Archive for February 14th, 2012

Ramalan Benjamin Franklin

Posted on 14/02/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Benjamin Franklin merupakan salah seorang penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (4 Juli 1776). Dalam sejarah Amerika, nama Benjamin Franklin menempati tempat yang harum sebagaimana nama George Washington dan penandatangan Deklarasi Kemerdekaan AS lainnya. Benjamin Franklin merupakan salah seorang The Founding Fathers Amerika Serikat, seorang freemason, dan juga penghubung antara gerakan kemerdekaan Amerika Serikat dengan pemodal Yahudi ternama Eropa, Sir Mayer Amschell Rotschild.
Benjamin Franklin lahir di Milk Street, Boston, pada tanggal 17 Januari 1706 dari ayahnya yaitu Josiah Franklin yang menikah dua kali. Benjamin adalah anak bungsu dari 17 bersaudara, dari dua pernikahan ayahnya tersebut. Benjamin sudah tidak bersekolah di usia sepuluh tahun. Dua tahun kemudian dia magang di penerbitan milik James, kakaknya sendiri, yang menerbitkan surat kabar New England Courant. Di tempatnya bekerja, Benjamin menjadi kontributor dan kemudian editor. Suatu hari Ben bertengkar dengan James, akhirnya Benjamin kabur ke New York, lalu ke Philadelphia pada Oktober 1723.
Benjamin Franklin merupakan tokoh Amerika Serikat yang banyak meninggakan karya di dalam hidupnya. Franklin adalah orang dengan banyak jenis pekerjaan dan keahlian, dia seorang jurnalis, penerbit, pengarang, filantrofis, abolisionis, birokrat, negosiator, ilmuwan, diplomat, dan penemu sekaligus!

Kontak Rothschild

Ketika Amerika Serikat masih menjadi daerah jajahan Inggris dengan dibagi-bagi menjadi 13 wilayah koloni, Franklin menemui sejumlah pemodal Yahudi berpengaruh di London. Robert L. Owen, mantan Kepala Komisi Bank dan Keuangan Kongres AS, mencatat dalam Dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33, yang melaporkan tentang pertemuan antara Benjamin Franklin dengan wakil-wakil perusahaan Rothschild di London.
Di dalam pertemuan tersebut, orang-orang Rothschild bertanya kepada Franklin hal-hal apa yang bisa dibantu untuk membuat perekonomian koloni Amerika bisa maju. Franklin menjawab, “Masalah itu tidak sulit. Kita akan mencetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki.” Jawaban Franklin sangat melegakan Rothschild. Daya penciuman bisnisnya yang tajam membuat konglomerat Yahudi itu melihat keuntungan yang sangat besar di koloni Inggris itu. Namun Inggris masih melarang mencetak uang sendiri di daerah koloninya tersebut hingga beberapa tahun kemudian baru Dollar dicetak.
Benjamin Franklin merupakan tokoh Freemasonry London, yang menjalin kontak sangat dekat dengan Rothschild, otak dari pihak Konspirasi Yahudi Internasional. Namun lama kelamaan, setelah melihat dengan mata kepala sendiri berbagai perkembangan yang tidak menguntungkan Amerika Serikat, sebuah negara yang ikut dibidaninya, terutama terkait perkembangan kaum Yahudinya serta penguasaan kaum ini atas sendi sendi perekonomian, maka Franklin sadar bahwa selama ini dia telah berbuat salah.
Kaum Yahudi yang dulu begitu dekat dengannya ternyata tidak ubahnya lintah darah yang mampu mengisap dengan amat rakus dan buas, segala sumber daya alam dan manusia Amerika Serikat. Franklin pun berlepas diri dari gerakan Freemasonry dan berusaha dengan gigih, tak kenal takut, untuk memperingatkan rakyat Amerika Serikat tentang bahayanya orang-orang Yahudi di Amerika.
Salah satu upaya Benjamin Franklin yang fenomenal dan dicatat dalam sejarah Amerika sendiri adalah surat ramalannya tentang Yahudi di Amerika.

Inilah surat peringatan dari Benjamin Franklin:


Di sana ada bahaya yang amat menakutkan yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah kejujuran dalam dunia komersial. Mereka hidup mengisolasi diri, dan berusaha mencekik leher keuangan penduduk pribumi, seperti yang terjadi di Portugal dan Spanyol. Sejak lebih 1700 tahun, orang Yahudi mengeluhkan nasib yang mereka alami, karena mereka telah diusir dari bumi kelahiran nenek moyang mereka. Perlu diketahui wahai saudara sekalian, seandainya dunia berbudaya sekarang memberi mereka tanah Palestina, mereka akan segera mencari alasan untuk tidak kembali ke sana. Mengapa? Mereka tidak lain adalah Vampir pengisap darah. Dan seekor vampir tidak akan bisa hidup dengan vampir lainnya. Orang Yahudi tidak bisa hidup bersama mereka sendiri. Mereka harus hidup bersama orang Kristen atau bangsa-bangsa yang bukan golongan mereka.
Jika bangsa Yahudi tidak disingkirkan dari Amerika dengan kekuatan Undang-Undang, maka dalam masa 100 tahun mendatang mereka akan menguasai dan menghancurkan kita dengan mengganti bentuk pemerintahan yang telah kita perjuangkan dengan darah, harta, nyawa, dan kemerdekaan pribadi kita. Seandainya bangsa Yahudi itu tidak diusir dari Amerika, maka dalam waktu 200 tahun mendatang anak cucu kita nanti akan bekerja di ladang-ladang untuk memberi makan orang-orang Yahudi itu. Sementara itu, Yahudi akan menghitung-hitung uang dengan tangan mereka di berbagai perusahaan keuangan.
Aku ingatkan Anda sekalian. Kalau Anda tidak menyingkirkan Yahudi dari Amerika untuk selamanya, maka anak cucu dan cicit kalian akan memanggil-manggil nama kalian dari atas liang kubur kalian kelak. Pikiran yang ada di benak orang Yahudi tidak sama seperti yang pada orang Amerika. Meski pun mereka hidup bersama kita selama beberapa generasi, mereka tidak akan berubah sebagaimana tutul tidak bisa mengubah warna tutul kulitnya. Mereka akan menghapus institusi kita. Oleh karena itu, mereka harus disingkirkan dengan kekuatan konstitusi.”

Surat ini ditulis oleh Benjamin Franklin berkenaan dengan Rencana Undang-Undang tahun 1789 dan dimuat dalam Charles Pinsky Journal, South Carolina. Teks aslinya sampai sekarang masih bisa dilihat di Franklin Institute Philadelphia, AS.(Fz)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ramalan Benjamin Franklin )

Membangun Peradaban dari sampah

Posted on 14/02/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Kedatangan orang-orang Yahudi di Tanah Amerika konon sama persis seperti kedatangan orang-orang Yahudi Diaspora di Tanah Palestina, yakni lewat jalan kekerasan. Untuk bisa hidup dan menguasai Tanah Amerika, orang-orang Yahudi ini mengusir, membantai, dan meneror penduduk asli benua baru ini, kaum Indian, sehingga terusir ke daerah pedalaman. Kedatangan Colombus yang banyak membawa orang-orang Yahudi Italia dan Spanyol, bisa dianggap sebagai awal penjajahan kaum terkutuk ini atas Tanah Amerika. Sejak itu, secara bergelombang mereka memenuhi daratan baru ini. Penduduk asli kian terpinggirkan. Yang selamat dari pemusnahan, hidup di gunung-gunung dan belantara luas.

Jika saja sejarah benar-benar sebuah paparan yang jujur tentang masa lampau, maka saat ini kita akan menyebut ekspedisi Columbus sebagai ekspedisi perampok, aggressor, dan pembunuh. Demikian pula para imigran Eropa yang datang dan mendirikan koloni di Amerika. Sejarah tidak pernah mencatat, seberapa banyak orang-orang Indian yang menemui ajal dibunuh oleh orang-orang Eropa yang mendarat di sana. Namun sejarah ternyata tidak sejujur itu.
Louis Torres adalah salah seorang Yahudi yang ikut dalam rombongan Colombus ke Amerika. Dia kemudian memilih menetap di Kuba dan membangun perkebunan tembakau di sana. Dari Kuba, Torres mengekspor tembakau Eropa dan mancanegara, hingga sekarang dia dikenal sebagai ‘Bapak Tembakau Dunia’. Selain Kuba, Brazil juga menjadi primadona bagi kaum Yahudi Eropa.

Nieuw Amsterdam

Saat meletus peperangan antara Brazil dengan Belanda, kaum Yahudi Eropa yang telah menetap di Brazil merasa tidak aman dan memilih untuk mengungsi ke sebuah koloni Belanda di Amerika Utara yang dinamakan Nieuw Amsterdam. Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant yang berkuasa di wilayah ini mencium gelagat tidak baik dari kedatangan orang-orang Yahudi tersebut dan berupaya untuk meminimalisir jumlah mereka di koloninya.

Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant 

Namun akibat campur tangan kaum pemodal Yahudi yang mengetahui Belanda tengah memerlukan uang dalam jumlah banyak untuk membiayai perang dan mengamankan wilayahnya, Stuyvessant akhirnya mengalah dan membolehkan orang orang Yahudi tinggal di Nieuw Amsterdam.
Walau begitu, Stuyvessant tetap berupaya secara diam-diam meminimalisir peran orang Yahudi di wilayahnya dengan mengundangkan sejumlah peraturan, antara lain orang-orang Yahudi tidak boleh menjadi ambtenaar (pegawai pemerintah) dan juga dilarang berdagang komoditas tertentu. Sejumlah pembatasan ini membuat orang-orang Yahudi
mencari celah agar bisa tetap eksis dan menghasilkan uang.
Saat itu, wilayah koloni Belanda di Amerika Utara juga dipenuhi oleh para imigran Eropa non Yahudi. Mereka kebanyakan miskin, pekerja keras, dan berpakaian lusuh serta robek di sana-sini. Kenyataan tersebut menimbulkan ide pada sebagian orang Yahudi untuk membuat pakaian yang murah meriah namun kuat, tahan banting, dan tahan lama. Dari sinilah lahir pakaian dari bahan terpal, bahan layar kapal, yang sekarang ini dikenal dunia sebagai jeans atau blue jeans, dengan pesohornya seorang Yahudi bernama Levi Strauss.

Levi Strauss

Selain membuat jeans, para pedagang Yahudi juga menjual pakaian bekas. Sesuatu yang tidak dikenal dunia sebelumnya. Dan usaha ini ternyata laku keras. “Orang-orang Yahudi adalah pedagang pertama di dunia yang memperdagangkan apa saja dari barang barang bekas, mereka adalah kaum pemulung pertama di dunia,” tulis ZA. Maulani
dalam sebuah bukunya.

New York, Dari New Jerusalem
Jadilah Nieuw Amsterdam sebagai pusat dari perdagangan pakaian bekas yang dilakukan para saudagar Yahudi. Kian lama kian banyak orang Yahudi menghuni daerah di pinggir lautan ini. Jika orang-orang Belanda menyebut wilayah koloninya tersebut dengan nama Nieuw Amsterdam untuk mengobati kerinduan mereka akan kampung halaman di seberang samudera bernama Amsterdam, maka orang-orang Yahudi menamakan kota tersebut sebagai The New Jerusalem atau Yerusalem Baru. Nama Nieuw Amsterdam kemudian diubah oleh Inggris yang merebutnya dari Belanda dengan sebutan New York.

 


Sampai kini, kota pelabuhan ini menjadi pusat komunitas Yahudi terbesar dan terpadat di seluruh Amerika. Bahkan konon, lebih dari setengah perputaran uang dunia sekarang ini sesungguhnya dikendalikan dari New York.
Jumlah orang-orang Yahudi di Amerika dari tahun ke tahun semakin banyak. Ketika masa Revolusi Amerika melawan Inggris, jumlah mereka ditaksir sekitar empat ribu jiwa. Tak sampai setengah abad kemudian, jumlahnya membengkak berlipat-lipat menjadi 3,3 juta jiwa, mayoritas kaum Yahudi Sephardim dari Spanyol dan Porto. Sekarang,
Amerika Serikat identik dengan kekuatan Yahudi Internasional. (Lw)

 

dari berbagai sumber

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Membangun Peradaban dari sampah )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 941,869 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: