Kisah Muasal Logo Surabaya

Posted on 08/10/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

Lambang ikan hiu dan buaya yang kini digunakan sebagai logo resmi pemerintah kota Surabaya sebenarnya bukan ide orisinil. Sebab institusi kota baru lahir 1 April 1906. Kini taukah anda jika logo bergambar dua hewan itu awalnya milik sebuah grup musik zaman Belanda? Ikuti ceritanya

Sejumlah literatur sejarah mengungkapkan logo tertua model ikan dan buaya itu ditemukan arkeolog Belanda tahun 1920 dari penning atau prasasti tua yang dibuat untuk memperingati 10 tahun usia Perkumpulan Musik St Caecilia (1848 – 1858).

Logo ini juga diyakini dibuat dari kain bludru yang dibordir di bendera yang menjadi panji panji perkumpulan musik ini. Logo itulah yang dipajang di setiap pementasan di bagian pinggir panggung para pemain musik.

Mungkin karena bentuk logonya unik, Di tahun 1848, sebuah koran dagang Hindia Belanda tertua yang terbit di Surabaya, Soerabaiasche Courant, meletakkan lambang ini di kop koran sebagai logonya.
Namun saat itu tidak jelas apa filosofi di dalam logo ini karena tidak pernah ada catatan.

Belakangan, logo ini menjadi idola. Di mulut cerita rakyat Surabaya muncul cerita mitos pertarungan ikan hiu dan buaya. di jembatan merah yang mengubah pagar jembatan menjadi peranh karena darah kedua binatang. Kemudian bangkainya dimakan Semut sehingga dikenal ada Kampung Semut di pinggir Kalimas.

Namun belum bisa diketahui mana yang lebih dahulu muncul, logo atau cerita rakyat itu. yang pasti di logo lawas itu kedua hewan itu tidak dalm posisi bertarung. Namun tidur damai. Posisi keduanya bertarung baru terlihat di logo terbaru 1950 sampai sekarang.

Faktanya St Caecilia telah menjadi insiprasi. Logo ikan dan buaya itu sudah terlanjur menjadi identitas kota. Selain di kop surat kabar, juga menjadi tren di bangunan bangunan baru hingga awal 1900an. Mulai di ornamen kaca pintu masuk gedung NIAS (Fakultas kedokteran Unair), keramik tembok di rumah tinggal yang sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Darmokali, gedung bekas menara sjahbandar di Kalimas Baru. Bahkan dua tahun lalu, logo dua hewan ini masih terlihat di ornamen di tengah gevel salah satu bangunan lawas di Jl Bubutan. Namun kini bangunan itu sudah hilang dan berganti ruko.

Yang masih relatif bagus adalah logo yang tertempel di depan ruang guru SMA Trimurti Jl Gubernur Suryo. Logo dari baja ini adalah koleksi museum peninggalan sejarahwan GH Von Faber. Museum yang didirikan Faber itu tutup tahun 1950, kemudian gedungnya menjadi SMA Trimurti.

Menurut pengamat sejarah yang juga anggota tim cagar Budaya Surabaya, RM Yunani, logo dua bintang itu sebuah mitos atau cerita binatang atau fable yang sangat lemah dasar kesejarahannya. ‘’Tidak ada kitab atau serat yang yang menulis legenda pertarungan ikan hiu dan buaya. Ini hanya cerita lisan yang tidak jelas asal usulnya,’’ kritiknya.

Sementara itu di buku bertitel Soerabaia, yang terbit Februari 1864, semakin lengkap menjawab teka-teki asal muasal simbol itu. Buku ini ditulis sejarahwan zaman Hindia Belanda J Hageman J Cz, dalam buku yang terbit Februari 1864, Hageman mengatakan sejak muncul logo itu sudah menjadi kontroversi.

Banyak orang yang mengaitkan logo ikan dan buaya itu maksudnya adalah kependekan dari kata Surabaya. Padahal ia menganggap belum pernah ada istilah Jawa yang menyebut suro atau sura adalah nama seekor ikan apalagi ikan hiu. Dalam catatannya yang telah disadur dalam bahasa Inggris itu, Hageman bahkan mencontohkan nama sejumlah kota di Jawa yang ada kata Sura namun tidak ada kaitannya dengan Ikan hiu.

Diantaranya Surakarta dan Kartasura. Bahkan sebutan sejumlah pahlawan legenda di Jawa juga mengandung kata SURA, seperti, Suramenggala, Suradilaga, atau Surapati. Kata Hagemen, ‘SURA’ dalam semua penyebutan itu berarti BERANI, tidak ada kata lain selain kalimat itu.

Kalimat “Soera ing Baia” di dalam logo Surabaya 1920 semakin menguatkan jika antara logo dan semboyan itu tidak terkait sama sekali. Karena “Soera Ing Baya” adalah berasal dari bahasa Jawa yang artinya “Berani Melawan Bahaya”. Sementara maksud ditampilkannya dua hewan itu tetap menjadi teka-teki sampai sekarang.

Logo pertama yang menggambarkan hiu dan buaya. Menjadi panji panji grup musik

Logo tahun 1920. mulai ada kata Soera Ing Baia.

Artinya bukan ikan sura dan buaya. tapi berani melawan bahayaBaru tahun 1950an, dua binatang itu dibuat saling serang dan makna sura ing baya menjadi salah kaprah ikan sura dan buaya.

Advertisements
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 683,116 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: