Archive for November 1st, 2011

Prajurit Jawa Tahun 1897

Posted on 01/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

PRAJURIT JAWA TAHUN 1897Foto berikut ini adalah foto prajurit Jawa dengan pakaian perangnya. Foto dibuat pada kisaran tahun 1897. Mungkin profil prajurit Jawa yang ditampilkan oleh foto ini mewakili gambaran secara umum tentang prajurit Jawa masa lalu. Setidaknya mungkin, profil prajurit Jawa di era Perang Diponegoro (1825-1830) mengingat buku yang memuat foto ini dicetak para tahun 1897.

Mungkin juga profil prajurit Jawa dengan pakaian tradisional Jawa seperti itu juga merupakan wakil dari gambaran umum tentang prajurit-prajurit kerajaan-kerajaan di Jawa. Mungkin juga merupakan gambaran umum tentang profil prajurit Jawa yang tergabung dalam laskar-laskar atau kesatuan-kesatuan dengan satu-dua pimpinan di luar kekuasaan kerajaan.

Barangkali juga tampilan profil prajurit yang demikian bagi kita tampak aneh. Aneh karena tanpa baju, tanpa sepatu pelindung kaki, prajurit ini juga mengenakan kain di luar celana sebatas lututnya. Tampak Kain tersebut bermotif batik dan diwiru (dilipat sisa kainnya) di bagian depan. Wiron tampak dibuat besar tidak melipit kecil seperti wiron kain dalam pakaian resmi tradisional Jawa yang kita kenal sekarang.

Pakaian prajurit Jawa ini diperlengkapi dengan sabuk (ikat pinggang) besar yang tampak indah dengan timang (kepala sabuk) logam yang mungkin saja terbuat dari emas, perak, atau kuningan. Demikian pun kancing dari ujung sabuk itu juga terbuat dari logam yang sejenis dengan kepala sabuknya.

Prajurit Jawa ini juga mengenakan perhiasan berupa gelang di tangan kanan dan kirinya. Tampak bahwa gelang tersebut berdiameter relatif besar. Mungkin diameter logam yang dikenakannya sebagai gelang itu sebesar diameter jari telunjuk pria dewasa. Pada sisi-sisi ini jelas kelihatan bahwa orang Jawa (dalam hal ini prajurit Jawa) cukup atau bangkan sangat memperhatikan penampilan dirinya. Tidak mustahil jika orang Belanda bilang bahwa bangsa Jawa secara umum sebenarnya menyukai penampilan diri yang kelihatan mewah dan elok.

Senjata tombak yang dipegang oleh prajurit ini mungkin juga kurang lazim. Pasalnya mata tombaknya tidak lurus saja, namun berluk. Jika tidak salah hitung mata tombak tersebut berluk 3. Bagi orang Jawa soal senjata yang digunakan dalam medan perang barangkali bukan soal kecanggihan atau efektivitas daya bunuhnya yang dipegang secara teguh, namun juga soal keyakinan. Masalahnya senjata yang dibawa di dalam medan perang sering dianggap sebagai sipat kandel atau benteng diri yang diandalkan. Jadi, bukan semata-mata daya bunuhnya yang hebat namun kemenyatuan diri orang yang bersangkutan dengan senjata itu. Sekalipun senjata tersebut berdaya bunuh tinggi namun jika orang yang membawanya merasa tidak yakin, ragu-ragu, bahkan takut hal itu akan kehilangan efektivitasnya.

Tidak mengherankan jika senjata-senjata perang yang digunakan orang Jawa sering berkait erat dengan apa yang dinamakan senjata pusaka-sipat kandel yang semuanya itu sangat mungkin dikaitkan dengan perhitungan weton orang yang bersangkutan, pamor senjata, dapur senjata, dan juga tentang gaya luk atau lurusnya senjata serta sifat atau angsar/aura/daya vibbrasi dari pusaka yang dibawanya. Barangkali urusan perang dan senjata bagi orang Jawa masa lalu (bahkan mungkin saat ini) bisa menjadi persoalan yang tidak melulu berbicara soal teknis, namun juga bersangkutan dengan hal-hal yang bersifat magis.

Sumber: L. Th. Mayer, 1897, Een Blik in het Javaansche Volksleven II, Leiden: Boekhandel en Drukkerij voorheen E.J. Brill.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Prajurit Jawa Tahun 1897 )

Profil Pangeran Jawa tahun 1897

Posted on 01/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

PROFIL PANGERAN JAWA TAHUN 1897Foto ini menggambarkan tentang profil pangeran Jawa masa lalu. Foto dibuat pada tahun 1897. Tampak bahwa gaya rambut pria Jawa masa lalu hampir semuanya gondorng. Jadi, model rambut gondrong bagi pria sesungguhnya juga telah ada di masa lalu. Hanya saja, umumnya pria Jawa menggelung rambutnya dalam ikatan rambut yang kecil. Pada beberapa pria lain dibiarkan terurai dan hanya diberi penjepit rambut berupa sisir berbentuk melengkung yang biasanya disematkan di atas dahi. Pada beberapa pria Jawa lain biasanya akan menutup kepalanya dengan destar atau iket ”penutup kepala yang cara memakainya dengan diikat-lipat-simpul.” Namun pada pria-pria bangsawan semacam pangeran mereka umumnya akan mengenakan jamang atau semacam mahkota yang tidak menutup seluruh bagian atas kepala atau juga kuluk (penutup kepala) berbentuk seperti silinder yang dipangkas.

Pangeran dalam foto di samping tampak mengenakan jamang. Ia juga membawa busur dan anak panah. Barangkali busur dan anak panah memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bangsawan pria Jawa masa lalu. Mungkin jenis senjata tersebut menjadi semacam benda wajib bagi bangsawan pria Jawa. Sebab pada masa lalu umumnya bangsawan pria Jawa memiliki kegemaran berburu. Bahkan berburu menjadi semacam kegemaran yang mewah atau sebagai bentuk kegiatan rekreatif sekaligus olah raga bagi orang-orang golongan kelas atas.

Pria ini juga mengenakan pakaian khas Jawa masa lalu. Ia juga tidak berbaju. Artinya, bertelanjang dada. Dulu, umumnya dalam kesehariannya pria-pria Jawa juga relatif jarang yang mengenakan baju. Tampaknya hal demikian di masa lalu belum dianggap sebagai saru atau tidak pantas. Iklim tropis di Jawa mungkin menyebabkan orang-orang Jawa masa lalu tidak begitu suka mengenakan baju. Mungkin juga ada faktor penghematan pengeluaran biaya untuk membeli baju. Selain itu mungkin baju dikenakan hanya pada saat-saat formal saja.

Tampak bahwa alas kaki juga belum menjadi bagian dari tradisi berpakaian orang Jawa. Pakaian yang dikenakan pangeran ini berupa celana pendek di bagian dalam yang pada bagian luarnya ditutup dengan kain (jarit) yang diwiru besar. Pose foto yang ditampilkan di sini juga mengesankan bahwa pangeran ini sepertinya hendak berburu. Sekalipun demikian ia juga mengenakan jamang, gelang, dan kain jarit yang diiikat dengan sabuk besar bertimang (kepala gesper) besar. Mungkin dalam kacamata orang sekarang hal ini kelihatan membuat repot/ribet. Sekaligus juga dapat menimbulkan sakit masuk angin (karena tidak berbaju) sekaligus rawan terkena pecahan beling, paku, atu pines karena tidak bersepatu.

Tidak ada keteranga yang tegas mengenai asal pangeran ini. Apakah ia pangeran Jawa dari Solo, Jogja, atau Jawa Timur.

a.sartono

sumber : L. Th. Mayer, 1897, Een Blik in het Javaansche Volksleven II, Leiden: Boekhandel en Drukkerij voorheen E.J. Brill.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Profil Pangeran Jawa tahun 1897 )

Putri Jawa di awal abad 19

Posted on 01/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

PUTRI JAWA DI AWAL ABAD 19Berikut ini adalah profil putri (bisa telah menikah maupun belum) bangsawan Jawa di masa lalu. Kemungkinan besar putri dengan profil seperti ini merupakan anak atau keturunan raja. Menilik pakaian dan asesoris yang dikenakannya yang kelihatan mewah, serta meja di sampingnya yang juga kelihatan mewah, maka bisa ditebak bahwa status sosialnya memang tinggi. Gambar atau foto ini dimuat dalam sebuah buku berbahasa Belanda karya L. Th. Mayer. Buku tersebut berjudul Een Blik in Het Javaansche Volksleven. Buku tersebut diterbitkan di Leiden, Belanda, tahun 1897 oleh Boekhandel en Drukkerij.

Kelihatan bahwa pakaian yang dikenakan oleh profil putri berbeda jauh dengan pakaian yang dikenakan oleh masyarakat (wanita) pada masa itu. Pada masa itu (sekurang-kurangnya tahun 1897 ke belakang) merupakan masa yang masih cukup sulit orang untuk menumpuk kekayaan. Masa yang saih sangat sulit dalam segalanya. Baik soal pangan, informasi, perhubungan, mobilitas, dan sebagainya. Masyarakat secara umum masih berkonsentrasi soal pemenuhan kebutuhan pangan. Sementara soal pemukiman dan lain-lain, lebih-lebih pakaian dan asesori menjadi kebutuhan yang nomor sekian atau bahkan masih hanya sebatas angan atau impian.

Hanya orang-orang besar dan penguasa (semacam raja, bupati, atau adipati) dan jejaring jabatan di bawahnya yang bisa dikatakan boleh punya akses terhadap jalur-jalur pencapaian pendapatan atau kekayaan secara longgar dan bahkan berlebih dibandingkan masyarakat awam. Tidak aneh jika diperbandingkan akan kelihatan begitu kontras atau sangat menyolok perbedaan tingkat kemewahan yang ada komunitas mereka dengan masyarakat awam.

Pakaian yang dikenakan putri ini mungkin juga tidak diperkenankan dikenakan oleh sembarang orang. Artinya, hanya golongan tertentu saja yang diperbolehkan. Jika ada awam yang mampu membeli dan mengenakannya kemungkinan besar dianggap sebagai sebuah pemberontakan atau ”mbalela”. Pada sisi ini masyarakat awam tidak diperkenankan ”ngembari” menyamai apa-apa yang dimiliki atau dikenakan oleh mayarakat dari kalangan atas. Jika ia berani ngembari, maka bisa jadi dianggap ”mbalela”.

Jamang (hiasan di kening) yang dikenakan putri ini juga menandaskan bahwa sosoknya menduduki kedudukan sosial yang tinggi karena jamang (yang mungkin terbuat dari perak atau emas) juga hampir tidak mungkin dimiliki oleh awam. Sekalipun awam mampu membeli kemungkinan juga dilarang untuk dikenakan. Demikian halnya dengan rentengan kancing-kancing logam (emas), subang besar, dan sebagainya juga merupakan asesori yang umum dikenakan golongan kaum bangsawan di masa itu.

Tampak dalam gambar bahwa tradisi mengenakan alas kaki belum begitu umum di Jawa pada masa itu. Nyeker adalah pemandangan yang biasa. Lantai rumah umumnya juga masih tanah biasa yang dipadatkan. Agar lantai tanah kelihatan bersih dan sopan (terutama jika mengundang tamu), lantai tersebut dilapisi dengan kepang ”anyaman bambu” yang di atasnya dilapisi tikar mendong atau pandan.

a.sartono

Sumber: L. Th. Mayer, 1897, Een Blik in Het Javaansche Volksleven, Leiden: Boekhandel en Drukkerij.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Putri Jawa di awal abad 19 )

Jejak-jejak kekuasaan Senopati atas Mangir

Posted on 01/11/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda, Tokoh |

Mangir pada hakikatnya adalah sebuah dusun, tepatnya berada di sebelah selatan Kota Yogyakarta (+ 20 km). Jarak Mangir dari Kotagede kurang lebih juga 20-an km. Mangir terbagi atas tiga wilayah yang lebih kecil, yakni Mangir Lor, Mangir Tengah, dan Mangir Kidul. Tiga nama Mangir ini masuk dalam wilayah Desa/Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Posisi wilayah Mangir agak masuk ke sisi sebelah barat daya Kabupaten Bantul dengan kondisi alam yang relatif subur di bagian tengah dan perbukitan kapur di sisi selatan. Meskipun daerahnya agak menjorok ke dalam, tetapi lokasi Mangir dapat dicapai dengan kendaraan bermesin karena jalan-jalan penghubungnya sudah banyak yang dibangun dengan baik dan beraspal.

Mangir pada zamannya tidak pernah merasa perlu tunduk di bawah kekuasaan siapa pun (baik Pajang maupun Mataram). Wilayah ini pada zamannya barangkali tidak berbeda jauh dengan wilayah Mataram pada zaman Senapati. Barangkali pula Mangir masih meneruskan tradisi Majapahit, yakni sebagai sebuah wilayah perdikan sehingga secara tradisi pula Mangir bebas dari pajak dan berhak penuh mengelola dirinya sendiri. Bedanya, Mangir tidak pernah meluaskan wilayahnya seperti Mataram. Apabila Mataram biasa disebut sebagai sebuah kerajaan, maka pantas pulalah kalau Mangir pun pada zamannya disebut sebagai sebuah kerajaan.

Kebesaran Mangir barangkali dapat dilihat dari wilayahnya yang meliputi tiga dusun tersebut (bahkan dalam cerita tutur disebutkan bahwa kademangan di sekitar Mangir pun menyatakan diri sebagai pengikut Mangir, seperti Kademangan Pajangan, Kademangan Tangkilan, Kademangan Pandak, Kademangan Paker, Kademangan Jlegong) . Di samping itu, di Dusun Mangir Tengah juga ditemukan sebuah dhampar ‘tempat duduk raja/ petinggi/pemimpin suatu daerah’. Dhampar berukuran sekitar 1 x 1 meter persegi dengan ketinggian sekitar 30-40 cm yang terbuat dari batu andesit tersebut sampai sekarang masih dirawat baik oleh penduduk setempat. Di samping dhampar tersebut, hampir di seluruh Dusun Mangir ditemukan puing-puing batu bata dan batu putih yang diyakini sebagai sisa-sisa bangunan/pagar/benteng Kerajaan Mangir. Lingga dan yoni dalam bentuk relatif masih utuh pun ditemukan di sana. Demikian pula lembu Nandhi. Temuan-temuan di atas mengindikasikan bahwa pada awalnya wilayah Mangir atau paling tidak pemimpinnya, mempunyai kepercayaan Hindu.

Dua Buah Makam Ki Ageng Mangir

Awam umumnya mengenal bahwa makam Ki Ageng Mangir berada di kompleks makam Kotagede. Akan tetapi sebagain kecil masyarakat meyakini bahwa makam Ki Ageng Mangir berada di Dusun Saralaten, Sidakarta, Godean, Sleman, Yogyakarta. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan masyarakat. Spekulasi yang pertama menduga bahwa makam Ki Ageng Mangir di Kotagede adalah makam yang dibuat dengan tujuan politis. Makam Mangir di Kotagede dibuat demikian unik. Setengah batu nisannya berada di luar pagar kompleks makam dan yang lainnya berada di dalam. Hal ini dimaksudkan oleh Senapati sebagai pengakuan atas Mangir sebagai menantu (dilambangkan dengan batu nisan yang berada di dalam tembok) dan sekaligus sebagai musuh (dilambangkan dengan batu nisan yang berada di luar pagar tembok).

Dengan demikian, peristiwa atas pembunuhan putra menantu sendiri yang dilakukan oleh Senapati menjadi kelihatan sah. Di samping itu, Senapati pun merasa sah pula mengakui musuhnya sebagai menantu. Dari sisi politis menjadi demikian jelas bahwa Senapati tidak segan-segan melakukan pembersihan terhadap siapa pun, termasuk putra menantu.

Spekulasi kedua atas fenomena makam Mangir di Dusun Saralaten, Sidakarta, Godean, Sleman meyakini bahwa Ki Ageng Mangir yang dibunuh oleh Senapati itu tidak dimakamkan di Kotagede. Dalam cerita tutur dikatakan bahwa jenazah Ki Ageng Mangir dikeluarkan melalui pintu belakang Keraton Mataram lalu dibawa oleh Demang Tangkilan pulang ke daerahnya (Tangkilan, nama sebuah dusun yang terletak di sebelah timur Dusun Saralaten, Godean). Pada masa itu Saralaten barangkali masih berada di bawah pemerintahan Kademangan Tangkilan, Oleh Demang Tangkilan inilah jenazah Ki Ageng Mangir dikuburkan di wilayahnya. Persoalannya kemudian adalah mengapa jenazah itu tidak dikuburkan di Mangir oleh Demang Tangkilan. Dugaan yang dapat diajukan atasnya barangkali adalah karena Demang Tangkilan tidak berani menolak perintah Senapati untuk menguburkan Mangir di wilayahnya. Dugaan yang lain adalah karena setelah pembunuhan Mangir kemungkinan besar Senapati terus melakukan pembersihan dan penghancuran Mangir. Hal demikian biasa dilakukan oleh pembesar-pembesar masa itu karena merasa kedudukannya akan menjadi terancam di kemudian hari oleh saudara, kerabat, dan anak keturunan dari bekas musuhnya. Oleh karena itu, prinsip babat habis sampai ke akar-akarnya sering diterapkan penuh.

Dugaan yang kedua ini diperkuat pula oleh banyaknya orang yang bersimpati/yang masih merasa keturunan Mangir yang kemudian selalu melakukan ziarah ke makam Saralaten dan justru bukan di Kotagede. Makam Saralaten ini konon ditemukan pertama kali oleh Bapak Soewarno pada tahun 1969. Pada saat ditemukan masih merupakan gundukan batu bata yang tertutup rumput. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana pembuktian makam itu sebagai makam Ki Ageng Mangir. Hanya diceritakan bahwa Bapak Soewarno pada masa hidupnya demikian penasaran dan tekun mencari-cari lokasi makam Ki Ageng Mangir. Dipercaya pula bahwa penemuan makam tersebut dilandasi juga dengan laku spiritual. Keyakinan Bapak Soewarno atas makam Saralaten ini dibuktikan pula dengan pemugaran yang dilakukan pada tahun 1976 sehingga makam tersebut menjadi kelihatan megah dan bersih.

Tiga Tokoh Ki Ageng Mangir Wanabaya

Dalam buku-buku sejarah tidak pernah disebutkan dengan jelas siapakah tokoh Ki Ageng Mangir. Dalam buku sejarah versi De Graaf pun (Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Awal Kebangkitan Mataram, Puincak Kekuasaan Mataram, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, dan Runtuhnya Istana Mataram) nama Mangir tidak pernah disebut sama sekali. Nama Mangir justru terkenal di dalam cerita tutur dan buku Babat Mangir

Dalam Babat Mangir disebutkan paling tidak ada tiga tokoh yang menggunakan nama Mangir. Dalam tulisan ini akan digunakan penomoran untuk membedakan tokoh-tokoh yang semuanya menggunakan nama Mangir. Mangir I adalah putra Radyan Alembumisani, seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit. Konon Radyan Alembumisani adalah putra Brawijaya yang melarikan diri dari majapahit karena serbuan tentara Demak. Ketika muda Mangir I ini diberi nama Radyan Wanabaya. Radyan Wanabaya (Mangir I) inilah yang kemudian tinggal di Mangir sehingga ia terkenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Ki Ageng Mangir Wanabaya I kawin dengan seorang putri dari Juwana. Dari perkawinan tersebut lahirlah Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Di samping itu, Ki Ageng Mangir I juga mempunyai anak dari seorang gadis, putri dari Demang Jalegong. Perkawinan Ki Ageng Mangir Wanabaya I dengan Rara Jalegong konon melahirkan seorang anak yang berupa ular (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tumbak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.

Dalam persepsi Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Drama Mangir, Baruklinting dipersonifikasikan sebagai pemuda yang pandai menghimpun massa dan ahli strategi perang. Barangkali apa yang dipersepsikan Pram tidak meleset jauh mengingat cerita tutur Jawa dan babad sering demikian banyak dibumbui cerita-cerita yang berbau mitos, sandi, sanepa ‘perumpamaan/teka-teki’, dan legenda.

Ki Ageng Mangir Wanabaya II kelak kawin dengan seorang gadis, putri dari Demang Paker. Dari perkawinan ini lahirlah Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Ki Ageng Mangir Wanabaya III inilah yang kelak meneruskan sifat-sifat ayah maupun kakeknya untuk tidak tunduk pada pemerintahan Pajang maupun Mataram. Ia pulalah yang kemudian mewarisi tumbak Kiai Baru.

Seperti apa yang dikemukakan Pram, sangat logislah bahwa putra Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tetaplah berupa manusia juga. Manusia itu diberi nama Baruklinting. Hanya karena ia lahir dari seorang wanita yang tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular. Kesaktian yang terletak di lidahnya diidentikkan oleh Pram sebagai lidah yang demikian micara ‘semacam ahli pidato/diplomasi’ dan ahli strategi. Kepandaiannya berdiplomasi mengakibatkan Baruklinting mudah menghimpun massa. Tidak aneh apabila kemudian ia menjadi sosok yang demikian diandalkan oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya II (saudara tirinya) dan Ki Ageng Mangir Wanabaya III pada zaman berikutnya (dalam versi Babad Mangir I diceritakan bahwa Baruklinting tewas begitu dipotong lidahnya oleh ayahnya. Sukma Baruklinting kemudian diperintahkan untuk tinggal di Rawapening oleh ayahnya).

Pada masa kepemimpinan Ki Ageng Mangir Wanabaya III inilah Senapati melakukan aneksasi dengan jalan halus (siasat perkawinan) dan kasar (peperangan-perampasan). Dalam babad diceritakan bahwa kehendak untuk menghancurkan Mangir dari semula memang sudah tumbuh di hati Senapati. Ki Mandaraka menganjurkan supaya Mangir ditaklukkan dengan cara halus. Dengan demikian biaya perang bisa dihemat, korban jiwa dan harta tidak banyak yang jatuh. Siasat itu berhasil setelah Senapati mengumpankan putrinya sendiri yang bernama Rara Pembayun agar dapat dikawin oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Melalui Rara Pembayun itu pula Ki Ageng Mangir Wanabaya III menjadi bersikap sedikit lunak kepada Senapati (Mataram). Kelunakan hati Mangir III ini ditunjukkan dengan kesediaan Mangir III menghadap ke Mataram. Ketika menghadap itulah ia dihabisi oleh Senapati.

Untuk menunjukkan pengakuan menantu sekaligus musuh atas Mangir III ini konon Senapati membuat makam dengan separoh batu nisan berada di luar pagar tembok dan separo lainnya berada di dalam tembok kompleks makam Kotagede. Belum diketahui dengan jelas siapakah sesungguhnya yang membangun makam Mangir III di Kotagede itu. Apakah memang Senapati ataukah raja-raja Mataram setelah Senapati.

Sartono Kusumaningrat

Daftar Pustaka

Ananta Toer, Pramoedya, 2000, Drama Mangir, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Anonim, 1980, Babad Mangir I, Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa.
Anonim, 1941, Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi
ing Taoen 1647, Leiden: M. Nijhoff-s’Gravenhage.
De Graaf, H.J., 1986, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Jakarta: PT Pustaka Grafitipers.
——————, 1987, Awal Kebangkitan Mataram, Jakarta: PT Pustaka Grafitipers.
Sriwibawa, Soegiarta, 1976, Babad Tanah Jawi Jilid I, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
——————, 1977, Babad Tanah Jawi Jilid II, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Jejak-jejak kekuasaan Senopati atas Mangir )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 780,369 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: