Membangun Peradaban dari sampah

Posted on 14/02/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Kedatangan orang-orang Yahudi di Tanah Amerika konon sama persis seperti kedatangan orang-orang Yahudi Diaspora di Tanah Palestina, yakni lewat jalan kekerasan. Untuk bisa hidup dan menguasai Tanah Amerika, orang-orang Yahudi ini mengusir, membantai, dan meneror penduduk asli benua baru ini, kaum Indian, sehingga terusir ke daerah pedalaman. Kedatangan Colombus yang banyak membawa orang-orang Yahudi Italia dan Spanyol, bisa dianggap sebagai awal penjajahan kaum terkutuk ini atas Tanah Amerika. Sejak itu, secara bergelombang mereka memenuhi daratan baru ini. Penduduk asli kian terpinggirkan. Yang selamat dari pemusnahan, hidup di gunung-gunung dan belantara luas.

Jika saja sejarah benar-benar sebuah paparan yang jujur tentang masa lampau, maka saat ini kita akan menyebut ekspedisi Columbus sebagai ekspedisi perampok, aggressor, dan pembunuh. Demikian pula para imigran Eropa yang datang dan mendirikan koloni di Amerika. Sejarah tidak pernah mencatat, seberapa banyak orang-orang Indian yang menemui ajal dibunuh oleh orang-orang Eropa yang mendarat di sana. Namun sejarah ternyata tidak sejujur itu.
Louis Torres adalah salah seorang Yahudi yang ikut dalam rombongan Colombus ke Amerika. Dia kemudian memilih menetap di Kuba dan membangun perkebunan tembakau di sana. Dari Kuba, Torres mengekspor tembakau Eropa dan mancanegara, hingga sekarang dia dikenal sebagai ‘Bapak Tembakau Dunia’. Selain Kuba, Brazil juga menjadi primadona bagi kaum Yahudi Eropa.

Nieuw Amsterdam

Saat meletus peperangan antara Brazil dengan Belanda, kaum Yahudi Eropa yang telah menetap di Brazil merasa tidak aman dan memilih untuk mengungsi ke sebuah koloni Belanda di Amerika Utara yang dinamakan Nieuw Amsterdam. Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant yang berkuasa di wilayah ini mencium gelagat tidak baik dari kedatangan orang-orang Yahudi tersebut dan berupaya untuk meminimalisir jumlah mereka di koloninya.

Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant 

Namun akibat campur tangan kaum pemodal Yahudi yang mengetahui Belanda tengah memerlukan uang dalam jumlah banyak untuk membiayai perang dan mengamankan wilayahnya, Stuyvessant akhirnya mengalah dan membolehkan orang orang Yahudi tinggal di Nieuw Amsterdam.
Walau begitu, Stuyvessant tetap berupaya secara diam-diam meminimalisir peran orang Yahudi di wilayahnya dengan mengundangkan sejumlah peraturan, antara lain orang-orang Yahudi tidak boleh menjadi ambtenaar (pegawai pemerintah) dan juga dilarang berdagang komoditas tertentu. Sejumlah pembatasan ini membuat orang-orang Yahudi
mencari celah agar bisa tetap eksis dan menghasilkan uang.
Saat itu, wilayah koloni Belanda di Amerika Utara juga dipenuhi oleh para imigran Eropa non Yahudi. Mereka kebanyakan miskin, pekerja keras, dan berpakaian lusuh serta robek di sana-sini. Kenyataan tersebut menimbulkan ide pada sebagian orang Yahudi untuk membuat pakaian yang murah meriah namun kuat, tahan banting, dan tahan lama. Dari sinilah lahir pakaian dari bahan terpal, bahan layar kapal, yang sekarang ini dikenal dunia sebagai jeans atau blue jeans, dengan pesohornya seorang Yahudi bernama Levi Strauss.

Levi Strauss

Selain membuat jeans, para pedagang Yahudi juga menjual pakaian bekas. Sesuatu yang tidak dikenal dunia sebelumnya. Dan usaha ini ternyata laku keras. “Orang-orang Yahudi adalah pedagang pertama di dunia yang memperdagangkan apa saja dari barang barang bekas, mereka adalah kaum pemulung pertama di dunia,” tulis ZA. Maulani
dalam sebuah bukunya.

New York, Dari New Jerusalem
Jadilah Nieuw Amsterdam sebagai pusat dari perdagangan pakaian bekas yang dilakukan para saudagar Yahudi. Kian lama kian banyak orang Yahudi menghuni daerah di pinggir lautan ini. Jika orang-orang Belanda menyebut wilayah koloninya tersebut dengan nama Nieuw Amsterdam untuk mengobati kerinduan mereka akan kampung halaman di seberang samudera bernama Amsterdam, maka orang-orang Yahudi menamakan kota tersebut sebagai The New Jerusalem atau Yerusalem Baru. Nama Nieuw Amsterdam kemudian diubah oleh Inggris yang merebutnya dari Belanda dengan sebutan New York.

 


Sampai kini, kota pelabuhan ini menjadi pusat komunitas Yahudi terbesar dan terpadat di seluruh Amerika. Bahkan konon, lebih dari setengah perputaran uang dunia sekarang ini sesungguhnya dikendalikan dari New York.
Jumlah orang-orang Yahudi di Amerika dari tahun ke tahun semakin banyak. Ketika masa Revolusi Amerika melawan Inggris, jumlah mereka ditaksir sekitar empat ribu jiwa. Tak sampai setengah abad kemudian, jumlahnya membengkak berlipat-lipat menjadi 3,3 juta jiwa, mayoritas kaum Yahudi Sephardim dari Spanyol dan Porto. Sekarang,
Amerika Serikat identik dengan kekuatan Yahudi Internasional. (Lw)

 

dari berbagai sumber

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 620,116 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: