Bung Karno dan Tonil

Posted on 16/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

 

Bung Karno gemar pada seni lukis. Bung Karno gemar keroncong. Bung Karno gemar pertunjukan wayang dan tari nasional. Dan masih banyak lagi bidang seni yang digemari Bung Karno. Tetapi jarang yang tahu bahwa Bung Karno juga seorang penulis dan pengarang drama.

Ketika Bung Karno menjalani pengasingan di Flores dan kemudian Bengkulu, pada hari-hari pertama ia memang terasing dari masyarakat sekitar, yang merasa takut terhadap orang yang menjadi musuh Belanda. Hal itu menyebabkan Bung Karno
merasa sangat tertekan. “Aku memerlukan suatu pendorong sebelum aku membunuh
semangatku sendiri,” kata Bung Karno dalam otobiografinya. “Itulah sebabnya aku mulai menulis cerita sandiwara. Dari 1934 sampai 1938 dapat kuselesaikan 12 buah,” lanjutnya.

Klub Tonil di Ende
Tentu saja Bung Karno tidak hanya mengarang naskah sandiwara, tetapi juga berusaha keras untuk mementaskannya di panggung. Maka dibentuklah perkumpulan sandiwara , Toneel Club Kelimutu, mengambil nama dana tiga warna di kawasan Ende. Bermodalkan uang 27 sen, klub sandiwara ini memulai aktivitasnya, dengan tujuan ganda: sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat sekaligus untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Dalam perkumpulan sandiwara itu Bung Karno kerja serabutan: menjabat direktur klub sampai mencari tempat pertunjukan, melatih para pemain sampai menjual karcis pertunjukan. Masalah pakaian untuk para pemeran utama serta layar, ditangani oleh Ibu Inggit. Tetapi upaya menyelenggarakan pertunjukan di panggung, ternyata tidak mudah, Bung Karno adalah seorang tahanan politik, yang gerak-geriknya selalu diawasi. Di samping itu di Ende gedung pertunjukan sangat terbatas. Syukurlah, dengan bantuan pater G. Huijtink dari missi Ende, perkumpulan sandiwara Kelimutu dapat menyelenggarakan pentas perdananya di gedung paroki, Imakulata. Sambutan masyarakat luar biasa. Dan begitulah pada waktu-waktu berikutnya pertunjukan bisa berlangsung, bahkan pernah berturut-turut selama beberapa hari.

Indonesia 1945
Naskah sandiwara itu beraneka ragam ceritanya. Dalam karyanya yang pertama berjudul “Dr. Syaitan”, tampaknya Bung Karno terpengaruh oleh cerita Barat mengenai Frankenstein, Boris Karloff, seorang dokter yang mampu memindahkan organ orang yang masih hidup. Dalam Dr. Sjaitan dikisahkan adanya seorang tokoh yang serupa Boris Karloff, dapat menghidupkan mayat dengan memindahkan hati dari orang hidup. Tentang karyanya yang pertama ini Bung Karno berkomentar: “Cerita ini membawakan suatu pesan moral. Pesan yang tersembunyi di dalamnya adalah, bahwa tubuh Indonesia yang sudah tidak bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi.”

Karya yang lain adalah “Indonesia 1945”. Sesuai dengan judulnya, isi sandiwara ini adalah ramalan pecahnya Perang Pasifik, yang membuat Bung karno yakin Indonesia akan merdeka pada tahun 1945. Lewat sandiwara ini Bung Karno mencoba menyadarkan masyarakat Ende akan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di tanah pengasingan itu Bung Karno tidak mungkin mengadakan pidato seperti ketika bebas di Jawa dulu. Sandiwara dengan demikian merupakan cara terbaik Bung karno untuk mensosialisasikan ide-ide dan semangatnya.

Kesepuluh sandiwara lain yang ditulis Bung Karno adalah Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, Kut Kutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero-Dinamit, Amuk, Sanghai Rumba, Gera Ende. Pada hari Minggu setelah selesai latihan atau pementasan, para anggota sandiwara piknik ke luar kota. Tempat favorit mereka adalah kali Wolowona, yang terletak sekitar 5 km dari pusat kota Ende. Sepanjang jalan mereka menyanyikan lagu-lagu populer dan keroncong diiringi alat musik sederhana.

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 620,116 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: