terang

pada pekat malam kuterjang

serpihan paku, kaca dan kawat berduri

bulan tak peduli, turuti kata hati

hati menderu-deru, belenggu memburu

beradu cepat dengan peluru

kusadari hidupku hanya menunggu

suara 12 senapan dalam satu letupan

satu aba-aba pada satu sasaran

yaitu ajalku….

(Ignatius Waluyo AKA Kusni Kasdut, menuju eksekusi hukuman mati pada 16 Februari 1980).

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Kusni Kasdut, Pejuang yang Terbuang )

Het Wilhelmus di Dadaku (Timnas Hindia Belanda 1938)

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , |

“Den vaderland getrouwe, blijf ik tot in den dood (Loyal to the fatherland, I will remain until I die)” – Het Wilhelmus
—————————————

Pada Piala Dunia 1938 di Perancis, FIFA mengundang Hindia Belanda ‘merepresentasikan’ wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Pada waktu itu wadah sepakbola Hindia Belanda yang diundang oleh FIFA adalah NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) meski pada saat yang sama terdapat pula PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) yang juga merupakan wadah organisasi sepakbola di wilayah Hindia Belanda.

Sebenarnya atas undangan FIFA, NIVU dan PSSI telah membuat kesepakatan “Gentlemens Agreement” antara Masterbroek (NIVU) dan Ir. Soeratin (PSSI) pada tanggal 5 Januari 1937 untuk mengadakan pertandingan antara tim yang dibentuk NIVU dan tim yang dibentuk oleh PSSI, dimana pemenangnyalah yang akan dikirim ke ajang Piala Dunia, namun kemudian NIVU membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut yang menyebabkan PSSI pada kongres di Solo tahun 1938 memutuskan melarang seluruh pemain yang berada di naungan PSSI ikut bergabung di tim NIVU jika diminta. Dengan demikian pemain-pemain PSSI berkelas seperti kiper R. Maladi kehilangan kesempatan bermain di Piala Dunia.

NIVU (sebelum tahun 1936 bernama NIVB-Nederlandsche Indische Voetbal Bond) sendiri mempunyai sejarah yang panjang sepakbola di nusantara. Bermula dari pertandingan antar klub yang berada di Batavia, Bandung, Semarang dan Surabaya pada tahun 1914, maka pada tahun 1919 berdirilah NIVB guna mengelola pertandingan sepakbola menjadi lebih teratur dan profesional di Hindia Belanda. Di tahun 1922, tercatat total pemasukan dari penjualan tiket di bawah naungan NIVB sebesar 12.425,- gulden.

Namun sayang kompetisi yang diadakan oleh NIVU cenderung diskriminatif. Mereka membagi kompetisi sepakbola menjadi 3 bagian. Kelas I khusus orang Eropa, kelas II untuk pemain Tionghoa dan pemain pribumi dimasukan ke kelas III. Hal inilah yang kemudian membangkitkan semangat Nasionalisme Soeratin Sosrosoegondo. Sekembalinya dari Jerman setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Teknik di Heckelenburg, Ir. Soeratin mengumpulkan klub sepakbola pribumi (kelas III) untuk mendirikan satu wadah sepakbola yang lebih nasionalis dan kemudian menghasilkan berdirinya PSSI pada tanggal 19 April 1930 di Solo. Dan semenjak itu dimulailah persaingan antara NIVB/NIVU dengan PSSI dimana puncaknya pada event Piala Dunia 1938 di Perancis.

Di babak penyisihan Asia, Tim Nasional Hindia Belanda bergabung di grup 12 bersama Jepang, tetapi karena sedang di bawah bayang-bayang perang dengan Cina, tim Jepang mengundurkan diri. Dengan demikian Timnas Hindia Belanda melenggang menuju Perancis. Pemilihan Perancis sendiri sebagai tuan rumah piala dunia 1938 mengundang protes dari negara-negara Amerika Selatan, karena sebelumnya FIFA berjanji mengadakan piala dunia 1938 di benua Amerika. Akibatnya tim-tim kuat Latin seperti Uruguay dan Argentina memboikot liga akbar tersebut.

Dengan demikian di tengah-tengah tribulasi politik dan perang, ada 15 tim yang mengikuti putaran final Piala Dunia 1938, yaitu : NAZI (Jerman), Italia, Swedia, Norwegia, Brazil, Kuba, Swiss, Polandia, Rumania, Hongaria, Cekoslowakia, Belanda, Belgia dan terakhir tim ’es tjampur’-kuda hitam Hindia Belanda atau Hindia Timur. Karena ada ’dua’ tim Belanda yang ikut, hal ini sempat mengundang kecurigaan kesebelasan lain meski isu itu hilang dengan sendirinya.

Sistem yang digunakan pada Piala Dunia 1938 adalah sistem ’Knock Out’, dimana tim yang kalah langsung gugur dan pulang. Sistem ini juga merupakan sistem terakhir yang digunakan di Piala Dunia. Pada piala dunia berikutnya digunakan sistem setengah turnamen. Dari hasil pengundian, kesebelasan Hindia Belanda bertemu dengan Hongaria yang pada waktu itu merupakan salah satu tim terkuat di benua Eropa.

Ditangani pelatih Johannes van Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia Belanda berasal dari liga kompetisi yang dikelola oleh NIVU dan mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda yang kemudian direkrut ke dalam tim nasional. Berikut susunan pemain inti kesebelasan Tim Nasional Hindia Belanda :

1. Mo Heng Tan (Penjaga Gawang, HCTNH Malang)
2. Achmad Nawir (Kapten, Penyerang, HBS Soerabaja)
3. Hong Djien Tan (Penyerang, TH Soerabaja)
4. Frans Alfred Meeng (Gelandang, SVB Batavia)
5. Isaak Pattiwael (Penyerang, Jong Ambon)
6. Hans Taihuttu (Penyerang, Jong Ambon)
7. Suvarte Soedarmadji (Penyerang, HBS Soerabaja)
8. Anwar Sutan (Gelandang, Vios Batavia)
9. Henk Sommers (Penyerang, Hercules Batavia)
10. Frans G. Hukon (Belakang, Sparta Batavia)
11. Jack Samuels (Belakang, Excelsior Soerabaja)

Tanggal 18 Maret 1938 dengan menggunakan Kapal MS Johan van Oldenbarnevelt dari Tandjoeng Priok, Batavia, kesebelasan tim nasional Hindia Belanda bertolak ke Belanda. Setelah 3 bulan melakukan perjalanan laut akhirnya mereka tiba di Pelabuhan Rotterdam. Harian Sin Po, yang menyebut timnas Hindia Belanda ini dengan ”Indonesia” melaporkan kegiatan kesebelasan tersebut sebagai berikut :

(1) Edisi 26 Mei 1938 : Petinggi NIVU menemui Menteri Urusan Tanah Jajahan.
(2) Edisi 27 Mei 1938 : Timnas bertanding melawan HBS, skor 2-2.
(3) Edisi 28 Mei 1938 : Dilaporkan kiper Mo Heng Tan cedera. Dikabarkan juga Timnas menonton pertanding salah satu klub raksasa Belanda, Feyenoord.
(4) Edisi 2 Juni 1938 : Timnas menang dalam partai uji coba melawan Klub Harleem dengan skor 5-3.

Pada akhirnya tibalah pertandingan antara timnas Hinda Belanda dengan Hongaria yang berlangsung di kota Reims, sekitar 129 km dari Paris tanggal 5 Juni 1938 pukul 17.00 waktu setempat. Stadion yang digunakan adalah Velodrome Municipal. Pertandingan tersebut dihadiri oleh sekitar 9000 penonton dan wartawan dari 27 negara serta diawali lagu kebangsaan kedua negara, tentu saja lagu kebangsaan timnas Hindia Belanda yang diperdengarkan adalah ”Het Wilhelmus”,

Wilhelmus van Nassaouwe (Wilhemus of Nassau)
Ben ik, van Duitsen bloed (am I, of German blood)
Den vaderland getrouwe (Loyal to the fatherland)
Blijf ik tot in den dood (I will remain until I die)
Een Prinse van Oranje (A Prince of Orange)
Ben ik, vrij, onverveerd (am I, free and fearless)
Den Koning van Hispanje (The King of Spain)
Heb ik altijd geerd (I have always honoured)

Pelatih Johannes van Mastenbroek menerapkan formasi yang cukup ’aneh’ jika diterapkan pada sepakbola modern terhadap timnas Hindia Belanda, yaitu 2-2-6, dimana pemain belakang terdiri dari 2 orang, pemain tengah 2 orang dan menumpuk penyerang hingga 6 orang. Meski memborbardir gawang Hongaria dengan begitu banyak ’striker’ & ’attacking midfielder’, timnas Hinda Belanda gagal memasukan sebuah gol pun dan sebaliknya jala Mo Heng Tan kebobolan 6 kali pada menit ke 13, 15, 28 dan 35 di babak pertama serta tambahan dua gol di babak kedua.

Gol-gol Hongaria dilesakan oleh Vilmos, Toldi, Sarosi dan Zsengeller. Bahkan kemudian Sarosi dan Zsengeller menjadi 3 besar ’top scorer’ di Piala Dunia 1938. Namun demikian sebenarnya bukan hanya Hindia-Belanda yang dibantai oleh Hongaria, tim Swedia pun dilumat 5-0 di semifinal, meski akhirnya mesin diesel Hongaria menyerah 2-4 dari Italia di babak final. Hal ini memang menunjukan bahwa timnas Hindia Belanda tidak terlalu kalah kelas dengan tim-tim Eropa.

Walaupun kalah di pertandingan pertama putaran final Piala Dunia 1938, beberapa media memberikan pujian pada timnas Hindia Belanda. Surat Kabar Perancis ”Le Figaro”, memuji semangat juang kesebelasan Hindia Belanda, ”The Sunday Times” memuji ’fair play’ mereka dan pada edisi 7 Juni 1938, Harian Sin Po menampilkan headline nan heroik, ”Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Saoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”.

Dirangkum dari berbagai sumber.

Semoga Bermanfaat.
pk

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Het Wilhelmus di Dadaku (Timnas Hindia Belanda 1938) )

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh | Tags: , , , , , , |

Kekerasan di Indonesia hanya dapat dialami dan dirasakan (akibatnya). Tetapi tidak untuk diungkap secara tuntas. Berita di koran hanya menyingkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Untuk kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.Peristiwa itu terjadi ketika Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08:00, PM Jepang tersebut berangkat dari Istana tidak dengan mobil, melainkan diantarkan oleh Presiden Soeharto dengan helikopter dari Gedung Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan bahwa suasana Kota Jakarta masih mencekam.

Peristiwa Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Aspri (asisten pribadi) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dll) yang memiliki kekuasaan teramat besar. Ada pula analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro dengan Ali Moertopo. Sebagaimana diketahui, kecenderungan serupa juga tampak di kemudian hari dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini–meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000)–dapat kiranya disebut permainan “jenderal kalajengking” (scorpion general).

Setelah terjadi demonstrasi yang disertai di tempat lain dengan kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, maka Jakarta pun menjadi berasap. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib dan langsung mengambil alih jabatan tersebut. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono didubeskan dan diganti Yoga Sugama.



Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 telah mencoreng keningnya karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan itu menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah. Selanjutnya ia sangat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden”. Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Jadi dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai Wacana

Di dalam buku Otobiografi Soeharto (1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung sama sekali. Padahal mengenai Petrus (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks dari kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak tahun 1973. Yoga Sugomo berada di New York ketika terjadi kerusuhan 15 Januari 1974. Tetapi lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta untuk menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, kegiatan di berbagai kampus baik ceramah maupun demonstrasi yang mematangkan situasi dan akhirnya bermuara kepada penentangan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya adalah diskusi di kampus UI Jakarta (13-16 Agustus 1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul kemudian dengan peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober”. Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi anti modal asing. Kumulasi dari aktivitas itu akhirnya mencapai klimaksnya dengan kedatangan PM Jepang Tanaka pada Januari 1974 yang disertai bukan demonstrasi tetapi juga kerusuhan.

Dalam buku-buku yang ditulis oleh Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru. Bahkan mungkin bisa berjalan sampai hari ini.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi tersebut dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Sementara Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu–antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola–dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992:166).

Sebaliknya dalam “dokumen Ramadi” diungkapkan rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus sehingga akhirnya “ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi dikenal dekat dengan Soedjono Hoemardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu kepada Jenderal Soemitro.

Keterangan yang diberikan Soemitro dan Ali Moertopo berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar: Soemitro atau Ali Moertopo? Kita melihat kerusuhan, pelaku di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa sebetulnya aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan beberapa waktu kemudian meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Seperti yang dikatakan William Frederick (2002) kita hanya bisa sekedar melihat the shadow of an unseen hand (bayangan dari tangan yang tidak kelihatan). Sebagian sejarah Orde Baru–termasuk persitiwa Malari 1974–masih gelap (karena digelapkan).

Sumber: Asvi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 780,369 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: