Archive for April 19th, 2011

Berebut Cerita Aji Saka

Posted on 19/04/2011. Filed under: Sejarah, Tokoh |

Di Tanah Jawa, kisah Aji Saka sangat populer. Ia dianggap sebagai penggambaran proses pembudayaan manusia Jawa. Aji Saka diposisikan sebagai oknum pencipta sistem aksara Jawa (hanacaraka) dan dengan demikian berperan sebagai penanda suatu era “sejarah baru”.  Saking populernya kisah ini, tokoh Aji Saka seringkali dihubungkan dengan cerita legenda semisal terjadinya Bledug Kuwu di Grobogan, Jawa Tengah. Juga dihubungkan dengan keberadaan tradisi Candra Sengkala.(Bratakesawa, 1952: 2)Karena strategisnya kisah Aji Saka ini, maka muncullah minat sejumlah Orientalis dan misionaris Kristen untuk turut serta mencipta klaim-klaim baru Philip van Akkeren dalam “Sri and Christ: A Study of the Indigenous Church in East Java”, misalnya, berupaya mengkaji kisah Aji Saka dalam Serat Paramayoga karya R. Ng. Ranggawarsita. Hasilnya, Van Akkeren menyimpulkan bahwa Ranggawarsita, pujangga Jawa, memiliki “ketertarikan” terhadap agama Kristen. Alasannya, karya tersebut memuat cerita tentang Nabi Isa. Van Akkeren menyebutkan bahwa sebelum datang ke Jawa, Aji Saka telah masuk ke dalam agama Kristen di Yerusalem.(Akkeren, 1970: 46)

Konklusi Philips van Akkeren ini memiliki pengikut di Indonesia. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, dalam buku “Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”  menggambarkan bahwa Aji Saka telah mengalami persentuhan dengan iman Kristen dengan menyembah Tuhan yang Maha Esa melalui Nabi Isa. Selanjutnya Noorsena mengutip pendapat Philip van Akkeren bahwa: ”dalam kisah Ranggawarsita ternyata simpati besar disisihkan bagi Kristus”. (Noorsena, 2007:209-210).

Sebenarnya, isi Paramayoga sendiri banyak mengambil inspirasi dari cerita pewayangan dan kisah para nabi mulai dari Adam hingga Muhammad. Awalnya, Aji Saka berguru kepada Dewa Wisnu di India. Setelah semua ilmu mampu diserap, Dewa Hindhu itu menasihati agar mencari kesejatian hidup dengan melanjutkan berguru kepada seorang imam yang lebih mumpuni bernama Ngusman Ngaji. Pada era itu diceritakan bahwa Nabi Isa sedang mengemban risalah di kalangan Bani Israil. Aji Saka meminta ijin kepada gurunya untuk menjadi sahabat (murid) Nabi Isa. Ngusman Ngaji tidak mengijinkan, sebab ia mengetahui takdir bahwa Aji Saka akan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad dan menghuni Pulau Jawa.

Statemen sang guru dalam Paramayoga diuraikan sebagai berikut: ”Hal ini tidak kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi itu bukan pekerjaanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir panjang. Telah ditentukan, engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, di tenggara India. Jangan lupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”.(Akkeren, 1970:46).

Paramayoga memang menggambarkan bahwa tokoh Aji Saka yang ditakdirkan berumur panjang sempat bergaul dengan Nabi Isa. Namun sebagaimana pesan gurunya, bukan ”panggilan” melainkan sekedar mengisi ”kekosongan” dalam penantian yang panjang kedatangan Nabi Muhammad. Jika dicermati, kisah Nabi dalam Paramayoga yang dimulai sejak era Adam hingga Nabi Muhammad lebih menunjukkan bahwa karya ini berusaha menampilkan kisah yang berasal dari konsepsi Islam, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Sama sekali tidak terdapat cerita bahwa Aji Saka menganut Agama Kristen atau terkait Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen. Dengan demikian klaim, Van Akkeren dan Bambang Noorsena bahwa kisah Aji Saka merupakan titik perjumpaan antara Kristen dan Kejawen boleh dikatakan sekedar manipulasi belaka.

Bukan akhir kisah

Mitologi Aji Saka versi Ranggawarsita bukan merupakan akhir dari seluruh kisah. R. Tanaya, budayawan Jawa yang turut memperkenalkan ulang karya-karya Ranggawarsita, mengubah versi Aji Saka bukan lagi berasal dari India melainkan dari Arab. Versi ini berusaha menunjukkan bahwa wacana “Arab” memiliki tempat tersendiri dalam proses transfomasi pembudayaan Jawa. Sultan Algabah, penguasa Timur Tengah, diceritakan telah menerima petunjuk dari Allah agar memberangkatkan misi untuk membudayakan bumi Jawa. Sultan mengutus Aji Saka untuk memimpin rombongan dalam misi itu sebanyak 2 kali. Pada ekspedisi ketiga, rombongan misi ini dipimpin oleh Said Jamhur Muharram menuju ke Kediri, Jawa Timur.(Purwasito, 2002: 51-52). Cerita ini berusaha mengangkat peran Islam sebagai sumber peradaban bagi Jawa.

Dr. Ismail Hamid, pakar sastra di Universiti Kebangsaan Malaysia, menggarisbawahi bahwa sejumlah serat tentang Aji Saka umumnya merupakan bagian dari karya sastra bernafaskan Islam. Ia mencontohkan dengan Serat Aji Saka Angajawi, yang menggambarkan bahwa pengikut Nabi Muhammad yang bernama Aji Saka telah berangkat dari Makkah menuju ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Agama Islam.(Ismail Hamid, 1989: 19).

Inti mitologi Aji Saka sebenarnya terletak pada Aksara Jawa yang dianggap sebagai ciptaannya. Aksara Jawa “yang diciptakan” Aji Saka berjumlah 20 buah, karena disesuaikan dengan kerangka mitologinya. Namun jika dihitung sebenarnya aksara Jawa jumlahnya lebih dari 50 buah. Diantara lebih dari 50 aksara tersebut terdapat kumpulan huruf yang disebut sebagai Aksara Rekan yaitu huruf yang secara khusus digunakan untuk menuliskan kata-kata yang berasal dari Bahasa Arab. Huruf yang dimaksud antara lain adalah kha, dza, fa, za, dan gha.(Hadiwaratama, 2008: 39). Dengan menggunakan aksara rekan maka aksara Jawa dapat menuliskan istilah-istilah yang berasal dari konsep Islam seperti khabar, faham, zakat, dan sebagainya. Penyesuaian ini seolah menunjukkan bahwa adanya “persiapan” bagi manusia Jawa untuk menerima Islam lengkap dengan terminologinya.

Meski cukup populer, asal muasal dongeng Aji Saka masih menyisakan misteri yang kabur. Lepas dari semua itu, kisah Aji Saka harus dinilai sekedar sebagai karya sastra belaka. Tapi, perlu diperhatikan, jika dalam kisah mitologi saja ada usaha untuk memanipulasi, apalagi dalam fakta sejarah. Karena itu sudah selayaknya, umat Islam lebih serius mengkaji dan memahami sejarah Islam di Indonesia, agar tidak mudah tertipu oleh penulisan sejarah yang  keliru. (***)

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Berebut Cerita Aji Saka )

Ibn Arabi tentang Agama-agama

Posted on 19/04/2011. Filed under: Tokoh |

Meskipun lebih dikenal sebagai tokoh Sufi, Ibn ‘Arabi juga kampium dalam studi agama-agama. Ia bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn al-‘Arabi al-Hatimi al-Tai, asal Murcia, Spanyol. Ia lahir tanggal 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 dan meninggal pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.

Oleh para pengikutnya, Ibn Arabi diberi julukan ”Syaikh al-Akbar” (Sang Mahaguru) atau”Muhyiddin” (”Sang Penghidup Agama”). Ayahnya adalah pegawai penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn ’Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukkan oleh Dinasti al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga ayahnya membawa pergi keluarganya ke Sevilla.

Pada tahun 620/1233, Ibn ’Arabi menetap secara permanen di Damaskus, tempat sejumlah muridnya, termasuk al-Qunawi yang menemaninya sampai akhir hayat. Selama periode tersebut, penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah, Muzhaffar al-Din merupakan salah seorang muridnya. Ibn ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.

Ibn ‘Arabi telah menulis 289 buku dan risalah. Bahkan menurut Abdurrahman Jami, ia telah menulis 500 buku dan risalah. Sedangkan menurut al-Sya’rani, karya Ibn Arabi berjumlah 400 buah. Di antara karya Ibn Arabi yang paling terkenal adalah al-Futûhat al-Makkiyyah, FushûshulHikam, dan Turjumân al-Asywâq.

Beberapa dasawarsa terakhir Ibn ‘Arabi oleh sebagian kalangan sering diklaim sebagai pelopor paham Pluralisme Agama. Dr. Syamsuddin Arif menyebut, nama Ibn ‘Arabi dicatut dan dijadikan bemper untuk membenarkan konsep ‘agama perennial’ atau religio perennis yang dipopulerkan oleh Frithjof Schuon, Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka.

Padahal Ibn ‘Arabi tegas menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah di dalam pandangan Allah SWT. Setelah Nabi Muhammad saw diutus, maka pengikut agama-agama para Nabi sebelumnya, wajib beriman kepada Nabi Muhammad saw dan mengikuti syariatnya. Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, maka syariat agama-agama sebelumnya  otomatis tidak berlaku lagi. “Fa inna syari‘ata Muhammadin shallallahu alayhi wa sallama nasikhah,” tulis Ibn ‘Arabi dalam kitabnya al-Futûhat al-Makkiyyah bab 36: fi ma‘rifat al-Isawiyyin wa aqthabihim wa ushulihim.

Dr. Mohd. Sani bin Badrun, alumnus ISTAC-IIUM, dalam tesisnya berjudul“Ibn al-‘Arabi’s Conception of Religion”, menegaskan bahwa menurut Ibn Arabi, syariat para Nabi terikat dengan periode tertentu, yang akhirnya terhapuskan oleh syariat Nabi sesudahnya. Hanya Al-Quran, menurutnya, yang  tidak terhapuskan. Bahkan Al-Quran menghapuskan syariat yang diajarkan oleh Kitab-kitab sebelumnya.  Karena itu, syariat yang berlaku bagi masyarakat, adalah syariat yang dibawa oleh Nabi terakhir. Salah satu kesimpulan penting dari teori agama-agama Ibn Arabi yang diteliti oleh Dr. Mohd. Sani bin Badrun adalah: “Kaum Yahudi wajib mengimani kenabian Isa a.s. dan Muhammad saw. Kaum Kristen juga wajib beriman kepada kenabian Muhammad saw dan Al-Quran. Jika mereka menolaknya, maka mereka menjadi kafir.” Bahkan, Ibn Arabi pun berpendapat, para pemuka Yahudi dan Kristen sebenarnya telah mengetahui kebenaran Muhammad saw, tetapi mereka tidak mau mengimaninya karena berbagai faktor, seperti karena kesombongan dan kedengkian.

Menurut Ibn ‘Arabi, sebagaimana dikutip oleh Dr. Mohd. Sani bin Badrun, tanda paling nyata kebenaran Muhammad saw adalah Al Quran, yang diturunkan dalam bahasa Arab yang secara mutlak tidak dapat ditiru oleh orang-orang Arab sendiri (al-Futûhat, 3:145). Bahkan beliau bertanya secara retoris, “Apalagi tanda yang lebih bermukjizat selain daripada Al Quran?” (al-Futûhat, 4:526). Al Quran juga mendatangkan apa yang sebagiannya telah disampaikan oleh kitab-kitab terdahulu yang Muhammad tidak tahu isi kandungannya melainkan melalui dari Al Quran. Menurut Sani, Ibn ‘Arabi justru meyakini bahwa orang-orang Yahudi, Nasrani, ahli-ahli kitab (ashab al-kutub) pasti tahu bahwa Al Quran adalah bukti dari Allah akan kebenaran Muhammad (al-Futûhat, 3:145). Oleh karena mereka yang mendustakan kebenaran Nabi Muhammad bakal diadzab Tuhan karena Ia telah menurunkan Al Kitab dengan haq dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih itu benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (al-Futûhat, 4:526).

Ibn ‘Arabi juga menegaskan bahwa para pemimpin ahli kitab telah menyesatkan pengikut mereka dengan memerintahkan apa yang tidak pernah dikatakan Allah, bahkan menyatakan kepada pengikutnya bahwa “ini dari Tuhan”. Seperti dalam Al Quran,  Ibn ‘Arabi mengumpamakan para pemimpin ahli kitab itu seperti orang yang diberi kitab tapi dilemparkan ke punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang murah. Mereka berbuat demikian karena sikap sombong (uluww). Sebagai fakta sejarah, ini cukup untuk menjadikan agama ahli kitab sebagai ‘agama hawa nafsu’ pemimpin mereka yang menyalahi kandungan Kitab mereka yang asal (al-Futûhat, 1:303). Menurut Ibn ‘Arabi, ‘agama hawa nafsu’ ini terlembagakan di kalangan Yahudi dan Nasrani yang akibatnya kebenaran Nabi Muhammad saw tersembunyi dari pengikut ahli kitab.

Karena itu, dengan membaca karya-karya Ibn ‘Arabi secara serius, sangat keliru jika memasukkan sang tokoh ini ke dalam barisan Transendentalis, yang memandang bahwa semua agama sebenarnya jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan dan akan bertemu pada level esoteris. Menurut Dr. Sani, kekacauan terbesar soal pemikiran keagamaan Ibn Arabi muncul dari karya William Chittick,  Imaginal World: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity. Namun masih banyak kaum muslimin yang salah dalam membaca pemikiran Ibn ‘Arabi karena mengikuti pemikiran pemikir Barat tersebut. (***)

Penulis:

Ir. Budi Handrianto, M.Pd.I.
Mahasiswa S-3 Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ibn Arabi tentang Agama-agama )

Al-Ghazali tentang Ketuhanan Yesus

Posted on 19/04/2011. Filed under: Tokoh |

Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li-Ilahiyati ‘Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafi’i (pengikut mazhab Syafi’i). Al-Ghazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun. Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan  di antara karyanya yang sangat monumental adalah “Ihya ‘Ulumiddin” (Revival of Religious Sciences).  Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini  terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: “Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah.  Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil”

Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu  menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.  Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan  bahwa Isa a.s. mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori al-ittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157:  ”Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa a.s..) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka”.
Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali,  makna  al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata “Bapa” dan ”Anak”. Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10:   “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Dalam melakukan kajiannya, Imam  al-Ghazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al–Raddul Jamil,  al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan  dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh al-Ghazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, “Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah diantaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: “bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: “tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah – sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan- masihkan kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” (Teks dikutip dsri Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali,  menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus “aku dan Bapa adalah satu”.  Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa A.S. “..aku dan Bapa adalah satu” adalah makna metafora. Al-Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits  Qudsi, dimana Allah berfirman:  “Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya.”

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam ta’at kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tanganNya, dan lain-lainnya Makna metafora dalam teks Bibel dan hadits Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya.  Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan al-Quranul Karim.  Al-Ghazali  bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama. (***)

Penulis:

Rachmat Morado Sugiarto, M.A.
Alumnus Universitas Mulay Islamil, Meknes, Maroko

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Al-Ghazali tentang Ketuhanan Yesus )

Ibn al-Qayyim tentang Agama-agama

Posted on 19/04/2011. Filed under: Tokoh |

Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Harîz al-Zar’iy al-Dimasqi Abi Abdillah Syamsuddin, lebih dikenal dengan nama Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah putra seorang ‘âlim yang menjadi dewan kurator (al-Qayyim) madrasah Damsyiq di Jauziyyah. Karena itu ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau lahir di desa Zar’i (propinsi Huran) tanggal 7 Shafar 691 H./1292 M. dan wafat pada malam Kamis, 23 Rajab 751 H./1350 M.

Kepiawaiannya dalam hal ilmu tidak diragukan lagi. Menurut Bakar bin Abdillah Abu Zaid dalam karyanya Ibnu Al-Qayyim al-Jauziyyat Hayâtuhu Atsâruhu Mawâriduhu,  Ibnu Al-Qayyim telah menulis buku sebanyak 96 buku. Di antaranya adalah Kitab Hidâyat al-Hayârâ Fî Ajwibat al-Yahûd Wa al-Nashârâ (Petunjuk bagi orang bingung dalam menjawab kekeliruan orang-orang Yahudi dan Nashrani) yang mengkritik kaum Yahudi, Nashrani, Majusi dan Atheis.

Kitab ini merupakan salah satu kitab yang direkomendasikan oleh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (anggota Majelis Fatwa Saudi Arabia) untuk studi ahl al-kitâb di samping kitab Ibn Taimiyyah, Al-Jawâb al-Shahîh Liman Baddala Dîn al-Masîh (Jawaban yang benar bagi orang yang menggantikan agama al-masih). Hal ini menunjukkan bahwa kitab karya Ibn al-Qayyim ini merupakan kitab primer dalam studi ahl al-kitâb (Yahudi-Kristen).

Mengawali tulisan kitabnya ini, Ibn al-Qayyim mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan keunggulan al-Islâm dibanding agama-agama lain, yaitu: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Q.S. Ali Imrân [3] : 83). “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imrân [3] : 85)
Berdasarkan dua ayat tersebut, Ibn al-Qayyim kemudian menyatakan dengan tegas: “Tidak ada agama mana pun—baik dahulu atau sekarang—yang diterima di sisi Allah ‘Azza wa Jalla melainkan Islam.”  Dalam pandangan Ibn al-Qayyim, Yahudi, Nashrani, Majusi dan Atheis adalah orang-orang yang terjebak dalam kekeliruan berpikir (adnâ ‘aqlin). Ibn al-Qayyim mengkritik mereka dengan menyatakan:

“Bagaimana orang yang memiliki akal yang kerdil dapat membedakan antara agama yang asas bangunannya berdasarkan pengabdian kepada yang Maha Penyayang, perbuatan yang ikhlas dengan mengharap cinta dan ridha-Nya (baik secara sembunyi atau terang-terangan) dan mengajarkan interaksi sosial yang adil dan baik, dibandingkan dengan agama yang dibangun di tepi jurang neraka;  agama yang dibangun untuk penyembahan kepada api; agama yang mencampurkan keyakinan kepada al-Rahman dengan kepada syaithân; antara setan dengan berhala (autsan); agama yang dibangun untuk pengabdian tiang salib serta gambar yang dipoles oleh para uskup dan biarawan/biarawati;  agama yang mengajarkan untuk beribadah kepada tuhan yang dipahat, mengajarkan tunduk dan sujud kepada pendeta, atau agama kaum yang dibenci, dimana mereka keluar dan lepas dari keridhaan Allah seperti halnya anak panah lepas dari busurnya. Mereka menjauh dari hukum Taurat, bahkan mencampakkannya ke belakang. Mereka menjual ayat-ayat dengan nilai yang sedikit. Demikian pula dengan kelompok yang meyakini bahwa Rabb al-‘Alamîn hanya wujud mutlak dalam pikiran; tidak ada dalam kenyataan.Mereka meyakini bahwa kitab petunjuk tidak diturunkan kepada manusia; tidak pula diutus para rasul; tidak ada syari’at yang perlu ditaati dan rasul yang dipatuhi; tidak ada kehidupan setelah kehidupan dunia; alam ini tidak ada permulaan dan tidak berkesudahan, tidak ada alam kebangkitan dan alam pengumpulan, bahkan tidak ada surga dan tidak ada neraka.”

Golongan yang dikritik terakhir di atas, disebut oleh Ibn al-Qayyim sebagai mulhidîn (orang-orang yang mengingkari Tuhan). Sehubungan dengan kebiasaan mereka yang selalu menyandarkan segala persoalan, bahkan menyalahkan kepada waktu atau masa (al-dahr), maka menurut Ibn al-Qayyim, mereka juga layak disebut sebagai kaum dahriyyin, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Jâtsiyah [45] : 24
Secara umum, dalam pandangan Ibn al-Qayyim, agama itu ada tiga golongan, yaitu: (1) Islam yang telah sempurna dengan diutusnya Nabi Muhammad saw, (2) Ahl al-Kitâb, yakni Yahudi dan Nashrani, dan (3) kaum zindiq yang tidak memiliki kitab, di antaranya Majusi, Shabi`ah, dan Mulhid dari kalangan penganut filsafat.

Ibn al-Qayyim menjelaskan lebih lanjut, “Yahudi adalah umat yang mendapat murka Allah, tukang dusta, tukang fitnah, pengkhianat, pembuat makar dan tipu daya, suka membunuh para nabi, suka makan harta yang haram yakni riba dan suap…. Ucapan salam mereka adalah laknat, apabila berjumpa dengan orang lain mereka menganggap sial. Simbol  mereka adalah kemarahan dan semboyan mereka adalah kemurkaan.”
Tentang agama Nasrani, Ibn al-Qayyim berpendapat, bahwa mereka kaum yang sesatt, karena mereka menganut paham Trinitas (mutsallatsah). Apalagi, mereka juga membolehkan khamar, memakan babi, tidak berkhitan, beribadah dengan benda-benda najis, menghalalkan segala sesuatu mulai nyamuk sampai gajah. Yang halal adalah apa-apa yang dihalalkan oleh pendeta, yang haram apa saja yang diharamkan oleh pendeta dan ritual agama adalah apa-apa yang disyari’atkan oleh pendeta. Pendetalah yang memberi ampunan atas dosa-dosa mereka dan pendeta pula yang dapat menjauhkan mereka dari siksa neraka.

Sementara kaum Zindiq, menurut Ibn al-Qayyim, adalah kaum yang tidak memiliki kitab dan pelaku syirik. Mereka mendustakan para rasul, menghapus syari’at, mengingkari adanya hari kebangkitan, tidak menganut satu agama pun, tidak menyembah Allah, tidak mengesakan-Nya. Bahkan sebagian kaum penganut agama syirik membolehkan setubuh dengan ibu mereka sendiri, dengan anak gadis dan saudara perempuan serta bibi-bibi mereka.
Kritik-kritik tajam para ulama terhadap kepercayaan kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menghalangi paara ulama itu untuk membangun tradisi keilmuan dan sikap toleran terhadap agama-agama lain. Sejarah telahn membuktikan hal itu. (****)

Penulis:

Teten Romli Qomaruddin
Mahasiswa S3 Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor 

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ibn al-Qayyim tentang Agama-agama )

Al-Syarashtani Sang Pelopor

Posted on 19/04/2011. Filed under: Tokoh |

Diskursus tentang agama-agama dan ketuhanan telah menjadi perhatian ulama-ulama klasik. Salah satu kitab terkenal dalam soal ini adalah al-Milal wa al-Nihal (The Book of Sects and Credo). . Kitab ini adalah monumental Muhammad ibn Abd al-Karim al-Syahrastānī, seorang ulama besar, sejarawan, dan tokoh perbandingan agama abad VI H. Sebagai seorang Muslim, al-Syahrastānī memadukan metode objektif dan subjektif dalam mengkaji agama-agama.

Melalui al-Milal wa an-Nihal al-Syahrastānī menunjukkan kepeloporannya dalam studi agama-agama yang secara objektif memotret objek kajiannya, tetapi sekaligus tetap bersandar pada aqidah Islam. Ia mengkritisi argumentasi rasio yang dianut oleh Ahli Kitab yang dianggap menyimpang dari aqidah Islam.

Nama lengkap al-Syahrastānī adalah Abu al-Fatih Muhammad Abdul Karim Ibn Abi Bakr Ahmad al-Syahrastānī. Nama al-Syahrastānī dinisbatkan pada tempat kelahirannya di Syahrastan, propinsi Khurasan di Persia. Al-Syahrastānī lahir tahun 479 H, dan wafat tahun 548 H/1153 M, dalam usia kurang lebih 70 tahun.

Ulama yang hidup sezaman dan memiliki hubungan yang baik dengannya adalah al-Ghazali. Syahrastānī menuntut ilmu pada para ulama di zamannya dan diantara gurunya yang utama adalah Syaikh Ahmad al-Khawāfī, seorang hakim dari Thūs. Selain al-Milal wa an-Nihal, berikut adalah karyanya: al-Irsyad ila al-’Aqaid al-’Ibad, al-Aqtari fi al-Ushul, al-tarikh al-Hukuma, al-Mushara’ah al-Falasifah, Nihayah al-Iqdam fi Ilm al-Kalam, Al-Juz’u Alladzi la yatajazzu, Syuhbah Aristatalis wa Ibn Sina wa Naqdhiha, dan Nihayah al-Auham. Tentang Ahl al-kitab, misalnya, Al-Syahrastānī menyebut, bahwa mereka adalah yang beragama dengan kitab Taurat dan Injil, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Keduanya merupakan dua umat terbesar dari keturunan Bani Israil. Syariat agama Yahudi berasal dari Musa a.s. dan kepada mereka dibebankan untuk mengikuti syariat Taurat, yang memuat syariat perintah dan larangan, serta halal dan haram.

Kitab Injil bagi kaum Nasrani diwahyukan kepada Nabi ‘Isa a.s. bertujuan selain meluruskan berbagai penyimpangan kaum Yahudi, sekaligus menyempurnakan ajaran Nabi Musa. Syahrastānī berpendapat bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidaklah mungkin menegakkan ajaran Taurat dan Injil, kecuali mereka menerima dan menegakkan ajaran al-Quran dan menerima syariat Nabi Muhammad saw. Al-Syahrastānī juga menegaskan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah mengubah dan mengganti isi kitab suci mereka, padahal Nabi Musa a.s. dan Nabi ‘Isa a.s. telah mengabarkan tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.

Sikap mereka inilah yang dikecam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 89: “…padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Syahrastānī, hlm.209-210) Dalam melakukan kajiannya, Syahrastānī melakukan kajian serius terhadap Kitab Yahudi.

Ia menemukan, bahwa orang Yahudi menganggap syariat hanya satu. Syariat bermula dari syariat Musa dan mencapai kesempurnaannya juga pada Musa; tidak ada syariat sebelumnya maupun sesudahnya. Menurut mereka, syariat Musa tidak mungkin diubah (nasakh). Nasakh berarti perubahan terhadap perintah Allah dan ini menurut mereka tidak mungkin terjadi. (Syahrastānī , hlm. 213) Tentang kaum Nasrani, Syahrastānī membahas dua hal, yakni tentang al-Masih ‘Isa ibn Maryam dan tentang Paulus. Tentang al-Masih ‘Isa ibn Maryam, Syahrastānī mencatat adanya perselisihan pendapat di kalangan murid-muridnya menyangkut penyatuan unsur Tuhan dengan unsur manusia dalam diri ‘Isa. Sebagian murid Nabi ‘Isa a.s. percaya bahwa ruh ketuhanan dapat menjelma dalam bentuk manusia, sebagian lainnya menyatakan ruh ketuhanan bercampur dengan ruh manusia dalam jasadnya, seperti percampuran air dengan susu. (Syahrastānī , hlm. 221).

Dari semua klaim kaum Nasrani tentang al-Masil Ibn Maryam, Syahrastānī berpendapat Isa a.s. adalah Rasulullah dan Kalimah Allah, dan sebenar-benar utusan Allah sesudah Musa a.s. seperti yang diberitakan kepada Bani Israil di dalam Taurat. Isa a.s. dengan izin Allah, memiliki beberapa mukjizat utama, seperti dapat menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang buta, dilahirkan tanpa proses kejadian manusia biasa, dapat berbicara ketika dalam buaian tanpa belajar terlebih dahulu, dan memerima wahyu Allah ketika dalam buaian tatkala menyampaikan kebenaran tentang ibunya.

Ia menyampaikan wahyu ketika berusia tiga puluh tahun, dan masa penyampaian wahyu yang relatif sangat singkat, yaitu tiga tahun, tiga bulan, dan tiga hari. (Syahrastānī , hlm. 221, lihat juga Ibn Hazm, tanpa tahun, Kitab al-Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, Beirut:Dar al-Jil hlm 1:78). Tentang Paulus, Syahrastānī menilai bahwa Paulus telah mengubah wasiat Nabi Isa a.s. dan mencampur adukkan ucapan al-Masih dengan ucapan para filosof. Pauluslah yang merusak ajaran Tauhid yang diajarkan Isa a.s. seperti firman Allah dalam surah Maryam 19:88-92, yang menjelaskan tentang kemurkaan Allah gara-gara kaum Nasrani menuduh Allah Yang Pemurah mempunyai anak.

Ia mengajarkan Injil kepada empat orang muridnya yang bernama Matius, Lukas, Markus dan Yohanes, yang akhirnya menjadi inti ajaran Kristen sekarang ini, dengan doktrin utamanya, “Kepada-Ku telah diberikan kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28: 18-19) dan “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1: 1). (Syahrastānī, hlm. 222) Pandangan Syahrastānī tentang agama Yahudi dan Nasrani, dalam al-Milal wa an-Nihal terkadang bersifat eksplisit, jelas dan gamblang, tentang penolakan beberapa hal tentang kaum agama Ahli Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani. Namun dalam banyak hal Syahrastānī menggambarkan perihal kedua kaum ini secara dan pembaca dibebaskan mengambil kesimpulan tentang apa yang ditulisnya. Kitab al-Milal wa-Nihal yang ditulis pada abad ke-12 M, merupakan kitab pelopor dalam studi agama-agama di dunia. Beratus tahun sebelum orang Barat mengenal studi ini, kaum Muslim telah menjadi pelopornya. (***)

Oleh: Ir. Anita Syaharuddin, M.Pd.I.
Peserta Program Kaderisasi Ulama DDII di Universitas Ibn Khaldun Bogor

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Al-Syarashtani Sang Pelopor )

Mitos Kebesaran Majapahit

Posted on 19/04/2011. Filed under: Sejarah |

Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Jawa Timur pada 1293 hingga 1520. Rajanya yang pertama bernama Wijaya, menantu raja terakhir Singasari, Kertanegara. Konon Majapahit mengalami puncak kejayaan pada masa raja keempat, Hayam Wuruk (1350-1389). Akan tetapi setelah meninggalnya raja ini, Majapahit tidak mampu mempertahankan kejayaannya dan akhirnya mulai mengalami kemunduran.Sejarah yang rinci mengenai Majapahit sangat tidak jelas. Sumber-sumbernya yang utama adalah prasasti-prasasti berbahasa Jawa kuno, naskah Negarakertagama dan Pararaton, serta beberapa catatan berbahasa Cina. Sebagai historiografi tradisional, Negarakertagama dan Pararaton mengandung kebenaran historis bercampur dengan kebenaran mistis. Artinya, kedua naskah kuno ini selain berisi rekaman sejarah juga mengandung unsur-unsur mitos, legenda, dongeng, dan sebagainya. Dalam hal ini tidak dibedakan antara fakta peristiwa yang sesungguhnya dengan “fakta” rekaan pengarangnya.

Oleh karena itu, beberapa sejarawan menyangsikan kredibilitas Negarakertagama dan Pararaton. Prof. C.C. Berg, misalnya, memandang kedua naskah itu sebagai dokumen dongeng-dongeng politik-religius, bukan dokumen sejarah. Menurutnya, naskah-naskah itu tidak dimaksudkan untuk mencatat masa yang sudah lampau, tetapi lebih dimaksudkan untuk menentukan kejadian-kejadian di masa mendatang dengan sarana gaib. Sementara itu, W.F. Stutterheim mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap keterangan-keterangan yang terdapat dalam Negarakertagama maupun Pararaton.

Negarakertagama dikarang oleh penyair keraton Prapanca pada 1365 yang, sudah tentu, tidak mau mencatat hal-hal yang kurang patut terhadap diri raja atau keluarga kerajaan. Sebaliknya, ia suka melebih-lebihkan hal-hal yang dapat mempertinggi kehormatan raja serta keluarganya yang melindungi penyair keraton. Pararaton dikarang beberapa abad kemudian (sekitar 1613 M) setelah terjadinya peristiwa-peristiwa yang bersangkutan menurut berbagai cerita lama dari macam-macam sumber.

Meskipun demikian, Negarakertagama dan Pararaton tetap dipakai sebagai sumber utama penulisan sejarah Majapahit. Sebab, tidak ada sumber tertulis lokal lainnya selengkap kedua naskah ini. Dari sinilah mitos kebesaran Majapahit itu berasal.

Dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, Majapahit digambarkan sebagai kerajaan besar yang pernah membawa harum nama Indonesia sampai jauh ke luar wilayah Indonesia. Majapahit dianggap berhasil mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Wilayah kekuasaannya membentang dari Sumatra hingga Papua. Kita patut mempertanyakan ulang, “Benarkah fakta sejarah itu?”

Kitab Negarakertagama memang menyebutkan daerah-daerah taklukan Majapahit. Ada tidak kurang dari 98 nama daerah yang dikatakan bergantung kepada Majapahit. Daerah-daerah tersebut diwajibkan membayar upeti. Menurut W.F. Stutterheim dalam Het Hinduisme in den Archipel, daerah yang dekat dari pusat kekuasaan Majapahit, seperti Bali, selalu terancam dengan serangan tentara yang dikirimkan untuk menghukum jika tidak membayar upeti. Tetapi bagi daerah-daerah yang jauh sekali letaknya, kewajiban tadi tentu banyak yang disia-siakan. Selama Pemerintah Pusat masih kuat dan mempunyai alat kekuasaan yang cukup, upeti akan terus mengalir. Akan tetapi apabila kekuasaan menjadi kurang kuat, upeti pun juga berkurang, sehingga sumber penghasilan menjadi kering sama sekali.

Kekuasaan Majapahit yang diakui orang biasanya hanya di daerah pantai. Di daerah yang letaknya lebih ke pedalaman, kepala suku dan raja daerah tersebut merdeka sama sekali dan tidak merasa terikat kewajiban membayar upeti dengan Majapahit. Bahkan, daerah Sunda, yang letaknya masih satu pulau dengan Majapahit, tidak pernah takluk dan menjadi wilayah bawahan kerajaan itu. Semua ini menunjukkan bahwa penaklukan yang dilakukan Majapahit adalah penaklukan semu. Banyak daerah yang tidak benar-benar takluk dan tunduk kepada Majapahit.

Kalaupun beberapa kerajaan mau membayar upeti, itu lebih didorong oleh alasan pragmatis. Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: A History of Indonesia menyatakan, sebagian besar penguasa kecil di kerajaan-kerajaan pantai merasa bahwa hubungan mereka dengan Jawa (Majapahit) patut dibanggakan dan sekaligus menguntungkan. Para penguasa, misalnya kepala-kepala suku di pulau-pulau kecil Maluku, mungkin saja berusaha tampak penting di mata pejabat-pejabat Jawa dengan mendaftarkan banyak tempat yang lebih jauh dan terpencil sebagai daerah bawahan mereka karena semakin panjang daftarnya, semakin besar pula kejayaan mereka. Omong kosong mereka mungkin akan mengakibatkan biaya yang lebih besar dalam jumlah rempah yang harus dibayarkan sebagai upeti. Akan tetapi, hal ini juga bisa meningkatkan “penghargaan” yang akan mereka terima dalam bentuk barang-barang Jawa yang mereka butuhkan sendiri atau untuk dijual eceran di antara orang-orang yang tinggal di pulau-pulau di timur yang tidak terbilang banyaknya itu.

Klaim bahwa Majapahit berhasil mempersatukan seluruh wilayah Nusantara agaknya menjadi sesuatu yang kontradiktif jika kita mencermati keadaan intern Majapahit sendiri. Majapahit selalu dilanda pemberontakan dan konflik intern. Sebut saja antara lain: pemberontakan Rangga Lawe (1309), pemberontakan Sora (1311), pemberontakan Juru Demung (1313), pemberontakan Gajah Biru (1314), pemberontakan Nambi (1316), pemberontakan Semi dan Kuti (1319), pemberontakan Sadeng (1331), dan perang Paregreg (1401-1406). Yang terakhir ini bahkan melemahkan kekuasaan Majapahit dengan drastis. Jika mempersatukan intern kerajaan saja tidak bisa, apalagi mempersatukan Nusantara yang jauh lebih luas? Menurut Vlekke, pada kenyataannya kekuasaan riil raja-raja pertama Majapahit sangat jauh dari klaim tersebut.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389), memang Majapahit berhasil menghentikan konflik intern dan meraih puncak kejayaannya. Banyak daerah dipaksa takluk di bawah kekuasaannya. Meskipun demikian, luas seluruh daerah tersebut tetap tidak seluas Indonesia hari ini. Persatuan yang dipaksakan itu pun hanya berlangsung selama 39 tahun. Umur Majapahit juga hanya 227 tahun. Selama itu, Majapahit hanya berkuasa di bidang politik, tapi tidak berhasil mengembangkan pengaruh budayanya ke seluruh wilayah Nusantara. (***)

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Mitos Kebesaran Majapahit )

Sejarah Gelap Para Paus

Posted on 19/04/2011. Filed under: Sejarah |

“Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah  judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.
“Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)

Itulah sebagian gambaran tentang kejahatan Paus Benediktus IX dalam buku ini. Riwayat hidup dan kisah kejahatan Paus ini digambarkan cukup terperinci. Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes  XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.

Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’.  Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga  memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.

Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa.  Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya,  John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.

Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III.  Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904.  Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan.  Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.

Sergius III  sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia.  Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak  yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.
Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi  kepausan dari tahun 886-950 Masehi:

“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”

Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal,  menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).

Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.

Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya.

Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.

Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks  Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.

Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya,  menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.

Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah.  Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.

Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.

Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.

Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”. 

Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan.  Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.

Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).”  (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).

Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.
Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan.

Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.

Kaum Muslim, perlu mengambil hikmah dari kasus kejahatan para pemimpin Gereja ini. Ketika para tokoh agama tidak mampu menyelaraskan antara ucapan dan perilakunya, maka masyarakat akan semakin tidak percaya, bahkan bias “alergi” dengan agama.  Jika orang-orang yang sudah terlanjur diberi gelar — atau memberi gelar untuk dirinya sendiri – sebagai “ULAMA”, tidak dapat mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, maka bukan tidak mungkin, umat akan hilang kepercayaannya kepada para ulama. Mereka akan semakin jauh dari ulama dan lebih memuja selebriti – baik selebriti seni maupun politik.

Kasus yang menimpa sejumlah tokoh agama Katolik  itu dapat  juga menimpa agama mana saja. Jika tokoh-tokoh partai politik Islam tidak dapat memegang amanah — sibuk  mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya, tak henti-hentinya mempertontonkan konflik dan pertikaian —  maka bukan tidak mungkin, umat akan lari dari mereka dan partai mereka.

Jika para pimpinan pesantren tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya,  maka umat juga akan lari dari mereka.  Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua kisah ini, untuk kebaikan umat Islam di masa yang akan datang.

*/Depok, 20 Maret 2011

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Sejarah Gelap Para Paus )

Ahlul Kitab: Dulu dan Kini

Posted on 19/04/2011. Filed under: Hikmah |

”Sesungguhnya agama yang diakui Allah adalah al-Islam. Dan tidaklah kaum yang diberi al-Kitab itu berselisih paham, kecuali setelah datangnya bukti yang meyakinkan karena kedengkian di antara mereka.” (QS Ali Imran: 19).
AL-Quran juga menyebutkan bahwa kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) memang tidak sama. Ada yang kemudian beriman kepada kenabian Muhammad saw. Jumlahnya sedikit (QS 2:88). Tetapi sebagian besar fasik. (QS 3:110). Di zaman Rasulullah saw, ada dua tokoh Yahudi yang terkemuka yang akhirnya memeluk Islam, beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. Keduanya, yakni Hushein  bin Salam dan Mukhairiq, menjadi bahan cemoohan kaumnya sendiri. Jika sebelumnya mereka sangat dihormati, setelah masuk Islam, mereka dikucilkan.
Moenawar Khalil, dalam bukunya, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw (Jakarta: GIP, 2001), menceritakan, Hushein bin Salam kemudian diganti namanya oleh Rasulullah saw menjadi Abdullah bin Salam.
Dia pernah membuktikan bagaimana sikap kaumnya terhadap dirinya. Suatu ketika, kaum Yahudi datang kepada Rasulullah, saat Abdullah bin Salam sedang di sana. Dia berpesan kepada Rasulullah agar menanyakan kepada kaumnya, bagaimana pandangan mereka terhadap dirinya. Saat kaum Yahudi datang, Rasulullah saw bertanya pada mereka, bagaimana pandangan mereka terhadap Husein. Yahudi menjawab: ”Ia adalah sebaik-baik orang kami dan sebaik-baik anak lelaki orang kami. Ia adalah semulia-mulia orang kami dan anak lelaki dari seorang yang paling alim dalam golongan kami, karena dewasa ini di kota Madinah tidak ada seorangpun yang melebihi kealimannya tentang kitab Allah (Taurat).”
Kaum Yahudi itu memuji-muji Abdullah. Kemudian Abdullah muncul dan mengajak kaum Yahudi untuk beriman pada kenabian Muhammad saw.   Abdullah mengatakan kepada kaumnya, bahwa mereka sebenarnya telah memahami Muhammad adalah utusan Allah, sebab sifat-sifatnya telah disebutkan dalam Kitab mereka.
Mendengar ucapan Abdullah bin Salam, kaum Yahudi berbalik mencaci maki, dan menuduhnya sebagai pendusta. Sebab, dia sudah tidak lagi memeluk agama Yahudi. Ketika itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw:  ”Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS Al-Ahqaf ayat 10)
Setelah kabar keislaman Abdullah bin Salam tersiar di kalangan kaum Yahudi, maka mereka dengan congkak dan sombong  mengata-mengatai, mencaci-maki, menghina, menjelek-jelekkan dan memusuhinya dengan sekeras-kerasnya. Abdullah bin Salam tidak mempedulikan caci maki keluarga dan kaumnya. Dia terus bertahan dalam Islam dan termasuk sahabat Nabi dari kaum Anshar. Ia meninggal tahun 43 H di Madinah, di masa Khalifah Mu’awiyah.
”Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 113-115)
Abdullah bin Salam termasuk diantara kaum Yahudi yang menyimpang dari tradisi kaumnya yang menolak kenabian Muhammad saw. Ia  berani menentang tradisi kesombongan kaumnya sendiri. Di antara kaum Yahudi, ada juga yang berani mengkritik ajaran agamanya dan praktik-praktik kebiadaban kaumnya sendiri, meskipun mereka tidak sampai memeluk agama Islam. Salah satunya adalah Dr. Israel Shahak. Guru besar biokimia di Hebrew University ini memang bukan Yahudi biasa. Dia tidak seperti sebagaimana kebanyakan Yahudi lainnya, yang mendukung atau hanya bengong saja menyaksikan kejahatan kaumnya. Suatu ketika, saat dia berada di Jerusalem, pakar biokimia dari Hebrew University ini menjumpai kasus yang mengubah pikiran dan jalan hidupnya. Saat itu, hari Sabtu (Sabath) Shahak berusaha meminjam telepon seorang Yahudi untuk memanggil ambulan, demi menolong seorang non-Yahudi yang sedang dalam kondisi kritis.
Di luar dugaannya, si Yahudi menolak meminjamkan teleponnya. Orang non-Yahudi itu pun akhirnya tidak tertolong lagi. Prof. Shahak kemudian membawa kasus ini ke Dewan Rabbi Yahudi – semacam majlis ulama Yahudi – di Jerusalem. Dia menanyakan, apakah menurut agama Yahudi, tindakan si Yahudi yang tidak mau menyelamatkan orang non-Yahudi itu dapat dibenarkan oleh agama Yahudi. Lagi-lagi, Prof. Shahak terperangah. Dewan Rabbi Yahudi di Jerusalem (The Rabbinical Court of Jerusalem) menyetujui tindakan si Yahudi yang mengantarkan orang non-Yahudi ke ujung maut. Bahkan, itu dikatakan sebagai ”tindakan yang mulia”. Prof. Shahak menulis: ”The answered that the Jew in question had behaved correctly indeed piously.”
Kasus itulah yang mengantarkan Prof. Shahak untuk melakukan pengkajian lebih jauh tentang agama Yahudi dan realitas negara Israel. Hasilnya, keluar sebuah buku berjudul  Jewish History, Jewish Religion (London: Pluto Press, 1994). Dalam penelitiannya, ia  mendapati betapa rasialisnya  agama Yahudi dan juga negara Yahudi (Israel). Karena itulah, dia sampai pada kesimpulan, bahwa negara Israel memang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Katanya, “In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”
Sebagai satu ”negara Yahudi” (a Jewish state), negara Israel adalah milik eksklusif bagi setiap orang yang dikategorikan sebagai ”Jewish”, tidak peduli dimana pun ia berada. Shahak menulis: “Israel ’belongs’ to persons who are defined bu the Israeli authorities as ‘Jewish’,   irrespective of where they live, and to them alone.”

Dr. Israel Shahak menggugat, kenapa yang dipersoalkan hanya orang-orang yang bersikap anti-Yahudi. Sementara realitas pemikiran dan sikap Yahudi yang sangat diskriminatif terhadap bangsa lain justru sering diabaikan.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Ahlul Kitab: Dulu dan Kini )

Siapa Ahlul Kitab ???

Posted on 19/04/2011. Filed under: Hikmah |

Dalam tradisi Islam, para mufassir senantiasa berpendapat, bahwa istilah Ahlul Kitab  merujuk pada dua komunitas: Yahudi dan Nasrani.  Dalam perkembangannya, sebagian kalangan mengembangkan pengertian Ahlul Kitab hingga semakin jauh dari apa yang telah dikaji oleh para ulama di masa lalu. Kata mereka, Ahlul Kitab dapat mencakup semua agama yang memiliki kitab suci; atau umat agama-agama besar dan agama kuno yang masih eksis sampai sekarang; seperti golongan Yahudi, Nasrani, Zoroaster; Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi’un, Hindu, Budha, Konghucu, dan Shinto. (Lihat, misalnya, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (1992), dan Huston Smith, kata pengantar dalam Frithjof Schuon, The Trancendent Unity of Religions, (1984)).
Klaim ini disandarkan atas argumen bahwa setiap kaum telah diutus bagi mereka nabi-nabi yang membawa risalah tauhid; umat-umat terdahulu berasal dari satu kesatuan kenabian; setiap kaum memiliki sirath, sabil, syari’ah, thariqoh, minhaj, mansakhnya masing-masing. Sebagian kalangan menarik kesimpulan lebih jauh lagi: karena penganut semua agama dianggap sebagai Ahlul Kitab, maka tidak ada bedanya antara Islam dengan agama-agama yang lain. Bahkan, semuanya akan selamat di akhirat kelak.
Pandangan-pandangan semacam ini jelas bertentangan dengan pandangan para mufassir di masa lalu dalam tradisi intelektual Islam. Sebagai contoh al-Thabary (w. 310 H), al-Qurthuby (w. 671 H), dan Ibn Katsir (w. 774 H) mengatakan bahwa term Ahli Kitab tertuju kepada komunitas Yahudi dan Nasrani. (Al-Thabari, Tafsir al-Thabari, juz. 5, (Kairo: Hajar, cet. I, 2001). Juga: al-Qurthuby, al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, jil. II, (Beirut: Muassasah al-Risalah: cet. I, 2006), Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. II, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000)).
Lebih khusus lagi, Imam al-Syafi’i (w. 204 H) berpendapat bahwa yang termasuk Ahli Kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nasrani dari Bani Israil saja. (Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, Al-Umm, jil. 6, diedit oleh Rif’at Fauzi ‘Abd al-Mathlab, (T.Tmpt: Dar al-Wafa’, cet. I, 2001).
Istilah dalam al-Quran
Term Ahlul Kitab disebutkan secara langsung di dalam al-Qur’an sebanyak 31 kali dan tersebar pada 9 surat yang berbeda. Kesembilan surat tersebut adalah al-Baqarah, Alu ‘Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ankabut, al-Ahzab, al-Hadid, al-Hasyr, dan al-Bayyinah. Dari kesembilan surat tersebut hanya al-Ankabut lah satu-satunya yang termasuk dalam surat Makkiyah dan selebihnya termasuk dalam surat-surat Madaniyah.
Ini mengisyaratkan bahwa interaksi dengan Ahlul Kitab baru berjalan intensif tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ini dikarenakan bahwa di Kota Makkah sendiri pada waktu itu (periode Makkah) penganut agama Yahudi sangat sedikit. Adapun yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwahnya adalah kaum musyrik penyembah berhala. (Muhammad Galib Mattola, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1998), Muhammad Izzah Daruzah, al-Yahud fi al-Qur’an al-Karim, (Al-Maktab al-Islami, tanpa tempat dan tahun),  M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007)).
Istilah Ahlul Kitab pada surat al-Ankabut ayat 46 sendiri, menurut al-Thaba’thaba’i ialah umat Yahudi dan Nasrani. (Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, juz. 16, (Beirut: Mu’assasah al-‘Alami al-Mathbu’ah, 1983)). Pada ayat itu, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang lebih baik. Ini adalah tuntunan agar umat Islam melakukan interaksi sosial dengan Ahlul Kitab  dengan cara yang baik. Artinya, perbedaan pandangan dan keyakinan antara umat Islam dan Ahli Kitab tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan bersosialisasi. Menurut Yusuf Qaradhawi, hal ini dikarenakan Islam sangat menghormati semua manusia apapun agama, ras dan sukunya. (Yusuf Qaradhawi, Mauqif al-Islam al-‘Aqady min Kufr al-Yahud wa al-Nashara, (Kairo: Maktabah Wahbiyah, 1999)).
Istilah Ahlul Kitab sendiri ditemukan lebih bervariasi pada ayat-ayat Madaniyah. Meski demikian, semuanya tetap ditujukan kepada Yahudi dan Nasrani atau salah satu dari mereka. Senada dengan itu, Abdul Mun’im al-Hafni juga membatasi bahwa yang dimaksud Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani. (Abdul Mun’im al-Hafni, Mausu’ah al-Harakat wal Mazahib al-Islamiyah fil ‘Alam, dalam Muhtarom (penj), Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, cet. I, 2006)).
Kedudukan Ahlul Kitab
Dalam pandangan Islam, status Ahlul Kitab jelas termasuk kategori kufur. Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H) kufur berarti pendustaan terhadap Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. (Abu Hamid al-Ghazali, Fayshol al-Tafriqoh Baina al-Islam wa al-Zindiqoh, (Tanpa tempat dan penerbit, cet. I, 1992).
Abu Zahrah mengatakan bahwa mengingkari (kufur) Muhammad berarti mengingkari syariat Allah secara keseluruhan. Ini karena, syariat yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pelengkap dan penutup syariat Allah. (Muhammad Abu Zahrah, Zuhrotu al-Tafasir, jil. II, Kairo: Daar al-Fikr al-‘Araby, t.thn)).
Inilah yang dimaksud oleh al-Thabary sebagai ukuran keimanan bagi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Yakni, pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya. (Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Juz. 2).   Bahkan Ibn Katsir lebih menekankan bahwa kedua kelompok tersebut jika tidak mengikuti Muhammad saw, dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka akan binasa.
Lebih jauh dikatakan Ibn Katsir: “(Ukuran) keimanan orang-orang Yahudi adalah jika mereka berpegang kepada Taurat dan sunnah Nabi Musa hingga datang periode Nabi Isa. Pada periode Nabi Isa, orang-orang yang berpegang pada Taurat dan sunnah Nabi Musa dan tak mengikuti Nabi Isa, maka mereka akan binasa. Sementara (ukuran) keimanan orang-orang Nasrani adalah jika berpegang kepada Injil dan syari’at Nabi Isa.
Keimanan orang tersebut dapat diterima hingga datang periode Nabi Muhammad saw. Pada periode Nabi Muhammad saw ini, orang yang tidak mengikutinya dan tidak meninggalkan sunnah Nabi Isa dan Kitab Injil, maka binasa.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, jil. I).
Abu al-Hasan al-Nadwy menggambarkan bahwa keadaan dunia ini sebelum datangnya Muhammad ibarat gedung yang nyaris runtuh oleh gempa amat dahsyat. Para penguasa menjadikan bumi Allah sebagai panggung sandiwara kesenangan, hamba-hamba Allah diperbudak para rahib dan pendeta menjadi tuhan-tuhan selain Allah, manusia-manusia merampas hak milik orang lain dengan dengan cara yang tidak benar dan menghalangi orang dari perjuangan di jalan Allah. (Abu al-Hasan al-Nadwy, Madza Khasira al-‘Alam bi Inkhitat al-Muslimin, (Kairo: Maktabah al-Iman, t.thn).
Ini menunjukkan bahwa memang keadaan manusia pada waktu itu, baik dari segi sosialnya bahkan akidahnya, benar-benar mengkhawatirkan. Masyarakat Musyrik ‘Arab, golongan Yahudi dan Nasrani menjadikan patung-patung,  para rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan. Maka, amat sangat perlu diutus seorang Rasul untuk memurnikan akidah mereka, yakni Muhammad SAW. Dan mereka wajib mempercayainya dan ajaran yang dibawanya.
Ini menunjukkan relevansi pernyataan kedua ulama (al-Thabary dan Ibn Katsir) sebelumnya, bahwa ukuran keimanan Yahudi dan Nasrani adalah dengan memeluk Islam. Perintah ini sejatinya sudah dikabarkan oleh Kitab Suci mereka sendiri. Namun seakan mereka tidak mendengar dan malah menyembunyikan kabar tersebut. Al-Qur’an mengabarkan pembangkangan mereka dalam surat Alu ‘Imran: 71: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”
Menanggapi ayat tersebut, para Mufassir menjelaskan bahwa Ahli Kitab menyembunyikan kabar tentang kenabian Muhammad di dalam Kitab Suci mereka, Taurat dan Injil. (Al-Thabary, Tafsir al-Thabari, Jil. V, Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Jil. III.; Ibn ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, jil. I, (Beirut: Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1, 2001).
Menyembunyikan kenabian Muhammad berarti menyembunyikan datangnya agama Islam. Menurut al-Thabary, inilah yang menyebabkan mereka disebut kafir. Secara eksplisit, Ahli Kitab diidentifikasi sebagai orang-orang kafir sebagaimana halnya orang-orang musyrik. Dalam surat al-Bayyinah: 1 Allah berfirman, “Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”
Istilah kufur dalam ayat tersebut, menurut Ibn ‘Asyur, ialah orang-orang yang menentang dan menolak kerasulan Muhammad. (Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. XXX). Kekafiran Ahli Kitab dalam ayat ini sangat jelas, sama halnya dengan kekafiran orang musyrik, yakni sama-sama menentang dan menolak ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Inilah perspektif Islam dalam perspektif teologis dalam memandang Ahlul Kitab. Keyakinan ini tentu wajib dihormati, sebagaimana kaum Muslim juga menghormati keyakinan-keyakinan lain. Konsep ideal adalah: keyakinan terjamin, kerukunan terjalin.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Siapa Ahlul Kitab ??? )

Bank Indonesia Milik Siapa?

Posted on 19/04/2011. Filed under: Sejarah |

Bank-bank sentral adalah perusahaan swasta yang diberi hak monopoli mencetak uang. BI milik siapa?

Kebanyakan orang, warga negara di hampir semua negara nasional di dunia ini, tidak memahami bahwa mata uang kertas yang mereka pakai di negaranya bukanlah terbitan pemerintah setempat. Hak monopoli penerbitan uang kertas diberikan kepada perusahan-perusahaan swasta yang menamakan dirinya sebagai “bank sentral”. Sebelum ada bank sentral sejumlah bank swasta menerbitkan nota bank yang berlaku sebagai alat tukar tersebut. Dimulai di Inggris, dengan kelahiran Bank of England, hak menerbitkan uang kertas itu mulai diberikan hanya kepada satu pihak saja. Memang, kebanyakan bank sentral itu melabeli dirinya dengan nama yang berbau-bau nasionalisme, sesuai negara masing-masing.

Bank Sentral Milik Keluarga-Keluarga

Marilah kita ambil bank sentral paling berpengaruh saat ini, yaitu Federal Reserve AS, yang menerbitkan dolar AS. Saham terbesar Federal Reserve of America ni dimiliki oleh dua bank besar, yaitu Citibank (15%) dan Chase Manhattan (14%). Sisanya dibagi oleh 25 bank komersial lainnya, antara lain Chemical Bank (8%), Morgan Guaranty Trust (9%) , Manufacturers Hannover (7%), dsb. Sampai pada tahun 1983 sebanyak 66% dari total saham Federal Reserve AS ini, setara dengan 7.005.700 saham, dikuasai hanya oleh 10 bank komersial, sisanya 44% dibagi oleh 17 bank lainnya.

Bahkan, kalau dilihat dengan lebih sederhana lagi, 53% saham Federal Reserve AS dimilik hanya oleh lima besar yang disebutkan di atas. Bahkan, kalau diperhatikan benar, saham yang menentukan pada Federal Reserve Bank of New York, yang menetapkan tingkat dan skala operasinya secara keseluruhan berada di bawah pengaruh bank-bank yang secara langsung dikontrol oleh ‘London Connection’, yaitu, Bank of England, yang dikuasai oleh keluarga Rothschild.

Sama halnya dengan bank-bank sentral di berbagai negara lain, namanya berbau nasionalis, tapi pemilikannya adalah privat. Bank of England, sudah disebutkan sebelumnya, bukan milik rakyat Inggris tapi para bankir swasta, yang sejak 1825 sangat kuat di bawah pengaruh satu pihak saja, keluarga Rothschild. Pengambilalihan oleh keluarga ini terjadi setelah mereka mem-bail out utang negara saat terjadi krisis di Inggris. Deutsche Bundesbank bukanlah milik rakyat Jerman tapi dikuasai oleh keluarga Siemens dan Ludwig Bumberger.

Hong Kong and Shanghai Bank bukan milik warga Hong Kong tapi di bawah kontrol Ernest Cassel. Sama halnya dengan National Bank of Marocco dan National Bank of Egypt didirikan dan dikuasai oleh Cassel yang sama, bukan milik kaum Muslim Maroko atau Mesir. Imperial Ottoman Bank bukan milik rakyat Turki melainkan dikendalikan oleh Pereire Bersaudara, Credit Mobilier, dari Perancis. Demikian seterusnya.

Jadi, ‘Bank-bank Nasional’ seperti ini, sebenarnya, adalah sindikat keuangan inter-nasional, modal ‘antar-bangsa’ yang secara riel tidak ada dalam bentuk aset nyata (specie) apa pun, kecuali dalam bentuk angka-angka nominal di atas kertas atau byte yang berkedap-kedip di permukaan layar komputer. Bank-bank ini sebagian besar dimiliki oleh keluarga-keluarga yang sebagian sudah disebutkan di atas.

Utang-utang yang mereka berikan kepada pemerintahan suatu negara tidak pernah diminta oleh rakyat negara tempat mereka beroperasi tapi dibuat oleh pemerintahan demokratis yang mengatasnamakan warga negara. Mereka, para bankir ini, adalah orang-orang yang tidak dipilih, tak punya loyalitas kebangsaan, dan tidak akuntabel, tetapi mengendalikan kebijakan paling mendasar suatu negara. Dan, setiap kali mereka menciptakan kredit, setiap kali itu pula mereka mencetak uang baru dari byte komputer belaka.

Bank Indonesia Milik Siapa?

Kalau bank-bank sentral di negeri-negeri lain milik keluarga tertentu yang tidak memiliki loyalitas kebangsaan, siapakah yang memiliki Bank Indonesia?

Ini adalah pertanyaan valid yang seharusnya kita ajukan sebagai warga negara Republik Indonesia. Kita tahu, rupiah pun diterbitkan oleh BI, sebagai pihak yang diberi hak monopoli untuk itu. Kita tidak pernah diberitahu siapa pemegang saham BI. Tapi, marilah kita tengok sejarah asal-muasal bank sentral di Indonesia ini.

Begitu Indonesia dinyatakan merdeka, para pendiri republik baru ini, menetapkan BNI 1946 sebagai bank sentral, dan menerbitkan uang kertas pertamanya, yaitu ORI (Oeang Repoeblik Indonesia), dengan standar emas, setiap Rp 10 didukung dengan 5 gr emas. Ini artinya rupiah dijamin 0,5 gram emas per 1 rupiah.

Tapi, ketika Ir Soekarno dan Drs M Hatta menyatakan kemderdekaan RI, Pemerintah Kolonial Belanda tidak mengakuinya, apalagi menyerahkan kedaulatan republik baru ini. Belanda mengajukan beberapa syarat untuk dipenuhi, dan selama beberapa tahun terus mengganggu secara milter, dengan beberapa agresi KNIL. Akhirnya, sejarah menunjukkan pada kita, terjadilah perundingan itu, 1949, dengan nama Konferensi Meja Bundar (KMB).

Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), 1949, disepakatilah beberapa kondisi pokok agar RI dapat pengakuan Belanda.

Pertama, penghentian Bank Negara Indonesia (BNI) 1946 sebagai bank sentral republik, dan digantikan oleh N.V De Javasche Bank, sebuah perusahaan swasta milik beberapa pedagang Yahudi Belanda, yang berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI).

Kedua, dengan lahirnya bank sentral baru itu pencetakan Oeang Republik Indonesia (ORI), sebagai salah satu wujud kedaulatan republik baru itu dihentikan, digantikan dengan Uang Bank Indonesia (direalisasikan sejak 1952).

Ketiga, bersamaan dengan itu, utang pemerintahan kolonial Hindia Belanda sebesar 4 miliar dolar AS� kepada para bankir swasta itu tentunya – diambilalih dan menjadi “dosa bawaan” republik baru ini.

Kondisi ini berlangsung sampai pertengahan 1965, ketika Bung Karno menyadari kuku-kuku neokolonialisme yang semakin kuat mencenkeram bangsa muda ini. Maka, Agustus 1965, Bung Karno memutuskan menolak kehadiran lebih lama IMF dan Bank Dunia di Indonesia, bahkan menyatakan merdeka dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Sebelumnya, antara 1963-1965, Presiden Soekarno telah menasionalisasi aset-aset perusahaan-perusahaan Inggris dan Malaysia, serta Amerika; sebagai kelanjutan dari pengambilalihan aset-aset perusahaan Belanda, pada masa 1957-1958.

Tapi Bung Karno harus membayar mahal tindakan politik penyelamatan bangsa Indonesia dari kuku neokolonialisme ini: Ir Soekarno harus enyah dari Republik ini, dan itu terjadi 1967, dengan naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI ke-2. Dengan enyahnya Ir Soekarno, neokolonialsme bukan saja kembali, tetapi menjadi semakin kuat. Tindakan pertama Jenderal Soeharto, 1967, adalah mengundang kembali IMF dan Bank Dunia, dan kembali menundukkan diri sebagai anggota PBB.

Nekolonialisme Berlanjut

Berkuasanya Orde Baru, di bawah Jenderal Soeharto, menjadi alat kepanjangan neokolonilaisme melalui pemberian ‘paket bantuan pembangunan’. Untuk dapat ‘membangun’, bagi bangsa-bangsa ‘terbelakang, miskin dan bodoh, dalam definisi baru sebagai “Dunia Ketiga”‘ yang baru merdeka ini, tentu memerlukan uang. Maka disediakankan ‘paket bantuan’, termasuk sumbangan untuk mendidik segelintir elit, tepatnya mengindoktrinasi mereka, dengan ‘ilmu ekonomi pembangunan’, ‘manajemen pemerintahan’; plus ‘pinjaman lunak, bantuan pembangunan’, lewat lembaga-lembaga keuangan internasional (dengan dua lokomotifnya yakni IMF, Bank Pembangunan/Bank Dunia).

Kepada segelintir elit baru ini diajarkanlah ekonomi neoklasik, dengan model pembiayaan melalui defisit-anggaran-nya, dengan teknik Repelita bersama mimpi-mimpi elusif Rostowian-nya (teori Tinggal Landas yang terkenal itu), sebagai legitimasi dan pembenaran bagi utang negara yang disulap menjadi ‘proyek-proyek pembangunan’ dan diwadahi dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Untuk hal-hal teknis para teknokrat tersebut, kemudian ‘didampingi’ oleh para konsultan spesial � para economic hit men sebagaimana dipersaksikan oleh John Perkins itu. Semuanya, dilabel dengan nama indah, ‘Kebijakan dan Perencanaan Publik’.

Maka, utang luar negeri Indonesia yang hanya 6.3 milyar dolar AS di akhir masa Soekarno (dengan 4 miliar dolar di antaranya adalah warisan Hindia Belanda tersebut di atas), ketika Orde Baru berakhir menjadi 54 milyar dolar AS (posisi Desember 1997). Lebih dari sepuluh tahun sesudah Soeharto lengser utang luar negeri kita pun semakin membengkak menjadi lebih dari 150 milyar dolar AS. Kita tahu, jatuhnya Jenderal Soeharto, adalah akibat “krisis moneter”, yang disebabkan oleh kelakuan para bankir dan spekulan valas. Tetapi, rumus klasik dalam menyelesaikan “krisis moneter” adalah bail out, yang artinya pemerintah � atas nama rakyat � harus melunasi utang itu. Ironisnya, langkahnya adalah dengan cara mengambil utang baru, dari para bankir itu sendiri!

Dan, bayaran untuk itu semua, dari ironi menjadi tragedi, adalah republik ini kini sepenuhnya dikendalikan oleh para bankir. Melalui letter of intent seluruh kebijakan pemerintahan RI, tanpa kecuali, hanyalah menuruti semua yang ditetapkan oleh para bankir. Dua di antaranya yang terkait dengan bank sentral dan kebijakan uang adalah:

Mulai 1999, Bank Indonesia, yang semula adalah De Javasche Bank itu, telah sama sekali dilepaskan dari Republik Indonesia. Gubernur BI bukan lagi bagian dari Kabinet RI. Ia tidak lagi harus akuntabel kepada rakyat RI.

Mulai 2011 melalui UU Mata Uang (kalau disahkan) Bank Indonesia dilegalisir sebagai pemegang hak monopoli menerbitkan uang kertas di Indonesia. Dan bersamaan dengan ini dilakukan kriminalisasi atas pemakaian mata uang lain sebagai alat tukar di Republik Indonesia. Dengan kemungkinan pengecualian atas mata uang kertas tertentu, yang bisa kita duga maksudnya, tentu saja adalah dolar AS.

Dolar Hong Kong diterbitkan oleh Bank-Bank Swasta

Kalau para wakil rakyat di DPR, yang kini tengah merampungkan UU Mata Uang, tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti semua konstelasi ini, warga Republik ini harus memahaminya. Dan, sebagai warga negara yang mengerti, kita memiliki hak asasi dan hak konstitusional untuk mengambil keputusan sendiri.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Bank Indonesia Milik Siapa? )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 894,315 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: