Archive for November 16th, 2010

Jangan Benci Saya, Ibu

Posted on 16/11/2010. Filed under: Hikmah | Tags: , |

SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM BAHASA INDONESIA

Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini.., sebelum ajal menjemputku…

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian anak anak yang indah indah…

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun.., 2 tahun.., 5 tahun.., 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam… Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak… Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali… Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy ”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama saya Elic, Tante.”

“Eric…? Eric… Ya Tuhan Kau benar benar Eric???”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.

Tiba tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.

“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu,” tapi aku akan menceritakannya juga dengan terisak isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu… Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apapun juga Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii… Siapa kamu? Mau apa kau kemari? ”

Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, Mommy…, mommy Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Sayapun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan.. katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu Tolong katakan… ”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy nya datang, Mommy nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni ”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa apa lagi.

Read Full Post | Make a Comment ( Comments Off on Jangan Benci Saya, Ibu )

Memanggil Iblis

Posted on 16/11/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi | Tags: , |

Memanggil Iblis

Abu Sa’id al-Kharraz (w. 277 H/890 M) adalah Sufi terkenal dengan sejumlah karya monumentalnya. Ia berasal dari Baghdad dan berguru pada Dzun Nun al-Mishri dan an-Nabaji, juga berguru kepada Abu Ubaid al-Bishri dan Bishri Ibnu al-Harits.
Suatu hari, al-Kharraz bermimpi bertemu iblis. Iblis kelihatan menjauh darinya. Melihat iblis semakin menjauh lalu al-Kharraz pun memanggilnya.

“Hai Iblis! Kemarilah, apa sebenarnya maumu?,” katanya.
“Apa yang akan kulakukan padamu, sedangkan dirimu telah membuang dari dirimu sendiri, padahal yang kau buang itu bisa kugunakan untuk menipu manusia,” jawab sang Iblis.

“Apa itu?”

“Dunia!”
“Iblis kelihatan sangat segan dengan al-Kharraz, tapi pelan-pelan ia menoleh kepadanya.
“Tapi aku masih punya sesuatu berupa bisikan halus untukmu,” kata Iblis.
“Apa itu?”

“Bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” jawab Iblis.

Sumber : sufinews.com

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Saya cuma Kamino …

Posted on 16/11/2010. Filed under: Esai | Tags: |

SAYA CUMA KAMINO

salat keno, ora yo keno
pokoke mbela Bung Karno
salat keno, ora yo keno
sing penting mbelo Bung Karno.

(Salat boleh, tidak pun tak soal,
yang penting membela Bung Karno.)

Di tahun 1960-an, salawat Badar yang dikorup ini pernah populer, termasuk di Bantul. Ini “ular” berkepala dua:
kultus pada Bung Karno dan ejekan buat kekuatan Islam.
Terutama, tentu saja, NU yang dianggap pemilik asli “lagu”
ini.

Bukan karena “pembajakan” lagu itu bila di ujung desa sana lalu terjadi duel antara Pemuda Ansor dan Pemuda Rakyat atau Marhaen. Saling ejek dan benturan fisik, sebagai akibatnya, merupakan kelaziman waktu itu. Dan biarpun pahit, malah harus diakui bahwa semua itu berfungsi sebagai gladi resik
buat menyambut “Bharatayudha” yang kelak meletus di tahun 1965.

Berita pemuda berjaket merah atau hitam roboh oleh pemuda “kita” yang bersabuk jimat dari kiai di tahun 1960-an itu bisa membangkitkan semangat “juang” dan kentalnya fanatisme ideologi buat orang desa yang tak tahu arti politik sekalipun. Sekurangnya jadi semacam penegasan akan betapa benarnya pilihan ideologi yang kita ambil.

Coretan di tembok-tembok rumah, di pagar-pagar, dan juga pada jembatan di ujung desa merupakan variasi lain dari benturan ideologi waktu itu. Bila kita dapati pagi hari tulisan “Marhaen Menang” atau “Hidup PKI”, esoknya pasti sudah dijawab: “Islam Jaya” atau “Ganyang PKI”. Tapi bila yang kita temui hanya “salawat”: “Hidup Bung Karno PBR kita”, atau “Hidup Ganefo”, dus netral, semua kekuatan
politik yang ada di desa ayem saja.

Dengan mata seorang bocah yang belum lagi tamat SD, saya menyaksikan suasana diam yang tegang. Guru-guru saya, pihak Muhammadiyah yang mengharamkan segala jimat itu, diam-diam juga pergi ke kiai minta “diisi” kadigdayan kanuragan. Doktrin pokok: “Mintalah langsung kepada Allah, jangan lewat
perantara”, pernah tak berlaku. Perbedaan paham antara Muhammadiyah dan NU dalam soal jimat, usali, witir, tarwih, doa talkin praktis terlupakan selama menghadapi common enemy.

Rapat raksasa pun disimak. Tiap orang lalu peka terhadap perbedaan warna jaket. Dan tiap-tiap “yang bukan kita” dicurigai. Tak peduli bahwa itu menyangkut tetangga sebelah.

Pemuda, atau bocah yang “tak sabar” menunggu dewasa, ingin tampil heroik. Begitu juga Kang Kamino. Anak mbah Wongso Dadung yang buta huruf ini pun tak mau ketinggalan. Ia terpesona oleh palu arit: lambang PKI, yang adalah barang kongkret buat orang macam dia. Harus diakui memang, PKI
tangkas merumuskan ide-ide abstrak ke dalam bahasa Kang Kamino. Bermula dari gurauan bahwa “wong tani” pegangannya harus palu dan arit, dan bukan Lintang Rembulan (bintang bulan, Masyumi) atau gambar Jagat Lintang Sanga (bola dunia berbintang sembilan, NU) karena petani bekerja dengan arit,
ia berubah makin sinis pada Islam akibat “pergaulan bebas” dengan PKI.

Setelah makin aktif menghadiri rapat dan main ketoprak (Lekra), ia ganti nama menjadi Kaminonov. Edan. Selanjutnya blak-blakan ia membuka diri sebagai kaum salat keno ora yo keno. Ia juga jadi terampil mengejek lawan sebagai kaum nggoiril (dari kata ghairil … dalam surat Al Fatihah).

Kami pun “mengintip”. Kang Kaminonov jarang di rumah, akhirnya. Kalau pulang selalu bersama empat atau lima kamerad lain. Anak mbah Wongso Dadung ini sudah jadi orang penting rupanya. Konon, pernah suatu hari ia kedapatan bicara tentang pembagian sawah dan rencana aksi sepihak.

Tapi, sawah belum lagi dibagi, Gestapu meletus. Islam bangkit. Perang sabil diteriakkan. Di berbagai daerah kemarahan tak terkendalikan. PKI disembelih.

Namun, segala puji hanya bagi-Mu, darah tak menetes di desa saya. Pak Lurah, biarpun pernah diancam PKI, melindungi mereka. Prinsipnya semua saudara. Lagi pula, PKI di desa saya cuma golongan cepethe. Pak Lurah sering bilang, mereka cuma ikut-ikutan. Sebagian hanya senang karena tiap rapat ada makan. Tahu apa mereka tentang politik?

Benar juga. Digertak petugas untuk wajib lapor pun mereka sudah menggigil. Betul, ada di antara mereka yang fanatik, tapi untuk mati demi partai orang masih mikir. Maka Kaminonov pun mengaku, akhirnya mendengar suara daun gugur pun dia kaget. Dikiranya sepatu tentara.

Pendeknya musuh telah tak berdaya. Tokoh-tokoh tua bilang, perang tak layak lagi diteruskan. Petuahnya, “Islam ituselamat dan menyelamatkan”. Dan tiap khotbah, Pak Lurah berseru “Kita memang punya hukum qisas: bunuh balas bunuh. Tapi memberi maaf itu lebih satria …”.

Tuhan tiba-tiba menjadi kongkret. Termasuk buat Kaminonov. Haji Thohir yang “sepuh” itu rajin mengajarinya ngaji. Ia merawat rohani “si anak hilang” yang telah kembali. Maka, tak lupa tiap pengajian usai, ia ulang petuahnya: “Lembaran yang sudah dibaca ditutup. Begitu juga masa lalumu.”

Kaminonov tunduk sambil lirih mengucap: “Nggih, nggih, Pak Kaji, insya Allah.” Fasih dia. Dan bila orang menyindir nama Rusianya, ia cuma senyum. Jawabnya: “Lembaran lama sudah ditutup. Saya cuma Kamino …”

—————
Mohammad Sobary, Tempo 6 Oktober 1990

Diambil dari : http://media.isnet.org

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Sultan yang menjadi orang buangan

Posted on 16/11/2010. Filed under: Kisah Sufi dan Humor Sufi | Tags: |

Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang
terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran.
Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya,
dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali,
mengalami pelbagai kejadian lain–dan dikembalikan ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran
waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya
tidak masuk akal.

Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal
bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak
memuaskan raja.

Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi
Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan
menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,
“Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian.
Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada
faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita
itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal,
yang dangkal dan terbatas.”

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh
memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar
melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat
olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut
banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.

“Lupakan saja, tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.

Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak
ada seorang perajurit pun yang tampak.

Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar
tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.

“Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.
Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api
sama sekali.

Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar
mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu
tak ada.

Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir
seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah
jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan
memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja Segera setelah
Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang
sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena
kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin
membalas dendam.

Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang
kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan
siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar
di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya
pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada
seorang tukang besi yang melihatnya gelandangan, dan
bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia
seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada
kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota
tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang
pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan
syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu
pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis
cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu
sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang
berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya
lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum
kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya
yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya,
“Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini.
Ayo, ikut aku.”

Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah
yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya
yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik
dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima
yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai
wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.

Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia
telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan
bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan
basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila
berada di jalan.

Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat
indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun
diperdengarkan.

Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu:
sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya.
Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang
harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.

Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun
kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena
Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia
disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.

Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat
berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang
dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di
tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang
lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air
wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di
istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai
keratonnya.

“Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat” teriak
Sultan. “Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi
kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa,
hingga berani melakukan hal itu terhadapku?”

“Tetapi kejadian itu hanya sesaat,” kata guru Sufi tersebut,
“yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu.”

Para pegawai keraton membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai sepatah katapun.
Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu.
Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi? Syeh pun
menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat).
Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di
Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:

“Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan
rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan
tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya
kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk
membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah
itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum
habis isinya?

Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu.
Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna
kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna.”

Catatan

Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh arti,
masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau
pendengarnya.

Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di
kalangan Sufi, menekankan nasehat Muhammad, “Berbicaralah
kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya.”

Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: “Tunjukkan hal
yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang ‘diketahui’
khalayak.”

Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama “Buku Hu”
dalam kumpulan Nawab Sardhana, bertahun 1596.

————————————————————
K I S A H – K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION

  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 961,950 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: