Laskar-laskar Rakyat tahun 1945

Posted on 02/04/2012. Filed under: Sejarah, Tahukah Anda |

Pada revolusi fisik, laskar bermakna satuan bersenjata di laur tentara reguler, yang secara umum berafiliasi pada kepentingan politik tertentu. Bibit dari pada laskar rakyat di Indonesia dianggap bermula dari sikap gerakan-gerakan politik tertentu terhadap kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Contohnya PNI Baru yang dibetuk akhir tahun 1931 pimpinan Hatta-Sjahrir dan Gerindo (Gerakan Indonesia Raya), yang didirikan 24 Mei 1937, yang mengambil sikap anti fasis dan anti kolonialisme.

Ketika Jepang mendarat di Indonesia pun, sikap para pemimpin politik nasional pun berbeda-beda. Ada pemimpin politik yang melakukan perjuangan secara terang-terangan seperti Soekarno, Hatta, Soebardjo, Wikana dan lainnya, tetapi tidak sedikit juga yang mengambil jalan melalui gerakan bawah tanah seperti Sjahrir dan Amir Sjarifuddin.

Pada masa pendudukan Jepang, tercatat ada 3 kekuatan besar gerakan bawah tanah yang menunjukkan perlawanan :

(1) Gerakan yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin, salah satu mantan pemimpin Gerindo.
(2) Gerakan yang dipimpin Sutan Sjahrir atau juga yang lebih dikenal sebagai ”Prapatan 10”, gerakan ini juga berkembang di berbagai kota di Indonesia.
(3) Gerakan yang berpusat di Asrama Angkatan Baru Indonesia di jalan Menteng 31 dimana dua tokoh pemuda waktu itu, Chaerul Saleh dan Sukarni, menjadi tokoh-tokohnya.

Namun demikian Ben Anderson menjelaskan bahwa yang dimaksud gerakan bawah tanah disini bukanlah gerakan bawah tanah dalam arti ”pasukan gerilya” seperti yang muncul di Perancis atau Negeri Belanda di bawah pendudukan Nazi Jerman. ”Gerakan bawah tanah” itu paling tepat dapat dilihat sebagai kerangka pemikiran ketimbang organisasi atau bahkan kelompok-kelompok.

Paska kemerdekaan 17 Agustus 1945, anggota gerakan-gerakan bawah tanah itu dan pemuda-pemuda Indonesia lainnya mengalami euforia politik setelah hidup di bawah bayang-bayang penjajahan dan merasa terpanggil untuk menyelamatkan revolusi serta membela republik dengan membentuk beberapa gerakan yang sesuai dengan afiliasi politiknya seperti :

- Angkatan Muda, yang dibentuk 25 Agustus 1945 oleh Soemarsono dan Ruslan Widjaja di Surabaya.
– Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dibentuk tanggal 23 September 1945 di Surabaya, kemudian dibentuk juga di Bandung, Bukit Tinggi dan Bali
– Angkatan Pemuda Indonesia (API), terbentuk di Jakarta, Lampung dan Aceh. Tokohnya adalah Wikana.
– Barisan Rakyat Indonesia (Bara), terbentuk di Jakarta
– Barisan Buruh Indonesia, terbentuk di Jakarta
– Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (P3I), terbentuk di Bandung
– Angkatan Muda Indonesia (AMI), terbentuk di Jawa Tengah
– Balai Penerangan Pemuda Indonesia, terbentuk di Padang
– Pemuda Penyongsong Republik Indonesia, terbentuk di Kalimantan Barat
– Persatuan Rakyat Indonesia, terbentuk Kalimantan Selatan
– Persatuan Pemuda Indonesia, terbentuk di Ambon.
– Hizbullah dan Sabilillah yang berafiliasi ke Masyumi
– Pemuda Protestan
– Pemuda Katolik
– Angkatan Muda Guru (AMG)
– KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi)
– Persatuan Pemuda Puteri Indonesia (PPPI)
– Barisan Pelopor. Barisan ini sebenarnya dibentuk sebelum kemerdekaan namun memiliki andil juga dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dipimpin oleh dr. Moewardi, seorang nasionalis radikal dan pendukung Soekarno. Terdapat unsur kecil dalam kelompok ini yang disebut Barisan Pelopor Istimewa (BPI).
– Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), yang dibentuk oleh Bung Tomo tanggal 13 Oktober 1945 yang memisahkan diri dari PRI.
– Angkatan Muda Pos, Telegraf dan Telephon (AMPTT)
– Angkatan Muda Gas dan Listrik
– Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI)
– Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GPRI), dibawah Lagiono
– Dan lainnya.

Kemudian bersama rakyat, gerakan-gerakan tersebut berubah menjadi laskar-laskar untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. Suasana persatuan antara rakyat dan laskar-laskar itu begitu kentalnya, sehingga Ben Anderson menarik kesimpulan, “Badan perjuangan (laskar) itulah yang sesungguhnya merupakan lambang dari rakyat bersenjata”.

Karena keberadaan laskar-laskar tersebut bersifat lokal dan tidak terorganisir, atas dorongan Menteri Keamanan Amir Sjarifuddin, diundanglah sebagian gerakan dan laskar-laskar tersebut pada tanggal 10-11 November 1945 dalam suatu konggres pemuda. Kongres itu dihadiri oleh Presiden Soekarno, Hatta, enam Menteri dan diikuti oleh 28 organisasi kepemudaan yang cukup besar.

Dalam kongres tersebut, pada tanggal 10 November 1945, 7 organisasi, diantaranya API Jakarta, GPRI, AMRI dan PRI Surabaya sepakat melakukan fusi dan membentuk Pesindo. Menurut Anderson, walaupun hanya seperempat yang berfusi menjadi Pesindo anggota-anggotanya adalah yang paling baik dan berpengalaman. Ditunjuk sebagai ketua adalah Krisbanu, ketua II Wikana dan ketua III Ibnu Parna.

Karena memiliki pandangan yang relatif sama, yaitu berafiliasi kepada pandangan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, serta kemampuan politik dari pemimpinnya yang berimbang, Pesindo akhirnya tampil sebagai laskar dan organisasi pemuda yang paling disiplin dan paling dinamis di Republik kala itu. Pesindo menjadi sangat berwibawa karena melakukan peran yang efektif dalam memerangi pasukan-pasukan Inggris. Diklaim selama tahun pertama Republik berdiri, ada sekitar 25.000 pemuda bersenjata yang bergabung dengan Pesindo.

Kemudian pada tanggal 11 November 1945, Pesindo berfederasi dengan 15 organisasi pemuda lainnya membentuk Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dan kemudian terpilihlah Chaerul Saleh sebagai ketua BKPRI. (-di bulan Januari 1946, BKPRI bergabung dengan Persatuan Perjuangan Tan Malaka-)

Beberapa tahun ke depan laskar-laskar ini akan sering menghadapi konflik dengan tentara reguler Republik Indonesia (BKR-TKR-TRI) yang dipicu oleh perebutan dukungan dan simpati rakyat. Karena pemerintah belum mampu membayar gaji atau memberikan perbekalan kepada pasukan bersenjatanya, maka kedua golongan tersebut terpaksa mengandalkan batuan penduduk dalam hal makanan, jasa dan tempat tinggal.

Sumber Bacaan :

(1) Menentang Mitos Tentara Rakyat. Coen Husain Pontoh. Resist Book. 2005.
(2) Politik Militer Indonesia. Ulf Sundhaussen. LP3ES. 1986.
(3) Revoeloesi Pemoeda. Ben Anderson. Pustaka Sinar Harapan. 1988.

About these ads
  • Free Palestine !!



    FREE PALESTINE | CONDEMN ISRAELI OCCUPATION


  • Informasi Tentang Anda

    IP
  • Total Pengunjung

    free counters
  • WebRank

    Alexa Certified Traffic Ranking for kissanak.wordpress.com
  • Blog Stats

    • 337,333 hits
  • Visit http://www.ipligence.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: