Archive for May 9th, 2011

Itik berkaki satu

Posted on 09/05/2011. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, “Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?”

“Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam.”

Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.

“Lihatlah,” kata Nasrudin puas, “Di sini itik hanya berkaki satu.”

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. “Subhanallah,” katanya, “Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga.”

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Itik berkaki satu )

Keledai membaca

Posted on 09/05/2011. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Keledai membaca )

Keadilan dan Kelaliman

Posted on 09/05/2011. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Keadilan dan Kelaliman )

Gerakan Mendua Soekarno

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Menarik untuk disimak bahwa meskipun Soekarno amat berapi-api dalam melawan kolonialisme, imperialisme dan elitisme, sebenarnya perlawanan itu tidak total, dalam arti tidak sepenuhnya dimaksudkan untuk menuntaskan ketiga tantangan itu. Hal ini tampak misalnya ketika ia mendirikan PNI. Di satu pihak memang dengan jelas digariskan bahwa tujuan utama PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Tetapi di lain pihak cita-cita kemerdekaan itu tidak disertai hasrat untuk mengubah sistem politik yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial dengan sistem politik yang sama sekali baru. Alih-alih perubahan total, Soekarno-sebagaimana banyak aktivis pergerakan waktu itu-berkeinginan bahwa negeri yang merdeka itu nanti akan ditopang oleh sistem yang mirip dengan sistem yang menopangnya saat terjajah. Hanya elitenya akan diganti dengan elite baru, yakni elite pribumi.
Pemakaian Soekarno atas gagasan-gagasan Marxis amat selektif. Ia tertarik dengan pengertian proletariat-nya Marx, tetapi ia memperluasnya menjadi Marhaenisme. Di satu pihak perluasan itu membuat revolusi menjadi lebih jauh daripada sekadar pertarungan antara buruh pabrik melawan para kapitalis, tetapi di lain pihak hal ini juga membuat fokus revolusi menjadi kabur. Kekaburan ini menjadi bertambah ketika disadari bahwa pemerintah kolonial, yakni pihak yang mau dilawan oleh kaum Marhaen, melibatkan juga banyak sekali pejabat dan pegawai pribumi. Dan dalam hal ini rupa-rupanya Soekarno memang tidak bermaksud mengadakan suatu perubahan total. “Kita berjuang bukan untuk melawan orang kaya,” tulisnya di harian Fikiran Rakjat tahun 1932, “melainkan untuk melawan sistem.”
Betapapun “galak”-nya Soekarno muda dalam menentang kolonialisme dan imperialisme dengan menggunakan prinsip nonkooperasi, ternyata ia tidak selalu konsisten. Sekitar bulan-bulan Agustus-September 1933, sebagaimana dilaporkan oleh pemerintah kolonial, ia menyatakan mundur dari keanggotaan Partindo, memohon maaf, dan meninggalkan prinsip nonkooperasi. Ia bahkan dilaporkan bersedia untuk bekerja sama dengan pemerintah penjajah Belanda. Lepas dari benar atau tidaknya laporan pemerintah itu, berita ini mengagetkan dan mengecewakan para pendukung gerakan kemerdekaan waktu itu. Mereka kecewa karena tokoh perjuangan yang mereka agung-agungkan, telah menyerah. Dalam koran Daulat Ra’jat edisi 30 November 1933 Mohammad Hatta bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “Tragedie-Soekarno.” Hatta amat menyesalkan inkonsistensi serta lemahnya semangat perlawanan tokoh taktik nonkooperasi itu.
Berhubungan dengan sikap anti-elitismenya perlu dilihat bahwa meskipun dalam pidato dan tulisan-tulisannya Soekarno tampak melawan elitisme, tetapi sebenarnya bisa diragukan apakah ia sepenuhnya demikian. Hal ini tampak misalnya dalam pidato yang ia sampaikan pada tanggal 26 November 1932 di Yogyakarta, kota pusat aristokrasi Jawa. Dalam pidato itu Soekarno mengajak setiap orang, apa pun status sosialnya, untuk bersatu demi kemerdekaan. Tetapi sekaligus ia menegaskan bahwa bersama Partindo dirinya tidak menginginkan perjuangan kelas. Dalam tulisan Nasionalisme, Islam dan Marxisme, sebagaimana disinyalir oleh McVey, sebenarnya Soekarno sama sekali tidak sedang bicara dengan rakyat banyak. Dalam tulisan itu ia, menurut McVey, “tidak menyampaikan imbauannya kepada kelompok-kelompok radikal pedesaan dan proletar yang telah memelopori pemberontakan komunis setahun sebelumnya, atau kepada para santri-santri taat pejuang Islam, atau kepada rakyat kebanyakan di dalam maupun di sekitar wilayah perkotaan yang bergabung ke dalam PNI yang didirikan oleh Soekarno saat mereka sedang mencari pegangan di tengah lunturnya nilai-nilai tradisional.” Soekarno, sebaliknya, lebih mengalamatkan imbauannya kepada sesama kaum elite pergerakan, atau kepada apa yang disebut oleh McVey sebagai “elite metropolitan,” yang keanggotaannya biasanya ditentukan oleh tingkat pendidikan Barat yang diperoleh seseorang.
Kelompok elite metropolitan yang dituju oleh tulisan Soekarno itu sebenarnya jumlahnya amat kecil, dan kebanyakan dari mereka tinggal di kota-kota dengan pengaruh Eropa, seperti misalnya Bandung, Surabaya, Medan atau Jakarta. Di satu pihak, kelompok elite ini mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kemerdekaan Indonesia serta telah berpikir dalam rangka identitas nasional dan tidak lagi dalam rangka identitas regional seperti generasi pendahulunya. Di lain pihak, kelompok ini tidak melihat perlunya mengadakan suatu revolusi sosial yang akan secara total mengubah sistem yang ada, dengan segala corak kolonial-kapitalisnya. Yang lebih mendesak menurut para aktivis generasi ini adalah melengserkan elite pemerintahan kolonial asing dan menggantinya dengan elite lokal yang dalam hal ini adalah diri mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka menghendaki adanya revolusi nasional, tetapi bukan revolusi sosial.
Dalam kaitannya dengan rakyat banyak, anggota kelompok elite ini merasakan perlunya dukungan rakyat dalam perjuangan melawan pemerintah kolonial. Pada saat yang sama mereka berupaya mengikis sikap-sikap tradisional rakyat yang mereka pandang sebagai penghalang bagi langkah menuju dunia modern, yakni dunia sebagaimana tercermin dalam kaum kolonialis Barat.
Perasaan yang serupa tampaknya juga dimiliki oleh Soekarno. Bagi Soekarno muda, massa rakyat-betapapun tampak penting sebagai simbol dan sebagai potensi politik-sebenarnya lebih dibutuhkan sebagai sumber dukungan baginya dalam mengambil langkah-langkah politis.
Oleh karena itu tidak mengherankan, sebagaimana pernah dikeluhkan oleh Hatta, jika kontak Soekarno dengan rakyat kebanyakan itu sebenarnya amat sedikit, terbatas pada kontak melalui pidato-pidato yang penuh tepuk tangan dan sorak-sorai.
Dikatakan oleh Bernhard Dahm, penulis biografi Bung Karno, di satu pihak Soekarno menentang sikap rakyat yang mudah pasrah pada nasib, tetapi di lain pihak ia “membutuhkan sorak-sorai tepuk tangan (mereka) guna mendukung rasa percaya dirinya.” Dengan demikian tampak adanya sikap mendua (ambivalen) dalam sikap-sikap Soekarno terhadap kapitalisme, imperialisme maupun elitisme: Di satu pihak ia membenci ketiganya. Di lain pihak, sadar atau tidak, ia melihat bahwa beberapa aspek di dalam ketiganya layak untuk dipertahankan atau setidaknya untuk tidak dikutak-katik.

Lantas, langkah-langkah apa yang diusulkan oleh Soekarno untuk melawan kolonialisme, imperialisme serta elitisme itu? Pertama-tama ia mengusulkan ditempuhnya jalan nonkooperasi. Bahkan sejak tahun 1923 Soekarno sudah mulai mengambil langkah nonkooperasi itu, yakni ketika ia sama sekali menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial. Dalam kaitan dengan ini ia kembali mengingatkan bahwa motivasi utama kolonialisme oleh orang Eropa adalah motivasi ekonomi. Oleh karena itu mereka tak akan dengan sukarela melepaskan koloninya. “Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul nasinya,” kata Soekarno, “jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya.” Oleh karena itu pula ia yakin bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya ditunggu, melainkan harus diperjuangkan.
Langkah lain yang menurut Soekarno perlu segera diambil dalam menentang kolonialisme dan imperialisme itu adalah menggalang persatuan di antara para aktivis pergerakan. Dalam serial tulisan Nasionalisme, Islam dan Marxisme ia menyatakan bahwa sebagai bagian dari upaya melawan penjajahan itu tiga kelompok utama dalam perjuangan kemerdekaan di Indonesia-yakni para pejuang Nasionalis, Islam dan Marxis-hendaknya bersatu. Dalam persatuan itu nanti mereka akan mampu bekerja sama demi terciptanya kemerdekaan Indonesia. “Bahtera yang akan membawa kita kepada Indonesia Merdeka,” ingat Soekarno, “adalah Bahtera Persatuan.”
Pada saat yang sama Soekarno juga mengingatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme itu lebih kompleks daripada perjuangan antara kelompok pribumi melawan kelompok kulit putih. Pada satu sisi perlu dibedakan antara “pihak Sini” yakni mereka yang mendukung, dan “pihak Sana” yakni mereka yang menentang perjuangan kemerdekaan. Pada sisi lain perlu disadari pula bahwa kedua “pihak” itu ada baik di kalangan pribumi maupun di kalangan penguasa kolonial.
Seruan-seruan Soekarno itu pada tanggal 4 Juli 1927 dilanjutkan dengan pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sebagai tujuan utamanya dicanangkan untuk “mencapai kemerdekaan Indonesia.” Guna memberi semangat kepada para aktivis pergerakan, pada tahun 1928 ia menulis artikel berjudul Jerit Kegemparan di mana ia menunjukkan bahwa sekarang ini pemerintah kolonial mulai waswas dengan semakin kuatnya pergerakan nasional yang mengancam kekuasaannya. Ketika pada tanggal 29 Desember 1929 Soekarno ditangkap dan pada tanggal 29 Agustus 1930 disidangkan oleh pemerintah kolonial, Soekarno justru memanfaatkan kesempatan di persidangan itu. Dalam pleidoinya yang terkenal berjudul Indonesia Menggugat dengan tegas ia menyatakan perlawanannya terhadap kolonialisme. Dan tak lama setelah dibebaskan dari penjara pada tanggal 31 Desember 1931 ia bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yakni partai berhaluan nonkooperasi yang dibentuk pada tahun 1931 untuk menggantikan PNI yang telah dibubarkan oleh pemerintah kolonial.

Apa pun latar belakang sikap-sikap itu, pola hubungan elite rakyat yang diambil oleh Soekarno dan para aktivis pergerakan waktu itu rupa-rupanya memiliki dampak yang luas. Ketika pada tahun 1933-1934 Soekarno serta para pemimpin lain ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, gerakan kemerdekaan mengalami kemacetan total. Tanpa adanya elite metropolitan itu seolah-olah rakyat tidak bisa lagi bergerak dalam perjuangan demi kemerdekaan. Pergerakan itu baru muncul kembali ketika para pemimpin yang diasingkan itu dibebaskan oleh Belanda saat mereka terancam oleh kedatangan balatentara Jepang.
Bahkan pada masa revolusi sendiri bisa dipertanyakan apakah sebenarnya rakyat yang ikut gigih bertempur dan berkorban mempertahankan kemerdekaan itu mendapat kesempatan yang maksimal dalam menentukan arah revolusi. Dalam tulisannya mengenai pola hubungan antara elite dan rakyat pada zaman revolusi, Barbara Harvey menyatakan bahwa hubungan itu tidak hanya amat lemah, tetapi juga berakibat cukup fatal bagi revolusi kemerdekaan itu sendiri. Lemahnya hubungan antara para pemimpin nasional di tingkat pusat dengan rakyat di desa-desa, menurut dia, “merupakan faktor utama bagi gagalnya elite kepemimpinan untuk menggalang dan mengarahkan kekuatan rakyat demi terwujudnya tujuan-tujuan revolusi.”
Dengan kata lain, sebenarnya rakyat tidak sepenuhnya dilibatkan dalam proses bernegara. Jika ini benar, mungkin tak terlalu mengherankan jika PKI-meskipun pada tahun 1948 ditekan besar-besaran setelah peristiwa Madiun-dalam waktu singkat berkembang pesat pengikutnya. Ini antara lain karena di dalam PKI banyak rakyat merasakan bahwa justru dalam partai yang menekankan antikemapanan (baca: anti-elite metropolitan) itu kepentingan dan cita-cita mereka mendapat tempatnya. Dalam Pemilu 1955 PKI bahkan berhasil memperoleh suara terbanyak keempat.
Sayang sekali bahwa keterpisahan antara elite dan masyarakat itu pada zaman pasca-Soekarno tidak mengecil, melainkan justru membesar. Meskipun sejak naiknya Orde Baru pada akhir 1960-an aksespara elite kepada rakyat kebanyakan telah terbuka semakin luas-antara lain dengan naiknya tingkat pendidikan, semakin tersedianya sarana-sarana komunikasi dan menguatnya ekonomi-akses itu tak sepenuhnya termanfaatkan. Di bawah orde yang katanya “baru” itu tetap saja rakyat menjadi komponen massal yang dalam proses bernegara, berada di bawah kontrol elite metropolitan sebagai penentu hampir semua kebijakan yang ada.
Tak jarang bahwa upaya-upaya untuk mendorong partisipasi rakyat lebih luas justru harus berhadapan dengan tindakan militer yang keras. Meminjam istilahnya Benedict Anderson, bisa dikatakan bahwa society-nya boleh baru, tetapi state (baca: elite)-nya tetap yang lama. Tak kalah sayangnya tentu saja adalah bahwa tumbangnya sistem pemerintahan militeristik masa Orde Baru tidak disusul dengan tumbuh suburnya demokrasi, melainkan dengan kaotiknya kehidupan politik, yang konon justru dimulai dari kalangan elitenya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sekarang ini di lapisan bawah rakyat merasa semakin kecewa terhadap perilaku, komentar-komentar, serta percekcokan yang lahir di antara kelompok elite politik yang ada.
Ketika pada tahun 2001 bangsa ini memperingati seratus tahun lahirnya Soekarno dan lima puluh enam tahun Proklamasi Kemerdekaan, kita masih dilanda berbagai ketidakpastian, yang salah satu akarnya adalah keterpisahan antara elite dengan rakyatnya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Gerakan Mendua Soekarno )

Gaya Busana Bung Karno

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

presiden soekarno 091

Bagi sebagian kita berbusana mungkin lebih ditujukan kepada memenuhi etika kesopana. Tolok ukur kita adalah sopankah busana yang saya pakai ? Namun hal ini tidak berlaku bagi Putera Sang Fajar. Dimata Bung Karno busana bukan hanya tuntutan sebuah kesopanan tetapi lebih jauh dari itu dalam busana dan cara menggunakannya banyak mengandung nilai seni.

Dalam berbusana Bung Karno sangat teliti, baik warna, model sampai pada bahan yang akan digunakan. Dan dalam kerapian serta keserasian berbusana perhatian Bung Karno bukan hanya pada busana yang ia gunakan, tetapi juga orang-orang disekelilingnya.

Kalau ada wartawan atau kawan berpakaian kurang rapi, misalnya memakai dasi miring, Bung Karno langsung membetulkan. Hal yang sama ia lakukan terhadap duta besar yang cukup akrab dengan Bung Karno. Pria yang senang memakai peci ini kalau berpakaian sangat rapi dan teratur. Ia juga mempunyai tukang jahit langganan. Namanya The, seorang Tionghoa warga negara Indonesia. The ini mempunyai usaha jahit bernama Smart di Jalan Sawah Besar.

Untuk pakaian sehari-hari, Bung Karno juga sangat sederhana. Kalau robek, Bung Karno biasanya meminta untuk dijahit kembali. Setelah itu, ia pakai lagi. Apalagi, kalau pakaian tersebut termasuk favorit Bung Karno. Meski dijahit di sana-sini, pakaian ini tetap dipakai. Demikian pula alas kaki. Bung Karno lebih suka mengenakan sandal lama, bahkan yang hampir rusak.

Kursi rotan yang paling digemari Bung Karno juga kursi rotan yang sudah lama dipakai. Menurut pria yang lahir pada 6 Juni 1901 ini, kursi rotan lama akan mengikuti bentuk tubuh pemakainya. Jadi, lebih enak diduduki. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bung Karno seorang kutu buku. Tak mengherankan, waktu luang yang ada ia gunakan untuk membaca. Bila Bung Karno sedang duduk sendirian di kursi, di atas meja dekat kursi itu harus ada tumpukan koran atau buku bacaan. Pada 1950-an, sewaktu baru pindah ke Yogyakarta, anggota DKP bertugas mengambil koran pagi-pagi sekali supaya tidak terlambat dibaca Bung Karno. Di kemudian hari pengiriman koran-koran cukup baik sehingga anggota DKP cukup memeriksa jumlah koran supaya tidak kurang. Kalau kurang, Bung Karno pasti menanyakan. Juga buletin dari kantor berita. Seperti Antara. Koran yang dibaca Bung Karno, antara lain, Merdeka, Suluh Indonesia, Duta Masyarakat, Pedoman, Indonesia Raya, Sinpo. Pagi-pagi sekali, surat kabar tersebut harus sudah ada di atas meja Bung Karno. Orator ulung ini juga membacaKompas  dan Sinar Harapan. Bila Bung Karno sedang pergi ke kamar kecil dan waktu sebelum ke kamar kecil sedang membaca surat kabar atau buku, bacaan ini dibawa juga ke kamar kecil tersebut. Terkadang, Bung Karno tinggal di Bandung. Biasanya, Bung Karno menginap di Gubernuran Bandung. Suatu pagi, ketika habis sarapan, Bung Karno bercerita dan bertanya. ’’Mengapa istri para polisi selalu cantik-cantik?’’ tanya Bung Karno tiba-tiba. Semua yang mendengarkan tidak ada yang menjawab. Termasuk Mangil. Sejurus kemudian, Bung Karno bercerita. ’’Sebabnya, polisi itu sering keluyuran keluar masuk kampung dan desa. Dia bisa melihat wanita-wanita cantik dan bisa memilih yang paling cantik. Lalu dia lamar,’’ kata Bung Karno. Ia juga bertanya, ’’Mengapa polisi dibenci anjing?’’ Lagi-lagi, tak ada yang bisa menjawab. Bung Karno kemudian bercerita. Yang dibenci anjing sebetulnya bukan polisi Indonesia, tetapi polisi di zaman Belanda. Dulu, di zaman penjajahan, kalau polisi melihat anjing berkeliaran di jalan-jalan, dan anjing ini tidak diberangus mulutnya, polisi ini akan menembak anjing tersebut. Ekor anjing ini kemudian dipotong sebagai bukti. Untuk setiap ekor anjing yang ditangkap, ada uang preminya. Semakin banyak  membawa ekor anjing, semakin besar uang premi yang akan diterima. ’’Maka dari itu, di zaman Belanda, kalau ada anjing melihat polisi, ia akan menggonggong keraskeras. Maksudnya, memberi tahu rekan-rekannya kalau ada bahaya,’’ cerita Bung Karno. Hadirin pun tersenyum.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Gaya Busana Bung Karno )

G30S Dalam Pandangan Dewi Soekarno

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |


MISTERI Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) kini mulai terungkap. Ini setidaknya menurut versi Ratna Sari Dewi, istri almarhum Presiden Soekarno, yang menyingkapkannya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/10). Dengan tutur bahasa Indonesia yang kurang lancar, Dewi memaparkan secara runtut kejadian sekitar tragedi berdarah yang membenamkan bangsa Indonesia dalam kepedihan berkepanjangan itu. “G30S/PKI bukanlah suatu kup atau kudeta.

Kudeta terjadi justru tanggal 11 Maret dengan Surat Perintah 11 Maret yang menghebohkan itu,” kata Dewi dalam konferensi pers di kediamannya yang asri di Jl. Widya Chandra IX No. 10. Jumpa pers ini dihadiri ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri. Maka meluncurlah cerita dari bibir mungil wanita yang masih cantik di usianya yang mendekati kepala enam ini. Dengan sangat ekspresif, ia bahkan memperagakan saat-saat akhir Bung Karno (BK) ketika dibawa dari Wisma Yaso ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). “Sebelum 30 September, Bapak (Bung Karno-BK, red) memanggil Jenderal A. Yani untuk menanyakan tentang adanya Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta dan membunuhnya,” kata Dewi mengutip ucapan suaminya. Saat itu, Pak Yani menyatakan bahwa dirinya sudah tahu tentang hal itu, dan nama-nama para jenderal itu sudah ada di tangannya. “Jadi Bapak tidak usah khawatir,” kata A. Yani. Saat itu, sebetulnya tidak ada yang memberitahu anggota pasukan Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden, tentang rencana makar terhadap panglima revolusi ini. Entah mengapa, pentolan Tjakra seperti Letkol Untung, Kolonel Latief dan Supardjo mengetahuinya. “Mungkin ada yang memberi tahu mereka,” ucap Dewi mengutarakan prediksinya.

Sebagai perwira muda yang sangat loyal kepada BK, didorong kekhawatiran akan keselamatan BK, pasukan Tjakra ini bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya. Sebab kalau lapor kepada atasannya, diperlukan bukti-bukti padahal mereka hanya punya waktu sekitar empat hari lagi, karena kudeta akan dilakukan tanggal 5 Oktober 1965 saat ulang tahun ABRI. “Lebih baik kami interogasi saja jenderal-jenderal itu,” kata Dewi tentang niat para perwira muda di kesatuan Tjakra ini. Hal ini sebenarnya tidak direncanakan dengan baik, karena para perwira muda ini didorong oleh suasana emosi dan darah mudanya yang memang panas. Guna menghindari kemungkinan yang lebih buruk, Kol. Latief menemui Pak Harto di RSPAD dan membicarakan tentang rencana dewan jenderal. Juga diungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan BK dan anggotanya serta rencana menginterogasi anggota dewan jenderal. “Kalau ada apa-apa, Pak Harto bisa mem-back up,” kata Dewi. Namun permintaan itu ditanggapi dingin oleh Pak Harto yang saat itu menjabat Pangkostrad. Sebetulnya, kalau mau Pak Harto bisa mencegah kejadian ini. Namun karena tidak hirau, Pak Harto membiarkan pasukan Tjakra bertindak. “Tjakra bermaksud menyelamatkan BK. Masudnya baik tapi caranya kasar. Saya bisa mengerti karena darah mudanya,” tutur Dewi.

Untuk menginterogasi para jenderal itu, Letkol Untung tak mungkin menyuruh prajurit muda dengan pangkat rendah. Mereka ini hanya bertugas menjemput para jenderal untuk diinterogasi. “Para prajurit ini tak mungkin berani memanggil Pak Yani yang jenderal untuk menghadap. Karena itu, mereka meminta para jenderal untuk menghadap BK dan tidak ada sama sekali rencana untuk membunuh mereka,” jelas Dewi yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia lewat buku yang menampilkan seluruh tubuhnya, Madame D’syuga. Namun karena mereka masih muda, kerap kali keluar kata kasar yang tidak layak ditujukan kepada jenderal sehingga mereka marah. Contohnya Jenderal Yani yang menampar seorang prajurit dan akhirnya ditembak di tempat, sebagaimana terungkap dalam film G30S/PKI arahan Arifin C. Noer. “Jadi gerakan itu bukanlah orang PKI melainkan orang-orang militer. Ini merupakan insiden yang sangat bodoh, idiot, cruel dan harus dicela,” kata mantan geisha di Jepang ini. Menurut Dewi, usai gerakan ini Soeharto langsung menyatakan bahwa pelakunya adalah PKI. Itu diutarakan lewat RRI sehingga membentuk opini masyarakat tentang jahatnya PKI. Saat HUT TNI, Soeharto telah berhasil menguasai TNI. “Mengapa rencana kudeta itu tanggal 5 Oktober? Karena saat itu semua maklum bila tentara keluar barak menuju istana untuk memperlihatkan keterampilannya di hadapan presiden. Saat itu ada show of tank. Ini persis dilakuan CIA ketika menjatuhkan Presiden Mesir Anwar Sadat yang meninggal saat defile angkatan perangnya,” kata Dewi yang saat konferensi pers mengenakan batik tulis ‘lusuh’ warna cokelat muda ini.

TENTANG jatuhnya BK, Dewi sangat yakin bahwa BK Jatuh atas keterlibatan CIA. Untuk memperkuat pernyataannya itu, Dewi memperlihatkan 10 fotokopi dari tiga surat penting yang disebutnya sebagai bukti otentik keterlibatan CIA dan AS.

Bukti pertama adalah dokumen tentang pertemuan salah seorang jenderal dengan dubes AS waktu itu untuk membicarakan kudeta tanggal 5 Oktober 1965.

Dokumen kedua adalah dokumen Gillchrist, orang kedua di Kedubes AS yang menyebutkan tentang rencana Marshal Green menjadi Dubes AS di Indonesia. Orang terakhir ini adalah pakar kudeta CIA yang terlibat dalam kudeta di Korea dan Hongkong. Saat itu sebetulnya BK sudah diingatkan tentang kemungkinan adanya rencana CIA di Indonesia sehubungan dengan kedatangan Green ini. “Tapi kalau saya tolak, berarti saya takut pada AS,” kata BK, seperti dikutip Dewi, tentang alasannya menerima Green.

Dokumen terakhir adalah surat dari BK untuk Dewi yang menyatakan penderitaannya karena tidak boleh dijenguk anak dan istrinya. Juga tentang kondisi terakhir BK.
“Saat saya datang, kondisi Bapak sangat mengenaskan. Keesokan harinya Bapak meninggal. Ketika saya konfirmasikan kepada dokter di AS dan Prancis, ternyata terungkap bahwa ada indikasi Bapak dibunuh dengan cara diberi obat over dosis,” katanya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on G30S Dalam Pandangan Dewi Soekarno )

Foto BK untuk Oei Hong Kian

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

oei hong kian

Sidang Istimewa MPRS 7-12 Maret 1967 menghasilkan keputusan untuk menarik mandat dari Pemimpin Besar Revolusi itu. Bung Karno harus keluar dari Istana Merdeka. Dalam nama ia masih presiden, tetapi dalam kenyataan ia tahanan rumah di Bogor. Mungkin BK sebelumnya sudah merasa bahwa hal itu akan terjadi. Namun tetap saja, keputusan itu bagaikan sambaran petir. Majelis yang sebagian besar anggotanya dia pilih, berbalik menentangnya.

Pertengahan April 1967 drg. Oei Hong Kian kedatangan Pak Djamin, utusan Bung Karno. Selain menyampaikan salam BK, ia juga mengantarkan satu set ballpoint dan pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera warna putih berinisial ‘S’, serta sebotol besar parfum Shalimar buatan Guerlain. Ada juga sampul besar berisi foto Bung Karno ukuran 17,5 X 23 cm dengan tulisan: “Untuk Dr. Oei Hong Kian” dan dibubuhi tanda tangan BK serta tanggal 12-4-1967.

Malam harinya Oei Hong Kian memperhatikan foto BK dengan seksama. Dia merasa terharu. Oei Hong Kian mersakan bahwa BK pada saat itu pasti sedang dalam keadaan sulit. Tetapi rupanya ia tidak lupa menunjukkan penghargaan kepada dokter giginya yang baru beberapa bulan dikenal.

Keharuan juga terasa ketika mengingat pertanyaannya yang disampaikan lewat Pak Djamin apakah Oei Hong Kian masih dapat menghargai fotonya? Maklum, foto itu diberikan pada saat ia bukan lagi presiden. Mungkin itu termasuk salah satu foto terakhir yang ia berikan secara pribadi kepada seseorang.

Dalam fikiran Oei Hong Kian mengira hubungannya dengan BK telah berakhir. Menurut berita burung yang dia dengar, kesehatan BK menurun drastis. Ingatannya lemah, jalannya pincang.

Tiba-tiba sekitar awal September 1967, dokter pribadi BK memberitahu bahwa BK ingin berobat lagi. Ia akan datang ke rumah drg. Oei Hong Kian. Dokter pribadi itu berpesan agar Oei Hong Kian memperhatikan keamanan. Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang dokter gigi untuk melindungi keamanan pasiennya?

Dalam konsidsi yang serba sulit Oei Hong Kian memutuskan agar BK memasuki rumah lewat pintu samping. Kedua mobil Oei Hong Kian akan dikeluarkan dari garasi, lalu pintu garasi akan dibuka lebar-lebar. Begitu mobil BK masuk ke garasi, pintunya akan ditutup.

Pukul 08.45 keesokan harinya, seorang prajurit datang mengendarai jip militer. Ia menyetujui prosedur yang Oei Hong Kian tawarkan. Tepat pukul 09.00 BK tiba dengan sedan Mercedes 600, diiringi lima jip putih penuh prajurit. Cuma tidak ada raungan sirene, dan fungsi pengawalannya sudah berbeda.

Bung Karno duduk di bangku belakang yang sangat lapang, tetapi tanpa ajudan. Celananya abu-abu, bajunya putih berlengan pendek dan dibiarkan keluar. Peci hitam tidak ketinggalan. Ia kelihatan sehat wal afiat. Dengan gesit, tanpa bantuan, ia keluar dari mobil.

“Selamat pagi, Pak Dokter,” sapanya sambil mengulurkan tangan. “Tidak disangka-sangka, ya, kita akan bertemu lagi dalam waktu secepat ini. Ini, gigi saya ada yang terganggu. Bagaimana, baik-baik semua?” Sikapnya biasa saja, seolah-olah tidak ada sedikit pun ganjalan di dalam hati.

Oei Hong Kian persilakan BK masuk ke kamar praktik. Seorang prajurit mengikuti, tetapi ditolak oleh drg. Oei Hong Kian. Dia bilang tidak bisa bekerja sambil ditunggui. Untunglah si prajurit mengerti walaupun semula menolak.

Oei Hong Kian dibantu keponakan istrinya, seorang wanita dokter gigi juga. Bung Karno rupanya selalu ingat pada nama orang yang dijumpainya. Sejak itu, kalau keponakan istri Oei Hong Kian tidak ada, BK tak pernah lupa menanyakannya.

Oei Hong Kian merasa lega melihat keadaan BK tidak menyedihkan. Pria itu masih tetap jernih, riang seperti dulu, dan juga penuh humor.

Sambil melepaskan pecinya, BK bertanya, “Saya ingin tahu, apakah Pak Dokter masih bisa menghargai foto saya?”

“Bapak tentu pernah memberikan foto kepada banyak orang. Tetapi karena Bapak memberikannya kepada saya pada saat itu, foto itu tinggi nilainya bagi saya.” Demikian Oei Hong Kian menjawab pertanyaan BK namun demikian perasaan haru sangat menyelimuti batin dan hati Oei Hong Kian.

Oei Hong Kian belum lama mengenal BK. Saat ia terpukul karena kekuasaannya dilucuti, ternyata ia masih ingat memberikan cendera mata. Apakah itu penghargaan atas pelayanannya sebagai dokter gigi, ataukah tanda mata bagi salah satu dari segelintir orang yang membantu mengusir kesepiannya di saat sulit, walau cuma sebentar?

“Bapak saat ini tidak bisa memberi imbalan apa-apa,” lanjut BK. Mendengar ucapan BK Oei Hong Kian sampai tidak bisa berkata-kata. Mungkin ia tahu tidak ada yang memikirkan honorarium saya. Terus terang Oei Hong Kian sendiri juga tidak pernah memikirkannya. Oei Hong Kian tahu bahwa dalam keadaan normal dokter pribadi akan memperoleh fasilitas khusus. Namun saat itu bukanlah keadaan normal. Yang ada sat ini adalah BK diambang senja kekuasaannya

Ketika akan pulang, BK minta bertemu dengan istri Oei Hong Kian. Di ruang duduk istri Oei Hong Kian mempersilakan BK untuk singgah, tetapi BK menolak. “Terima kasih. Nanti suami Anda bisa dikira yang bukan-bukan kalau saya berlama-lama di sini.”

Walau tidak pernah berlama-lama, BK beberapa kali datang lagi untuk periksa. Suatu kali, ketika ia datang, putri Oei Hong Kian sedang mengerjakan PR. Bung Karno mengusap-usap kepala anak itu sambil berkata, “Belajar baik-baik ya, Nak. Supaya nanti pandai.”

Kebetulan putri Oei Hong Kian yang nomor tiga memasuki ruangan. “Wah, kau pasti ingin jadi dokter kelak, seperti ayahmu,” kata BK seraya mengampiri anak itu dan (juga) mengusap-usap kepalanya. Kedua putera Oei Hong Kian itu belakangan memang menjadi dokter gigi.

Pada suatu pagi BK datang tanpa iringan jip.

“Kok sendirian, Pak?” tanya Oei Hong Kian.

“Mereka belum datang. Padahal saya tidak mau terlambat.” Bung Karno memang selalu datang sesuai waktu perjanjian. Hal itu tentu sangat memudahkan Oei Hong Kian yang anti jam karet.

Bung Karno memerlukan dua-tiga kali kunjungan setiap kali merasa giginya terganggu. Suatu saat ia berkata, “Saya ingin bicara blak-blakan. Saya ingin tinggal agak lama sedikit di Jakarta. Di Jakarta saya lebih dekat dengan anak-anak. Tapi mungkinkah itu?”

Pada saat itu BK tinggal di Bogor. Tetapi kalau sedang membutuhkan perawatan, ia tinggal di Wisma Yaso (Museum ABRI Satria Mandala) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Dari situ BK hanya boleh pergi-pulang ke rumah Oei Hong Kian.

Mendengar pertanyaan yang agak merenyuhkan maka Oei Hong Kian spontan menjawab, “Tentu mungkin, Pak. Waktu pengobatan bisa diulur. Seandainya diulur tiga minggu, cukup Pak?” BK kelihatan gembira sekali. “Wah, terima kasih banyak!” Oei Hong Kian sampai terharu karena hal kecil saja bisa membuat bahagia bekas presiden yang pernah menggegerkan pata tokoh dunia namun saat ini sedang kesepian dan terasing.

Selama lebih dari setahun merawat gigi BK, Oei Hong Kian tak pernah membicarakan soal politik. Suatu kali BK bertanya di mana Profesor Ouw, dokter giginya sebelumnya, berada. Oei Hong Kian jawab, dia di Hong Kong. Bung Karno tidak mengerti mengapa ia pindah ke sana.

“Itu karena Bapak,” kata Oei Hong Kian.

“Saya disalahkan lagi,” ia menanggapi.

“Ya. Bapak mengangkatnya jadi anggota DPA. Ketika mahasiswa mulai bergolak, ia takut dan cepat-cepat pergi.”

“Namun ia toh bisa pamit. Atau paling sedikit bisa menulis surat,” BK ngotot.

Oei Hong Kian hanya bisa mengatakan bahwa orang itu takut.

Dua anak Oei Hong Kian sedang menuntut ilmu di Universitas Amsterdam. Tak lama lagi kedua adiknya akan menyusul. Jadi Oei Hong Kian hanya akan berdua dengan istrinya di Jakarta. Daripada terpisah-pisah, lebih baik pindah saja ke Amsterdam.

Ketika BK datang pada bulan Februari 1968, Oei Hong Kian beritahukan rencananya untuk pindah pada akhir Maret.

Bung Karno menanggapi, “Tidak perlu menjelaskan kepada Bapak apa artinya kesepian. Bapak mengerti. Tapi kita masih akan berjumpa beberapa kali lagi, ‘kan?”

Pertengahan Maret BK menyatakan ingin pulang ke Bogor. Padahal Oei Hong Kian akan memasang tambalan emas pada gigi BK. Diantara dua sahabat itu berjanji akan bertemu untuk terakhir kalinya 21 Maret 1968.

Ternyata antara tanggal 21-30 Maret 1968 ada Sidang Umum MPRS, Oei Hong Kian diberitahu pihak berwajib bahwa BK tidak bisa datang pada tanggal itu. Ternyata pada hari-hari berikut pun BK tidak datang. Padahal tanggal 30 Maret Oei Hong Kian harus berangkat. Terpaksa pemasangan tambalan emas pada gigi BK dipercayakan kepada rekannya sejawat.

Dan sejak itu Oei Hong Kian tidak pernah lagi bertemu dengan BK, yang tersisa adalah cedera mata dari BK yang senatisa mengingatkan drg. Oei Hong Kian bahwa dia pernah menjalin persahabat dengan BK disaat kekuasaan tak lagi di tangan BK. Dan mungkin Oei Hong Kian hanya bagian dari segelintir orang yang berani menjalin persahabatan dengan BK disaat Putera Sang Fajar akan menjelang runtuh.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Foto BK untuk Oei Hong Kian )

Diplomasi Pemilihan Sebuah BH

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Bukan Presiden bila tidak melakukan lawatan ke luar negeri, terlebih untuk Presiden Soekarno selaku Presiden dari sebuah negara yang baru merdeka. Kunjungan keberbagai negara sangatt diperlukan dalam rangka memperkenalkan diri serta meyampaikan pandang tentang kearam mana sebuah negara yang baru merdekan akan dibawa. Kubu Amerika atau berkiblat ke Moskow

Suatu hari di tahun 1956, untuk pertama kalinya Presiden Sukarno berkunjung ke Amerika Serikat. Pada kunjungan pertamanya, ia merasa mendapat sambutan yang begitu hangat dari rakyat Amerika. Di antara sela-sela kunjungannya, Bung Karno menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, menikmati kota California.

Sesaat, ia teringat pesan istrinya yang minta dibelikan kutang, alias BH, atau bra. Ia pun segera menuju gerai pakaian dalam diantar Ny. Johnston, janda raja film Amerika. Di sudut pakaian dalam wanita, Bung Karno masih kebingungan bagaimana memilih kalimat yang pas untuk tujuannya mencarikan BH titipan istrinya. Sementara, para penjaga toko sudah gelisah menunggu “titah” Bung Karno. Segera Bung Karno nyeletuk, “Bolehkah saya lihat salah-satu songkok daging yang terbuat dari satin hitam itu?”

Gadis penjaga konter BH pun mengambilkan beberapa buah. Entah berpura-pura lupa, atau ada unsur iseng, yang pasti Bung Karno menunjukkan lagak kebingungan untuk menentukan ukuran. Hingga akhirnya ia berbisik kepada Ny. Jonston, “Apakah bisa dikumpulkan ke sini semua gadis penjual, supaya saya bisa menentukan ukurannya?

Maka… berpawailah gadis-gadis di hadapan Bung Karno. Tak dijelaskan, apakah dalam berparade mereka juga diharuskan membusungkan dadanya? Tapi dengan nada sopan, Bung Karno memandangi satu per satu dada para gadis penjual di toko itu. Komentarnya, “Tidak, engkau terlalu kecil… O, engkau kebesaran….” sampai akhirnya Bung Karno menunjuk seorang wanita dan berkata, “Yaa… engkau cocok sekali. Saya akan mengambil ukuranmu, please….”

Ternyata, Bung Karno tepat memilih ukuran BH untuk istrinya.

Cerdik atau nilai apa yang akan anda berikan untuk Putera Sang Fajar ini ?

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Diplomasi Pemilihan Sebuah BH )

Diplomasi Pemilihan Pesawat Terbang Ala Bung Karno

Posted on 09/05/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Akhir-akhir ini kita dengar tragedi para tekhnisi pesawat Sukhoi yang meninggal di Indonesia. Entah apa yang akan terjadi di balik peristiwa tersebut, sesak rasanya fikiran untuk mengkajinya.

Dari pada berbicara masalah tragedi perakitan pesawat Sukhoi mungkin akan lebih segar rasanya kalau kita berbicara tentang pesawat terbang dan kaitannya dengan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Tahun 60-an, saat usia kemerdekaan kita masih berbilang belasan tahun, Indonesia –dan Bung Karno– sudah menjadi bangsa dan negara yang dihargai oleh para pemimpin negara besar, utamanya penguasa Blok Kapitalis (Amerika Serikat) dan Blok Komunis (Rusia atau Uni Sovyet).  Kedua negara adidaya yang terlibat perang dingin karena beda ideologi tadi, saling berebut pengaruh terhadap Indonesia.

Sikap Bung Karno? Sangat jelas, dia menyuarakan kepada dunia sebagai negara nonblok. Sekalipun begitu. bukan berarti Indonesia adalah negara yang istilah Bung Karno hanya “duduk thenguk-thenguk” tanpa berbuat apa-apa bagi peradaban dunia. Nonblok yang aktif. Karena itu pula, Bung Karno berhasil menggalang kekuatan-kekuatan baru yang ia wadahi dalam NEFO (New Emerging Forces), sebuah kekuatan baru, terdiri atas negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berkembang.

Nah, ini cerita tentang pesawat terbang. Dalam berbagai lawatan ke luar negeri, pemerintah Indonesia menyewa pesawat komersil Pan America (PanAm), lengkap beserta kru untuk rombongan Presiden Sukarno. Ini sempat jadi masalah diplomatik, ketika Bung Karno hendak berkunjung ke Rusia, memenuhi undangan Kamerad Nikita Kruschev. Sebab waktu itu, tidak ada satu pun perusahaan penerbangan Amerika Serikat yang mempunyai hubungan tetap dengan Moskow.

Rusia terang-terangan keberatan bila Bung Karno datang menggunakan PanAm dan mendarat di Moskow. Karena itu, pihak pemerintah Rusia mengajukan usul, akan menjemput Bung Karno di Jakarta menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, lebih perkasa, Ilyushin L.111.

Sudah watak Bung Karno untuk tidak mau didikte oleh pemimpin negara mana pun. Termasuk dalam urusan pesawat jenis apa yang hendak ia gunakan. Karenanya, atas usulan Rusia tadi, Bung Karno menolak. Bahkan jika kedatangannya menggunakan PanAm ditolak, ia dengan senang hati akan membatalkan kunjungan ke Rusia.

Pemerintah Rusia pun mengalah. Ya… mengalah kepada Sukarno, presiden dari sebuah negara yang belum lama berstatus sebagai negara merdeka, lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang.

Akan tetapi, tampaknya Rusia tidak mau kehilangan muka sama sekali, dengan mendaratnya sebuah pesawat Amerika –musuhnya– di tanah Moskow. Alhasil, ketika pesawat PanAm jenis DC-8 mendarat di bandar udara Moskow, petugas traffic bandara langsung mengarahkan pesawat yang ditumpangi Sukarno dan rombongan parkir tepat di antara dua pesawat terbang “raksasa” buatan Rusia, jenis Ilyushin seri L.111. Seketika, tampak benar betapa kecilnya pesawat Amerika itu bila dibanding dengan pesawat jet raksasa buatan Rusia.

Belum cukup dengan aksi “unjuk gigi” tadi, Kruschev yang menjemput Bung Karno di lapangan terbang, masih pula menambahkan, “Hai, Bung Karno! Itukah pesawat kapitalis yang engkau senangi? Lihatlah, tidakkah pesawat-pesawatku lebih perkasa?”

Mendengar ucapan itu, Bung Karno hanya tersenyum lebar dan menjawab, “Kamerad Kruschev, memang benar pesawatmu kelihatan jauh lebih besar dan gagah, tetapi saya merasa lebih comfortable dalam pesawat PanAm yang lebih kecil itu.”

Satu hal yang dapat kita petik dari tulisan ini adalah: Betapa kokohnya Presiden Soekarno dalam mempertahankan prinsip dan sangat antinya Pemimpin Besar Revolusi ini untuk diatur bangsa lain, jangankan politik atau batas wilayah Negara, masalah pesawat terbangpun Presiden Soekarno tidak mau dicampuri. Pertanyaan besar yang ada sekarang adalah: “Mampukah Presiden pasca Soekarno memiliki keteguhan prinsip seperti Soekarno.” Saya yakin anda para pembaca lebih tahu jawabannya.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Diplomasi Pemilihan Pesawat Terbang Ala Bung Karno )

Cinta dari seorang Ibu dari seorang istri

Posted on 09/05/2011. Filed under: Ibu dan Puisi |

 
Irf, seorang anak lelaki yang berumur 10 tahun bertanya kepada ibunya tentang arti cinta.
Sang Ibu yang kebetulan adalah seorang janda yang baru saja diceraikan oleh suaminya karena sang suami telah mempunyai seorang kekasih gelap dan seorang istri muda.
Sang ibu menjawab “cinta adalah sebuah kekuatan untuk saling menyayangi, mengasihi satu sama lain walaupun hatimu telah sakit.”
lalu Irf bertanya lagi “bu, walau Ibu sudah disakiti ayah apakah Ibu masih mencintai ayah?”

sang ibu menjawab “Tentu anakku, walaupun telah disakiti oleh ayahmu, hati kecil ibu masih berkata bahwa ibu masih sangat mencintainya.”

Irf …. “Wah jika cinta memang harus terasa sakit, saya seumur hidup tidak akan pernah mencintai seseorang lah bu.”

Ibu …. “Oh tidak anakku, tidak semua cinta harus merasakan sakit dan tidak semua sakit itu karena cinta.”

Coba kamu lihat bunga Mawar dan Teratai itu, walau sakit dan pedih mawar dan teratai tetap bisa menebarkan senyumnya dan cintanya untuk semua orang.

MAWAR tetap segar dan memancarkan keindahan cinta pada setiap orang walaupun disekitarnya tumbuh duri duri dan bagi MAWAR kotoran yang ada di tanahnya tetap dan makin membuat indah senyumnya.

TERATAI makin mengembang jika air di bawahnya semakin kotor.

Mendengar penjelasan dari sang ibu, sang anak hanya berdecak kagum dan berkata “andaikan di dunia ini semua orang bisa meniru kadar cinta, kasih mawar dan teratai pasti di muka bumi ini akan tentram dan damai tidak akan ada dendam ya bu.”

lalu Irf bertanya lagi kepada ibunya “Lalu dimanakah saya mencari cinta yang murni yang tidak harus mendapatkan sakitnya bu?.”

Sang ibu sambil tersenyum mengatakan “Sesungguhnya untuk mencari cinta sejatimu sangat sulit karena biasanya cinta sejatimu tersembunyi seperti permata yang indah di dasar lautan dan memang harus dicari, jika engkau sabar dan tidak menyerah maka engkau akan mendapatkannya nak. Setelah mendapatkannya engkau pun harus mengolah cintamu itu agar lebih berkilau.”

Irf … “mengolah apa Ibu?”

Ibu … “Ya mengolah seperti permata yang diolah untuk dijadikan perhiasan. Cintamu diolah dengan saling pengertian, kejujuran dan keterbukaan.

Dan sadarilah nak, luka yang paling sakit adalah menyakiti bukan tersakiti, Janganlah engkau melakukannya dan mereka-rekanya.
Inilah yang kita namai cinta didalam kehidupan,
luka.. asa.. rindu.. sepi..
menjadi satu tak pernah terpisahkan,
karena cinta melahirkan sajak-sajak airmata 
antara angan juga kenangan.
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Cinta dari seorang Ibu dari seorang istri )

« Previous Entries
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 875,820 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: