Archive for May 11th, 2011

Aminah binti Wahab

Posted on 11/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Tokoh |

images1

Aminah binti Wahab (???-577) (Bahasa Arab: آمنة بنت وهب) adalah ibu yang melahirkan Nabi Muhammad.

Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah. Dialah Aminah binti Wahab. Ibu dari Nabi kita Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)yang diutus ALLAH sebagai rahmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa ALLAH Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang rasul mulia dan nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) tentang nasabnya.
“ALLAH telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

Dengarlah sabdanya lagi, “Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang rasul atau nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi ummat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini. “Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) iaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fizikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.

Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

Kelahiran

Kurang lebih enam setengah abad setelah kenabian Isa putra Maryam, di Tanah Hijaz (Mekkah), tepatnya pada qabilah Quraisy, lahirlah bayi perempuan nan cantik, tepatnya dari Bani Zuhrah. Bayi mungil itu kemudian diberi nama Aminah, putri Wahab seorang bangsawan Quraisy yang berkedudukan tinggi di antara kaumnya.

Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab.
Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin Abduddar bin Qushay.

Nenek moyang Aminah adalah orang-orang yang memiliki kemuliaan yang belum pernah dimiliki oleh qabilah lain. Mereka adalah orang-orang suci yang bersih dari perbuatan tercela dan tidak pernah tergoda kehormatannya.

Oleh karena kesucian dan kemulian yang dimiliki nenek moyangnya itulah, maka Rasulullah dengan bangga pernah menyatakan dalam sabdanya :

“… Dan selanjutnya Allah memindahkan aku dari tulang sulbi yang baik kedalam rahim yanng suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik di antara keduanya.” (Hadist Syarif).
images3

Pernikahan Aminah

Setelah menginjak dewasa, Aminah berkembang menjadi gadis yang amat cantik, melebihi kecantikan gadis-gadis Makkah pada saat itu. Melihat anak gadisnya telah beranjak dewasa, ayahnya segera mencarikan jodoh untuknya. Akhirnya yang paling cocok dan dianggap sekufu dengan Aminah adalah keponakannya sendiri, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib. Abdullah adalah anak ke 10 dari Abdul Muthalib hasil perkawinannya dengan Fathimah binti ‘Amr al-Makhzumy dari Bani Makhzum. Bani Makhzum merupakan tulang punggung kekuatan qabilah Quraisy.

Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570)

Sedangkan Abdul Muthalib adalah seorang tokoh Quraisy yang mendapat kehormatan lebih dari kaumnya, dan keagungannya diakui oleh penduduk Quraisy. Ia sangat disegani oleh semua lapisan masyarakat Makkah pada waktu itu karena sikapnya yang bijaksana.

Banyak orang mengatakan bahwa Aminah dan Abdullah itu sangat sekufu dan serasi bila dijodohkan. Yang wanitanya cantik sedangkan prianya tampan.

Cahaya di dahi

ALLAH memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fatimah binti Murr, Laila al Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.

Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah – yang waktu itu sebagai pemimpin bani Zuhrah – untuk dinikahkan dengan Aminah.

Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Makkah. Paling memukau dan paling terkenal di Makkah. Tak hairan, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Makkah yang patah hati.”

Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya. Apa jawab Ruqayah, “Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”

Fatimah binti Murr yang ditanyai juga berkata, “Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, kerana itu aku ingin memilikimu. Namun ALLAH tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendakiNya.”

Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila al Adawiyah. “Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu kerana itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengahwini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”

Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapanya. Kelahirannya sebagai khabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam. Dari suara ghaib ia mendengar, “Engkau sedang mengandung pemimpin ummat.”

Masyarakat di Makkah selalu membicarakan, kedatangan nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendita Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan ALLAH telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. seperti disebutkan dalam Surah al Baqarah ayat 129.

“Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang rasul dari kalangan mereka.”

Dan terwujudlah khabar gembira dari Nabi Isa ‘Alaihissalam. seperti tersebut dalam Surah as-Shaff ayat 6. “Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad)”.
teratai

Bermimpi Melahirkan Orang Terkemuka

Beberapa minggu setelah pernikahan suci itu, Aminah bermimpi. Mimpinya itu, seolah-olah ia melihat sinar yang terang benderang mengelilingi dirinya. Ia juga seolah-olah melihat istana-istana di Bashrah dan Syam. Seolah-olah dia juga mendengar suara yang ditujukan kepadanya: “Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!”

Seperti kebanyakan penduduk Quraisy lainnya, pekerjaan Abdullah adalah berdagang. Ia sering mengembara ke negeri Syam atau ke negeri-negeri lainnya. Kegembiraan yang baru saja meluap dengan kehamilan istrinya, kini serta merta menjadi kesedihan yang cukup dalam karena ia harus segera bergabung dengan kafilah Quraisy untuk melakukan perdaganngan ke Gaza dan Syam. Entah kenapa kali ini ia merasa amat berat meninggalkan rumah. Biasanya ia berangkat berdagang dengan semangat yang tinggi. Kali ini sepertinya ia telah mempunyai firasat, pergi bukan untuk kembali. Namun pergi untuk selama-lamanya dari pangkuan istrinya yang tercinta. Namun kegalauan hatinya tidak disampaikannya kepada Aminah. Ia takut kegalaluan hatinya akan merisaukan hati Aminah, sehingga akan mengganggu janin dalam kandungannya.

Akhirnya Abdullah tetap pergi meski dengan hati yang tertambat di rumah. Hatinya begitu sedih, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipi. Air mata perpisahan, hanya Allah-lah yang mengetahui, apakah suami istri itu akan berjumpa lagi atau tidak. Hanya saja mereka berdua merasakan bahwa saat itu hati keduanya sama-sama tidak menentu.

Sang Suami Meninggal Dunia

Pada suatu hari ketika Aminah sedang berada di muka rumahnya, ia melihat nun jauh di sana titik-titik hitam rombongan Quraisy yang sedang pulang. Saat itu tak terlintas dalam pikirannya kecuali keselamatan suaminya. Ketika rombongan kafilah semakin dekat, hati Aminah bertambah resah karena belum ada suatu tanda pun mengenai suaminya. Hatinya bergejolak karena dirasa iring-iringan kafilah itu berjalan amat lambat bagaikan iring-iringan semut. Karena tidak sabar, ia menyuruh pembantu mertuanya yang bernama Barakah Ummu Aiman untuk mencegah kafilah dan mencari kepastian kabar suaminya.

Akhirnya Aminah beranjak ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Belum lama ia membaringkan badannya, terdengar ketukan pintu. Dengan hati yang berdebar dan tubuh terasa terbang, Aminah segera membukakan pintu. Tak ada pikiran lain saat itu kecuali suaminya. Kekecewaan lagi-lagi menerpa hati Aminah, sebab orang yang datang bukanlah orang yang dirindukannya, melainkan mertuanya dan ayahnya sendiri, Wahab bin Abdi Manaf.

Melihat rona kekecewaan yang tergambar jelas di wajah menantunya ini, Abdul Muthalib merasa amat kasihan. Kemudian dengan hati-hati disampaikannya berita mengenai Abdullah. Maka Aminah mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Kata Abdul Muthalib: “Aminah… tabahkanlah hatimu dalam menghadappi persoalan-persoalan yang mencemaskan. Kafilah yang selama ini kita tunggu-tunggu telah kembali. Dan salah satu anggota kafilah memberitahukan bahwa suamimu, Abdullah mengalami gangguan di tengah perjalanan, hingga saat ini ia belum bisa pulang kembali ke Mekkah. Ia sekarang sedang berada di rumah salah seorang pamannya dari Bani Makhzum. Menurut kabar, suamimu mendadak sakit dan setelah sembuh ia pasti akan segera sampai di rumah dengan selamat..!”

Mendengar berita yang sangat tidak mengenakkan itu, Aminah hanya bisa pasrah dan berdoa. Harapannya seakan pupus untuk segera bertemu dengan suaminya, karena jarak yang memisahkan antara Mekkah (Hijaz) dan Madinah (Yatsrib) tidaklah dekat. Kini yang bisa dilakukan Aminah hanyalah memulai masa penantian.

Setelah dua bulan, datanglah kabar yang membuat hatinya luluh lantak karena Al Harits yang disuruh menyusul kemballi Abdullah, memberitahukan bahwa suaminya telah meninggal dunia, sedangkan jenazahnya dikuburkan di tempat itu juga. Penantian dan kerinduan yang selama ini ia pendam ternyata tidak tertumpahkan. Belum lama ia mengecap kebahagiaan bersama suami yang dicintainya, kini ia telah ditinggalkan untuk selama-lamanya.
images7

Abrahah Datang Saat Kelahiran Nabi

Ketika kelahiran putranya sudah dekat, tiba-tiba mertuanya menyuruhnya berkemas-kemas untuk mengungsi keluar kota Mekkah, menyelamatkan diri bersama-sama orang Quraisy lainnya. Mereka beramai-ramai mengungsi ke sebuah perbukitan yang tidak jauh dari kota Mekkah.

Mengapa terjadi pengungsian besar-besaran dari kota Mekkah? Ternyata ketika itu telah tersiar kabar bahwa penguasa Habasyah dari Yaman yang bernama raja Abrahah akan mengerahkan pasukannya yang begitu besar dan kuat ke kota Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Abdul Muthalib mengetahui hal itu karena sebelumnya ia telah bertemu langsung dengan raja Abrahah untuk meminta kembali 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan dzalim itu.

Aminah cukup heran mendengar seruan mertuanya untuk mengungsi. Bukanlah lebih baik melawan orang dzalim yang hendak menghancurkan rumah suci Ka’bah? Maka keheranan itu ditanyakan kepada mertuanya: “Paman…saya mendengar orang-orang Quraisy, Kinanah, Hudzail dan semua orang yang tinggal di tanah suci ini telah bertekad hendak berperang melawan setiap penyerbu. Apa yang menghalangi mereka sehingga mereka berubah niat, hendak meninggalkan Ka’bah serta tidak mau membelanya?”.

Jawab Abdul Muthalib: “Anakku, kita tidak mempunyai kekuatan yang seimbang dengan kekuatan mereka. Jika kita memaksakan diri untuk melawan mereka dengan senjata, maka kita akan hancur dan menderita kekalahan dengan kerugian yang besar. Rumah suci itu ada yang punya, pemiliknyalah yang akan melindunginya!”

Aminah sebenarnya enggan pergi kemana-mana. Ia ingin melahirkan di rumahnya sendiri, di dekat Ka’bah. Kini hatinya kembali risau, memikirkan nasib anaknya yang mungkin akan lahir di luar kota suci. Namun akhirnya ia berhasil meyakinkan diri sebagaimana keyakinan mertuanya bahwa Baitullah pasti akan memperoleh perlindungan dari pemiliknya. Kini ia justru bertekad hendak meninggalkan rumah untuk mengungsi, demi keselamatan bayinya. Biarlah Allah yang menentukan nasib dirinya, putranya dan rumah suci-Nya.

Ketika petang menjelang, tiba-tiba datang seseorang ke rumahnya, ia memberitahukan bahwa Abrahah telah gagal menyerbu ka’bah. Allah tidak meridhoi mereka yang hendak merusak rumah suci tersebut. Bahkan kemurkaan Allah tergambar jelas dengan adanya adzab yang menimpa Abrahah dan pasukannya. Sebagian besar pasukan Abrahah tewas tertembus batu-batu kecil yang dijatuhkan burung Ababil. Sedangkan sisanya lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.

Kurang lebih lima puluh hari kemudian, Aminah melahirkan bayi lelaki yang bersinar penuh keagungan. Bayi yang kemudian menjadi Rasul Allah ini dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah hari Senin pagi, tanggal 12 Rabi’ul Awwal, permulaann tahun dari peristiwa gajah dan 450 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan , bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April 571 Masehi. Aminah melahirkan hanya ditemani oleh pembantu setianya, Ummu Aiman.

Munculnya keanehan saat Aminah Melahirkan

Berbagai keanehan terjadi mengiringi kelahiran Rasulullah SAW. Di antara keanehan yang bersifat ghaib adalah: tertutupnya pintu langit untuk para jin dan iblis. Sebelum Aminah melahirkan, jin dan iblis bebas naik turun ke langit, untuk mencuri pembicaraan malaikat. Namun sejak lahirnya manusia paling sempurna di dunia ini, pintu langit tertutup untuk setan yang terkutuk.

Ada juga sebagian riwayat yang mengemukakakn bahwa Aminah melahirkan bayinya sudah dalam keadaan dikhitan, sedangkan Aminah sama sekali tidak mendapatkan nifas, setelah melahirkan. Keanehan lain juga sempat disaksikan oleh Aminah sendiri. Kata Aminah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad: “Setelah bayiku keluar, aku melihat cahaya yang keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam!” Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.

Beberapa bukti kerasulan, bertepatan dengan kelahiran beliau, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra dan padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar istana Buhairah. Setelah itu, gereja-gereja tersebut ambles ke tanah. Demikian diriwayatkan dari Al-Baihaqy.

Setelah melahirkannya, dia menyuruh orang untuk memberitahukan kepada mertuanya tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muthalib dengan perasaan sukacita kemudian menggendong cucunya yang baru lahir dan membawanya ke Ka’bah seraya bersyukur dan berdoa kepada-Nya. Ia memilihkan nama Muhammad bagi cucunya. Nama yang sama sekali belum dikenal di kalangan Arab.

Disusui Wanita Kampung

Sebagaimana tradisi orang Arab yang memberikan bayinya untuk disusui kepada wanita kampung, maka Aminah harus pula melepaskan anaknya untuk disusui orang lain. Namun, sebelum melepaskan anaknya kepada Halimah binti Abi Dua’ib as Sa’diah, ia tetap menyusui sendiri bayinya itu. Setelah dua tahun, tugas Halimah selesai, Aminah menerima kembali anaknya.

Selanjutnya ia membawa Muhammad ke Yatsrib untuk berziarah ke kuburan suaminya, yang telah 7 tahun berbaring di sana. Untuk itu, ia mempersiapkan segala sesuatu agar dia dan anaknya dapat ikut bersama kafilah yang akan membawa dagangan. Setelah tinggal di Yatsrib selama sebulan lamanya, Aminah bersiap-siap untuk pulang bersama kafilah yang akan kembali ke Mekah. Namun di tengah perjalanan, sesampai si Abwa’, sebuah desa antara Madinah dan Mekah (kira-kira 37 km dari Madinah), Aminah, ibunda Rasulullah SAW menderita sakit. Sakitnya itu membawa kematiannya. Ia dikubur di tempat itu juga. Muhammad SAW ketika itu berumur sekitar 6 tahun.

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Diriwayatkan oleh Aisyah dengan katanya, “Rasulullah (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda lalu mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis kerana tangisnya.”

Betapa harumnya nama Aminah, dan betapa kekalnya namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung sebagai ibu Baginda Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para nabi, dan sebagai rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung rasul yang mulia. Semoga ALLAH memberkahinya.

Mari kita kenali nabi kita sampai ke ibu & bapaknya. Yang tak kenal sulit untuk mencintainya.

Semoga ALLAH Ta’ala menjadikan kita sebagai ummat Beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) yang diridloi dunia sampai akhirat. Amiin.

***

[Sumber: Ensiklopedi Muslimah karya KH. A. Aziz Masyhuri]

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Aminah binti Wahab )

Halimah As-Sa’diyah

Posted on 11/05/2011. Filed under: Rasulullah SAW, Tokoh |

images25
Halimah As-Sa’diyah (Arab:حليمة السعدية) adalah ibu susu dari Nabi Muhammad. Ia dan suaminya berasal dari suku Hawazin. Halimah As-Sa’diyah memiliki beberapa nama, yaitu Halimah binti Abdullah dan Halimah bint Abi Dhuayb.

Inilah sosok wanita dari Bani Sa’ad yang benar benar mulia dan beruntung. karena dia yang menyusui Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin abdul Izzi bin Rifa’ah As Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah, dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel. Mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Mencari anak susuan

Halimah as Sa’diyah adalah wanita arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Halimah menceritkan tentang penyusuannya dengan panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan “suatu ketika aku keluar bersama para wanita bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami mengendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetespun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami yang selalu menangis karena rasa lapar. Puting kami tidak lagi menyediakan apa yang mencukupinya.

Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu berharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekkah. Setiap wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ‘ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya?’ oleh karena itu, kami tidak tertarik. tidak ada dari wanita wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara dengan suamiku. ‘Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku akan pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya’. Ia berkata ‘Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu’. aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.

images12
Berkah Yang Melimpah

Berkah melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu alaihi wa salam. Akan tetapi Halimah dan suaminya merasa lapar dan haus. Namun darimana mereka mendapatkan makanan karena unta betinanya susunya tidak berisi?
Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga ia puas dan kenyang. Sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata,’Demi Allah , wahai Halimah. Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah’.

Aku mengatakan,’Demi Allah, itulah yang kuharapkan’
Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai, Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tunggangnku jauh lebih cepat daripada keledai keledai orang lain, sehingga para kawanku berkata padaku,’Wahai anak serigala,sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?
Kukatakan pada mereka,’Ya, Demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu’. mereka mengatakan, ‘Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu’

Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar padanya dari segala penjuru. keberkahan meliputinya dalam segala hal Kambing kambingnya selalu keluar menuju ke tempat penggembalaan bersama kambing kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing kambing yang lain pulang dalam keadaan sebagaimana ketika pergi. Sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka, ‘Sial kalian! kalian pergi menggembala sebagaimana penggembala anak perempuan Abu Dzuaib. akan tetapi hasilnya sangat berbeda’.
Demikianlah hari hari Halimah hingga berjalan selama dua tahun.

Kembali Mengasuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam

Setelah menyusuinya selama 2 tahun, Halimah harus membawanya pulang kembali ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Makkah al Mukarramah. Halimah membawanya pada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besarnya berkah pada diri Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikian suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya, Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya.
Demikianlah, Nabi Shalallahu alaihi wa salam tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadinya peristiwa ‘pembelahan dada’. Setelah kejadian ini Halimah merasa takut sehingga mengembalikannya kepada ibu kandungnya.

Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya, ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad Shalallahu alaihi wa salam kepada seluruh manusia, maka Halimah as Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

Kedudukan Halimah

Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daripada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau Shalallahu alaihi wa salam yang sangat menghormati Halimah, yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah dengan berteriak “Ibuku, Ibuku” lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya.

Wafatnya

Halimah masuk Islam dan berhijrah. Ia meninggal di Madinah Munawwarah, lalu dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah Radhiallahu anha sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para shahabat nabi yang lain (Abu Fathimah)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Halimah As-Sa’diyah )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 875,820 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: