Archive for December 2nd, 2010

Akibat Tamak

Posted on 02/12/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Jika seseorang mendambakan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, niscaya hilanglah sifat qana’ah (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat loba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu akan menyeret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan munkar, yang merusakkan muru’ah (harga diri).
Untuk itu, rasanya tidak keliru kalau kita perhatikan sebuah hadis Nabi saw. yang dijadikan sandaran oleh rekan saya dari Jalan Kertosentono, Malang, bemama Santoso H. ketika mengirimkan naskah ini. ” Apabila anak adam (manusia) itu mempunyai dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga untuk tambahan dua lembah tadi. Dan rongga anak Adam itu tidak akan penuh selain oleh tanah. Tetapi, Allah menerima tobat terhadap siapa yang bertobat,” demikian sabda Nabi. Kemudian Santoso H. berkata, “Ada sebuah cerita menarik dari Asy-Sya’bi yang layak kita simak dengan cermat. Telah kudengar cerita bahwa terdapat seorang laki-laki menangkap burung qunbarah (semacam burung pipit).
Tiba-tiba burung itu bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?” Laki-laki itu menjawab, “Akan aku sembelih engkau dan aku makan engkau.” “Demi Allah! Engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahukan kepada engkau tiga perkara yang lebih baik bagi engkau daripada makananku .” “Baiklah, sebutkan ketiga perkara itu.” “Perkara yang pertama, akan aku beritahukan saat aku berada di tanganmu ini. Yang kedua, apabila aku engkau lepas dan terbang ke atas pohon. Yang ketiga, saat nanti apabila aku telah terbang lagi dan berada di atas bukit.” Laki-laki itu menyanggupi. “Nah, katakan yang pertama,” pinta laki-laki itu kemudian. “Janganlah engkau gundahkan apa yang telah hilang dari engkau.” Lalu laki-laki tersebut melepaskan burung itu. Tatkala ia telah berada di atas pohon, berkatalah laki-laki itu, “Katakan perkara kedua!” “Janganlah engkau benarkan apa yang tidak ada bahwa ia akan ada,” jawab burung itu.
Kemudian burung itu terbang dan hinggap di atas bukit serta tiba-tiba ia berkata, “Hai, orang yang sial. Jika tadi engkau sembelih aku, niscaya akan engkau dapati dalam tubuhku dua biji mutiara. Berat tiap-tiap mutiara dua puluh gram.” Tampak laki-laki itu menggigit bibirnya, risau dan menyesal. “Cepat katakan yang ketiga,” katanya kemudian, geram. “Engkau telah lupa akan dua perkara tadi, bagaimana mungkin aku terangkan perkara yang ketiga? Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau jangan mengeluh terhadap apa yang telah hilang dari engkau? Dan jangan engkau benarkan apa-apa yang tidak ada? Coba engkau pikirkan, hai orang yang celaka. Aku, dagingku, darahku, dan buluku tidak akan ada dua puluh gram. Lantaran itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua puluh gram?” Kemudian terbanglah burung bijak itu meninggalkan si lelaki yang merenungi ketamakannya.
Itulah contoh betapa lobanya anak Adam yang dapat membutakan diri dari mengetahui kebenaran Diriwayatkan dari Jarir, dan Jarir meriwayatkannya dari Laits. Ujarnya: Pernah diceritakan seorang laki-laki yang menawarkan diri untuK menemani perjalanan Nabi Isa bin Maryam alaihissalam. ” Aku akan bersama engkau dan menemani perjalananmu,” kata lelaki itu. Nabi Isa tidak menolak. Maka berjalanlah mereka bersama-sama. Dalam perjalanan, keduanya sampailah pada sebuah sungai. Lalu keduanya menghentikan perjalanannya untuk duduk-duduk istirahat dan makan siang di tepi sungai itu. Nabi Isa membawa tiga potong roti. Lalu mereka berdua makan masing-masing sepotong roti sehingga tinggal sepotong. Nabi Isa kemudlan bangun dan pergi ke sungai untuk minum.
Akan tetapi, sekembalinya tak didapati lagi roti yang sepotong itu . “Siapakah yang mengambil roti itu?” tanyanya kepada si lelaki yang menemaninya itu. “Aku tidak tahu, jawabnya. Nabi Isa tak bertanya lebih jauh. Kemudian keduanya meneruskan perjalanan. Pada suatu ketika sampailah keduanya di sebuah lembah yang berair dalam, sedangkan di situ tak ada perahu. Maka Nabi Isa memegang tangan laki-lakl itu, lalu atas izin Allah Nabi Isa membawanya berjalan di atas air. Setelah melewati lembah berair itu, bertanyalah Nabi Isa kepada lelaki yang masih takjub akan keanehan tersebut. ” Aku perlihatkan tanda-tanda Ini sebagai kemukjizatanku.
Siapakah sebenarnya yang mengambil roti itu? ” Aku tidak tahu,” jawab lelaki tersebut tetap pada pendiriannya. Nabi Isa tak bertanya lagi. Dilanjutkannya perjalanan mereka. Di sebuah padang pasir mereka menghentikan perjalanan dan duduk beristirahat. Tiba-tiba Nabi Isa mengambil dan mengumpulkan tanah dan debu tebal, kemudian dia berkata, ” Jadilah engkau emas dengan izin Allah.” Maka terciptalah emas. Lalu Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian . “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga lagi untuk orang yang mengambil roti itu,” katanya kepada lelaki itu. Lantaran ketamakkannya, berkatalah lelaki tadi, ” Aku yang mengambil roti itu.” Nabi Isa kemudian berkata, “Kalau begitu, untukmu emas itu semuanya.” Nabi Isa beranjak pergi meninggalkan lelaki tersebut. Gembira betul hati si lelaki, lalu ia pun meneruskan perjalanannya sendirian.
Pada suatu ketika bertemulah lelaki pemilik harta itu dengan dua orang lelaki lain. Demi dilihatnya harta sebanyak itu, kedua laki-laki asing tersebut berkeinginan merampas emas itu. Kalau perlu dengan membunuhnya. Lantaran takut dibunuh dan diambil hartanya, maka dibagikannya emas itu pada kedua lelaki yang baru dikenalnya tadi. Maka sepakatlah mereka untuk meneruskan perjalanan bertiga.
Pada suatu tempat, berkata salah seorang dari kedua lelaki asing tadi, “Sekarang kita bunuh saja dia supaya kita miliki seluruhnya emas yang belum tentu miliknya itu.” Setelah disepakati bersama, dijebaklah lelaki yang tamak itu dan dibunuh dengan kejam.

Sumber : Sufimuda

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Akibat Tamak )

Cinta Rabiah-Al Adawiyah

Posted on 02/12/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun meleblhl gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara sangar. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya.
Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. T etapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah dengan tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tldak berkenan menerlma tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti darl dosa, jangan simpan kata “akan atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan . Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan. siapa-siapa . “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu ger- bang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”

Sumber: sufimuda

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Cinta Rabiah-Al Adawiyah )

Tiga Puluh Tahun Untuk Penerangan Batin

Posted on 02/12/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi |

Seorang muda datang kepada seorang Guru dan bertanya,  “Kira-kira saya membutuhkan berapa waktu untuk memperoleh penerangan batin?”

Kata Guru itu, “Sepuluh tahun.”

Orang muda itu terkejut. “Begitu lama?” tanyanya tidak percaya.

Kata Guru itu, “Tidak, saya keliru. Engkau membutuhkan dua puluh tahun.”

Orang muda itu bertanya, “Mengapa Guru lipatkan dua?”

Guru itu berkata, “Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan tiga puluh tahun.”

Beberapa orang tidak pernah belajar sesuatu karena mereka menggenggam segala sesuatu terlalu cepat. Kebijaksanaan
bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan.
Kalau engkau berjalan terlalu cepat, engkau tidak akan melihat pemandangan yang indah.

Dengan tepat mengerti ke mana engkau menuju mungkin adalah cara yang paling tepat untuk tersesat. Tidak semua orang bergelandangan tersesat.

Sumber: Sufimuda

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Tiga Puluh Tahun Untuk Penerangan Batin )

Next Entries »
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 957,922 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: