Enam Jam di Yogya

Posted on 25/01/2011. Filed under: Esai |

GAMELAN sayup-sayup. Seorang pemuda berpakaian Jawa keluar dari pintu. Mengendap-endap. Di luar jauh di sana, terdengar panser dan truk tentara Belanda berseliweran. Pemuda itu hati-hati menyelinap di antara rumah-rumah kampung Yogya yang pada itu, lalu menghilang.

Di waktu subuh, ia kembali ke rumah tempatnya menumpang. Ia berusaha agr langkahnya tak membangunkan induk semangnya. Tapi ketika ia naik tangga ke kamarnya sendiri di atas, ia dengar wanita itu sudah bangun di kamar bawah. Habis sembahyang subuh. Cepat-cepat ia masuk ke kamar tidurnya, berganti pakaian, memakai slaapbroek lagi, membuka jendela, dan pura-pura bangun tidur. Tapi ibu itu, masih mengenakan mukena, muncul di pintu, “Apakah Nak Mohtar baru ketemu ngarsa dalem?” tanyanya.

Pemuda itu tak bisa mengelak lagi. Rahasianya tersingkap. Wanita itu tahu bahwa pemuda yang mondok di rumahnya adalah seorang anggota gerakan bawah tanah, kurang-lebih penghubung antara para gerilyawan di gunung dan kraton Yogya yang diam-diam melawan kekuasaan pendudukan Belanda. Hari itu, di tahun 1949. Dan kisah ini dihidupkan dalam film cerita Enam Jam di Yogya – satu cerita berlatarkan sejarah, yang dibuat Umar Ismail di tahun 1950.

Hanya satu tahun jaraknya antara kejadian yang sebenarnya dengan dibikinnya film itu. Tapi ketika di awal Maret 1977 film itu diputar kembali di TVRI, masih ada yang terharu menyaksikannya. Seorang rekan menangis, diam-diam. Waktu itu adegan ketika pasukan gerilya memasuki lorong-lorong sempit kota, disambut penduduk dengan gembira….

MEMANG, sesuatu yang indah. Perjuangan dan setia kawan, masing-masing dan semuanya adalah sesuatu yang indah. Kini dalam Festival Film Indonesia 1977 oang-orang berbicaa tentang “sesuatu yang indah” yang lain. Tidak apa. Wim Umboh tidak salah jika ia kini membuat Sesuatu yang Indah dan itu berarti percintaan seorang pilot atau gadis bar yang hangat dalam ajojing. Zaman telah berganti.

Yang jadi pertanyaan ialah: mengapa Enam Jam di Yogya justru menggetarkan dalam zaman yang telah berganti ini?

“Itu hanya nostalgia biasa dan agak kuno dari seorang yang mulai berumur,” kata seseorang, setengah mengejek. Mungkin.

Seorang wartawan tua kemudian berbicara tentang film itu. “Film itu dibuat oleh Usmar dengan alat-alat yang sederhana,” katanya, “tapi ia bisa mencerminkan ke-Indonesia-an kita.” Kini, katanya lagi, teknologi sudah jauh lebih lengkap, tapi kita kehilangan wajah kita sendiri.

Tak selamanya enak terdengar bila seseorang mengeluh tentang masa kini seraya memuji masa silam. Tapi agaknya kita pun setuju: ketika dalam film Enam Jam di Yogya seorang menyebut nama “Pak Harto”. Terasalah ada sesuatu yang lain. Kata itu tetap berarti nama presiden kita sekarang, yang waktu itu memimpin serangan umum dan berhasil merebut Yogya selama 6 jam yang menentukan. Tapi di tahun 1950, ucapan itu jelas jauh dari niat menjilat.

Seperti sambutan penduduk kampung kepada pasukan yang masuk ke kota itu, yang menyebabkan seorang rekan menangis, entah kenapa.

12 Maret 1977

Goenawan Mohamad

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 619,511 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: