Kabbalah

Posted on 05/07/2011. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

david-livingstone

Oleh: David Livinstone

Zionisme

temple_of_jerusalem

The Temple of Jerusalem
Pada abad keenam SM, orang-orang Asyur akhirnya berhasil menjarah Yerusalem, dan menangkap sisa penduduk Yahudi yang kemudian dijadikan tawanan, kali ini ke kota Babylon, sekarang terletak dekat kota Baghdad di Irak. Tragedi ini memiliki konsekuensi psikologis sangat besar bagi orang-orang Yahudi. Kehadiran orang-orang Yahudi di ‘Tanah Suci’ dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip inti ajaran mereka. Menurut Bibel, Tuhan telah meratifikasi perjanjian antara diri-Nya dengan Ibrahim, untuk memberikan tanah Palestina kepada keturunannya. Janji ini, bagaimanapun bentuknya, tergantung kepada orang-orang Yahudi dalam mentaati Perintah Hukum (the Commandments of the Law). Pada akhirnya, Pembuangan mereka merupakan sebuah pemenuhan hukuman karena mengulangi pelanggaran-pelanggaran dan kecenderungan mereka pada okultisme.

Meskipun demikian, ada beberapa di antara orang buangan Yahudi yang memilih untuk tidak menganggap penangkapan mereka sebagai sebuah hukuman, akan tetapi sebagai pengadilan sementara. Sebaliknya, mereka menafsirkan status mereka sebagai ‘manusia pilihan Tuhan’, sebagai sebuah hubungan yang permanen, dan bahwa Janji untuk menghuni tanah Zion atau Palestina, mengikat untuk selamanya. Dengan demikian, interpretasi Zionis baru ini terkait erat dengan aliran mistik Kabbalah. Oleh karena itu, interpretasi Zionis yang baru ini merupakan penurunan nilai dari maksud agama Yahudi yang sebenarnya, dan seperti kita akan lihat, bukan merupakan bagian yang integral dari agama Yahudi, akan tetapi selama berabad-abad, semakin dipaksakan kepada seluruh komunitas Yahudi. Pemaksaan tersebut dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang berkomitmen untuk melaksanakan rencana jahat ini.

Di Babilonia,  orang-orang Yahudi sesat yang menolak untuk membersihkan diri mereka dari pengaruh agama penyembah berhala, justru mengadopsi praktek-praktek sihir Babilonia ke dalam agama Yahudi. Meskipun mereka mengetahui bahwa sihir dilarang di dalam agama Yahudi, mereka menolak Tuhan bangsa Israel, bahkan memilih untuk menghormati Lucifer, yang mereka identifikasikan dengan musuh tradisional keyakinan Ibrani, Baal. Dalam rangka menutup-nutupi kemurtadannya, mereka menyembunyikan keyakinan sesat mereka  sebagai sebuah “penafsiran” agama, sebuah sekte pemujaan yang sekarang dikenal sebagai Kabbalah.

Perkembangan ini dengan teliti digambarkan di dalam al-Qur’an, yang menjelaskan bahwa, meskipun mereka mengklaim bahwa Kabbalah berasal dari Raja Sulaiman, setan-setanlah yang telah mengajarkan hal-hal seperti itu, mengajarkan kepada mereka hal-hal yang telah diwahyukan kepada malaikat Harut dan Marut di negeri Babilonia. Menurut al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah 2:101-102 dijelaskan sbb:

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Oleh karena itu, dengan meminjam tema-tema Yahudi, para pengikut Kabbalah ini akan berusaha untuk mendominasi dunia dengan menyatakan bahwa mereka sedang menyiapkan dunia dalam rangka kedatangan Mesias, dan semata-mata membantu Tuhan  mewujudkan janji-Nya untuk menjadikan mereka sebagai penguasa dunia. Setelah menolak keimanan agama Yahudi, rupanya mereka tidak menunggu Mesias yang sebenarnya, tetapi mereka akan berusaha untuk menentukan pemimpin mereka sendiri, yang akan mereka klaim secara licik sebagai Messiah palsu yang akan membantu mereka dalam menerapkan penerimaan keyakinan klenik mereka secara global.

The Chaldean Magi

magi

Adoration of the Magi by Hieronymus Bosch
Dunia kuno abad keenam SM belum mengenal orang-orang Yahudi dan agama mereka. Oleh karena itu, ketika penganut Kabbalah ini muncul dari Babilonia untuk menyebarkan ide-ide mereka, khususnya di kalangan orang-orang Yunani, mereka kebingungan mengidentifikasikan imam-imam tradisional Babilonia yang dikenal sebagai orang Majus Kasdim. Penyebaran yang dari luas ide-ide ini sejalan dengan pembebasan orang Yahudi dari penawanan oleh bangsa Persia, yang dipimpin oleh Cyrus yang Agung, yang telah menaklukkan Babilonia pada tahun 539 SM.

Bangsa Persia adalah penganut Zoroaster, agama nabi Zoroaster, dan orang Majus adalah imam-imam mereka. Orang Majus, menurut Herodotus, adalah suku Medes, dalam kekaisaran Persia. Magi, menurut Herodotus, merupakan suku dari Medes, di dalam Kerajaan Persia. Munculnya Kekaisaran Persia dimulai pada tahun 553 SM, ketika Cyrus yang Agung, raja Persia, memberontak melawan kakeknya, Raja Mede Astyages. sehingga dengan demikian Medes tunduk kepada kerabat dekat mereka, Persia.

Menurut riwayat, pada tahun 588 SM, raja Hystaspes memeluk agama Zoroaster. Istri Hystaspes, Rhodah, Putri Persia, yang pertama kali menikah dengan Zorobabel, Exilarch ketiga dari Yahudi Babylon.l) Anak mereka, Darius, melalui sebuah  konspirasi  yang berpihak kepada orang Majus, akhirnya berhasil mendudukkan Cyrus putra Cambyses sebagai Kaisar Persia.

%nya Zoroastrianisme bersifat monoteistik, orang Majus dengan cepat merusak aga0A

Cyrus yang Agung, kemudian anak dan penggantinya, Cambyses, awalnya membatasi kekuasaan orang Majus. Seperti dijelaskan oleh Franz Cumont, seorang sarjana terkemuka abad lalu, walaupun pada awalma mereka dengan memadukannya dengan unsur-unsur Babilonia. Hal ini banyak menimbulkan kebingungan di kalangan cendekiawan, yang telah gagal untuk menilai studi Cumon dengan baik. Karena, mereka gagal untuk melihat bahwa ketika sejumlah sejarawan kuno merujuk pada “Majus”, mereka tidak merujuk kepada penyembah Zoroaster ortodoks, akan tetapi kepada orang Majus yang merusak ini.

 Yang paling menarik ide-ide ini dihubungkan dengan “Majus” yang mencermin doktrin-doktrin yang kemudian dikenal sebagai Kabbalah. Merekalah yang pada abad keenam SM mengembangkan ilmu pseudo-astrologi. Karena kurangnya sistem kalender yang akurat, para ahli telah menunjukkan bahwa meskipun agama Babilonia banyak berkaitan dengan tema astral (yang berhubungan dengan bintang-bintang), pemujaan terhadap astrologi tidak dapat ditemukan sampai abad keenam SM. Dalam Kitab Daniel, Bab 2:48, nabi Daniel sendiri menyebut mereka “orang bijak” Bablilonia adalah orang-orang Majus atau Kasdim, walaupun mereka tetap setia dalam melaksanakan hukum-hukum agamanya sendiri.2)

Dengan demikian pemujaan baru kepada astrologi dan sihir ini  disatukan  ke dalam ritual dewa. Mithras, dewa kuno Persia diasimilasikan pada Baal, dan misteri pemujaan serta seni hitam kemudian disematkan kepadanya, yang menjadi inti dari semua yang kemudian dikenal dengan nama Mysteri-misteri Kuno atau the Ancient Mysteries.3)

Pada tahun 522 SM, ketika Cambyses berada di Mesir, seorang Majus bernama Gaumata merebut kekuasaan.  Cambyses mengaku sebagai Smerdis, saudara Cambyses, Namun Gaumata mengetahui bahwa diam-diam Cambyses telah membunuh Smerdis yang sebenarnya. Meskipun Cambyses berusaha terus untuk merampas kekuasaan, entah bagaimana ia mati, beberapa orang mengatakan dia bunuh diri.  Menurut Herodotus, Otanes, kemungkinan sama dengan “Osthanes”, paman Cambyses menjadi curiga akan adanya Smerdis palsu. Dari putrinya yang menikah dengan penipu tersebut?), ia mengetahui bahwa Smerdis ini sebenarnya seorang Majus (Magi*). Osthanes dan enam orang bangsawan lainnya kemudian merencanakan sebuah kudeta-balasan, hingga Darius, putra Hystaspes, tiba yang kemudian berpihak kepada mereka. Darius dan Otanes membahas rencana mereka, apakah akan menyerang sekaligus, di mana strategi ini akan menguntungkan Darius, atau menunggu, yang tampaknya akan lebih baik untuk Otanes. Strategi Darius menang dan ketujuh orang itu membunuh Smerdis palsu, kemudian Darius menjadi Kaisar.

Bangsa Phoenisia

trojan_war

Procession of the Trojan Horse in Troy by Giovanni Domenico Tiepolo
Ketika Kekaisaran Persia bertambah luas, doktrin Majusi diekspor ke seluruh wilayah yang dikenal pada waktu itu, terutama ke Yunani. Hal ini penting diketahui untuk memahami peran sentral yang dimainkan Yunani kuno dalam pemujaan dan sejarah Illuminati.  Dari abad ketujuh SM dan seterusnya, Yunani sudah bergantung kuat kepada para pendatang bangsa “Phoenisia” yang telah memberikan kultur yang banyak kepada Yunani, mulai dari alphabet, dasar yang masih kita pergunakan saat ini. Berlawanan dengan persepsi modern kita, Yunani Kuno pada dasarnya merupakan sebuah peradaban Timur Tengah.  Sebenarnya  asal kebudayaan asing yang masuk ke Yunani adalah seperti itu, lima puluh tahunan yang lalu, seorang ilmuwan Jerman mengatakan:

.. .in view of this state of affairs it could not be called out of the way to ask what there was in ArchaicGreece4) that did not come from the orient.

Banyak silsilah yang menyatakan bahwa Ilus, kakek Priam, adalah keturunan dari Zerah, anak Yehuda dari Tamar, dan saudara Peres.  Ia menikahi Electra, putri Atlas The Titan. Menurut Flavius Josephus, sejarawan Yahudi abad pertama, Dam putra Zerah, atau Darda, juga Dardanus, dari mana nama Dardanella berasal. Dari anak-anaknya, beberapa bangsa mengaku berasal dari keturunannya, termasuk Goth, keturunan dari putrinya Troanna. Cassandra putri Priam menikah dengan Eneas, yang dikenal sebagai nenek moyang bangsa Romawi, Brutus dan raja-raja Skotlandia. Dan dari Helenus, Raja Troy adalah keturunan Sicambrians, yang kemudian dikenal sebagai bangsa Frank.

 

bacchants

Bacchants killing Orpheus
Menurut Homer, dalam Iliad, dalam laporannya tentang Perang Troya, para pengikut, Yunani yang bersembunyi di dalam Kuda Troja itu adalah suku bangsa Danaan.  Suku bangsa Danaan adalah orang-orang yang dianggap oleh orang Yunani berasal dari Phoenisia. Meskipun demikian, bangsa Yunani tidak memiliki pengetahuan tentang Bani Israel kecuali setelah pada abad keempat SM, oleh karena itu, suku bangsa Danaan ini sering tertukar identitasnya dengan orang Kanaan di Palestina, dan menyebut mereka sebagai Phoenisia. Penaklukkan Yunani oleh Dorians yang  dikenal sebagai Heraklids, juga disamakan dengan Denyen Sea Peoples, atau Danites dari suku Dan, yang menghancurkan peradaban Mediterania pada abad kedua belas, bertepatan dengan penetrasi Bani Israel ke Tanah yang Dijanjikan.6)

Heccataeus dari Abdera, seorang sejarawan Yunani abad keempat SM, menegaskan hipotesisnya, ketika mengacu kepada bangsa Mesir, ia menjelaskan:

The natives of the land surmised that unless they removed the foreigners [Israelites] their troubles would never be resolved. At once, therefore, the aliens were driven from the country and the most outstanding and active among them branded together and, as some say, were cast ashore in Greece and certain other regions; their teachers were notable men, among them being Danaus and Cadmus. But the greater number were driven into what is now called Judea, which is not far from Egypt and at that time was utterly uninhabited. The colony was headed by a man called Moses.7)

Pada awal abad keenam SM, pengaruh orang Majusi mengakibatkan munculnya Misteri Dionysus di antara orang Yunani. Pendiri legendaris dari ritus Dionysus ini dikenal sebagai  Orpheus.  Artapanus, seorang filsuf Yahudi abad ketiga SM, menyatakan bahwa Musa, “setelah menjadi seorang pria dewasa ia dipanggil Musaeus oleh bangsa Yunani. Musaeus ini adalah guru Orpheus.” Tentu saja, Musa yang dimaksud disini bukanlah pengarang ajaran-ajaran sesat yang dikembangkan pada abad keenam SM, setelah hampir seribu tahun kematiannya. Namun, para penulis ini setidaknya mengakui adanya asal-usul mistik Yahudi dari pemikiran mistik Yunani.

Orang Majusi mengadaptasi Bel dari Babionia pada keyakinan Mithras mereka, yang kemudian dikenal dengan nama Dionysus di antara bangsa Yunani, dan ritus-ritus mereka seperti yang dijelaskan oleh Clement dari Alexandria sbb:

The raving Dionysus is worshipped by Bacchants with orgies, in which they celebrate their sacred frenzy by a feast of raw flesh. Wreathed with snakes, they perform the distribution of portions of their victims, shouting the name Eva (Eua), that Eva through whom error entered into the world; and a consecrated snake is the emblem of the Bacchic orgies.8)

Heraclitus, seorang filsuf Yunani abad keenam SM, menyamakan ritus Dionysus/ Bacchus dengan orang-orang Majusi, dan berkomentar: “kalau untuk Dionysus mereka melakukan prosesi dan menyanyikan himne ke bagian kemaluan [phalli], hal ini akan menjadi sebuah tindakan yang paling tidak tahu malu, tapi Hades dan Dionysus sebutan keduanya adalah untuk orang yang sama, yang dalam menghormatinya mereka gemar sekali merayakan upacara Bacchic, “9) dan” menginisiasikan Nightwalkers, orang Majusi, Bacchoi, Lenai,  “semua orang-orang ini ditakut-takuti dengan apa yang akan terjadi setelah kematian: “untuk mempraktekkan ritus rahasia ini di antara manusia dengan dirayakan dalam sebuah cara yang keterlaluan

RC Zaehner menunjukkan bahwa walaupun penyembahan terhadap roh-roh jahat dilarang keras dalam versi keimanan ortodoks, catatan penulis Yunani dalam banyak hal sesuai dengan doktrin-doktrin dimaksud dalam literatur Zoroaster, sebagai “tukang sihir” atau “penyembah dewa”, atau penyembah setan. Sebagaimana teks-teks ini dikritik, orang-orang Majusi menyembah Ahriman, istilah Zoroaster yang setara dengan setan.11)

Plato

plato

Plato
Pada dasarnya ketika Kabbalah dapat ditelusuri kembali jejaknya sampai ke Babilonia, doktrin-doktrin awal yang diuraikan dalam bentuk tertulis tidak akan ditemukan di sana, tetapi di Yunani kuno. Meskipun orang-orang Yahudi diizinkan kembali ke Palestina oleh Cyrus yang Agung, tidak ada bukti literatur Yahudi yang menampilkan hal tersebut sampai abad ketiga Masehi. Lebih jauh orang yang paling awal membuat uraian panjang lebar mengenai doktrin-doktrin Kabbalistik berlangsung di Yunani, di antara mereka yang disebut dengan para filsuf, terutama Pythagoras kemudian Plato, yang telah lama dianggap sebagai godfather dari tradisi ini.

Pemujaan Orpheus, yang dikenal sebagai Orphism, menjadi dasar pemujaan filosofis yang dikembangkan oleh Pythagoras.12) Catatan Pythagoras yang melakukan perjalanan ke Babilonia untuk penelitiannya sangat panjang dan lebar. Melalui pengaruhnya, ide-ide ini kemudian diteruskan kepada Plato. Oleh karena itu, menurut Momigliano, di dalam Alien Wisdom, “adalah Plato yang membuat secara menyeluruh kebijaksanaan Persia sesuai dengan yang baru, meskipun tempat yang pasti dalam cerita Plato ini disangsikan dan bertentangan.”13) Sebenarnya, posisi Plato tidaklah begitu jelas. Meskipun para sarjana dan Momigliano hanya kesulitan bahwa Plato — yang terbukti yang dianggap sebagai contoh seorang Yunani “rasionalis” — jelas terbenam dalam pemikiran okult.

Meskipun Plato dianggap sebagai filsuf terbesar peradaban Barat, ia tidak layak mendapatkan reputasi itu, Ia hanya mencapai kepopuleran yang notorious selama kurun waktu dua ratus lima puluh tahunan melalui pengaruh pers Illuminati.  Selama berabad-abad, kaum okultis menganggap Plato sebagai penemu  agenda hebat mereka, bahkan Yahudi Kabbalah menganggap sebagai seorang yang menafsirkan ide-ide mereka. Pada dasarnya, ketika Kabbalah itu diambil di Babilonia, Plato-lah orang yang pertama kali menguraikan prinsip Zionis mengenai penguasaan dunia, dengan merumuskan visi untuk sebuah negara totaliter yang akan diatur oleh “Manusia Pilihan”, dalam hal ini, para pengikut Kabbalah.

Para sarjana telah sepenuhnya gagal menyadari kehadiran doktrin Kabbalah pada  Plato karena ketidaktahuan mereka tentang pemuja Majus. Para sarjana umumnya menolak pengaruh seperti itu, karena, dalam pikiran mereka, tidak ada pengaruh yang tampak di Zoroastrianisme dalam pemikiran Yunani. Ini benar. Sebaliknya, itu adalah Franz Cumont, ilmuwan terbesar abad kedua puluh, dan yang keberadaannya belum diakui, yang menetapkan bahwa orang-orang Yunani tidak berhubungan dengan orang Zoroaster, tapi bid’ah “Majis/Magus”, yang disebut Magusseans, yang dipengaruhi oleh Babel doktrin.

 

discovering_heavens

Discovering Heavens
Pada zaman dahulu, Reputasi hubungan Plato dengan orang-orang Majusi telah diakui secara luas. Menurut Aristobulus, seorang filsuf Yahudi abad ketiga SM, Plato mempunyai akses kepada teks-teks terjemahan-terjemahan Yahudi, karena itu, “jelas bahwa Plato meniru undang-undang kami dan bahwa ia telah menyelidiki secara menyeluruh setiap elemen yang berada di dalamnya … Sebab ia sangat terpelajar, seperti Pythagoras, yang banyak mentransfer doktrin-doktrin kami dan memadukannya ke dalam kepercayaannya sendiri.14)

Euxodus of Cnidus, yang telah bertindak sebagai kepala Akademi selama Plato tidak ada, mengadakan perjalanan ke Babilonia dan Mesir, belajar di Heliopolis, di mana dia mempelajari ” kebijaksanaan imam ” dan astrologi.  Menurut Pliny, Eudoxus ” wished magic” [pemujaan orang Majusi] untuk diakui sebagai yang paling mulia dan berguna dari sekolah-sekolah filsafat.” 15) Dalam the Laws, Plato mengusulkan gagasan astrologi, mengenai apa yang ER Dodds yang bersikap skeptis terhadap  tingkat pengaruh Magian (Majusi) dalam pemikiran Plato, ia membenarkan hal tersebut dengan menyatakan:

… the proposals of the Laws do seem to give the heavenly bodies a religious importance which they lacked in ordinary Greek cult, though there may have been partial precedents in Pythagorean thought and usage. And in the Epinomis, which I am inclined to regard either as Plato’s own work or as put together by his Nachlass (unpublished works), we meet with something that is certainly Oriental, and is frankly presented as such, the proposal for public worship of the planets.16

The Epinomis, yang mungkin merupakan  sebuah karya Plato atau muridnya, Philip dari Opus, jelas dipengaruhi oleh orang Majusi.  Menurut The Epinomis, bahwa ilmu pengetahuan yang membuat orang-orang paling bijaksana adalah astrologi. Astrologi, klaim penulis, menawarkan manusia dengan angka, dengan kata lain numerologi, yang tanpa ilmu tersebut manusia tidak dapat mencapai pengetahuan tentang kebajikan. Pengetahuan ini, menurut penulis, awalnya termasuk ilmu bangsa Mesir dan Suriah, ” asal dari pengetahuan tersebut menyebar ke seluruh negeri, termasuk yang kita miliki, setelah diuji selama ribuan tahun dan dengan tanpa batas.”

Namun, risalah yang membahas secara mendalam pemikiran Kabbalistik dalam bahasa Yunani adalah Timaeus.  Seperti Epinomis, Timaeus menganggap tujuan hidup adalah untuk mempelajari astrologi. Dalam the Republic, Plato mengartikulasikan perlunya suatu negara totaliter yang diatur raja dari kalangan filsuf, yang akan diatur dalam pseudo-science ini.. Ketika diminta untuk memberikan rincian tentang instruksi ini, dalam bab terakhir dari The Republic, Plato menceritakan apa yang disebut  dengan Mitos Er. Er, anak seorang Asia bernama Armenius [atau Armenia], yang meninggal dalam perang, tapi kembali hidup  untuk bertindak sebagai pembawa pesan dari dunia lain.

Colotes, seorang filsuf abad ketiga SM, menuduh Plato melakukan tindakan plagiarisme, ia mempertahankan pendapatnya bahwa Plato mengganti nama Zoroaster dengan Er. Clement dari Alexandria dan Proclus mengutip karya yang berjudul On Nature, yang dihubungkan dengan Zoroaster, di mana ia ia disamakan dengan Er.17) mengutip di bagian pembukaan  karya tersebut, Clement menyebutkan:

Zoroaster, then, writes: “These things I wrote, I Zoroaster, the son of Armenius, a Pamphylian by birth: having died in battle, and been in Hades, I learned them of the gods.” This Zoroaster, Plato says, having been placed on the funeral pyre, rose again to life in twelve days. He alludes perchance to the resurrection, or perchance to the fact that the path for souls to ascension, lies through the twelve signs of the zodiac; and he himself says, that the descending pathway to birth is the same. In the same way we are to understand the twelve labours of Hercules, after which the soul obtains release from this entire world. 18)

The Republik memberikan dasar untuk proyek fasis modern Illuminati, termasuk penghapusan perkawinan dan keluarga, wajib belajar, penggunaan egenetika (eugenic) oleh negara, dan penggunaan metode penipuan berupa propaganda. Menurut Plato, “semua wanita akan menjadi istri bagi semua orang, dan tidak seorangpun dari mereka akan hidup secara pribadi dengan seorang laki-laki; anak-anak juga harus dimiliki bersama sehingga tidak ada orang tua yang akan mengetahui mana keturunannya sendiri, dan tidak ada anak yang akan mengetahui orang tuanya”19) Keyakian seperti ini terkait dengan kebutuhan egenetika (eugenic), begitu pula “laki-laki terbaik harus melahirkan anak dari perempuan terbaik dan dilakukan sebanyak mungkin sedangkan laki-laki terburuk dengan perempuan terburuk hanya dilakukan sesedikit mungkin, keturunan dari yang terbaik harus dipelihara sedangkan  keturunan yang terburuk tidak harus dipelihara, bila menghendaki kelompok manusia yang sesempurna mungkin. “Pemikiran jahat lainnya adalah resep untuk membunuh bayi: “Keturunan dari mereka yang dianggap rendah kualitasnya (inferior), dan mereka dari jenis lain yang lahir cacat, mereka akan dibuang secara diam-diam, sehingga tak seorang pun tahu apa yang telah terjadi kepada mereka. Begitulah caranya yang dilakukan untuk memelihara dan menjaga kemurnian keturunan.”

Wajib belajar yang perlu dilaksanakan adalah dalam rangka untuk memisahkan anak-anak dari orang tua mereka, agar mereka diindoktrinasi sesuai dengan cita-cita Negara:

They [philosopher-kings] will begin by sending out into the country all the inhabitants of the city who are more than ten years old, and will take possession of their children, who will be unaffected by the habits of their parents; these they will train in their own habits and laws, I mean in the laws which we have given them: and in this way the State and constitution of which we were speaking will soonest and most easily attain happiness, and the nation which has such a constitution will gain most.20)

Adapun propaganda, menurut Plato, “penguasa kita akan mendapatkan dosis / kadar  yang memadai dalam merekayasa kepalsuan dan penipuan yang dipaksakan untuk kebaikan warganegaranya”. Dia lebih jauh menjelaskan bahwa, “Retorika  … adalah sesuatu yang menghasilkan persuasi untuk sebuah kepercayaan, bukan merupakan pesan dalam hal benar dan salah. Dan begitulah kepentingan para pelaku retorika  bukanlah untuk membentuk pengadilan hukum atau pertemuan publik dalam hal yang benar dan yang salah, tetapi hanya untuk membuat mereka percaya; sejak Saya telah melakukannya, ternyata tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat mengajari orang banyak dalam hal-hal yang sangat penting. “21)

Alexander Agung

alexander

Alexander the Great
Pada tahun 367 SM, pada usia tujuh belas tahun, Aristoteles telah menjadi anggota Akademi Plato, sementara Eudoxus dari Cnidus adalah kepala Akademinya. Dan meskipun mungkin Aristoteles tidak menulis karya On the Magi yang dikaitkan kepadanya, ia yakin bahwa planet-planet dan bintang-bintang tetap, memengaruhi kehidupan di bumi. Aristoteles, kemudian menjadi guru Alexander yang Agung, yang kemenangannya memulai apa yang dikenal sebagai Zaman Helenistik, periode yang banyak membangun sebuah citra penetrasi budaya Greaco-Kabbalistik di seluruh dunia Mediterania.

Zaman Helenistik juga merupakan kontak awal antara orang Yunani dan Yahudi yang bisa diidentifikasi. Clearchus dari Soli, seorang murid Aristoteles, berpendapat bahwa gurunya telah bercakap-cakap dengan seorang Yahudi, dan gurunya tersebut mengakui bahwa, “karena ia telah tinggal dengan banyak orang terpelajar, ia menyampaikannya kepada kami informasi lebih banyak daripada yang ia terima dari kita.22)

Selain itu, baik menurut Talmud dan Josephus Antiquities, Imam Besar Bait Allah di Yerusalem, karena khawatir Alexander akan menghancurkan kota, keluar untuk bertemu dengannya.  Ceriteranya menggambarkan bagaimana Alexander setelah melihat Imam Besar, turun dari kuda dan membungkuk kepadanya. Dalam ceritera Josephus, ketika ditanya oleh Jenderalnya untuk menjelaskan tindakan tersebut, Alexander menjawab, “Aku tidak membungkuk di hadapannya, tetapi kepada tuhan yang telah menghormatinya dengan kedudukan Imamat yang tinggi, sebab Aku melihat orang ini dalam sebuah mimpi, dengan berpakaian seperti ini. ” Alexander menafsirkan mimpinya bahwa Imam Besar merupakan  pertanda baik dan dengan demikian menghindarkan Yerusalem dari kerusakan, dengan cara damai memasukan Wilayah Israel ke dalam kekaisarannya yang sedang tumbuh. Sebagai upeti kepada penaklukan yang dilakukan dengan tanpa kekerasan, Orang-orang Bijak Yahudi memutuskan bahwa anak sulung orang Yahudi yang lahir pada waktu itu akan diberi nama Alexander, yang tetap menjadi nama Yahudi ini hingga hari ini.23)

Setelah kematian Alexander, para jenderalnya memecah kekaisaran yang ditinggalkan Alexander menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Makedonia dan Yunani diperintah Antigonus. Seleukus menjadi satrap*) dari Babilonia, yang kemudian mendirikan  Kekaisaran Seleukus yang wilayahnya membentang sejauh Bulgaria di Eropa sampai perbatasan India. Phoenicia, jatuh ke tangan Sotor Ptolemeus, yang memulai Dinasti Ptolemeus yang memerintah Mesir.

Catatan kaki:

[1] Livingstone. The Dying God. p. 93.
[2] James Allen Dow, “Rhodah (Princess) of PERSIA”,
[3] Luck. Arcana Mundi, p.311
[4] James Allen Down, “Zerah (Zehrah Zarah) ibn JUDAH”,
[5] Diodorus Siculus. Universal History. XL: 3.2
[6] Clement of Alexandria.Exhortation to the Greeks, 2.12
[7] Clement. Protreptic, 34.5, quoted fr. A Presocratics Reader, p. 39
[8] Clement. Protreptic, 22.2, quoted fr. A Presocratics Reader, p. 39
[9] Greater Bundahishn, 182. 2. quoted form Zeahner, Zurvan, p. 15
[10] The Dying God. p. 130 – 145
[11] Alien Wisdom, p. 142
[12] Eusebius. 13.12.1f.
[13] Natural History, XXX: 3
[14] The Greeks and the Irrational, p. 233 n. 70
[15] Proclus, In Rem Publicam Platonis, quoted from Bidez & Cumont, Les Mages Hellenisees, t. II, p. 159.
[16] Stromata, Book V, Chap 14
[17] Plato and Totalitarianism.
[18] Plato’s Royal Lies.
[19] In his first book concerning sleep, according to Josephus, Against Apion, I:22.
[20] Talmud (Yoma 69a) and Antiquities (XI, 321-47).

Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Sumber: http://www.terrorism-illuminati.com/

Advertisements
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 796,447 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: