Dua ibu yang Memperebutkan Satu Anak

Posted on 24/01/2012. Filed under: Hikmah, Ibu dan Puisi, Kisah Islami | Tags: , |

 

Dalam Buku Al-Irsyad disebutkan:

“Pada zaman Umar bin Khatthab, ada dua wanita berselisih memperebutkan seorang anak. Kedua wanita itu mengaku seorang ibu atas seorang bayi. Keduanya mengklaim tanpa memiliki bukti dan saksi. Umar bin Khatthab kebingungan untuk memberikan keputusan siapa sebenarnya ibu dari bayi ini. Akhirnya ia terpikir Imam Ali bin Abi Thalib dan membawa perkara ini ke hadapannya untuk dicarikan solusinya.

 

Imam Ali as pada mulanya menasihati keduanya, namun nasihat itu tidak mempan. Keduanya tetap pada pendiriannya. Karena perselisihan keduanya tidak kunjung selesai, Imam Ali as meminta untuk diambilkan gergaji. Melihat itu, kedua wanita ini bingung dan bertanya, “Apa yang ingin engkau perbuat?”

Imam Ali as menjawab, “Aku ingin membelah anak ini menjadi dua bagian. Satu untukmu dan satu lagi untuk engkau.”

Ketika mendengar keputusan apa yang akan dilakukan oleh Imam Ali as, salah satu dari wanita itu terdiam lalu berkata. “Jangan! Jangan! Kalau itu keputusanmu, aku memberikan bagianku kepada ibu itu, biarlah dia menjadi ibu dari anak ini.”

Imam Ali as lantas mengucapkan takbir “Allah Akbar”. “Bayi ini adalah anakmu dan bukan dia. Bila bayi ini milik dia, tentu dia tidak tega dengan keputusanku dan akan menolak pembagian anak ini dengan cara dibelah dua,” tambah Imam Ali as.

Wanita yang satunya kemudian mengaku di hadapan Imam Ali as bahwa memang benar ibu anak itu bukan aku tapi yang satunya.

Setelah selesai masalahnya, ibu yang berhak atas anak itu kemudian mendoakan Imam Ali as.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh as-Sarwa dan berkata, “Ini adalah hukum yang pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman as di masa kecilnya.”

Sementara itu, dalam buku al-Adzkiya’ diriwayatkan:

“Ada seorang lelaki membeli budak dari orang lain. Setelah dibeli, ia mengklaim bahwa budak ini tolol dan ingin mengembalikannya. Si penjual tidak terima dengan keinginan lelaki yang membeli itu. Mereka kemudian mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Ayas bertanya kepada budak wanita itu, “Sebelah mana dari kakimu yang panjang sebelah?”

Budak wanita itu menunjukkan sambil menjawab, “Ini.”

Ayas bertanya, “Apakah engkau masih ingat malam ketika engkau dilahirkan oleh ibumu?”

Budak wanita menjawab, “Iya, saya masih ingat.”

Ayas langsung berujar, “Kembalikan budak ini! kembalikan budak ini!”

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Seorang pria menitipkan hartanya kepada temannya. Setelah lewat beberapa waktu, ia ingin meminta kembali barangnya, akan tetapi teman yang dititipi itu tidak mengaku bahwa ia pernah dititipi barang. Mereka kemudian berselisih dan akhirnya sepakat mengadukan masalah ini ke hakim Ayas. Kata pria tersebut, “Aku menitipkan hartaku kepadanya.”

Ayas bertanya, “Siapa yang menjadi saksimu?”

Pria tersebut menjawab, “Aku menitipkan barangku di tempat ini pada waktu ini, tapi tidak ada orang yang menyaksikan.”

Ayas bertanya, “Ketika engkau menitipkan barangmu kepadanya, di tempat tersebut ada apa?”

Pria tersebut menjawab, “Ada sebuah pohon.”

Ayas berkata kepadanya, “Sekarang, pergilah engkau ke pohon itu. Semoga engkau teringat akan sesuatu. Mungkin saja hartamu engkau pendam di bawah pohon itu dan kemudian engkau lupa. Semoga dengan melihat kembali pohon itu, engkau menjadi teringat kembali di mana pernah meletakkan hartamu.”

Ketika pria itu berlalu, Ayas berkata kepada teman pria itu, “Duduk dan tenangkan dirimu!”

Ayas kemudian melanjutkan kerjanya sebagai hakim dan menyelesaikan masalah-masalah yang diadukan kepadanya. Teman pria itu duduk dan melihat aktivitas Ayas selama sejam lebih.

Ayas kemudian bertanya kepadanya, “Wahai teman pria itu, menurutmu apakah temanmu sekarang telah sampai di pohon yang disebutkannya?”

Teman pria itu menjawab, “Belum.”

Ayas kemudian berkata, “Wahai musuh Allah dan pengkhianat! Engkau ingin membohongiku tapi Allah menyingkap kebohonganmu.”

Ayas kemudian memerintahkan untuk menangkapnya sehingga pria itu datang. Ayas berkata pada pria pemilik harta itu, “Temanmu telah mengaku. Ambil kembali hartamu darinya!”

Sumber: Allamah Muhammad Taqi at-Tustari, Qadhau Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Qom, 1408 HQ, cetakan ke-2. (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)

Advertisements
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 701,664 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: