Archive for May 19th, 2011

Syekh Yusuf

Posted on 19/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

makam Syekh Yusuf

Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Yaj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Tapi, ia lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf. Sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI.

Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 03 Juli 1626 dengan nama Muhammad Yusuf. Nama itu merupakan pemberian Sultan Alauddin, raja Gowa, yang merupakan karib keluarga Gallarang Monconglo’E, keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja.

Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang mendirikan pengajian pada tahun 1640.

Syekh Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di Banten dan sempat belajar pada seorang guru di Banten. Di sana ia bersahabat dengan putra mahkota Kerajaan Banten, Pengeran Surya. Saat ia mengenal ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri, melalui karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya.

Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.

Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.

Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali Al-Zahli.. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Assa’adah Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji.

Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah & Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.

Melihat jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu seperti itu, disebut dalam lontara versi Gowa berupa ungkapan (dalam bahasa Makassar): tamparang tenaya sandakanna (langit yang tak dapat diduga), langik tenaya birinna (langit yang tak berpinggir), dan kappalak tenaya gulinna (kapal yang tak berkemudi).

Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.

Terlibat pergerakan nasional

Setelah hampir 20 tahun menuntut ilmu, ia pulang ke kampung halamannya, Gowa. Tapi ia sangat kecewa karena saat itu Gowa baru kalah perang melawan Belanda. Di bawah Belanda, maksiat merajalela. Setelah berhasil meyakinkan Sultan untuk meluruskan pelaksanaan syariat Islam di Makassar, ia kembali merantau. Tahun 1672 ia berangkat ke Banten. Saat itu Pangeran Surya sudah naik tahta dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa.Di Banten ia dipercaya sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama. Bahkan ia kemudian dinikahkan dengan anak Sultan, Siti Syarifah. Syekh Yusuf menjadikan Banten sebagai salah satu pusat pendidikan agama. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, termasuk di antaranya 400 orang asal Makassar di bawah pimpinan Ali Karaeng Bisai. Di Banten pula Syekh Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara.

Seperti banyak daerah lainnya saat itu, Banten juga tengah gigih melawan Belanda. Permusuhan meruncing, sampai akhirnya meletus perlawanan bersenjata antara Sutan Ageng di satu pihak dan Sultan Haji beserta Kompeni di pihak lain. Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar.Namun karena kekuatan yang tak sebanding, tahun 1682 Banten menyerah.

Maka mualilah babak baru kehidupan Syekh Yusuf; hidup dalam pembuangan. Ia mula-mula ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta), tapi karena pengaruhnya masih membahayakan pemerintah Kolonial, ia dan keluarga diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684.

Bukannya patah semangat, di negara yang asing baginya ini ia memulai perjuangan baru, menyebarkan agama Islam. Dalam waktu singkat murid-muridnya mencapai jumlah ratusan, kebanyakan berasal dari India Selatan. Ia juga bertemu dan berkumpul dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi’an, ulama besar yang dihormati dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf.

Ia juga bisa leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya di negeri ini. Kabar dari dan untuk keluarganya ini disampaikan melalui jamaah haji yang dalam perjalan pulang atau pergi ke Tanah Suci selalu singgah ke Srilanka. Ajaran-ajarannya juga disampaikan kepada murid-muridnya melalui jalur ini.

Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; lokasi pembuangannya diperjauh, ke Afrika Selatan.

Menekuni jalan dakwah

Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar).Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam di Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru (mister teacher).

Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut.

Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagibertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun.

Ia tinggal di Tanjung Harapan sampai wafat tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan bangunan peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.

Syekh Yusuf di Sri Lanka

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Syekh Yusuf di Afrika Selatan
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Sebagai seorang ulama syariat, sufi dan khalifah tarikat dan seorang musuh besar Kompeni Belanda, Syekh Yusuf dianggap sebagai `duri dalam daging` oleh pemerintah Kompeni di Hindia Timur. Ia diasingkan ke Srilanka, kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan, dan wafat di pengasingan Cape Town (Afrika Selatan) pada tahun 1699. Pada zamannya (abad ke-17), ia dikenal pada empat tempat, yaitu Banten dan Sulawesi Selatan (Indonesia), Srilanka, dan Afrika Selatan yang berjuang mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan kulit.

Murid-murid Syekh Yusuf yang menganut tarekat Khalwatiyah terdapat di Banten, Srilanka, Cape Town, dan beberapa negara di sekitarnya. Mayoritas orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan masih mengamalkan ajarannya sampai sekarang ini.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Syekh Yusuf )

Sejarah Para Khalifah: Al-Mutawakkil Alallah II, Khalifah yang Terakhir

Posted on 19/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Al-Mutawakkil Alallah II, Abu Al-Izz bernama Abdul Azis bin Ya’kub bin Al-Mutawakkil Alallah. Dia lahir pada 819 H, ibunya bernama Haj Malik, putri seorang tentara. Ayahnya tidak pernah menjadi khalifah.

Al-Mutawakkil II tumbuh dan berkembang secara terhormat. Ia banyak dimintai pendapat dan sangat dicintai masyarakat dan para pembesar negara karena memiliki akhlak yang baik dan mulia. Dia dikenal sebagai khalifah yang rendah hati. Tingkah lakunya tenang dan menyejukkan. Wajahnya selalu ceria ketika berjumpa dengan siapa saja.

Selain itu, Al-Mutawakkil II juga dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan luas, banyak menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan. Dia dinikahkan oleh pamannya, Al-Mustakfi, dengan putrinya. Istrinya melahirkan anak yang saleh.

Tatkala Al-Mustanjid menderita sakit yang berlangsung lama, dia mewasiatkan kekhalifahan kepada Al-Mutawakkil II. Dan pada saat Al-Mustanjid meninggal dunia, Al-Mutawakkil II langsung diangkat sebagai khalifah (1485-1507 M) pada Senin 16 Muharram yang dihadiri oleh sultan, para hakim dan para pembesar.

Awalnya ia ingin menggunakan gelar Al-Musta’in atau Al-Mutawakkil, akhirnya dia memilih Al-Mutawakkil Alallah. Setelah itu dia kembali ke kediamannya dengan diiringi oleh para hakim dan pembesar. Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah baginya. Namun pada akhir pemerintahannya, Al-Mutawakkil II kembali ke benteng tempat Al-Mustanjid dulu pernah tinggal.

Pada tahun ini, Sultan Al-Asyraf Qayatabay melakukan perjalanan ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting karena lebih dari seratus tahun para sultan tidak pernah melakukan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Khalifah Al-Mutawakkil Alallah II wafat pada Rabu akhir Muharram 903 H. Dia mewasiatkan kekhalifahan kepada anaknya, Ya’kub, yang bergelar Al-Mustamsik Billah.

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Tarikh Al-Khulafa’, tidak meneruskan riwayat dua khalifah berikutnya, yakni Khalifah Al-Mustamsik Billah dan Al-Mutawakkil Alallah III. Ia menutup tulisannya dengan Khalifah Al-Mutawakkil Alallah II ini.

Al-Mustamsik Billah

Selanjutnya, kekhalifahan dipegang oleh Khalifah Al-Mustamsik Billah. Joesoef Sou’yb dalam bukunya Sejarah Daulah Abbasiyah III menyebutkan, Khalifah Al-Mustamsik berkuasa selama tiga tahun (1507-1510 M).

Al-Mutawakkil Alallah III

Setelah itu, kekuasaan diambil alih oleh Muhammad Al-Mutawakkil Alallah III. Ia berkuasa dari 1510 M hingga 1517 M. Dia merupakan khalifah terakhir Bani Abbasiyah di Mesir.

Al-Mutawakkil III didepak sebelum akhir masa pemerintahannya pada 1516 oleh pendahulunya, Al-Mustamsik. Namun kedudukannya segera dipulihkan kembali pada tahun berikutnya.

Pada 1517, Sultan Salim I dari Turki Utsmani berhasil mengalahkan kekhalifahan Mamluk dan menjadikan Mesir bagian dari negaranya. Al-Mutawakkil III dibawa ke Istanbul dan terjadilah timbang resmi jabatan khalifah.

Konon, saat itu juga Al-Mutawakkil III menyerahkan jabatan khalifah dan lambangnya, pedang dan mantel Nabi Muhammad SAW kepada Sultan Salim I. Sejak saat itu, para penguasa Turki Utsmani dipanggil juga dengan sebutan khalifah, yang sebelumnya mereka menamakan diri sebagai Sultan.

Dengan demikian, berakhirlah era kekuasaan Daulah Abbasiyah di Mesir. Tongkat kekhalifahan beralih ke tangan penguasa Turki Utsmani. Sebagian sejarawan menganggap para penguasa di Istanbul ini bukan khalifah tapi kesultanan. Namun tak bisa dihindari, yang berkuasa penuh kala itu adalah kesultanan Turki Utsmani.

Para penguasa Muslim di beberapa wilayah, menyatakan tunduk kepadanya. Oleh sebab itu, tidak salah kalau pemerintahan Turki Utsmani adalah kekhalifahan Islam yang diakui kaum Muslimin secara keseluruhan.

Hal ini berlangsung hingga 3 Maret 1924 Masehi, ketika presiden pertama Turki sekuler, Mustafa Kamal Ataturk,  menghapuskan sistem khilafah dari muka bumi dan menggantinya dengan sistem sekuler hingga kini.

sumber: republika.co.id

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Para Khalifah: Al-Mutawakkil Alallah II, Khalifah yang Terakhir )

Sejarah Para Khalifah: Al-Mustakfi Billah, Khalifah yang Saleh

Posted on 19/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Al-Mustakfi Billah, Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Al-Mutawakkil. Dia dibaiat sebagai khalifah (1446-1455 M) berdasarkan wasiat saudara kandungnya, Al-Mu’tadhid Billah. Ayahnya menuliskan teks surat pengangkatan dirinya sebagai berikut:

“Ini surat kesaksian yang saya tulis untuk jiwa bersih yang Allah jaga dan Allah lindungi dari berbagai kotoran. Pemuka dan junjungan kami, jiwa yang bersih dan suci, yang mengalir dalam dirinya sifat kepemimpinan dan kemuliaan, serta darah Bani Abbas dan kekerabatan dengan Rasulullah. Amirul Mukminin Al-Mu’tadhid Billah Abu Al-Fath Dawud, yang Allah kokohkan agama dengannya dia telah mewasiatkan agar khilafah ini dipegang oleh saudara kandungnya, junjungan kami Abu Ar-Rabi’ Sulaiman Al-Mustakfi Billah. Semoga Allah memberikan keagungan dalam dirinya dalam mengurusi kekhilafahan yang diagungkan ini.”

Al-Mu’tadhid menjadikan saudaranya sebagai khalifah setelah dirinya menjadi imam kaum Muslimin. Ini sebuah wasiat yang sah menurut syariat, yang resmi dan diridhai sebagai upaya untuk memenuhi kewajiban dirinya demi mewujudkan kemaslahatan orang-orang yang mentauhidkan Allah. Juga sebagai usaha meneladani sunnah para Khulafaur Rasyidin dan para imam yang mendapat petunjuk.

Ini semua dilakukan karena Al-Mu’tadhid mengetahui tentang kebaikan agama, keluhuran akhlak, dan keadilannya. Al-Mustakfi memiliki kemampuan yang memadai untuk memangku jabatan ini. Al-Mu’tadhid merasa yakin, orang yang dia pilih adalah orang yang paling takwa di sisi Allah dan paling berhak menerimanya.

Menurut Al-Mu’tadhid, jika tidak menentukan pilihan, maka hal itu akan banyak merepotkan ahlul halli wal aqdi dalam menetapkan imam setelah dirinya. Dia segera berwasiat tentang khilafah ini agar mereka terbebas dari beban, dan perkara ini sampai kepada orang yang benar-benar berhak.

Khalifah Al-Mustakfi adalah seorang khalifah Bani Abbas yang memiliki nilai-nilai kesalehan. Dia sangat taat beragama dan dikenal sebagai ahli ibadah. Gemar membaca ayat Allah, senantiasa mengerjakan shalat, serta sering bermunajat kepada Allah. “Saya tidak pernah melihat Sulaiman sejak masa kecilnya melakukan dosa-dosa besar,” kata Al-Mu’tadhid tentang perilaku saudaranya itu.

Menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, ayahnya memiliki posisi terhormat, pandangannya dalam dan sangat dihormati. Mereka besar di lingkungan dan di tengah kemuliaan akhlak dan perilaku. Keluarganya adalah keluarga yang baik dalam ibadah dan muamalah. “Saya tidak pernah melihat sebuah keluarga setelah keluarga Umar bin Abdul Azis yang memiliki nilai-nilai ibadah yang demikian kokoh seperti keluarga khalifah ini,” tulis Suyuthi.

Al-Mustakfi wafat pada Jumat akhir Dzulhijjah 854 H dalam usia 63 tahun. Sedangkan ayah Imam As-Suyuthi, meninggal 40 hari setelah meninggalnya Khalifah Al-Mustakfi. Ketika dimakamkan, Sultan Azh-Zhahir (Jaqmaq) mengiringinya ke pemakaman dan membawa keranda jenazah Khalifah.

sumber : republika.co.id

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Para Khalifah: Al-Mustakfi Billah, Khalifah yang Saleh )

Sejarah Para Khalifah: Al-Mustanjid Billah, Ditawan Hingga Wafat

Posted on 19/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Al-Mustanjid Billah, Abu Al-Mahasin, Yusuf bin Al-Mutawakkil Alallah dilantik sebagai khalifah (1460-1485 M) setelah saudaranya, Al-Qaim Biamrillah, wafat. Yang menjadi sultan saat itu adalah Al-Asyraf Inal.

Inal meninggal pada 865 H. Sebagai penggantinya naiklah anaknya, Ahmad, dengan gelar Al-Muayyid. Namun Khasyqadam merebut kesultanan dari tangan Al-Muayyid.

Al-Muayyid ditangkap pada Ramadhan di tahun pengangkatannya sebagai sultan. Khalifah Al-Mustanjid kemudian mengangkat Khasyqadam sebagai sultan baru dan memberinya gelar Azh-Zhahir. Dia menjadi sultan hingga akhir hayatnya, yaitu pada Rabiul Awal 872 H.

Setelah itu diangkatlah Balbay sebagai sultan dengan gelar Azh-Zhahir juga. Namun dua bulan setelah duduk di kursi kesultanan, Balbay didepak oleh para tentara. Sebagai penggantinya, khalifah menunjuk Tamrigh, juga dengan gelar Azh-Zhahir. Tamrigh juga diturunkan secara paksa dari kursi kesultanan.

Khalifah akhirnya mengangkat Qayatabay sebagai sultan dengan gelar Al-Asyraf. Kesultanan menjadi stabil di dalam genggamannya. Qayatabay dikenal sebagai sultan yang pemberani dan kuat. Satu hal yang belum pernah terjadi sejak masa kesultanan An-Nashir Muhammad bin Qalawun. Buktinya adalah ia pernah mengadakan perjalanan dari Mesir ke Furat dan hanya ditemani oleh sekelompok kecil tentara tanpa pengawalan ketat.

Di antara catatan emas yang pernah dilakukan khalifah adalah dia tidak pernah mengangkat seroang pun di Mesir untuk menduduki posisi-posisi yang sifatnya keagamaan, seperti hakim, guru dan pengajar di masjid kecuali orang-orang yang diangkat tadi pasti akan melakukan perbaikan-perbaikan yang sangat penting setelah sebelumnya kacau-balau. Al-Mustanjid tidak pernah mengangkat seorang hakim atau syekh tertentu atas dasar uang dan gaji.

Di awal pengangkatannya sebagai sultan, Azh-Zhahir langsung didatangi oleh penguasa Syam, Hatim. Ini terjadi karena adanya kesepakatan antara Hatim dengan tentara yang ada di kalangan sultan. Setelah mendengar kedatangan Hatim, Azh-Zhahir meminta khalifah, para hakim yang empat dan tentara untuk datang ke benteng.

Ketika semua yang datang meninggalkan benteng, Azh-Zhahir melarang Khalifah Al-Mustanjid kembali ke kediamannya. Al-Mustanjid tetap tinggal di tempat itu hingga meninggal dunia pada Sabtu 14 Muharram 888 H, setelah sebelumnya menderita sakit selama dua tahun. Jenazahnya dishalatkan di benteng. Setelah itu dibawa ke makam para khalifah. Saat meninggalnya, Al-Mustanjid berusia 90 tahun atau lebih.

sumber : republika.co.id

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Para Khalifah: Al-Mustanjid Billah, Ditawan Hingga Wafat )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 913,604 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: