Yerusalem 1099-1187

Posted on 11/02/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Tahukah Anda bahwa konspirasi pertama tidak terjadi di bumi, melainkan di Surga atau Eden? Kelahiran konspirasi pertama ini juga merupakan belasan tahun sebelum Gereja menggelar Konsili di Clermont, Tenggara Perancis, tahun 1095, di tapal batas hutan Ardennes, suatu wilayah perbatasan Belgia dengan Perancis, kesunyian yang ada tiba-tiba dipecahkan derap kaki puluhan pasang kaki kuda yang berlari cepat. Burung-burung beterbangan dari pucuk pucuk pohon cemara yang menjulang tinggi. Kelinci dan rusa menyingkir cepat-cepat dari jalur kuda-kuda yang ditunggangi oleh para ksatria Eropa tak bernama tersebut.
Ketika tiba di tanah yang dikuasai Mathilda de Tuscany, pasukan tersebut diterima dengan hangat oleh bangsawan Perancis itu. Mathilda bahkan telah menyiapkan tempat tinggal sementara bagi mereka. Selama bertahun-tahun, pasukan itu tinggal di kediaman Mathilda. Tidak ada catatan sejarah tentang apa yang dilakukan mereka di tanah Perancis itu. Lynn Picknett dan Olivia Prince, penulis “The Templar Revelation” menyebut pasukan misterius tersebut sebagai ‘Ksatria dari Calabria’.
Tiba-tiba pada suatu hari, demikian Picknett dan Prince, pasukan tersebut meninggalkan kediaman Mathilda de Tuscani dan menghilang entah kemana. Mereka meninggalkan seorang anggotanya bernama Peter The Hermit (Peter Sang Pertapa). Sejarah kekristenan mencatat bahwa Peter merupakan salah seorang kepercayaan sekaligus penasihat bagi Paus Urbanus II. Tokoh ini dianggap sebagai ‘provokator’ Perang Salib.


Dalam perjalanannya mengelilingi Eropa, Peter The Hermit didalam khotbah-khotbahnya mengobarkan semangat salib untuk merebut Yerusalem, dengan melontarkan fitnahan keji bahwa di Yerusalem, umat Islam menindas orang-orang Kristen, gereja-gereja dirusak dan dibakar, perempuan-perempuan Kristen diperkosa, anak-anak Kristen dipaksa masuk Islam. Ini tentu saja bohong. Namun hal ini disambut dengan gegap-gempita oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa saat itu. Dari para raja dan bangsawan, hingga para kriminal Eropa.

Ilustrasi Peter The Hermit menunjukan jalan ke Yerusalem

Peter The Hermit yang menjadi guru religius bagi Godfroy de Bouillon, seorang bangsawan Perancis yang masih kerabat dekat Mathilda de Tuscany, berhasil pula memprovokasi Paus Urbanus II sehingga dia menyelenggarakan Konsili Clermont dan kepada seluruh Eropa, Sang Paus berkata, “Himpun seluruh kekuatan Salib yang ada sekarang juga! Kita akan bebaskan Yerusalem!”
Dalam tempo tidak terlalu lama, provokasi Peter The Hermit yang diyakini banyak peneliti kelompok okultisme sebagai salah seorang anggota Kabbalah, mendapat sambutan nyata. Di berbagai daratan Eropa telah berkumpul ratusan ribu pasukan salib yang siap berangkat ke Yerusalem. Selain terdiri dari para ksatria dan tentara profesional, pasukan salib ini juga banyak merekrut para penjahat dan kriminal yang tadinya meringkuk di dalam banyak penjara Eropa. Kepada mereka, Paus berjanji bahwa jika para kriminal ini ikut dalam ‘barisan suci’ maka seluruh dosa-dosanya akan diampuni.

Peter The Hermit sendiri memimpin satu pasukan besar yang memilih melewati rute darat dari Perancis selatan lewat Konstantinopel, lalu ke selatan menuju Yerusalem. Pasukan Peter ini terdiri dari banyak para penjahat sehingga ketika mereka melewati Gereja Kristen Timur Haggia Sophia, mereka merampok gereja ini dan melucuti seluruh ornamen yang terbuat dari emas.

Godfroy de Bouillon juga menjadi panglima pasukan salib. Bahkan Godfroy memimpin pasukan salib terbesar dan menjadi pasukan salib pertama yang sampai di depan gerbang kota Yerusalem pada tahun 1099.
Sejarawan Carrole Hillenbrand, penulis “The Crusade” yang mendapat penghargaan  King Faisal Award menyatakan bahwa setahun sebelum pasukan salib menggedor gerbang Yerusalem, pasukan Syiah Dinasti Fathimiyah telah menyerang Yerusalem dan merebut kota suci itu dari tangan kekuasaan Dinasti Sunni Abasiyah. Hillebrand menduga kuat ksatria salib dengan ksatria Syiah Fathimiyah telah melakukan kerjasama untuk menghancurkan Dinasti Abbasiyah di Yerusalem, walau kerjasama itu hanya diketahui sedikit tokoh elit keduanya.

Perang yang terjadi antara pasukan salib melawan pasukan Syiah Fathimiyah di Yerusalem tahun 1099, yang berakhir dengan jatuhnya kota suci itu ke tangan pasukan salib, oleh Hillenbrand dianggap sebagai korban yang sia-sia karena sesunguhnya di tingkat atas telah terjadi kesepakatan rahasia. Padahal korban yang jatuh di kedua belah pihak sangat banyak sehingga genangan darah di kota tersebut mencapai lutut seekor kuda.
Hipotesa Hillenbrand ini menemui benang merahnya di kemudian hari, tatkala Ksatria Templar yang telah berkuasa di Yerusalem, menjalin kerjasama dengan kaum  Hashyasyin, kelompok khusus militer haus darah dari Dinasti Syiah Fathimiyah, dalam banyak hal terutama permusuhannya kepada Shalahudin al- Ayyubi yang menjadi panglima pasukan Islam.

Godfroy de Bouillon

Tepat di hari jatuhnya Yerusalem, Godfroy mendirikan Ordo Sion yang berkiblat pada Kabbalah namun membungkusnya dengan kekristenan. Duapuluh tahun kemudian, Ordo Sion ini membentuk satu ordo khusus militer bernama Ksatria Templar yang memiliki misi utama mencari harta karun Nabi Sulaiman yang mereka yakini tersembunyi di bawah pondasi Masjidil Aqsha.

Knight dan Lomas (penulis “The Hiram Key”s) yang menelusuri sisa-sisa markas Templar di Yerusalem menemukan bukti jika Templar inilah yang pertama kali melakukan penggalian di bawah komplek Masjidil Aqsha, yang sekarang ini dilanjutkan oleh kaum Zionis-Israel.

 
Guy de Lusignan dan Shalahudin Al-Ayyubi

King Baldwin IV

Saat King Baldwin IV menjadi Raja Yerusalem, Shalahudin dan Raja Yerusalem ini memiliki hubungan yang relatif baik. Bahkan Shalahudin pernah menawari seorang tabib Muslim untuk mengobati penyakit lepra parah yang diderita King Baldwin IV. Setelah raja ini mangkat, tahtanya jatuh ke tangan Guy de Lusignan, seorang tokoh Templar Perancis, yang memperisteri adik perempuan King Baldwin IV.

Guy de Lusignan

Saat Guy berkuasa inilah, Tempar mendapat angin dan terus-menerus memprovokasi Shalahudin. Reynald de
Cathillom, karib Guy yang juga seorang Templar yang memimpin Kuil Kerak di utara Yerusalem, sangat membenci Islam.
Selain gemar menghujat Rasulullah, Reynald juga pernah menghimpun armada lautnya untuk menyerang Kabah di
Mekkah. Namun gagal. Shalahudin yang mendengar hal ini berdoa kepada Allah: “Ya Allah, panjangkan usiaku sehingga aku bisa membunuh musuh-Mu yang bernama Reynald de Cathillon dengan tanganku sendiri.” Doa ini di kemudian hari diijabah Allah SWT.

Reynald de Cathillon

Suatu hari, sebuah kabilah Arab yang tengah melintas diserang Reynald dan pasukannya. Semua dihabisi kecuali  dicampakkan jilbabnya oleh pasukan Reynald. Perempuan itu yang merupakan adik dari Shalahudin ditawan oleh Guy.

Shalahudin mengirim dua utusan untuk meminta Guy agar membebaskan adiknya itu. Namun oleh Guy, seorang utusan
Shalahudin ditebas lehernya. Kepada utusan yang masih hidup, Guy berkata, “Bawa kepala temanmu itu ke Shalahudin! Katakan bahwa kami tidak sedikit pun takut terhadapnya!” Ini berarti perang.
Shalahudin segera menghimpun kekuatan di Damaskus untuk menyerang pasukan salib yang menguasai Yerusalem dan membebaskan seluruh tanah Palestina dari kaum kafir. Guy pun demikian. Bersama Grandmaster Templar Richard de Ridefort dan tokoh Templar lainnya, Guy bersiap menghadapi serangan Shalahudin. Mereka tidak ingin menyambut di dalam kota, tetapi menyongsong keluar ke darah Hittin.

 Battle of Hattin, 1187


Singkat cerita terjadilah pertempuran Hittin yang dahsyat. Setelah berhari-hari bertempur, pasukan Salib kalah. Guy dan Reynald ditawan di dalam tenda khusus. Shalahudin menghampiri Guy yang ketakutan. Shalahudin lalu menawarkan Guy segelas air dari cawannya sendiri. Guy yang kehausan meminumnya. Dalam tradisi perang kala itu, jika pimpinan pasukan musuh menawari air minum dari cawannya sendiri maka itu berarti pengampunan.
Belum habis air di cawan, Reynald memberi tanda agar Guy membagi air itu. Ketika tangan Reynald telah terangkat untuk mengambil cawan, secepat kilat Shalahudin mencabut pedangnya dan dengan sekali ayun menebas kepala Reynald
hingga jatuh menggelinding ke bawah tenda. Guy terpekik ketakutan. Dengan penuh wibawa, Shalahudin berkata
kepada Guy, “Jangan takut, tidak ada dalam tradisi perang seorang panglima membunuh panglima lainnya.”
Yerusalem berhasil dibebaskan pasukan Islam pada tahun 1187. Templar terusir dan kembali ke Perancis
Selatan. Di wilayah ini Templar membangun kerajaannya. Hingga sekarang, wilayah Perancis Selatan dipenuhi dengan aroma mistis Kabbalah.(fz)

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 619,511 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: