Tatal 60

Posted on 25/01/2011. Filed under: Esai |

Satu itu palsu, seperti sapu lidi. Satu itu palsu, meskipun padat dan pejal. Mungkin itu sebabnya menara Babel adalah sebuah hikayat tentang kegagalan.

Syahdan, menurut Al-Kitab, manusia datang ke sebelah timur tanah Sinear untuk menegakkan sebuah menara yang tinggi, agar mereka tak terserak di pelbagai tempat dan bisa berbahasa satu. Tapi Tuhan murka. Menara itu ditumbangkan. Orang dibuncang ke pelbagai penjuru, dan bahasa dikacaubalaukan hingga manusia tak saling mengerti lagi. Demikian itulah takdir. Sebuah kitab suci lain, Al-Qur’an, yang tak berbicara tentang Tuhan yang murka, tetap mengingatkan bahwa Ia sengaja tak menghendaki segalanya jadi satu, melainkan berbeda.

Beda melahirkan bahasa dan membentuk hidup. Saya bayangkan Tuhan menghancurkan menara Babel. Dalam kengerian dan ketaktahuan, manusia sadar, sejak itu sesuatu yang transendental dalam “beda”, dalam “lain” –ada benda-benda yang begitu kaya dalam keragaman, justru pada saat mereka begitu kongkrit.

“Ke arah manapun kau berpaling, ada wajah Tuhan,” itu juga yang dikatakan Qur’an.

Mungkin itulah yang hendak dikatakan sajak Rilke: kita hidup dan ada di sini untuk menyambut yang kongkrit, untuk mengucapkan ‘rumah, titian, pancuran, gerbang, kendi, pohon buah….’ — dan mengucapkannya dengan lebih intens ketimbang hasrat dan mimpi benda-benda itu untuk hadir di dunia.

Hadir sebagai beda, bukan sebagai sama, bukan sebagai satu….

Goenawan Mohamad

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 619,511 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: